19/05/2026
Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur yang juga Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, melalui anak buahnya memecat pegawai yang puluhan tahun mengabdi. Tanpa alasan yang jelas, empat pegawai itu digantikan oleh pegawai baru yang didominasi kader partai politik tertentu.
Senin (18/5/2026), Kompas menjumpai empat orang yang diberhentikan itu di salah satu kantor. Mereka adalah Maria Goreti Kara yang mengabdi selama 22 tahun, Yasinta Sanggu Doa mengabdi 14 tahun, Suryani Sinlae mengabdi 15 tahun dan David Hadjoh mengabdi 5 tahun.
Suryani menuturkan, pemecatan dilakukan oleh Sekretaris Umum KONI NTT yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTT, Alfons Theodorus. Ketika pemecatan berlangsung, Alfons didampingi pengurus bidang hukum KONI NTT di ruangan kerja kantor KONI pada 7 Mei 2026.
Waktu itu kami tanya apa alasannya, tetapi mereka tidak menjawab. Mereka bilang alasan itu tidak bisa mereka sampaikan. Itu yang membuat kami bertanya-tanya. Ini ada apa? kata Suryani.
Menurut Suryani, pada saat itu Alfons menyampaikan bahwa pemecatan sudah sepengetahuan pengurus inti KONI NTT, termasuk Melki, sapaan akrab Melkiades. ”Kami sedih. Mereka setega itu memecat kami tanpa alasan,” kata perempuan yang dulu membela NTT dalam berbagai kejuaraan itu. Ia mantan atlet kempo.
Empat orang itu ingin kembali bekerja. Maria Goreti Kara terakhir bekerja sebagai petugas administrasi di bidang keuangan, Yasinta Sanggu Doa di bagian teknologi dan informasi, Suryani Sinlae di bagian administrasi organisasi, dan David Hadjoh sebagai petugas kebersihan.
Kendati sudah puluhan tahun bekerja, lanjut Goreti, status kepegawaian mereka hanya kontrak dan diperpanjang setiap tahun. Besaran gaji per bulan menyesuaikan standar upah minimum provinsi, saat ini Rp 2,4 juta per bulan.
Apa kesalahan yang kami lakukan sampai kami harus menerima keputusan seperti ini? Kalau saya melakukan korupsi atau kejahatan lain, silakan pecat saya. Mereka tidak punya hati untuk kami, kata Goreti.
Yasinta menambahkan, dirinya adalah tulang punggung keluarga. Dampak pemecatan membuat keluarga kehilangan sumber penghasilan. Saat ini, ibunda Yasinta dalam kondisi sakit. Ia khawatir, kesehatan ibunya akan semakin menurun. ”Pemecatan ini kabar buruk bagi mama saya,” ujarnya sambil menangis.
Sementara itu, David Hadjoh pasrah dengan keadaan. Ia mengaku tidak memiliki kenalan atau bekingan di kalangan politisi atau pejabat setempat. ”Saya hanya rakyat biasa yang membiayai hidup keluarga dengan bekerja sebagai cleaning service,” ujarnya.
Empat orang tersebut berharap agar dapat kembali bekerja sebagai pegawai di KONI NTT. Sebelumnya, mereka diminta Alfons agar tidak membuka masalah itu ke publik. Namun, mereka tetap ingin memperjuangkan nasib mereka.
Kepada mereka, Alfons berjanji akan memperjuangkan mereka bekerja di lembaga di bawah badan usaha milik daerah. ”Kami tidak terlalu yakin dengan apa yang mereka janjikan. Kami hanya ingin bekerja di KONI. Saya seorang mantan atlet. Saya mencintai KONI,” kata Suryani.
Ia menuturkan, empat orang yang menggantikan posisi mereka adalah kader salah satu partai dan dekat dengan lingkaran Melki. Melki saat ini menjabat Gubernur NTT sekaligus Ketua Umum KONI NTT.
Sementara itu, Alfons yang dihubungi secara terpisah pada Senin pagi belum memberikan respons. ”Saya masih rapat,” jawab Alfons lewat pesan singkat. Pada jam istirahat siang, Kompas kembali menghubunginya, tetapi ia tetap tidak merespons.
Sumber : Kompas