ROSSA

ROSSA Berdamailah Dengan Hati

19/05/2026

Aku berbohong kepada ayahku dan mengatakan bahwa aku gagal ujian masuk, padahal nilainya 98,7 😱🥹⚠. Dia hanya menjawab, “Keluar dari rumah ini.” Aku tidak menangis. Aku tidak memohon. Karena aku sudah tahu rumah itu tidak pernah menjadi rumah... itu hanyalah jebakan yang menunggu tanda tanganku. 😱🥹⚠

Layar ponselku menerangi wajahku di tengah kegelapan.

Persentil 98,7.
Peringkat di antara yang terbaik.

Ibuku pasti akan menangis karena bangga.

Ayahku tidak.

Dari ruang tamu, aku mendengar tawa Carol, ibu tiriku, dan suara penuh semangat Arthur Reynolds, pria yang masih punya keberanian menyebut dirinya ayahku.

“Lily benar-benar akan membuat kita bangga,” katanya. “Gadis itu pantas mendapat pesta besar.”

Putriku.

Itulah panggilannya untuk Lily.

Sedangkan aku?

Dia menyebutku “beban.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menelepon nomornya, dan menunggu.

Dia mengangkat telepon dengan nada kesal.

“Ada apa, Diane?”

“Hasil ujian sudah keluar.”

Ada jeda singkat.

“Lalu?”

Aku melihat angka 98,7 sekali lagi.

Lalu aku mengatakan kebohongan paling dingin dalam hidupku:

“Aku tidak lolos, Ayah. Aku gagal.”

Di ujung telepon, aku mendengar napas beratnya.

Lalu suaranya terdengar keras, kering, tanpa sedikit pun kesedihan.

“Aku sudah memberimu makan, sekolah, tempat tinggal... dan ini balasanmu?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu mempermalukanku.”

Aku menelan ludah dengan susah payah.

“Ayah...”

“Jangan pulang. Tidak ada tempat di rumah ini untuk orang yang tidak berguna.”

Dia menutup telepon.

Aku hanya menatap layar yang kosong.

Tidak ada setetes air mata pun.

Tidak satu pun.

Karena setengah bulan sebelumnya, aku melewati ruang kerjanya dan tanpa sengaja mendengar kebenaran di balik semuanya.

Pintu ruang kerjanya sedikit terbuka.

Carol berbicara pelan, tapi penuh racun.

“Diane baru saja berusia delapan belas tahun, Arthur. Sekarang kamu akhirnya bisa mengambil rumah yang diwariskan ibunya padanya.”

Aku membeku.

Rumah ibuku.

Satu-satunya hal yang berhasil ia lindungi sebelum meninggal.

Rumah tua tapi indah di Pasadena. Akta rumah itu atas namaku. Hak penuh saat aku berusia delapan belas tahun.

Carol melanjutkan:

“Lily ingin kuliah di Kanada. Itu mahal. Kalau kita jual rumah itu, semuanya beres.”

Ayahku menghela napas.

“Surat wasiatnya jelas.”

“Lalu kenapa? Dia cuma anak kecil. Kamu ayahnya. Suruh dia tanda tangan.”

Ada keheningan.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang menghancurkan sisa cintaku padanya:

“Kalau dia gagal ujian, aku akan mengusirnya. Dia akan sadar bahwa dia bukan siapa-siapa tanpaku. Saat dia putus asa, aku akan memberinya sedikit uang dan dia akan menandatangani apa pun yang kuinginkan.”

Carol tertawa.

Aku menahan napas.

Aku kembali ke kamar, menutup pintu, lalu menyalakan perekam suara di ponselku.

Keesokan harinya, aku menyembunyikan ponsel itu di balik pot tanaman di dekat ruang kerja.

Aku merekam semuanya.

Rencana mereka.

Surat pelepasan hak palsu.

Tekanan.

Cara mereka berniat membuatku kelaparan.

Cara ayah kandungku sendiri ingin menghancurkanku demi mencuri satu-satunya warisan dari ibuku.

Itulah alasan aku berbohong.

Itulah alasan aku menerima saat dia mengusirku.

Itulah alasan malam itu aku diam-diam memasukkan pakaianku ke dalam koper.

Aku tidak punya banyak barang.

Tiga celana.

Dua blus.

Dokumen-dokumenku.

Akta kelahiranku.

KTP-ku.

Salinan surat wasiat.

Dan sebuah kotak kayu kecil berisi foto ibuku.

Di foto itu, dia memelukku di depan rumah di Pasadena.

Ada bunga bugenvil di latar belakang.

Saat itu aku berusia enam tahun.

Dia masih hidup.

Aku memeluk foto itu di dadaku.

Dari ruang tamu, mereka masih tertawa tentang “masa depan cerah” Lily.

Betapa ironis.

Aku menyeret koper menuju pintu.

Sebelum pergi, aku melihat lorong itu untuk terakhir kalinya—tempat di mana aku sering menunggu ayahku mencintaiku.

Aku tidak merasa nostalgia.

Aku merasa jelas.

Saat aku kembali nanti, aku tidak akan meminta izin.

Aku akan mengambil semuanya kembali.

Bibi Susan menyambutku malam itu juga di apartemennya di Silver Lake.

Dia adalah sahabat terbaik ibuku. Satu-satunya orang dewasa yang tidak pernah membuatku merasa seperti beban.

Saat melihatku membawa koper, senyumnya menghilang.

“Dia mengusirmu?”

Aku mengangguk.

Aku memutarkan rekaman itu untuknya.

Di tengah rekaman, dia mulai menangis.

Di akhir rekaman, dia mengepalkan tangannya.

“Ibumu memilih suami yang buruk, tapi dia meninggalkan putri yang sangat cerdas.”

“Bibi Susan, aku perlu bersembunyi beberapa hari.”

“Kamu tinggal di sini.”

“Dan aku juga butuh bantuanmu untuk memainkan sebuah peran.”

Dia tidak bertanya apa-apa.

Dia hanya berkata:

“Katakan apa peranku.”

Seminggu kemudian, ayahku mengadakan pesta besar untuk Lily di sebuah aula mewah di Beverly Hills.

Bunga-bunga.

Musik live.

Pelayan.

Foto-foto.

Spanduk besar bertuliskan:

“Selamat, Calon Mahasiswi Masa Depan.”

Lily nyaris lulus.

Tapi bagi Arthur, itu sudah cukup.

Dia naik ke panggung sambil memegang gelas, suaranya penuh kebanggaan.

“Putriku luar biasa. Pintar. Disiplin. Sebagai seorang ayah, aku tak bisa meminta lebih.”

Orang-orang bertepuk tangan.

Aku berdiri di belakang aula, mengenakan pakaian hitam, sambil memegang amplop cokelat di tanganku.

Di dalamnya ada sepuluh salinan hasil ujianku.

Persentil 98,7.

Rekaman suara.

Surat wasiat.

Dan surat tersegel yang ditinggalkan ibuku khusus untuk hari ini.

Ayahku belum melihatku.

Carol juga belum.

Lily tersenyum seperti seorang ratu.

Lalu ponselku bergetar.

Itu dari Tuan Sanders, pengacara ibuku.

Aku menjawab dengan suara pelan.

“Tuan Sanders, saya sudah di sini.”

Napasnya terdengar berat.

“Diane, dengarkan baik-baik. Jangan masuk ke aula dulu.”

Aku membeku.

“Kenapa?”

“Karena ayahmu baru saja tiba di kantor notaris bersama seorang gadis yang mengaku sebagai dirimu.”

18/05/2026

Suamiku menjalani vasektomi, dan dua bulan kemudian aku hamil. Dia menuduhku selingkuh, meninggalkanku demi wanita lain… tapi dia tidak tahu bahwa kejutan terbesar justru akan datang saat pemeriksaan USG.
Saat aku melihat dua garis merah muda itu, aku menangis bahagia.
Aku pikir itu adalah keajaiban.
Aku memegang test pack dengan tangan gemetar lalu berlari menunjukkan hasilnya kepada Diego.
Dia sedang berada di dapur, minum kopi, seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa menghancurkan ketenangan palsunya.
“Aku hamil,” kataku.
Dia tidak tersenyum.
Dia tidak memelukku.
Dia bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.
Dia hanya meletakkan cangkirnya di meja dan menatapku seolah baru menemukan sampah di rumahnya.
“Itu tidak mungkin.”
Tenggorokanku terasa sesak.
“Maksudmu apa, tidak mungkin?”
Diego tertawa dingin.
“Aku menjalani vasektomi dua bulan lalu, Laura. Aku bukan orang bodoh.”
Kata itu terasa seperti tamparan.
Bodoh.
Itulah sebutan pria yang telah menikah denganku selama delapan tahun.
Pria yang berjanji bahwa operasi itu dilakukan “demi kita,” karena kami sudah punya terlalu banyak pengeluaran, karena kami bisa “memikirkan anak lagi nanti.”
Aku mengingatkannya bahwa dokter pernah bilang kami harus menunggu hasil kontrol lanjutan.
Bahwa efeknya tidak langsung.
Bahwa kehamilan masih bisa terjadi.
Tapi Diego sudah tidak mendengarkan.
Dia sudah memiliki vonis sendiri di wajahnya.
“Siapa dia?” tanyanya.
Aku terpaku.
“Apa?”
“Ayah anak itu. Katakan siapa dia.”
Rasa mual menyerangku.
Bukan karena kehamilan.
Tapi karena dirinya.
Malam itu juga dia mengemas koper.
Tidak banyak pakaian.
Cukup untuk membuatku sadar bahwa dia sudah memiliki tempat lain untuk pergi.
“Aku pindah tinggal dengan Paula,” katanya tanpa rasa malu.
Paula.
Rekan kerjanya.
Wanita yang dulu sering mengirim pesan kepadaku meminta resep masakan.
Wanita yang dulu berkata, “Lauri, pernikahanmu indah sekali.”
Wanita yang ternyata hanya menunggu kesempatan untuk mengambil tempat tidurku tanpa harus merapikannya sendiri.
Keesokan harinya, ibu mertuaku datang membawa dua kantong sampah hitam.
Bukan untuk membantuku.
Tapi untuk mengambil barang-barang anaknya.
“Sayang sekali, Laura,” katanya sambil menatap perutku seolah sudah ternoda. “Diego tidak pantas mendapatkan ini.”
“Aku tidak berselingkuh.”
Dia tersenyum penuh rasa iba.
“Semua wanita bilang begitu.”
Dalam waktu kurang dari seminggu, seluruh lingkungan tahu.
Istri tidak setia.
Wanita tak tahu malu.
Wanita yang hamil tepat setelah suaminya vasektomi.
Diego mengunggah foto bersama Paula di restoran mewah di kota.
Paula bergelayut di lengannya.
Dia menulis:
“Kadang hidup mengambil kebohongan agar kamu bisa mendapatkan ketenangan.”
Aku membaca itu sambil duduk di lantai kamar mandi, memeluk toilet, muntah dan menangis bersamaan.
Aku tidak memiliki ketenangan.
Aku memiliki ketakutan.
Takut kehilangan rumah.
Takut membesarkan anak sendirian.
Takut anakku lahir dengan nama keluarga pria yang sudah membencinya bahkan sebelum melihat wajahnya.
Dua minggu kemudian, Diego memanggilku ke sebuah kedai kopi.
Dia datang bersama Paula.
Dan sebuah map.
“Aku ingin perceraian cepat,” katanya. “Dan saat bayi itu lahir, aku ingin tes DNA.”
Paula mengusap perut ratanya sambil berusaha menyembunyikan senyum sinis.
“Itu yang terbaik untuk semua orang.”
Aku menatapnya.
“Untuk semua orang… atau untukmu?”
Diego membanting meja.
“Jangan bermain sebagai korban. Kamu yang menghancurkan keluarga ini.”
Aku membuka map itu.
Surat pelepasan hak rumah.
Tunjangan anak minimum.
Hak asuh bersyarat.
Dan satu klausul yang membuatku membeku: jika bayi itu bukan anaknya, aku harus membayar kembali semua “pengeluaran pernikahan.”
Aku tertawa.
Tawa kering dan hancur.
“Pengeluaran pernikahan? Kamu juga mau menagih biaya bertahun-tahun saat aku mencuci pakaian dalammu?”
Wajah Paula memerah.
Diego mengatupkan rahangnya.
“Tandatangani, Laura. Jangan buat ini lebih memalukan dari yang sudah ada.”
“Yang memalukan adalah kamu pergi dengan selingkuhanmu sebelum sekali pun menemaniku ke pemeriksaan dokter.”
Aku tidak menandatangani apa pun.
Malam itu, aku tidur dengan kursi mengganjal pintu.
Aku sendiri tidak tahu kenapa.
Mungkin karena wanita yang dipermalukan mulai mendengar bahaya di setiap suara kecil.
Keesokan harinya, aku pergi sendiri untuk USG.
Aku memakai gaun longgar.
Aku menata rambutku.
Aku memakai lipstik meski tanganku gemetar.
Bukan untuk Diego.
Untuk diriku sendiri.
Untuk bayi ini yang tidak bersalah atas apa pun.
Ruangan praktik itu berbau alkohol, bedak bayi, dan ketakutan yang dipendam.
Dr. Salinas menyambutku dengan suara lembut.
“Anda datang sendiri?”
Aku mengangguk.
“Suamiku bilang bayi ini bukan anaknya.”
Dokter itu tidak terkejut.
Dia tidak menghakimi.
Dia hanya memintaku berbaring.
Gel di perutku terasa dingin.
Layar mulai menyala.
Aku menahan napas.
Pertama muncul bayangan.
Lalu titik kecil yang bergerak.
Lalu detak jantung.
Kuat.
Cepat.
Hidup.
Aku menutup mulutku dan menangis.
“Halo, sayangku,” bisikku.
Dokter tersenyum kecil.
Namun kemudian dia menggeser alat USG sedikit lebih jauh.
Senyumnya menghilang.
Dia mengernyitkan dahi.
Dia memperbesar gambar.
Dia memeriksa kembali tanggal menstruasi terakhirku.
Lalu melihat berkas medis.
“Nyonya Laura… tepat kapan suami Anda menjalani vasektomi?”
Tubuhku terasa dingin.
“Dua bulan lalu.”
Dia tidak langsung menjawab.
Dia menarik layar lebih dekat.
Detak jantung itu masih terdengar.
Tapi ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang membuat dokter menghentikan alat itu dan berubah sangat serius.
“Ada apa?” tanyaku panik sambil berusaha bangun. “Bayiku baik-baik saja?”
Dokter menurunkan suaranya.
“Bayi Anda baik-baik saja. Tapi saya butuh Anda mendengarkan ini dengan tenang.”
Pada saat itu, pintu tiba-tiba terbuka tanpa izin.
Diego masuk dengan Paula di belakangnya.
“Bagus,” katanya. “Sekarang dokter akhirnya bisa memberitahuku berapa minggu usia kandungan anak pria lain itu.”
Dokter perlahan menoleh ke arahnya.
Dia melihat Paula.
Lalu melihat layar sekali lagi.
Dan berkata:
“Tuan Diego, sebelum Anda menuduh istri Anda lagi… Anda perlu melihat apa yang muncul di sini.”

18/05/2026

Aku memecat tukang kebunku yang sudah tua karena kupikir dia sudah tidak berguna lagi. Dua jam kemudian, aku melihatnya meninggalkan rumah pertanianku bersama seorang anak laki-laki kecil. Anak itu menatapku sekali, dan napasku langsung terhenti. Dia memiliki mataku. Dia memiliki wajahku. Dan di atas alis kirinya, dia memiliki bekas luka yang sama persis seperti yang kubawa sejak kecil. 🌺

Selama dua puluh tahun, Raghav Kaka bekerja di rumahku.

Dia bukan sekadar tukang kebun.

Dia adalah orang yang mengenal setiap sudut rumah pertanian keluarga Mehra lebih baik daripada aku sendiri.

Properti itu terletak di pinggiran Delhi, di balik gerbang besi panjang, dengan pohon neem di satu sisi, bunga bougenville merambat di tembok pembatas, dan sebuah pohon gulmohar di tengah halaman yang membuat seluruh taman berwarna merah setiap musim panas.

Ayahku yang membangun tempat itu.

Aku mewarisinya setelah dia meninggal.

Dan taman itu adalah kebanggaannya.

Orang-orang dari lingkungan sosial kami sering membicarakannya saat pesta.

“Halaman keluarga Mehra seperti resort bintang lima.”

“Mawar kalian lebih bagus daripada yang ada di India Habitat Centre.”

“Siapa yang merawat tempat ini, Arjun?”

Aku biasanya tersenyum dan berkata,

“Tukang kebun tua kami.”

Tukang kebun tua itu adalah Raghav Kaka.

Dia telah membungkukkan punggungnya di tanah kami selama dua dekade.

Dia tahu kapan bunga melati akan mekar.

Dia tahu semak mawar mana yang ditanam ibuku sebelum meninggal.

Dia tahu pohon mangga tempat aku pernah jatuh saat kecil dan membelah alisku.

Tapi dalam beberapa bulan terakhir, taman itu berubah.

Daun-daun kering berserakan di bawah pagar tanaman.

Hamparan mawar terlihat layu.

Rumput memiliki bercak kuning.

Bunga sepatu di dekat beranda belum dipangkas.

Dan jalan setapak yang dulu terlihat seperti taman istana kini dipenuhi bunga gugur dan debu.

Pagi itu, aku keluar sambil membawa kopi.

Aku ada rapat di South Delhi jam sebelas.

Aku sudah kesal sejak awal.

Lalu aku melihat Raghav Kaka duduk di bawah pohon gulmohar tua.

Tidak bekerja.

Hanya duduk.

Tangannya kotor.

Kepalanya tertunduk.

Bahunya terlihat lebih kecil dari sebelumnya.

Sesuatu dalam diriku meledak.

“Raghav Kaka,” kataku dingin.

Dia mendongak perlahan.

“Ya, Arjun baba?”

Aku benci ketika dia memanggilku seperti itu di depan staf.

Aku berusia empat puluh dua tahun, bukan anak kecil.

“Aku membayarmu untuk merawat taman ini,” kataku. “Bukan untuk duduk seperti pertapa di bawah pohon.”

Dia menundukkan mata.

“Maaf, sahib. Saya hanya…”

“Aku tidak butuh alasan.”

Aku melihat sekeliling dengan jijik.

“Lihat tempat ini. Daun kering di mana-mana. Cabang tidak dipotong. Bunga-bunga mati. Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini?”

Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi dia tetap diam.

Diamnya justru membuatku semakin marah.

Terlalu banyak orang memanfaatkanku selama ini.

Supir meminta uang muka.

Pelayan menjadi ceroboh.

Pekerja berpikir loyalitas lama sudah cukup.

Aku meletakkan cangkir kopi di meja batu dan mengucapkan kata-kata yang mengubah hidupku selamanya.

“Cukup. Kemasi barang-barangmu.”

Raghav Kaka menatapku.

“Anda memecat saya, sahib?”

“Ya.”

Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia tidak membantah.

“Arjun baba… saya sudah di sini dua puluh tahun.”

“Dan sekarang kamu tidak melakukan pekerjaanmu.”

Dia mengangguk perlahan.

Tidak marah.

Tidak berteriak.

Hanya lelah.

“Saya mengerti.”

Dia berdiri dengan susah payah, mengusap tangannya pada kurta lusuhnya, lalu berjalan menuju kamar staf kecil di belakang gudang alat.

Aku melihatnya pergi.

Selama satu detik, ada sesuatu yang menusuk dadaku.

Rasa bersalah kecil.

Sebuah peringatan kecil.

Aku mengabaikannya.

Tukang kebun yang lebih muda akan datang.

Rumput akan pulih.

Mawar akan kembali mekar.

Hidup akan terus berjalan.

Dua jam kemudian, gerbang utama terbuka.

Aku sedang berdiri di beranda memeriksa email di ponsel saat melihat Raghav Kaka berjalan menuju jalan raya.

Dia membawa tas cokelat tua di bahunya.

Gamchanya melingkar di lehernya.

Tapi dia tidak sendirian.

Seorang anak laki-laki kecil berjalan di sampingnya.

Mungkin berusia lima tahun.

Kurus.

Pendiam.

Memakai kaus biru pudar dan sandal karet.

Dia menggenggam tangan Raghav Kaka erat-erat, seolah seluruh dunia akan merebutnya jika dia melepaskannya.

“Dadu,” tanya anak itu pelan, “kita pergi sekarang?”

Aku mengernyit.

Dadu?

Aku belum pernah melihat anak itu sebelumnya.

Tidak pernah.

Bukan di area staf.

Bukan di dekat gerbang.

Bahkan saat Diwali atau Holi.

Aku menuruni tangga beranda.

“Raghav Kaka,” panggilku.

Dia berhenti.

Anak itu juga berhenti.

“Siapa anak itu?”

Wajah Raghav Kaka berubah.

Hanya sesaat.

Tapi aku melihatnya.

Ketakutan.

“Dia… cucu saya, sahib.”

Ada sesuatu yang salah dalam suaranya.

Terlalu hati-hati.

Terlalu pelan.

Aku mendekat.

Anak itu sedikit bersembunyi di balik kaki lelaki tua itu.

“Cucumu?” tanyaku.

“Ya, sahib.”

“Sejak kapan kamu punya cucu yang tinggal di sini?”

Raghav Kaka tidak menjawab.

Amarahku kembali muncul.

“Lihat aku saat aku berbicara.”

Lelaki tua itu mengangkat wajahnya.

Anak itu juga mendongak.

Dan dunia berhenti.

Matanya.

Ya Tuhan.

Matanya adalah mataku.

Bukan mirip.

Bukan sekadar familiar.

Itu benar-benar mataku.

Cokelat gelap yang sama dengan lingkaran lebih terang di dekat pupil.

Sudut mata yang sama.

Tatapan keras kepala yang sama yang ayahku selalu bilang berasal dari darah keluarga Mehra.

Lalu pandanganku berpindah ke dahinya.

Di atas alis kirinya ada bekas luka kecil melengkung.

Persis di tempat bekas lukaku berada.

Persis bentuk yang sama.

Cangkir kopi terlepas dari tanganku dan pecah di lantai batu.

Anak itu tersentak.

Raghav Kaka menariknya lebih dekat.

Detak jantungku terdengar terlalu keras.

“Siapa namanya?” tanyaku.

Raghav Kaka menelan ludah.

“Aarav.”

Anak itu menatapku dengan mata lebar.

“Dadu bilang aku tidak boleh bicara dengan orang kaya asing.”

Suaranya lembut.

Polos.

Tapi setiap katanya menusukku.

“Ibumu?” tanyaku perlahan. “Di mana ibumu?”

Anak itu melihat Raghav Kaka.

Lalu kembali menatapku.

“Dadu bilang Mama sekarang bersama Tuhan.”

Tenggorokanku terasa kering.

“Siapa nama ibumu?”

Raghav Kaka menutup matanya.

Seolah dia telah menunggu pertanyaan itu selama bertahun-tahun.

Saat dia membuka matanya lagi, tidak ada lagi tukang kebun di depanku.

Hanya seorang pria yang memikul dosa yang terkubur lama.

“Namanya Ananya,” bisiknya.

Nama itu menghantamku seperti tamparan keras.

Ananya.

Ananya Rao.

Gadis yang kucintai dua puluh tahun lalu.

Gadis yang biasa duduk bersamaku di bawah pohon gulmohar yang sama dan mencuri acar mangga dari dapur ibuku.

Gadis yang mengikat benang merah di pergelangan tanganku sebelum perjalanan bisnis pertamaku dan berkata:

“Cepat kembali, Arjun.”

Gadis yang menghilang dari hidupku pada suatu malam musim hujan tanpa satu telepon, tanpa satu surat, tanpa satu penjelasan pun.

Ayahku berkata dia meninggalkanku demi uang.

Teman-temanku bilang dia memanfaatkanku.

Harga diriku mempercayai mereka.

Selama dua puluh tahun, aku membencinya karena menghilang.

Dan sekarang seorang anak berusia lima tahun dengan mataku berdiri di tamanku sambil memegang tangan pria yang baru saja kupecat.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Kapan dia meninggal?” bisikku.

Wajah Raghav Kaka menegang.

“Tahun lalu.”

“Dia tinggal di mana?”

Dia memalingkan wajah.

“Tidak jauh, sahib.”

Tidak jauh.

Kata-kata itu merayap ke bawah kulitku.

Tidak jauh.

Selama dua puluh tahun, Ananya ternyata tidak pernah jauh dariku.

Dan tidak ada seorang pun yang memberitahuku.

Aku menatap anak itu lagi.

Dia sedang melihatku dengan kerutan kecil di antara alisnya—kebiasaan yang sama persis saat aku bingung.

Lututku terasa lemas.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?” tanyaku pada Raghav Kaka.

Dia menggenggam tangan anak itu lebih erat.

“Karena madam memohon agar saya tidak memberi tahu Anda.”

“Madam yang mana?”

Dia tidak menjawab.

Taman mendadak sunyi.

Bahkan burung-burung pun seolah berhenti bernyanyi.

“Madam yang mana?” ulangku lebih keras.

Bibir Raghav Kaka bergetar.

Sebelum dia sempat bicara, anak itu melepaskan tangannya dan melangkah kecil ke arahku.

Dia menatap wajahku.

Lalu bekas lukaku.

Lalu mataku.

Dan dengan suara yang membuat dua puluh tahun runtuh dalam sekejap, dia bertanya:

“Apakah kamu pria yang selalu membuat Mama menangis setiap malam?”

17/05/2026

Aku guru, anakku sudah dokter
Kebahagiaan terbesar kami selalu orang tua adalah berhasil mewujudkan mimpi besar anak kami.
Ketika anak kami mengutarakan keinginannya ingin jadi dokter,dalam lubuk hati terdalam ada rasa kuatir tidak mampu mewujudkan mimpinya, cita citanya.
Tapi sebagai orangtua yang kebetulan kami berdua adalah guru,tak mungkin mengubur mimpi anak kami.
Kami bertekad mewujudkan mimpinya..
Walau berat perjuangan tuk mewujudkan mimpinya,karena kami hanyalah guru..
Lelah,capek,kesulitan dalam keuangan dan banyak lagi perjuangan yang harus kami jalani tuk meraih mimpi anak kami..
Dan akhirnya setelah 5,5 tahun, mimpi besar anak kami ingin jadi dokter terwujud.
Kami bisa berdiri gagah bersama orangtua lain yang mungkin kehidupan nya lebih dari kami,saat anak kami mengikuti acara sumpah dokternya.
Ada kebahagiaan yang tak terkira saat itu,mengiringi tetes airmata yang mengalir saat melihat anak kami memakai baju putih kebanggaannya..
Aku dan istriku guru,.. Anak kami sudah jadi dokter..
Semua karena ijinmu Ya Allah..
Alhamdulillah karena semua rezeki dan ridhoMu.

17/05/2026

HISAB TERBERAT SEORANG SUAMI
KELAK DI AKHIRAT

Bukan tentang seberapa besar penghasilanmu,
tapi ke mana dan kepada siapa hartamu ditunaikan.

Bukan seberapa keras suaramu di rumah,
tapi seberapa adil perlakuanmu kepada istrimu.

Hisab terberat seorang suami
bukan soal dunia yang gagal kau kuasai,
melainkan amanah yang kau sia-siakan.

Engkau akan ditanya:
• Apakah istrimu kau cukupkan lahir dan batin?
• Apakah anak-anakmu kau pimpin dengan teladan?
• Apakah rumahmu kau jaga dari zalim dan lalai?

Allah tidak akan bertanya
berapa jam kau bekerja,
tapi berapa hak yang kau tunaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban."
(HR. Bukhari & Muslim)

Istri yang diam bukan berarti ridha.
Air mata yang tersembunyi
bisa berubah menjadi saksi yang berbicara.

⚠️ Ingat, wahai suami:
isteri bukan tempat melampiaskan lelah,
tapi amanah yang akan menuntut keadilan.

Maka sebelum kau berdiri lama di hadapan Allah,
berdirilah lebih dulu untuk memperbaiki rumah tanggamu.

Karena hisab paling berat
adalah kezaliman yang kau anggap sepele.

Kredit : umi pipik Dian Irawati Al Buchori

16/05/2026
16/05/2026

“Aku menyesal menikahimu.” Kalimat itu menghancurkan sepuluh tahun cintaku pada Mas Arkan. Aku memilih pergi membawa rahasia yang tak akan pernah ia tahu sampai takdir mempertemukan kami lagi saat dia menyadari bahwa...

***

Part 5

Arkan menatap ponselnya, kemudian menaruhnya di saku. Entahlah, sejak menikah dengan Vanya. Dia malah tidak menyukai keberadaan perempuan itu. Baginya, Vanya tidak lebih dari adiknya. Jadi, sangat janggal bila dirinya tiba-tiba menjadi suami Vanya.

"Pesan dari siapa?" tanya perempuan di sampingnya.

"Oh, bukan siapa-siapa," jawab Arkan dengan tenang.

"Kupikir kekasihmu," tukas Livia tersenyum.

"Kekasih dari mana. Kamu tahu siapa perempuan yang ada dalam hatiku, kan?" tanya Arkan.

"Memangnya, tidak ada yang bisa menggantikanku? Kamu yakin kalau akulah perempuan yang ada dalam hatimu?" jawab Livia membuat Arkan terdiam.

"Livia, seharusnya kamu tahu dengan jelas kalau hatiku hanya untukmu. Tidak ada yang lain," balas Arkan yang membuat wajah Livia tersipu.

Arkan tersenyum puas, baginya membuat Livia adalah sebuah keharusan. Bahkan, bila perempuan di hadapannya ingin dia menunggu lebih lama untuk memantapkan pilihan. Arkan dengan rela menunggu Livia hingga perempuan itu siap.

*

Vanya menggenggam tangan Dimas. "Mas... kenapa kamu menitipkanku pada Arkan. Mengapa harus meminta kami menikah?"

"Kapan kamu bangun, Mas! Baru sebentar menikah. Aku sudah lelah. Haruskah kami berpisah?"

"Aku tidak kuat lagi dengan sikap Mas Arkan yang berubah. Tolong bangunlah, Kak. Aku ingin kamu kembali menemaniku," gunan Vanya menangis melihat keadaan kakaknya.

Cukup lama, Vanya di rumah sakit. Dia harus tetap pulang karena tubuhnya cukup lelah. Vanya yakin Dimas akan segera sembuh dan menjadi pelindungnya lagi.

Sesampainya di rumah dia melihat Arkan sedang makan di meja makan. "Lain kali pulang lebih cepat dan jangan terlalu mencolok di apartemen ini, Vanya. Kehadiran kamu di kampus itu sudah beban buat saya. Apalagi kalau Livia sampai tahu siapa kamu sebenarnya, reputasi saya bisa hancur."

"Hanya karena reputasi?" Vanya mendekat, suaranya bergetar. "Aku ini istri Mas! Mas membiarkan orang lain tidak mengetahui hubungan kita, padahal kita sudah menikah!"

Arkan berbalik, menatap Vanya dengan mata yang sangat dingin, seolah ia sedang menatap serangga yang mengganggu. "Dengar baik-baik, Vanya. Saya menikahi kamu karena Dimas sekarat, bukan karena saya peduli pada perasaan kamu. Kalau kamu ingin saya menghargai kamu, setidaknya berhentilah bersikap memuakkan."

"Memuakkan?"

"Iya. Membuat bekal, mengejar saya ke kelas, menatap saya seolah-olah saya adalah pusat dunia kamu... itu menjijikkan bagi saya," ucap Arkan tajam.

"Livia adalah wanita yang punya harga diri. Dia tidak pernah merendahkan dirinya demi laki-laki. Seharusnya kamu belajar dari dia, bukan malah menjadi beban hidup saya."

Vanya tertawa getir, air matanya tumpah. Kesal sekali mendengar dia dibandingkan dengan perempuan itu.

"Livia lagi... selalu Livia. Kenapa Mas nggak nikah sama dia aja dari dulu?"

"Kalau bukan karena kecerobohan Dimas yang bikin dia kecelakaan dan membebani saya dengan kamu, saya mungkin sudah bersama Livia sekarang!" bentak Arkan. "Setiap kali saya melihat kamu, Vanya, saya diingatkan betapa malangnya hidup saya karena harus terikat dengan gadis tidak berguna seperti kamu."

Jleb. Vanya merasa jantungnya diremas hingga tak berbentuk.

"Jadi..." Vanya berbisik parau, "Mas nyesal nikah sama aku?"

Arkan melangkah maju, mencengkeram rahang Vanya dengan satu tangan, memaksa gadis itu menatap matanya yang penuh kebencian. "Penyesalan terbesar dalam hidup saya adalah hari di mana saya mengiyakan permintaan Dimas di rumah sakit."

Arkan melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Vanya terhentak. Tanpa kata lagi, ia berjalan ke dapur, mengambil botol air minum, dan melihat piring-piring bersih di rak yang baru saja dicuci Vanya.

Dengan sengaja, Arkan menyenggol rak piring itu hingga beberapa piring kaca jatuh dan pecah berkeping-keping di depan kaki Vanya.

"Bersihkan itu. Saya tidak s**a melihat barang murah memenuhi dapur saya," ucap Arkan dingin, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.

Vanya berdiri mematung di tengah pecahan kaca. Ia tidak menangis lagi. Rasa sakit di hatinya sudah melampaui batas air mata. Ia berjongkok, mulai memunguti pecahan kaca itu dengan tangan kosong, membiarkan ujung-ujung tajamnya mengiris telapak tangannya.

Darah mulai menetes, bercampur dengan debu di lantai. Tapi Vanya tidak berhenti. Ia justru meremas salah satu pecahan kaca paling tajam di genggamannya.

Arkan terbangun karena merasa haus. Saat ia keluar dari kamar, ia melihat lampu dapur masih menyala. Ia berjalan ke sana, bersiap untuk memarahi Vanya karena tidak mematikan lampu.

Namun, langkahnya terhenti.

Di lantai dapur, Vanya sedang duduk bersandar pada kabinet. Lantai di sekitarnya sudah bersih dari pecahan piring, tapi warna marmer putih itu kini berubah menjadi kemerahan. Vanya tidak pingsan. Dia hanya duduk diam, menatap tangannya yang hancur bersimbah darah dengan tatapan kosong.

"Vanya?" panggil Arkan, suaranya sedikit tercekat.

Vanya mendongak perlahan. Wajahnya pucat pasi. "Mas... tanganku sakit. Tapi kenapa nggak sesakit yang di sini ya?" ia menunjuk dadanya dengan tangan yang bersih.

Tiba-tiba, ponsel Arkan di atas meja makan bergetar. Sebuah pesan dari Livia.

Livia: Arkan, terima kasih buat makan malamnya. Besok jangan lupa jemput aku ya, kita ada rapat pagi. I missed our time in Berlin.

Vana melihat notifikasi yang muncul di layar ponsel itu karena letaknya tepat di depannya. Ia tersenyum tipis, senyum yang terlihat sangat hampa.

"Mas jemput Bu Livia aja besok," bisik Vanya. "Aku bisa ke rumah sakit sendiri. Aku mau minta Mas Dimas buat... batalin janji Mas."

Vanya mencoba berdiri, namun karena kehilangan banyak darah, ia limbung. Arkan refleks menangkapnya, namun saat kulit mereka bersentuhan, Vanya menarik tangannya dengan kasar seolah sentuhan Arkan adalah

Siapa bisa milih
28/04/2026

Siapa bisa milih

28/04/2026

SAAT SUAMIKU PERGI DINAS, DIA MENGUNGGAH FOTO “SELAMAT DATANG PUTRI KECIL KAMI”—TAPI SATU KOMENTAR DARI SAHABATNYA MENGHANCURKAN ENAM TAHUN PERNIKAHAN YANG KUKIRA NYATA
Aku tidak melahirkan. Aku bahkan tidak hamil. Tapi di unggahan suamiku, dia sudah resmi menjadi seorang ayah.
Saat membacanya, rasanya seperti disiram air es ke seluruh tubuhku. Dan yang lebih menyakitkan, bukan foto bayi itu yang pertama kali membunuh perasaanku—melainkan komentar di bawahnya.
Malam itu, saya masih di kantor di Jakarta, menunduk di depan laporan keuangan untuk audit kuartal. Sudah jam delapan malam tapi aku belum juga pulang. Makanan yang kupesan sudah mendingin di samping laptop, dan suara AC di seluruh lantai seolah tidak peduli dengan rasa lelahku.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Noel.
Suamiku.
Kami sudah menikah selama enam tahun.
Aku sempat tersenyum saat melihat namanya muncul. Kupikir dia menelepon untuk mengucapkan selamat tidur, seperti yang selalu dia lakukan saat sedang proyek di luar kota. Tapi bukan telepon yang menyambutku. Melainkan sebuah unggahan baru di media sosialnya.
“3.8 kg. Selamat datang putri kecil kami. Terima kasih atas hadiah terindah ini, Tuhan.”
Terlampir foto seorang bayi yang baru lahir. Pipinya merah, kulitnya masih keriput, dan tangan kecilnya mengepal kuat. Ada kain rumah sakit berwarna biru di belakangnya dan dinding ruang pengiriman yang putih bersih.
Napas seolah berhenti. Saya tidak langsung mengerti apa yang kubaca. Aku membacanya lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Tiga koma delapan kilo. Putri kecil. Putri kecil kami.
Tanganku mulai gemetar. Noel sudah berempat hari berada di luar kota, katanya untuk inspeksi lokasi dan negosiasi akhir proyek pengembangan properti. Beberapa bulan terakhir perjalanannya memang sangat padat, tapi aku tidak pernah menaruh rasa curiga. Dia selalu menelepon. Selalu bilang rindu. Selalu bertanya apakah saya sudah makan.
Meskipun enam tahun kami belum dikaruniai anak, dia sungguh percaya bahwa kami tetap satu tim.
Apalagi akulah yang berkali-kali melakukan pemeriksaan medis. Aku yang menjalani tes laboratorium, hormon, USG, suplemen, doa, harapan, dan kekecewaan setiap bulan. Setiap kali ada yang bertanya kapan kami punya anak, aku yang tersenyum dan berkata, "Akan datang pada waktu yang tepat."
Lalu bagaimana sekarang bisa, hanya dalam satu unggahan, tiba-tiba dia menjadi seorang ayah?
Saya membuka kolom komentar. Masih berharap ada penjelasan. Mungkin keponakan. Mungkin anak sepupu. Mungkin hanya bercanda.
Komentar pertama yang kulihat adalah dari ibu mertuaku.
"Akhirnya! Cucu perempuan kami sudah lahir. Kamu memang hebat, Nak!"
Rasanya seperti ada hantaman keras di pelipis. Disusul komentar ayah mertuaku.
“Anggota baru keluarga kita sudah tiba! Selamat!”
Jantungku berdegup kencang. Ini bukan candaan. Ini bukan sekadar ucapan selamat untuk orang lain. Aku terus membaca ke bawah.
"Selamat mas! Kapan aqiqahnya?"
"Cepat sekali, Pare! Ternyata kamu sudah jadi Ayah."
“Hidungnya mirip sekali denganmu. Menang banyak!”
Tenggorokanku terasa kering saat membaca semuanya satu per satu. Saya ingin mengetik. Ingin bertanya: Apa maksud semua ini? Anak siapa itu? Siapa yang melahirkan? Tapi aku tidak sanggup. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Lalu aku melihat komentar dari Marco—sahabat Noel sejak kecil, pendamping pria di pernikahan kami, yang sering makan di rumah kami setiap akhir pekan.
Dan dalam sekejap, duniaku seolah runtuh.
"Istrimu cepat sekali pulih ya. Kemarin katanya punggungnya masih sakit, sekarang sudah melahirkan. Gila kamu, Pare—berkah ganda! Proyek tembus, jadi ayah juga. Hidupmu sempurna!"
Aku suk.
Istri?
Siapa istri yang dimaksud?
Aku adalah istri Noel. Aku istri sahnya. Tapi aku tidak hamil. Aku tidak melahirkan. Saya tidak mengeluh sakit punggung karena kontraksi. Jadi siapa yang dimaksud Marco?
Telapak diterima mendingin meski aku gemetar ketakutan. Ada rasa sesak yang menghimpit dada. Saya tidak lagi merasakan gangguan kantor. Aku hanya mendengar detak jantungku yang keras dan dengung AC yang seolah-olah mengejekku.
Aku duduk berbaring di sana selama sepuluh menit. Kemudian, aku menelepon satu-satunya orang yang tahu tidak akan membiarkanku gila sendirian—Celine. Sahabat kuliahku yang kini menjadi pengacara sukses. Dia cerdas, berani, dan tidak mudah terbawa emosi.
"Halo? Mira? Kamu baik-baik saja?" tanyanya langsung saat mendengar suaraku.
Celine.tolong lihat ini.Aku akan mengirimkannya padamu.
Aku mengirimkan tangkapan layar itu. Beberapa menit kemudian, dia langsung menelepon balik.
"Apa ini? Kapan Noel punya anak?" tanyanya bingung. “Dan kenapa aku baru tahu kalau kamu hamil?”
“Aku tidak hamil,” kataku. Suaraku hampir pecah menahan tangis. "Aku tidak hamil, Celine. Aku tidak tahu apa ini."
Hening di seberang sana. Lalu, perlahan dia berkata, “Mira… maksudmu, mungkinkah Noel punya wanita lain?”
Aku terpejam. "Aku tidak tahu. Tapi baca komentar Marco. Dia menyebut 'istri'. Dan orang tua Noel… sepertinya mereka tahu.”
"Marco tidak mungkin tidak mengenalmu. Kalian sudah sering bersama. Jika dia menyebut orang lain 'istri'..." Dia menggantung kalimatnya.
“Katakan saja,” paksaku.
“Jika dia menyebut wanita lain sebagai 'istri', itu artinya ada kehidupan yang mereka semua ketahui tapi disembunyikan darimu.”
Rasanya seperti ada pisau yang ditancapkan di dadaku. enam tahun. Enam tahun aku percaya suamiku mencintaiku. Bahwa hanya ada kami. Bahwa satu-satunya masalah kami hanyalah belum punya anak.
Aku teringat ibu mertuaku bulan lalu. Dia berkunjung ke apartemen kami. Beberapa kali dia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi selalu berakhir dengan helaan napas. Saya bahkan bertanya apakah ada masalah. Dia hanya tersenyum paksa dan berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Yang penting hubungan kalian berdua baik-baik saja.”
Dulu, mengira itu hanya kekhawatirannya karena kami belum punya anak. Saat ini, maknanya terasa berbeda.
Ada satu hal lagi. Dua minggu lalu, ada telepon untuk Noel saat kami makan malam. Saat melihat layar, wajahnya langsung berubah. Dia segera berdiri dan mengatakan ada keadaan darurat di proyek. Saat dia pulang larut malam, ada bau alkohol dan dia bilang habis minum dengan investor.
Aku tidak curiga. Dia suamiku. Aku memilih untuk percaya. Sekarang, saya merasa seperti orang bodoh yang paling terakhir tahu.
Saat masih memegang ponsel, tiba-tiba ada telepon masuk.
Noel.
Aku menatap namanya di layar. Beberapa detik aku tidak bergerak. Kemudian, aku mengangkatnya.
“Sayang,” sapanya ceria, kegembiraan di suaranya tidak bisa disembunyikan. “Kamu sudah lihat unggahanku?”
Aku menelan semua rasa sakit di tenggorokan. “Sudah.”
“Kejutannya kan?” sambil tertawa. “Aku juga tidak menyangka akan secepat ini.”
“Secepat apa?” tanyaku, berusaha menjaga suaraku tetap datar.
Ada keheningan selama beberapa detik. Kemudian, dia menghela napas pelan dan berkata—
“Ayolah, sayang… apakah kamu benar-benar tidak ingat apa yang kamu lakukan saat ulang tahun ibuku?”
Dan pada saat itu, aku semakin takut—karena untuk pertama kalinya aku mendengar suamiku berbohong dengan nada yang begitu tenang.
Aku menggenggam ponselku begitu erat hingga buku jariku memutih. “Apa yang dibuat dengan ulang tahun ibumu, Noel?”
“Sayang, jangan bercanda,” suaranya terdengar sangat meyakinkan, hampir membuatku meremehkan kewarasanku sendiri. "Bulan lalu kan kita sepakat soal adopsi terbuka itu. Kamu sendiri yang bilang ingin merahasiakannya sampai bayi ini lahir agar tidak ada tekanan dari orang lain. Kamu yang menyuruhku memposting seolah-olah ini kemenangan kita bersama."
Aku tertegun. Adopsi? Kami tidak pernah mengadopsi adopsi bulan lalu. Kami bahkan hampir tidak berbicara karena dia selalu pulang larut malam.
“Noel, kita tidak pernah sepakat soal itu,” kataku, suaraku kini bergetar hebat. "Dan kenapa Marco menyebut wanita itu 'istrimu yang cepat pulih'? Kenapa dia bilang wanita itu sakit punggung kemarin? Kamu sedang di luar kota, Noel. Dan aku di Jakarta, di kantorku!"
Hening. Sunyi yang mematikan di seberang telepon.
Tiba-tiba, suara ceria itu hilang. Diganti oleh nada dingin yang belum pernah kudengar selama enam tahun pernikahan kami.
"Harusnya kamu tetap diam di kantor, Mira. Harusnya kamu tidak membaca komentar itu."
Klik. Telepon diputuskan.
Saya mencoba menelepon balik, tapi nomornya sudah tidak aktif. Aku segera menyambar tas dan kunci mobilku. Persetan dengan laporan audit. Aku meluncur ke rumah mertuaku. Jika mereka berkomentar seolah-olah sudah tahu segalanya, maka mereka punya penjelasan.
Sesampainya di sana, aku tidak mengetuk pintu. Aku langsung masuk. Di ruang tamu, aku melihat ibu mertuaku sedang mengemas tas berisi perlengkapan bayi yang sangat mewah.
“Di mana dia, Bu?” tanyaku tanpa basa-basi.
Ibu mertuaku tersentak. Wajahnya penuh rasa bersalah, tapi juga ada semacam ketegasan yang kejam. "Mira, duduklah dulu. Noel akan menjelaskan semuanya—"
"Menjelaskan apa? Bahwa dia punya istri lain? Bahwa bayi itu anak kandungnya dengan wanita lain?"
Ibu mertuaku mendesah panjang, ia meletakkan baju bayi itu di meja. "Keluarga kami butuh penerus, Mira. Enam tahun kami menunggumu, tapi rahimmu tetap kosong. Noel hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang laki-laki untuk keluarganya."
Duniaku runtuh seketika. "Jadi Ibu tahu? Selama ini Ibu tahu dia punya wanita lain?"
"Wanita itu tidak punya apa-apa, Mira. Dia hanya memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan: seorang anak. Noel berencana tetap bersamamu, menerapkan secara hukum agar posisimu tetap aman. Tapi kamu malah mencapainya dengan datang ke sini
Aku tertawa pahit, air mata akhirnya jatuh membasahi pipiku. "Menjadikannya adopsi? Dia ingin aku membesarkan anak hasil perselingkuhannya dan menyebutnya sebagai kemenanganku?"
Tepat pada saat itu, pintu terbuka. Noel masuk. Tapi dia tidak sendiri. Di belakangnya, seorang wanita muda yang tampak pucat namun cantik—wanita yang mungkin baru saja keluar dari klinik bersalin—menggendong bayi itu. Marco ada di belakang mereka, membawa koper.
Marco tampak terkejut melihatku. Dia langsung menunduk, tidak berani menatap mataku. Dialah yang secara tidak sengaja mengungkap rahasia ini melalui komentar bodohnya di media sosial.
Noel memandang, tidak ada penyesalan di matanya. "Sudah tahu kan? Bagus. Sekarang kita tidak perlu bersandiwara lagi."
“Enam tahun, Noel,” bisikku. “Aku melakukan semua tes medis, aku menanggung malu ditanya kapan hamil, sementara kamu… kamu sudah menyiapkan cadangan?”
“Dia bukan cadangan,” Noel memotong dengan tajam. "Dia ibunya. Dan sekarang, dia yang akan tinggal di sini. Kamu bisa pergi ke apartemen kita, aku akan mengurus surat cerainya minggu depan."
Aku menatap bayi itu. Bayi yang tidak berdosa, namun menjadi simbol paling dikhianati dalam seumur hidup. Aku melihat Noel merangkul wanita itu di depan mataku, di depan ibunya, di rumah yang dulu kupikir adalah tempatku pulang.
Aku berbalik tanpa mengucapkan kata pun lagi. Tidak ada maksudnya berteriak. Tidak ada maksudnya memohon. Enam tahun pernikahanku ternyata hanyalah masa percobaan yang gagal di mata mereka karena aku dianggap “cacat” secara biologis.
Malam itu, di dalam mobil di depan rumah mertuaku, aku menghapus foto profil pernikahanku. Aku mengambil tangkapan layar unggahan Noel dan komentar Marco sebagai bukti perselingkuhan untuk pengacaraku.
Saat aku menyalakan mesin mobil, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Sebuah foto: Noel, wanita itu, dan bayi mereka, sedang tersenyum bahagia di dalam kamar rawat.
Aku menghapus pesan itu, menginjak gas, dan meninggalkan masa laluku di spion. Mereka mendapatkan “putri kecil” mereka, tapi mereka baru saja kehilangan satu-satunya orang yang mencintai mereka tanpa syarat.

Address

Hong Kong

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ROSSA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share