ROSSA

ROSSA Berdamailah Dengan Hati

24/01/2026

"Yang Pppk Itu aku, Ma. Mas Bayu sampai sekarang masih honor "

Duarrr

Mertuaku pingsan seketika. Baru segitu pembalasanku seisi rumah sudah kalang kabut.

Bab 3

"Sudahlah Sekar, aku tahu kalau selama ini kamu tidak ikhlas melakukan apapun untukku. Kamu tidak ikhlas untuk membantuku menyenangkan anggota keluargaku, padahal kamu tahu sendiri bahwa surgaku terletak di kaki ibuku. Jadi aku berniat untuk berbakti kepadanya dengan menyenangkan adikku satu-satunya. Karena kamu tahu sendiri kan? Dia sangat menginginkan sepeda motor selama ini, tapi aku belum juga memberikannya. Apa salahnya sekarang aku membelikannya?" ujarnya dengan nafas memburu.

Yang membuatku seketika terdiam, lalu aku pun bicara kepadanya untuk memberikan gambaran bahwa apa yang dia lakukan hanya akan menambah bebanku saja.

"Apa kamu tidak memperkirakan berapa pendapatanku setiap bulan, Mas? Bukankah selama ini kita tak punya simpanan sedikitpun? Marena semuanya habis untuk memenuhi semua kebutuhan orang-orang yang ada di rumah ini? Bahkan untuk membeli mesin cuci saja sampai saat ini aku tidak mampu, Mas!" ucapku sambil menahan air mata.

Sungguh aku begitu terluka dengan semua perlakuan Mas Bayu yang seperti hanya memanfaatkanku saja. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang baik baginya.

Bahkan aku merelakan semua penghormatan yang seharusnya aku dapatkan malah dia yang memperoleh semuanya. Aku juga terpaksa setiap hari menahan hinaan dan juga cacian dari ibu mertua dan juga para iparku karena mereka beranggapan aku hanyalah perempuan mandul yang berstatus honor yang sampai kapanpun tidak akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.

Padahal akulah yang PNS, dan semua itu aku tahan karena aku begitu menghormati Mas Bayu. Dan beranggapan bahwa dia juga menghormati serta menyayangiku, tapi nyatanya semakin lama aku semakin menyadari. Bahwa Mas Bayu hanya memperalatku saja.

"Sudahlah, kamu jangan membantah ucapanku Sekar! Lagi p**a untuk mencuci baju kamu masih bisa menggunakan kedua tanganmu. Lagi p**a tanganmu tidak sakit sedikitpun, jadi jangan manja Sekar!" ucapnya tanpa rasa iba sedikitpun.

Aku seketika menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi p**iku.

"Kadi kamu tak peduli sedikitpun kepadaku Mas? Sementara aku sudah begitu berkorban untukmu?" ucapku sambil menahan kesedihan yang merajai diriku.

"Sudahlah Sekar, jangan bicara terlalu keras! Apa kamu ingin mengumumkan kepada semua orang yang ada di rumah ini, bahwa kamulah yang PNS sementara aku tidak!" ucapnya dengan nada suara cukup pelan agar pembicaraan kami tidak didengar oleh siapapun.

Karena dia pasti tidak mau semua rahasia itu terbongkar, karena selama ini dia sudah mendapat penghormatan serta derajat yang tinggi di kompleks tempat kami tinggal karena semua orang langsung menaruh rasa hormat kepadanya. Karena sekarang dia adalah seorang PNS yang memiliki penghasilan bulanan yang tetap serta bisa memenuhi semua kebutuhan anggota keluarganya. Padahal semua itu akulah yang seharusnya mendapatkannya.

"Aku sudah lelah menjalani semua kebohongan ini Mas! Aku capek setiap hari harus dihina dan juga direndahkan oleh anggota keluargamu, bahkan setiap waktu mereka merendahkanku karena statusku yang honor seperti anggapan mereka. Aku tak ingin selalu direndahkan seperti ini, aku juga ingin menggunakan uang yang aku hasilkan untuk membeli sepeda motor bagi diriku pribadi. Karena aku sungguh lelah setiap hari harus nebeng kepada guru-guru yang lain sementara kamu tak peduli sedikitpun kepadaku!" ucapku dengan nada lantang penuh penekanan.

Mendengar perkataanku Mas Bayu seketika memasang wajah gusar, aku tahu dia pasti takut aku membongkar semua kenyataan itu kepada semua anggota keluarganya.

Hingga dia pun seketika memohon agar aku tidak melakukannya.

"Kamu ini apa-apaan sih Sekar? Apa kamu mau mempermalukanku di hadapan semua orang? Ayolah jangan bersikap seperti ini! Aku tidak mau dipermalukan oleh semua orang terutama para tetangga yang ada di sekitaran tempat tinggal kita ini. Semua orang mengetahui bahwa aku seorang PNS, bukannya kamu!" ucapnya dengan wajah sedikit panik.

Aku seketika terdiam dan melihat bagaimana takutnya dia jika semua kenyataan itu terbongkar.

"Jika kamu tidak mau aku membongkar semua kenyataan ini, maka berikan sepeda motor itu kepadaku. Kalau tidak, aku tidak akan mau membayar angsuran setiap bulannya!" ucapku mengancam Mas Bayu.

Hingga membuat dia pun langsung melotot tajam kepadaku, kemudian berdiri lalu menampar wajahku dengan cukup keras. Yang membuat ku terkejut hingga terhuyung ke belakang.

Sensasi nyeri di p**i yang baru saja ditampar oleh Mas Bayu membuatku sadar seketika. Aku seketika melotot tajam kepadanya.

"Apa? Kamu berani menamparku Mas? Jadi ini balasan atas semua pengorbananku kepadamu?" ujarku sambil memegangi p**i yang terasa begitu panas serta sakit akibat tamparan yang baru saja dia lakukan.

Mas Bayu seketika terkejut dan menyadari apa yang baru saja dia lakukan kepadaku, hingga dia pun seketika memohon ampun atas apa yang dia lakukan itu.

" Maaf, Maaf sayang, mas benar-benar khilaf. Tolong maafkan mas, mas tidak mau kamu melakukan hal ini! Jangan berpikir seperti itu, Sayang! Mita benar-benar berharap memiliki sepeda motor itu, tolong jangan ambil sepeda motor itu. Mas berjanji nanti setelah sepeda motor ini lunas. Kamu boleh membeli sepeda motor untuk dirimu pribadi," bujuknya dengan wajah sendu.

Aku seketika menghempaskan tangan Mas Bayu yang memegangi kedua pundakku. Lalu menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

"Kamu tak punya perasaan sedikitpun Mas! Aku tak menyangka ini yang kamu lakukan kepadaku!" ucapku sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi p**iku, karena aku sungguh tak menyangka semua pengorbananku hanya sia-sia semata bagi laki-laki yang begitu aku cintai.

Bahkan aku sanggup berkorban begitu besar untuknya, untuk membuat namanya agung dan dihormati banyak orang.

" Mas benar-benar khilaf Sayang, tolong jangan masukkan ke dalam hati tindakan Mas tadi. Ayo sini!" ujarnya sampai menarik tubuhku ke dalam pelukannya, tapi aku langsung memberontak kemudian mendorong tubuhnya dengan kasar.

"Jangan mendekatiku Mas! Kamu benar-benar keterlaluan. Aku sungguh kecewa kepadamu!" ucapku dengan berlinang air mata.

Aku langsung berlari masuk ke kamar mandi kemudian menangis seorang diri di sana, meluapkan semua kekecewaan serta kesedihan yang aku rasakan atas semua perlakuan Mas Bayu kepadaku.

Sementara Mas Bayu terdengar begitu kesal saat aku mengabaikannya.

"Jangan marah kepadaku Sekar. Aku mohon jangan lakuk

21/01/2026

(5) Sudah mapan jadi Pilot, Aku Tak Tertarik Menikah, toh tanpa menikah, rekan-rekan kerjaku yang cantik-cantik itu dengan s**a cita menuntaskan kebutuhan biologisku.

Tapi, takdir tiba-tiba menjebakku pada situasi yang sulit saat bertemu bocil playing victim ini di kamarku.

❤️❤️❤️

"Ayah, tolong jangan bercanda!" sumpah, aku masih nggak percaya, sepertinya aku salah dengar, mana mungkin sih, Ayah beneran minta aku nikahin bocah playing victim ini?

"Ayah nggak bercanda, Agam. Ayah serius!" Oh my God ... please, sadarkan aku bahwa ini cuma mimpi!

Kulirik bocah yang sejak tadi curi-curi pandang ke arahku, kutajamkan pandangan sehingga ia cepat-cepat menundukkan pandangannya kembali. Entah karena malu telah kepergok memandangiku, atau memang dia menghindari kontak mata denganku.

"Ayah, saya kan nggak sengaja, kenapa saya harus dihukum?" Aku protes, tentu saja nggak terima dengan segala keputusan yang merugikanku ini.

"Kamu pikir, saat kamu di jalan, kemudian nggak sengaja melanggar rambu lalu lintas, polisi akan memaafkanmu begitu saja tanpa memberikan hukuman?" Ayah lagi-lagi menyudutkanku dengan kalimatnya.

"Tapi, Yah, ini bukan aturan lalu lintas!"

"Memang bukan, tapi lebih dari itu, ini aturan Tuhan. Kalau polisi saja menghukummu saat kamu menyalahi aturan lalu lintas, lalu bagaimana dengan Tuhan?"

"Innallaha syadidul 'iqob, sesungguhnya siksa Allah itu sangatlah pedih, begitu kata Allah dalam Al Qur'an." Si Nai malah ngaji.

"Tuh, dengar apa kata Naira!"

Aku mengusap wajah frustasi. Bisa-bisanya Ayah dan Naira malah bersekongkol menyudutkanku begini.

"Ayah, tolong! ini sama sekali nggak lucu! Saya nggak mau menikahi bocah ini!" Aku terang-terangan menolak usulan bocah sableng itu. Nggak mungkin lah aku benar-benar nikahin dia, nggak kebayang gimana ribetnya hidupku kalau setiap hari harus berurusan dengan bocah playing victim sepertinya.

"Apa lagi yang membuatmu keberatan? Lihatlah Naira, dia cantik, shalihah, teguh memegang agamanya, dia juga pintar dan cerdas. Harusnya kamu bersyukur bisa mendapatkan wanita seperti Naira, Agam!"

Kulirik bocah itu, sekarang dia menunduk, dengan warna kulit p**i yang mulai berubah kemerahan. Dih, bisa-bisanya dia malah salting.

"Saya tetap nggak mau, Yah! Dia bukan tipe saya, lagi p**a saya belum berencana menikah." Aku tetap teguh dengan keputusanku, jelas itu, aku tak kan membiarkan si Naira besar kepala karena modusnya berhasil.

"Usiamu genap kepala tiga tahun ini, mau nunggu berapa kepala lagi, Agam? Kalau kamu nggak berencana, biar Ayah yang merencanakan!" Bagai ultimatum, kemauan Ayah benar-benar tidak bisa dibelokkan lagi.

"Kalau memang Om Agam nggak bersedia, nggak papa kok, Pak Puh, nggak perlu dipaksa." Dasar bocil, labil banget dia ni, tadi minta dinikahin, sekarang bilang ga usah maksa maunya apa coba?

Aku meliriknya sekilas, kemudian kembali beralih memandang Ayah.

"Nah, Ayah dengar sendiri, kan? dia aja nggak maksa kok, kenapa Ayah yang maksa?" aku menimpali

Wajah Ayah tampak kecewa, amarah yang tadi membara kini berganti raut kesedihan. "Agam, sudah lama Ayah ingin lihat kamu menikah, dan mungkin kejadian hari ini, adalah jawaban dari doa Ayah selama ini. Allah tunjukkan jalan untuk kamu menemukan wanita yang sesuai, untuk dijadikan istri.

Ayah ini sudah tua, Nak, nggak selamanya bisa mendampingi kamu. Kamu butuh istri yang akan senantiasa mendampingi kamu, jadi nanti sewaktu Ayah tidak ada lagi di dunia, kamu tidak hidup sebatang kara, ada istrimu yang mendampingi!.

Kamu tahu sendiri, kan? Selama ini kita hidup hanya berdua, kalau Ayah tidak ada, kamu akan hidup dengan siapa kalau nggak nikah?"

Mendadak suasana menjadi hening, kalau Ayah sudah menyinggung soal usia dan kematian begini, aku benar-benar lemah. Tapi permintaannya untuk aku menikahi bocah ini, bener-bener di luar nalar. Aku nggak bisa menerimanya begitu saja.

"Ayah tolong jangan terlalu jauh pembahasannya, sudahlah, saya minta pembahasan ini jangan diperpanjang lagi!" Aku buru-buru beranjak pergi, semakin diladeni, semakin aku tidak bisa menghindar dari permintaan Ayah.

Namun baru saja beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba terdengar suara Ayah mengerang kesakitan diiringi teriakan Naira yang beristighfar.

"Aaarrrggghh!"

"Astaghfirullah, Pak Puh!"

Aku segera memutar posisi, kulihat Ayah tengah kesakitan memegangi dadanya, sementara Naira berusaha menahan beban tubuh Ayah yang hampir tumbang.

"Astaga ... Ayah?!"

***

Selengkapnya baca di

20/01/2026

(9)”Dia jodoh yang Abah siapkan untukmu!"

Aku terkejut melihat Abah menunjuk gadis kecil yang sedang makan es krim sambil celemotan di ujung sana.

"Abah gak salah? Dia masih kecil, Bah!"

"Kamu masih muda. Tunggu 10 tahun lagi, dia sudah bisa dinikahi."

❤️❤️❤️

POV Orang Tua Kamila

“Yah, coba tanya Gus Zainal, mereka sudah sampai apa belum? Perasaan Bunda dari tadi nggak enak deh," pinta Addina–Bunda Kamila pada Al seraya meletakkan segelas kopi di hadapan suaminya.

"Makasih, kopinya, Sayang. Sabar, ya, tadi Ayah sudah coba hubungin, tapi nggak diangkat, mungkin masih di jalan," balas Alfaro–ayah Kamila.

"Ya Allah ... Semoga anak kita nggak bikin ulah di sana ya, Yah," harap Dina mengkhawatirkan putrinya.

Bukan takut putrinya nangis sebab tak betah, atau nangis sebab tak menemukan makanan enak layaknya di rumah sebagaimana santri baru pada umumnya, ia yakin soal ketangguhan putrinya, putrinya itu sangat tangguh seperti Ayahnya.

Akan tetapi, sebagai seorang ibu yang mengenal baik watak putrinya, ia mengkhawatirkan Kamila dengan segala kenakalannya akan berulah di tempat orang, hingga merugikan orang lain, terlebih tempat itu adalah sebuah pesantren. Di mana semua praktik keagamaan dijalankan dengan penuh disiplin di sana.

Berbeda dengan kepribadian putrinya yang susah diatur dan terkesan s**a-s**a dalam hal beribadah.

"Aamiin, maafkan Ayah ya, Bun, karena sudah buat bunda syok dan kepikiran soal keputusan Ayah ini. Tapi Ayah sudah tidak bisa menundanya lagi.

Kelakuan Kamila semakin hari semakin tak terkendali, dia makin sering p**ang larut malam dan diantar oleh anak baj*ngan itu. Ayah khawatir anak kita tak kan selamat kalau dibiarkan seperti itu terus-menerus," keluh Al pada istrinya.

"Huuussh, Ayah tuh bicara apa sih? Sebagai orang tua, mbok ya ucapannya itu dijaga, berharap yang baik-baik saja untuk anak kita, jangan pernah berpikir yang enggak-enggak!" pesan Dina pada suaminya, seraya mengambil posisi duduk di sisi suaminya.

"Realistis aja, Bun. Kita tahu siapa circle anak kita, wajar kan sebagai orang tua Ayah merasa khawatir Kamila akan terpengaruh buruk? Kamila berada di antara anak-anak jalanan yang tak punya tujuan hidup, bahkan tak mengenal Tuhan sebagai tujuan hidupnya.

Apalagi saat tau Kamila dekat dengan anak dari kepala mafia itu, rasanya kehawatiran Ayah semakin mejadi, Bun. Khawatir kalau saja Kamila akan menanggung karma dari dosa-dosa ayah di masa lalu.

Kamu tahu, kan? Apa yang selama ini Ayah takutkan?" balas Al membuat istrinya tertegun.

"Yah ... Dosa-dosa yang telah lalu, jangan biarkan itu menjadi pengganggu pikiran Ayah. Percayalah, Allah sudah menghapus semua dosa Ayah dengan taubat Ayah yang nashuha.

Ayah sudah menunjukkan keseriusan dalam bertaubat, menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Allah Maha Pengampun, Yah. Allah pasti sudah mengampuni Ayah." istri Alfaro itu berusaha menghibur dan menyemangati suaminya

Sebagai seorang istri, ia faham betul bagaimana karakter suaminya. Lelaki yang menikahinya dua puluh tahun lalu itu memang memiliki ketakutan berlebih dalam banyak hal, akibat trauma masa kecil yang pernah dirasakannya.

Mulanya, trauma itu sembuh seiring lahirnya Kamila ke dunia. Kamila datang sebagai penawar untuk rasa sakit ayahnya. Akan tetapi, ketakutan-ketakutan itu kembali muncul saat Kamila beranjak remaja dan mulai menunjukkan bahwa ia melenceng dari jalur didikan orang tuanya.

Al dan Dina sudah merasa berusaha secara maksimal dalam mendidik putri semata wayang mereka. Akan tetapi, yang terjadi justru malah hal yang tidak diinginkan.

Kamila yang diharapkan tumbuh menjadi gadis sholihah yang taat agama, justru melencong ke arah yang salah. Putri mereka itu memiliki kecondongan terhadap dunia bebas, ia bahkan merasa terbebani dengan aturan agama yang menurutnya hanya akan menyusahkannya.

Berangkat dari sini lah, Ayah Kamila kemudian mulai menyalahkan dirinya sendiri, menganggap apa yang terjadi pada Kamila adalah akibat dari dosanya di masa lalu. Di masa ia sempat meninggalkan Tuhan, menganggap pernikahan hanyalah aturan Tuhan yang merepotkan, sehingga ia lebih memilih untuk menjelajahi dunia malam demi menuntaskan kebutuhan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Bunda Kamila, yang berhasil membantunya kembali ke jalan yang benar.

"Ayah juga yakin, Allah itu Maha Pengampun, Bun. Akan tetapi, ini urusannya bukan hanya dengan Allah. Mungkin urusan dengan Allah selesai dengan ampunan, tapi bagaimana dengan urusan Ayah dan gadis-gadis yang ayah beli kehormatan mereka demi kenikmatan semalam?

Ayah tak pernah tahu bagaimana isi hati mereka. Mungkin sebagian dari mereka melakukan itu dengan s**a rela, tapi mungkin juga ada dari mereka yang melakukannya karena terpaksa.

Bagaimana jika ternyata mereka merasa sakit hati? Lalu mendoakan yang tidak-tidak untuk ayah? dan akhirnya, yang terkena imbasnya adalah putri kesayangan kita? Ayah nggak bisa bayangkan itu terjadi, Bun. Ayah nggak mau putri kita bernasib sama dengan gadis-gadis itu." Alfaro mengakhiri kalimatnya seraya tertunduk, ketakutan itu begitu besar menghantuinya.

Jika berbicara tentang karma, maka pasti akan panjang urusannya. Percaya atau tidak, hukum alam itu memang ada. Dan tak ada satupun yang bisa menolaknya.

Dina menghela nafas, lalu merapatkan posisi ke arah suaminya, menyentuh punggungnya lembut, memberi usapan pelan, berharap dapat menenangkan.

"Ayah yang tenang, ya? Selama ini usaha kita dalam mendidik Kamila sudah maksimal. Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Kamila. Mungkin saat ini memang belum terlihat hasilnya, tapi kita jangan pernah berhenti berharap, semoga suatu saat usaha kita akan membuahkan hasil.

Setelah usaha kita lakukan, kini kita hanya bisa menguatkan doa, Yah. InsyaAllah, kekuatan doa orang tua untuk anaknya, mampu mengalahkan akibat dari dosa-dosa seperti yang ayah khawatirkan.

Kamila adalah titipan Allah, dan kita sudah berusaha menjaganya sebaik mungkin. Kini saatnya kita kembalikan Kamila pada Allah, memohon penjagaan untuk Kamila dari Sang Maha Menjaga. Insya Allah Kamila akan baik-baik saja.

Lagi p**a Bunda yakin, walau Kamila cenderung melenceng ke arah negativ, tapi dia pasti menyimpan pesan-pesan yang kita sampaikan dalam hatinya. Yang mana pesan-pesan itu akan muncul memberikan warning di saat Kamila berada di sebuah situasi genting.

Apalagi sekarang Kamila berada di bawah pengawasan orang yang tepat, insyaAllah semua akan baik-baik saja." Bunda Kamila mencoba menenangkan suaminya dengan membawanya untuk berpikir positif.

"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu berhasil jadi penentram hati ini," ucap Ayah Kamila seraya membawa istrinya ke dalam pelukan, mencium pucuk kepalanya penuh kecintaan.

"Sama-sama, Sayang," balas Dina seraya mengusap dada sang suami.

"Ternyata begini ya rasanya nggak ada Kamila di rumah, Ayah Bundanya jadi bebas bermesraan di mana-mana," celetuk Al mengundang tepukan di pahanya.

"Ayah, nih! Pikirannya kok kesitu sih? Bunda nih lagi mellow loh pisah sama anak semata wayang.

"Nggak usah mellow, Bun, nanti kalau sudah kondusif kondisi Kamila di pesantren, kita datang untuk menjenguknya, ya? Untuk saat ini biarkan dia belajar mengendalikan dirinya sendiri, sebab kalau ada kita, dia pasti manja dan minta p**ang," terang Al yang disetujui Dina.

Saat suasana tengah hangat-hangatnya, tiba-tiba ponsel Al berdering.

"Siapa, Yah?" tanya Dina seraya melepas pelukan.

"Gus Zainal, Bun!"

"Angkat, Yah, loudspeaker ya!"

_______

Haii, bab ini menceritakan dari sisi orang tua Dina ya. Latar belakang terbentuknya karakter Kamila.

Nah, kisah Alfaro dan Dina sendiri, bisa kalian temukan di judul lain dari karya Author, "Cinta Satu Malam - Pesona Om Bujang Lapuk" termasuk salah satu karya Tamat author yang paling best se

19/01/2026

Part 8

“Aku gak peduli kamu h4id atau enggak malam ini. Aku hanya mau… malam ini kita harus tetap lakukan m4l4m pert4m4.”

Aku hanya ingin mempercepat semuanya. Menyelesaikan semua kewajiban yang dituntut Abah dan Ummi dengan cepat. Aku ingin dia segera h4mil dan mel4hirkan cucu untuk pesantren. Agar aku segera bisa mencer4ikannya lalu menikahi Vanessa.

“Maaf, Gus. Saya gak bisa,” tolaknya tegas.

“Kamu berani menolakku?” suaraku naik satu oktaf. “Seorang istri wajib patuh sama apa yang dikatakan suaminya, dan—”

“Gus salah,” po-tongnya cepat.

Tatapan matanya menembusku tanpa gentar sedikit pun. “Kata Abah, istri wajib patuh kepada suaminya asal apa yang dikatakan suaminya itu benar. Tapi, meminta dil4yani saat istri sedang h4id... Itu hal yang gak benar, Gus. Dan saya wajib menolaknya.”

DEG.

Aku tertamp4r dengan penjelasannya yang memang benar. Mengajak istri berhu-bungan saat istri sedang h4id? Astaga, bahkan aku yang putranya kiai besar bisa-bisanya melakukan itu. Hanya karena aku mengikuti egoku untuk segera bisa mencer4ikannya?

Dengan perlahan, tanganku melepaskan pergelangan tangannya. “Ehm… berapa lama masa h4idmu?”

“Normalnya tujuh hari. Bisa lebih cepat atau lebih lama," jawabnya.

Aku mengangguk-angguk. “Kalau gitu aku mau tidur dulu.”

“Iya, Gus.”

Basmala beranjak, mengambil kain pel, lalu berlutut membersihkan tetesan da-rah h4idnya yang berceceran di lantai.

Setelah selesai membersihkan, aku mengira dia akan naik ke ran-jang, apalagi r4njang itu jelas untuk kami berdua. Tapi dia justru membuka lemari, mengambil selimut tipis, dan berjalan kembali ke lantai beralaskan karpet tipis.

Dia berb4ring di sana.

Aku mengerutkan kening. “Kenapa tidur di lantai?”

“Saya menghormati Gus. Kata Gus saya beda level dan tidak sederajat. Gus putranya kiai, sedangkan saya hanya santriwati biasa. Jadi… saya harus sadar diri, bukan?”

DEG.

Harusnya aku senang karena dia cukup tahu diri. Tapi entah kenapa ada bagian dari hatiku yang terasa… tidak tega?

“Astaga!” gumamku pelan. Cepat-cepat aku menghapus pikiran absurd itu.

“Bagus kalau kamu sadar diri. Saat aku sudah tidur nanti, jangan pernah cari-cari kesempatan untuk mendekatiku. Paham?”

Hening.

“Basmala, kamu paham gak?”

Masih hening.

Aku melirik sedikit, dan ternyata... dia sudah terlelap.

“Dasar!” omelku pelan. “Diajak ngomong malah tidur duluan.”

Aku menghembuskan napas panjang. Hari ini terlalu melelahkan. Seharian dipajang di singgasana pengantin membuat otot-ototku kaku dan kepalaku berat. Perlahan, kantuk mulai menelan kesadaranku.

Lalu aku tidur di dunia nyata, tapi aku bangun di dunia mimpi.

Dalam mimpiku, aku sudah berada di taman penuh bunga. Tempat yang selalu dis**ai Vanessa.

Di bangku kayu putih, duduk perempuan dengan gaun panjang bermotif bunga-bunga. Rambutnya tergerai indah. Dari belakang saja, aku tahu itu Vanessa. Aura anggunnya tak mungkin salah.

Aku berjalan mendekat, perlahan, lalu menutup mata perempuan itu dari belakang.

“Hayooo, tebak aku siapa?”

Dia menoleh… dan dunia mimpi itu seketika pecah berkeping-keping.

Wajah yang menoleh ke arah bukan Vanessa, melainkan... Basmala.

DEG.

Aku tersent4k kencang. Aku membuka mata secepat mungkin.

Dan aku melihat...

Basmala benar-benar ada di depanku.

Inin bukan lagi dunia mimpi. Bukan lagi bunga tidur. Basmala benar-benar ada di depan wajahku.

Kami sama-sama terpaku. Aku bahkan merasa udara di antara kami membeku. Dan baru saat pikiranku sepenuhnya tersadar, aku mendapati sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Rupanya aku tidak lagi tidur di atas r4njang. Aku justru tidur di lantai beralaskan karpet tipis bersama Basmala?

Sepersekian detik kami hanya saling pandang, sama-sama mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi.

Detik berikutnya setelah kami mulai menyadari yang terjadi...

“Aaaaa!!!”

Jeritan kami pec4h bersamaan, bersahutan satu sama

17/01/2026

(5) “Dia jodoh yang Abah siapkan untukmu!"

Aku terkejut melihat Abah menunjuk gadis kecil yang sedang makan es krim sambil celemotan di ujung sana.

"Abah gak salah? Dia masih kecil, Bah!"

"Kamu masih muda. Tunggu 10 tahun lagi, dia sudah bisa dinikahi."

❤️❤️❤️

Gus Zainal segera meletakkan belanjaan di meja kasir, "titip dulu, Mbak, nanti saya kembali," pesannya pada penjaga kasir.

Ia lalu berlari keluar mengejar Kamila, namun sayang, Bentor yang ditumpangi Kamila sudah terlebih dahulu jalan.

"Aduh! Telat lagi!" gumamnya pelan sembari menoleh ke kanan dan kiri, mencari cara untuk mengejar Kamila. Hingga tiba-tiba seseorang menyapa,

"Gus Zainal?"

Gus Zainal menoleh ke arah lelaki yang baru saja berhenti di parkiran indoapril, mencoba mengenalinya, namun gagal.

"Wonten nopo, Gus?" tanya lelaki tersebut sebab melihat Gus Zainal yang seperti orang kebingungan.

"Mau ngejar bentor itu!" jawab Gus Zainal seraya menunjuk Bentor yang ditumpangi Kamila tanpa pikir panjang.

"Monggo sareng kulo mawon, Gus!" lelaki asing tersebut menawarkan dirinya untuk mengantarkan.

"Nggak apa-apa, Kang?" tanya Gus Zainal memastikan.

"Nggih, Gus, Monggo!" jawab lelaki yang ia taksir berusia tiga puluh tahunan.

Tanpa banyak bicara lagi, Gus Zainal segera mencincing sarungnya lalu naik ke motor yang sudah siap melaju mengejar Kamila.

"Cepet ya, Kang! Kita ikuti bentor itu!" titah Gus Zainal seraya menunjuk Bentor Kamila yang semakin berjalan menjauh.

"Siap, Gus!"

Detik berikutnya, motor sudah melaju dengan kecepatan maksimal. Membelah jalanan yang cukup lenggang di pagi menjelang siang.

"Hati-hati ya, Kang!" pesan Gus Zainal.

"Baik, Gus!"

"Samean ini siapa toh, Kang? Kok kenal saya?"tanya Gus Zainal penasaran dengan pandangan terus melekat ke Bentor yang Kamila tumpangi.

"Saya Bahrul, Gus, dulu nyantri di Kyai Husein, tapi nggak lama, sama Gus ya kenal, tapi mungkin Gus nggak kenal saya." lelaki yang dipanggil dengan sebutan Kang tersebut mulai bercerita.

Gus Zainal mengangguk paham, banyaknya jumlah santri di pesantren yang didirikan Abahnya membuatnya tak dapat mengenali satu persatu santri. Akan tetapi hal yang ia syukuri, berkah dari abahnya bahkan dapat dirasakan di mana saja, seperti saat ini, tiba-tiba ada pertolongan saat dibutuhkan.

Dia sangat yakin, bahwa kehadiran Abahnya selalu membawa keberkahan, itulah alasan mengala ia selalu tunduk patuh pada setiap arahan Abahnya. Termasuk dalam hal perjodohan ini.

"Itu yang di Bentor sinten toh, Gus?" tanya kang Bahrul mulai penasaran.

"Santri putri yang kabur. Ayo buruan, Kang!" jawab Gus Zainal asal.

"Oh, siap Gus!" balas Kang Bahrul yang sebenarnya masih bingung. Kenapa ada santri putri yang kabur tapi kok Gus Zaina yang sibuk ngurusin? Namun Kang Bahrul tak mempermasalahkan, ia memilih untuk melajukan motornya semakin cepat sesuai instruksi putra kyainya.

Sedangkan di sisi lain, Kamila mulai kebingungan saat ditanya tujuan oleh tukang Bentor.

"Ini mau ke mana, Mbak? Kita udah jalan dari tadi tapi mbaknya belum bilang mau ke mana?" tanya tukang bentor.

"Saya mau ke Surabaya, Pak, bisa?" jawab Kamila ragu.

"Waduh, mau ke Surabaya kok naik bentor, Mbak? Nggak sekalian aja naik dokar?" ledek tukang bentor membuat Kamila semakin kesal.

"Ya udah sih, Pak, jalan aja dulu! Sambil saya mikir mau ke mana," titah Kamila.

"Mbak-nya ini aneh kok, masa nggak ngerti tujuannya mau ke mana sih?" gerutu tukang bentor namun tak di tanggapi oleh Kamila. Gadis itu sibuk menentukan tujuan ke mana ia akan pergi.

"Tadi Gus Zainal bilang dari indoapril ke rumahnya tinggal 30 menit lagi, berarti ini sudah deket sama Pacet. Mendingan aku ke Tretes aja kali, ya? Terus nanti dari sana minta dijemput Dion. Dia pasti nggak asing sama Tretes," batin Kamila menyusun rencana. Namun baru saja ia hendak bertanya pada tukang Bentor tentang rute yang harus dilalui, bentor itu menepi.

"Loh, kok berhenti sih, Pak?" tanya Kamila heran.

"Iya, isi bensin dulu, Mbak," jawabnya santai.

Kamila hanya mendengus kesal, "untung udah mayan jauh, Gus Zainal pasti nggak akan liat gue lagi sekarang, aman lah," batin Kamila yang tak sadar telah diikuti Gus Zainal. Ia pun bersabar menunggu tukang bentor mengisi bensin, sambil duduk bersila dan bersiul di atas bentor.

Hingga tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari arah belakang.

"Udah selesai isi bensinya, Pak?" tanya Kamila tanpa menoleh, belum menyadari bayangan siapa yang dilihatnya.

"Mau ke mana kamu, hem?"

Suara Gus Zainal tiba-tiba mengejutkan Kamila, gadis itu seketika terjingkat mendapati Gus Zainal telah berada di hadapannya.

"Loh, Gus? Kok bisa di sini?" tanyanya heran sambil celingukan ke kanan dan kiri.

"Gila ya ni orang, udah kayak Jin aja tiba-tiba nongol," kesal Kamila dalam hatinya.

"Harusnya saya yang nanya, kenapa kamu ada di sini?" balas Gus Zainal dengan raut wajah kesalnya.

Kamila memalingkan muka, merasa kesal sebab usahanya gagal. Ia lalu berusaha keluar dari bentor, namun Gus Zainal segera mencegah dengan menghadangnya.

"Eits, mau ke mana?" tanya Gus Zainal dengan kedua tangan terbuka, bersiap menangkap Kamila kalau saja gadis itu berniat kabur lagi.

"Pergi lah! Kenapa? Mau meluk aku? Sini kalau berani!" tantang Kamila sengit.

"Tetap diam di situ!" titah Gus Zainal.

"Ogah!" Kamila tetap memaksa, namun usahanya gagal sebab dengan sigap Gus Zainal menghalangi.

"Apaan sih, Gus?" tanya Kamila kesal.

"Geser!" titah Gus Zainal.

"Mau ngapain, Gus?" tanya Kamila.

"Saya mau duduk!"

"Ih, ogah! Enak aja! Ini bentor aku yang sewa ya, Gus! Gus cari aja sana bentor yang lain," balas Kamila enggan menurut.

"Cepat geser, Kamila!" titah Gus Zainal sekali lagi, dengan penuh penekanan. Akhirnya, walau kesal, Kamila pun menggeser posisnya. Sudah kepalang basah, ia hanya bisa pasrah, mau kabur pun sudah pasti susah.

"Loh kok penumpangnya jadi ada dua?" tanya tukang bentor heran saat kembali setelah membayar bensin.

"Kembali ke indoapril ya, Pak!" titah Gus Zainal tanpa menjawab.

"Siap, Mas," jawab tukang bentor kemudian mulai menjalankan bentornya.

Suasana di bentor masih sunyi, hanya terdengar suara mesin bentor yang memang sangat nyaring di telinga. Sejak bentor dijalankan, Kamila hanya terdiam, mengalihkan pandangan ke arah berlawanan. Tampak sekali wajahnya menunjukkan kekesalan.

"Sebenarnya mau kamu apa sih, Kamila?" tanya Gus Zainal mencoba membuka pembahasan setelah suasana cukup kondusif.

"Aku kan udah bilang, aku mau Gus tolak perjodohan kita, tapi Gus malah nggak mau diajak kerja sama!" sungut Kamila.

"Saya tidak bisa menolak begitu saja tanpa alasan yang jelas, Kamila!" Gus Zainal mencoba menjelaskan dengan sabar.

Kamila hanya mendengus kesal.

"Gini, deh, Kita buat perjanjian saja gimana?" tawar Gus Zainal membuat Kamila penasaran.

"Perjanjian gjmana, Gus?" tanya Kamila terlihat antusias.

"Saya akan turuti permintaan kamu, tapi dengan syarat." Gus Zainal mulai memberikan penawaran.

"Apa syaratnya, Gus?" sahut Kamila berbinar, merasa Gus Zainal mulai bisa diajak kompromi.

"Syaratnya, beri saya waktu selama 40 hari, kita jalani dulu perjodohan ini selama 40 hari ke depan dengan sebagaimana mestinya, dan selama itu juga, kamu harus mengikuti kemauan orang tua kita, untuk menetap di pesantren dan mengikuti program-programnya." Gus Zainal mulai menyampaikan rencananya.

"Lalu setelah itu?" tanya Kamila.

"Setelah itu, keputusan ada di tangan kamu. Jika setelah 40 hari kamu masih dengan keputusan kamu untuk menolak perjodohan ini, saya akan ikuti kemauan kamu. Saya akan meminta pada orang tua saya untuk membatalkannya. Setidaknya saat itu saya sudah punya alasan untuk menolak. Gimana?" jawab Gus Zainal.

"Hanya 40 hari, kan?" tanya Kamila memastikan lagi.

"Ya, hanya 40 hari, dan kita berdamai selama itu. Kita saling bekerja sama untuk kompak menjalani perjodohan ini dengan sepenuh hati, khususnya saat di depan kedua orang tua kita," lanjut Gus Zainal lagi.

Kamila tampak berpikir, "Bener juga sih apa kata Gus Zainal, dengan begitu aku pun bisa punya alasan di depan Ayah dan Bunda saat menolak perjodohan ini nanti. Setidaknya Ayah dan Bunda nggak bisa maksa aku, sebab aku sudah menuruti mereka untuk mencoba menjalani perjodohan ini," batin Kamila.

"Oke, Gus. Soal menjalani perjodohan selama 40 hari aku setuju. Nggak ada salahnya juga, toh cuma 40 hari 'kan? Setelah itu aku bebas. Tapi aku keberatan soal harus mesantren selama itu, Gus." Kamila mencoba menawar lagi penawaran Gus Zainal.

"Apa yang membuat kamu keberatan?" tanya Gus Zainal mencoba memahami keinginan Kamila. Sebab memaksa Kamila pun percuma, yang ada gadis itu marah
The next ya!

Address

Hong Kong

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ROSSA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share