24/01/2026
"Yang Pppk Itu aku, Ma. Mas Bayu sampai sekarang masih honor "
Duarrr
Mertuaku pingsan seketika. Baru segitu pembalasanku seisi rumah sudah kalang kabut.
Bab 3
"Sudahlah Sekar, aku tahu kalau selama ini kamu tidak ikhlas melakukan apapun untukku. Kamu tidak ikhlas untuk membantuku menyenangkan anggota keluargaku, padahal kamu tahu sendiri bahwa surgaku terletak di kaki ibuku. Jadi aku berniat untuk berbakti kepadanya dengan menyenangkan adikku satu-satunya. Karena kamu tahu sendiri kan? Dia sangat menginginkan sepeda motor selama ini, tapi aku belum juga memberikannya. Apa salahnya sekarang aku membelikannya?" ujarnya dengan nafas memburu.
Yang membuatku seketika terdiam, lalu aku pun bicara kepadanya untuk memberikan gambaran bahwa apa yang dia lakukan hanya akan menambah bebanku saja.
"Apa kamu tidak memperkirakan berapa pendapatanku setiap bulan, Mas? Bukankah selama ini kita tak punya simpanan sedikitpun? Marena semuanya habis untuk memenuhi semua kebutuhan orang-orang yang ada di rumah ini? Bahkan untuk membeli mesin cuci saja sampai saat ini aku tidak mampu, Mas!" ucapku sambil menahan air mata.
Sungguh aku begitu terluka dengan semua perlakuan Mas Bayu yang seperti hanya memanfaatkanku saja. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang baik baginya.
Bahkan aku merelakan semua penghormatan yang seharusnya aku dapatkan malah dia yang memperoleh semuanya. Aku juga terpaksa setiap hari menahan hinaan dan juga cacian dari ibu mertua dan juga para iparku karena mereka beranggapan aku hanyalah perempuan mandul yang berstatus honor yang sampai kapanpun tidak akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.
Padahal akulah yang PNS, dan semua itu aku tahan karena aku begitu menghormati Mas Bayu. Dan beranggapan bahwa dia juga menghormati serta menyayangiku, tapi nyatanya semakin lama aku semakin menyadari. Bahwa Mas Bayu hanya memperalatku saja.
"Sudahlah, kamu jangan membantah ucapanku Sekar! Lagi p**a untuk mencuci baju kamu masih bisa menggunakan kedua tanganmu. Lagi p**a tanganmu tidak sakit sedikitpun, jadi jangan manja Sekar!" ucapnya tanpa rasa iba sedikitpun.
Aku seketika menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi p**iku.
"Kadi kamu tak peduli sedikitpun kepadaku Mas? Sementara aku sudah begitu berkorban untukmu?" ucapku sambil menahan kesedihan yang merajai diriku.
"Sudahlah Sekar, jangan bicara terlalu keras! Apa kamu ingin mengumumkan kepada semua orang yang ada di rumah ini, bahwa kamulah yang PNS sementara aku tidak!" ucapnya dengan nada suara cukup pelan agar pembicaraan kami tidak didengar oleh siapapun.
Karena dia pasti tidak mau semua rahasia itu terbongkar, karena selama ini dia sudah mendapat penghormatan serta derajat yang tinggi di kompleks tempat kami tinggal karena semua orang langsung menaruh rasa hormat kepadanya. Karena sekarang dia adalah seorang PNS yang memiliki penghasilan bulanan yang tetap serta bisa memenuhi semua kebutuhan anggota keluarganya. Padahal semua itu akulah yang seharusnya mendapatkannya.
"Aku sudah lelah menjalani semua kebohongan ini Mas! Aku capek setiap hari harus dihina dan juga direndahkan oleh anggota keluargamu, bahkan setiap waktu mereka merendahkanku karena statusku yang honor seperti anggapan mereka. Aku tak ingin selalu direndahkan seperti ini, aku juga ingin menggunakan uang yang aku hasilkan untuk membeli sepeda motor bagi diriku pribadi. Karena aku sungguh lelah setiap hari harus nebeng kepada guru-guru yang lain sementara kamu tak peduli sedikitpun kepadaku!" ucapku dengan nada lantang penuh penekanan.
Mendengar perkataanku Mas Bayu seketika memasang wajah gusar, aku tahu dia pasti takut aku membongkar semua kenyataan itu kepada semua anggota keluarganya.
Hingga dia pun seketika memohon agar aku tidak melakukannya.
"Kamu ini apa-apaan sih Sekar? Apa kamu mau mempermalukanku di hadapan semua orang? Ayolah jangan bersikap seperti ini! Aku tidak mau dipermalukan oleh semua orang terutama para tetangga yang ada di sekitaran tempat tinggal kita ini. Semua orang mengetahui bahwa aku seorang PNS, bukannya kamu!" ucapnya dengan wajah sedikit panik.
Aku seketika terdiam dan melihat bagaimana takutnya dia jika semua kenyataan itu terbongkar.
"Jika kamu tidak mau aku membongkar semua kenyataan ini, maka berikan sepeda motor itu kepadaku. Kalau tidak, aku tidak akan mau membayar angsuran setiap bulannya!" ucapku mengancam Mas Bayu.
Hingga membuat dia pun langsung melotot tajam kepadaku, kemudian berdiri lalu menampar wajahku dengan cukup keras. Yang membuat ku terkejut hingga terhuyung ke belakang.
Sensasi nyeri di p**i yang baru saja ditampar oleh Mas Bayu membuatku sadar seketika. Aku seketika melotot tajam kepadanya.
"Apa? Kamu berani menamparku Mas? Jadi ini balasan atas semua pengorbananku kepadamu?" ujarku sambil memegangi p**i yang terasa begitu panas serta sakit akibat tamparan yang baru saja dia lakukan.
Mas Bayu seketika terkejut dan menyadari apa yang baru saja dia lakukan kepadaku, hingga dia pun seketika memohon ampun atas apa yang dia lakukan itu.
" Maaf, Maaf sayang, mas benar-benar khilaf. Tolong maafkan mas, mas tidak mau kamu melakukan hal ini! Jangan berpikir seperti itu, Sayang! Mita benar-benar berharap memiliki sepeda motor itu, tolong jangan ambil sepeda motor itu. Mas berjanji nanti setelah sepeda motor ini lunas. Kamu boleh membeli sepeda motor untuk dirimu pribadi," bujuknya dengan wajah sendu.
Aku seketika menghempaskan tangan Mas Bayu yang memegangi kedua pundakku. Lalu menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
"Kamu tak punya perasaan sedikitpun Mas! Aku tak menyangka ini yang kamu lakukan kepadaku!" ucapku sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi p**iku, karena aku sungguh tak menyangka semua pengorbananku hanya sia-sia semata bagi laki-laki yang begitu aku cintai.
Bahkan aku sanggup berkorban begitu besar untuknya, untuk membuat namanya agung dan dihormati banyak orang.
" Mas benar-benar khilaf Sayang, tolong jangan masukkan ke dalam hati tindakan Mas tadi. Ayo sini!" ujarnya sampai menarik tubuhku ke dalam pelukannya, tapi aku langsung memberontak kemudian mendorong tubuhnya dengan kasar.
"Jangan mendekatiku Mas! Kamu benar-benar keterlaluan. Aku sungguh kecewa kepadamu!" ucapku dengan berlinang air mata.
Aku langsung berlari masuk ke kamar mandi kemudian menangis seorang diri di sana, meluapkan semua kekecewaan serta kesedihan yang aku rasakan atas semua perlakuan Mas Bayu kepadaku.
Sementara Mas Bayu terdengar begitu kesal saat aku mengabaikannya.
"Jangan marah kepadaku Sekar. Aku mohon jangan lakuk