KABAR Gembira & Peringatan"

KABAR Gembira & Peringatan" “(mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya t

Siapakah Musailamah?Sejarawan berbeda pendapat tentang namanya. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-H...
13/06/2026

Siapakah Musailamah?

Sejarawan berbeda pendapat tentang namanya. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Yang lain mengatakan Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Ada yang mengatakan kun-yahnya adalah Abu Tsamamah. Ada p**a yang menyebutnya Abu Harun.

Musailamah dilahirkan di wilayah Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd.

Usia Musailamah lebih tua dan lebih panjang dibanding Rasulullah ﷺ. Ada yang menyebutkan ia terbunuh pada usia 150 tahun saat Perang Yamamah. Ia adalah seorang tokoh agama di Yamamah dan telah memiliki pengikut sebelum wahyu kerasulan datang kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Sebelum mengaku sebagai nabi, Musailamah sering menyusuri jalan-jalan. Masuk ke pasar-pasar yang ramai oleh masyarakat Arab maupun non-Arab. Berjumpa dengan orang-orang berbagai macam profesi di sana. Pasar yang ia kunjungi semisal pasar di wilayah al-Anbar dan Hirah (Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 100).

Musailamah adalah seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat (strong personality). Pandai bicara. Memiliki pengaruh di tengah bani Hanifah dan kabilah-kabilah tetangga. Tutur katanya lembut namun menipu. Pandai menarik simpati, bagi laki-laki maupun wanita. Ia menyebut dirinya Rahman al-Yamamah. Namun Allah berkehendak beda. Ia dikenal dengan nama Musailamah al-Kadzab (Musailamah sang pendusta) hingga hari ini.

Saat Musailamah mengumumkan kenabiannya (nabi palsu), Rasulullah ﷺ berada di Mekah. Ia mengutus orang-orang pergi ke Mekah untuk mendengarkan Alquran. Kemudian kembali ke Yamamah untuk membacakannya kepadanya. Setelah itu ia menirunya atau memperdengarkan ulang ke hadapan orang-orang sambil mengklaim itu adalah kalamnya (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3: 295).

Utusan Bani Hanifah Menemui Rasulullah

Di antara metode dakwah Rasulullah ﷺ adalah menulis surat kepada para penguasa dan raja-raja. Menyeru mereka untuk memeluk Islam. Seruan dakwah tersebut sampai juga kepada Haudzah bin Ali al-Hanafi. Seorang penguasa Yamamah yang beragama Nasrani. Setelah menerima surat tersebut, Haudzah mengajukan syarat agar kekuasaan diberikan kepadanya. Nabi ﷺ menolaknya. Tidak lama setelah itu Haudzah pun wafat.

Pada tahun ke-9 H, tokoh-tokoh bani Hanifah yang berjumlah beberapa belas orang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ di Madinah. Di antara mereka terdapat Musailamah. Mereka datang untuk mengumumkan keislaman kepada Rasulullah ﷺ. Dan menyepakati bahwa Nabi ﷺ adalah pemimpin.

Bani Hanifah termasuk kabilah Arab yang terbesar jumlahnya. Mereka memiliki kedudukan dan terpandang. Karena merasa layak mendapatkan kepemimpinan, mereka mengajukan permintaan kepemimpinan. Mereka ingin agar Musailamah kelak menggantikan posisi Nabi setelah beliau wafat. Nabi ﷺ menolak permintaan mereka.

Utusan bani Hanifah pun kecewa dan mulai muncul keinginan untuk keluar dari Islam. Dan Nabi ﷺ telah menangkap gelagat ini. Ketika hendak p**ang ke Yamamah, mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya kami meninggalkan salah seorang sahabat kami di perbekalan kami untuk menjaganya”.

Rasulullah ﷺ menanggapi, “Kedudukan dia (Musailamah) tidak lebih buruk daripada kedudukan kalian”. Artinya walaupun ia sebagai petugas yang menjaga perbekalan kalian, bukan berarti kedudukannya lebih rendah dari kalian. Mereka pun p**ang ke Yamamah dengan membawa hadiah dari Nabi ﷺ.

Perkataan Nabi ﷺ terhadap Musailamah tersebut dijadikan sabda rekomendasi oleh Musailamah dan tokoh yang lain. Mereka klaim bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ meridhai Musailamah sebagai penggantinya. Tak lama Musailamah pun mengumumukan kenabiannya di tengah-tengah bani Hanifah. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Musailamah al-Kadzab.

Kemudian Nabi ﷺ menunjuk Nuharur Rijal bin Unfuwah untuk mengajarkan agama kepada penduduk Yamamah. Ibnu Unfuwah adalah laki-laki yang berilmu, luas pandangannya, dan cerdas. Siapa sangka, ternyata Ibnu Unfuwah malah bergabung dengan Musailamah. Kesungguhannya di hadapan Rasulullah ﷺ hanyalah riya’ semata. Ibnu Unfuwah mengakui kenabian Musailamah. Menurutnya Musailamah bersama-sama Nabi Muhammad ﷺ dalam risalah kenabian. Orang-orang bani Hanifah pun simpati kepadanya. Dan Musailamah menjadikannya orang kepercayaan (Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 97, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3: 137-138, dan al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 5: 50-52).

Rasulullah ﷺ Berbalas Surat dengan Musailamah

Setelah klaim kenabiannya diterima di tengah-tengah kaumnya, rasa percaya diri Musailamah kian bertambah. Semakin jauhlah kesesatannya. Ia mulai memposisikan diri sebagai seorang utusan Allah. Ia meniru Nabi Muhammad ﷺ yang berdakwah melalui surat kepada para raja dan penguasa. Saking percaya dirinya, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad ﷺ:

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُولِ اللَّهِ، إلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ: سَلَامٌ عَلَيْكَ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي قَدْ أُشْرِكْتُ فِي الْأَمْرِ مَعَكَ، وَإِنَّ لَنَا نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلِقُرَيْشٍ نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلَكِنَّ قُرَيْشًا قَوْمٌ يَعْتَدُونَ

“Dari Musailamah seorang rasulullah kepada Muhammad seorang rasulullah.

Keselamtan atasmu, amma ba’du:

Sungguh aku sama denganmu dalam kerasulan ini. Bagi kami bagian bumi tertentu dan bagi Quraisy bagian bumi lainnya. Akan tetapi orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”

Perhatikanlah, para penyeru kesesatan sejak dulu terbiasa menggunakan pilihan kata yang indah untuk menipu manusia. Musailamah menyebut Nabi Muhammad sebagai orang yang melampaui batas. Karena ingin menguasai seluruh jazirah Arab. Sementara ia mengisyaratkan bahwa dirinya adalah orang yang bijak karena ingin berbagi.

Demikian juga para penyeru kesesatan di zaman ini, mereka menggunakan bahasa yang indah untuk memikat hati. Mereka sebut ajaran mereka mencerahkan sementara berpegang kepada Alquran dan sunnah adalah kejumudan dan kaku. Mereka sebut ajaran mereka toleran. Sementara yang lainnya adalah radikal.

Rasulullah ﷺ tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Beliau tidak ingin keraguan dan kerancuan ini tersebar. Beliau ﷺ pun membalas surat Musailamah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ، إلَى مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ: السَّلَامُ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْأَرْضَ للَّه يُورَثُهَا مَنْ يُشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah sang pendusta.

Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk, amma ba’du:

Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Setelah membaca surat itu, Musailamah memutilasi sahabat Nabi, Hubaib bin Zaid radhiallahu ‘anhu, yang Nabi tugaskan untuk mengantarkan surat kepada Musailamah al-Kadzab. Peristiwa ini terjadi di akhir tahun ke-10 H.

Fanatik Suku, Sajak Pun Disangka Wahyu

Musailamah mulai menjadikan Yamamah sebagai tanah haram. Ia juga mulai menyusun sajak yang ia sebut sebagai Alquran. Al-Mutasyammas bin Muawiyah, paman dari al-Ahnaf bin Qais, pernah mendengar sajak-sajak Alquran palsu yang dibacakan oleh Musailamah. Setelah keluar dari majelis Musailamah ia berkomentar, “Sungguh ia seorang pendusta”. Al-Ahnaf juga mengomentari, “Dia bukanlah nabi yang sebenarnya. Bukan p**a seorang yang pintar dalam berpura-pura menjadi nabi”.

Orang-orang Yamamah yang mengikuti Musailamah begitu fanatik dengan dakwah kenabiannya. Mereka bangga orang-orang dari keluarga Rabiah bersaing dengan keluarga Mudhar. Yakni keturunan Rabiah juga punya nabi sebagaimana keturunan Mudhar punya nabi, yakni Nabi Muhammad ﷺ. Pengakuan kenabian terhadap Musailamah sangat dipengaruhi fanatisme kabilah dan suku.

Suatu hari Thalhah an-Namiri datang ke Yamamah untuk bertemu Musailamah. Ia ingin mendengar langsung dakwahnya dan menguji kenabian pembuat wahyu palsu ini. Ketika sampai di majelis Musailamah, Thalhah menyebut nama Musailamah langsung. Kaum Musailamah menjawab, “Sebut dia rasulullah!”. “Tidak mau, sampai aku melihatnya dulu”, kata Thalhah.
Ketika Musailamah datang, Thalhah berkata, “Engkau Musailamah?” “Iya”, jawab nabi palsu si tukang tipu. “Siapa yang datang kepadamu?” Tanya Thalhah. Musailamah menjawab, “Rahman (Allah pen.)”. “Dalam keadaan bercahaya atau dalam kegelapan?”, selidik Thalhah. “Dalam kegelapan”, jawab Musailamah.

Thalhah berkata, “Sungguh aku bersaksi engkau adalah pendusta. Dan Muhammad adalah yang benar. Akan tetapi pendusta dari Rabiah lebih kami cintai dibanding orang yang jujur dari Mudhar”. (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk oleh ath-Thabari, 3, 283-286, Asadul Ghabah oleh Ibnul Atsir, 1: 443, dan al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qobla al-Islam oleh Jawad Ali, 6: 97).

Untuk menguatkan posisinya, Musailamah menikahi seorang perempuan dari bani Tamim. Kabilah besar lainnya di masyarakat Arab. Perempuan itu adalah Sajah binti al-Harits bin Suwaid at-Tamimiyah. Wanita ini memiliki kesamaan degnan Musailamah, sama-sama mengaku nabi. Ia mengajak kaumnya bani Tamim dan paman-pamannya dari kabilah Taghlib dan kabilah-kabilah Rabi’ah lainnya. Bersatulah kelompok besar ini dalam fanatisme kesukuan mengklaim sebuah kedustaan. Kemudian mereka menantang kekhalifahan Abu Bakar di Madinah.

07/04/2026

Berbagi di bulan Syawal 1447H bersama AHA

22/03/2026

Hutang itu perampas kebahagiaan.

22/03/2026

Hutang merebut kebahagiaan setiap orang

22/03/2026

Qonaah adalah jalan membuka pintu rejeki yang lebih luas.

11/03/2026

Allah Swt berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ …النحل: 36

“Dan sungguh, kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, jauhilah Tagut”. (Q.S an-Nahl: 36)

10/03/2026

Dan Ingatlah firman Allah SWT :
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡ​ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ‏ ١٩

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.
QS.Al-Hasyir :19.

Mengenal Ibnu Muljam, Pembunuh Ali yang Hafal AlquranKali ini kita kenalkan tokoh antagonis dalam Islam. Ibnu Muljam, ha...
26/02/2026

Mengenal Ibnu Muljam, Pembunuh Ali yang Hafal Alquran

Kali ini kita kenalkan tokoh antagonis dalam Islam. Ibnu Muljam, hafiz Quran yang menghabisi nyawa khalifah Ali bin Abi Thalib. Siapa sebenarnya beliau ini? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Nama lengkapnya, Abdurrahman bin Amr bin Muljam al-Muradi (dari suku Murad, Himyar, Yaman selatan, dekat Ma'rib). Lahir di masa Jahiliyah (pra-Islam), tapi masuk Islam dan hijrah pada masa khalifah Umar bin Khattab. Dia termasuk orang yang ikut Fath Misr (penaklukan Mesir) sekitar tahun 21-24 H bersama Amr bin Ash. Kisah Ibnu Muljam ini unik sekaligus aneh.

Kisah hidupnya yang kalau dijadikan film, genrenya campur aduk. Religi, politik, romansa, thriller, plus horor psikologis. Tokohnya bukan preman pasar, bukan begal jalanan. Ia hafal Alquran dari kulit ke kulit. Ngaji tujuh bulan tamat. Puasa sunah nyaris seperti kontrak tahunan tanpa jeda. Tahajudnya stabil. Dahinya hitam legam bekas sujud. CV keagamaannya mengilap.

Bahkan Umar bin Khattab mengirimnya ke Mesir dengan surat rekomendasi penuh pujian. Orang saleh, ajarkan Alquran dan fikih, buatkan rumah dekat masjid supaya mudah mengajar. Ini bukan endorsement abal-abal. Ini tanda tangan khalifah. Ia muqri resmi, guru umat. Ia juga ikut baiat kepada Ali bin Abi Thalib, ikut Perang Jamal dan Siffin di barisan Ali. Setia? Luar biasa. Kalau ada lomba “Sahabat Paling Taat”, mungkin ia masuk finalis.

Lalu datang episode tahkim setelah Perang Siffin. Di sinilah otaknya seperti tersambar petir ideologis. Ali yang kemarin dipuja sebagai imam adil, singa pemberani, tiba-tiba divonis kafir karena menerima arbitrase dengan Muawiyah I. Slogan sakti keluar, “La hukma illa lillah!” Hukum hanya milik Allah. Kalimat emas berubah jadi palu godam. Ia meloncat ke kubu Khawarij. Perang Nahrawan pecah. Kawan-kawannya tewas. Dendamnya tidak lagi hangat, tetapi mendidih seperti kawah gunung berapi.

Lalu lahirlah rencana paling nekat dalam sejarah politik Islam awal. Di Mekah, musim haji, ia dan dua kawannya, Burak dan Amr, menyusun paket pembunuhan serentak. Ali di Kufah bagian Ibnu Muljam, Muawiyah di Damaskus bagian Burak, Amr ibn al-As di Mesir bagian Amr. Ketiganya pun beraksi. Ibu Muljam melancarkan aksinya saat Subuh. Senjata pedang beracun. Motif? Mereka menyebutnya ibadah. Membersihkan umat dari “pengkhianat”. Nuan bayangkan, level keyakinan yang merasa sedang menjemput surga sambil menenteng racun.

Masuk Kufah, alur tambah dramatis. Ia jatuh cinta kepada Qatham binti Syajnah dari Bani Tamim. Ayah dan saudaranya tewas di Nahrawan. Qatham mengajukan mahar paling absurd sepanjang peradaban, 3000 dirham, budak laki-laki dan perempuan, serta bunuh Ali bin Abi Thalib. Mahar plus misi pembunuhan. Ia menjawab tanpa negosiasi. Seolah-olah sedang klik “setuju dengan syarat dan ketentuan”. Qatham membantu. Jaringan Khawarij merapat. Pedang diasah, diracuni berhari-hari. Semua seperti latihan gladi resik tragedi.

Tanggal 19 Ramadan 40 H. Subuh di Masjid Agung Kufah. Udara puasa. Saf rapat. Ali bin Abi Thalib menjadi imam. Saat sujud, atau ketika bangkit dari rukuk menuju sujud, riwayat berbeda, ia meloncat dan menebas kepala Ali sambil berteriak, “La hukma illa lillah! Bukan milikmu wahai Ali!” Ia membaca Al-Baqarah 207, merasa sedang menjual jiwa demi rida Allah. Darah mengalir. Janggut Ali basah. Ali berkata, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah!” Aku menang demi Tuhan Ka’bah. Dua atau tiga hari kemudian, 21 Ramadan, beliau wafat. Subuh. Ramadan. Masjid. Imam dibunuh oleh penghafal Alquran. Kalau ini bukan ironi kosmik, entah apa namanya.

Ia ditangkap hidup-hidup. Ali masih berwasiat: beri dia makan dan minum dari milikku. Jika aku sembuh, aku yang menghukumnya. Jika aku wafat, qisas satu pukulan saja, jangan lebih. Keadilan tetap berdiri tegak bahkan di depan pembunuh. Eksekusi dilakukan oleh Hasan ibn Ali, satu tebasan sesuai wasiat. Ada riwayat menyebut ia meminta agar lidahnya tidak dipotong supaya bisa terus membaca Alquran hingga akhir. Ironi berdiri sambil tertawa getir.

Hafal Alquran, tetapi Alquran tidak otomatis menembus hati. Bacaan bisa fasih, tafsir bisa bengkok. Sujud bisa lama, tetapi kesombongan bisa lebih lama. Ia bukan monster dari luar. Ia lahir dari dalam barisan orang saleh.

Pelajarannya menampar keras. Hafalan bukan jaminan keselamatan. Kesalehan luar bisa jadi kostum panggung. Yang berbahaya bukan hanya pedang beracun, melainkan keyakinan merasa paling benar. Sejarah ini seperti alarm keras di tengah malam Ramadan: jangan silau oleh dahi yang hitam, jangan terpesona oleh suara merdu tilawah. Karena ketika ilmu dipelintir oleh fanatisme, ia berubah dari cahaya menjadi petir. Petir, kalau sudah menyambar, tidak pilih-pilih siapa yang dibakar.

Foto Ai hanya ilustrasi
Cr: Rosadi Jamani

Address

Hong Kong

Telephone

+85261666001

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KABAR Gembira & Peringatan" posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share