30/04/2026
WARISAN LARA
BAB 5
Suasana di halaman rumah terasa tegang saat Abang Deknur menatap tajam ke arah Zadin. Dengan nada suara yang tegas dan penuh penekanan, ia berkata, “Aku sudah mengajari adikku sendiri, tak perlu engkau yang menyuruh-nyuruh!”
Mendengar jawaban yang menampar ego itu, wajah Zadin memerah menahan amarah. Tanpa berkata lagi, ia berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang berat dan hati yang membara. Ia p**ang dengan perasaan kecewa dan dendam yang mulai bersemayam di di dada.
Waktu berlalu, seminggu sudah kejadian itu. Zadin kembali datang, kali ini dengan niat ingin menjemput istrinya, Dekcut, untuk p**ang bersamanya. Namun, harapan itu pupus seketika. Keluarga Dekcut dengan tegas menolak keinginan tersebut. Mereka tidak rela membiarkan Dekcut kembali ke tempat yang mungkin hanya akan menyakiti hatinya lagi.
Dan yang lebih menyedihkan, Dekcut sendiri pun menolak. Wanita itu menggeleng kuat, matanya menyiratkan ketakutan dan luka yang mendalam. Ia trauma. Hatinya sudah terlalu sering goyah dan terluka, membuatnya takut untuk kembali menjalani kehidupan bersama suaminya.
Meskipun ditolak dan diabaikan, Zadin tidak menyerah begitu saja. Ia tetap sering datang berkunjung, entah untuk sekadar melihat atau menanyakan kabar. Waktu terus berjalan, usia kehamilan Dekcut pun bertambah. Dari bulan keempat, perlahan memasuki bulan kelima, keenam, hingga akhirnya masuk ke usia kandungan tujuh bulan. Sepanjang masa itu, Zadin tetap setia datang. Ia bahkan tidak lupa mengadakan kenduri tujuh bulanan, sebuah tradisi untuk mendoakan keselamatan ibu dan bayi yang akan lahir.
Akhirnya, hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Waktu persalinan telah datang. Dengan penuh perjuangan, Dekcut melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Tangis bayi itu memecah keheningan, membawa kabar gembira dan harapan baru bagi keluarga. Namun, kebahagiaan itu ternyata hanya sesaat.
Keesokan harinya, saat hati Dekcut masih dipenuhi rasa syukur atas kelahiran putrinya, sebuah kabar pahit datang menghampiri. Dari mulut ke mulut, terdengarlah berita yang menghancurkan hatinya: Zadin telah menikah lagi.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Dekcut. Air mata tak dapat lagi ditahan, membasahi pipinya tanpa henti. Dengan hati yang hancur lebur, ia hanya mampu duduk termenung di tepi jendela kamarnya. Matanya kosong menatap ke arah rumah suaminya yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat ia tinggal.
Di sana, di hadapan matanya sendiri, terlihat jelas kemeriahan pesta pernikahan sedang berlangsung. Suasana gembira di sana sangat kontras dengan kesedihan yang mendera jiwanya saat ini. Sungguh ironis, meskipun mereka masih tinggal di satu kampung yang sama, hati mereka kini sudah terpisah jauh oleh pengkhianatan dan luka yang tak mudah terobati.
Rasa sakit itu bagaikan pisau yang terus menoreh luka baru di dalam dadanya. Betapa bodohnya ia, masih berharap dan percaya bahwa kesetiaan itu ada, padahal kenyataannya begitu kejam. Segala perhatian dan janji yang pernah terucap kini terasa hampa, hanyalah sandiwara belaka yang menyakitkan. Ia merasa seperti barang bekas yang sudah tidak diinginkan, diganti dengan mudah seolah-olah pengorbanannya selama ini tidak ada artinya sama sekali.
Tangisnya pecah kembali, kali ini disertai getaran seluruh tubuh yang tak kuasa menahan pedih. Ia memeluk erat bayi perempuannya yang masih merah dan polos, seolah mencari kekuatan dari satu-satunya makhluk yang kini menjadi alasan ia masih bertahan hidup. "Maafkan Mama, Nak..." bisiknya parau, "Mama tidak bisa memberikan Ayah yang baik untukmu. Dunia ini ternyata begitu kejam dan penuh dengan kebohongan." Hati wanita itu telah mati rasa, ditinggalkan dalam sepi yang membeku di tengah keramaian pesta yang tidak pernah menjadi miliknya lagi.