02/04/2026
“Di Rumah yang Bukan Milikku”
(Part 7)
Malam itu, Rina tidak pulang ke rumah mertuanya.
Ia duduk di kamar kos sederhana milik Sari. Lampu redup, suasana sunyi… tapi pikirannya penuh.
“Aku nggak bisa diam lagi,” ucap Rina pelan.
Sari mengangguk. “Kalau kamu mau melawan… kamu harus punya bukti.
Mereka licik, Rina. Nggak cukup cuma kata-kata.”
Rina menatap kosong ke depan.
“Selama ini… aku selalu sendiri.
Tapi sekarang… aku tahu semuanya bukan salahku.”
Itu yang membuatnya kuat.
—
Keesokan harinya, Rina membuat keputusan besar.
Ia kembali ke rumah itu.
Rumah yang hampir menghancurkannya.
Namun kali ini… bukan sebagai korban.
Saat pintu terbuka, Bu Ratna terlihat terkejut.
“Kamu berani balik?” sinisnya.
Rina masuk dengan tenang.
“Saya mau ambil barang saya. Dan… menyelesaikan sesuatu.”
Tatapan mereka bertemu. Tegang.
Andi keluar dari kamar, terlihat kesal.
“Kamu ngapain lagi ke sini, Rina?”
Rina menatapnya datar.
“Aku cuma mau satu hal, Mas… kejujuran.”
Andi menghela napas. “Kamu ini capek ya drama terus—”
Klik.
Suara kecil terdengar.
Rina meletakkan ponselnya di meja.
Mode rekaman… aktif.
“Aku cuma mau tanya sekali lagi,” kata Rina pelan, tapi jelas.
“Mas… kamu percaya aku mencuri?”
Andi terdiam sejenak.
Bu Ratna langsung menyela, “Ngapain tanya lagi? Sudah jelas—”
“Biarkan dia jawab, Bu.”
Untuk pertama kalinya, Rina memotong perkataan Bu Ratna.
Andi terlihat tidak nyaman.
“Ya… aku… cuma ikut apa kata Ibu.”
Jawaban itu… cukup.
Rina menahan napas.
“Jadi kamu nggak pernah benar-benar percaya sama aku?”
Andi tidak menjawab.
Dan diam itu… kembali jadi bukti.
Tiba-tiba, dari arah dapur—
Maya muncul.
“Wah… lengkap ya dramanya,” katanya santai.
Rina menoleh.
“Aku justru senang kamu datang,” ucap Rina.
Maya tersenyum tipis. “Oh ya? Kenapa?”
Rina melangkah mendekat.
“Supaya semuanya sekalian jelas.”
Ia mengangkat ponselnya.
“Semua yang kalian katakan… sudah terekam.”
Seketika, ekspresi Bu Ratna berubah.
“Kamu berani-beraninya—!”
“Bukan cuma itu,” lanjut Rina.
“Aku juga sudah simpan pesan, foto, dan semua kejanggalan yang terjadi di rumah ini.”
Maya mulai terlihat gelisah.
“Kamu pikir itu cukup?” tantangnya, tapi suaranya tak setenang tadi.
Rina menatap mereka satu per satu.
“Kalau belum cukup… kita bisa buktikan di tempat yang lebih adil.”
Deg.
“Maksud kamu…?” tanya Andi.
Rina menarik napas dalam.
“Polisi.”
Ruangan mendadak hening.
Untuk pertama kalinya—
Tidak ada yang langsung menyela.
Tidak ada yang berani meremehkan.
Karena kali ini… Rina tidak hanya bicara.
Ia siap bertindak.
Namun tiba-tiba—
Brak!
Ponsel di tangan Rina direbut paksa oleh Bu Ratna dan jatuh ke lantai.
Layar retak.
Rekaman… terhenti.
“Jangan harap kamu bisa menghancurkan kami!” bentak Bu Ratna penuh emosi.
Rina membeku.
Beberapa detik… sunyi.
Lalu perlahan—
Rina tersenyum.
Senyum yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam.
“Ibu terlambat…”
Suasana kembali tegang.
“Apa maksud kamu?” tanya Maya dengan suara pelan.
Rina menatap mereka tanpa rasa takut.
“Semua data… sudah aku kirim ke seseorang.”
Jantung semua orang seperti berhenti.
“Kepada siapa…?” bisik Andi.
Rina menjawab tenang—
“Orang yang akan memastikan… kebenaran ini tidak bisa kalian tutupi lagi.”
Wajah Bu Ratna mulai pucat.
Dan untuk pertama kalinya…
Mereka merasakan ketakutan yang sama seperti yang selama ini Rina rasakan.
—
Namun di balik semua itu…
Rina belum tahu—
Bahwa langkahnya ini… akan membuka rahasia yang jauh lebih besar.
Rahasia yang tidak hanya menghancurkan rumah itu…
Tapi juga… masa lalu yang selama ini disembunyikan.