Servant of God

Servant of God Motivasi yang menegur dengan kasih
Refleksi hidup dari Firman & realita
Bertumbuh, bukan sekadar bertahan 🌱

PENDETA JANGAN MENGUKUR KEROHANIAN JEMAAT DARI BESARNYA PERSEMBAHANAda sesuatu yang perlu direnungkan ketika mimbar lebi...
01/07/2026

PENDETA JANGAN MENGUKUR KEROHANIAN JEMAAT DARI BESARNYA PERSEMBAHAN

Ada sesuatu yang perlu direnungkan ketika mimbar lebih sering dipakai untuk menegur soal uang daripada mengarahkan hati kepada Kristus.

Tidak sedikit jemaat p**ang dengan hati yang terluka, bukan karena Firman menegur dosanya, tetapi karena merasa dipaksa, disindir, atau dihakimi hanya karena belum mampu memberi seperti yang diharapkan.

Padahal setiap jemaat datang membawa pergumulannya masing-masing.

Ada yang baru kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang berjuang membayar biaya sekolah anak. Ada yang menahan lapar demi keluarganya. Ada yang diam-diam menangis karena kebutuhan hidup semakin berat.

Kita tidak selalu tahu beban yang mereka pikul.

Karena itu, seorang gembala dipanggil untuk memahami keadaan domba-dombanya, bukan terburu-buru menghakimi isi amplop mereka.

Alkitab mengajarkan bahwa memberi adalah bagian dari penyembahan. Namun penyembahan yang sejati tidak pernah lahir dari rasa takut, tekanan, atau rasa malu. Tuhan menghendaki hati yang rela, sebab "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Korintus 9:7).

Jika jemaat belum mengerti tentang memberi, ajarlah dengan Firman. Jika mereka masih bergumul, dampingilah dengan kasih. Jika iman mereka masih lemah, kuatkanlah dengan doa.

Jangan sampai mimbar berubah menjadi tempat yang membuat orang takut datang ke gereja hanya karena merasa akan ditekan soal uang.

Yang lebih menyedihkan bukanlah ketika persembahan berkurang, tetapi ketika kasih mulai berkurang di dalam pelayanan.

Seorang gembala sejati akan lebih gelisah melihat jemaat hidup dalam dosa daripada melihat persembahan yang sedikit. Ia akan lebih sibuk membawa jiwa mendekat kepada Kristus daripada menghitung siapa yang sudah memberi dan siapa yang belum.

Pelayanan bukan dibangun di atas paksaan, melainkan di atas kasih. Dan ketika kasih tetap menjadi dasar, jemaat tidak hanya belajar memberi uang, tetapi juga belajar memberikan seluruh hidupnya bagi Tuhan.

Mimbar adalah tempat menyampaikan kebenaran. Bukan tempat melampiaskan kekecewaan karena persembahan tidak memenuhi harapan. (YS)



✍️ "Ketika Kesibukan Menjadi Alasan untuk Menghindari Pelayanan" ⭐Tidak ada yang salah dengan bekerja. Pekerjaan adalah ...
30/06/2026

✍️ "Ketika Kesibukan Menjadi Alasan untuk Menghindari Pelayanan" ⭐

Tidak ada yang salah dengan bekerja. Pekerjaan adalah anugerah Tuhan. Melalui pekerjaan, kita menghidupi keluarga, memenuhi kebutuhan hidup, dan menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan pun menghendaki umat-Nya menjadi orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaannya.

Tetapi ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan dengan jujur. Apakah pekerjaan benar-benar selalu menjadi alasan kita tidak bisa melayani, atau justru sudah menjadi tempat persembunyian yang paling nyaman untuk menghindari tanggung jawab pelayanan?

Aneh rasanya ketika kita selalu bisa meluangkan waktu untuk lembur, menghadiri acara yang kita sukai, berkumpul dengan teman, atau melakukan hobi. Namun, ketika giliran melayani Tuhan, kalimat yang paling cepat keluar adalah, "Maaf, saya sibuk bekerja."

Sekali atau dua kali, semua orang pasti memahami. Ada keadaan yang memang tidak bisa dihindari. Namun, jika alasan yang sama terus berulang setiap kali kesempatan melayani datang, maka persoalannya mungkin bukan lagi tentang jadwal, melainkan tentang prioritas.

Pelayanan memang menuntut pengorbanan. Kadang harus bangun lebih pagi, p**ang lebih malam, mengorbankan waktu istirahat, bahkan mengatur ulang agenda pribadi. Tetapi bukankah kasih selalu menuntut pengorbanan? Jika kita berkata mengasihi Tuhan, bukankah kasih itu juga seharusnya tampak dalam kesediaan kita melayani ketika dipercayakan sebuah tanggung jawab?

Jangan sampai kita menjadi orang yang begitu setia pada pekerjaan, tetapi mulai kehilangan kesetiaan kepada panggilan Tuhan. Jangan sampai kita sangat takut mengecewakan atasan, tetapi tidak lagi merasa sedih ketika berulang kali mengecewakan pelayanan yang Tuhan percayakan.

Pada akhirnya, jabatan, gaji, dan kesibukan akan berlalu. Yang akan tetap bernilai di hadapan Tuhan adalah kesetiaan kita. Sebab ketika kita berdiri di hadapan-Nya nanti, mungkin Tuhan tidak akan bertanya, "Berapa sibuk pekerjaanmu?" Tetapi Dia dapat bertanya, "Ketika Aku memberimu kesempatan untuk melayani, mengapa engkau selalu mempunyai alasan untuk menolaknya?"

Kiranya pertanyaan itu tidak membuat kita tertunduk karena penyesalan, tetapi mendorong kita mulai hari ini untuk berkata, "Tuhan, jika Engkau masih mempercayaiku melayani, ajarlah aku mengatur hidupku agar selalu ada tempat bagi-Mu, bukan hanya di bibirku, tetapi juga dalam waktuku, kesetiaanku, dan pelayananku." (YS)



KETIKA NAMA TUHAN DIPAKAI UNTUK MEMBELA DIRI SENDIRIAda satu dosa yang sering tidak disadari dalam pelayanan: memakai na...
29/06/2026

KETIKA NAMA TUHAN DIPAKAI UNTUK MEMBELA DIRI SENDIRI

Ada satu dosa yang sering tidak disadari dalam pelayanan: memakai nama Tuhan untuk menguatkan keinginan pribadi.

Tidak semua yang diawali dengan kalimat, "Tuhan bilang..." benar-benar berasal dari Tuhan.

Kadang yang sedang berbicara bukan kehendak Allah, tetapi keinginan manusia yang dibungkus dengan bahasa rohani.

"Tuhan menyuruh saya..." "Tuhan memilih saya..." "Tuhan menaruh visi ini..." "Tuhan tidak berkenan jika Anda menolak..."

Kalimat-kalimat seperti ini memang bisa menjadi kesaksian yang tulus. Tetapi di tangan orang yang salah, itu bisa berubah menjadi alat untuk menekan, mengendalikan, dan membungkam orang lain.

Ada pemimpin rohani yang sulit ditegur karena merasa dirinya selalu membawa suara Tuhan. Ada yang menganggap setiap kritik sebagai perlawanan terhadap Allah. Ada yang menuntut penghormatan berlebihan karena merasa dirinya "orang pilihan". Ada p**a yang menggunakan mimbar untuk membangun nama sendiri, mengumpulkan pengikut, dan mempertahankan pengaruh.

Yang menyedihkan, jemaat sering berada dalam posisi serba salah. Mereka melihat sesuatu yang tidak benar, tetapi takut bersuara. Mereka khawatir dianggap memberontak kepada hamba Tuhan, padahal Alkitab mengajarkan agar segala sesuatu diuji dan setiap pemimpin rohani tetap hidup dalam pertanggungjawaban.

Realitasnya, seseorang bisa sangat fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi hatinya diam-diam sedang mencari keuntungan diri sendiri. Seseorang bisa terlihat sangat rohani di depan jemaat, tetapi sebenarnya sedang memperjuangkan ego, jabatan, dan pop**aritas.

Tuhan tidak pernah memberikan nama-Nya untuk dipakai sebagai tameng bagi ambisi manusia.

Mimbar bukan tempat membesarkan diri. Jabatan bukan alat untuk menguasai orang lain. Pengurapan bukan izin untuk hidup tanpa koreksi.

Semakin tinggi seseorang diangkat dalam pelayanan, semakin besar p**a tanggung jawabnya untuk hidup dalam kerendahan hati dan takut akan Tuhan.

Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah ketika seorang pendeta berbuat salah. Yang paling berbahaya adalah ketika kesalahan itu terus dipertahankan dengan berkata, "Ini kehendak Tuhan," padahal yang sedang dipertahankan hanyalah keinginan diri sendiri.

"Janganlah menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan."
Keluaran 20:7 (TB)

Pelayanan sejati tidak membutuhkan manip**asi rohani. Kebenaran tidak perlu dipaksakan dengan mengatasnamakan Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh dipakai Tuhan justru semakin rendah hati, semakin terbuka untuk dikoreksi, dan semakin takut memakai nama Tuhan secara sembarangan. (YS)




PENDETA JANGAN SAMPAI LEBIH SERING MEMBICARAKAN UANG DARIPADA KESELAMATAN JIWAAda sesuatu yang perlu direnungkan oleh ge...
27/06/2026

PENDETA JANGAN SAMPAI LEBIH SERING MEMBICARAKAN UANG DARIPADA KESELAMATAN JIWA

Ada sesuatu yang perlu direnungkan oleh gereja hari ini.

Ketika setiap ibadah lebih sering dipenuhi ajakan memberi daripada ajakan bertobat, kita perlu bertanya: apakah fokus pelayanan masih berada di tempat yang benar?

Gereja memang membutuhkan biaya untuk melayani. Listrik harus dibayar, pelayanan harus berjalan, dan fasilitas perlu dirawat. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan.

Namun ada perbedaan besar antara mengajarkan jemaat tentang memberi sebagai bagian dari iman dengan menekan jemaat agar memberi karena kebutuhan organisasi.

Ketika mimbar berubah menjadi tempat menagih, banyak hati mulai terluka. Ada jemaat yang datang membawa beban hidup, tetapi p**ang dengan beban baru karena merasa dihakimi oleh keadaan ekonominya.

Padahal, mereka datang mencari pengharapan, bukan tekanan.

Pendeta dipanggil untuk menggembalakan manusia, bukan menghitung nilai persembahan mereka. Tugas seorang gembala adalah mencari domba yang tersesat, menguatkan yang lemah, menghibur yang terluka, menegur yang hidup dalam dosa, dan membawa setiap orang semakin dekat kepada Kristus.

Jangan sampai jemaat merasa bahwa nilai mereka di gereja diukur dari seberapa besar mereka memberi.

Sebab di mata Tuhan, seorang janda yang memberi dua peser lebih berharga daripada orang yang memberi banyak demi pujian manusia.

Jika gereja kehilangan keberanian memberitakan pertobatan demi menjaga pemasukan, maka yang hilang bukan hanya keberanian, tetapi juga suara kenabian yang seharusnya menggema dari mimbar.

Gereja akan tetap berdiri bukan karena hebatnya strategi mengumpulkan dana, melainkan karena kesetiaan kepada Kristus, Sang Kepala Gereja.

Pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Tuhan akan melihat apakah melalui pelayanan kita, semakin banyak orang mengenal Kristus, bertobat, hidup dalam kekudusan, dan bertumbuh dalam kasih.

Karena gereja yang diberkati bukan hanya gereja yang mampu membangun gedung, tetapi gereja yang dipakai Tuhan untuk membangun manusia. (Y$M)



AJARANNYA LURUS, TETAPI HATINYA MASIH BENGKOK?Tidak sedikit pelayan Tuhan yang sangat memahami Alkitab. Ayat-ayat dihafa...
24/06/2026

AJARANNYA LURUS, TETAPI HATINYA MASIH BENGKOK?

Tidak sedikit pelayan Tuhan yang sangat memahami Alkitab. Ayat-ayat dihafal. Teologi dipahami dengan baik. Khotbah disusun dengan rapi dan disampaikan dengan penuh keyakinan. Mereka mampu menjelaskan tentang kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan pertobatan dengan begitu indah sehingga banyak orang merasa diberkati.

Namun ada sebuah pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur:

Apakah kebenaran yang keluar dari mulut sudah benar-benar turun dan membentuk hati?

Karena seseorang bisa sangat fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi diam-diam sulit mengalahkan egonya sendiri.

Ada yang berani menegur dosa di depan jemaat, tetapi tersinggung ketika dosanya sendiri disinggung. Ada yang mengajarkan kerendahan hati, tetapi tidak nyaman ketika pendapatnya tidak diikuti. Ada yang berbicara tentang pengampunan, tetapi menyimpan luka dan kebencian bertahun-tahun. Ada yang berkhotbah tentang kasih, tetapi memperlakukan sesama pelayan sebagai pesaing.

Di atas mimbar tampak sangat rohani, tetapi di ruang-ruang tertutup masih mudah marah, merasa paling benar, dan sulit menerima koreksi.

Padahal ujian kerohanian yang sesungguhnya bukan saat kita sedang berkhotbah, melainkan saat kita dikoreksi. Bukan ketika orang memuji pelayanan kita, melainkan ketika ada yang menunjukkan kelemahan kita. Bukan ketika semua orang menghormati kita, melainkan ketika harga diri kita terluka.

Di situlah kondisi hati yang sebenarnya mulai terlihat.

Ada orang yang semakin lama melayani, justru semakin sulit diajar. Pengalaman pelayanan membuatnya merasa sudah tahu semuanya. Jabatan membuatnya merasa harus selalu benar. Pujian membuatnya perlahan kehilangan kerendahan hati.

Tanpa sadar, lahirlah kesombongan rohani yang paling berbahaya: masih berbicara tentang pertobatan, tetapi tidak lagi merasa perlu bertobat.

Padahal orang yang paling dekat dengan firman belum tentu orang yang paling dekat dengan hati Tuhan.

Orang Farisi pada zaman Yesus sangat menguasai Kitab Suci, tetapi Tuhan justru mengecam mereka karena hati mereka jauh dari-Nya. Mereka tampak bersih di luar, tetapi di dalam penuh kesombongan dan kemunafikan.

Matius 23:27 "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."

Kiranya kita semua, khususnya para pelayan Tuhan, tidak hanya berjuang memiliki ajaran yang lurus, tetapi juga hati yang lurus di hadapan Tuhan.

Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak hanya mendengar apa yang kita khotbahkan. Tuhan juga melihat siapa diri kita ketika mimbar sudah sepi, pujian manusia sudah hilang, dan hanya tinggal kita berhadapan dengan-Nya. (Y$M)



KETIKA “JANJI IMAN” BERUBAH MENJADI BEBAN IMANAda satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh gereja masa kini:...
23/06/2026

KETIKA “JANJI IMAN” BERUBAH MENJADI BEBAN IMAN

Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh gereja masa kini:

Apakah setiap ajakan memberi yang dibungkus bahasa rohani benar-benar lahir dari iman, atau justru sedang menciptakan tekanan atas nama iman?

Memberi kepada Tuhan adalah bagian dari kehidupan orang percaya. Alkitab mengajarkan tentang persembahan, kemurahan hati, dan pengorbanan. Tetapi masalah muncul ketika memberi tidak lagi lahir dari kerelaan, melainkan dari rasa terpaksa, rasa takut, atau rasa bersalah.

Hari ini, di beberapa tempat, jemaat diminta membuat komitmen sejumlah uang tertentu dan itu disebut sebagai "langkah iman."

Lalu tanpa disadari, iman mulai diukur dengan angka.

Yang memberi banyak dipuji sebagai orang beriman. Yang tidak mampu memberi mulai merasa dirinya kurang rohani. Ada yang p**ang dari ibadah dengan hati tertekan, bukan karena ditegur oleh firman, tetapi karena tidak mampu memenuhi komitmen yang diminta.

Bahkan tidak sedikit orang kecil yang penghasilannya pas-pasan ikut berjanji memberi, lalu harus menanggung kecemasan karena bingung bagaimana memenuhinya.

Padahal, Tuhan tidak pernah menghendaki umat-Nya hidup di bawah tekanan rohani yang menghilangkan sukacita.

Alkitab berkata:

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Perhatikan: jangan karena paksaan.

Bukan karena takut dianggap tidak beriman.

Bukan karena takut dipandang tidak mendukung pelayanan.

Bukan karena takut dikatakan tidak mengasihi Tuhan.

Sebab kasih kepada Tuhan tidak dapat diukur dari besarnya nominal yang ditulis seseorang.

Ada orang yang memberi sedikit tetapi dengan hati yang tulus. Ada p**a yang memberi banyak tetapi hatinya jauh dari Tuhan.

Tuhan melihat hati sebelum melihat jumlah.

Yang menyedihkan, gereja kadang lebih sibuk mengejar target dana daripada membangun kehidupan doa. Lebih bersemangat membicarakan pembangunan gedung daripada pembangunan karakter. Lebih sering membahas kebutuhan anggaran daripada kebutuhan pertobatan.

Kita bisa memiliki gedung yang indah, tetapi jemaat kehilangan kehidupan doa.

Kita bisa memiliki program yang besar, tetapi kasih mula-mula kepada Kristus perlahan padam.

Kita bisa mengumpulkan banyak persembahan, tetapi sedikit air mata pertobatan di altar.

Tuhan Yesus berkata:

"Rumah-Ku akan disebut rumah doa." (Matius 21:13)

Artinya, identitas utama gereja bukanlah kekuatan finansialnya, melainkan hubungan yang hidup dengan Tuhan.

Gereja dipanggil untuk membentuk orang yang mengasihi Kristus, hidup dalam kekudusan, belajar memberi dengan sukacita, dan melayani tanpa motif mencari keuntungan.

Karena pada akhirnya, Tuhan tidak sedang mencari gereja yang paling kaya.

Tuhan sedang mencari gereja yang hatinya tetap murni, doanya tetap menyala, kasihnya tetap hidup, dan pemberiannya lahir dari cinta kepada-Nya, bukan dari tekanan yang dibungkus dengan bahasa rohani. (Y$M)



PELAYANAN ATAU PANGGUNG KEPENTINGAN?Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh setiap pelayan Tuhan: Apaka...
22/06/2026

PELAYANAN ATAU PANGGUNG KEPENTINGAN?

Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh setiap pelayan Tuhan: Apakah kita masih melayani Tuhan, atau tanpa sadar sedang melayani kepentingan diri sendiri?

Tidak semua yang dilakukan di gereja lahir dari hati seorang hamba. Ada yang melayani karena ingin dikenal. Ada yang aktif karena ingin memiliki pengaruh. Ada yang mengejar jabatan bukan karena beban untuk menggembalakan, tetapi karena jabatan dianggap sebagai kehormatan dan kebanggaan.

Kita hidup di zaman ketika pelayanan dapat berubah menjadi ajang persaingan. Orang lebih sibuk mencari posisi daripada mencari kehendak Tuhan. Ada yang rela mengorbankan persaudaraan demi jabatan, membangun kelompok-kelompok demi dukungan, bahkan mengukur keberhasilan pelayanan dari seberapa besar penghormatan yang diterimanya.

Yang menyedihkan, terkadang kita lebih terluka karena tidak mendapat posisi daripada karena jiwa-jiwa tidak bertumbuh. Lebih gelisah karena tidak dipilih menjadi pemimpin daripada karena umat sedang kehilangan arah rohani.

Padahal Yesus tidak pernah mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengejar kursi kehormatan. Sebaliknya, Dia berkata, "Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Matius 20:26).

Pelayanan sejati tidak selalu berdiri di depan. Kadang ia hadir dalam doa yang tidak dilihat orang, dalam pengorbanan yang tidak dipuji, dalam air mata yang tidak diketahui siapa pun, dan dalam kesetiaan yang tetap bertahan meskipun tidak mendapat penghargaan.

Jabatan gereja hanyalah sementara. Pengaruh manusia pun tidak akan bertahan selamanya. Tetapi hati seorang hamba yang setia akan dikenang oleh Tuhan.

Karena itu, sebelum bertanya, "Posisi apa yang akan saya dapat?", mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, "Apakah hati saya masih murni untuk melayani Kristus?"

Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya seberapa tinggi jabatan kita di gereja, tetapi seberapa setia kita mengasihi, melayani, dan menjadi serupa dengan Kristus.

Layani Tuhan, bukan ego. Kejar kesetiaan, bukan pop**aritas. Bangun umat, bukan nama sendiri. Karena pelayanan bukan tentang menjadi seseorang, melainkan tentang menjadi hamba. (Y$M)



berat

20/06/2026




berat

KETIKA JABATAN ROHANI MENJADI TUJUAN, PANGGILAN PELAYANAN MULAI MEMUDARShalom, saudaraku.Ada satu pertanyaan yang perlu ...
20/06/2026

KETIKA JABATAN ROHANI MENJADI TUJUAN, PANGGILAN PELAYANAN MULAI MEMUDAR

Shalom, saudaraku.

Ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: ketika seseorang ingin menjadi pemimpin gereja, apa yang sebenarnya sedang dikejarnya?

Sebab tidak dapat dipungkiri, di berbagai tempat, jabatan rohani terkadang tidak lagi dipandang sebagai beban pelayanan, melainkan sebagai posisi yang memberikan pengaruh, kehormatan, dan berbagai kemudahan. Akibatnya, ada orang yang begitu bersemangat mengejar kursi kepemimpinan, tetapi tidak memiliki semangat yang sama untuk memikul tanggung jawab melayani umat.

Sebelum terpilih, mereka rajin mendekati banyak orang. Sibuk membangun relasi. Aktif mencari dukungan. Namun pertanyaannya, apakah mereka juga sama giatnya membangun kehidupan doa dan kerendahan hati di hadapan Tuhan?

Jabatan dalam gereja bukanlah hadiah atas kepandaian berorganisasi. Jabatan rohani juga bukan tanda bahwa seseorang lebih mulia daripada yang lain. Kepemimpinan di dalam gereja adalah panggilan untuk melayani lebih banyak, mengorbankan lebih banyak, dan mempertanggungjawabkan lebih banyak di hadapan Tuhan.

Semakin tinggi posisi pelayanan seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Semakin besar kepercayaan yang diterima, seharusnya semakin besar p**a kesadarannya bahwa suatu hari ia harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan atas setiap jiwa yang dipercayakan kepadanya.

Yesus sendiri memberikan teladan yang berbeda dari pola dunia. Ia berkata:

"Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu." (Matius 20:27)

Di mata dunia, kepemimpinan adalah soal kedudukan. Tetapi di dalam Kerajaan Allah, kepemimpinan adalah soal pengabdian. Di mata dunia, pemimpin ingin dilayani. Namun di dalam Kristus, pemimpin dipanggil untuk melayani.

Karena itu, gereja perlu berhati-hati. Jangan sampai kita lebih mengagumi orang karena jabatannya daripada karena integritas dan kerendahan hatinya. Dan setiap pelayan Tuhan juga perlu terus memeriksa hatinya: apakah aku mengejar pelayanan demi kemuliaan Tuhan, atau demi kepentinganku sendiri?

Sebab pada akhirnya, yang akan dinilai Tuhan bukanlah seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa setia kita menggembalakan dan melayani umat-Nya dengan hati yang tulus.

Jabatan rohani adalah salib yang harus dipikul, bukan mahkota yang harus diperebutkan. (Y$M)




berat

18/06/2026

Address

Ambon

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Servant of God posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share