PodiumNews.com

PodiumNews.com Podiumnews.com adalah situs berita dibawah manajemen PT Media Podium Utama, berkantor di Badung, Bali

14/07/2026

KARANGASEM, PODIUMNEWS.com - Gubernur Bali, Wayan Koster meninjau progress Pembangunan sekaligus Penerimaan Siswa Baru Tahun Ajaran 2026-2027 untuk Siswa SD, SMP, dan SMA di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bali di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem Bali, Senin (13/7/2026) bertepatan Soma Umanis, Pujut.

Sekolah Rakyat di Kabupaten Karangasem ini merupakan salah satu program strategis Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto yang berdiri di lahan Pemerintah Provinsi Bali seluas 5,6 hektare, bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem dengan memperluas akses pendidikan yang merata. Program sosial Pendidikan ini dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mendapatkan pendidikan dan fasilitas asrama yang layak.

Dalam kunjungannya, Gubernur Koster menyempatkan waktu menyapa siswa–siswi SD, SMP, dan SMA yang sedang melakukan proses pendaftaran hingga meninjau ruang kelas belajar siswa SD yang dilengkapi dengan meja/kursi untuk siswa dan guru, lemari, media pembelajaran papan tulis, dan infrastruktur pendukung berupa pencahayaan lengkap dengan kipas angin dan ventilasi. 

Fasilitas ibadah seperti Pura, kantin, toilet, asrama siswa, fasilitas air bersih, tempat nyuci baju, hingga listrik juga menjadi perhatian Gubernur Koster dalam kunjungan tersebut, seraya menanyakan beberapa infrastruktur strategis seperti kesiapan air, listrik, makanan, progress pembangunan, prasarana pendidikan, dan Guru Sekolah Rakyat di Kabupaten Karangasem di hadapan Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Ni Nengah Satriyani, terkait Sekolah Rakyat, Direktur Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil Kemensos, Ketut Supena, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali dan Kepala Sekolah Rakyat, Putu Jaya Negara.

Menjawab pertanyaan Gubernur Bali, Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Ni Nengah Satriyani, melaporkan bahwa:

Pertama, Pengerjaan Sekolah ...

selengkapnya, web podiumnews.com

14/07/2026

BADUNG, PODIUMNEWS.com – Selama dua hari dilakukan pencarian, Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan korban yang terseret arus di Pantai Pererenan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, Senin (13/7/2026). Korban ditemukan dalam posisi terapung-apung dan kondisi meninggal dunia. 

"Korban atau target itu berhasil kita dapat dengan jarak sekitar 300 meter dari LKM, pukul 13.45 Wita," kata I Made Widiantara, koordinator lapangan Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar. 

Dijelaskannya, korban diketahui bernama Christian Jonathan Made Caesar Halawa (17), warga Jalan Tibung Anyar No. 4, Banjar Kwanji, Dalung, Kabupaten Badung. Sebelumnya, korban dilaporkan terseret arus saat berenang bersama dua rekannya di Pantai Pererenan, Sabtu (11/7/2026) sekitar pukul 17.40 Wita. 

Saat kejadian, gelombang laut cukup besar. Satu rekan korban berhasil menyelamatkan diri, sementara satu orang lainnya berhasil diselamatkan oleh Tim Balawista Pantai Pererenan. Informasi kejadian diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar dari Polair Polsek Kuta Utara, Minggu (12/7/2026). 

Operasi SAR hari kedua diawali dengan briefing dan pembagian tugas. Tim SAR gabungan kemudian mengerahkan SRU laut menggunakan 1 unit rubber boat untuk melakukan penyisiran di perairan, sementara SRU darat melakukan penyisiran di sepanjang pesisir ke arah timur dan barat dari lokasi kejadian. 

Sekitar pukul 13.15 Wita diterbangkan drone thermal ke arah barat daya dari lokasi kejadian, dan 15 menit kemudian korban terpantau mengapung. Informasi tersebut segera diteruskan kepada SRU laut yang kemudian bergerak menuju titik lokasi dan selanjutnya mengevakuasi korban. 

Jenazah selanjutnya dibawa menuju pesisir Pantai Pererenan. "Pada pukul 15.35 Wita korban dievakuasi dengan menggunakan ambulans BPBD Kabupaten Badung menuju ke Rumah Sakit Mangusada," ungkap Sidakarya. 

Sebelumnya, menurut Ps Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, sekitar pukul 17.00 Wita, korban bersama dua temannya, berinisial FELL (18) dan EFP (18) sedang mandi di area yang ada tanda bahaya di pantai sebelah timur Patung Gajah Mina.

Selengkapnya, web podiumnews.com

14/07/2026

PUKUL delapan malam di sebuah kawasan bisnis Jakarta. Lampu-lampu gedung pencakar langit masih menyala terang, memantulkan bayangan deretan kubikel yang sunyi namun sibuk.

Di salah satu sudut ruangan, Adrian (27 tahun) menatap nanar layar laptopnya. Di atas mejanya tergeletak sebuah surat keputusan resmi: promosi jabatan menjadi Senior Manager. Jabatan yang diimpikan banyak orang di usianya, lengkap dengan kenaikan fasilitas dan gengsi sosial.

Namun, alih-alih senyum bangga, yang hadir justru sesak di dada. Adrian teringat tiga tahun terakhir hidupnya yang habis dikomodifikasi oleh waktu kantor. Ia melewatkan pemakaman kakeknya, melewatkan makan malam ulang tahun ibunya, dan tubuhnya sendiri mulai mengirimkan sinyal bahaya lewat insomnia akut serta kecemasan konstan.

Bagi Adrian, meja kerja yang lebih besar dan papan nama jabatan baru yang mentereng terasa seperti sebuah jeruji emas. Esok harinya, Adrian melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh rekan-rekan seniornya. Ia menolak promosi tersebut dan memilih jalan untuk membeli kembali waktu luangnya; ia menolak mati kerja demi sebuah takhta korporat.

Kisah Adrian bukanlah anomali tunggal, melainkan potret mikro dari pergeseran tektonik yang sedang terjadi di dunia kerja modern. Generasi milenial dan Gen Z sedang melancarkan pemberontakan sunyi terhadap berhala lama bernama "jabatan".

Di masa lalu, struktur sosial mengajari manusia untuk mengorbankan apa saja—kesehatan, keluarga, hingga kedamaian batin—demi mendaki tangga karier vertikal. Sukses diukur dari seberapa tinggi posisi Anda di bagan organisasi perusahaan. Namun saat ini, di hadapan pekerja muda, narasi tersebut mulai kehilangan sihirnya.

Terjadi sebuah redefinisi radikal mengenai kemewahan. Sukses tidak lagi dinilai dari ketebalan dompet atau menterengnya kartu nama, melainkan dari seberapa besar kendali yang dimiliki seseorang atas waktu hidupnya sendiri. Ketika waktu mulai dianggap lebih berharga daripada jabatan, kita sebenarnya sedang menyaksikan runtuhnya budaya hustle dan lahirnya fajar baru kesadaran eksistensial manusia dalam bekerja.

Eksploitasi Bernama Kesibukan

Selengkapnya, web podiumnews.com

13/07/2026

EMPAT tahun lamanya, bergelut dengan buku, demi jaminan masa depan. Begitu petikan lirik penuh ratapan dari lagu Sarjana Muda yang digubah oleh Iwan Fals pada tahun 1981. Lagu tersebut merekam potret muram seorang pemuda yang berjalan gontai di bawah terik matahari. Ia menenteng ijazah yang mendadak terasa tak berbobot di hadapan tembok tebal sebuah jawatan.

Iwan Fals merekam keputusasaan kelas pekerja pada era itu. Impian untuk mengubah nasib lewat jalur pendidikan formal seketika karam ketika berhadapan dengan sistem yang korup, nepotis, dan tertutup bagi rakyat jelata. Namun, jika kita melompat ke era modern saat ini, potret sarjana muda Indonesia telah mengalami metamorfosis yang jauh lebih ganjil sekaligus tragis.

Hari ini, ironi terbesar bukan lagi terletak pada sarjana pintar yang menganggur dan ditolak oleh birokrasi. Tragedi terdalam justru terjadi pada sarjana-sarjana terpintar yang mengantre di depan pintu gerbang kekuasaan. Mereka datang untuk melamar menjadi benteng pertahanan bagi rezim yang bermasalah.

Mengapa mereka dengan sukarela menjadi Karna modern yang menjual kedaulatan moralnya demi secangkir pengakuan dari Duryodana kekinian? Mengapa orang-orang berotak encer membelot menjadi barisan pembela Kurawa?

Ilusi keadilan meritokrasi

Untuk memahami patahnya idealisme ini, kita harus membedah konsep meritokrasi. Ini adalah sebuah sistem yang mendoktrin masyarakat bahwa kecerdasan dan usaha keras murni adalah satu-satunya tangga menuju kesuksesan.

Sosiolog Michael Young, yang menciptakan istilah tersebut pada tahun 1958 dalam bukunya The Rise of the Meritocracy, sebenarnya menulis istilah ini sebagai bentuk satire distopia. Young memperingatkan bahwa jika suatu masyarakat hanya dinilai berdasarkan IQ dan usaha, sistem tersebut akan melahirkan kelas elite baru yang sombong.

Elite baru ini merasa posisi atas mereka adalah murni hasil keringat sendiri. Dampak buruknya, sistem ini menciptakan pembenaran mutlak untuk menindas kelas bawah yang dianggap malas atau bodoh. Di Indonesia, satire Young mewujud nyata dalam sistem pendidikan kita.

Sistem pendidikan tinggi hari ini berlomba-lomba mencetak manusia ...
Selengkapnya, web podiumnews.com

13/07/2026

SIAPA bilang sukses harus klimis?

Jika lihat pria dengan tampilan kucel, pakai motor bebek tua, kemeja flanelnya kusam, jinsnya belel, dan sepatunya penuh debu jalanan, di lampu merah dia pasti sering dikasihani. Dikira sales keliling yang sedang kebingungan mencari alamat.

Kasihan? Tunggu dulu.

Jangan lihat bungkusnya. Lihat isi ponselnya. Begitu daftar kontak dibuka: boom!

Ajudan presiden ada. Jenderal bintang tiga ada. Menteri paling berpengaruh pun ada. Kurang sakti apa lagi? Itulah wartawan. Tampilannya kere, jaringannya elite.

Hebatnya lagi, geser sedikit ke bawah. Ada nomor ketua serikat buruh. Nomor aktivis lingkungan. Sampai nomor gembong preman pasar. Semua ada. Lengkap. Mereka memang memiliki kuasa kontak.

Kuasa kontak itu bukan warisan. Bukan juga hadiah. Itu hasil keringat. Hasil memeras otak di lapangan.

Sebab di dunia nyata, para tokoh penting itu luar biasa sibuk. Waktu mereka berharga. Risiko politik mereka tinggi. Jika ada nomor telepon asing masuk, jangan harap diangkat. Dibaca pun emoh. Mereka pasti menolak menanggapi telepon dari orang yang tidak jelas asal-usulnya.

Maka, tantangan terbesar wartawan bukan cuma mendapatkan nomor ponsel pejabat. Melainkan bagaimana membuat nama sang wartawan disimpan balik di ponsel sang pejabat dengan penuh rasa hormat. Begitu nama itu muncul di layar, narasumber tahu ia sedang berbicara dengan jurnalis yang kredibel. Bukan orang sembarangan.

Bagi wartawan, baju harian adalah kamuflase terbaik. Paspor universal untuk membangun hubungan organik tersebut.

Dengan modal itu, mereka bisa duduk setara di ruang kerja menteri. Mengobrol santai. Tanpa sekat protokoler yang kaku. Pejabat merasa nyaman. Tidak terancam. Hubungan profesional berubah jadi kepercayaan.

Malamnya? Wartawan yang sama bisa nongkrong di warung kopi remang-remang. Bersama preman tatoan. Menghisap rokok yang sama. Mendengar kasak-sukuk jalanan. Informasi sensitif mengalir deras. Informasi yang bahkan intelijen polisi pun setengah mati mencarinya.

Di istana diterima. Di jalanan dihormati. Itulah seni merawat jaringan. Saking kuatnya jejaring ini, penguasa pun segan.

Lihat saja Prabowo Subianto..

Selengkapnya, web podiumnews.com

10/07/2026

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Tim Opsnal Unit Reskrim Polsek Denpasar Barat berhasil meringkus maling spesialis burung berinisial HL (33) asal Jember, Jawa Timur, Senin (6/7/2026). Hasil pemeriksaan, ternyata pelaku seorang residivis dalam kasus pencurian di wilayah Jember Jawa Timur. 

Menurut Kanit Reskrim Polsek Denpasar Barat, Iptu Ekky Nurwenda Putra, pelaku HL dilaporkan kasus pencurian burung jenis murai batu bersama sangkarnya. Pencurian itu terjadi di rumah korban berinisial PT (42) di Jalan Gunung Salak Komplek Perkot Nomor 7, Tegallantang, Kelurahan Padangsambian Kelod, Denpasar Barat, Denpasar, Bali, Selasa (30/6/2026) pagi. 

Diungkapkannya, aksi pencurian burung ini baru diketahui oleh korban pada pagi harinya. Korban mendapati dua ekor burung murai batu beserta sangkarnya hilang dari halaman rumah. "Korban memeriksa rekaman CCTV dan melihat ada seorang pria tak dikenal masuk ke rumahnya dan mengambil burung jenis murai batu," ujar Iptu Ekky, Kamis (9/7/2026). 

Tim Opsnal Unit Reskrim Polsek Denpasar Barat langsung melakukan penyelidikan dan akhirnya pelaku mengarah ke HL. Ia ditangkap di rumah kosnya di Jalan Gunung Salak Utara, Gang Toti, Kelurahan Padangsambian Kelod, Denpasar Barat. 

Saat diinterogasi polisi, pelaku mengaku telah melakukan pencurian burung beberapa kali di wilayah Denpasar. Tersangka juga mengaku burung hasil curian dijual di market place. Hasil kejahatan digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. "Pelaku ini merupakan residivis pencurian di sebuah toko di Jember, Jawa Timur tahun 2021 lalu," katanya. 

Dari penangkapan pelaku diamankan barang bukti berupa tiga ekor burung murai batu, dua ekor burung kepodang, satu ekor burung jagal Papua, satu ekor burung srigunting, dua ekor burung cendet, dan tiga ekor burung perkutut. 

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 477 KUHP tentang tindak pidana pencurian pemberatan dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(hes/kturnip)

08/07/2026

DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Kanit Reskrim Polsek Kuta berinisial Iptu MDP dijebloskan ke tahanan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Bali setelah terbukti mengkonsumsi narkoba jenis ekstasi. Perwira alumni dari Akademi Polisi (Akpol) tersebut sempat menjalani tes urine yang dilaksanakan oleh Direktorat Resnarkoba bersama Propam Polda Bali, dan hasilnya positif. Iptu MDP kini ditahan sejak Senin (8/6/2026). 

Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, di Mapolda Bali, Selasa (7/7/2026). Ia membenarkan bahwa Iptu MDP ditahan karena terlibat sebagai penyalahguna narkoba. Ini bukan merupakan hasil penangkapan, tapi bagian dari inspeksi mendadak (sidak) internal yang rutin dilakukan oleh Direktorat Reserse Narkoba bersama Bid Propam Polda Bali. 

"Ya, ini bukan penangkapan, tapi ini merupakan kegiatan rutin antara Ditresnarkoba dan Propam dalam rangka mengantisipasi penyalahgunaan narkoba oleh anggota Polri," ujarnya. 

Diterangkannya, penindakan kasus narkoba yang dilakukan oleh jajaran kepolisian, tidak hanya berlaku kepada masyarakat saja, tapi internal Polri juga harus ditertibkan. 

Kata Kombespol Ariasandy, pemeriksaan tes urine dilakukan secara tertutup dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sejumlah anggota dipanggil secara acak untuk menjalani tes urine di Mapolda Bali, Senin (8/6/2026). 

Dari hasil pemeriksaan tersebut, satu anggota diketahui positif narkotika yakni Iptu MDP, yang saat ini masih menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Kuta. 

"Setelah hasil tes urine menunjukkan positif, yang bersangkutan (Iptu MDP) langsung kami serahkan ke Propam untuk proses lebih lanjut. Sejak 8 Juni sampai sekarang sudah diamankan dan ditahan di Propam," ujarnya. 

Perwira melati tiga di pundak ini melanjutkan, berdasarkan hasil tes urine, Iptu MDP positif mengonsumsi narkotika jenis ekstasi. Namun terkait asal muasal barang dan sudah berapa lama yang bersangkutan menggunakannya, Ariasandy menyebut hal itu masih didalami oleh penyidik Propam. 

"Saat ini yang terpenting adalah hasil tes urinenya positif. Untuk pengakuan maupun asal barang masih dalam proses pemeriksaan," sebutnya. 

Mantan Kabid Humas...

Selengkapnya, web podiumnew

Address

Jalan Bhinneka Nusa Kauh V No. 58 Blok P, Dalung, Kec. Kuta Utara
Badung
80361

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PodiumNews.com posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share