12/12/2025
GELORA ACEH MENYAMBUT KEMBALI SANG KOMANDAN, KISAH MUUALLEM YANG MEMILIH PULANG KE IBU PERTIWI
Banyak anak muda Aceh mungkin hanya mengenal nama Muzakir Manaf — atau Muallem — lewat cerita orang tua atau potongan sejarah. Namun perjalanan hidupnya jauh lebih kompleks daripada sekadar label mantan panglima. Ini adalah kisah seorang lelaki yang memilih jalan panjang, keras, dan berliku sebelum akhirnya kembali ke pangkuan NKRI dan memimpin Aceh secara sah sebagai Gubernur periode 2025–2030.
Lahir pada 3 April 1964 di Mane Kawan, Seunuddon, Aceh Utara, dari pasangan Manaf dan Zubaidah, Muallem tumbuh di era yang penuh ketegangan. Selepas SMA, ia sempat mencoba bergabung dengan TNI tetapi gagal. Keputusan berikutnya mengubah seluruh hidupnya: berangkat ke Malaysia untuk mendaftar sebagai pejuang GAM. Kali ini ia diterima.
Tahun 1986, ia dikirim ke Libya untuk mengikuti pelatihan militer bersama anggota GAM lain. Reputasinya meningkat cepat. Setelah gugurnya panglima Abdullah Syafi’i pada 2002, Muallem diangkat menjadi panglima komando pusat GAM — posisi tertinggi dalam struktur militer gerakan tersebut.
Namun titik balik besarnya terjadi setelah penandatanganan Perjanjian Helsinki. Muallem keluar dari persembunyian dan muncul di hadapan publik sebagai bagian dari proses damai. Ia memimpin Komite Peralihan Aceh, lalu ikut mendirikan Partai Aceh — wadah politik baru bagi mantan kombatan yang ingin membangun Aceh lewat jalur demokrasi.
Di ranah pemerintahan, langkah politiknya pertama kali diuji pada Pilkada Aceh 2012. Berpasangan dengan Zaini Abdullah, mereka menang dan Muallem menjabat Wakil Gubernur Aceh hingga 2017. Popularitasnya di kalangan mantan kombatan tetap kuat, bahkan Din Minimi menolak turun ke Jakarta tanpa dijemput langsung oleh Muallem — gambaran pengaruhnya yang masih besar di akar rumput.
Ia kembali maju sebagai calon gubernur pada 2017 namun tidak berhasil. Kekalahan itu sempat memicu klaim kemenangan dari timnya, tetapi proses demokrasi berjalan sebagaimana mestinya.
Pada 2023, Muallem mengambil langkah politik yang mengejutkan sebagian pihak: ia menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Terlepas dari perbedaan masa lalu, ia memilih berdiri pada posisi yang ia nilai penting untuk kepentingan Aceh.
Keputusan itu menjadi bagian dari momentum kembalinya Muallem ke panggung nasional. Ia maju pada Pilgub Aceh 2024, mengalahkan Bustami Hamzah, dan resmi dilantik sebagai Gubernur pada 12 Februari 2025.
Kini, bagi banyak warga Aceh, kisah Muallem bukan lagi tentang perang, tapi tentang transformasi. Tentang seseorang yang pernah berada di garis depan konflik, lalu memilih pulang, menerima proses damai, memasuki politik formal, dan akhirnya kembali memimpin Aceh—kali ini sebagai bagian dari Indonesia.
Sebuah perjalanan panjang seorang mantan panglima yang kembali ke Ibu Pertiwi.