30/01/2026
"WAKTU dan PENUNDAAN"
Al-Imam Yahya bin Hubairoh, ulama yang saleh, sekaligus pemimpin yang adil (menjabat sebagai wazir/perdana menteri), wafat tahun 560 H, berkata dalam kitab Qimatu Zaman 'inda Ulama,
وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عُنِيتَ بِحِفْظِهِ، وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يَضِيعُ
_"Waktu adalah sesuatu yang paling berharga untuk engkau jaga, namun aku melihat ia adalah hal yang paling mudah hilang dari dirimu.”_
Kita semua tahu waktu itu berharga. Tapi mengapa ia paling mudah hilang?
Karena setiap hari, waktu datang bersama dua pilihan, bertindak atau menunda.
Ketika kita menunda duluan, waktu tidak menunggu. Ia justru meluncur cepat seperti air dari genggaman. Satu jam untuk "nanti saja", dua jam untuk "besok juga bisa", tanpa sadar penundaan telah memangsa waktu kita habis.
Sebaliknya, ketika tindakan yang bergerak duluan, waktu berubah menjadi produktivitas. Bukan karena jamnya bertambah, tapi karena kita tidak membiarkan penundaan mencurinya.
Waktu mudah hilang bukan karena ia lemah, tapi karena kita terlalu sering membiarkan penundaan bergerak lebih dulu.
Arafat Menulis