20/01/2026
Ilmu Pengetahuan Seharusnya Bebas Dari Asumsi
-----------
Idealnya ilmu pengetahuan bebas asumsi. Ini dikarenakan ilmu pengetahuan sebenarnya berasal dari kritik terhadap filsafat idealisme yang selalu terjebak dalam asumsi. Ilmu pengetahuan ingin membuang asumsi-asumsi yang tak berdasar dan menggantikannya dengan sebuah pemikiran yang murni Induksi. Berasal dari pengamatan yang jelas tanpa terjebak dengan teori-teori lalu yang bisa salah. Semua pernyataan harus dibuktikan secara empiris.
Sayangnya hal semacam ini sangat tidak mungkin. Ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi di dalamnya. Dalam sebuah percobaan seorang ilmuan tidak bisa tidak terperangkap dalam sebuah kondisi sosio-historis-kultural. Dengan kata lain dengan meminjam istilah dari band Serious, "Ilmuaaan juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pemecah molekul."
Misal dalam sebuah percobaan beberapa orang ilmuan mencoba mengetahui apa saja yang mempengaruhi titik didih sebuah benda. Dia kemudian meletakkan air di sebuah teko besi dan merebus benda itu dengan api. Kemudian berturut-turut mereka memakai teko perunggu, teko emas, teko perak. Ini untuk menentukan apakah wadah mempengaruhi titik didih air. Salah seorang filsuf lewat sambil mengorek-orek hidungnya. "Eh, kenapa kalian merebus benda itu?". Ilmuan-ilmuan itu kemudian menjawab "Wah, kami kan sedang mengadakan percobaan dengan merebus benda itu?" Sang filsuf kemudian bertanya "Tidakkah kalian pikir bahwa warna juga mempengaruhi, bagaimana kalau kalian coba wadah dengan berbagai warna." Para ilmuan tertawa "Mana mungkin warna mempengaruhi titik didih."
Nah ini menunjukkan bahwa sebelum melakukan penelitian ilmuan sudah memiliki asumsi. Asumsi itu adalah bahwa beda jenis wadah akan mempengaruhi titik didih. Tapi bukan warna. Mereka juga tidak memilih penelitian dalam berbagai bentuk wadah. Ini artinya sebelum penelitian mereka sudah memiliki asumsi sehingga akan berpengaruh dengan penelitian.
Mungkin orang akan berargumen bahwa kedua peneliti ini adalah peneliti sosial dan memang hal ini lebih berpengaruh pada bidang sosial daripada penelitian ilmiah. Namun demikian ilmuan alam juga tidak akan lepas dari pengaruh asumsi ini. Misalnya saja sebuah penelitian yang menghasilkan bukti mengenai benda yang bisa bergerak melampaui kecepatan cahaya dan bisa bergerak ke masa lalu.
Sikap ilmuwan menanggapi penafsiran akan teori itu bisa beragam. Bisa jadi mereka yang optimis langsung setuju dan mendukung teori itu, mereka yang tidak mempercayai hal itu bisa jadi memfokuskan pada kelemahan-kelemahan percobaan itu. Ilmuan yang menganut String theory akan berselisih paham dengan yang tidak sepaham dengan aliran ini.
Dengan kata lain ilmuan alam juga telah memiliki asumsi di dalam interpretasinya atas percobaan itu. Belum lagi asumsi yang ada sebelum percobaan dimana seorang ilmuan memilih penelitian dan cara-cara penelitian itu. Sebagaimana ditunjukkan dalam percobaan merebus air yang disebutkan sebelumnya.
Karena itulah ilmuan memiliki hipotesis. Hipotesis adalah tesis awal yang digunakan sebelum melakukan percobaan. Dengan menyadari hipotesis awal inilah seorang ilmuan mengawali penelitiannya. Dia menunjukkan misalnya kenapa dia mencoba penelitian ini, dari mana idenya, bagaimana hasilnya, kira-kira akan membuktikan apa, apakah membenarkan sesuatu atau malah menyalahkannya. Ini bisa digunakan p**a untuk menghindari ilmuan melakukan penelitian-penelitian yang tidak berguna, juga membuat ilmuan menyadari asumsi-asumsi yang dimilikinya. Juga mempermudah membuat proposal penelitian.
Jika ditilik kembali mungkin ada dari anda yang beranggapan bahwa masalah ini merupakan masalah palsu. Toh bagaimanapun, itu ilmuan tetap menghasilkan ilmu pengetahuan. Sebenarnya masalahnya adalah dengan tidak menyadari asumsinya ilmuan bisa terjebak pada dogmatisme dan tiran pengetahuan.
Selain asumsi yang dimiliki ilmuan, ilmu sendiri pada dasarnya memiliki dasar asumsi yang tak boleh diganggu gugat agar ilmu bisa tetap berdiri. Sepertinya banyak versi dari asumsi ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun saya memilih beberapa versi sendiri mengenai dasar ini.
Indera bisa dipercaya. Ini adalah asumsi pertama yang saya ajukan. Seorang ilmuan sama sekali tidak bisa bekerja begitu dia tidak mempercayai inderanya. Dalam bidang filsafat, yang mana dahulunya sering menyatu dengan ilmu, indra boleh jadi tidak dipercayai. Sayangnya pendapat ini akan berakibat fatal bagi ilmu, karena jika hal ini tidak dipercayai maka segala penelitian pecuma saja, karena toh Indra kita tidak dipercaya. Walaupun demikian, saya tidak mengatakan bahwa indra tidak boleh diragukan, bahkan dalam ilmu indra mata sendiri seharusnya diragukan.
Karena itu walaupun indra kita sendiri memang bisa diragukan, maka perlu pencerapan indra orang lain untuk pembenaran. dan karena itu p**a butuh pengulangan dari penelitian itu atau verifikasi, oleh orang lain. Walau indra kita sendiri bisa diragukan indra banyak orang susah diragukan.
Logika dan matematika bisa dipercaya. Coba bayangkan ilmuan yang tidak mempercayai logika dan matematika. Setidaknya mereka harus mempercayainya walau secara pragmatis.
Sifat benda tidak akan berubah dalam jangka waktu tertentu. Asumsi ini penting karena kita membutuhkan dasar bahwa benda-benda memiliki ketetapan. Benda-benda seharusnya memiliki sifat yang sama dalam jangka waktu tertentu, dan tidak berubah tiba-tiba tanpa alasan apapun. Baik sifat objek secara individu (karena mempengaruhi penelitian) juga sifat-sifat benda-benda pada umumnya. Jika tidak mengasumsikan ketetapan sifat dari benda-benda secara umum maka tidak mungkin ada peramalan.
Adalah sah untuk menyimpulkan sesuatu yang lebih besar dari sebuah eksperimen sebagian yang faktor-faktor pengganggu ditekan serendah mungkin. Gambaran mengapa asumsi ini harus diambil dari lelucon kuno tentang korek api. Seorang anak diperintah orangtuanya untuk membeli korek api. Demi memastikan bahwa korek api itu menyala maka menyalakan semua korek api itu hingga habis. Penelitian menyeluruh adalah tidak berguna dan tidak masuk akal, sehingga generalisasi harus dianggap sah. Ini juga dibutuhkan agar statistika sah.
Pernyataan yang tidak diterima secara umum oleh komunitas ilmiah membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dalam ilmu pengetahuan Pernyataan harus bisa dibuktikan. Saya tidak mengatakan semua pernyataan harus dibuktikan, karena nantinya ada pernyataan-pernyataan dalam ilmu yang sama sekali tidak bisa dibuktikan. Untuk membuktikan semuanya maka ilmu bisa jatuh ke bidang filsafat.
Ada penjelasan alami dan rasional dalam sebuah fenomena. Kita harus asumsikan bahwa ada penjelasan yang tidak melibatkan objek-objek supranatural dan suprarasional. Bukan berarti ilmuan tidak boleh mempercayai objek supranatural. Hanya saja hal itu harus disingkirkan. Ilmu akan kesulitan berkembang jika semuanya dijawab dengan teori "Takdir Tuhan."
Idealnya ilmu pengetahuan bebas asumsi. Ini dikarenakan ilmu pengetahuan sebenarnya berasal dari kritik terhadap filsafat idealisme yang selalu terjebak dalam asumsi. Ilmu pengetahuan ingin membuang asumsi-asumsi yang tak berdasar dan menggantikannya dengan sebuah pemikiran yang murni Induksi. Berasal dari pengamatan yang jelas tanpa terjebak dengan teori-teori lalu yang bisa salah. Semua pernyataan harus dibuktikan secara empiris.
Sayangnya hal semacam ini sangat tidak mungkin. Ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi di dalamnya. Dalam sebuah percobaan seorang ilmuan tidak bisa tidak terperangkap dalam sebuah kondisi sosio-historis-kultural. Dengan kata lain dengan meminjam istilah dari band Serious, "Ilmuaaan juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pemecah molekul."
Misal dalam sebuah percobaan beberapa orang ilmuan mencoba mengetahui apa saja yang mempengaruhi titik didih sebuah benda. Dia kemudian meletakkan air di sebuah teko besi dan merebus benda itu dengan api. Kemudian berturut-turut mereka memakai teko perunggu, teko emas, teko perak. Ini untuk menentukan apakah wadah mempengaruhi titik didih air. Salah seorang filsuf lewat sambil mengorek-orek hidungnya. "Eh, kenapa kalian merebus benda itu?". Ilmuan-ilmuan itu kemudian menjawab "Wah, kami kan sedang mengadakan percobaan dengan merebus benda itu?" Sang filsuf kemudian bertanya "Tidakkah kalian pikir bahwa warna juga mempengaruhi, bagaimana kalau kalian coba wadah dengan berbagai warna." Para ilmuan tertawa "Mana mungkin warna mempengaruhi titik didih."
Nah ini menunjukkan bahwa sebelum melakukan penelitian ilmuan sudah memiliki asumsi. Asumsi itu adalah bahwa beda jenis wadah akan mempengaruhi titik didih. Tapi bukan warna. Mereka juga tidak memilih penelitian dalam berbagai bentuk wadah. Ini artinya sebelum penelitian mereka sudah memiliki asumsi sehingga akan berpengaruh dengan penelitian.
Mungkin orang akan berargumen bahwa kedua peneliti ini adalah peneliti sosial dan memang hal ini lebih berpengaruh pada bidang sosial daripada penelitian ilmiah. Namun demikian ilmuan alam juga tidak akan lepas dari pengaruh asumsi ini. Misalnya saja sebuah penelitian yang menghasilkan bukti mengenai benda yang bisa bergerak melampaui kecepatan cahaya dan bisa bergerak ke masa lalu.
Sikap ilmuwan menanggapi penafsiran akan teori itu bisa beragam. Bisa jadi mereka yang optimis langsung setuju dan mendukung teori itu, mereka yang tidak mempercayai hal itu bisa jadi memfokuskan pada kelemahan-kelemahan percobaan itu. Ilmuan yang menganut String theory akan berselisih paham dengan yang tidak sepaham dengan aliran ini.
Dengan kata lain ilmuan alam juga telah memiliki asumsi di dalam interpretasinya atas percobaan itu. Belum lagi asumsi yang ada sebelum percobaan dimana seorang ilmuan memilih penelitian dan cara-cara penelitian itu. Sebagaimana ditunjukkan dalam percobaan merebus air yang disebutkan sebelumnya.
Karena itulah ilmuan memiliki hipotesis. Hipotesis adalah tesis awal yang digunakan sebelum melakukan percobaan. Dengan menyadari hipotesis awal inilah seorang ilmuan mengawali penelitiannya. Dia menunjukkan misalnya kenapa dia mencoba penelitian ini, dari mana idenya, bagaimana hasilnya, kira-kira akan membuktikan apa, apakah membenarkan sesuatu atau malah menyalahkannya. Ini bisa digunakan p**a untuk menghindari ilmuan melakukan penelitian-penelitian yang tidak berguna, juga membuat ilmuan menyadari asumsi-asumsi yang dimilikinya. Juga mempermudah membuat proposal penelitian.
Jika ditilik kembali mungkin ada dari anda yang beranggapan bahwa masalah ini merupakan masalah palsu. Toh bagaimanapun, itu ilmuan tetap menghasilkan ilmu pengetahuan. Sebenarnya masalahnya adalah dengan tidak menyadari asumsinya ilmuan bisa terjebak pada dogmatisme dan tiran pengetahuan.
Selain asumsi yang dimiliki ilmuan, ilmu sendiri pada dasarnya memiliki dasar asumsi yang tak boleh diganggu gugat agar ilmu bisa tetap berdiri. Sepertinya banyak versi dari asumsi ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun saya memilih beberapa versi sendiri mengenai dasar ini.
Indera bisa dipercaya. Ini adalah asumsi pertama yang saya ajukan. Seorang ilmuan sama sekali tidak bisa bekerja begitu dia tidak mempercayai inderanya. Dalam bidang filsafat, yang mana dahulunya sering menyatu dengan ilmu, indra boleh jadi tidak dipercayai. Sayangnya pendapat ini akan berakibat fatal bagi ilmu, karena jika hal ini tidak dipercayai maka segala penelitian pecuma saja, karena toh Indra kita tidak dipercaya. Walaupun demikian, saya tidak mengatakan bahwa indra tidak boleh diragukan, bahkan dalam ilmu indra mata sendiri seharusnya diragukan.
Karena itu walaupun indra kita sendiri memang bisa diragukan, maka perlu pencerapan indra orang lain untuk pembenaran. dan karena itu p**a butuh pengulangan dari penelitian itu atau verifikasi, oleh orang lain. Walau indra kita sendiri bisa diragukan indra banyak orang susah diragukan.
Logika dan matematika bisa dipercaya. Coba bayangkan ilmuan yang tidak mempercayai logika dan matematika. Setidaknya mereka harus mempercayainya walau secara pragmatis.
Sifat benda tidak akan berubah dalam jangka waktu tertentu. Asumsi ini penting karena kita membutuhkan dasar bahwa benda-benda memiliki ketetapan. Benda-benda seharusnya memiliki sifat yang sama dalam jangka waktu tertentu, dan tidak berubah tiba-tiba tanpa alasan apapun. Baik sifat objek secara individu (karena mempengaruhi penelitian) juga sifat-sifat benda-benda pada umumnya. Jika tidak mengasumsikan ketetapan sifat dari benda-benda secara umum maka tidak mungkin ada peramalan.
Adalah sah untuk menyimpulkan sesuatu yang lebih besar dari sebuah eksperimen sebagian yang faktor-faktor pengganggu ditekan serendah mungkin. Gambaran mengapa asumsi ini harus diambil dari lelucon kuno tentang korek api. Seorang anak diperintah orangtuanya untuk membeli korek api. Demi memastikan bahwa korek api itu menyala maka menyalakan semua korek api itu hingga habis. Penelitian menyeluruh adalah tidak berguna dan tidak masuk akal, sehingga generalisasi harus dianggap sah. Ini juga dibutuhkan agar statistika sah.
Pernyataan yang tidak diterima secara umum oleh komunitas ilmiah membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dalam ilmu pengetahuan Pernyataan harus bisa dibuktikan. Saya tidak mengatakan semua pernyataan harus dibuktikan, karena nantinya ada pernyataan-pernyataan dalam ilmu yang sama sekali tidak bisa dibuktikan. Untuk membuktikan semuanya maka ilmu bisa jatuh ke bidang filsafat.
Ada penjelasan alami dan rasional dalam sebuah fenomena. Kita harus asumsikan bahwa ada penjelasan yang tidak melibatkan objek-objek supranatural dan suprarasional. Bukan berarti ilmuan tidak boleh mempercayai objek supranatural. Hanya saja hal itu harus disingkirkan. Ilmu akan kesulitan berkembang jika semuanya dijawab dengan teori "Takdir Tuhan."
Sumber : http://undsci.berkeley.edu/article/basic_assumptions