Al-Kisa Channael

Al-Kisa Channael Selamat datang di Page Al-Kisa Channel. Kami menyugukan kump**an ceramah Syahid Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei hf

10/06/2026

Pola kehidupan Islami

Tabarruj dan Diskriminasi Dunia Modern Terhadap PerempuanKHAMENEI.ID - Bayangkan sebuah dunia dimana perempuan dituntut ...
09/06/2026

Tabarruj dan Diskriminasi Dunia Modern Terhadap Perempuan

KHAMENEI.ID - Bayangkan sebuah dunia dimana perempuan dituntut tampil memukau setiap saat—bukan karena kebahagiaan pribadi, melainkan agar dinikmati oleh pandangan laki-laki. . Apakah itu bentuk kebebasan atau justru perbudakan modern? Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei dalam beberapa pertemuan khusus dengan peseerta perempuan menyatakan bahwa fenomena ini tak lain merupakan "ketidakadilan" terbesar terhadap kaum perempuan di era yang mengaku beradab.

Kebobrokan Moral yang Terorganisir

Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa salah satu titik temu antara "kebodohan modern" (jahiliah modern) dan kebodohan kuno (zaman pra-Islam) adalah kebobrokan moral, terutama eksploitasi terhadap perempuan. Beliau menyatakan: "Banyak dari keburukan moral yang dulu pada masa awal diutusnya Nabi lazim di Mekah dan Jazirah Arab, dan Nabi Saw melawannya—keburukan itu saat ini di dunia Barat yang disebut beradab ada secara terorganisir, jauh lebih parah dan lebih luas. Persis keburukan moral yang sama kini ada dalam skala besar dengan intensitas yang semakin tinggi." (Disampaikan pada 10-10 1401 HS). Salah satu keburukan moral tersebut adalah tabarruj—yakni pamer diri perempuan dengan berhias secara berlebihan di hadapan laki-laki yang bukan muhrim.

Tabarruj: Bukan Sekadar Berhias

Penting untuk dipahami bahwa Islam tidak melarang keindahan. Kecenderungan terhadap keindahan, mempercantik diri, dan mencintai keindahan adalah fitrah manusia. Hal ini wajar dan tidak salah. Bahkan dalam Islam, Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan." Namun, yang dilarang adalah ketika keindahan itu menjadi fitnah dan kerusakan. Jika merawat penampilan hanya untuk pamer diri (tabarruj) dan menyebabkan hubungan bebas antara laki-laki dan perempuan, maka itulah yang merusak masyarakat. Jika berdandan menjadi kesibukan utama hidup, itu adalah kemerosotan. Sebaliknya, merawat penampilan tanpa ada unsur pamer dan tabarruj tidaklah bermasalah.

Hadis tentang Kerapian Nabi

Lebih lanjut, Imam Ali Khamenei mengingatkan bahwa Islam sangat memperhatikan dan menggap penting keindahan. Dalam kitab-kitab hadis, terutama bab Nikah, dibahas bahwa laki-laki dan perempuan hendaknya merawat diri. Misalnya, bagi pemudi dianjurkan memanjangkan rambut, karena "rambut yang indah termasuk kemuliaan Allah, maka muliakanlah." Bahkan Nabi Muhammad saw. sebelum menemui sahabat-sahabatnya, beliau melihat ke bejana berisi air untuk merapikan penampilan, karena saat itu cermin belum ada. Ini menunjukkan bahwa penampilan rapi dan pakaian bagus adalah hal yang diinginkan dalam syariat. Yang buruk adalah ketika hal itu menjadi sarana fitnah, kerusakan, dan tabarruj—yang bahayanya sampai ke keluarga dan generasi berikutnya.

Penghinaan Terbesar terhadap Perempuan

Puncak kritik Beliau tertuju pada sistem Barat yang secara bertahap menciptakan "diskriminasi": satu pihak sebagai pengambil manfaat (laki-laki) dan pihak lain sebagai yang dimanfaatkan (perempuan). Dalam budaya Barat, jika seorang perempuan ingin tampil di masyarakat dan mendapat kedudukan, ia harus menonjolkan daya tarik seksualnya. Bahkan di acara-acara resmi, pakaian perempuan harus sedemikian rupa sehingga enak dipandang laki-laki. Inilah yang disebut sebagai pukulan terbesar, penghinaan terbesar, dan kezaliman terbesar dalam masalah perempuan. Budaya ini kemudian ditiru oleh banyak pihak dan telah mapan di dunia. Akibatnya, ketika pakaian sopan, tidak ber-tabarruj, dan tidak berdandan di masyarakat diangkat sebagai isu, mesin propaganda global bereaksi keras. Itu bukti adanya strategi panjang untuk menetapkan posisi yang salah dan menghina bagi perempuan—dan sayangnya, mereka berhasil.

Tabarruj: Jahiliah Modern yang Berpakaian Mewah

Apa yang dipromosikan mesin-mesin politik Barat saat ini tidak lain adalah kebodohan (jahiliah) yang sama yang diutus Nabi untuk menghilangkannya. Tanda-tandanya: ketidakadilan, diskriminasi, mengabaikan martabat manusia, dan mengedepankan masalah seksual. Al-Qur'an dengan tegas berfirman kepada istri-istri Nabi: "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu" (QS. Al-Ahzab: 33). Salah satu tanda jahiliah dahulu adalah tabarruj perempuan. Kini, tabarruj menjadi salah satu manifestasi utama peradaban Barat. Ini adalah jahiliah yang sama, hanya saja ia bersenjatakan propaganda modern sehingga mampu menutupi fakta dari pandangan masyarakat. Umat Islam wajib memahami dan mengetahui hal ini.

Mengapa Tabarruj Disebut Patriarki?

Imam Ali Khamenei juga menegaskan bahwa mendorong perempuan untuk berdandan, bergaya mewah, dan ber-tabarruj adalah bukti nyata dari budaya patriarki ala Barat. Mereka menginginkan perempuan untuk dinikmati laki-laki. Karena itu mereka menyuruh perempuan berdandan agar laki-laki mendapat kenikmatan visual. Ini bukan kebebasan perempuan, melainkan kebebasan laki-laki. Para penguasa Barat justru mendorong perempuan membuka hijab, berdandan, dan ber-tabarruj di hadapan laki-laki—itu semua demi kepuasaan laki-laki, bukan kehormatan perempuan.

Larangan Tabarruj dalam Olahraga Wanita

Bahkan dalam bidang olahraga wanita dilarang ber-tabarruj dan pamer diri. Jika masyarakat berubah menjadi panggung pamer diri perempuan, maka urusan serius seperti keluarga, kesehatan, kesucian, dan kepolosan pemuda akan menghadapi masalah dan kekosongan. Ini adalah peringatan tegas bahwa tidak ada satu ranah pun—termasuk olahraga—yang menghalalkan perempuan mengekspos kecantikannya secara berlebihan di depan umum.

Fitnah Penghancur Keluarga

Akar masalah dari tabarruj adalah fitnah. Ini bukan hanya menyebabkan pemuda dan pemudi terjerumus dosa—itu masalah terkecil. Konsekuensinya merembet ke seluruh keluarga. Hubungan tanpa aturan antara laki-laki dan perempuan adalah racun mematikan bagi bangunan keluarga. Keluarga hidup dengan cinta. Namun jika cinta terhadap keindahan dan lawan jenis bisa dipenuhi di mana-mana (di jalan, mall, media sosial, dll.), maka tidak ada lagi dukungan kuat yang membuat keluarga kokoh. Keluarga menjadi goyah, seperti yang terjadi di negara-negara Barat, terutama Eropa Utara dan Amerika Serikat.

Penutup

Teks-teks di atas merupakan kutipan langsung dari pernyataan Ayatullah Agung Khamenei pada berbagai kesempatan (1376-1393 HS). Inti pesannya: “Tabarruj bukanlah kemajuan atau pembebasan perempuan, melainkan ketidakseimbangan yang dikemas secara modern. Islam memuliakan perempuan dengan menjaganya dari eksploitasi visual, bukan dengan memamerkannya sebagai komoditas seksual. Sebaliknya, model peradaban Barat justru mengabadikan posisi perempuan sebagai objek kenikmatan laki-laki—sebuah jahiliah yang bersinar dengan lampu neon”. Maka pertanyaan untuk kita semua: akankah kita terus terpukau oleh gemerlapnya, ataukah kita sadar bahwa itu hanyalah belenggu baru dengan pita yang indah?

Fatimah Az-Zahra: Wajah Kesempurnaan dalam Keluarga KenabianKHAMENEI.ID - Di tengah sejarah Islam yang dipenuhi tokoh-to...
09/06/2026

Fatimah Az-Zahra: Wajah Kesempurnaan dalam Keluarga Kenabian

KHAMENEI.ID - Di tengah sejarah Islam yang dipenuhi tokoh-tokoh besar, ada satu sosok yang keagungannya melampaui batas-batas usia, gender, dan zaman. Ia bukan seorang panglima perang, bukan p**a penguasa sebuah negeri. Namun ketika ia memasuki ruangan, manusia paling mulia di muka bumi berdiri menyambutnya. Bukan sekadar berdiri, tetapi melangkah mendekat dengan penuh penghormatan.

Sosok itu adalah Sayidah Fatimah Az-Zahra as.

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa apa pun yang dikatakan manusia tentang kemuliaan Fatimah Az-Zahra as, tetap tidak akan mampu menggambarkan seluruh hakikat kepribadiannya. Menurut beliau, lidah manusia terlalu terbatas untuk melukiskan kebesaran perempuan yang oleh sejarah Islam ditempatkan pada puncak kemuliaan.

Fatimah bukan hanya putri Rasulullah saw. Banyak perempuan menjadi putri tokoh besar, tetapi tidak otomatis menjadi besar karena hubungan darah. Keagungan Fatimah lahir dari kualitas dirinya sendiri, hingga Rasulullah saw berkali-kali menunjukkan penghormatan yang luar biasa kepadanya di hadapan umat.

Ketika Rasulullah Berdiri dan Melangkah Menyambut Fatimah

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ketika Fatimah Az-Zahra memasuki majelis Rasulullah, beliau tidak hanya berdiri sebagai bentuk penghormatan. Rasulullah bahkan berjalan menghampirinya.

Imam Ali Khamenei mengajak kita merenungkan makna di balik peristiwa ini. Ada perbedaan antara seseorang yang berdiri karena sopan santun dan seseorang yang berdiri lalu berjalan menuju orang yang dihormatinya. Tindakan kedua menunjukkan kecintaan, penghargaan, dan pengakuan yang jauh lebih dalam.

Peristiwa itu bukanlah sekadar ekspresi kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. Rasulullah adalah manusia yang seluruh perilakunya menjadi teladan bagi umat. Apa yang beliau lakukan mengandung pesan dan makna.

Bagaimana mungkin Nabi yang menerima wahyu, pemimpin umat, dan manusia paling agung, berdiri menyambut seorang perempuan muda dengan penghormatan seperti itu jika tidak karena kedudukan spiritual yang sangat tinggi?

Di sinilah Fatimah tampil bukan hanya sebagai putri Nabi, tetapi sebagai pribadi yang memiliki maqam luar biasa di sisi Allah.

“Ayahnya Menjadi Tebusan Baginya”

Di antara ungkapan yang paling menggetarkan tentang Fatimah adalah sabda Nabi yang diriwayatkan dalam berbagai sumber:

“فِداها أَبُوها”

“Ayahnya menjadi tebusan baginya.”

Ungkapan seperti ini sangat jarang digunakan oleh Rasulullah. Kalimat tersebut menunjukkan kedalaman penghormatan dan kecintaan beliau kepada Fatimah Az-Zahra.

Lebih dari itu, Nabi juga mengaitkan keridaan dan kemurkaan Fatimah dengan keridaan dan kemurkaan beliau sendiri. Dalam riwayat yang masyhur disebutkan bahwa keridaan Fatimah adalah keridaan Rasulullah, dan keridaan Rasulullah adalah keridaan Allah. Sebaliknya, kemurkaan Fatimah berkaitan dengan kemurkaan Rasulullah dan kemurkaan Allah.

Pesan yang ingin ditegaskan bukanlah hubungan emosional semata, melainkan kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Fatimah menjadi tolok ukur nilai-nilai Ilahi karena seluruh kehidupannya berjalan seiring dengan kehendak Allah.

Kesepakatan Sejarah yang Sulit Dibantah

Salah satu tanda kebesaran seseorang adalah ketika penghormatan terhadapnya melampaui sekat kelompok dan mazhab. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Fatimah Az-Zahra adalah contoh nyata dari fenomena itu.

Selama lebih dari empat belas abad, umat Islam dari berbagai latar belakang terus memuliakannya. Baik kalangan Syiah maupun Sunni sama-sama memandang Fatimah sebagai perempuan agung yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah.

Fenomena ini menarik untuk direnungkan. Dalam sejarah manusia, sangat sulit menemukan satu figur yang dipuji oleh begitu banyak ulama, cendekiawan, dan pemikir dengan pandangan yang beragam selama berabad-abad tanpa henti.

Kesepakatan lintas generasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa keagungan Fatimah bukan hasil propaganda sejarah, melainkan pancaran dari kepribadian yang benar-benar luar biasa.

Orang Pertama yang Ditemui Rasulullah Setelah Perjalanan

Ada riwayat yang menggambarkan hubungan istimewa antara Rasulullah dan Fatimah dalam keseharian mereka. Ketika Nabi hendak bepergian, orang terakhir yang beliau temui sebelum berangkat adalah Fatimah. Sebaliknya, ketika beliau kembali dari perjalanan, orang pertama yang beliau kunjungi adalah Fatimah.

Tradisi ini bukan kebiasaan biasa.

Dalam budaya Arab saat itu, seorang pemimpin biasanya langsung menemui para pembesar, sahabat dekat, atau tokoh masyarakat setelah kembali dari perjalanan panjang. Namun Rasulullah memilih untuk terlebih dahulu menemui putrinya.

Pilihan itu menunjukkan betapa besar posisi Fatimah dalam kehidupan Nabi. Ia bukan hanya anggota keluarga, melainkan bagian dari misi kenabian itu sendiri. Kehadirannya menjadi sumber ketenangan, kemurnian, dan keberkahan.

Teladan Perempuan yang Melampaui Zamannya

Di dunia modern, pembicaraan tentang perempuan sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem: antara pemujaan simbolik atau sekadar ukuran materi dan pop**aritas. Fatimah Az-Zahra menawarkan paradigma yang berbeda.

Kemuliaannya tidak lahir dari kekuasaan, kekayaan, atau ketenaran. Ia menjadi besar karena ilmu, kesucian, pengorbanan, keberanian, dan kedekatannya dengan Allah. Ia adalah seorang anak yang berbakti, istri yang setia, ibu yang melahirkan generasi agung, sekaligus pembela kebenaran yang teguh.

Karena itu, penghormatan Rasulullah kepadanya bukan sekadar penghormatan kepada seorang putri. Itu adalah penghormatan kepada seluruh nilai luhur yang bersemayam dalam dirinya.

Jejak Cahaya yang Tak Pernah Padam

Semakin jauh sejarah bergerak, semakin tampak bahwa Fatimah Az-Zahra bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah simbol kemuliaan manusia yang terus hidup dalam ingatan umat.

Ketika Rasulullah berdiri menyambut Fatimah, beliau sebenarnya sedang mengajarkan kepada dunia tentang bagaimana menghormati kesucian, ketakwaan, dan kemuliaan akhlak. Penghormatan itu tidak pernah pudar oleh waktu. Hingga hari ini, jutaan hati masih menyebut namanya dengan cinta dan hormat.

Mungkin itulah sebabnya mengapa para ulama sepanjang zaman selalu merasa bahwa setiap pujian kepada Fatimah masih belum cukup. Sebab ada cahaya-cahaya tertentu yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata, dan Fatimah Az-Zahra adalah salah satunya.

Pengumuman No. 2 Komite Peringatan Syahadah Imam Mujahid dan Syahid Sayyid Ali Hosseini Khamenei (qs)KHAMENE.ID -بسم الل...
09/06/2026

Pengumuman No. 2 Komite Peringatan Syahadah Imam Mujahid dan Syahid Sayyid Ali Hosseini Khamenei (qs)

KHAMENE.ID -

بسم الله الرّحمن الرّحیم

Sehubungan dengan perencanaan intensif yang telah dilakukan untuk menyelenggarakan prosesi penghormatan terakhir (perpisahan), upacara pelepasan jenazah (tasyi'), dan pemakaman Imam mujahid dan syahid kita, Yang Mulia Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Qaddasallahu Nafsahuz Zakiyyah beserta para martir dari keluarga Pemimpin Revolusi Islam secara agung; dengan ini diumumkan bahwa berbagai spekulasi dan rumor yang beredar di ruang media dalam maupun luar negeri mengenai waktu dan rincian acara tersebut — yang telah menimbulkan kerancuan bagi banyak pecinta yang ingin menghadiri peristiwa agung ini — adalah tidak berdasar.

Mengingat rekam jejak (sirah) Pemimpin Syahid Revolusi Islam A'lallahu Maqamahus Syarif (Semoga Allah swt meninggikan derajatnya yang mulia) yang senantiasa menegakkan duka cita bagi Pemimpin dan Penghulu para Syuhada, Yang Mulia Aba Abdillah al-Husain 'Alaihissalam, serta pentingnya penyelenggaraan majelis duka cita pada hari-hari tersebut di berbagai penjuru Iran dan dunia; maka prosesi penghormatan terakhir, upacara pelepasan jenazah, dan pemakaman sosok yang tiada tanding di zamannya tersebut akan dilaksanakan setelah sepuluh hari pertama bulan Muharam (Asyura), serta setelah tercapainya koordinasi final antara instansi-instansi yang bertanggung jawab dan kelompok-kelompok masyarakat demi memberikan pelayanan yang layak bagi rakyat tercinta yang sedang berduka.

Rincian mengenai rangkaian acara ini akan diumumkan kemudian dalam rentang waktu yang tepat oleh panitia ini.

Kantor Pemeliharaan dan Publikasi Karya-Karya Pemimpin Syahid Revolusi Islam

19 Khordad 1405

(9 Juni 2026)

Mengapa Peran Sosial Perempuan Menjadi Isu Strategis?KHAMENEI.ID - Siapa bilang Islam membatasi ruang gerak wanita? Fakt...
09/06/2026

Mengapa Peran Sosial Perempuan Menjadi Isu Strategis?

KHAMENEI.ID - Siapa bilang Islam membatasi ruang gerak wanita? Fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Topik mengenai kehadiran sosial kaum wanita dan kontribusi mereka dalam berbagai persoalan kemasyarakatan senantiasa menjadi titik perdebatan yang menarik sekaligus penuh tantangan di tengah masyarakat dan peradaban yang berbeda-beda. Di bumi Iran sendiri, beragam sikap yang cenderung ekstrem—baik yang berlebihan maupun yang meremehkan—serta pandangan-pandangan yang terpengaruh budaya Barat atau sebaliknya, pola pikir konservatif yang kaku, dalam menyikapi persoalan ini telah melahirkan berbagai kesulitan dan kebuntuan. Berikut tinjauan atas partisipasi sosial perempuan dengan berpedoman pada pernyataan Imam Ali Khamenei.

Revolusi Islam: Pembuka Pintu Partisipasi Perempuan

Sejarah mencatat betapa besar peran yang telah dimainkan oleh kaum wanita dalam perjalanan revolusi. Pasca kemenangan revolusi hingga detik ini pun, sungguh para perempuan di negeri ini telah menunjukkan partisipasi yang begitu signifikan di seluruh medan perjuangan, dan ini merupakan peristiwa yang amat monumental serta mengagumkan. Menurut analisis yang mendalam, dapat dikatakan bahwa kaum hawa pada masa sebelum revolusi dan di bawah kekuasaan rezim sebelumnya, mengalami penindasan baik dari sisi politik maupun budaya; bahkan tingkat penindasan itu lebih parah dibandingkan dengan apa yang mungkin mereka alami di lingkungan keluarga mereka sendiri. Alih-alih diberi ruang untuk berkarya, mereka justru didorong menuju kemalasan dan kerusakan moral. Revolusi telah membuka cakrawala baru, dan dalam perkara ini, kaum perempuan justru menciptakan epik dan aktivitas yang lebih dahsyat dibandingkan kaum laki-laki. (Disampaikan pada 13/11/1377 HS)

Prinsip Dasar Logika Islam Seputar Aktivitas Sosial Wanita

Ranah aktivitas sosial meliputi kegiatan ekonomi, kegiatan politik, kegiatan sosial dalam pengertian khususnya, kegiatan ilmiah, proses belajar, proses mengajar, berjuang di jalan Tuhan, melakukan jihad, dan seluruh medan kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Dalam hal ini, antara pria dan wanita—dalam kaitannya dengan izin untuk melakukan berbagai aktivitas di semua medan tersebut—tidak ada perbedaan sedikit pun menurut perspektif Islam. Apabila ada seseorang yang mengklaim bahwa pria boleh menuntut ilmu sementara wanita tidak; pria boleh mengajar sementara wanita tidak; pria boleh melakukan aktivitas ekonomi sementara wanita tidak; pria boleh terlibat dalam aktivitas politik sementara wanita tidak, maka orang tersebut sama sekali tidak menyampaikan logika Islam yang benar dan justru berbicara bertentangan dengan ajaran Islam. Berdasarkan pandangan Islam, dalam seluruh aktivitas yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat dan kegiatan keseharian, pria dan wanita memiliki izin yang setara dan sama. Sudah barang tentu, terdapat beberapa jenis pekerjaan yang tidak lazim bagi wanita karena tidak sesuai dengan kondisi fisik mereka. Demikian p**a, ada beberapa pekerjaan yang tidak lazim bagi pria karena tidak cocok dengan kondisi moral dan raga mereka. Persoalan ini sama sekali tidak berhubungan dengan boleh atau tidaknya seorang wanita berada di medan aktivitas sosial. Pembagian tugas hanyalah berdasarkan pada kemampuan, minat, serta bidang-bidang yang paling sesuai. (Disampaikan pada 20/12/1375 HS)

Tanggung Jawab Sosial Laki-laki dan Perempuan

Dalam ranah aktivitas sosial, politik, ilmiah, dan berbagai kegiatan lainnya, seorang muslimah—sebagaimana halnya seorang muslim—memiliki hak penuh untuk melakukan apa yang dituntut oleh zamannya, kekosongan yang ia rasakan di sekelilingnya, serta tugas yang ia emban di pundaknya. Misalnya, jika seorang gadis ingin menjadi dokter, atau melakukan kegiatan ekonomi, atau berkarya dalam disiplin ilmu tertentu, atau mengajar di perguruan tinggi, atau memasuki dunia politik, atau menjadi jurnalis, maka semua lapangan pekerjaan terbuka lebar baginya. Dengan satu syarat: menjaga kesucian diri dan kehormatan (hijab), serta tidak terjadi percampuran dan peleburan yang tidak terkontrol antara pria dan wanita. Dalam masyarakat Islam, selama syarat ini terpenuhi, maka medan terbuka sama luasnya bagi pria maupun wanita.

Kita dapat saksikan hal ini pada seluruh tradisi Islam yang ada dalam bidang-bidang tersebut, serta seluruh kewajiban syariat yang menjadikan pria dan wanita secara berimbang memikul tanggung jawab sosial. Hadis Nabi Saw: "Barangsiapa yang mengawali harinya tanpa mempedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukanlah seorang Muslim" tidak dikhususkan untuk pria semata. Kaum wanita pun wajib merasakan tanggung jawab dan memberikan perhatian terhadap urusan umat Islam, masyarakat Islami, persoalan dunia Islam, dan seluruh peristiwa yang terjadi di muka bumi, karena hal itu merupakan kewajiban Islam. (Disampaikan pada 20/12/1375 HS)

Peran Fundamental Ibu Rumah Tangga yang Tak Tergantikan

Perlu ditegaskan bahwa dukungan penuh diberikan terhadap segala bentuk partisipasi sosial, baik itu berupa aktivitas ekonomi, aktivitas politik dan sosial, maupun kegiatan-kegiatan amal serta sejenisnya. Semua ini baik dan diperlukan. Perempuan merupakan separuh dari pop**asi masyarakat, dan alangkah indahnya jika potensi dari separuh masyarakat ini dapat dimanfaatkan dalam bidang-bidang tersebut. Akan tetapi, dua atau tiga prinsip fundamental tidak boleh diabaikan.

Prinsip pertama adalah jangan sampai pekerjaan fundamental yang mencakup urusan rumah tangga, keluarga, peran sebagai istri, sebagai ibu rumah tangga, dan sebagai ibu—semua itu—terlindas dan tersingkirkan oleh aktivitas sosial. Keduanya dapat berjalan beriringan. Telah ada contoh-contoh nyata para wanita yang mampu melakukan ini. Tentu saja, jalan yang mereka tempuh tidaklah mudah: mereka belajar, mengajar, mengurus rumah, melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak-anak mereka. Oleh karena itu, dukungan penuh diberikan terhadap aktivitas dan partisipasi yang tidak merusak atau melukai perkara pokok ini, sebab perkara pokok ini tidak memiliki pengganti. Jika seorang ibu tidak mendidik anaknya sendiri di rumah, atau jika ia tidak melahirkan anak, atau jika ia tidak membuka dan merawat benang-benang perasaan yang sangat halus pada diri anaknya—yang lebih halus dari sutra—dengan sentuhan lembut jari tangannya sendiri, sehingga anak tersebut tidak mengalami kompleks emosional, maka tidak ada orang lain yang dapat melakukan tugas ini. Prinsip kedua adalah masalah muhrim dan non-muhrim, yang dalam Islam dipandang serius. (Disampaikan pada 14/10/1390 HS)

Harmoni Antara Aktivitas Sosial dan Tugas Rumah Tangga

Terdapat dua kecenderungan ekstrem yang keliru. Sebagian orang terlalu berlebihan (ifrath) hingga melampaui batas, sementara sebagian lainnya meremehkan (tafrith) hingga mengabaikan kewajiban. Ada pihak yang mengatakan: karena aktivitas sosial menyita waktu sehingga tidak memungkinkan mengurus rumah, suami, dan anak, maka kita tidak boleh melakukan aktivitas sosial sama sekali. Di sisi lain, ada pihak yang berkata: karena urusan rumah, suami, dan anak tidak memberikan kelonggaran untuk aktivitas sosial, maka kita harus meninggalkan suami dan anak. Kedua sikap ini sama-sama keliru. Jangan sampai kita kehilangan yang satu hanya demi yang lain, dan jangan p**a kehilangan yang lain hanya demi yang satu. (Disampaikan 20/12/1375 H)

Hijab: Batasan Etis dalam Interaksi Sosial

Dalam ranah aktivitas sosial, Islam telah menetapkan batasan-batasan tertentu. Batasan ini tidak terkait dengan boleh tidaknya seorang wanita untuk beraktivitas, melainkan terkait langsung dengan persoalan bercampur-baur (ikhtilath) antara pria dan wanita. Islam memiliki kepekaan khusus terhadap masalah ini. Keyakinan Islam menegaskan bahwa pria dan wanita harus memiliki batasan yang jelas di antara mereka, di mana pun mereka berada—di jalan raya, di kantor, di tempat perdagangan. Antara pria dan wanita muslim, telah ditetapkan secara tegas batasan berupa hijab. Percampuran dan peleburan antara pria dan wanita tidaklah sama dengan interaksi antara pria dengan pria lainnya atau wanita dengan wanita lainnya. Batasan ini wajib dipatuhi. Baik pria maupun wanita harus mematuhinya.

Apabila kepekaan Islam terhadap relasi dan model interaksi antara pria dan wanita ini dipatuhi dengan sungguh-sungguh, maka seluruh pekerjaan yang dapat dilakukan oleh pria di ranah sosial, dapat p**a dilakukan oleh wanita—asalkan ia memiliki kemampuan fisik, semangat, dan kesempatan yang memadai. Dengan kata lain, demi terciptanya lingkungan yang sehat dan penuh keamanan, agar seorang wanita dapat melaksanakan tugasnya di tengah masyarakat dan seorang pria pun dapat menjalankan tanggung jawabnya, Islam menetapkan hijab. Dan hijab ini merupakan salah satu hukum Islam yang paling menonjol dan istimewa.

Dari seluruh uraian di atas, dapat dipahami bahwa Islam tidak pernah memenjarakan perempuan di balik tembok rumah. Sebaliknya, Islam membuka seluas-luasnya partisipasi sosial dengan tetap menjaga keseimbangan antara peran domestik yang fundamental dan eksistensi publik yang produktif, serta membingkainya dalam etika pergaulan yang mulia melalui hijab.

Mengapa Cinta kepada Ahlul Bait Harus Terus Dihidupkan? Makna Mawaddah, Asyura, dan Kekuatan Ikatan Emosional dalam Isla...
08/06/2026

Mengapa Cinta kepada Ahlul Bait Harus Terus Dihidupkan? Makna Mawaddah, Asyura, dan Kekuatan Ikatan Emosional dalam Islam

KHAMENEI.ID - Di tengah dunia modern yang semakin rasional dan serba cepat, ada satu pertanyaan yang sesekali muncul: mengapa umat Islam, khususnya para pecinta Ahlulbayt, terus mengenang tragedi Karbala? Mengapa majelis-majelis duka, lantunan syair, tangisan, dan peringatan Asyura tetap dipelihara dari generasi ke generasi?

Sebagian orang memandangnya sebagai tradisi emosional yang berlebihan. Sebagian lainnya menganggapnya bagian dari sejarah yang semestinya cukup dibaca dalam buku. Namun dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar mengenang masa lalu. Yang dipertaruhkan bukan hanya ingatan sejarah, melainkan keberlangsungan hubungan spiritual umat dengan keluarga Rasulullah saw.

Di sinilah konsep mawaddah atau cinta kepada Ahlul Bait menemukan maknanya yang sesungguhnya.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’” (QS. Asy-Syura: 23)

Ayat ini sering dibaca dan dikutip. Namun pertanyaan pentingnya adalah: mengapa setelah berbicara tentang kepemimpinan, petunjuk, dan ketaatan kepada Ahlul Bait, Al-Qur'an masih menekankan persoalan cinta?

Bukankah cukup dengan mengakui kedudukan mereka? Bukankah cukup dengan mengikuti ajaran mereka?

Menurut Imam Ali Khamenei, cinta memiliki fungsi yang lebih mendasar. Mawaddah adalah fondasi yang menjaga agar hubungan umat dengan para pemimpin ilahi tidak berubah menjadi hubungan formal yang kering dan mudah dilupakan.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kebenaran tidak hilang karena dibantah, melainkan karena perlahan-lahan dilupakan. Ketika hubungan emosional memudar, penghormatan melemah. Ketika penghormatan melemah, ketaatan berangsur hilang. Dan ketika ketaatan hilang, nilai-nilai yang mereka perjuangkan pun perlahan terkubur.

Karena itu, mawaddah bukan sekadar perasaan. Ia adalah benteng peradaban.

Ketika Air Mata Menjadi Jembatan Sejarah

Dalam kerangka inilah tradisi mengenang musibah Ahlulbayt memperoleh maknanya.

Menceritakan penderitaan Imam Husain as, mengenang pengorbanan Sayidah Zainab as, atau mengisahkan kesetiaan para syuhada Karbala bukan semata-mata upaya membangkitkan kesedihan. Semua itu adalah cara menjaga hubungan emosional dengan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

Tangisan dalam majelis Asyura bukanlah tangisan kekalahan. Ia adalah ekspresi kesetiaan.

Ketika seseorang menangis mendengar kisah bayi Ali Asghar yang gugur di Karbala, atau mendengar pidato Sayidah Zainab di hadapan tirani, yang sebenarnya sedang hidup bukan hanya emosi. Yang hidup adalah rasa keberpihakan kepada keadilan, keberanian, dan pengorbanan.

Begitu p**a ketika kaum Muslimin berkumpul dalam majelis-majelis duka, mengibarkan panji, melantunkan syair, atau melakukan prosesi penghormatan yang lazim dan bermartabat. Semua itu berfungsi memperkuat ikatan hati dengan keluarga Rasulullah saw.

Menurut Imam Ali Khamenei, hubungan emosional semacam ini justru harus terus dipelihara. Sebab ia menjadi sarana yang membuat pesan Ahlulbayt tetap hidup dalam jiwa masyarakat.

Karena itu, beliau mengkritik pandangan yang menganggap tradisi peringatan Asyura sudah tidak relevan. Dalam pandangannya, selama manusia masih membutuhkan teladan keberanian, keadilan, dan pengorbanan, selama itu p**a peringatan Karbala tetap memiliki makna.

Antara Kecintaan dan Kebijaksanaan

Namun kecintaan juga membutuhkan kebijaksanaan.

Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa tidak semua bentuk ekspresi harus dipertahankan. Praktik-praktik yang merusak citra Islam atau memberi peluang bagi musuh untuk menyerang ajaran Ahlulbayt tidak boleh dijadikan bagian dari dakwah.

Karena itu beliau secara tegas menolak praktik seperti qamah-zani (melukai kepala dengan pedang), yang menurutnya lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat.

Yang perlu dipertahankan adalah esensi cinta, bukan bentuk-bentuk yang justru mengaburkan pesan utama.

Esensi itu terletak pada penguatan hubungan hati dengan keluarga Nabi, pada penanaman nilai-nilai Karbala, dan pada penghidupan kembali semangat pengorbanan demi kebenaran.

Cinta yang Menjaga Arah

Pada akhirnya, mawaddah kepada Ahlulbayt bukanlah persoalan sentimentalitas semata. Ia adalah mekanisme spiritual yang menjaga arah perjalanan umat.

Cinta membuat manusia bertahan ketika logika mulai lelah. Cinta membuat nilai-nilai tetap hidup ketika sejarah mulai terlupakan. Dan cinta p**a yang membuat generasi demi generasi tetap merasa dekat dengan Rasulullah saw dan keluarganya, meskipun dipisahkan oleh berabad-abad waktu.

Mungkin itulah sebabnya Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan untuk mengenal keluarga Nabi, tetapi juga mencintai mereka.

Sebab pengetahuan dapat melahirkan pemahaman, tetapi cinta melahirkan kesetiaan.

Dan dalam perjalanan panjang sejarah Islam, sering kali kesetiaan itulah yang menjaga kebenaran tetap menyala di tengah perubahan zaman.

07/06/2026

Imamah adalah Ruh Islam (bagian 2)

Imam Ali bin Abi Thalib as adalah Standar Pemimpin IdealKHAMENEI.ID - Di tengah krisis kepemimpinan yang berulang dalam ...
06/06/2026

Imam Ali bin Abi Thalib as adalah Standar Pemimpin Ideal

KHAMENEI.ID - Di tengah krisis kepemimpinan yang berulang dalam sejarah manusia, selalu muncul pertanyaan yang sama: seperti apa sosok pemimpin yang layak memegang amanah masyarakat? Apakah cukup dengan pop**aritas? Kekuatan politik? Atau kemampuan mengelola kekuasaan?

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengajak umat Islam kembali kepada sosok yang menurutnya menjadi ukuran paling sempurna bagi kepemimpinan Islam: Imam Ali bin Abi Thalib as. Bukan sekadar karena hubungan keluarganya dengan Rasulullah saw, melainkan karena seluruh standar yang diajarkan Islam tentang kepemimpinan bertemu dalam dirinya.

Bagi Imam Khamenei, pembahasan tentang Imam Ali as tidak berhenti pada perdebatan sejarah mengenai siapa yang seharusnya menggantikan Nabi Muhammad saw. Yang lebih penting adalah memahami mengapa Ali menjadi figur yang terus dijadikan rujukan selama berabad-abad. Apa yang membuatnya begitu menonjol di antara para tokoh besar Islam?

Pemimpin yang Tidak Mengejar Kekuasaan

Salah satu ciri paling menonjol dari Imam Ali as adalah sikapnya terhadap kekuasaan. Dalam berbagai riwayat, beliau tidak pernah menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup. Kekuasaan baginya bukan hak istimewa yang harus direbut, melainkan amanah yang harus dipikul ketika masyarakat membutuhkannya.

Karena itu, ketika situasi pasca wafatnya khalifah ketiga membawa masyarakat berbondong-bondong mendatanginya dan mendesaknya menerima kepemimpinan, Ali as tidak masuk ke gelanggang politik sebagai pencari kekuasaan. Namun ketika tanggung jawab itu berada di hadapannya, ia menerimanya dengan penuh ketegasan.

Imam Khamenei menggambarkan bahwa saat amanah pemerintahan berada di tangannya, Amirul Mukminin as tampil sebagai pemimpin yang tidak mengenal kompromi terhadap kebenaran. Ia menjalankan tugasnya dengan prinsip yang dikenal dalam ungkapan:

لَا يَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Tidak takut terhadap celaan siapa pun dalam menjalankan perintah Allah swt."

Inilah karakter pemimpin yang jarang ditemukan: tidak haus kekuasaan ketika kekuasaan jauh darinya, namun tidak ragu menjalankan tanggung jawab ketika kekuasaan datang sebagai amanah.

Jika Nabi Memilih Berdasarkan Kriteria

Dalam pemikiran Imam Khamenei, persoalan suksesi Nabi Muhammad saw pada hakikatnya berkaitan dengan standar dan kriteria.

Menurut keyakinan Syiah, penunjukan penerus Nabi merupakan perintah ilahi. Namun Khamenei mengajukan sebuah pertanyaan menarik: jika seseorang ingin menilai berdasarkan ukuran-ukuran yang diajarkan Islam sendiri, siapakah figur yang paling memenuhi seluruh kriteria tersebut?

Jawabannya, menurut beliau, akan mengarah kepada Imam Ali as.

Islam tidak menilai seseorang hanya dari satu keutamaan. Kepemimpinan membutuhkan gabungan berbagai kualitas: ilmu, ketakwaan, keberanian, pengorbanan, kepedulian sosial, keadilan, dan komitmen terhadap agama.

Ketika seluruh kriteria itu disandingkan, sosok Ali tampil secara menonjol.

Kota Ilmu dan Gerbang Pengetahuan

Salah satu standar utama dalam kepemimpinan Islam adalah ilmu. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki keberanian atau ketegasan. Ia harus memahami agama, masyarakat, dan berbagai persoalan manusia secara mendalam.

Tentang Imam Ali as, Rasulullah saw bersabda:

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

"Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya."

Hadis yang sangat terkenal ini diriwayatkan dalam berbagai sumber Islam dan menjadi salah satu alasan mengapa Ali dipandang sebagai sumber ilmu yang luar biasa setelah Rasulullah saw.

Bagi Imam Khamenei, kesaksian Nabi ini bukan pujian biasa. Ia menunjukkan bahwa Ali memiliki kedekatan intelektual dan spiritual yang sangat istimewa dengan Rasulullah. Jika ilmu menjadi salah satu ukuran kepemimpinan, maka Ali berada pada posisi yang sangat tinggi.

Pengorbanan yang Diabadikan Al-Qur'an

Namun kepemimpinan Islam tidak hanya dibangun di atas ilmu. Ia juga membutuhkan pengorbanan.

Al-Qur'an mengabadikan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam kehidupan Imam Ali ketika beliau rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Rasulullah pada malam hijrah.

Allah swt berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ

"Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah." (QS. Al-Baqarah: 207)

Dalam banyak tafsir Islam, ayat ini dikaitkan dengan peristiwa ketika Ali tidur di tempat Rasulullah untuk mengelabui para pembunuh yang mengepung rumah Nabi.

Bagi Khamenei, ayat ini menunjukkan bahwa keberanian Ali bukan keberanian yang lahir dari ambisi, melainkan dari keikhlasan.

Dermawan Bahkan Saat Membutuhkan

Dimensi lain yang menonjol dalam kepribadian Imam Ali adalah kepedulian sosial.

Al-Qur'an memuji sebuah keluarga yang memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan meskipun mereka sendiri membutuhkannya:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan." (QS. Al-Insan: 8)

Menurut banyak riwayat, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali, Sayidah Fatimah az-Zahra, serta keluarga mereka.

Di sini kepemimpinan memperoleh makna yang lebih luas. Seorang pemimpin bukan hanya orang yang mampu memerintah. Ia harus menjadi teladan dalam memberi, berbagi, dan mendahulukan kepentingan orang lain.

Wilayah yang Berpijak pada Ketakwaan

Imam Khamenei juga mengingatkan ayat yang sangat dikenal dalam pembahasan wilayah dan kepemimpinan:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat seraya rukuk." (QS. Al-Ma'idah: 55)

Dalam banyak tafsir yang dikutip oleh ulama Muslim, ayat ini dikaitkan dengan peristiwa ketika Imam Ali memberikan cincin kepada seorang fakir saat sedang rukuk dalam salat.

Bagi Khamenei, pesan terpenting dari ayat ini adalah bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak dipisahkan dari ketakwaan dan pelayanan kepada masyarakat.

Ali sebagai Standar, Bukan Sekadar Tokoh Sejarah

Yang menarik dari pendekatan Imam Khamenei adalah bahwa beliau tidak hanya memandang Imam Ali sebagai figur sejarah yang layak dihormati. Ali diposisikan sebagai standar.

Artinya, siapa pun yang berbicara tentang kepemimpinan Islam harus mengukur dirinya dengan nilai-nilai yang tercermin dalam kehidupan Ali: ilmu yang mendalam, keberanian dalam membela kebenaran, pengorbanan tanpa pamrih, kepedulian terhadap kaum lemah, dan keteguhan menjalankan keadilan.

Karena itu, pembahasan tentang Imam Ali sesungguhnya bukan hanya pembahasan masa lalu. Ia adalah diskusi tentang masa depan. Tentang kualitas seperti apa yang seharusnya dicari umat ketika memilih pemimpin. Tentang karakter apa yang membuat kekuasaan menjadi sarana pelayanan, bukan alat kepentingan pribadi.

Empat belas abad telah berlalu sejak masa Imam Ali. Namun dunia modern masih menghadapi persoalan yang sama: bagaimana menemukan pemimpin yang berani, berilmu, jujur, dan berpihak kepada rakyat.

Mungkin karena itulah nama Ali bin Abi Thalib as terus hidup dalam ingatan umat Islam. Bukan hanya sebagai khalifah atau imam, tetapi sebagai cermin tentang seperti apa kepemimpinan yang ideal seharusnya dijalankan.

Khamenei.id

Address

Bandung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Al-Kisa Channael posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share