Subang Lawas

Subang Lawas Jejak Subang Tempo Doeloe
(1)

17/02/2026

Aki Hadi asal Subang, yang sekarang tinggal di Georgia Amerika Serikat sejak tahun 1960 an. Bercerita keadaan kota Subang tahun 1950 an. Beliau menceritakan sekolah rakyat Kalapa Kembar, Societeit Soebang Wisma Karya, sekarang Museum Subang, kolam renang Ciheuleut, lapang tenis dan lapangan Golf yang sekarang menjadi Alun alun Kabupaten Subang.

Jejak peradaban kuno di Kabupaten Subang hingga kini masih kurang terekspos oleh media dan jarang menjadi perhatian para...
10/02/2026

Jejak peradaban kuno di Kabupaten Subang hingga kini masih kurang terekspos oleh media dan jarang menjadi perhatian para peneliti sejarah. Salah satu peninggalan yang menarik adalah Situs Megalitik Gurudug, yang terletak di dekat Sungai Ciasem, Desa Sitsari, Kecamatan Dawuan, Subang. Situs ini juga berada tidak jauh dari Lembur Pakuan, kediaman Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.

Sayangnya, informasi mengenai situs ini masih sangat terbatas. Ketika saya berkunjung, kuncen atau juru kunci setempat sedang tidak berada di tempat. Berdasarkan cerita yang disampaikan oleh teman saya yang mengantar ke lokasi, yaitu Mang Dahlun, seorang penggiat sejarah Subang, berkembang kepercayaan di masyarakat sekitar bahwa situs ini merupakan makam Eyang Gurudug, tokoh yang diyakini berasal dari era Majapahit pada masa pemerintahan Raja Brawijaya.

Untuk menelusuri lebih jauh, saya mencoba mencari rujukan dari sumber-sumber kolonial, salah satunya melalui karya François Valentijn berjudul Oud en Nieuw Oost-Indiën yang ditulis pada abad ke-18. Dalam catatannya, Valentijn menyebut sejumlah desa di sekitar Sungai Ciasem, termasuk Desa Groodak, yang diduga berkaitan dengan Kampung Gurudug pada masa kini.

Berbeda dengan wilayah Subang bagian selatan, kawasan ini pernah dikunjungi oleh Dr. Salomon Müller, seorang naturalis sekaligus peneliti peninggalan peradaban kuno. Ia mengungkap keberadaan jejak-jejak peradaban lama di daerah Cisalak, Subang, seperti punden berundak, arca, serta sisa-sisa benteng pertahanan yang telah hancur.

Müller juga sempat bertemu dengan Raden Rangga Martayuda, Demang Batutirap (wilayah yang kini mencakup Cisalak dan Tanjungsiang). Dalam pertemuan tersebut, sang demang menyampaikan informasi mengenai sejumlah desa yang telah hilang, di antaranya Nagara Dhomas, Nagara Tandjong Singa, Nagara Pariju, Nagara Djati Nangor dll.

Subang menyimpan jejak sejarah dan peradaban kuno yang sangat kaya, namun masih memerlukan perhatian lebih lanjut melalui penelitian dan penggalian sumber-sumber historis yang lebih mendalam.

Suasana Subang Kota tahun 1970an, tampak alun alun dan sekitarnya masih dipakai golf, masjid agung sudah berdiri, sangat...
07/01/2026

Suasana Subang Kota tahun 1970an, tampak alun alun dan sekitarnya masih dipakai golf, masjid agung sudah berdiri, sangat megah di jamannya.

Kantor Pemda Subang, gedung Pramuka Cadika dan persimpang jalan tengah kota dilihat dari penginapan sederhanana.

Waas pisan

PLTA Cinangling Kecamatan Dawuan Subang tahun 1938-2020Kabupaten Subang mempunyai tiga PLTA yang di bangun oleh Perusaha...
04/01/2026

PLTA Cinangling Kecamatan Dawuan Subang tahun 1938-2020
Kabupaten Subang mempunyai tiga PLTA yang di bangun oleh Perusahaan Perkebunan milik Inggris Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T Lands)
1. PLTA Cijambe 1912
2. PLTA Gunung Tua 1925
3. PLTA Cinangling 1936

Pintu air PLTA Cinangling Kecamatan Dawuan Subang 1938-2020Pintu air PLTA Cinangling dibangun oleh P&T Lands pada bulan ...
03/01/2026

Pintu air PLTA Cinangling Kecamatan Dawuan Subang 1938-2020
Pintu air PLTA Cinangling dibangun oleh P&T Lands pada bulan Oktober 1929untuk menambah pasokan listrik ke perkebunan karet Wangunreja, Kalijati, perkebunan karet Pasirbungur, Jalupang dan Perkebunan Kapuk,lada, kakao yang berada di Cikaum Purwadadi.
Sumber airnya berasal dari Irigasi dari sungai Ciasem yang di bangun pada masa P.W. Hofland 1861. Walaupun sungai Ciasem berada dibawah, airnya berhasil dinaikan melalui tanah miring bukit Cikadu ke melong, Jambelaer, Cisampih dan Cinangling masuk ke Sentral listrik, lalu dialirkan ke persawahan Dawuan sampai ke Purwadadi.
Foto: Arsip

Wajah baru Wates Tangkuban Parahu yang menjadi tapal batas antara Kabupaten Subang dan Lembang kabupaten Bandung Barat. ...
26/12/2025

Wajah baru Wates Tangkuban Parahu yang menjadi tapal batas antara Kabupaten Subang dan Lembang kabupaten Bandung Barat. Circa 1920-1930 - 2025
Sejak era kolonial Wates Tangkuban Parahu merupakan batas antara karesidenan Priangan dan Karesidenan Batavia Afdeling Krawang.
Tapal batas ini menjadi ramai setelah komunitas Bandoeng Vooruit(Bandung maju) pada tahun 1925 membangun jalan akses mobil ke kawah Tangkuban Parahu sepanjang 4km. Yang memudahkan akses wisatawan sampai Kawah ratu dan kawah kawah lainya.
Jalan ini dinamai Hoogland weg, sebagai penghargaan kepada W.H Hoogland sebagai ketua Bandoeng Vooruit, yang juga merupakan direktur Bank Denis, gedungnya sekarang menjadi Bank BJB.

Pabrik teh lama Ciater sekitar tahun 1940-1950. Di potret dari sebelah barat jalan yang ke arah Panaruban. Lokasi pabrik...
23/11/2025

Pabrik teh lama Ciater sekitar tahun 1940-1950. Di potret dari sebelah barat jalan yang ke arah Panaruban. Lokasi pabrik ini berada di jalana raya Bandung Subang perempatan Jalan sari Ater dan arah Panaruban ke sebelah barat.
Pabrik teh termuda dan paling modern milik P&T Land, diresmikan tahun 1937 oleh Residen Batavia.
Pada tahun 1990 Pabrik teh Ciater dipindahkan ke sebelah barat kampung Ciater dengan kapasitas pengolahan yang lebih besar.
Foto oleh oleh dari Om Tom Paulus

20/11/2025

Hari Selasa kemarin, saya berkesempatan bertemu dengan Pak Tom Paulus, seorang warga negara Belanda yang lahir pada 18 November 1940 di Hospitaal P&T Lands Soebang, yang sekarang menjadi Rumah Sakit PTPN VIII Subang.
Pada hari ulang tahunnya yang ke-85, Pak Tom Paulus mengunjungi tempat kelahirannya di RS PTPN VIII Subang. Saya bersama staf rumah sakit mendengarkan beliau bercerita tentang masa-masa ketika tinggal di Kabupaten Subang. Beliau menceritakan kisah hidupnya sejak lahir dan tinggal di Perkebunan Bukanagara, Kasomalang, dan Ciater, serta kisah sedih yang dialaminya saat pendudukan Jepang, ketika beliau dan keluarganya menjadi tawanan dan ditempatkan di beberapa kamp konsentrasi di Bandung dan Jawa Tengah. Sayangnya, ketika Jepang kalah oleh Sekutu dan para tawanan dibebaskan, ibunda Pak Paulus telah meninggal dunia.
Ayah Pak Paulus merupakan administrateur di beberapa perkebunan milik P&T Lands, di antaranya Perkebunan Bukanagara, Kasomalang, dan Ciater.
Pak Paulus telah tiga kali merayakan ulang tahunnya di tempat kelahirannya di Subang: pada tahun 1976, sekitar tahun 1990, dan kini pada tahun 2025.
Selamat ulang tahun, Pak Tom Paulus. Semoga selalu sehat dan kita dapat berjumpa kembali.
Terima kasih atas oleh-oleh fotonya—foto-foto suasana Bukanagara, Kasomalang, dan Ciater tempo dulu.

Desain baru logo Subang lawas
17/11/2025

Desain baru logo Subang lawas

Address

Bandung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Subang Lawas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Subang Lawas:

Share