Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan

Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan PUSAT KURSUS DAN SERVICE HANDPHONE BANDUNG Jual Beli Hp

03/12/2025
19/11/2025

Carita Alam Pangalengan Bandung. . .

21/10/2025

19/10/2025

Semakin sering orang tua memuji anaknya dengan kalimat “anak pintar” atau “kamu baik sekali”, semakin tinggi p**a potensi anak kehilangan daya juangnya. Kedengarannya aneh, tapi psikologi modern justru menemukan bahwa terlalu banyak “kebaikan semu” dalam pola asuh bisa mengganggu perkembangan otak anak dalam jangka panjang.

Sebuah riset dari Stanford University menjelaskan bahwa anak yang terlalu sering mendapat pujian atas hasil, bukan proses, akan mengalami apa yang disebut fixed mindset. Mereka takut gagal, takut salah, dan akhirnya berhenti mencoba. Di sisi lain, banyak orang tua merasa mereka sedang “mendidik dengan cinta”. Padahal, di bawah permukaan, otak anak sedang dibentuk untuk mencari validasi, bukan kebenaran.

1. Pujian yang Salah Arah

Pujian yang berlebihan seperti “kamu anak paling hebat” mungkin terdengar positif, tapi bagi otak anak, ini menciptakan tekanan. Anak belajar bahwa nilai dirinya tergantung pada hasil akhir, bukan usaha. Ketika ia gagal, otaknya mengasosiasikan kesalahan sebagai ancaman terhadap harga diri. Akibatnya, anak mudah frustrasi dan kehilangan minat untuk mencoba hal baru.

Sebaliknya, ketika pujian diarahkan pada proses seperti “kamu sudah berusaha keras”, anak belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan. Pujian yang cerdas bukan tentang memanjakan ego, melainkan melatih daya tahan mental. Inilah bagian penting dari konten eksklusif di LogikaFilsuf yang sering membahas bagaimana bahasa sehari-hari membentuk sistem berpikir anak tanpa kita sadari.

2. Terlalu Protektif Menumpulkan Nalar Anak

Banyak orang tua merasa tugasnya adalah melindungi anak dari rasa sakit. Tapi justru dalam rasa sakit kecil, anak belajar mengenali risiko dan tanggung jawab. Ketika semua keputusan diambilkan, otak anak kehilangan kesempatan untuk melatih fungsi eksekutif—bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan kontrol diri.

Anak yang tidak pernah gagal akan tumbuh dengan kecemasan tinggi saat menghadapi dunia nyata. Mereka tidak tahu bagaimana bereaksi terhadap tekanan. Contohnya, anak yang dilarang ikut lomba karena takut kalah akan menjadi pribadi yang menghindari tantangan. Ia tumbuh “aman”, tapi rapuh secara mental.

3. Selalu Menyenangkan Anak Adalah Racun Halus

Banyak orang tua bangga disebut “teman bagi anaknya”. Namun jika semua keinginan anak selalu dituruti, otaknya kehilangan konsep batasan. Tanpa batas, anak sulit memahami struktur sosial dan nilai moral. Ia akan tumbuh dengan ego besar dan empati rendah.

Dalam psikologi perkembangan, hal ini dikenal sebagai permissive parenting, yang menciptakan anak dengan tingkat disiplin diri rendah dan kemampuan kontrol emosi yang buruk. Contoh paling nyata adalah anak yang menolak semua bentuk kritik, karena di rumah ia selalu “diterima tanpa syarat”.

4. Pendidikan Emosional yang Terlalu Manis

Orang tua sering berkata, “Tidak apa-apa, jangan sedih,” setiap kali anak menangis. Maksudnya baik, tapi efeknya membuat anak menekan emosinya. Otak anak kehilangan kemampuan mengenali dan mengelola emosi negatif secara sehat.

Padahal, emosi adalah bagian dari kecerdasan. Anak perlu belajar bahwa marah, kecewa, atau sedih adalah hal normal. Jika dibiasakan untuk menekan perasaan, mereka bisa tumbuh dengan empati yang tumpul dan pola komunikasi yang pasif-agresif.

5. Membandingkan Anak dengan Dalih Memotivasi

“Lihat tuh, kakakmu rajin.” Kalimat ini mungkin niatnya mendorong, tapi secara neurologis justru merusak. Otak anak menafsirkan perbandingan sebagai ancaman sosial. Ia merasa tidak aman dan mulai mengembangkan perilaku kompetitif yang tidak sehat.

Alih-alih menumbuhkan motivasi, perbandingan membuat anak merasa gagal bahkan sebelum berusaha. Dalam jangka panjang, ia belajar bahwa cinta orang tua bersyarat: hanya hadir ketika ia berhasil. Itulah akar dari banyak masalah self-esteem di masa dewasa.

6. Terlalu Banyak Aturan, Terlalu Sedikit Teladan

Anak-anak lebih peka terhadap tindakan daripada kata-kata. Saat orang tua sibuk mengatur tetapi tidak memberi contoh, otak anak menangkap sinyal ketidakkonsistenan. Mereka belajar memanip**asi situasi, bukan memahami nilai moralnya.

Contohnya, orang tua yang melarang anak berbohong, tapi sendiri kerap berbohong pada hal kecil seperti “bilang ke ayah Ibu lagi mandi” — secara tidak sadar sedang menanamkan standar ganda dalam moral anak. Hasilnya, anak tumbuh dengan logika moral yang kabur: yang penting tidak ketahuan, bukan tidak salah.

7. Tidak Memberi Ruang untuk Salah

Anak yang tidak diberi kesempatan salah, tidak akan belajar memperbaiki diri. Kesalahan adalah bahan bakar bagi kecerdasan. Namun banyak orang tua menganggap kesalahan sebagai bukti ketidakmampuan, bukan kesempatan belajar.

Otak manusia berkembang lewat umpan balik. Tanpa pengalaman gagal, jalur berpikir kritis tidak terbentuk. Anak akhirnya tumbuh bergantung pada instruksi eksternal. Ia tidak berpikir, hanya mengikuti. Dalam dunia yang cepat berubah seperti sekarang, itu bukan kelemahan kecil—itu bencana kognitif.

Pola asuh yang terlihat “baik” belum tentu sehat bagi otak anak. Kadang cinta yang berlebihan justru berubah menjadi kontrol halus yang menumpulkan kemampuan berpikir dan tangguhnya jiwa.

Bagaimana dengan kamu? Pernahkah menyadari bentuk pola asuh “baik” yang ternyata bisa merusak dari dalam? Tulis pendapatmu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar lebih banyak orang tua bisa melihat sisi lain dari cinta yang salah arah.

Gass...
19/10/2025

Gass...

Alhamdulillah Pelatihan Service Hp Di Gatsu KAMPUS STIA Telah Selesai. . .Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area...
01/10/2025

Alhamdulillah Pelatihan Service Hp Di Gatsu KAMPUS STIA Telah Selesai. . .
Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan
Pusat Kursus Dan Service HandPhone Bandung

Pelatihan Service Hp Gatsu STIA BAGASASI. . .Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan
28/09/2025

Pelatihan Service Hp Gatsu STIA BAGASASI. . .

Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan

Selama 7 tahun itu, manajemen RCTI tidak mengetahui jika Acil Ida hanya dibayar Rp 40.000 oleh rumah produksi..Sosok Aci...
04/09/2025

Selama 7 tahun itu, manajemen RCTI tidak mengetahui jika Acil Ida hanya dibayar Rp 40.000 oleh rumah produksi..

Sosok Acil Ida, Ibu Bintang Iklan RCTI Oke yang waktu itu di bayar Dibayar Rp 40.000.
Selama 7 tahun itu, manajemen RCTI tidak mengetahui jika Acil Ida hanya dibayar Rp 40.000 oleh rumah produksi...

Sosok Almarhumah Hj Noor Parida sangat familiar bagi generasi tahun 90-an, apalagi yang gemar menonton televisi. Perempuan yang akrab disapa Acil Ida merupakan bintang iklan RCTI dengan mengacungkan jempolnya di Pasar Terapung Kuin Banjarmasin

Kala itu, kata Rahmi, ibunya dipercaya oleh salah satu rumah produksi yang bekerja sama dengan RCTI untuk membuat tayangan ikonik yang menarik dengan menampilkan budaya dan kearifan lokal Indonesia.

Salah satu yang terpilih adalah Pasar Terapung Kuin yang terletak di Jalan Alalak Selatan, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Saat itu Acil Ida memang sebagai pedagang di Pasar Terapung Kuin. Desember 94 ia syuting dan tahun 95 pertama kali tayang di RCTI," mengenang, rumah produksi yang dipercaya RCTI waktu itu hanya membayar Acil Ida sebesar Rp 40.000.

Karena nilai uang Rp 40.000 pada tahun itu lumayan banyak, uang di gunakan Acil Idauntuk membeli perlengkapan sholat sejadah dan mukena.

Setelah sering muncul dilayar kaca RCTI, nama Acil Ida perlahan mulai dikenal publik. Bahkan, Pasar Terapung Kuin Banjarmasin yang dulunya sepi pengunjung juga ikut terkenal dan mulai ramai dikunjungi wisatawan. Tidak hanya wisatawan dalam negeri, wisatawan mancanegara juga banyak berkunjung ke Pasar Terapung Kuin Banjarmasin waktu itu.
Ikon Pasar Terapung Kuin Banjarmasin terfavorit se-Asia Tenggara waktu itu. Tak sedikit pengunjung yang datang selain ingin menikmati Pasar Terapung juga ingin bertemu dengan Acil Ida. Tayangan ikonik RCTI yang menampilkan Acil Ida bertahan sampai tahun 2001.
Selama 7 tahun itu, manajemen RCTI tidak mengetahui jika Acil Ida hanya dibayar Rp 40.000 oleh rumah produksi, Manajemen RCTI baru tau setelah salah satu koran lokal di Banjarmasin membuat berita yang menampilkan profil Acil Ida. Setelah sampai beritanya itu ke Jakarta, ributlah di RCTI karena mereka baru tau, kok bisa kaya gini kata mereka. Pikirnya sudah beres dengan rumah produksi," jelasnya.
Karena merasa jasa Acil Ida membesarkan RCTI, pihak manajemen RCTI pun akhirnya memanggil Acil Ida ke Jakarta.

Melalui program tali kasih, RCTI memberikan hadiah sebuah televisi dan uang tunai sebesar Rp 1.5 juta kepada Acil Ida
Di tahun berikutnya, yakni 2002 Acil Ida kembali dipanggil ke Jakarta oleh manajemen RCTI untuk tayangan program ulang tahun RCTI yang ke 14. Manajemen RCTI kembali memberikan bantuan sebesar Rp 14 juta.

Uang itu digunakan untuk membeli sepeda motor oleh Acil Ida
Acil Ida telah berp**ang ke pangkuan Ilahi pada, Kamis (25/6/2020) pagi karena sakit yang dideritanya. Ia dimakamkan persis di samping pusara makam suaminya di kompleks pemakaman keluarga yang tak jauh dari rumahnya.

Kepergiannya membawa duka bagi warga Banjarmasin yang mengenalnya.
Sumber: google

Warisan Terakhir Steve Jobs: 5 Pelajaran Hidup dari Sang Visioner Sebelum Menghembuskan Napas TerakhirDalam dunia teknol...
04/09/2025

Warisan Terakhir Steve Jobs: 5 Pelajaran Hidup dari Sang Visioner Sebelum Menghembuskan Napas Terakhir

Dalam dunia teknologi, nama Steve Jobs bukan sekadar legenda ia adalah simbol revolusi digital, kreativitas tanpa batas, dan keberanian menantang status quo. Namun di balik kejeniusannya sebagai pendiri Apple Inc., Jobs juga meninggalkan warisan yang jauh lebih personal dan menyentuh: lima pelajaran hidup yang ia wasiatkan sebelum meninggal dunia.

Sebuah foto yang kini viral di media sosial memperlihatkan Jobs dalam kondisi fisik yang lemah, mengenakan pakaian hitam khasnya, berdiri bersama seorang pria yang tampak mendukungnya secara emosional. Di sisi lain, ia terlihat sendiri, dengan tatapan kontemplatif yang seolah menyimpan pesan mendalam.

🧠 Pelajaran #1: Waktu adalah Mata Uang Termahal
Jobs menyadari bahwa waktu adalah satu-satunya aset yang tidak bisa dibeli, bahkan oleh miliarder sekalipun. Ia menekankan pentingnya menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermakna, bukan sekadar mengejar kekayaan atau pengakuan.

💬 “Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.”

💔 Pelajaran #2: Kesehatan Adalah Segalanya
Di masa-masa terakhirnya, Jobs merenungkan bahwa semua kekayaan dan pencapaian tidak berarti apa-apa jika tubuh tidak sehat. Ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan fisik dan mental harus menjadi prioritas utama, bukan sesuatu yang ditunda.

🌱 Pelajaran #3: Cinta dan Hubungan Adalah Sumber Kebahagiaan Sejati
Jobs menyesali waktu yang tidak cukup ia habiskan bersama keluarga. Ia menyadari bahwa cinta, bukan teknologi, adalah inti dari kehidupan. “Saya harap saya lebih banyak mencintai daripada menciptakan,” katanya kepada orang terdekat.

🚀 Pelajaran #4: Ikuti Intuisi dan Jangan Takut Gagal
Jobs percaya bahwa intuisi adalah kompas terbaik dalam hidup. Ia mendorong generasi muda untuk berani mengambil risiko dan tidak takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju inovasi.

🔥 Pelajaran #5: Jangan Hidup di Bawah Bayangan Orang Lain
Jobs selalu menekankan pentingnya menjadi otentik. Ia tidak pernah membiarkan pendapat orang lain membatasi visinya. “Jadilah dirimu sendiri, karena dunia sudah penuh dengan orang lain,” ujarnya.

📸 Foto yang Menggugah Emosi
Foto yang beredar bukan hanya dokumentasi visual, tetapi juga simbol transisi dari seorang inovator menjadi seorang filsuf kehidupan. Dalam tubuh yang melemah, terpancar kekuatan pesan yang abadi. Jobs tidak hanya meninggalkan iPhone dan MacBook, tetapi juga panduan hidup yang menyentuh jutaan jiwa.

📢 Kesimp**an
Steve Jobs telah pergi, namun kata-katanya tetap hidup. Lima pelajaran yang ia tinggalkan bukan hanya untuk para pengusaha atau teknolog, tetapi untuk siapa pun yang ingin menjalani hidup dengan penuh makna. Di era yang serba cepat dan kompetitif, pesan Jobs menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati bukan soal angka, tetapi soal dampak dan cinta yang kita berikan kepada dunia

🔖

Bismillah. . .Pelatihan Service Hp Di Kel Margasuka Babakan Ciparay. . .Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area B...
02/09/2025

Bismillah. . .Pelatihan Service Hp Di Kel Margasuka Babakan Ciparay. . .
Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan

Bagaimana jika kita mengumpulkan sekelompok tikus dan meletakkannya di tempat yang menyerupai surga, di mana mereka dise...
27/08/2025

Bagaimana jika kita mengumpulkan sekelompok tikus dan meletakkannya di tempat yang menyerupai surga, di mana mereka disediakan segala yang mereka butuhkan, termasuk makanan, air, dan tempat tinggal, tanpa adanya musuh alami dan tanpa tekanan psikologis maupun fisik?

Ide ini muncul pada seorang ahli biologi Amerika bernama John Calhoun, yang memulai eksperimen terkenalnya pada tahun 1970. Ia menciptakan sebuah lingkungan yang luas dan dirancang secara khusus, dilengkapi dengan makanan, air, dan ruang hidup yang melimpah. Kemudian, ia menempatkan empat pasang tikus (dua jantan dan dua betina) di sana, membiarkan mereka memulai hidup dengan nyaman.

Pada awalnya, tikus-tikus itu berkembang biak dengan kecepatan yang menakjubkan, dan jumlah mereka terus meningkat. Namun, setelah sekitar 315 hari, laju perkembangbiakan mulai menurun secara signifikan. Ketika pop**asi mencapai sekitar 600 ekor, muncul ciri-ciri sosial baru: hierarki yang jelas, pengasingan sebagian tikus, dan terbentuknya kelas yang ia sebut sebagai “kaum sengsara.”

Tikus-tikus yang lebih besar mulai menyerang yang lebih lemah, yang menyebabkan kerusakan psikologis pada para jantan. Sementara itu, sebagian betina meninggalkan perannya dalam merawat anak mereka, bahkan mulai menyerang anak betina lain tanpa alasan. Seiring waktu, angka kematian di kalangan tikus muda meningkat hingga 100%, dan angka kelahiran turun menjadi nol. Perilaku aneh juga muncul, seperti homoseksualitas, kebrutalan, dan kanibalisme meskipun makanan tersedia berlimpah.

Dua tahun setelah percobaan dimulai, tikus terakhir lahir, dan pada tahun 1973, semua tikus dalam eksperimen yang dikenal dengan nama “Universe 25” mati. Lebih mengejutkan lagi, eksperimen tersebut diulang sebanyak 25 kali dengan hasil yang sama setiap kali: kehancuran total masyarakat dan kepunahannya.

Calhoun ingin membuktikan bahwa masyarakat—baik tikus maupun manusia—jika diberikan segala kenyamanan tanpa usaha atau tantangan, pasti akan jatuh ke dalam kehancuran internal. Fakta yang terbukti ini telah disebutkan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya menurut ukuran yang Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura: 27)

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1AvciceM7L/

Orang lebih sering merasa yakin karena bisa berbicara panjang, bukan karena argumennya benar. Itulah mengapa pertanyaan ...
19/08/2025

Orang lebih sering merasa yakin karena bisa berbicara panjang, bukan karena argumennya benar. Itulah mengapa pertanyaan yang tajam jauh lebih mematikan daripada jawaban panjang yang berputar-putar. Menariknya, penelitian dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa orang yang pandai bertanya justru terlihat lebih cerdas dibanding mereka yang hanya pandai menjawab. Pertanyaan bukan sekadar alat klarifikasi, tetapi senjata untuk menguji konsistensi berpikir.

Kita semua pasti pernah berada dalam situasi debat sehari-hari, entah saat diskusi di kantor, ngobrol di warung kopi, atau bahkan ketika membaca argumen ngawur di media sosial. Banyak orang yang mengira suara keras dan kalimat panjang otomatis membuat mereka benar. Padahal, satu pertanyaan kritis saja bisa meruntuhkan fondasi logika yang rapuh. Dari sinilah pentingnya mempelajari teknik bertanya, bukan sekadar teknik menjawab.

Berikut tujuh teknik bertanya yang diuraikan berdasarkan buku-buku kredibel seperti The Socratic Method (Ward Farnsworth), Thank You for Arguing (Jay Heinrichs), Critical Thinking (Richard Paul & Linda Elder), Asking the Right Questions (Neil Browne & Stuart Keeley), Logic Made Easy (Deborah Bennett), The Art of Thinking Clearly (Rolf Dobelli), dan How to Win Every Argument (Madsen Pirie).

1. Pertanyaan Definisi

Dalam The Socratic Method, Ward Farnsworth menjelaskan bahwa hampir semua perdebatan runtuh di titik definisi. Misalnya, saat seseorang berkata “kebebasan itu mutlak,” maka pertanyaan sederhana adalah “Apa yang Anda maksud dengan kebebasan?” Pertanyaan ini memaksa lawan bicara untuk berhenti berselancar di kata besar dan kembali ke fondasi makna.

Contoh nyatanya terjadi dalam diskusi politik. Banyak orang mengklaim “demokrasi” tanpa bisa menjelaskan bentuk demokrasi seperti apa yang mereka maksud. Ketika ditanya definisinya, mereka sering kebingungan atau terjebak pada pengertian yang kabur. Inilah momen di mana logika lemah terbongkar dengan sendirinya.

Membiasakan diri bertanya tentang definisi adalah cara tercepat untuk menyingkap kabut retorika. Definisi adalah titik pijak berpikir, dan tanpa itu argumen hanya sekadar jargon kosong.

2. Pertanyaan Konsistensi

Neil Browne dalam Asking the Right Questions menekankan pentingnya bertanya: “Apakah argumen ini konsisten dengan argumen lain yang Anda buat sebelumnya?” Pertanyaan konsistensi membongkar kontradiksi yang sering luput dari kesadaran pembicara.

Misalnya seseorang mengkritik pemerintah karena menaikkan pajak, tetapi di sisi lain menuntut fasilitas publik yang lebih lengkap. Pertanyaan konsistensi akan menunjukkan adanya ketidakselarasan antara keinginan dan logika. Dari sini terlihat bahwa banyak argumen runtuh bukan karena serangan frontal, tetapi karena ditabrakkan pada pernyataan mereka sendiri.

Di sinilah kekuatan pertanyaan konsistensi, ia bekerja seperti cermin. Membuat orang melihat dirinya sendiri sering lebih memalukan daripada dikritik orang lain.

3. Pertanyaan Bukti

Richard Paul dalam Critical Thinking menegaskan bahwa argumen tanpa bukti hanyalah opini. Pertanyaan sederhana seperti “Apa buktinya?” sudah cukup untuk menguji validitas klaim.

Di media sosial, sering kita menemukan pernyataan seperti “Anak muda sekarang malas membaca.” Begitu ditanya bukti apa yang mendukung klaim itu, biasanya jawabannya samar: “Ya lihat saja di sekitar.” Tanpa data, argumen hanya berbentuk asumsi.

Mengajukan pertanyaan bukti membuat diskusi lebih sehat. Alih-alih bertengkar dengan opini melayang, kita memaksa percakapan kembali ke kenyataan yang bisa diverifikasi.

4. Pertanyaan Konsekuensi

Dalam Logic Made Easy, Deborah Bennett menyebut pentingnya bertanya: “Kalau pendapat itu diikuti, konsekuensinya apa?” Pertanyaan ini memaksa orang berpikir melampaui klaim dan melihat dampaknya.

Contoh konkret: ketika seseorang berkata “sebaiknya semua orang bekerja dari rumah saja,” maka pertanyaan konsekuensi adalah “Apakah semua jenis pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah? Bagaimana dengan petani, tukang bangunan, atau sopir?” Dengan cara ini, argumen yang awalnya terdengar ideal terbukti tidak realistis.

Pertanyaan konsekuensi sangat efektif membongkar logika lemah yang lahir dari keinginan utopis tanpa memikirkan realitas kompleks.

5. Pertanyaan Sumber

Jay Heinrichs dalam Thank You for Arguing menyinggung betapa pentingnya otoritas sumber. Pertanyaan “Darimana sumber Anda?” bisa menghancurkan argumen yang hanya berdiri di atas gosip atau opini pribadi.

Misalnya dalam percakapan sehari-hari, orang sering berkata “Katanya dokter A menyarankan ini.” Begitu diminta menyebutkan nama, jurnal, atau bukti nyata, biasanya klaim itu ambruk. Pertanyaan ini bukan soal meremehkan, tetapi menuntut tanggung jawab intelektual dari siapa pun yang mengajukan argumen.

Tanpa kebiasaan menanyakan sumber, kita hanya akan hidup dalam banjir klaim yang tidak jelas asalnya.

6. Pertanyaan Alternatif

Rolf Dobelli dalam The Art of Thinking Clearly menyinggung bias yang membuat orang hanya melihat satu pilihan. Pertanyaan “Apakah ada alternatif lain?” sering kali membuat argumen tunggal tampak kerdil.

Misalnya, ketika seseorang mengatakan “Satu-satunya solusi untuk masalah ekonomi adalah menaikkan upah,” pertanyaan alternatif memaksa untuk melihat opsi lain: reformasi pajak, perbaikan distribusi, atau efisiensi birokrasi. Dengan membuka ruang alternatif, logika lemah yang kaku bisa segera dipatahkan.

Pertanyaan alternatif memberi kita kebebasan intelektual. Ia mengajarkan bahwa dalam hampir semua persoalan, tidak ada jalan tunggal.

7. Pertanyaan Intensi

Madsen Pirie dalam How to Win Every Argument menyoroti betapa seringnya orang menyembunyikan motif di balik argumen. Pertanyaan seperti “Mengapa Anda mendorong argumen ini? Apa yang ingin dicapai?” bisa mengungkap bias dan kepentingan tersembunyi.

Contohnya terlihat dalam debat produk kesehatan di televisi. Seseorang bisa mempromosikan gaya hidup sehat, tetapi ternyata motif utamanya adalah menjual produk herbal tertentu. Begitu ditanya intensinya, klaim “ilmiah” mereka runtuh menjadi strategi pemasaran.

Pertanyaan intensi bukan sekadar membongkar argumen, tetapi juga membuka ruang kejujuran. Saat motif disadari, diskusi berubah lebih jernih dan rasional.

Di titik ini, bertanya bukan lagi sekadar mencari jawaban, melainkan membentuk disiplin berpikir kritis. Kalau ingin konten eksklusif lain tentang cara mengasah logika dan menghancurkan sesat pikir populer, berlangganan di logikafilsuf.

Jadi, pertanyaannya sederhana: teknik bertanya mana yang paling sering kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari? Tulis di kolom komentar dan jangan lupa bagikan tulisan ini agar lebih banyak orang sadar bahwa logika lemah bisa runtuh hanya dengan satu pertanyaan tajam.

Address

Dangdeur Rt :02/08 , Ds Kiangroke, Kecamatan Banjaran , Kab. Bandung,, Toko Soc Pusat KurSus Dan Service Hp
Bandung
40377

Opening Hours

Monday 08:00 - 20:00
Tuesday 08:00 - 20:00
Wednesday 09:00 - 20:00
Thursday 08:00 - 20:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 20:00
Sunday 08:00 - 20:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pusat Kursus Service HP Software&Hardware Area Banjaran Bandung Selatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share