09/06/2026
KESEPIAN YANG TIDAK BISA DICERIDTAKAN KEPADA SIAPA PUN
Kita hidup di zaman yang sangat ramai.
Setiap hari ada notifikasi. Ada pesan masuk. Ada story yang harus dilihat. Ada komentar yang harus dibalas. Ada grup yang tidak pernah benar-benar diam.
Tapi anehnya, justru di tengah semua keramaian itu, banyak orang merasa semakin sepi.
Bukan karena tidak punya teman.
Bukan karena tidak punya siapa-siapa.
Tapi karena tidak semua orang bisa menjadi tempat pulang.
Ada hal-hal yang tidak bisa kita ceritakan di WhatsApp. Ada luka yang terlalu panjang untuk dijadikan caption. Ada rasa kosong yang tidak selesai meskipun kita sudah scrolling berjam-jam.
Di sinilah sastra terasa dekat.
Dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono, yang terbit dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni tahun 1994, kita bertemu perasaan yang diam, tabah, dan tidak banyak menuntut. Puisi ini seperti memahami orang-orang yang menyimpan banyak hal sendirian.
Sastra tidak selalu memberi solusi.
Tapi sastra sering memberi bahasa untuk perasaan yang selama ini tidak bisa kita jelaskan.
Mungkin karena itu kita membaca.
Bukan supaya terlihat pintar.
Tapi supaya tidak merasa sendirian dalam hidup yang terlalu ramai ini.