Sarasamuscaya intisari dharma

Sarasamuscaya intisari dharma Dengan cinta hidup jadi indah,
Dengan ilmu hidup jadi mudah. Dengan Agama hidup jadi terarah

S**A, DUKA, LARA, PATI BEKAL HIDUP  MANUSIA DI DUNIAOm Swastyastu.Suatu kebenaran universal dalam ajaran dharma, yaitu b...
15/01/2026

S**A, DUKA, LARA, PATI
BEKAL HIDUP MANUSIA DI DUNIA

Om Swastyastu.

Suatu kebenaran universal dalam ajaran dharma, yaitu bahwa setiap manusia pasti mengalami s**a, duka, lara, dan pati. Tidak seorang pun dapat menghindar dari keempat kenyataan hidup ini. Ia adalah hukum alam, hukum Tuhan, dan hukum karma yang bekerja dalam kehidupan.

Makna S**a dan Duka

Dalam kehidupan duniawi, s**a dan duka bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
S**a datang ketika keinginan terpenuhi, harapan tercapai, dan cita-cita terwujud.
Duka hadir ketika keinginan tidak terpenuhi, kehilangan orang tercinta, kegagalan, atau penderitaan batin.

Dalam ajaran Hindu ditegaskan bahwa keterikatan berlebihan pada rasa s**a akan melahirkan duka. Oleh karena itu, umat diajarkan untuk tidak terikat (asakti), melainkan menjalani hidup dengan keseimbangan batin.

Bhagavad Gita mengajarkan:
“Sukha-duhkhe same kṛtvā…”

Artinya: Samakanlah s**a dan duka, karena keduanya bersifat sementara.

Makna Lara (Penderitaan)

Lara adalah penderitaan yang lebih dalam, baik jasmani maupun rohani.
Penyakit, usia tua, konflik batin, kecemasan, dan kegelisahan adalah bentuk lara yang kerap dialami manusia.

Namun dalam pandangan dharma, lara bukan hukuman, melainkan:
- Pengingat agar manusia kembali ke jalan
kebenaran
- Sarana penyucian karma
- Proses pendewasaan jiwa
Dengan lara, manusia belajar tentang kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan.

Makna Pati (Kematian)

Pati atau kematian adalah kepastian mutlak. Tidak ada yang lahir tanpa mati.
Namun kematian bukan akhir segalanya, melainkan perubahan wujud perjalanan atma.

Dalam ajaran Hindu:
- Badan bersifat fana
- Atma bersifat abadi
Oleh karena itu, yang terpenting bukan lamanya hidup, melainkan bagaimana cara hidup itu dijalani sesuai dharma.

Sikap Dharma Menghadapi S**a, Duka, Lara, dan Pati

Ajaran dharma menuntun umat agar:
- Bersyukur saat s**a, tanpa lupa daratan
- Sabar saat duka, tanpa putus asa
- Teguh saat lara, tanpa menyalahkan Tuhan
- Siap menghadapi pati, dengan bekal karma baik
Semua itu dijalani melalui:
+ Tri Kaya Parisudha (pikiran, perkataan, perbuatan
yang suci)
+ Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi
+ Karma yang dilandasi ketulusan

Jadi S**a, duka, lara, dan pati bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami dan disadari sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia. Dengan pemahaman dharma, manusia akan mampu menjalani hidup dengan ketenangan batin, kebijaksanaan, dan kesadaran spiritual.

Semoga dharma selalu menjadi pelita dalam setiap langkah kehidupan kita.

Om Santih, Santih, Santih Om. 🙏
Gs_Suardika




PIKIRAN  BAIK AKAN BERBUAH KEBAIKAN(Ulasan Sārasamuccaya Sloka 17) Om SwastyastuOm Awighnam Astu Namo SiddhamSloka Sāras...
15/01/2026

PIKIRAN BAIK AKAN BERBUAH KEBAIKAN
(Ulasan Sārasamuccaya Sloka 17)

Om Swastyastu
Om Awighnam Astu Namo Siddham

Sloka Sārasamuccaya ke-17 mengajarkan suatu kebenaran yang sangat mendalam, namun sederhana untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sloka ini berbunyi:

“Yathā yathā hi puruṣaḥ kalyāṇa ramate manaḥ, tathā tathāsya siddhyanti sarvārtha nātra saṁśayaḥ.”

Yang artinya, sebagaimana pikiran seseorang bers**a cita dalam kebajikan, demikian p**a segala tujuan hidupnya akan tercapai, tanpa keraguan sedikit pun.

Makna utama sloka ini adalah pikiran merupakan sumber dari segala perbuatan dan hasil kehidupan manusia. Apa yang kita cintai, apa yang kita senangi, dan apa yang kita biasakan dalam pikiran, itulah yang menentukan arah hidup kita.

Dalam terjemahan Jawa Kuna ditegaskan bahwa semua golongan manusia—kanista (rendah), madhyama (menengah), maupun uttama (tinggi) memiliki kesempatan yang sama. Tidak dibatasi oleh kelahiran, jabatan, kekayaan, maupun pendidikan. Yang menjadi ukuran bukanlah siapa kita, melainkan apa yang kita cintai dalam hati kita.

Jika seseorang menjadikan perbuatan baik sebagai kesenangan batin, maka kebaikan itu tidak terasa sebagai beban. Ia tidak merasa terpaksa berbuat jujur, tidak merasa rugi saat menolong, dan tidak merasa berat saat melaksanakan dharma. Karena dilakukan dengan ketulusan dan rasa bahagia, maka perbuatan baik itu menjadi kuat, mantap, dan berbuah sempurna.

Inilah yang dimaksud dalam sloka 17 dengan kata “ramate manah”—pikiran yang bersenang-senang dalam kebajikan. Ketika hati sudah mencintai kebaikan, maka jalan menuju keberhasilan akan terbuka dengan sendirinya. Keberhasilan di sini bukan hanya keberhasilan materi, tetapi juga keberhasilan lahir dan batin, ketenangan jiwa, keharmonisan hidup, dan kebijaksanaan.

Sloka ini juga menegaskan hukum karma phala. Tidak ada keraguan (nātra saṁśayaḥ), bahwa setiap perbuatan yang lahir dari pikiran baik akan menghasilkan buah yang baik p**a. Sebaliknya, bila pikiran senang pada keburukan, maka keburukan itulah yang akan tumbuh dan berbuah dalam kehidupan.

Oleh karena itu, umat sedharma sekalian, ajaran ini mengingatkan kita untuk mendidik pikiran. Jangan hanya mengendalikan perbuatan lahiriah, tetapi latihlah hati agar mencintai dharma. Biasakan pikiran untuk merasa bahagia saat berbuat benar, jujur, sabar, welas asih, dan penuh tanggung jawab.

Jika kebaikan sudah menjadi kebutuhan batin, maka kehidupan akan berjalan selaras dengan dharma. Apa pun peran kita, sebagai orang tua, anak, pemimpin, pekerja, atau pelajar, selama niat dan pikiran kita tertuju pada kebajikan, maka segala usaha akan menemukan jalannya menuju keberhasilan sejati.

Demikianlah ajaran luhur Sloka 17 Sārasamuccaya. Semoga kita semua mampu menjadikan dharma sebagai kesenangan hati, sehingga hidup ini menjadi bermakna, harmonis, dan membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun sesama.

Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om
Gs_Suardika


"JANGAN USIR KEGELAPAN , CUKUP NYALAKAN CAHAYA MAKA KEGELAPAN AKAN SIRNA"Om Swastyastu“Seperti perilaku matahari yang te...
14/01/2026

"JANGAN USIR KEGELAPAN , CUKUP NYALAKAN CAHAYA MAKA KEGELAPAN AKAN SIRNA"

Om Swastyastu

“Seperti perilaku matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma, adalah memusnahkan segala macam dosa.” (Sarasamuscaya sloka 16)

Sloka ini memberikan perumpamaan yang sangat indah dan mudah dipahami. Ketika matahari terbit, kegelapan tidak perlu diperangi atau diusir, ia lenyap dengan sendirinya oleh cahaya. Demikian p**a dalam kehidupan manusia, ketika seseorang menjalankan dharma, maka keburukan, dosa, dan penderitaan akan sirna dengan sendirinya.

Dharma adalah kebenaran, kewajiban moral, dan jalan hidup yang benar. Dharma tercermin dalam pikiran yang baik, perkataan yang jujur, serta perbuatan yang penuh kasih dan tanggung jawab. Orang yang hidup berdasarkan dharma ibarat matahari yang membawa terang bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Sering kali manusia terlalu fokus memerangi dosa dan kesalahan, tetapi melupakan cara yang paling utama: menjalankan dharma secara konsisten. Ketika kita membiasakan diri berbuat baik, menolong sesama, berlaku adil, menghormati orang tua, bekerja dengan jujur, serta mengendalikan hawa nafsu, maka perlahan-lahan sifat buruk akan berkurang.

Sloka ini juga mengajarkan bahwa dharma bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi membawa manfaat bagi banyak orang. Sebagaimana matahari menerangi seluruh dunia tanpa pilih kasih, orang yang hidup dalam dharma akan menjadi sumber keteladanan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat.

✨ Pesan penting dari sloka ini adalah:
- Jangan takut pada kegelapan dosa, tetapi
nyalakanlah cahaya dharma dalam hidup kita.
- Dengan menjalankan dharma, kehidupan akan
menjadi lebih bersih, lebih bermakna, dan lebih
dekat dengan kebahagiaan sejati.

Semoga kita semua mampu menjadi “matahari” kecil yang menerangi dunia dengan dharma.

Om Śānti Śānti Śāntiḥ. 🙏
Gs_Suardika


APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN DHARMAOm Swastyastu. Dharma adalah pondasi atau dasar untuk mendapatkan artha dan k**a menur...
13/01/2026

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN DHARMA

Om Swastyastu.

Dharma adalah pondasi atau dasar untuk mendapatkan artha dan k**a menurut hindu, pertanyaannya apa yang dimaksud dharma itu?
Begini penjelasannya:

Dharma adalah prinsip kebenaran, kebajikan, dan kewajiban hidup yang menjadi pedoman utama dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Dharma mengajarkan manusia untuk hidup sesuai dengan kebenaran dan hukum alam, demi terciptanya keharmonisan antara diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Dalam ajaran Hindu, Dharma bukan hanya sekadar aturan moral, tetapi fondasi kehidupan. Tanpa Dharma, pencapaian artha (kekayaan, kesejahteraan) dan k**a (kenikmatan, kebahagiaan) akan kehilangan arah dan bahkan bisa membawa penderitaan.

Dharma adalah dasar untuk memperoleh artha dan k**a.
Artinya:
Artha yang diperoleh harus melalui cara yang benar, jujur, dan adil.
K**a yang dinikmati harus tidak melanggar nilai kesusilaan dan tidak merugikan orang lain.
Jika artha dan k**a dicapai tanpa dharma, maka hasilnya bukan kebahagiaan sejati, melainkan keserakahan, konflik, dan penderitaan.

Dharma bersifat kontekstual, artinya penerapannya sesuai dengan peran dan tanggung jawab seseorang.

1. Dharma Pribadi
- Bersikap jujur
- Bertanggung jawab
- Mengendalikan diri
- Berbuat baik meskipun tidak dilihat orang lain
2. Dharma Sosial
- Menghormati orang tua dan guru
- Menjaga keharmonisan dalam keluarga
- Menolong sesama
- Tidak merugikan masyarakat
3. Dharma Profesional
- Bekerja dengan jujur
- Tidak menyalahgunakan jabatan
- Menjalankan profesi dengan etika
- Dharma sebagai Penuntun Moral
- Dharma berfungsi sebagai kompas kehidupan:
- Menuntun mana yang benar dan salah
- Menjadi pengendali nafsu dan ego
- Menjaga keseimbangan antara hak dan
kewajiban
Dengan menjalankan dharma, manusia tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menjaga cara dalam mencapai tujuan.

Hubungan Dharma dengan Tujuan Hidup (Catur Purusartha)

Dalam ajaran Hindu dikenal Catur Purusartha:
- Dharma yaitu kebenaran dan kebajikan
- Artha yaitu kesejahteraan
- K**a yaitu kebahagiaan lahir batin
- Moksha yaitu kebebasan rohani

Dharma berada di posisi utama karena:
- Artha dan k**a harus berada di bawah kendali
dharma
- Dharma menuntun manusia menuju moksha

Jadi kesimp**annya:
Dharma adalah pedoman hidup yang berlandaskan kebenaran dan kebajikan, yang menjadi dasar dalam memperoleh artha dan k**a secara benar

Dengan menjalankan dharma:
- Artha menjadi berkah
- K**a menjadi kebahagiaan sejati
- Hidup menjadi harmonis dan bermakna

Tanpa dharma, keberhasilan materi dan kenikmatan hidup tidak akan membawa kedamaian.

Om shanti shanti shanti om
Gs_Suardika



DHARMA JALAN MENUJU SORGA(Sarasamuscaya sloka 14) Om Swastyastu 🙏Umat sedharma yang berbahagia, dalam sloka 14 sarasamus...
13/01/2026

DHARMA JALAN MENUJU SORGA
(Sarasamuscaya sloka 14)

Om Swastyastu 🙏

Umat sedharma yang berbahagia, dalam sloka 14 sarasamuscaya ada pernyataan “Yang disebut dharma adalah jalan untuk pergi ke sorga; sebagaimana perahu adalah alat bagi orang dagang untuk mengarungi lautan” mengandung ajaran yang sangat dalam namun disampaikan dengan perumpamaan yang sederhana.

Kehidupan ini diibaratkan sebagai lautan yang luas, penuh dengan gelombang s**a dan duka, godaan artha dan k**a, serta arus kuat berupa hawa nafsu dan kelekatan duniawi. Tidak seorang pun dapat menyeberangi lautan itu hanya dengan mengandalkan kekuatan diri semata. Seorang pedagang, betapa pun pintarnya ia berdagang, tidak akan pernah sampai ke seberang tanpa perahu. Perahu itulah sarana keselamatan dalam perjalanan.

Demikian p**a halnya dengan manusia yang mendambakan sorga dan kebahagiaan sejati. Dharma adalah perahu kehidupan itu. Tanpa dharma, manusia mudah terseret arus keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Tanpa dharma, artha dan k**a justru bisa menjadi beban yang menenggelamkan, bukan sarana yang menyelamatkan.

Melaksanakan dharma bukan hanya soal upacara, bukan p**a sekadar simbol. Dharma hidup dalam pikiran yang suci, perkataan yang benar, dan perbuatan yang baik. Ketika kita jujur, tulus, menepati janji, menghormati sesama, serta setia pada swadharma masing-masing, saat itulah kita sedang menaiki perahu dharma.

Umat sedharma, marilah kita renungkan:
Jika seseorang ingin sampai ke tujuan, tentu ia akan menjaga perahunya agar tidak bocor. Demikian p**a kita, hendaknya menjaga dharma agar tidak rusak oleh ego, kemarahan, dan kesombongan. Sebab hanya dengan dharma yang dijalankan dengan tulus, perjalanan hidup ini akan sampai pada tujuan yang luhur.

Akhir kata, jadikanlah dharma sebagai pegangan hidup, sebagai perahu yang mengantar kita menyeberangi lautan samsara menuju pantai kebahagiaan dan sorga.

Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om 🕉️
Gs_Suardika


YADNYA DIUKUR DARI KETULUSANNYA BUKAN DARI BESARNYAOm Swastyastu 🙏Umat sedharma yang saya hormati,Dalam ajaran Hindu, ya...
12/01/2026

YADNYA DIUKUR DARI KETULUSANNYA BUKAN DARI BESARNYA

Om Swastyastu 🙏

Umat sedharma yang saya hormati,
Dalam ajaran Hindu, yadnya adalah persembahan suci yang dilandasi oleh ketulusan hati. Yadnya bukanlah ajang pamer kemewahan, bukan p**a sarana untuk menunjukkan kemampuan materi, melainkan jalan bhakti untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sering kali dalam kehidupan bermasyarakat, muncul anggapan bahwa yadnya harus besar, meriah, dan mahal agar dianggap sempurna. Padahal sesungguhnya, kesempurnaan yadnya tidak terletak pada besarnya biaya, tetapi pada kesesuaiannya dengan tatwa, susila, dan upacara.

Tatwa mengajarkan kita tentang kebenaran dan hakikat yadnya. Persembahan sekecil apa pun, bila dilandasi sraddha dan bhakti yang tulus, akan memiliki nilai spiritual yang luhur. Ida Sang Hyang Widhi tidak menilai dari rupa dan jumlah, tetapi dari ketulusan hati umat-Nya.

Susila menuntun kita untuk melaksanakan yadnya dengan etika dan kebijaksanaan. Jangan sampai pelaksanaan yadnya justru menimbulkan penderitaan, hutang, konflik keluarga, atau rasa iri di tengah masyarakat. Yadnya yang melanggar susila, karena memaksakan diri, mengabaikan tanggung jawab keluarga, atau melukai keharmonisan akan kehilangan makna sucinya.

Upacara adalah tata cara lahiriah yang harus dilaksanakan sesuai desa, kala, patra. Artinya, yadnya disesuaikan dengan kemampuan, tempat, waktu, dan kondisi pelaksana. Upacara yang sederhana namun tepat aturan, lebih utama daripada upacara besar tetapi melenceng dari makna dan tuntunan sastra.

Dalam Bhagavadgita diajarkan bahwa daun, bunga, buah, atau air yang dipersembahkan dengan bhakti tulus akan diterima oleh Tuhan. Ini menjadi pengingat bahwa keikhlasan adalah jiwa yadnya.

Oleh karena itu, umat Hindu hendaknya berani kembali pada esensi yadnya:
Yaitu sederhana, tulus, tidak memberatkan, namun tetap berlandaskan tatwa, susila, dan upacara. Dengan demikian, yadnya benar-benar menjadi sarana penyucian diri, bukan beban kehidupan.

Semoga kita semua mampu melaksanakan yadnya dengan kesadaran rohani, kebijaksanaan, dan ketulusan hati, sehingga yadnya menjadi jalan menuju keharmonisan, kedamaian, dan kesejahteraan lahir batin.

Om Śānti Śānti Śānti Om 🌺
Gs_Suardika



TERLAHIR SEBAGAI MANUSIA ADALAH SUNGGUH UTAMA ( sarasamuscaya sloka 4) Om SwastyastuOm Awighnam Astu Namo SiddhamPada ke...
11/01/2026

TERLAHIR SEBAGAI MANUSIA ADALAH SUNGGUH UTAMA ( sarasamuscaya sloka 4)

Om Swastyastu
Om Awighnam Astu Namo Siddham

Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita merenungkan ajaran luhur yang termuat dalam Sārasamuccaya Sloka 4, yaitu sebuah sloka yang menegaskan betapa utama dan langkanya kelahiran sebagai manusia.

Sloka ini menyatakan bahwa menjelma menjadi manusia adalah kelahiran yang paling utama. Mengapa demikian? Karena hanya sebagai manusialah ātman diberikan kesempatan yang sangat besar untuk menolong dirinya sendiri dari penderitaan saṁsāra, yaitu lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada berujung.

Sebagai manusia, kita dianugerahi buddhi (akal budi), wiweka (kemampuan membedakan yang baik dan buruk), serta kesadaran moral. Inilah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Dengan bekal inilah manusia mampu memilih jalan dharma dan menata kehidupannya melalui śubha karma yaitu perbuatan baik yang dilandasi ketulusan, kejujuran, dan kasih sayang.

Sloka ini mengingatkan kita bahwa pembebasan tidak datang dari luar, melainkan dari usaha diri sendiri. Tidak cukup hanya terlahir sebagai manusia, tetapi harus disertai dengan perbuatan baik. Melalui pikiran yang suci, ucapan yang benar, dan perbuatan yang luhur, manusia dapat memperbaiki karmanya, mengikis penderitaan, dan perlahan-lahan mendekatkan diri pada kebebasan sejati.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ajaran ini menjadi cermin bagi kita semua. Janganlah kesempatan menjadi manusia ini disia-siakan hanya untuk mengejar kenikmatan duniawi semata. Harta, kekuasaan, dan kesenangan indria yang bersifat sementara. Yang kekal adalah jejak karma yang kita tanam melalui sikap dan perbuatan kita.

Oleh karena itu, umat sedharma, marilah kita mengisi kehidupan ini dengan dharma. Menolong sesama, berlaku jujur, mengendalikan hawa nafsu, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Inilah makna sejati dari keutamaan kelahiran sebagai manusia.

Semoga dengan memahami dan mengamalkan ajaran ini, kita semua mampu menjadikan hidup sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar perjalanan lahir dan mati yang berulang tanpa makna.

Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om 🙏
Gs_Suardika


HAMIL DULU BARU MENIKAH(Antara Arus Zaman dan Tuntunan Dharma) Om SwastyastuOm Awighnam Astu Namo SiddhamDi tengah perub...
11/01/2026

HAMIL DULU BARU MENIKAH
(Antara Arus Zaman dan Tuntunan Dharma)

Om Swastyastu
Om Awighnam Astu Namo Siddham

Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, kita terkadang menemukan dan menyaksikan adanya kejadian di mana sepasang penganten sudah hamil terlebih dahulu baru kemudian menikah.
Celakanya fenomena ini sering kali dianggap lumrah, bahkan diterima sebagai “jalan keluar” dari suatu keadaan.

Namun, sebagai umat Hindu, patutlah kita merenung dengan jernih: apakah kebiasaan ini sejalan dengan dharma? Mari kita temukan jawabannya sebagai berikut:

1. Tubuh dan Kehidupan sebagai Anugerah Suci

Dalam ajaran Hindu, tubuh manusia bukan sekadar sarana pemuasan k**a, melainkan wadah suci atman. Hubungan suami istri dipandang sebagai perbuatan sakral yang idealnya berlangsung dalam ikatan wiwaha yadnya (perkawinan suci).
Ketika hubungan dilakukan tanpa ikatan dharma, maka kesucian tubuh dan nilai tanggung jawab sering terabaikan.

2. K**a Tanpa Dharma Menjadi Sumber
Penderitaan

K**a (kenikmatan) adalah salah satu tujuan hidup, tetapi harus dikendalikan oleh dharma.
Sarasamuccaya mengingatkan bahwa artha dan k**a yang diperoleh tanpa dharma tidak membawa kebahagiaan sejati, justru sering melahirkan kegelisahan, rasa malu, konflik keluarga, dan beban psikologis bagi perempuan dan anak yang dikandung.

3. Pernikahan sebagai Tanggung Jawab Moral dan
Spiritual

Menikah bukan sekadar formalitas sosial untuk “menutup keadaan”, tetapi merupakan ikrar suci untuk:
- bertanggung jawab lahir dan batin,
- mendidik keturunan dalam dharma,
- melanjutkan kewajiban pitra rna (utang kepada
leluhur).
Jika pernikahan dilakukan setelah kehamilan, sering kali motivasinya bukan kesadaran dharma, melainkan tekanan sosial. Inilah yang patut menjadi bahan renungan bersama.

4. Welas Asih Tanpa Membenarkan Kesalahan

Dharma tidak mengajarkan penghakiman, melainkan welas asih dan pembinaan.
Mereka yang telah terlanjur berada dalam keadaan ini tetap harus dirangkul, dibimbing, dan dikuatkan agar:
- mau bertanggung jawab,
- membangun rumah tangga yang benar,
- serta mendidik anak dengan nilai dharma.
Namun, welas asih disini bukan berarti membenarkan perbuatan yang menyimpang dari dharma. Kesalahan tetap salah dan harus disadari agar tidak diwariskan sebagai suatu kebiasaan dan dimaklumi.

5. Tanggung Jawab Bersama

Fenomena ini bukan hanya kesalahan individu, tetapi juga cerminan:
- lemahnya pendidikan nilai agama,
- kurangnya peran keluarga,
- minimnya keteladanan di masyarakat.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan kita semua adalah meningkatkan, darma wacana, pasraman, dan pembinaan generasi muda untuk menanamkan pengendalian diri (brahmacarya) dan kesadaran hidup suci.

Jadi sebagai bahan renungan hendaknya kita menyadari bahwa:
- kehidupan dimulai dari niat yang benar,
- keturunan lahir dari hubungan yang suci,
dan kebahagiaan keluarga tumbuh dari landasan
dharma.
Mari kita jadikan dharma sebagai penuntun, bukan sekadar pengetahuan, agar generasi ke depan tetap berakar pada nilai luhur, meski hidup di tengah arus zaman.

Om Santih, Santih, Santih Om
Gs_Suardika


AGAMA SEBAGAI LADANG BISNIS(Sebuah Renungan Dharma) Om Swastyastu,Agama sejatinya adalah jalan suci yang membimbing manu...
11/01/2026

AGAMA SEBAGAI LADANG BISNIS
(Sebuah Renungan Dharma)

Om Swastyastu,

Agama sejatinya adalah jalan suci yang membimbing manusia menuju kehidupan yang benar, harmonis, dan bermakna. Agama hadir untuk menuntun manusia melaksanakan dharma, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan pikiran, serta menumbuhkan kasih sayang dan kebijaksanaan.

Namun dalam perjalanan zaman, kita patut merenung bersama:
apakah agama masih diposisikan sebagai tuntunan hidup, ataukah telah bergeser menjadi alat untuk mencari keuntungan pribadi?

Makna “Agama Dijadikan Ladang Bisnis”
Yang dimaksud agama dijadikan ladang bisnis bukanlah semata-mata soal dana atau ekonomi keumatan, melainkan ketika nilai-nilai suci agama dieksploitasi demi kepentingan materi, pop**aritas, kekuasaan, atau keuntungan pribadi.

Contohnya:
- Ajaran agama dikemas bukan untuk pencerahan,
tetapi untuk menarik keuntungan.
- Ritual diperdagangkan tanpa landasan ketulusan
dan etika dharma.
- Jabatan atau peran keagamaan dijadikan sarana
memperkaya diri.
- Umat digiring dengan rasa takut, janji-janji instan,
atau simbol-simbol suci demi kepentingan
tertentu.
Dalam kondisi seperti ini, agama kehilangan rohnya, dan yang tersisa hanyalah kulit luar tanpa makna spiritual.

Pandangan Dharma
Dalam ajaran Hindu, dharma adalah landasan utama kehidupan. Artha (harta) dan k**a (kenikmatan) boleh dicari, tetapi harus berada dalam koridor dharma.
Jika artha dicari dengan menyimpang dari dharma, maka ia tidak membawa kebahagiaan sejati, justru menimbulkan penderitaan.

Agama yang dipraktikkan tanpa ketulusan akan melahirkan:
- Kesombongan rohani
- Kemunafikan
- Konflik dan perpecahan
- Hilangnya kepercayaan umat
Padahal tujuan agama adalah moksha, kebebasan jiwa dari keterikatan duniawi.

Renungan untuk Umat
Sebagai umat beragama, kita juga perlu bercermin:
- Apakah kita beragama karena kesadaran, atau
karena kebiasaan dan simbol semata?
- Apakah kita menempatkan agama sebagai jalan
pembebasan, atau sebagai alat memenuhi
keinginan duniawi?
- Apakah kita mendukung praktik keagamaan yang
tulus, atau justru membiarkan penyimpangan
karena kenyamanan pribadi?
- Agama tidak salah. Manusialah yang sering keliru
dalam memanfaatkannya.

Penutup
Mari kita kembalikan agama pada hakikat sucinya:
- Sebagai sumber nilai kebenaran
- Sebagai penuntun etika dan moral
- Sebagai jalan penyucian diri
Dengan menjadikan dharma sebagai dasar, niscaya agama akan kembali menjadi cahaya kehidupan, bukan alat perdagangan.
Karena agama yang dijalani dengan ketulusan akan menuntun pada kedamaian, sedangkan agama yang diperdagangkan hanya akan melahirkan kekosongan batin.

Om Śānti Śānti Śāntiḥ Om
Gs_Suardika

Address

Banjarbaru

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sarasamuscaya intisari dharma posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sarasamuscaya intisari dharma:

Share