31/05/2026
UPA Unit Pembinaan Anggota DPC PKS kec Batang Muda Pertama Saksi dan Relawan PKS Batang Utara
"Tergetar hati ini, tanpa terasa haru meliputi, mendengar mereka terbata mengeja huruf huruf Illahi.
Fatihah pun belum lah lancar saya dengar, mungkin grogi atau bisa jadi jarang sekali terpakai setiap hari."
Malam ahad setelah tasyrik, saat banyak yang membincangkan siapa yang akan juara dalam pagelaran final liga champion nanti malam antara PSG dan Arsenal, di sebuah rumah yang dindingnya mulai mengelupas, rumah ketua DPC PKS Batang, beberapa bapak-bapak duduk melingkar di atas tikar. Di antara gelas teh hangat, camilan kampung, dan obrolan ringan, ada sesuatu yang berbeda malam itu.
Mereka adalah anggota UPA PKS yang baru terbentuk, para saksi pemilu, dan pengurus ranting yang selama ini telah bersama membantu PKS dalam kerja kerja politik. Ada yang bekerja sebagai buruh, penjual lotis, penjual bensin eceran, penjual ikan, tukang bangunan. dan serabutan. Mereka adalah para saksi dan relawan yang biasa bekerja politik dan mengikuti kegiatan politik bersama PKS
Namun malam ini bukan tentang politik, bukan tentang program kerja, dan bukan p**a tentang agenda organisasi.
Malam ini mereka berkumpul untuk belajar mengaji.
Sebagian tampak menunduk malu. Ada yang memegang Al quran dengan tangan gemetar. Ada yang sesekali tersenyum ketika salah menyebut huruf hijaiyah. Bahkan ada yang harus mengulang berkali-kali membedakan antara "ba", "ta", dan "tsa".
Dan bahkan ada yang memakai tranlate quran ketika membaca dari gawainya yang sudah terpasang aplikasi quran.
“Umur saya sudah lebih dari empat puluh tahun, ternyata masih terbata-bata membaca Al-Qur'an,” ujar salah seorang bapak dengan suara pelan.
“Saya malu sama anak saya, mereka sudah pada pandai membaca quran, ucap Pak Le, bapak gondrong berkuncir dengan wajah sedikit menunduk.
“Dulu saya bandel pak, kalau disuruh belajar mengaji ga mau, sekarang sudah tua mau belajar darimana bingung." timpal Mas Heri sebapak yang paling muda diantara yang lain.
Tidak ada yang menertawakan.
Justru yang lain mengangguk, karena mereka merasakan hal yang sama.
Malam itu menjadi saksi bahwa belajar tidak mengenal usia.
Download an materi dari aplikasi PKS Jateng, untuk jenjang muhib, saya tutup.
Sepertinya bukan materi ini yang pas, untuk para Bapak-bapak ini.
Saya mulai dengan motivasi :
"Rasul mulai belajar Al quran di usia yang tidak lagi muda, yaitu 40 tahun, semenjak mendapat wahyu."
Relevan dengan para Bapak ini yang usianya berada di sekitar 40 tahunan ke atas.
"Tidak ada kata terlambat untuk belajar"
"Yang paling mulia bukan yang paling cepat bisa, tetapi yang mau memulai dan istiqamah menjalaninya."
Kalimat itu membuat suasana menjadi hangat. Rasa malu perlahan berubah menjadi semangat.
Terus kupompa semangat Bapak bapak ini dengan menceritakan banyak teman teman yang lain, yang sudah tidak usia muda lagi ketika mulai belajar membaca Al Quran.
Tak lupa pengalaman pribadi yang kembali mengeja huruf Al Quran di usia SMA dengan mandiri, tanpa bimbingan guru pun turut kuceritakan untuk menambah motivasi.
Kembali haru dada ini, ucapan kata sudah mulai bergetar, karena di tengah kesibukan mereka mencari nafkah dan mengurus keluarga, dan kegiatan lainnya mereka menyisihkan waktu untuk duduk bersama, belajar, dan saling menyemangati.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah pertemuan sederhana di sebuah rumah kampung.
Tetapi bagi mereka, malam-malam itu adalah awal perjalanan yang luar biasa.
Perjalanan para bapak-bapak yang tidak malu belajar dari nol.
Perjalanan para saksi dan pengurus ranting yang ingin menjadi lebih baik.
Dan perjalanan hamba-hamba Allah yang berharap suatu hari nanti dapat membaca Al-Qur'an dengan lancar, agar mereka tidak terasa amalu lagi di depan anak cucu mereka karena tidak lancar mengaji.
Karena sesungguhnya, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar mengaji. Yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang bisa membaca, melainkan keberanian untuk memulai langkah pertama.