TariganRedy

TariganRedy edukasi
parenting anak
keseharian bersama anak

“Kadang, bentuk kasih sayang orang tua yang paling berbahaya… adalah selalu menyelesaikan masalah anak.”Kita takut anak ...
26/08/2026

“Kadang, bentuk kasih sayang orang tua yang paling berbahaya… adalah selalu menyelesaikan masalah anak.”

Kita takut anak jatuh.
Takut dia gagal.
Takut dia kecewa.
Akhirnya setiap kali dia kesulitan, kita buru-buru membantu.

Tugasnya kita kerjakan.
Masalahnya kita selesaikan.
Kesalahannya kita bereskan.

Padahal…

Anak bukan butuh orang tua yang selalu membuat hidupnya mudah.
Dia butuh orang tua yang membimbingnya belajar menghadapi kesulitan.

Karena kalau setiap kali dia jatuh kita langsung mengangkatnya…
Kapan dia belajar berdiri?

Kalau setiap masalah selalu kita selesaikan…
Kapan dia belajar mencari solusi?

Jangan takut melihat anak gagal.
Karena kadang…
kegagalan kecil yang dia hadapi hari ini, adalah latihan untuk menghadapi kehidupan besar yang akan dia jalani nanti.

Kita bukan sedang membesarkan anak yang selalu membutuhkan kita.
Kita sedang membesarkan manusia yang suatu hari mampu berdiri tanpa kita.

25/08/2026

Jangan sampai kita sibuk mendidik anak menjadi manusia baik, tapi cara kita mendidiknya justru mengajarkan hal yang sebaliknya.”

24/08/2026

Penelitian menunjukkan, pola asuh keras, penuh bentakan, ancaman, dan kontrol berlebihan berkaitan dengan meningkatnya perilaku menentang pada anak.

Tapi terlalu lembut tanpa batas juga bukan jawabannya.

Anak justru membutuhkan kelembutan yang punya batas.
Boleh marah, tapi tidak boleh menyakiti.

Boleh berbeda pendapat, tapi tetap harus menghormati.
Boleh memilih, tapi tetap ada aturan.

Karena parenting bukan tentang membuat anak takut kepada orang tua.
Tapi tentang membuat anak tahu…
“Aku dicintai, tapi aku juga punya batas.”

Jadi, jangan pilih antara keras atau lembut.
Jadilah lembut, tapi tegas. Hangat, tapi konsisten.




22/08/2026

pola asuh orang tua faktor utama yang membentuknya.

Misalnya, saat anak selalu dipuji berlebihan meskipun tidak berusaha.

Atau saat semua keinginannya selalu dituruti tanpa batas.

Anak jadi belajar bahwa dirinya harus selalu diutamakan.

Belum lagi jika orang tua lebih sering memuji hasil daripada mengajarkan empati.

Anak akhirnya sibuk mencari pengakuan, tetapi kurang belajar memahami perasaan orang lain.

Yang paling sering tidak disadari, ketika anak dijadikan pusat segalanya.

Semua harus mengikuti kemauannya.

Semua harus sesuai keinginannya.

Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.
Anak perlu belajar bahwa setiap orang memiliki kebutuhan, perasaan, dan hak yang sama pentingnya.

"Tugas orang tua bukan membuat anak merasa lebih hebat dari orang lain. Tugas kita adalah membesarkan anak yang percaya diri, rendah hati, dan mampu menghargai orang lain."

Anak tidak menjadi pribadi yang sehat karena selalu dituruti. Anak tumbuh kuat ketika dicintai dengan batasan, diajarkan empati, dan dibiasakan menghargai orang lain. ❤️

Setuju? Tulis pendapatmu di kolom komentar. 👇🏻


19/08/2026

“Cuma tebak-tebakan sederhana.
Tapi buat anak, ini adalah momen bahagia😊

16/08/2026

Karena Saat anak berbuat salah,

fokusku bukan menghukumnya secepat mungkin, tapi membantunya memahami kesalahannya.

Karena tujuan mendidik bukan membuat anak takut berbuat salah, melainkan mengajarkan mereka bagaimana memperbaikinya. ❤️

Dan aku percaya,

Bahwa anak yang sering diajak bicara baik-baik akan lebih mudah belajar mengendalikan emosinya dibanding anak yang selalu dibentak saat berbuat salah.

14/08/2026

Pak,,main yokk,,
Kata kata yang gak pernah terlewat setiap hari😊😊

13/08/2026

Anak yang agresif sering kali bukan karena terlalu nakal, tetapi karena terlalu sering melihat kemarahan sebagai cara menyelesaikan masalah.

Rumah adalah sekolah pertama anak. Dan orang tua adalah guru yang paling sering ditiru.

Pola asuh yang bisa membuat anak tumbuh agresif dan antisosial adalah pola asuh yang penuh bentakan, hukuman, dan minim koneksi emosional.

Saat anak sering melihat kemarahan dijadikan cara menyelesaikan masalah, ia belajar bahwa kekuatan dan intimidasi adalah cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Saat perasaannya diabaikan, diremehkan, atau selalu disalahkan, anak perlahan kehilangan kemampuan memahami perasaan orang lain.

Akibatnya, ia bisa tumbuh menjadi anak yang:
Mudah marah dan meledak-ledak.
Sulit berempati.
Sering menyelesaikan konflik dengan agresi.

Sulit bekerja sama dengan orang lain.
Menarik diri atau tidak peduli dengan lingkungan sosialnya.
Yang sering tidak disadari orang tua, anak bukan hanya mendengar nasihat kita.

Anak sedang mengamati cara kita berbicara, cara kita marah, dan cara kita memperlakukan orang lain setiap hari.
Karena itu, jika ingin anak tumbuh ramah, penuh empati, dan mampu bersosialisasi dengan baik...

Jangan hanya mengajarkan kebaikan.
Tunjukkan kebaikan itu lewat sikap kita setiap hari.

"Anak tidak belajar menjadi pribadi yang baik dari ceramah yang panjang. Mereka belajar dari contoh yang mereka lihat berulang kali di rumah."




12/08/2026

Kadang kita berpikir anak belum mengerti apa-apa.
Padahal diam-diam mereka sedang merekam semuanya.

Cara kita bicara saat marah.
Cara kita memperlakukan pasangan.
Cara kita merespon masalah.
Bahkan nada suara kecil yang kita anggap biasa.

Lalu suatu hari…
Kita shock mendengar anak berbicara dengan temannya.
Karena terdengar sangat mirip dengan diri kita sendiri.

Di situlah sadar,
anak bukan hanya belajar dari apa yang kita ajarkan,
tetapi dari siapa kita setiap hari di rumah.

Kalau ingin anak tumbuh lembut,
maka lembutlah di depan mereka.
Kalau ingin anak menghargai orang lain,
maka tunjukkan itu lewat sikap kita.

Karena masa kecil anak dipenuhi proses meniru.
Dan rumah adalah sekolah pertamanya.



Address

Bekasi
17133

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TariganRedy posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share