11/08/2025
- Hujan dibulan Agustus -
Bab 4 — Hujan di Bulan Agustus
Dua tahun berlalu. Agustus kembali datang. Semua orang sibuk merayakan kemerdekaan, tapi bagi Raka, bulan ini adalah peringatan lain—hari di mana ia terakhir melihat Alya.
Siang itu hujan lagi. Sama derasnya, sama dinginnya. Raka berdiri di bawah pohon flamboyan, menggenggam setangkai melati putih.
Bima, sahabatnya, menghampiri. "Dia nggak akan datang, Ka…"
Raka menatap jalan kosong. "Dia janji, Bim… Agustus ini dia pulang. Kita akan nanam melati di halaman rumah."
Bima menghela napas. "Itu dua tahun lalu. Dan kamu tahu, dia nggak pernah kembali."
Raka menutup mata, membiarkan hujan membasuh wajahnya. Dalam hatinya, ia mendengar suara Alya dari masa lalu, suara yang ia simpan baik-baik:
"Kalau aku nggak pulang, melatinya jadi tanda aku pernah ada di hidupmu."
Raka tersenyum pahit. Ia tahu, Alya mungkin sudah tak akan kembali. Tapi ia juga tahu, melati itu sudah tumbuh di halaman rumahnya—mekar, wangi, dan abadi.
Karena beberapa orang… memang ditakdirkan untuk tetap hidup di hati, meski langkah mereka telah jauh.