AnimeVerse ID

AnimeVerse ID Anime world 📍

01/04/2026

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! Masyhur SandaGha

27/03/2026

(Eps 4) Dipaksa jadi Pasangan Sang Santa 🥰



27/03/2026

(Eps 3) Dipaksa jadi Pasangan Sang Santa 🥰



26/03/2026

Dipaksa jadi Pasangan Sang Santa (eps 2) 🥴



26/03/2026

Dipaksa jadi Pasangan Sang Santa (eps 1) 🥰



11/08/2025

- Hujan dibulan Agustus -

Bab 8 (tamat) - penutup kisah

*"Alya… aku nggak tahu, kamu dengar atau nggak dari tempatmu sekarang.
Aku marah, tahu? Marah karena kamu pergi tanpa pamit. Marah karena kamu suruh aku jangan nunggu… padahal kamu tahu, aku nggak bisa.

Dua tahun aku simpan melati ini di halaman rumah. Dua tahun aku berdiri di sini, menunggu setiap Agustus datang. Aku pikir… waktu akan mengikis rasa ini. Tapi ternyata tidak.

Dan sekarang aku tahu, hujan ini bukan kebetulan. Ini caramu pulang, kan? Caramu bilang kalau kamu nggak pernah benar-benar pergi.

Alya… kalau hidup kita ini cuma satu halaman di buku yang tebalnya ribuan, aku rela cuma ada di satu halaman itu. Halaman di mana kita ketemu, di mana kita tertawa di bawah hujan, di mana kamu kasih aku melati sambil bilang itu tanda kamu pernah ada.

Aku janji, aku nggak akan berhenti merayakan Agustus. Bukan karena kemerdekaan, tapi karena di bulan ini… aku pernah merasa punya segalanya, sebelum akhirnya kehilangan segalanya."*

Raka menutup matanya. Hujan terus turun. Melati di tangannya wangi, putih, rapuh—seperti kenangan yang tak akan pernah ia lepaskan.

11/08/2025

- Hujan dibulan Agustus -

Bab 7 — Hujan yang Menutup Kisah

Seminggu kemudian, hujan turun lagi di bulan Agustus. Raka berdiri di halaman rumah, di depan pohon melati yang mekar sempurna. Bunga-bunganya putih bersih, wangi menembus udara basah.

"Kamu pulang, Alya…" bisiknya.

Ia memetik satu tangkai, menatapnya lama, lalu menaruhnya di atas tanah basah, tepat di bawah pohon. Air matanya bercampur hujan, menghapus batas antara rindu dan kehilangan.

Tidak ada lagi janji yang harus ditepati. Tidak ada lagi alasan untuk menunggu. Tapi di hatinya, Alya tetap ada—duduk di tepi lapangan, tertawa di bawah payung biru, menyelipkan melati di telapak tangannya.

Dan setiap hujan di bulan Agustus, Raka akan berdiri di tempat yang sama. Karena ia tahu, beberapa cinta memang tidak diciptakan untuk bersama… tapi untuk dikenang, selamanya.

11/08/2025

- Hujan dibulan Agustus -

Bab 6 — Kabar yang Menghentikan Waktu

Malamnya, Bima datang dengan wajah yang sulit dibaca. Ia duduk di kursi teras, lama sekali sebelum akhirnya bicara.

"Ka… aku dapat kabar dari sepupuku yang kerja di rumah sakit di Melbourne. Ada pasien… namanya Alya."

Raka menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"

Bima menelan ludah. "Dia sakit kanker sejak dua tahun lalu. Dia meninggal… minggu lalu."

Semua suara lenyap. Hujan yang turun malam itu terdengar seperti bisikan yang tak sanggup dimengerti. Surat itu terasa makin berat di genggaman Raka—surat terakhir dari seseorang yang tak akan pernah bisa ia temui lagi.

11/08/2025

- Hujan dibulan Agustus -

Bab 5 — Surat yang Terlambat

Tiga hari setelah hujan itu, Raka pulang kerja dan menemukan amplop cokelat di depan pintu rumah. Tidak ada nama pengirim, hanya tulisan tangannya sendiri di masa lalu: "Untuk Raka, di bulan Agustus."

Tangannya gemetar saat membuka. Isinya selembar surat, tinta sedikit pudar.

> "Ka…
Kalau surat ini sampai padamu, berarti aku nggak bisa pulang seperti yang kita janjikan. Aku minta maaf. Aku ingin kamu tahu, di tempatku berada sekarang, aku tetap menunggu Agustus datang—meski tanpa kamu di sisiku.
Jangan tunggu aku. Tapi kalau suatu hari kamu melihat melati yang mekar, anggap itu aku yang pulang."

— Alya

Di bagian bawah, ada bekas tetesan yang membuat tinta melebar. Entah itu hujan… atau air mata.

11/08/2025

- Hujan dibulan Agustus -

Bab 4 — Hujan di Bulan Agustus

Dua tahun berlalu. Agustus kembali datang. Semua orang sibuk merayakan kemerdekaan, tapi bagi Raka, bulan ini adalah peringatan lain—hari di mana ia terakhir melihat Alya.

Siang itu hujan lagi. Sama derasnya, sama dinginnya. Raka berdiri di bawah pohon flamboyan, menggenggam setangkai melati putih.

Bima, sahabatnya, menghampiri. "Dia nggak akan datang, Ka…"

Raka menatap jalan kosong. "Dia janji, Bim… Agustus ini dia pulang. Kita akan nanam melati di halaman rumah."

Bima menghela napas. "Itu dua tahun lalu. Dan kamu tahu, dia nggak pernah kembali."

Raka menutup mata, membiarkan hujan membasuh wajahnya. Dalam hatinya, ia mendengar suara Alya dari masa lalu, suara yang ia simpan baik-baik:

"Kalau aku nggak pulang, melatinya jadi tanda aku pernah ada di hidupmu."

Raka tersenyum pahit. Ia tahu, Alya mungkin sudah tak akan kembali. Tapi ia juga tahu, melati itu sudah tumbuh di halaman rumahnya—mekar, wangi, dan abadi.

Karena beberapa orang… memang ditakdirkan untuk tetap hidup di hati, meski langkah mereka telah jauh.

Address

Bekasi

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AnimeVerse ID posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share