Nicholas Ziga

Nicholas Ziga Catatan Harian

12/01/2026
01/01/2026
22/12/2025



Kesendirian sering dipersepsikan sebagai kekosongan, seolah hidup kehilangan warna ketika tidak ada siapa pun yang menemani. Padahal, dalam kesendirian, jiwa justru menemukan ruang bernapas. Tidak ada tuntutan untuk tampil, tidak ada kewajiban untuk menyenangkan orang lain, dan tidak ada ketakutan akan kehilangan. Kesendirian menjadi jeda yang lembut, tempat hati beristirahat dari hiruk pikuk ekspektasi sosial yang sering melelahkan.

Secara psikologis, manusia yang mampu menikmati kesendirian adalah manusia yang telah berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi menjadikan kehadiran orang lain sebagai satu satunya sumber kebahagiaan. Dalam sepi, ia belajar mengenali pikirannya, merawat lukanya, dan menata ulang harapannya. Kesendirian menjadi cermin yang jujur, memperlihatkan siapa dirinya tanpa topeng, tanpa sandiwara.

Dari sisi filosofis, kesendirian mengajarkan kebebasan yang sunyi namun mendalam. Tidak ada sakit karena tidak ada ketergantungan, tidak ada rindu karena tidak ada keterikatan yang berlebihan, dan tidak ada perpisahan karena tidak ada yang harus ditinggalkan. Di sana, manusia belajar mencintai tanpa memiliki, hadir tanpa menguasai, dan merasa utuh tanpa harus dilengkapi oleh siapa pun.

Secara sosial, kesendirian yang disadari berbeda dengan kesepian yang terpaksa. Kesendirian adalah pilihan batin, sedangkan kesepian adalah jeritan hati yang belum selesai. Orang yang menikmati kesendirian tidak membenci manusia, ia hanya tidak lagi menggantungkan kebahagiaannya pada mereka. Ia tetap bisa mencinta, namun tidak lagi terikat oleh rasa takut kehilangan.

Pada akhirnya, kesendirian adalah ruang aman bagi jiwa untuk pulang. Di sanalah hati belajar tenang, pikiran belajar jernih, dan ruh belajar cukup. Pertanyaannya, apakah kita berani menikmati kesendirian bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai tempat bertumbuh dan menemukan kedamaian yang sejati?

20/12/2025

๐“๐ˆ๐ƒ๐€๐Š ๐๐Ž๐‹๐„๐‡ ๐€๐ƒ๐€ ๐‘๐€๐๐Š๐ˆ๐๐†? ๐‹๐Ž๐†๐ˆ๐Š๐€ ๐’๐„๐’๐€๐“ ๐˜๐€๐๐† ๐ƒ๐ˆ๐๐€๐Š๐’๐€ ๐‰๐€๐ƒ๐ˆ ๐Š๐„๐๐ˆ๐‰๐€๐Š๐€๐

Alasan klasik pemerintah:
โ€œAgar psikologis siswa stabil, supaya mental mereka tidak down.โ€

Kedengarannya mulia.
Tapi kalau dipikir pakai akal sehat, ini justru logika yang rapuh dan malas berpikir.

Coba kita luruskan.

Di lomba non-akademik โ€” lari, sepak bola, tari, pidato โ€” SELALU ADA JUARA.
Padahal jelas, tidak semua anak berbakat di sana.

Apakah anak yang kalah lomba lari langsung trauma seumur hidup?
Tidak.
Justru kebanyakan dari mereka berlatih lebih keras atau sadar di mana kemampuan mereka berada.

Lalu kenapa prestasi akademik justru disembunyikan?
Apa salahnya anak yang belajar keras, begadang, konsisten, dan disiplin diberi pengakuan?

Kalau logika โ€œtakut mental downโ€ dipakai, sekalian saja:

๐Ÿ˜œTidak usah ada juara lomba apa pun

๐Ÿ˜œTidak usah ada nilai

๐Ÿ˜œTidak usah ada evaluasi

Semua disamaratakan.
Yang rajin disamakan dengan yang malas.
Yang berjuang disuruh diam demi kenyamanan yang lain.

Ini bukan melindungi anak.
Ini menghukum usaha dan memanjakan kemalasan.

Anak-anak yang ingin ranking itu bukan jahat.
Mereka hanya ingin hasil kerja kerasnya diakui.

Dan anak yang belum mampu?
Bukan diselamatkan dengan menghapus ranking,
tapi dibimbing agar mau berusaha lebih baik.

Hidup nyata tidak mengenal โ€œsemua samaโ€.
Dunia kerja, kompetisi, dan kehidupan sosial penuh penilaian.

Kalau sejak kecil anak tidak diajarkan menghadapi hasil,
maka yang kita besarkan bukan generasi kuat,
tapi generasi rapuh yang alergi evaluasi.

Setiap pencapaian HARUS diapresiasi.
Bukan dihapus demi kebijakan instan yang malas berpikir.




29/11/2025

Sekolah Tidak Memberikan Jaminan, Tapi Hanya Memperbesar Kemungkinan Kesuksesan Seseorang.

23/11/2025


.

Dalam diskusi tentang pendidikan, ukuran kelas sering menjadi sorotan. Dan itu memang penting guru bukan mesin, dan ruang belajar punya batas. Tetapi ada satu hal yang jauh lebih menentukan kualitas pembelajaran: perilaku siswa di dalam kelas.

Pada kenyataannya, bukan sekadar sulit memenuhi kebutuhan 30 siswa dalam satu ruangan. Masalah yang sering terjadi adalah kehadiran satu atau dua siswa yang tidak ingin berada di sana, yang terus-menerus mengganggu proses belajar, dan pada akhirnya menghambat pembelajaran seluruh kelas.

Guru sebenarnya mampu mengelola kelas besar.
Guru bisa menata, membimbing, dan mengorganisasi murid dalam jumlah yang banyak.
Yang sulit bahkan mustahil adalah ketika di saat yang sama mereka harus:

โ€ข mengajar,
โ€ข menjaga keamanan,
โ€ข mengarahkan perilaku,
โ€ข menenangkan suasana,
โ€ข dan menurunkan eskalasi masalah secara terus-menerus,

โ€ฆsementara satu atau dua siswa terus membuat suasana kelas tidak aman atau tidak kondusif.

Kita bahkan pernah melihat kasus ekstrem seorang guru ditembak oleh murid berusia 6 tahun, dan harus memperjuangkan haknya untuk diakui sebagai korban. Jika peristiwa seperti itu tidak cukup membuka mata kita tentang betapa seriusnya masalah ini, lalu apa lagi?

Sebagian besar siswa sebenarnya ingin belajar.
Sebagian besar guru ingin mengajar.
Tetapi cukup satu atau dua perilaku yang tidak terkendali untuk membuat seluruh kelas kehilangan kesempatan belajar, bahkan berpotensi membahayakan guru.

Jika kita ingin pembelajaran yang lebih baik, kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan ini.

Ya, ukuran kelas itu penting.
Tetapi sama pentingnya adalah dukungan perilaku, batasan yang jelas, intervensi yang tepat, dan alternatif bagi siswa yang belum mampu belajar atau berperilaku aman dalam kelas tradisional.

Sekolah yang baik bukan hanya tentang ruang kelas yang rapi atau materi yang lengkap.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu:

โ€ข mendukung guru,
โ€ข menjaga keamanan,
โ€ข memberikan intervensi perilaku yang efektif,
โ€ข dan memastikan bahwa seluruh siswa termasuk yang kesulitan mendapat tempat dan pendekatan yang tepat.

Karena pendidikan yang bermakna hanya bisa terjadi di ruang yang aman, terkelola, dan manusiawi bagi semua orang di dalamnya.

14/11/2025




Sungguh disayangkan, di tengah semangat pemerintah memperbaiki kualitas pendidikan, masih saja ada pemandangan yang membuat hati miris: guru yang hadir di sekolah, tapi tidak hadir di kelas. Secara administratif mereka โ€œhadirโ€, tapi secara tanggung jawab sesungguhnyaโ€”tidak.

Di ruang guru mereka tampak sibuk, ada yang mengobrol, ada yang asyik dengan gawai, bahkan ada yang mondar-mandir tanpa arah. Sementara di ruang kelas, murid-murid menunggu tanpa kejelasan. Jam pelajaran yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar malah terbuang percuma.

Padahal, kehadiran guru di kelas bukan sekadar kewajiban, tapi bentuk tanggung jawab moral terhadap anak-anak bangsa. Ketika guru abai terhadap jam mengajar, ada beberapa dampak serius yang bisa muncul. Mari dicek! โœจ

โœ…1. Murid kehilangan semangat belajar.
Murid yang sudah siap belajar akan kecewa ketika guru tak datang. Lama-lama, mereka jadi terbiasa dengan โ€œjam kosongโ€ dan menganggap belajar itu tidak penting.

โœ…2. Kedisiplinan murid ikut menurun.
Sulit menuntut murid disiplin kalau gurunya sendiri tidak memberi contoh. Keteladanan jauh lebih kuat daripada perintah.

โœ…3. Rekan guru lain jadi terbebani.
Kadang, guru lain yang peduli harus menenangkan kelas kosong atau membantu menjaga murid yang tidak terarah. Ini membuat suasana kerja tidak sehat.

โœ…4. Tanggung jawab profesional diabaikan.
Gaji, tunjangan, dan penghargaan yang diterima guru sejatinya adalah amanah dari kerja nyata. Jika tidak mengajar tapi tetap menerima haknya, itu perlu direnungkan bersama.

---

Guru adalah figur teladan, bukan hanya di depan kelas, tapi juga dalam setiap sikap. Jika seorang guru hadir secara fisik tapi tidak secara tanggung jawab, maka ruh dari profesi ini perlahan memudar.

Mari kita kembalikan makna hadir di sekolah: hadir sepenuhnya โ€” hati, waktu, dan tanggung jawab. Karena setiap menit yang kita berikan di kelas bisa menjadi bekal berharga bagi masa depan .

06/11/2025



Sistem pendidikan di banyak tempat sering kali terjebak dalam pola lama: mengutamakan hafalan daripada pemahaman. Anak-anak diajarkan untuk menjawab soal dengan benar, bukan untuk berpikir kritis. Mereka dituntut mengingat definisi, rumus, dan teori, tanpa benar-benar tahu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Akibatnya, sekolah menjadi tempat mengumpulkan nilai, bukan tempat menumbuhkan makna. Mereka bisa menjelaskan isi buku pelajaran, tapi sering bingung saat dihadapkan pada persoalan nyata yang butuh pemikiran reflektif.

Tantangan terbesar pendidikan modern bukanlah menyediakan fasilitas, teknologi, atau kurikulum canggihโ€”melainkan menumbuhkan jiwa pembelajar pada setiap individu. Dunia hari ini bergerak terlalu cepat untuk orang yang hanya bisa menghafal. Ilmu berubah, teknologi berkembang, dan kebutuhan manusia semakin kompleks. Maka, pendidikan sejati seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir mandiri, mencari tahu, menguji, dan terus belajar sepanjang hidupnya. Pendidikan bukan soal menumpuk pengetahuan, tapi membentuk cara berpikir yang membuat kita tak pernah berhenti tumbuh.

menciptakan kepatuhan, pembelajaran menumbuhkan kesadaran.

Ketika pendidikan hanya menuntut hafalan, siswa belajar untuk tunduk pada kunci jawaban. Mereka lebih sibuk mencari โ€œapa yang benar di mata guruโ€ daripada โ€œapa makna di balik kebenaran ituโ€. Ini menciptakan budaya kepatuhan tanpa kesadaranโ€”anak-anak yang pintar mengikuti perintah, tapi tidak berani bertanya. Mereka hafal teori, tapi tidak tahu kenapa teori itu penting.

Sebaliknya, pendidikan yang menumbuhkan pembelajar sejati mengajarkan keberanian berpikir. Siswa diajak mempertanyakan, mendiskusikan, bahkan tidak setuju dengan pendapat yang adaโ€”bukan untuk melawan, tapi untuk memahami lebih dalam. Dari sanalah muncul kesadaran: bahwa belajar bukan soal menghafal fakta, tapi memahami realitas. Pendidikan yang membebaskan bukan yang menuntut jawaban seragam, tapi yang menumbuhkan cara berpikir kritis dan sadar.

kerja tidak butuh penghafal, tapi pemecah masalah.

Banyak lulusan sekolah atau universitas yang berprestasi akademik tinggi, namun kesulitan menghadapi dunia kerja. Mereka pandai mengingat teori, tapi bingung ketika diminta membuat keputusan. Ini karena sistem pendidikan lebih menilai hafalan daripada kemampuan berpikir sistematis dan adaptif. Dunia nyata tidak memberikan soal pilihan ganda, tapi situasi kompleks yang butuh logika, kreativitas, dan empati.

Orang yang terbiasa belajar dengan rasa ingin tahu punya keunggulan besar. Ia tidak panik saat menghadapi hal baru karena terbiasa mencari cara, bukan mengandalkan hafalan. Di era di mana informasi bisa dicari di ujung jari, kemampuan mencari, memahami, dan memaknai jauh lebih penting daripada sekadar mengingat. Pendidikan sejati harus melatih daya pikir, bukan daya simpan. Karena yang bertahan bukan yang tahu paling banyak, tapi yang tahu bagaimana terus belajar.

mencari nilai, pembelajar mencari makna

Sistem nilai dan ujian sering kali membuat siswa belajar demi angka, bukan demi ilmu. Mereka mengukur keberhasilan dari nilai di rapor, bukan dari sejauh mana mereka memahami pelajaran. Ini menciptakan generasi yang cerdas di atas kertas, tapi kosong dalam makna. Nilai menjadi simbol status, bukan refleksi proses belajar yang sejati.

Sementara pembelajar sejati menilai diri dari kemajuan, bukan peringkat. Mereka tahu nilai bagus tidak selalu berarti paham, dan nilai jelek tidak berarti bodoh. Mereka mencari pengalaman yang mengubah cara berpikir, bukan hanya angka yang memuaskan ego. Pendidikan yang ideal seharusnya membantu siswa menemukan mengapa, bukan sekadar apa. Sebab ketika seseorang menemukan makna di balik ilmu, ia akan belajar bukan karena disuruh, tapi karena cinta.

sejati tidak hanya mengajar, tapi menyalakan rasa ingin tahu

Guru yang baik bukan hanya yang mampu menjelaskan pelajaran dengan jelas, tapi yang mampu membuat muridnya ingin tahu lebih. Pendidikan yang menekankan hafalan membuat guru jadi sumber informasi tunggal, sementara siswa hanya penerima pasif. Tapi pendidikan yang hidup justru membuat kelas menjadi ruang eksplorasi bersamaโ€”tempat guru dan murid sama-sama belajar.

Seorang guru sejati tahu bahwa tugasnya bukan menuangkan isi kepala ke dalam kepala murid, tapi menyalakan api keingintahuan di hati mereka. Ia tidak takut jika muridnya bertanya lebih jauh, bahkan melampaui batas buku teks. Karena ia tahu: ilmu bukan milik ruang kelas, tapi perjalanan tanpa akhir. Pendidikan sejati tidak mencetak murid yang bergantung, tapi membentuk manusia yang bisa mencari sendiri jalan pengetahuannya.

5. Masa depan dimiliki oleh mereka yang terus belajar, bukan yang merasa sudah tahu

Orang yang hanya menghafal berhenti belajar begitu pelajaran selesai. Tapi pembelajar sejati menganggap hidup itu sekolah abadi. Mereka membaca, berdialog, bereksperimen, dan tidak takut salah. Mereka tahu bahwa kebodohan bukan karena tidak tahu, tapi karena berhenti ingin tahu. Dunia akan selalu berubah, dan hanya mereka yang terus belajar yang akan tetap relevan.

Pendidikan sejati bukan persiapan menuju dunia kerja saja, tapi latihan menjadi manusia yang adaptif dan bijaksana. Maka, sekolah yang baik bukan yang mencetak banyak lulusan, tapi yang menanamkan cinta terhadap belajar. Karena begitu seseorang mencintai belajar, ia tak akan pernah berhenti tumbuhโ€”meski tanpa disuruh, tanpa ujian, tanpa nilai. Ia belajar karena sadar: satu-satunya cara untuk tidak tertinggal adalah terus membuka diri pada pengetahuan baru.

Tantangan pendidikan hari ini bukan soal bagaimana membuat siswa mengingat lebih cepat, tapi bagaimana membuat mereka berpikir lebih dalam. Kita tidak butuh generasi penghafal yang patuh pada buku, tapi generasi pembelajar yang berani bertanya, mencoba, dan menemukan makna di balik ilmu. Pendidikan yang sejati tidak hanya menyiapkan mereka untuk menghadapi ujian sekolah, tapi ujian kehidupan.

Mungkin inilah saatnya kita mengubah arah: dari sistem yang mencetak kepatuhan menuju sistem yang menumbuhkan kesadaran. Karena bangsa tidak akan maju oleh orang yang sekadar hafal rumus, tapi oleh mereka yang tahu bagaimana belajar dari hidup. Dan pada akhirnya, pendidikan terbaik bukan yang membuatmu tahu segalanya, tapi yang membuatmu terus ingin tahu sepanjang hidupmu.

05/11/2025




"Anak Muda yang Mencuri Roti โ€” dan Hakim yang Mengajarkan Dunia Sebuah Pelajaran"

Di ruang sidang yang penuh sesak, seorang anak muda berusia 15 tahun berdiri dengan gemetar, kepalanya tertunduk. Ia telah tertangkap mencuri โ€” bukan uang, bukan emas โ€” tapi sepotong roti dan keju. Ketika penjaga toko mencoba menghentikannya, ia melawan, dan dalam pergumulan itu, sebuah rak jatuh.

Hakim memandangnya dan bertanya dengan lembut, "Apakah kamu benar-benar mencuri barang-barang itu?"

"Ya, tuan," jawab anak muda itu lirih.

"Mengapa?" tanya hakim.

"Karena saya membutuhkannya," jawabnya.

"Kamu bisa membelinya," kata hakim.

"Saya tidak punya uang," jawab anak muda itu.

"Maka, tanyakan pada keluarga kamu," saran hakim.

"Saya hanya memiliki ibu, tuan... dia sakit dan tidak bekerja. Roti dan keju itu untuknya," jelas anak muda itu.

Ruang sidang menjadi sunyi. Hakim bertanya lagi, "Tidakkah kamu bekerja?"

"Saya mencuci mobil, tuan... tapi saya mengambil cuti untuk merawat ibu saya," jawab anak muda itu.

"Apakah kamu meminta bantuan kepada seseorang?" tanya hakim.

"Saya meminta-minta sejak pagi... tapi tidak ada yang membantu," jawabnya.

Hakim bersandar di kursinya. Matanya menjadi lembut, dan setelah sejenak diam, ia mulai membacakan putusannya:

"Pencurian โ€” terutama pencurian roti โ€” adalah kejahatan yang sangat buruk. Tapi hari ini, setiap orang di ruang sidang ini berbagi rasa bersalah atas pencurian ini โ€” termasuk saya. Karena jika seorang anak harus mencuri makanan untuk ibunya yang sakit, maka kita sebagai masyarakat telah gagal melakukannya."

Kemudian, untuk semua yang hadir, ia mengumumkan: "Saya denda setiap orang yang hadir di sini, termasuk saya sendiri, sebesar $10 masing-masing karena membiarkan kelaparan ada di kota kita. Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini sampai mereka membayar."

Ia meletakkan $10 dari kantongnya sendiri di atas meja.

"Dan," lanjut hakim, "saya menjatuhkan denda sebesar $1.000 kepada pemilik toko karena menyerahkan anak yang kelaparan kepada polisi, bukan memberinya makanan. Jika tidak dibayar dalam waktu 24 jam, pengadilan akan memerintahkan toko tersebut untuk disegel."

Ketika sidang berakhir, ruang sidang dipenuhi air mata. Anak muda itu berdiri diam โ€” dengkurannya berhenti โ€” menatap hakim dengan mata penuh rasa syukur dan tak percaya.

Pada hari itu, keadilan bukan hanya dijatuhkan; itu dirasakan. Karena keadilan yang sebenarnya bukan tentang menghukum yang lemah โ€” tapi tentang memperbaiki kesalahan masyarakat.

"Peradaban tidak berkembang karena agama atau kekayaan โ€” mereka berkembang ketika mereka memiliki kemanusiaan."

Sumber: LinkedIn

01/11/2025



Pernah nggak sih kamu merasa suasana yang awalnya harmonis tiba-tiba berubah jadi tegang hanya karena omongan seseorang? Nah, mungkin orang tersebut adalah tipe yang s**a mengadu domba. Perilaku ini sering kali tidak disadari, tapi dampaknya bisa besar, lho! Orang yang s**a mengadu domba biasanya pintar memanipulasi situasi, memanfaatkan kata-kata untuk membuat orang lain berselisih. Yuk, kenali ciri-cirinya supaya kamu lebih waspada!



Orang yang s**a mengadu domba biasanya punya kebiasaan membicarakan orang lain di belakang. Awalnya, obrolannya mungkin terdengar biasa saja, seperti sekadar gosip ringan. Namun, lama-lama, topik pembicaraannya mulai menyudutkan satu pihak dan memancing orang lain untuk ikut terlibat dalam drama tersebut. Mereka pandai membuat cerita terdengar sangat meyakinkan, sehingga kamu mungkin terjebak untuk ikut berpihak tanpa menyadarinya.



Orang yang s**a mengadu domba adalah mereka yang pintar memainkan kata-kata. Mereka tahu cara membuat satu pihak merasa marah atau kesal terhadap pihak lain, meskipun mungkin masalahnya sangat sepele. Dalam percakapan, mereka akan memotong atau menambahkan detail yang sebenarnya tidak ada, hanya untuk menciptakan konflik. Tujuannya? Supaya dua pihak yang awalnya baik-baik saja jadi saling tidak percaya.



Ini salah satu trik paling halus dari orang yang s**a mengadu domba. Mereka sering kali berpura-pura netral di depan orang lain. Saat berbicara denganmu, mereka akan tampak seolah-olah mendukung atau bersimpati pada masalah yang sedang kamu hadapi. Tapi sebenarnya, di belakang, mereka membicarakan hal yang berbeda dengan pihak lain. Mereka seperti serigala berbulu domba, berusaha tampak manis tapi sebenarnya memancing keributan dari kedua sisi.



Orang yang s**a mengadu domba juga senang membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sepele. Hal kecil yang mungkin bisa diselesaikan dengan diskusi santai, mereka ubah menjadi masalah besar. Mereka akan terus memancing reaksi dari orang lain dengan kata-kata provokatif, membuat situasi tampak lebih parah daripada kenyataannya. Dengan cara ini, mereka berhasil membuat suasana jadi lebih panas dan tegang.



Salah satu tanda paling jelas dari orang yang s**a mengadu domba adalah ketidakkonsistenan dalam cerita mereka. Mereka cenderung memberikan versi yang berbeda-beda pada setiap orang yang mereka ajak bicara. Misalnya, mereka bercerita tentang satu kejadian kepada A dengan satu versi, dan kepada B dengan versi yang berbeda lagi. Perbedaan ini sengaja dibuat untuk memicu ketegangan antara dua pihak.



Orang yang s**a mengadu domba biasanya juga gemar menghasut. Mereka berusaha meyakinkan orang lain bahwa pihak tertentu punya niat buruk atau sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik. Dengan cara ini, mereka menciptakan suasana curiga yang pada akhirnya membuat orang-orang di sekitarnya terjebak dalam konflik yang mereka buat sendiri.



Salah satu ciri lain dari orang yang s**a mengadu domba adalah mereka jarang sekali mau bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi. Setelah berhasil memancing konflik, mereka akan segera menghindar dan berpura-pura tidak terlibat. Bahkan, mereka mungkin berlagak bingung dan ikut merasa โ€œterkejutโ€ dengan masalah yang terjadi, padahal merekalah dalangnya.

Menghadapi orang yang s**a mengadu domba memang perlu kehati-hatian. Salah satu cara terbaik untuk melindungi diri adalah dengan tidak mudah percaya pada gosip atau cerita sepihak. Cobalah untuk selalu mendengarkan dua sisi cerita sebelum mengambil keputusan. Selain itu, jangan ragu untuk menjaga jarak dari orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda ini, ya!

Semoga artikel ini membantu kamu lebih waspada terhadap orang-orang yang s**a menimbulkan konflik di sekitar kita. Ingat, menjaga kedamaian dan hubungan baik dengan orang lain jauh lebih penting daripada terjebak dalam drama yang tidak perlu.

22/10/2025

Address

Belinyu

Opening Hours

Monday 07:00 - 14:00
Tuesday 07:00 - 14:00
Wednesday 07:00 - 14:00
Thursday 07:00 - 14:00
Friday 07:00 - 13:00
Saturday 07:00 - 13:00

Telephone

+62777327412

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nicholas Ziga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Nicholas Ziga:

Share