GSA DAILY

GSA DAILY بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Biografi KH. M. Arwani Amin Said (Mbah Arwani Kudus)KH. M. Arwani Amin Said lahir pada hari Selasa Kliwon pukul 11.00 si...
05/06/2026

Biografi KH. M. Arwani Amin Said (Mbah Arwani Kudus)

KH. M. Arwani Amin Said lahir pada hari Selasa Kliwon pukul 11.00 siang tanggal 15 Rajab 1323 H bertepatan dengan 5 September 1905 M di Kampung Kerjasan, Kota Kudus, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Amin Said dan Hj.Wanifah.

Nama asli beliau sebenarnya adalah Arwan. Tambahan “i” di belakang namanya menjadi “Arwani” itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari ibadah haji yang pertama pada tahun 1927. Sementara Amin bukanlah sebuah gelar, melainkan merupakan nama depan ayahnya, yakni H. Amin Sa’id.

KH. Arwani Amin adalah putra kedua dari 12 bersaudara, saudara-saudara beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhah dan Ulya.
Dari sekian saudara Mbah Arwani (demikian panggilan akrab KH. M. Arwani Amin), yang dikenal sama-sama menekuni Al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in. Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius, karena sudah hafal Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum Mbah Arwani, yakni pada umur 9 tahun. Bahkan, adiknya itu telah menghafal Hadis Bukhari Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.

Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orang tuanya yang senang membaca Al-Qur’an. Di mana orang tuanya selalu mengkhatamkan membaca Al-Qur’an meski tidak hafal. Selain barokah, orang tuanya yang cinta kepada Al-Qur’an, tapi juga KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama.

Semasa hidupnya, beliau juga mengajarkan Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah yang pusat kegiatannya bertempat di Masjid Kwanaran. Beliau memilih tempat ini karena suasana di sekeliling cukup sepi dan sejuk. Di samping itu tempatnya dekat perumahan dan Sungai Gelis yang airnya jernih untuk membantu penyediaan air untuk para peserta "kholwat".

Riwayat Keluarga

Mbah Arwani Kudus menikah dengan Ibu Nyai Hj. Naqiyul Khod. Beliau menikah pada tahun 1935 M di mana pada saat itu status beliau adalah seorang santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Ibu Naqi adalah putri Kudus, yang kebetulan cucu dari guru atau kyainya sendiri yaitu KH. Abdullah Sajad.

Dari pernikahannya dengan Nyai Naqiyul Khud ini, KH. M. Arwani Amin diberi dua putri dan dua putra. Putri pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini menginggal dunia sewaktu masih bayi.

Dua anak yang masih tersisa adalah kedua putra beliau, yang kelak meneruskan perjuangan dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau adalah KH. Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH. Ulil Albab Arwani (Gus Bab). Kelak, dalam menahkodai pesantren itu, mereka dibantu oleh KH. Muhammad Manshur. Salah satu khadam KH. M. Arwani Amin yang kemudian dijadikan sebagai anak angkatnya.

Wafat

Dengan keharuman namanya dan berbagai pujian dan sanjungan penuh rasa hormat dan ta’dhim atas kealimannya, beliau wafat pada tanggal 25 Rabiul Akhir tahun 1415 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober tahun 1994 M dalam usia 92 tahun (dalam hitungan Hijriah). Beliau dimakamkan di Komplek Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus.

Sanad Ilmu dan Pendidikan

KH. M. Arwani Amin dan adik-adiknya sejak kecil hanya mengenyam pendidikan di madrasah dan pondok pesantren. Kyai Arwani kecil memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Beliau masuk di madrasah ini sewaktu berumur 7 tahun. Madrasah ini merupakan madrasah tertua yang ada di Kudus yang didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Salah satu pimpinan madrasah ini di awal-awal didirikannya adalah KH. Abdullah Sajad.

Setelah sudah semakin beranjak dewasa, beliau akhirnya memutuskan untuk meneruskan ilmu agama Islam ke berbagai pesantren di tanah Jawa, seperti Solo, Jombang, Yogyakarta dan sebagainya. Dari perjalanannya berkelana dari satu pesantren ke pesantren itu, beliau bertemu dengan banyak kyai yang akhirnya menjadi gurunya (masyayikh).

Adapun sebagian guru yang mendidik KH. M. Arwani Amin di antaranya adalah KH. Abdullah Sajad (Kudus), KH. Imam Haramain (Kudus), KH. Ridhwan Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Muhammad Manshur (Solo), KH. M. Munawir (Yogyakarta) dan lain-lain.

Selama mencari ilmu, baik di Kudus maupun di berbagai pondok pesantren yang disinggahinya, KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai pribadi yang santun dan cerdas. Karena kecerdasannya dan sopan santunnya yang halus itulah, maka banyak dari kyainya yang terpikat. Karena itulah pada saat mondok KH. M. Arwani Amin sering dimintai oleh kyainya untuk membantu mengajar santri-santri lain. Lalu memunculkan rasa sayang di hati para kyainya.

Beliau hidup di lingkungan masyarakat santri yang sangat ketat dalam menghayati dan mengamalkan agama. Oleh karena itu wajar saja jika beliau tumbuh menjadi seorang yang memiliki perangai halus, sangat berbakti kepada kedua orang tua, mempunyai solidaritas yang tinggi, rasa setia kawan dan s**a mengalah tapi tegas dalam memegang prinsip.

Kyai Arwani dikaruniai kecerdasan dan minat yang kuat dalam menuntut ilmu. Pada masa remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu mengembara dari pesantren ke pesantren. Tidak kurang dari 39 tahun hidup beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu dari kota ke kota yang dimulai dari kotanya sendiri, yaitu Kudus. Kemudian dilanjutkan ke Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Tebuireng, Jombang, Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta dan diakhiri di Pesantren Popongan Klaten.

Perjalanan Hidup dan Dakwah

Beliau mengajarkan Al-Qur’an pertama kali sekitar tahun 1942 di Masjid Kenepan, Kudus yaitu setamat beliau nyantri dari Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Pada periode ini santri-santri beliau kebanyakan berasal dari luar Kota Kudus. Seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit santri beliau semakin bertambah banyak, bukan hanya dari Kudus dan sekitarnya, tapi ada yang berasal dari luar provinsi bahkan dari luar Pulau Jawa. Kemudian beliau membangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti Sumber Al-Qur'an. Pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1393 H/1979 M.

Pesantren Yanbu’ul Qur’an adalah pondok huffadz terbesar yang ada di Kota Kudus. Santrinya tak hanya dari Kota Kudus, tetapi dari berbagai kota di Nusantara. Bahkan, pernah ada beberapa santri yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Murid-Murid

Ribuan murid telah lahir dari pondok yang dirintis KH. M. Arwani Amin tersebut. Banyak dari mereka yang menjadi ulama dan tokoh. Sebut saja di antara murid-murid KH. M. Arwani Amin yang menjadi ulama adalah:

KH. Abdullah Salam (Kajen Pati)

KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus)

KH. Muhammad Hisyam Hayat (Kudus)

KH. Nawawi Abdul Aziz (Bantul)

KH. Muhammad Marwan (Mranggen Demak)

KH. Muhammad Manshur (Kudus)

KH. Abdul Wahab (Benda Bumiayu)

KH. Muharror Ali (Blora)

KH. Najib Abdul Qodir (Yogyakarta)

KH. Ahmad Hafidz (Mojokerto)

KH. Abdullah Umar (Semarang)

KH. Hasan Mangli (Magelang)

Menjadi Pimpinan JATMAN

KH. M. Arwani Amin juga pernah menjadi Pimpinan Jam’iyah Ahli Ath-Thariqat Al-Mu’tabarah yang didirikan oleh para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 M. Dalam Muktamar NU 1979 di Semarang nama organisasi tersebut diubah menjadi Jam’iyyah Ahl Ath-Thariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Sosok Ahli Qur’an

Sewaktu masih belajar Qiraat Sab’ah pada KH. Munawwir di Krapyak yang pelajarannya dimulai pada pukul 02.00 dini hari sampai menjelang Subuh, beliau sudah siap pada pukul 12.00 malam. Dan sambil menunggu waktu pelajaran dimulai beliau manfaatkan untuk melaksanakan shalat sunnah dan dzikir. Kebiasaan tersebut tetap berlanjut setelah beliau kembali dan bermukim di Kudus.

Biasanya beliau mulai tidur pukul 20.00 WIB dan bangun pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan melaksanakan shalat sunnah dan dzikir. Apabila sudah lelah, beliau kemudian tidur lagi, kira-kira selama satu sampai dua jam kemudian bangun lagi untuk melaksanakan shalat dan dzikir, begitu setiap malamya sehingga bila dikalkulasi beliau hanya tidur dua sampai tiga jam setiap malamnya.

KH. M. Arwani Amin Said dikenal oleh msyarakat di sekitarnya sebagai seorang ulama yang memiliki kelebihan yang luar biasa. Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang wali. Beberapa santrinya mengatakan bahwa KH. Arwani Amin memiliki indra keenam dan mengetahui apa yang akan terjadi dan melihat apa yang tidak terlihat.
Menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orang tuanya yang senang membaca Al-Qur’an. Orang tuanya selalu menghatamkan membaca Al-Qur’an meski tidak hafal.

Selain barokah orang tuanya yang cinta kepada Al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada para ulama.

Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu. Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.

Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah putri dari H. Abdul Hamid bin KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri.

Teladan

KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai seorang ulama yang sangat tekun dalam menekuni ilmu dan juga dalam beribadah. Dalam melaksanakan shalat wajib, beliau selalu tepat waktu dan senantiasa berjamaah meskipun dalam keadaan sakit. Kebiasaan tersebut sudah beliau jalani sejak masih nyantri di berbagai pesantren hingga akhir hayat beliau.

Chart Silsilah Sanad

Berikut ini chart silsilah sanad guru KH. M. Arwani Amin Said (Mbah Arwani Kudus) dapat dilihat di sini, dan chart silsilah sanad murid beliau dapat dilihat di sini.

By: GSA DAILY
Sumber: Laduni

KH. Abu Chaer Kisahkan tentang Kiai Arwani Kudus yang Jago Kitab KuningSelama ini jika mendengar nama KH. Arwani Amin Ku...
05/06/2026

KH. Abu Chaer Kisahkan tentang Kiai Arwani Kudus yang Jago Kitab Kuning

Selama ini jika mendengar nama KH. Arwani Amin Kudus, yang terlintas adalah ulama ahli Qiraat. Atau jika pendengarnya orang-orang sepuh, maka yang terfikir beliau mursyid thariqoh. Jarang sekali yang menilik sisi kealiman KH. Arwani Kudus dalam bidang kitab kuning.

Nah, catatan KH. Abu Chaer bin Abdul Mannan Kaliwungu Kendal ini memberikan sedikit gambaran tentang itu.

KH. Abu Chaer adalah ulama besar asal Kaliwungu, Kendal. Masa mudanya, beliau habiskan untuk nyantri ke berbagai daerah di Jawa. Mulai dari Kaliwungu daerah asal beliau sendiri, Tebuireng Jombang, hingga Tremas Pacitan.

Guru-guru dan kitab-kitab yang KH. Abu Chaer pelajari, beliau rekam dalam sebuah kitab Minhah Al-Hannan fi Tarjamah Ibn Abdil Mannan. Kitab ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (sebagaimana gambar di bawah ini).

Dalam kitab ini, KH. Abu Chaer menjelaskan bahwa pertama kali mondok di Tebuireng Jombang adalah pada bulan Syawal 1345 H. Beliau diterima di kelas V Madrasah Salafiyyah Tebuireng. Saat itu salah satu guru yang mengajar beliau adalah KH. Arwani Amin Kudus.

KH. Abu Chaer mencatat:

الشيخ القارئ أرواني القدسي، يدرسنا متن ألفية ابن مالك، وزبد ابن رسلان، ومتن الكافي في العروض والقوافي لأحمد بن شعيب القنائي، وشيئا من عدة الفارض للشيخ سعيد بن سعد بن نبهان، وشيئا من الجغرافية الحديثة لأحمد محافظ
"(Di antara guru yang mengajar kala itu adalah) KH. Arwani Amin Kudus Al-Qari'. Beliau mengajari saya:

Matan Alfiyyah karya Imam Ibni Malik (fan Nahwu dan Shorof).

Nadham Zubad karya Imam Ibnu Rulsan (fan Fiqh madzhab Syafi'i).

Matan Al Kafi karya Syaikh Ahmad bin Syu'aib Al-Qanna'i (fan Arudl dan Qawafi).

Sebagian kitab 'Iddatul Faridl karya Syaikh Said bin Sa'd bin Nabhan (fan Ilmu Waris Islam).

Sebagian kitab Al-Jughrafiyyah Al-Haditsah karya Ahmad Muhfidh (fan Geografi Modern)."

Jika lihat kitab-kitab yang KH. Arwani Amin ajarkan saat masih di Tebuireng, kita dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah Allamah yang Mutafannin. Tidak hanya pakar dalam ilmu qiraat dan thariqah saja, melainkan juga Nahwu dan Shorof, Fiqh, Arudl, Faraidl, dan bahkan mengajarkan ilmu Geografi Modern juga.

Tambahan informasi dari Yai Aslim Akmal, bahwa KH. Arwani Amin meneruskan wadhifah mengajar kitab Shohih Al-Bukhari dan Tafsir Al-Jalalain di Masjid Menara Kudus pasca kewafatan KHR. Asnawi Kudus pada tahun 1959 M. Wadhifah itu beliau jalankan hingga sebelum sakit berat yang beliau alami.

Semoga Allah menciptakan Mbah Arwani-Mbah Arwani baru dari anak cucu kita. Aamiin.(*)
***
Penulis: Gus Nanal Ainal Fauz
By: GSA DAILY
Sumber: Laduni

Santri Perlu Tahu, Ini 7 Kitab Dasar yang Diajarkan di PesantrenDalam dunia pesantren khususnya pesantren salaf, kitab k...
05/06/2026

Santri Perlu Tahu, Ini 7 Kitab Dasar yang Diajarkan di Pesantren

Dalam dunia pesantren khususnya pesantren salaf, kitab kuning menjadi rujukan utama. Yang menarik, kitab kuning yang diajarkan telah memiliki umur yang cukup lama, hingga ratusan tahun tetap terjaga keasliannya. Berikut akan kami share tujuh kitab dasar yang dipelajari di pesantren salaf dari berbagai macam cabang ilmu agama.

1. Kitab Al-Ajurumiyah

Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami.

2. Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah

Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah.

3. Kitab Mushtholah Al-hadits

Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu.

4. Kitab Arba’in Nawawi

Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak.

5. Kitab At-Taqrib

Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib.

6. Kitab Aqidatul Awam

Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat.

7. Kitab Ta’limul Muta’alim

Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Sungguh kaya khazanah ilmu pengetahuan Islam yang ada di dunia pesantren. Ada sekitar 200 judul kitab dipelajari di pesantren menurut data yang pernah dikemukakan oleh Gus Dur. Kalangan pesantren terus berupaya agar kebudayaan pesantren ini dapat eksis di tengah perubahan zaman dan globalisasi. Literasi kebudayaan salaf ini mampu menunjukkan kiprah para ulama sebagai warotsatul ambiya’ (pewaris para Nabi). Wallahua’lam bishshowab.

*) Artikel ini ditulis oleh Faiz Ainur Razi, Alumni Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

By: GSA DAILY
Sumber: Laduni

Kisah Singkat di Balik Penulisan Kitab Shalawat Dala’il Al-KhayratKitab Dala'il al-Khayrat (دلائل الخیرات) atau Dalaail ...
05/06/2026

Kisah Singkat di Balik Penulisan Kitab Shalawat Dala’il Al-Khayrat

Kitab Dala'il al-Khayrat (دلائل الخیرات) atau Dalaail u'l Khayraat Wa Shawaariq u'l Anwaar Fee Zikri Salaat Alan Nabiyyi'l Mukhtaar (artinya: Tanda Manfaat dan Cahaya Cemerlang Lampu dalam Peringatan Berkat pada Pilihan Nabi) adalah kumpulan doa yang terkenal untuk Nabi Islam Muhammad, yang ditulis oleh Sufi Maroko Shadhili dan cendekiawan Islam Muhammad Sulaiman al-Jazuli ash Shadhili (w. 1465 M./ 872 H.).

Imam Muhammad Aljazuli Al-Hasani penyusun kitab Dalailul Khairat, beliau adalah pengikut thariqoh Imam Abul Hasan As-Syadzili Al-Hasani. Alasan beliau mengarang kitab Dalailul Khairat dikarenakan pernah sekali waktu beliau ingin berwudhu lalu mendatangi sumur, ternyata di Sumur tersebut tidak ada timba dan tali untuk mencinduk air dari sumur tersebut.

Maka beliau pun duduk dalam keadaan kebingungan di depan sumur tersebut karena sudah dekat masuk waktu sholat. Tiba-tiba lewat seorang perempuan pengembala kambing melihat syekh Jazuli di pinggir sumur dalam keadaan bingung, maka perempuan tersebut berkata: "kamu mau air?”. Maka, Syekh Jazuli berkata “iya”.

Perempuan tersebut lalu meludah ke dalam sumur, maka air tersebut naik dengan sendirinya sampai ke bibir sumur. Syekh Jazuli takjub dengan apa yang dilakukan oleh perempuan tersebut dan bertanya, “bagaimana kamu bisa sampai ke derajat ini?”. Perempuan tersebut menjawab: “dengan shalawat kepada Nabi, Anda seorang Syekh bagaimana bisa tidak mengetahui haqiqat shalawat kepada Nabi?”

Mendengar jawaban itu, Syekh Jazuli ber-azam untuk mengumpulkan shalawat kepada Nabi dari berbagai kitab dan dijadikan 1 kitab. Jadilah 1 kitab yang disebutkan dan diterimah oleh sebagian besar muslimin dan tersebar di seluruh dunia.

Beliau wafat dalam keadaan syahid diracun, karna beliau memiliki pengaruh yang sangat besar, tidak kurang dari 20 ribu orang selalu hadir ke majlis beliau hanya untuk membaca shalawat kepada Nabi.

Kitab ini populer di beberapa bagian dunia Islam di kalangan Muslim tradisional - khususnya Afrika Utara, Levant, Turki, Kaukasus, dan Asia Selatan dan dibagi menjadi beberapa bagian untuk pembacaan harian.

Sarjana hadits Maroko 'Abdullah al-Talidi menulis tentang Dala'il al-Khayrat: "Jutaan Muslim dari Timur ke Barat mencobanya dan menemukan yang baik, berkahnya, dan manfaatnya selama berabad-abad dan dari generasi ke generasi, dan menyaksikan kerohaniannya yang luar biasa. berkah dan cahaya. Orang-orang Muslim dengan bersemangat membacanya, sendirian dan dalam kelompok, di rumah-rumah dan masjid-masjid, benar-benar menghabiskan diri mereka dalam Berkat bagi Yang Terkasih dan memujinya."

Dala'il al-Khayrat adalah buku besar pertama dalam sejarah Islam yang mengumpulkan litani perdamaian dan berkah bagi Muhammad. Ini juga merupakan kumpulan litani yang paling populer dan paling terkenal yang meminta Tuhan untuk memberkatinya. Di antara beberapa perintah agama Sunni, terutama ordo Shadhili-Jazuli, pembacaannya adalah praktik sehari-hari. Namun di yang lain, pembacaannya adalah praktik harian murni s**arela.(*)
***
By: GSA DAILY
Sumber: Laduni

Silsilah “Keilmuan” Kiai Mutamakkin Bersambung Hingga ke Yaman?Waktu kecil dulu, melalui penuturan dari masyarakat sekit...
05/06/2026

Silsilah “Keilmuan” Kiai Mutamakkin Bersambung Hingga ke Yaman?

Waktu kecil dulu, melalui penuturan dari masyarakat sekitar di desa saya (desa Cebolek, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah), saya kerap mendengar kisah tentang Kiai Cebolek atau Kiai Mutamakkin (hidup kira-kira pada pertengahan abad ke-17 dan awal abad ke-18) yang melakukan perjalanan ajaib ke Timur Tengah dengan berkendaraan "jin".

Dalam perjalanan balik ke tanah air dan sampai di laut Jawa, ia dilemparkan oleh jin itu ke laut. Ia kemudian ditolong oleh ikan yang di daerah saya disebut sebagai “iwak mladang". Ia kemudian terdampar di pantai yang berbatasan dengan desa yang belakangan disebut Cebolek, desa saya.

Tentu saja sulit memverifikasi kebenaran kisah ini, karena ia hanya merupakan cerita turun-temurun di kalangan warga yang tinggal di desa Cebolek dan sekitarnya. Kisah Kiai Mutamakkin (terutama pengadilannya oleh Keraton Surakarta) diabadikan dalam Serat Cebolek yang konon ditulis oleh pujangga Surakarta, Yasadipura I (menurut keterangan Prof. Soebardi yang mengedit dan menerbitkan naskah serat ini).

Pertanyaannya: Mungkinkah Kiai Mutamakkin melakukan perjalanan dari daerah asalnya di Tuban, Jawa Timur, ke Timur Tengah? Di manakah persisnya daerah di Timteng yang dikunjungi oleh Kiai Mutakammin? Untuk tujuan apa dia melakukan perjalanan itu?

Jawabannya sangat mungkin, tidak dengan naik jin, melainkan kapal layar -- modus transportasi yang amat populer pada era itu untuk menghubungkan kawasan Arab, India, dan Nusantara. Karena Kiai Mutamakkin berasal dari keluarga bangsawan di Kadipaten Tuban, sangatlah mungkin perjalanan ini dia lakukan -- terutama dari segi biaya transportasi. Penjelasannya adalah berikut ini.

Ada informasi yang menarik terkait dengan "silsilah keilmuan" Kiai Mutamakkin. Konon, dia mengikuti tarekat Naqshabandiyyah dan berbai'at dengan seorang mursyid dari Yaman bernama Shaikh Al-Zain al-Mizjaji yang meninggal pada 1633. Mizjaj adalah sebuah desa di kota Zabid, Yaman. Zabid sendiri adalah kota yang sangat dikenal sebagai pusat para ulama besar. Pengarang syarah atas kitab Ihya' (berjudul "Ithaf al-Sadat al-Muttaqin"), misalnya, berasal dari daerah ini.

Tak ada keterangan yang detil mengenai Shaikh Al-Zain ini. Yang saya jumpai adalah penjelasan mengenai puteranya, yaitu Shaikh Abdul Khaliq ibn al-Zain al-Mizjaji yang wafat pada 1740, sebagaimana termuat dalam karya al-Syaukani, "al-Badr al-Thali' Bi-Mahasin Man Ba'da al-Qarn al-Sabi'". Shaikh Abdul Khaliq al-Mizjaji adalah guru dari Imam al-Amir al-Shan'ani, pengarang kitab "Subulus Salam", syarah atas kitab "Bulugh al-Maram" -- keduanya sangat populer di kalangan pesantren NU.

Dengan kata lain, pengarang Subulus Salam ini hidup satu generasi setelah Kiai Mutamakkin. Dan secara tak langsung, ada kaitan "intelektual" antara al-Amir al-Shan'ani dengan Kiai Mutamakkin melalui sosok Abdul Khaliq ibn al-Zain al-Mizjaji, putera dari gurunya itu.

Kemungkinan Kiai Mutamakkin berkunjung dan belajar di Yaman sangat besar, sebab dia berasal dari Tuban, kota pelabuhan penting sejak zaman Majapahit. Hubungan antara Tuban dan Yaman sudah pasti telah terjalin pada era ketika Kiai Mutamakkin hidup, yaitu abad ke-17. Kehadiran orang-orang Arab dari daerah Yaman (kemudian membentuk apa yang sering disebut sebagai "komunitas hadrami") di kawasan Nusantara telah mulai sejak abad ke-13 (baca: Frode Jacobsen, "Hadrami-Arab in Present-day Indonesia" [2009]). Mereka inilah yang, antara lain, terlibat dalam Islamisasi yang massif di kawasan ini.

Pada era Kiai Mutamakkin, sudah bisa dipastikan bahwa hubungan laut antara kawasan Nusantara dan Arab sudah terjalin erat. Kegiatan berlayar (biasa disebut "seafaring") bolak-balik antara Jawa-Yaman merupakan kegiatan yang biasa pada zaman itu, sama biasanya dengan orang-orang Indonesia yang bolak-balik Jakarta-Jeddah untuk umrah saat ini.

Bagi seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan seperti Kiai Mutamakkin, tentu perjalanan laut seperti ini bukan hal yang sulit dilakukan.

Dalam kisah-kisah yang saya dengar di daerah Kajen dan sekitarnya, ada penuturan yang menarik bahwa Kiai Mutamakkin menggemari wayang. Kisah yang ia s**ai adalah lakon Dewa Ruci dan Bima. Kisah ini melambangkan persatuan antara jagad besar dan jagad cilik, serta mengandung elemen-elemen tasawwuf wujudiyyah yang kuat (manunggaling kawula-Gusti).

Jika benar bahwa Kiai Mutamakkin pernah belajar di Yaman, maka pengaruh ajaran wujudiyyah yang ada pada sosok ini kemungkinan berasal dari Yaman, sebab di kawasan ini pengaruh ajaran Ibn Arabi sangat kuat. Bahkan berkembang corak ajaran Ibn Arabi yang khas Yaman (sebagaimana pernah dicatat oleh Prof. Alexander D. Knysh, sarjana ahli Ibn Arabi yang mengajar di University of Michigan, Ann Arbor).

Tentu saja tidak tertutup kemungkinan bahwa pengaruh wujudiyyah diperoleh oleh Kiai Mutamakkin melalui ajaran-ajaran yang berkembang di Jawa, terutama ajaran Syekh Siti (Sidi?) Jenar.

Informasi lain menyebutkan bahwa selain Naqshabandiyyah, salah satu tarekat yang diikuti oleh Kiai Mutamakkin adalah tarekat Syattariyyah (tarekat yang lahir di Persia dan memiliki banyak pengaruh di kalangan raja-raja Aceh, Banten, Cirebon dan Surakarta). Kita tahu, ada elemen-elemen wujudiyyah yang sangat kuat dalam tarekat Syattariyyah ini sebagaimana tergambar dalam ajaran "martabat tujuh" (tokoh di Jawa Barat yang dikenal dengan ajaran ini adalah Syekh Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya).

Terkait dengan sosok Al-Zain al-Mizjaji, guru Kiai Mutamakkin ini, ada hal lain yang menarik. Seperti kita tahu, salah satu tokoh penting di daerah Kajen adalah Kiai Abdullah Salam, paman dari Kiai Sahal Mahfudz yang dikenal dengan gagasannya tentang "fikih sosial" itu. Nama lengkapnya adalah Abdullah Zain bin Abdussalam bin Abdullah, dan masih merupakan keturunan dari Kiai Mutamakkin.

Nama Abdullah Zain, bagi saya, agak aneh dalam tradisi Jawa. Biasanya, nama Zain dipakai dalam bentuk idafah, digabung dengan kata lain sesudahnya. Misalnya: Zainuddin atau Zainal Arifin. Tetapi, dalam kasus Kiai Abdullah Zain, nama Zain dipakai bukan dalam bentuk idafah, tetapi berdiri sendiri.

Apakah nama Zain dalam Abdullah Zain ini untuk mengenang dan "tafa'ulan" dengan guru Kiai Mutamakkin, yaitu al-Zain al-Mizjaji yang berasal dari Yaman itu? Boleh jadi, info tentang guru Kiai Mutamakkin itu masih beredar di zaman generasi Mbah Dullah sepuh (Kiai Abdullah), kakek dari Kiai Abdullah Zain. Pada generasi saya, info ini tampaknya sudah hilang. Tentu, ini hanya spekulasi saya saja. Saya tak memiliki bukti apapun kecuali hanya menerka-nerka nama "Zain" yang menempel pada Kiai Abdullah, dan agak unik ini.
Wallahu a'lam.
___________________________
[Catatan: Apa yang saya tulis di sini masih memerlukan penelitian lebih jauh, karena informasi yang termuat di dalamnya belum sepenuhnya bisa diverifikasi].
Keterangan gambar: Serat Cebolek yang memuat kisah tentang salah satu faset dalam kehidupan Kiai Mutamakkin, karya pujangga Surakarta Yasadipura I.
(Kiai Ulil Abshar Abdalla)
By: GSA DAILY
Sumber: Laduni

Sejarah Nasi Kebuli, Asal Hadramautkah?Habib Ali Al-Habsyi, yang wafat pada tahun 1968 pada usia 102 tahun, telah menyel...
05/06/2026

Sejarah Nasi Kebuli, Asal Hadramautkah?

Habib Ali Al-Habsyi, yang wafat pada tahun 1968 pada usia 102 tahun, telah menyelenggarakan acara Maulid Nabi di Kwitang selama 51 tahun tanpa henti.

Putranya, Habib Muhammad, melanjutkan tradisi ini dan telah mengadakan acara Maulid Nabi sebanyak 26 kali. Tahun ini, untuk yang ke-15 kalinya, acara Maulid Nabi di Kwitang dipimpin oleh Habib Abdurahman, cucu Habib Ali.

Sejak puluhan tahun lalu, hidangan Maulid Nabi di Kwitang selalu konsisten: nasi kebuli. Tradisi ini sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum itu, hidangan Maulid Nabi serta hidangan dalam acara perkawinan dan pernikahan di kalangan masyarakat keturunan Arab juga selalu menyajikan nasi kebuli.

Tetapi, apakah benar nasi kebuli berasal dari Hadramaut? Tempat hampir segenap warga keturunan Arab di Indonesia, Malaysia dan Singapura, berasal. Mengingat makanan pokok masyarakat Arab sendiri, baik di Hadramaut maupun negara Arab lainnya, adalah roti dan gandum.

Menurut ceritanya, pada awal kedatangan mereka dari Hadramaut, banyak dari mereka lebih dulu mampir dan bahkan tinggal bertahun-tahun di Gujarat, India.

Pada masa itu, baik Timur Tengah maupun India berada di bawah jajahan Inggris, sementara Indonesia berada di bawah kekuasaan Belanda. Hal ini membuat perjalanan mereka lebih mudah tanpa menghadapi masalah paspor.

Selama berada di Gujarat, mereka berdagang dan menyebarkan agama Islam, serta tertarik pada masakan India yang kaya akan rempah-rempah.
Ketertarikan ini tidak berhenti di situ; generasi berikutnya yang datang dari Gujarat ke Nusantara membawa serta kebiasaan kakek-kakek mereka di India dalam membuat nasi yang diberi bumbu-bumbu khas India. Tradisi kuliner ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya mereka di Indonesia.

Habib Abdurahman, pimpinan majelis taklim Habib Ali Kwitang, menegaskan bahwa pembuatan nasi kebuli memang diramu dengan berbagai bumbu-bumbu khas.

Selama belasan tahun, ia telah menangani sendiri proses pembuatannya, memastikan setiap hidangan memiliki cita rasa autentik.

Bumbu-bumbu yang digunakan antara lain ketumbar, jintan, kapulaga, bawang bombay, dan minyak samin yang hampir seluruhnya berupa mentega susu.

Saat ini, memang banyak tersedia bumbu nasi kebuli siap pakai di pasaran. Namun, menurut Habib Abdurahman, meramu bumbu-bumbu tersebut memerlukan keahlian khusus untuk mendapatkan rasa yang sempurna.

Tidak heran jika banyak orang menganggap nasi kebuli Kwitang memiliki rasa yang paling enak dan otentik.

Untuk berasnya, mereka menggunakan beras berkualitas tinggi yang berasal dari Amerika, Thailand, atau India, memastikan setiap butir nasi menyerap bumbu dengan baik dan memberikan tekstur yang pas.

Di setiap perayaan Maulid Nabi, Majelis taklim Kwitang, biasanya akan memotong paling sedikit 200 ekor kambing. Kegiatan maulid dimulai dengan ziarah ke makam Habib Ali di samping Masjid Kwitang. Maulid pun berlangsung hingga Maghrib, dilanjutkan makan nasi kebuli. Malamnya diadakan hiburan gambus, yang juga telah menjadi tradisi sejak Habib Ali masih hidup. []

By: GSA DAILY
Sumber: Laduni

Address

Prapat
24173

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GSA DAILY posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share