07/01/2026
Di saat banjir bandang dan tanah longsor merobek jalan, memutus komunikasi, dan memaksa banyak orang berhenti melangkah, Mulhadi Saputra (38) justru memilih arah yang berbeda: tetap maju, meski pelan dan penuh risiko.
Ia bukan relawan dengan rompi mencolok. Bukan p**a petugas evakuasi yang namanya tercantum di laporan resmi. Mulhadi adalah Awak Mobil Tangki (AMT) PT Elnusa Petrofin—seorang pengantar BBM. Muatan yang mungkin terlihat biasa, namun di tengah bencana, justru menjadi penentu hidup dan matinya banyak harapan. Tanpa BBM, alat berat tak akan menyala. Tanpa BBM, kendaraan bantuan dan evakuasi hanya akan menjadi besi tak bernyawa.
Saat jalur distribusi lumpuh total—jalan terendam, longsor menutup akses—Mulhadi terjebak.
Tiga hari lamanya.
Tanpa sinyal. Tanpa kabar. Tanpa kepastian.
Di situ, ia punya pilihan: meninggalkan truk, menyelamatkan diri, dan pergi. Tak ada yang akan menyalahkannya. Tapi Mulhadi memilih bertahan. Menjaga muatan. Menjaga amanah.
Selama tiga hari itu, setiap jam adalah pertaruhan. Hujan bisa kembali turun. Longsor susulan bisa datang kapan saja. Keselamatannya sendiri tak pernah benar-benar terjamin. Namun ia tetap tinggal, memastikan BBM aman agar ketika jalan terbuka, bantuan bisa langsung bergerak—tanpa menunggu lagi.
Di kepalanya hanya ada satu hal.
> “Yang penting BBM masyarakat terpenuhi.”
Kalimat sederhana yang ia sampaikan kepada Metro TV. Singkat, nyaris tanpa dramatisasi. Tapi di baliknya tersimpan beban besar: rasa tanggung jawab, ketulusan, dan kesadaran bahwa banyak nyawa bergantung pada apa yang ia jaga.
Ketika akses akhirnya terbuka, BBM yang ia pertahankan menjadi napas bagi alat berat yang membersihkan longsor, kendaraan yang mengantar logistik, dan tim evakuasi yang menjemput harapan dari daerah terisolasi.
Kisah Mulhadi bukan tentang keberanian yang berisik. Bukan tentang sorotan kamera. Ini adalah kisah keteguhan yang sunyi—tentang seseorang yang memilih bertahan di tengah bahaya, demi orang-orang yang bahkan tak pernah ia kenal.
Di tengah bencana, ia mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendalam:
kadang, pahlawan adalah mereka yang tetap setia pada tugasnya, saat dunia di sekelilingnya runtuh.