Rahmat

Rahmat Jangan berputus asa dari rahmat Allah

Di saat banjir bandang dan tanah longsor merobek jalan, memutus komunikasi, dan memaksa banyak orang berhenti melangkah,...
07/01/2026

Di saat banjir bandang dan tanah longsor merobek jalan, memutus komunikasi, dan memaksa banyak orang berhenti melangkah, Mulhadi Saputra (38) justru memilih arah yang berbeda: tetap maju, meski pelan dan penuh risiko.

Ia bukan relawan dengan rompi mencolok. Bukan p**a petugas evakuasi yang namanya tercantum di laporan resmi. Mulhadi adalah Awak Mobil Tangki (AMT) PT Elnusa Petrofin—seorang pengantar BBM. Muatan yang mungkin terlihat biasa, namun di tengah bencana, justru menjadi penentu hidup dan matinya banyak harapan. Tanpa BBM, alat berat tak akan menyala. Tanpa BBM, kendaraan bantuan dan evakuasi hanya akan menjadi besi tak bernyawa.

Saat jalur distribusi lumpuh total—jalan terendam, longsor menutup akses—Mulhadi terjebak.
Tiga hari lamanya.
Tanpa sinyal. Tanpa kabar. Tanpa kepastian.

Di situ, ia punya pilihan: meninggalkan truk, menyelamatkan diri, dan pergi. Tak ada yang akan menyalahkannya. Tapi Mulhadi memilih bertahan. Menjaga muatan. Menjaga amanah.

Selama tiga hari itu, setiap jam adalah pertaruhan. Hujan bisa kembali turun. Longsor susulan bisa datang kapan saja. Keselamatannya sendiri tak pernah benar-benar terjamin. Namun ia tetap tinggal, memastikan BBM aman agar ketika jalan terbuka, bantuan bisa langsung bergerak—tanpa menunggu lagi.

Di kepalanya hanya ada satu hal.

> “Yang penting BBM masyarakat terpenuhi.”

Kalimat sederhana yang ia sampaikan kepada Metro TV. Singkat, nyaris tanpa dramatisasi. Tapi di baliknya tersimpan beban besar: rasa tanggung jawab, ketulusan, dan kesadaran bahwa banyak nyawa bergantung pada apa yang ia jaga.

Ketika akses akhirnya terbuka, BBM yang ia pertahankan menjadi napas bagi alat berat yang membersihkan longsor, kendaraan yang mengantar logistik, dan tim evakuasi yang menjemput harapan dari daerah terisolasi.

Kisah Mulhadi bukan tentang keberanian yang berisik. Bukan tentang sorotan kamera. Ini adalah kisah keteguhan yang sunyi—tentang seseorang yang memilih bertahan di tengah bahaya, demi orang-orang yang bahkan tak pernah ia kenal.

Di tengah bencana, ia mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendalam:
kadang, pahlawan adalah mereka yang tetap setia pada tugasnya, saat dunia di sekelilingnya runtuh.




Bayangkan pagi-pagi sekali, Pak Mail sudah turun ke jalan. Sebagai driver ojol, ia berharap dari satu orderan pertama bi...
06/01/2026

Bayangkan pagi-pagi sekali, Pak Mail sudah turun ke jalan. Sebagai driver ojol, ia berharap dari satu orderan pertama bisa dapat uang buat beli obat anaknya, Reyhan. Obat itu penting banget, karena tanpa obat itu Reyhan bisa kesulitan bernapas.

Tapi setelah orderan selesai, Pak Mail kaget bukan main. Uang yang ia terima ternyata uang palsu. Uang yang ia harapkan bisa dipakai beli obat, malah nggak ada nilainya sama sekali. Padahal waktu terus berjalan, dan Reyhan butuh obat secepatnya.

Reyhan lahir dengan kondisi paru-paru yang belum sempurna. Setiap hari ia harus berjuang buat bernapas. Buat Reyhan, obat bukan sekadar obat biasa, tapi penopang hidup. Satu jam tanpa obat bisa bikin napasnya makin berat. Hal itu bikin Pak Mail panik dan bingung harus berbuat apa.

Selama ini Pak Mail sudah berusaha semampunya. Barang-barang di rumah yang masih berharga sudah dijual satu per satu buat biaya berobat. Tapi tetap saja belum cukup. Saat kondisi Reyhan makin memburuk, Pak Mail terpaksa mengambil keputusan paling berat.

Motor ojol yang selama ini jadi alat satu-satunya buat cari nafkah akhirnya harus ia jual. Padahal motor itu adalah sumber hidup Pak Mail. Tapi demi nyawa anaknya, ia rela kehilangan segalanya. Semua ini terjadi hanya karena satu lembar uang palsu, yang membuat hidup mereka berada di ujung tanduk.

Isteri Berpenghasilan: Antara Berkah dan UjianTidak semua rezeki datang dengan ketenangan.Sebagian hadir sebagai cermin—...
06/01/2026

Isteri Berpenghasilan: Antara Berkah dan Ujian

Tidak semua rezeki datang dengan ketenangan.
Sebagian hadir sebagai cermin—untuk menguji hati, adab, dan ketaatan.

Penghasilan pada seorang isteri bisa menjadi cahaya keberkahan,
namun bisa p**a menjelma ujian yang sunyi bila iman tak mengiringinya.

Saat seorang isteri memiliki penghasilan,
di sanalah ujian perlahan dimulai:
ujian tentang rasa cukup,
ujian tentang kerendahan hati,
dan ujian tentang bagaimana ia memposisikan diri di hadapan suami.

Tak sedikit yang tanpa sadar berubah.
Merasa lebih kuat.
Merasa lebih mandiri.
Merasa tak lagi sepenuhnya membutuhkan.

Dari sanalah lahir “kuasa” yang berbahaya—
kuasa untuk membantah,
kuasa untuk menolak,
kuasa untuk berkata,
“Aku juga punya uang.”

Padahal pernikahan bukan tentang siapa yang paling berpenghasilan,
melainkan siapa yang paling menjaga ketaatan kepada Allah.
Isteri yang merasa tinggi karena hartanya,
tanpa sadar sedang merendahkan perannya sendiri.

Bukan karena bekerja itu keliru,
melainkan karena hati mulai enggan tunduk.

Namun betapa indahnya bila rezeki dijaga dengan adab.
Ketika seorang isteri tetap taat,
tetap memuliakan suami sebagai pemimpin,
tetap menunaikan amanah rumah tangga,
meski ia berpenghasilan—

Di situlah rezeki berubah menjadi berkah.
Penghasilannya bernilai pahala.
Tenaganya menjadi ibadah.
Kesibukannya tercatat sebagai jihad.

Ia tak menjadikan uang sebagai senjata ego,
melainkan sebagai penguat ikatan rumah tangga.
Ia tak meninggikan diri dengan hartanya,
tetapi meninggikan keluarganya dengan kebaikan.

Sebab kemuliaan seorang isteri
bukan diukur dari besar kecilnya penghasilan,
melainkan dari ketundukan kepada Allah
dan adabnya kepada suami.

Semoga setiap isteri yang diberi rezeki,
juga dianugerahi hati yang rendah,
agar rezeki itu menjadi jalan ke surga,
bukan sebab retaknya rumah tangga.

Karena sejatinya,
isteri yang paling mulia
bukan yang paling mampu berdiri sendiri,
melainkan yang paling mampu menjaga ketaatan dalam perannya.

Dikutip dari Abi Sandi Nopiandi

Pemerintah Desa di Beberapa Provinsi saat ini sedang ditugaskan membuat laporan kerusakan rumah akibat banjir bandang. A...
06/01/2026

Pemerintah Desa di Beberapa Provinsi saat ini sedang ditugaskan membuat laporan kerusakan rumah akibat banjir bandang.

Agar mudah mengklasifikasi jenis kerusakan, Berikut kategori kerusakan rumah yang disesuaikan dengan format pendataan BPBD / BNPB yang lazim digunakan dalam DIBI, laporan kejadian bencana, dan rekap bantuan:

📋 KATEGORI KERUSAKAN RUMAH (FORMAT BPBD / BNPB)

1️⃣ Rumah Rusak Ringan (RR)

Kriteria:

Bangunan masih berdiri dan layak huni

Kerusakan non-struktural, seperti:

a. Lantai terendam

b. Plester dinding rusak

c. Pintu/jendela rusak

d. Perabot dan peralatan rumah tangga rusak

Tidak memerlukan perbaikan struktur

🟢 Status: Layak huni
🟢 Tindakan: Pembersihan & perbaikan ringan

---

2️⃣ Rumah Rusak Sedang (RS)

Kriteria:

Kerusakan sebagian struktur

Ditemukan:

a. Retak dinding

b. Plafon runtuh sebagian

c. Rangka atap bergeser

d. Instalasi listrik rusak

Membutuhkan perbaikan sebelum ditempati

🟡 Status: Tidak layak huni sementara
🟡 Tindakan: Rehabilitasi

---

3️⃣ Rumah Rusak Berat (RB)

Kriteria:

Kerusakan struktur utama

Contoh:

a. Dinding roboh

b. Atap ambruk

c. Pondasi tergerus

Berisiko membahayakan penghuni

🔴 Status: Tidak layak huni
🔴 Tindakan: Rekonstruksi

---

4️⃣ Rumah Rusak Total (RT) / Hanyut

Kriteria:

a. Bangunan runtuh seluruhnya

b. Rumah hanyut atau tidak tersisa

c. Tidak dapat diperbaiki

⚫ Status: Hilang / musnah
⚫ Tindakan: Pembangunan baru (relokasi bila perlu)

Hunian sementara (huntara) memiliki peran penting bagi korban banjir, terutama pada masa tanggap darurat hingga pemuliha...
04/01/2026

Hunian sementara (huntara) memiliki peran penting bagi korban banjir, terutama pada masa tanggap darurat hingga pemulihan awal. Berikut manfaat utamanya:

1. Memberikan tempat tinggal yang aman
Huntara melindungi korban dari hujan, panas, angin, serta risiko lanjutan seperti banjir susulan, longsor, atau bangunan roboh.

2. Menjaga kesehatan dan keselamatan
Dengan tempat tinggal layak, korban terhindar dari penyakit akibat tidur di tempat terbuka, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan demam.

3. Memulihkan martabat dan psikologis korban
Hunian sementara memberi rasa aman, privasi, dan ketenangan, sehingga membantu mengurangi trauma, stres, dan kecemasan pascabencana.

4. Memudahkan penyaluran bantuan
Korban yang terpusat di huntara lebih mudah dijangkau untuk distribusi logistik, layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi.

5. Menjadi pusat layanan dasar
Huntara sering dilengkapi fasilitas pendukung seperti MCK, dapur umum, pos kesehatan, dan ruang ibadah.

6. Mendukung keberlangsungan aktivitas harian
Korban bisa mulai kembali beraktivitas, seperti bekerja ringan, belajar bagi anak-anak, dan kegiatan sosial lainnya.

7. Memberi waktu untuk rehabilitasi dan rekonstruksi
Huntara menjadi solusi sementara sambil menunggu rumah diperbaiki atau dibangun kembali secara permanen.

8. Mengurangi risiko konflik sosial
Dengan tempat tinggal yang jelas, potensi konflik akibat berebut tempat, bantuan, atau fasilitas dapat diminimalkan.

9. Mendukung pendataan dan perlindungan korban
Pemerintah dan relawan lebih mudah melakukan pendataan, pemantauan, serta memastikan tidak ada korban yang terabaikan.

Singkatnya, hunian sementara bukan sekadar tempat berteduh, tetapi fondasi penting untuk keselamatan, pemulihan, dan keberlanjutan hidup korban banjir hingga kondisi kembali normal.

🔥 RAHASIA GARAM YANG JARANG DIKETAHUI! 🔥Bahan dapur murah meriah, tapi kegunaannya bikin melongo 👇✨ 1. Cegah Minyak Meme...
03/01/2026

🔥 RAHASIA GARAM YANG JARANG DIKETAHUI! 🔥

Bahan dapur murah meriah, tapi kegunaannya bikin melongo 👇

✨ 1. Cegah Minyak Memercik Saat Menggoreng
Cukup taburkan sedikit garam ke wajan panas sebelum menggoreng. Minyak lebih jinak, masak jadi aman.

✨ 2. Panci Gosong Bersih Tanpa Repot
Taburi garam, tambahkan air, lalu rebus sebentar. Bekas gosong mudah terangkat.

✨ 3. Sayuran Tetap Hijau dan Renyah
Rendam sayur sebentar dalam air garam ringan sebelum dimasak. Warna segar, tekstur tetap kriuk.

✨ 4. Talenan Bebas Bau Bawang & Daging
Gosok talenan dengan garam kasar, bilas air hangat. Bau tak sedap langsung hilang.

✨ 5. Telur Rebus Mudah Dikupas
Tambahkan garam ke air rebusan. Kulit telur terkelupas rapi tanpa hancur.

✨ 6. Keramik Kusam Jadi Kinclong
Campur sabun cuci piring, sitrun, garam, dan air panas. Gosok sebentar, hasilnya bersih maksimal.

✨ 7. Noda Kuning di Baju Memudar
Larutkan 5 sdm garam dalam 1 liter air hangat. Rendam 2 jam, lalu cuci seperti biasa.

✨ 8. Handuk Kusam Jadi Lembut Lagi
Rendam 1 jam dengan sabun cuci piring, soda kue, garam, dan air panas. Handuk kembali segar dan empuk.

✨ 9. Bantu Redakan Area Gatal (Slengki)
Gunakan air rebusan serai + garam + minyak kayu putih. Oleskan secukupnya pada area gatal.

✨ 10. Kloset Kotor atau Mampet?
Tuang baking soda, cuka, dan garam. Diamkan, lalu siram air panas. Aliran kembali lancar.

💡 Murah, alami, dan serba guna. Garam bukan sekadar bumbu dapur!

Perbedaan PNS, PPPK, dan PPPK Paruh Waktu (ASN Indonesia)1. PNS (Pegawai Negeri Sipil)Status: ASN tetap hingga pensiun (...
03/01/2026

Perbedaan PNS, PPPK, dan PPPK Paruh Waktu (ASN Indonesia)

1. PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Status: ASN tetap hingga pensiun (58–60 tahun), NIP nasional
Hak: Gaji + tunjangan, pensiun bulanan, jaminan hari tua, jenjang karier, perlindungan hukum
Kelebihan: Paling aman dan stabil
Kekurangan: Seleksi sangat ketat, bisa dimutasi lintas daerah

2. PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja)
Status: ASN kontrak (1–5 tahun, bisa diperpanjang), NIP PPPK
Hak: Gaji & tunjangan setara PNS (sesuai jabatan), perlindungan hukum, pengembangan kompetensi
Tidak dapat: Pensiun & jaminan hari tua
Kelebihan: Seleksi lebih terbuka, cocok tenaga profesional
Kekurangan: Bergantung perpanjangan kontrak, tanpa pensiun

3. PPPK Paruh Waktu
Status: ASN kontrak paruh waktu (skema transisi non-ASN)
Hak: Honor/gaji di bawah PPPK penuh, jaminan sosial dasar terbatas
Tujuan: Solusi sementara bagi honorer/non-ASN yang belum lulus PPPK
Kelebihan: Tetap bekerja, status lebih jelas
Kekurangan: Penghasilan terbatas, tanpa pensiun, karier tidak pasti

Kesimp**an:

PNS: Paling aman & sejahtera jangka panjang

PPPK: Kontrak profesional, gaji layak tanpa pensiun

PPPK Paruh Waktu: Solusi transisi, bukan tujuan akhir karier

7 tanda seorang suami sudah mulai lelah secara batin.. ‼️👇1. Ia jarang mengeluh , tapi sering terlihat menahan beban sen...
01/01/2026

7 tanda seorang suami sudah mulai lelah secara batin.. ‼️👇

1. Ia jarang mengeluh , tapi sering terlihat menahan beban sendiri.

2. Lebih memilih diam daripada berdebat panjang.

3. Tak lagi bercerita tentang lelahnya diluar rumah.

4. Perhatiannya berkurang bukan karena tak cinta tapi kehabisan tenaga batin.

5. Senyumnya ada tapi tak sampai ke mata.

6.Ia tetap bertanggung jawab meski hatinya sering kosong.

7. Ia bertahan bukan karena tak sakit, tapi karena terlalu peduli pada keluarga.

📌Suami yang lelah secara batin jarang minta dimengerti.
Ia hanya berharap dihargai dan didoakan . Semoga Alloh menguatkan para suami yang tetap bertahan demi amanah keluarga.

Larangan menebang pohon beringin tua atau kiara dengan alasan “berhantu” sejatinya bukan sekadar mitos kosong. Itu adala...
23/12/2025

Larangan menebang pohon beringin tua atau kiara dengan alasan “berhantu” sejatinya bukan sekadar mitos kosong. Itu adalah cara cerdas para leluhur menjaga alam agar tetap lestari.

Akar beringin yang kuat berfungsi menahan tanah dari longsor sekaligus menyimpan cadangan air. Dari sanalah kemudian muncul mata air yang menopang kehidupan masyarakat sekitar.

Di balik kesan angker yang dilekatkan pada beringin tua, tersembunyi pesan ekologis yang sangat dalam: mengikat tanah agar tidak runtuh dan menjaga ketersediaan air bagi manusia. Leluhur menitipkan pesan itu melalui rasa takut—bukan untuk menakuti tanpa tujuan, tetapi agar manusia patuh demi keselamatan generasi berikutnya.

Yang seharusnya kita takuti bukanlah “jurig”, melainkan hilangnya mata air dan rusaknya keseimbangan alam. Pohon beringin dilarang ditebang bukan karena mistis, melainkan karena ia adalah paku bumi—penahan longsor sekaligus penjaga aliran air kehidupan.

Inilah contoh nyata dari Eco-Mythology (Mitos Ekologi):

Mitos: Aya jurigan — dianggap angker dan menjadi pamali agar manusia tidak sembarangan menebang.
Ilmu pengetahuan: Menahan longsor dan menyimpan air. Pohon beringin (Ficus benjamina) memiliki sistem akar gantung dan akar tanah yang sangat kuat untuk mencengkeram tanah serta menyerap air hujan dalam jumlah besar.
Manfaat: Cai nyusu (mata air). Air yang tersimpan di sekitar akar membuat mata air di bawah pohon beringin tetap mengalir, bahkan saat musim kemarau.

Leluhur kita mungkin tidak menyebutnya “konservasi lingkungan”, tetapi mereka telah mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu dikenal.

**HILANGNYA 11 BUNGKUS MI***Catatan Marah Tentang Uang yang Diam-Diam Dirampas***Jakarta, 20 Desember 2025** — Ambil sel...
22/12/2025

**HILANGNYA 11 BUNGKUS MI**
*Catatan Marah Tentang Uang yang Diam-Diam Dirampas*

**Jakarta, 20 Desember 2025** — Ambil selembar uang Rp50.000 dari dompet Anda. Nominalnya masih sama. Warnanya masih biru. Tapi jangan tertipu. Nilainya sudah jauh berbeda.

Pada 2013, uang ini adalah alat bertahan hidup. Anak kos dan perantau mengenalnya betul. Dengan Rp50.000, rak mi instan bisa diborong: **25 bungkus**. Makan aman. Hidup tenang. Besok masih bisa dipikirkan.

Hari ini? **14 bungkus.**
Sebelas lainnya lenyap.

Dan tidak, ini bukan soal nostalgia murahan. Ini soal kemerosotan yang nyata.

Kita diberi ilusi kemajuan. Jalan makin mulus, gedung makin tinggi, pidato ekonomi makin optimistis. Tapi di dapur, di warung, di rak sembako, kenyataannya lain. Uang yang sama membeli lebih sedikit. Kerja yang lebih keras tidak membuat hidup lebih longgar. Upah tertinggal, harga berlari.

Sebelas bungkus mi itu tidak hilang dengan sendirinya.
Mereka **diambil**—perlahan, legal, dan nyaris tanpa suara—oleh inflasi yang dibiarkan melaju lebih cepat daripada pendapatan masyarakat.

“Masalahnya bukan sekadar inflasi,” kata Dr. Rina Dewi, ekonom Universitas Indonesia. “Masalahnya adalah ketika kebijakan gagal melindungi daya beli. Kenaikan upah tidak mengejar harga, sementara biaya hidup terus didorong naik.”

Artinya sederhana: sistem ini bekerja, tapi bukan untuk semua orang.

Yang dikorbankan bukan angka statistik, melainkan kehidupan sehari-hari. Telur yang makin mahal. Minyak goreng yang tak lagi ‘kebutuhan pokok’. Listrik yang terus naik sementara gaji diam. Sewa kos yang melonjak tanpa logika. Transportasi yang menggerus sisa pendapatan.

Dan kepada siapa semua ini dibebankan?
Kepada mereka yang tidak punya pilihan selain bertahan.

Kita disuruh bersyukur. Disuruh lebih hemat. Disuruh bekerja lebih keras. Tapi jarang ada yang bertanya: **mengapa hasil kerja keras itu terus menyusut?**

Bekerja hari ini bukan lagi jalan menuju hidup yang lebih baik. Ia hanya cara agar tidak jatuh terlalu cepat. Kita berlari di treadmill ekonomi: berkeringat, lelah, tapi tidak bergerak ke mana-mana.

Sebelas bungkus mi itu adalah simbol.
Simbol dari waktu, tenaga, dan harapan yang direnggut pelan-pelan. Tanpa permisi. Tanpa permintaan maaf.

Jika hari ini Anda masih bertahan, itu bukan karena sistemnya adil. Itu karena Anda kuat.

Dan mungkin, kemarahan ini penting.
Karena tanpa marah, kita akan terus diajari menerima kehilangan sebagai hal yang wajar—padahal tidak pernah seharusnya begitu

Pemimpin itu tampak sibuk di lapangan. Sepatunya berlumpur, bajunya digulung, wajahnya serius saat kamera merekam. Ia be...
21/12/2025

Pemimpin itu tampak sibuk di lapangan. Sepatunya berlumpur, bajunya digulung, wajahnya serius saat kamera merekam. Ia berdiri di tengah warga, menyalami satu per satu, meninjau tenda, sesekali menunjuk ke arah yang tak jelas. Foto-foto itu cepat beredar, menegaskan satu pesan: pemimpin hadir dan bekerja keras.

Padahal sesungguhnya, yang paling dibutuhkan bukan kehadiran fisik semata.

Di saat warga menunggu bantuan, keputusan justru tertahan. Truk logistik menunggu perintah, anggaran menunggu tanda tangan, dan data korban menunggu disahkan. Semua bisa digerakkan dari satu meja kerja—dari ruang kantor tempat keputusan lahir dan wewenang dijalankan.

Pemimpin itu memilih turun ke lapangan, berjam-jam berada di depan kamera, sementara berkas menumpuk di meja. Ia terlihat bekerja, tapi sistem tetap diam. Ia hadir di lokasi, namun bantuan tak bergerak.

Di lapangan, warga tak membutuhkan siapa yang paling sering difoto. Mereka membutuhkan siapa yang paling cepat mengambil keputusan. Siapa yang berani memotong birokrasi, menggerakkan anggaran, dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang lapar—bukan berhenti di gudang.

Kepemimpinan sejati kadang tidak berlumpur, tidak terekam kamera, bahkan tidak terlihat. Ia lahir dari keputusan yang tepat waktu, instruksi yang jelas, dan keberanian memikul tanggung jawab penuh.

Karena pemimpin yang sungguh bekerja bukan yang paling sering turun ke lapangan, melainkan yang mampu membuat seluruh lapangan bergerak.

Kisah Nyata di Tengah Air BahSimpang Empat Mereudu, Pidie, AcehCerita ini dituturkan dari kesaksian warga yang kelak men...
19/12/2025

Kisah Nyata di Tengah Air Bah
Simpang Empat Mereudu, Pidie, Aceh

Cerita ini dituturkan dari kesaksian warga yang kelak menemukan sang bayi.

Banjir itu datang tanpa permisi. Bukan sekadar genangan, melainkan air bah yang melumat rumah, harapan, dan ketenangan. Di sebuah rumah sederhana di Simpang Empat Mereudu, seorang ibu muda berdiri di ambang pilihan paling sunyi dalam hidupnya: menyelamatkan anaknya, apa pun risikonya.

Air merayap cepat. Menyentuh dinding. Naik ke atap. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang hanya dimiliki seorang ibu, ia mengangkat bayinya ke celah plafon, lalu berusaha naik ke atap. Namun rumah itu tak mampu melawan arus. Dalam hitungan menit, bangunan tersebut runtuh dan hanyut, ditelan banjir yang tak berbelas kasih.

Di tengah dingin dan derasnya air, matanya menangkap satu harapan terakhir: sebatang pohon mangga tak jauh dari rumah. Ia berenang melawan arus, memeluk bayinya seerat hidup yang dipertaruhkan. Tangannya gemetar, napasnya terputus-putus, tetapi cintanya menolak menyerah.

Di batang pohon itu, ia melakukan hal paling agung yang bisa dilakukan seorang ibu. Dengan sehelai kain, ia mengikat tubuh kecil anaknya ke dahan pohon—mengikatnya pada hidup. Simpul itu kuat. Bukan hanya karena kain, tetapi karena cinta dan doa yang menyertainya.

Saat ia berusaha mencari pegangan lain, takdir berbicara dengan cara paling kejam. Tubuh sang ibu terlepas. Dalam sekejap, arus menyeretnya pergi. Ia tenggelam. Ia berp**ang.
Meninggalkan bayinya—selamat, namun sendiri.

Anak kecil itu bertahan di dahan pohon mangga. Menggigil, menunggu, tanpa tahu bahwa pelukan yang terakhir ia rasakan adalah pelukan terakhir untuk selamanya. Ketika air akhirnya surut, warga menemukan tubuh kecil itu masih bernapas. Tangis pun pecah. Semua sadar: anak ini hidup karena cinta yang tak sempat hidup lebih lama.

Sang ibu telah tiada.
Namun di Simpang Empat Mereudu, orang-orang kini tahu—cinta yang abadi itu nyata. Ia terpatri di batang pohon mangga, menjadi saksi bisu bahwa seorang ibu adalah pahlawan sejati, bahkan ketika dunia memaksanya tenggelam demi menyelamatkan satu nyawa.

Al-Fatihah untuk Ibu.

Address

Jalan Paya Rangkuluh/Cot Mirahpati
Bireuen
24358

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rahmat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share