Duta Santuy

Duta Santuy "Hidup bawa santuy aja. Raih yang ingin dicapai, tinggalin yang ga penting. Tolong hargai waktu."

SAAT BUKU DISINGKIRKAN, MASA DEPAN IKUT DIPERTARUHKANRibuan buku milik perpustakaan SDN Tlogo 2, Kabupaten Blitar terpak...
16/07/2026

SAAT BUKU DISINGKIRKAN, MASA DEPAN IKUT DIPERTARUHKAN

Ribuan buku milik perpustakaan SDN Tlogo 2, Kabupaten Blitar terpaksa ditumpuk di salah satu ruang kelas setelah bangunan perpustakaan dibongkar untuk pembangunan Gerai Koperasi Desa Merah Putih pada pertengahan Mei 2026. Ironisnya, pembongkaran dilakukan ketika ruang pengganti yang diminta pihak sekolah dan komite wali murid belum selesai diperbaiki dan belum layak digunakan.

Akibatnya, kegiatan literasi siswa terhenti. Anak-anak kehilangan ruang membaca, berdiskusi, dan belajar di luar kelas. Halaman sekolah juga berkurang sehingga kegiatan tari harus dilakukan di ruang terbuka, sementara pelajaran olahraga dipindahkan ke lapangan desa yang berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah.

Pemerintah Kabupaten Blitar memang menyatakan akan mengalokasikan sekitar Rp376 juta melalui perubahan APBD 2026 untuk memperbaiki bangunan pengganti. Namun selama proses tersebut belum selesai, kerugian terbesar tetap dirasakan oleh para siswa yang kehilangan akses terhadap fasilitas belajar yang semestinya menjadi prioritas.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan penting mengenai tata kelola pembangunan. Program pembangunan seharusnya tidak mengorbankan hak anak atas pendidikan. Perencanaan yang baik semestinya memastikan fasilitas pengganti telah siap sebelum bangunan pendidikan dibongkar, sehingga kegiatan belajar tidak terganggu.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap pelaksanaan program pembangunan, agar koordinasi antarinstansi berjalan baik dan kepentingan pendidikan tidak terabaikan. Keberhasilan sebuah program bukan hanya diukur dari berdirinya bangunan baru, tetapi juga dari kemampuannya melindungi pelayanan publik yang sudah ada.

Gerai koperasi bisa dibangun kapan saja. Tetapi waktu belajar anak yang hilang tidak akan pernah bisa dikembalikan.

Pendidikan bukan penghalang pembangunan. Pendidikan harus menjadi fondasi utama setiap pembangunan.

"INI MAH PEMBURU YANG DILINDUNGI, BUKAN SATWA YANG DILINDUNGI. MAKANYA KASUS PERBURUAN SATWA LIAR TIDAK PERNAH BERES."Ka...
16/07/2026

"INI MAH PEMBURU YANG DILINDUNGI, BUKAN SATWA YANG DILINDUNGI. MAKANYA KASUS PERBURUAN SATWA LIAR TIDAK PERNAH BERES."

Kalimat itu terdengar sinis, tetapi kemunculan kasus 9 gajah jantan yang tewas ditembak di lanskap Tesso Nilo membuat banyak orang mempertanyakan hal yang sama.

Semuanya bermula dari penemuan seekor gajah jantan tanpa kepala di kawasan RAPP pada Februari 2026. Namun ketika penyelidikan berkembang, fakta yang terungkap jauh lebih mengerikan. Polda Riau menemukan bahwa kematian tersebut hanyalah puncak gunung es dari rangkaian perburuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dari Februari 2024 hingga Januari 2026, sedikitnya 9 gajah jantan dibunuh di sembilan lokasi berbeda dalam satu lanskap habitat yang sama. Sebagian besar kasus nyaris tidak terdeteksi. Bangkai-bangkai itu tergeletak sunyi di tengah hutan, sementara para pelaku diduga terus mengulangi aksinya.

Yang membuat tragedi ini semakin kelam adalah seluruh korban merupakan gajah jantan, individu yang sangat penting bagi keberlangsungan populasi. Setiap pejantan yang mati bukan hanya mengurangi jumlah gajah, tetapi juga menghilangkan peluang reproduksi dan mempersempit keragaman genetik yang dibutuhkan agar populasi tetap bertahan di masa depan.

Bayangkan, selama dua tahun satu per satu pejantan tumbang oleh peluru. Ada yang mati di kawasan hutan tanaman industri, ada yang ditemukan di sekitar konsesi perusahaan yang berbatasan langsung dengan habitat gajah, dan ada yang bahkan tidak pernah diketahui publik hingga penyelidikan besar dilakukan.

Jika kasus gajah tanpa kepala tidak terungkap, mungkin delapan kematian lainnya akan tetap menjadi rahasia yang terkubur di antara semak dan pepohonan Tesso Nilo.

Ini bukan sekadar sembilan bangkai.

Ini adalah sembilan penjaga masa depan yang hilang.

Sembilan pejantan yang seharusnya menjadi bagian dari generasi berikutnya.

Sembilan alarm keras yang menunjukkan bahwa perburuan satwa liar masih mampu berlangsung berulang kali di salah satu kantong habitat gajah terpenting di Indonesia.

Karena ketika peluru membunuh seekor gajah jantan, yang mati bukan hanya satu individu. Yang ikut terluka adalah masa depan seluruh populasi gajah Sumatra.

Dan selama para pemburu masih lebih mudah merenggut nyawa satwa dibanding satwa mendapatkan perlindungan yang nyata, pertanyaan itu akan terus terdengar:

"Yang benar-benar dilindungi itu satwanya, atau justru para pemburunya?"

“JANGAN PATAHKAN KAKI KAMI…JANGAN BANTING TUBUH KAMI…”Kalimat itu mungkin tidak pernah benar-benar terucap.Namun mata me...
29/05/2026

“JANGAN PATAHKAN KAKI KAMI…
JANGAN BANTING TUBUH KAMI…”

Kalimat itu mungkin tidak pernah benar-benar terucap.
Namun mata mereka sering mengatakan semuanya.

Di banyak tempat penyembelihan qurban yang tidak sesuai syariat,
masih ada sapi dan kambing yang diseret paksa,
ditarik hidungnya dengan tali,
dibanting hingga jatuh,
bahkan dipatahkan kakinya agar tidak melawan.

Padahal mereka bukan benda.
Mereka makhluk hidup yang bisa merasakan takut, stres, dan sakit.

Fakta di lapangan menunjukkan,
hewan yang melihat temannya disembelih di depan mata dapat mengalami tekanan berat.
Detak jantung meningkat,
tubuh gemetar,
mata membelalak,
dan mereka berusaha kabur karena naluri bertahan hidup bekerja.

Ironisnya,
Rasulullah ﷺ justru mengajarkan kasih sayang bahkan di detik terakhir hidup seekor hewan.

Beliau melarang menyiksa hewan,
melarang menajamkan pisau di depan hewan qurban,
dan melarang menyembelih hewan di hadapan hewan lain karena itu menambah ketakutan mereka.

Nabi ﷺ pernah menegur seseorang yang mengasah pisau di depan kambing seraya berkata:
“Apakah engkau ingin membunuhnya dua kali?”

Qurban bukan sekadar tentang darah yang mengalir.
Tetapi tentang ketakwaan dan kemanusiaan.

Jika memang mereka harus dikorbankan,
maka perlakukanlah mereka dengan cara paling lembut:

• Jangan memukul atau menendang hewan.
• Jangan menyeret apalagi mematahkan kaki mereka.
• Jangan menyembelih di depan hewan lain.
• Gunakan pisau yang tajam agar cepat dan minim rasa sakit.
• Tenangkan hewan sebelum disembelih.
• Berikan air dan perlakukan dengan lembut hingga akhir hidupnya.

Karena belas kasih kepada hewan
adalah bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

Mereka memang tidak bisa bicara.
Namun rasa takut di mata mereka…
sering kali lebih keras daripada jeritan manusia.

Save
15/12/2025

Save

Address

Blitar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Duta Santuy posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share