Album Sejarah Indonesia

Album Sejarah Indonesia Media Sejarah Indonesia
(6)

Operating as usual

Berikut foto-foto langka dari peristiwa Proklamasi yang @albumsejarah dapatkan selama empat tahun. Mohon maaf jika water...
17/08/2020

Berikut foto-foto langka dari peristiwa Proklamasi yang @albumsejarah dapatkan selama empat tahun. Mohon maaf jika watermark kita berikan di tengah foto, karena butuh perjuangan untuk mendapatkan foto-foto ini. Foto sudah @albumsejarah sesuaikan urutannya dengan peristiwa aslinya pada tanggal 17 Agustus 1945. Foto akan kami posting di tgl 17 Agustus setiap tahunnya.
.
Acara diawali dari sambutan Suwiryo selaku Wakil Walikota Jakarta (foto 1), dilanjutkan sambutan Dr. Muwardi (foto 2), dan sambutan sepatah dua kata dari Moh. Hatta (foto 3).
Kemudian Bung Karno didampingi Moh. Hatta membacakan teks proklamasi dan pidato singkat, berdoa dan pengibaran bendera pusaka Merah Putih oleh Latief Hendradiningrat.
.
Setelah upacara proklamasi selesai, tiba-tiba 100an orang rombongan dari Barisan Pelopor datang terlambat. Terlihat dalam rombongan (foto 7), tokoh Dr. Radjiman (tengah), Sam Ratulangi (paling kanan), dan Tengku Moh. Hassan (berdiri samping Sam Ratulangi) hadir terlambat. Mereka meminta Bung Karno untuk mengulangi pembacaan Teks Proklamasi, tetapi ditolak. Untuk menenangkan massa, Bung Karno berpidato singkat. (Foto 8-9). Dan untuk menyemangati peserta upacara, Bung Karno meneriakkan pekik "Merdeka" diikuti seluruh peserta (foto 10).
.
Foto proklamasi ada sekitar 13 frame yang tersimpan. Kita hanya memiliki 11 foto.
.
Fotografer : Alex Mendoer dan Frans Mendoer
Sumber : Koninklijke Bibliotheek Den Haag.

Jangan lewatkan LIVE Instagram @albumsejarah dalam rangka Kemerdekaan Indonesia ke 75 tahun. 😉😉.Sudah pantaskah para Vet...
16/08/2020

Jangan lewatkan LIVE Instagram @albumsejarah dalam rangka Kemerdekaan Indonesia ke 75 tahun. 😉😉
.
Sudah pantaskah para Veteran kita marasakan "MERDEKA" yang mereka perjuangkan dimasa lalu ? Tunggu ya...hari ini. Jangan lupa ! 🙏😊

14/08/2020

Pidato penyerahan Kaisar Hirohito pada tanggal 14 Agustus 1945 malam, yang kemudian direkam dan disiarkan pada tanggal 15 Agustus 1945 merubah jalan sejarah bangsa Asia. Tidak terkecuali sejarah Indonesia, yang saat itu tokoh-tokoh nasional sedang mempersiapkan Kemerdekaan. Pidato Kaisar Hirohito ini, pertama kali di dengar oleh orang Indonesia bernama Sutan Syahrir melalui radio luar negeri di kamarnya.
.
Pidato ini merupakan suara Kaisar Jepang yang pertama kalinya yang di publikasikan ke masyarakat umum. Banyak masyarakat Jepang menangis dan bersujud di depan Istana Kaisar ketika pidato penyerahan ini di dengarkan langsung oleh mereka. Begitu pula banyak yang melakukan ritual "harakiri" (bunuh diri) bersama di depan Istana.
.
Anehnya, bahasa yang digunakan oleh Kaisar Hirohito menggunakan bahasa yang "sulit dipahami" dan "misterius". Ini semua di lakukan oleh orang-orang kalangan Istana Kerajaan, agar kewibawaan Kaisar tetap terjaga sebagai orang yang di "dewakan" oleh masyarakat Jepang saat itu. Rekaman pidato ini baru dipublikasikan oleh Badan Rumah Tangga Kekaisaran pada tahun 2015 lalu, tepat 70 tahun peringatan penyerahan mereka.
.
Kekalahan Jepang ini, membuat banyak Negara Asia mulai memerdekakan diri. Termasuk Indonesia yang baru terlaksana nantinya pada tanggal 17 Agustus 1945.
.
Sumber : Badan Rumah Tangga Kekaisaran (Kunaicho) dan NHK (Nippon Hoso Kyokai)

Hari ini, 10 Agustus 2020 diperingati sebagai Hari Veteran Nasional.Dimana untuk mengenang peristiwa gencatan senjata an...
10/08/2020

Hari ini, 10 Agustus 2020 diperingati sebagai Hari Veteran Nasional.
Dimana untuk mengenang peristiwa gencatan senjata antara Pejuang Indonesia dengan Pasukan Belanda ditanggal 10 Agustus 1949 dan juga perjuangan seluruh Pahlawan Indonesia.
.
Terima kasih untuk seluruh Veteran Indonesia yang telah berjuang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.
.
"Tak terasa Kemerdekaan bangsa ini sudah berusia 75 tahun. Sudah banyak Veteran di negeri ini yang sudah pergi, saya harus berlomba dengan malaikat maut untuk mengejar Veteran yang tersisa demi menceritakan kisahnya kembali kepada saya".
- Album Sejarah Indonesia
.
📷 : @dicky.irawan.180

Sekelompok pejuang yang masih berusia muda ditahan oleh Militer Belanda di daerah Pesing, Jakarta pada tanggal 15 April ...
08/08/2020

Sekelompok pejuang yang masih berusia muda ditahan oleh Militer Belanda di daerah Pesing, Jakarta pada tanggal 15 April 1946.
Kondisi para pejuang berlumuran lumpur dan terluka, bahkan salah satunya ditelanjangi.
Bendera Merah Putih juga disita dari pejuang. Terlihat salah satu tentara Belanda dari seorang pribumi yang dengan bangganya menodongkan senjata ke arah pejuang, bahkan menyita bendera Merah Putih.
.
Di arsip Belanda, para pejuang seperti ini masih tercatat dengan bahasa "Extremist dan Terrorist".
Kebanyakan juga pejuang tanpa identitas dan tidak diketahui nasib mereka. Foto-foto yang ditampilkan lebih menonjolkan sisi kejayaan mereka dimasa mengembalikan kembali Hindia-Belanda setelah Perang Dunia 2 selesai.
.
Sekarang, kamu sebagai generasi bangsa sudah merasakan kebebasan dari penjajah berkat perjuangan para pendahulu kita. Mempertahankan Merah Putih tetap berkibar taruhannya adalah nyawa. Sudah seharusnya kita menghargai jasa para Pahlawan, dengan mengingat selalu perjuangan mereka. Saat ini Indonesia sudah dititipkan ke kita, jaga selalu persatuan dan kesatuan bangsa kita. Merdeka !
.
Fotografer : tidak diketahui
Sumber : Het Nationaal Archief

Sekelompok pejuang tanpa nama ditahan oleh Militer Belanda pada bulan Oktober 1947. Terlihat raut wajah mereka tidak mem...
06/08/2020

Sekelompok pejuang tanpa nama ditahan oleh Militer Belanda pada bulan Oktober 1947. Terlihat raut wajah mereka tidak memperlihatkan rasa takut kepada penjajah.
.
Itulah perjuangan kami, kami para pejuang tanpa nama dan tidak diketahui nasibnya. Sudahkah kamu mendoakan kami? Sudahkan kamu mengingat kami? Sudahkah kamu meneruskan perjuangan kami wahai generasi bangsa?
.
Fotografer : Th. van de Burgt
Sumber : Het Nationaal Archief

Karena sekarang bulan Agustus, bertepatan dengan momen Kemerdekaan Republik Indonesia. Postingan untuk sebulan ini berte...
04/08/2020

Karena sekarang bulan Agustus, bertepatan dengan momen Kemerdekaan Republik Indonesia. Postingan untuk sebulan ini bertema Nasionalisme dan situasi Kemerdekaan Indonesia ditahun 1945. 🙏
.
Seorang bocah laki-laki bersama sepedanya, terlihat bendera merah putih dibagian depannya. Foto berlokasi di Madura, Jawa Timur pada tahun 1945.
.
Sumber : Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie
Fotografer : Lex de Herder

Album Sejarah Indonesia's cover photo
01/08/2020

Album Sejarah Indonesia's cover photo

Sebagai wujud raca cinta tanah air kita. Jangan lupa kibarkan Bendera Merah Putih di rumah dan lingkungan rumah kita dal...
01/08/2020

Sebagai wujud raca cinta tanah air kita. Jangan lupa kibarkan Bendera Merah Putih di rumah dan lingkungan rumah kita dalam rangka memperingati Kemerdekaan Indonesia ke 75 tahun. 🇲🇨
😊

Koreksi : 01-31 Agustus 2020.

Beberapa foto wanita dari Provinsi Lampung era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial...
29/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Lampung era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1. Foto studio tiga wanita muda dari Gunung Sugih, Lampung Tengah pada tahun 1901.
2. Tiga wanita dengan pakaian penari tradisional di kota Metro pada tahun 1932.
3. Sekelompok penari wanita dengan pakaian penari tradisional dalam suatu acara di kota Metro pada tahun 1932.
4. Sekelompok wanita pada tahun 1895, tanpa diketahui lokasinya.
5. Tiga wanita pada tahun 1905, tanpa diketahui lokasinya.
6. Seorang wanita dengan pakaian tradisional ditahun 1915, tanpa diketahui lokasinya.
.
Sumber : Wereldculturen Netherland

Pada hari ini Selasa 28 Juli 2020, Album Sejarah Indonesia yang diwakilkan oleh Ketua Albumsejarah Helmi Rifkyansyah dan...
28/07/2020

Pada hari ini Selasa 28 Juli 2020, Album Sejarah Indonesia yang diwakilkan oleh Ketua Albumsejarah Helmi Rifkyansyah dan Sekretaris Albumsejarah Juwita Putri Morjani berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jl. Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat.
.
Pihak Albumsejarah disambut oleh Kepala Museum Perumusan Naskah Proklamasi Bpk. Agus Nugroho. Kedatangan kami bertujuan untuk silaturrahmi dan sharing kegiatan di bulan Agustus 2020 dalam menyambut Kemerdekaan Indonesia yang ke 75 tahun.
.
Kira-kira acara apa yang kami adakan di bulan Agustus nanti? Penasaran??? 😊
Ditunggu informasi selanjutnya... 😉

Mohon maaf untuk wanita di Provinsi Riau saya masih belum menemukan banyak foto yang memperlihatkan baju/adat wanita Ria...
25/07/2020

Mohon maaf untuk wanita di Provinsi Riau saya masih belum menemukan banyak foto yang memperlihatkan baju/adat wanita Riau era Kolonial. Kebanyakan wanita Eropa/Belanda yang berada di Riau.
.
Maka dari itu, foto saya wakilkan dari foto studio Sultan Syarif Kasim II dengan permaisurinya Syarifah Latifah ditahun 1926. Ia merupakan sosok perempuan yang peduli nasib kaumnya dan berjuang melalui pendidikan bagi rakyat Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau. Bisa dikatakan sosok "Kartini" dari Riau.
.
Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
Jika kalian memiliki foto lawas wanita Riau era kolonial beserta sumbernya. Silahkan hubungi saya melalui DM.
.
Sumber : Wereldculturen Netherland

Beberapa foto wanita dari Provinsi Jambi era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, ...
22/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Jambi era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1. Dua penari wanita dari Jambi sekitar tahun 1890.
2. Potret tiga wanita dari Kerinci sekitar tahun 1918-1923.
3. Beberapa wanita remaja dari suku Kubu atau dikenal suku Anak Dalam di Jambi sekitar tahun 1910.
.
Sumber : Wereldculturen Netherland

Beberapa foto wanita dari Provinsi Sumatera Selatan era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era...
18/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Sumatera Selatan era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua di hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1. Dua wanita dengan pakaian tradisional di Palembang tahun 1930.
2. Empat wanita penari dari Sumatera Selatan sekitar tahun 1900.
3-4. Wanita dengan pakaian tradisional di Sumatera Selatan tahun 1935.
5. Potret penari wanita dari Sumatera Selatan sekitar tahun 1890-1900.
6. Potret wanita dengan pakaian tradisional di Muara Enim tahun 1921.
7. Potret wanita desa Lesung Batu, Kab. Musi Rawas Utara sekitar tahun 1890-1900.
8. Seorang wanita dengan pakaian tradisional dari Surulangun, Kab. Musi Rawas Utara sekitar tahun 1890-1900.
.
Sumber : Weveldculturen Netherland

Beberapa foto wanita dari Provinsi Bengkulu era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonia...
15/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Bengkulu era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua di hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1. Potret dari wanita Bengkulu ditahun 1930.
2. Potret para penari wanita dari Bengkulu ditahun 1916.
3. Potret para wanita penari dari Muko-Muko, Bengkulu ditahun 1916.
4. Potret studio dari wanita Bengkulu sekitar tahun 1880-1890.
5. Dua wanita Bengkulu
.
Sumber : Weveldculturen Netherland

Beberapa foto wanita dari Provinsi Sumatera Barat era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era K...
13/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Sumatera Barat era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua di hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1. Potret tiga wanita Minangkabau di Padang Panjang pada tahun 1910.
2. Potret wanita sekitar pantai Sumatra Barat ditahun 1935.
3. Seorang wanita dari Payakumbuh ditahun 1910.
4. Wanita muda dari pulau Sipora, Kep. Mentawai ditahun 1925.
5. Wanita bertato dari pulau Siberut, Kep. Mentawai ditahun 1925. Foto aslinya full sebadan, untuk menghindari
6. Wanita dari Alahan Panjang, Kab. Solok ditahun 1890.
7. Wanita dari Maninjau ditahun 1910.
8. Foto studio seorang wanita di Sumatera Barat tahun 1935.
9. Potret wanita dari Sumatera Barat ditahun 1925. Terlihat foto rusak.
.
Sumber : Weveldculturen Netherland

Album Sejarah Indonesia
12/07/2020

Album Sejarah Indonesia

Beberapa foto wanita dari Provinsi Sumatera Utara era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era K...
08/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Sumatera Utara era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua di hari Senin, Rabu, dan Sabtu pukul 16:00 WIB. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1. Wanita Batak ditahun 1930.
2. Wanita Karo ditahun 1905.
3. Foto beberapa wanita dari Silindung, Tapanuli Utara tahun 1907.
4. Wanita Nias ditahun 1920.
5. Gadis Batak ditahun 1935.
6. Foto studio wanita dari Padang Lawas tahun 1890.
7. Wanita dari Karo sekitar tahun 1890.
8. Dua gadis Batak ditahun 1915.
.
Sumber : Weveldculturen Netherland

Beberapa foto wanita dari Provinsi Daerah Istimewa Aceh era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia...
06/07/2020

Beberapa foto wanita dari Provinsi Daerah Istimewa Aceh era Kolonial Belanda. Banyaknya permintaan foto Wanita Indonesia era Kolonial, maka akan kita posting dari Sumatra-Papua di hari Senin, Rabu, dan Sabtu pukul 16:00 WIB. Jangan lupa tetap ikuti terus @albumsejarah ! 🙏
.
1-2. Foto studio di Kutaraja (Banda Aceh) sekitar tahun 1900.
3. Foto studio di Kutaraja (Banda Aceh) tahun 1901.
4. Seorang wanita Aceh dengan pelayannya tahun 1901.
5. Foto seorang putri dari Kerajaan Aceh sekitar tahun 1900.
6. Istri dari Panglima Polem tahun 1903 di Sigli. Foto ini sempat viral beberapa tahun yang lalu, dimana sempat menjadi isu dari foto Pahlawan Wanita dari Aceh yaitu Cut Nyak Dhien.
7. Keluarga Panglima Polem, dari sebelah kiri saudara perempuan, tengah ibu, dan kanan istri ditahun 1903.
8. Seorang wanita dengan pakaian pernikahan di Takengon, Aceh Tengah tahun 1935.
9. Pasangan suami istri dari pantai barat Aceh tahun 1890.
.
Sumbet : Universiteit Leiden

Beberapa foto wanita Bali era kolonial Belanda. Dahulu wanita Bali secara umum bertelanjang dada, wanita Bali bertelanja...
04/07/2020

Beberapa foto wanita Bali era kolonial Belanda. Dahulu wanita Bali secara umum bertelanjang dada, wanita Bali bertelanjang dada mempunyai arti khusus secara kultural. Bertelanjang dada bagi wanita Bali zaman dulu sebagai sebuah ekspresi kejujuran. Namun mohon maaf albumsejarah tidak bisa menunjukkan foto-foto wanita Bali bertelanjang dada secara keseluruhan di media sosial. Nantinya albumsejarah jika ada waktu dan kesempatan akan mengadakan pameran offline, dimana bebas tanpa sensor dari media sosial
.
Sebagaian wanita di Indonesia dahulu bertelanjang dada, tidak hanya di Bali. Hal itu dibuktikan beberapa dokumentasi foto dari Arsip Belanda beberapa daerah mulai dari Sumatra sampai Papua, wanita bertelanjang dada karena adat dan budaya saat itu.
.
1. Wanita Bangsawan Bali ditahun 1925.
2. Wanita Bali dengan pakaian pernikahan ditahun 1935.
3. Wanita Bali ditahun 1930.
4. Wanita Bali ditahun 1920.
5. Penari wanita Bali ditahun 1935.
6. Wanita Bali ditahun 1910.
7. Remaja wanita Bali ditahun 1920.
8-10. Wanita Bali ditahun 1920.
.
Sumber : Universiteit Leiden

Beberapa foto peran Kepolisian Republik Indonesia dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949).Selamat Hari Bhayangkar...
01/07/2020

Beberapa foto peran Kepolisian Republik Indonesia dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949).
Selamat Hari Bhayangkara ke-74 untuk POLRI.
.
1. Perdana Menteri Sutan Sjahrir didamping Kapolri Pertama Raden Said Soekanto meresmikan Sekolah Kepolisian pertama di Magelang, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juni 1946.
2. Salah satu kendaraan tempur milik Polisi Istimewa (sekarang Brimob) saat pertempuran Surabaya 1945. Kendaraan ini rampasan dari militer Jepang.
3. Anggota Kepolisian Republik berbaris dengan gagahnya di kota Yogyakarta, tepatnya Jl. Malioboro pada bulan Desember 1947.
4. Foto dari Polisi Daerah Kepanjen, Malang, Jawa Timur sekitar tahun 1948.
5. Seorang anggota Polisi Republik ditahan oleh militer Belanda saat Agresi Militer II tanpa diketahui lokasinya. Foto tertanggal 20 Desember 1948.
6-7. Militer Belanda sedang bernegosiasi dengan anggota Polisi Republik ketika memasuki kampung Karangampel, Cirebon, Jawa Barat saat Agresi Militer Belanda 1. Foto tertanggal 28 Juli 1947.
8. Beberapa anggota Polisi Republik sedang berjaga-jaga di perbatasan garis damarkasi di Padang, Sumatera Barat. Terlihat seorang Polisi menunjuk ke arah kamera, mengatakan "Kodak, tidak boleh foto!". Foto tertanggal 28 Juni 1948.

Sumber : Spaarnestad, Het Nationaal Archief, dan IPPHOS.

Beberapa foto kebudayaan tarian yang ada di Indonesia ketika zaman Belanda..1. Penari Bali dari tahun 1937.2. Tarian per...
29/06/2020

Beberapa foto kebudayaan tarian yang ada di Indonesia ketika zaman Belanda.
.
1. Penari Bali dari tahun 1937.
2. Tarian perang di Manado, Sulawesi Utara tahun 1927.
3. Penari Batak, Sumatera Utara sekitar tahun 1900an.
4. Dua wanita Dayak, Kalimantan tahun 1920.
5. Pertunjukan tarian tradisional di Sulawesi Selatan tahun 1935.
6. Para penari di Pulau Seram, Maluku sekitar tahun 1910.
7. Sekelompok penari wanita tradisioanal dari Sumatera Selatan sekitar tahun 1890an.
8. Pertunjukan tari di Sungai Puar, Agam, Sumatra Barat sekitar tahun 1900.
9. Sekelompok pria penari Seudati, di Aceh sekitar 1898.
10. Penari tradisional dari Papua, tahun 1938.
.
Sumber : Universiteit Leiden

Beberapa foto dari Batavia (Jakarta) dengan suasana jauh dari hiruk pikuk kota seperti saat ini..1. Lukisan "Batavia" ka...
23/06/2020

Beberapa foto dari Batavia (Jakarta) dengan suasana jauh dari hiruk pikuk kota seperti saat ini.
.
1. Lukisan "Batavia" karya Jacob Keyser pada tahun 1730.
2. Foto jalanan di daerah Salemba, Batavia sekitar tahun 1900-1910.
3 - 4. Jalanan daerah Batavia sekitar 1900.
5. Sebuah jalan perkampungan di Batavia sekitar tahun 1910.
6. Jalanan di daerah Meester Cornelis atau sekarang Jatinegara sekitar tahun 1880-1890.
7. Perkampungan Tanjungpriuk di pesisir Batavia sekitar tahun 1880-1890.
8. Suasana daerah Koningsplein sekarang sekitaran Monas sekitar tahun 1870an.
9. Daerah Prinsenlaan di Batavia sekitar tahun 1890, sekarang daerah Mangga Besar.
10. Gerbang di Pasar Baru, Batavia tahun 1937 dalam peringatan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard.
.
Sumber : Universiteit Leiden Netherland

20/06/2020

Film dokumenter proses pemakaman Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 22 Juni 1970. Beliau wafat sehari sebelumnya di RSPAD Gatot Soebroto pada hari minggu 21 Juni 1970.
.
Selanjutnya film dokumenter istri Bung Karno dari Jepang Ratna Sari Dewi Soekarno dan putrinya Kartika Sari Dewi Soekarno serta keluarga Bung Karno ketika berziarah di Blitar sekitar tahun 1970.
.
Tak terasa sudah setengah abad kau meninggalkan kami Bung ! Doa terbaik untukmu disana...

Address

Perumahan Tanjungsari Regency, Kelurahan Tanjungsari Kecamatan Sukorejo Kota Blitar
Blitar
66131

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Album Sejarah Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Album Sejarah Indonesia:

Videos

Category

Nearby media companies


Other Media in Blitar

Show All

Comments

Video bisu+hitam putih tentang Papua, produksi tahun 1954, sebelum menjadi bagian Indonesia.
#albumsejarah INDONESIA 🇲🇨🌏 2020
MUSEUM ISLAM SAMUDRA PASAI DIRESMIKAN BUPATI ACEH UTARA Lhoksukon-Bupati Aceh Utara H.Muhammad Thaib meresmikan Museum Islam Samudra Pasai, Selasa (9 Juli 2019). Museum Islam Samudra Pasai merupakan museum Kabupaten Aceh Utara yang disahkan dengan SK Bupati Aceh Utara Nomor: 430/44/2017 tanggal 26 Juli 2017 yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 sampai tahun 2016. Berlokasi di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, daerah jejak peninggalan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, Samudra Pasai. Dari sinilah jalan dakwah bermula paling awal dan menembus ke seluruh penjuru nusantara. Dari Pasai Aceh juga para mubalig berdakwah sampai ke pulau jawa yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim seorang ulama dari Kerajaan Pasai sehingga lahir para wali songo (wali sembilan). Museum ini didirikan bertujuan sebagai sarana pelestari, pusat penelitian, pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Utara. Bupati Aceh Utara dalam sambutannya mengharapkan kepada semua pihak agar menjaga serta merawat Museum Islam Samudra Pasai yang telah dibangun dengan penuh perjuangan. "Museum ini kita bangun agar anak cucu kita tidak melupakan sejarah bahwa nenek moyang kita dulu adalah sebuah bangsa yang disegani dunia," ungkap Bupati Aceh Utara pada acara seremonial peresmian museum tersebut. Bupati Aceh Utara juga mengungkapkan bahwa Ibnu Bathutah seorang penjelajah asal Maroko pernah singgah di kerajaan Pasai, begitu juga Marcopolo penjelajah dari Eropa pernah menginjakkan kakinya di tanah Pasai ketika masa keemasan dan kegemilangan kerajaan Pasai ini mencapai puncaknya. Setelah memberikan sambutan Bupati Muhammad Thaib mengunting pita dan menandatangani prasasti sebagai tanda mulai dibukanya museum untuk masyarakat umum. Museum tersebut dibawah kontrol dan kendali bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara. Saifullah, M.Pd Kepala Disdikbud Aceh Utara mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pengembangan kebudaayaan dan sejarah Aceh. Saifullah mengapresiasi langkah baik pemerhati sejarah Aceh, peneliti, filolog, penulis, dan para jurnalis yang telah berjuang memajukan khazanah sejarah Aceh. Museum ini dibuka setiap hari kerja mulai hari Senin sampai Jum'at setiap jam kerja. Acara tersebut berlangsung sukses, juga dihadiri Wakil Bupati Aceh Utara Tgk. Fauzi Yusuf, para cerdikpandai, jurnalis, sastrawan, muspika, dan tokoh masyarakat Aceh Utara. Museum Islam Samudra Pasai mengoleksi berbagai benda cagar budaya seperti replika nisan Kesultanan Kerajaan Islam Samudra Pasai yang menjadi peletak pondasi dasar dalam gerak dakwah yang terorganisir dalam kesatuan politik Islam di bawah kuasa sultan-sultan agung (abad 7 H-10 H/13 M-16 M). Selain replika batu nisan juga mengoleksi keramik dan gerabah yang berasal dari mancanegara, mata uang emas atau dirham, manuskrip Shirat Al-Mustaqim sebuah karya agung dalam bidang Fiqih Islam karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, manuskrip mushaf Al-Qur'an karya tulisan tangan intelektual Aceh di masa lampau. Selain itu, juga mengoleksi karya sastra, buku sejarah, alat seni tradisional Aceh, perhiasan, peralatan adat, dan senjata tradisional. Museum Islam Samudra Pasai memiliki luas bangunan 2.850 M2. Memiliki koleksi sejumlah 340 koleksi yang terdiri dari kelompok etnografika, filologika, numismatika, dan historika. (Laporan: Hamdani Mulya)
MUSEUM ISLAM SAMUDRA PASAI DIRESMIKAN BUPATI ACEH UTARA Lhoksukon-Bupati Aceh Utara H.Muhammad Thaib meresmikan Museum Islam Samudra Pasai, Selasa (9 Juli 2019). Museum Islam Samudra Pasai merupakan museum Kabupaten Aceh Utara yang disahkan dengan SK Bupati Aceh Utara Nomor: 430/44/2017 tanggal 26 Juli 2017 yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 sampai tahun 2016. Berlokasi di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, daerah jejak peninggalan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, Samudra Pasai. Dari sinilah jalan dakwah bermula paling awal dan menembus ke seluruh penjuru nusantara. Dari Pasai Aceh juga para mubalig berdakwah sampai ke pulau jawa yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim seorang ulama dari Kerajaan Pasai sehingga lahir para wali songo (wali sembilan). Museum ini didirikan bertujuan sebagai sarana pelestari, pusat penelitian, pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Utara. Bupati Aceh Utara dalam sambutannya mengharapkan kepada semua pihak agar menjaga serta merawat Museum Islam Samudra Pasai yang telah dibangun dengan penuh perjuangan. "Museum ini kita bangun agar anak cucu kita tidak melupakan sejarah bahwa nenek moyang kita dulu adalah sebuah bangsa yang disegani dunia," ungkap Bupati Aceh Utara pada acara seremonial peresmian museum tersebut. Bupati Aceh Utara juga mengungkapkan bahwa Ibnu Bathutah seorang penjelajah asal Maroko pernah singgah di kerajaan Pasai, begitu juga Marcopolo penjelajah dari Eropa pernah menginjakkan kakinya di tanah Pasai ketika masa keemasan dan kegemilangan kerajaan Pasai ini mencapai puncaknya. Setelah memberikan sambutan Bupati Muhammad Thaib mengunting pita dan menandatangani prasasti sebagai tanda mulai dibukanya museum untuk masyarakat umum. Museum tersebut dibawah kontrol dan kendali bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara. Saifullah, M.Pd Kepala Disdikbud Aceh Utara mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pengembangan kebudaayaan dan sejarah Aceh. Saifullah mengapresiasi langkah baik pemerhati sejarah Aceh, peneliti, filolog, penulis, dan para jurnalis yang telah berjuang memajukan khazanah sejarah Aceh. Museum ini dibuka setiap hari kerja mulai hari Senin sampai Jum'at setiap jam kerja. Acara tersebut berlangsung sukses, juga dihadiri Wakil Bupati Aceh Utara Tgk. Fauzi Yusuf, para cerdikpandai, jurnalis, sastrawan, muspika, dan tokoh masyarakat Aceh Utara. Museum Islam Samudra Pasai mengoleksi berbagai benda cagar budaya seperti replika nisan Kesultanan Kerajaan Islam Samudra Pasai yang menjadi peletak pondasi dasar dalam gerak dakwah yang terorganisir dalam kesatuan politik Islam di bawah kuasa sultan-sultan agung (abad 7 H-10 H/13 M-16 M). Selain replika batu nisan juga mengoleksi keramik dan gerabah yang berasal dari mancanegara, mata uang emas atau dirham, manuskrip Shirat Al-Mustaqim sebuah karya agung dalam bidang Fiqih Islam karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, manuskrip mushaf Al-Qur'an karya tulisan tangan intelektual Aceh di masa lampau. Selain itu, juga mengoleksi karya sastra, buku sejarah, alat seni tradisional Aceh, perhiasan, peralatan adat, dan senjata tradisional. Museum Islam Samudra Pasai memiliki luas bangunan 2.850 M2. Memiliki koleksi sejumlah 340 koleksi yang terdiri dari kelompok etnografika, filologika, numismatika, dan historika. (Laporan: Hamdani Mulya)
Haul ke-107 Cut Nyak Meutia: Perempuan, Pejuang dan Pahlawan Oleh Hamdani Mulya Pengamat Sejarah Aceh Judul di atas merupakan sebuah judul sejarah singkat Cut Nyak Meutia yang dipaparkan dalam buku peringatan hari ulang tahun (haul) Cut Nyak Meutia ke-107. IMG20171025092135.jpg Foto: Buku Haul 107 Tahun Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia Cut Nyak Meutia merupakan pejuang tangguh, pahlawan nasional asal Aceh. Cut Nyak Meutia lahir hampir satu setengah abad yang lalu. Cut Nyak Meutia lahir di Pirak, Aceh Utara tahun 1870 dan gugur pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, Aceh Utara. Pada tanggal 22 Oktober 2017 haul ke-107 tahun diperingati dengan doa bersama dan silaturrahmi bersama keluarga besar ahli waris Cut Nyak Meutia dan Teungku Chik Ditunong. Di hari yang cerah itu mentari bersinar garang. Rumah adat Aceh jadi saksi bisu ribuan masyarakat memadati areal acara hari ulang tahun Cut Nyak Meutia yang syahid dalam pertempuran melawan penjajah Belanda. Di rumah itulah Cut Meutia kecil lahir dan tumbuh sebagai seorang pahlawan yang berparas anggun. Cut Nyak Meutia lahir di Pirak, Kec. Matang Kuli, Aceh Utara. Ia adalah putri Uleebalang Pirak, Teuku Ben Daud, seorang tokoh terkemuka yang menentang upaya Belanda menguasai Aceh. Semangat juang yang membara dari ayahnya Teuku Ben Daud diwariskan kepada Cut Nyak Meutia. Sehingga ia menjadi seorang pahlawan yang tak pernah mengenal kata menyerah. Cut Nyak Meutia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi membela agama Islam, nusa, dan bangsa. Semangat patriotisme yang mengalir dari darah ayahnya mengendap dalam jiwa dan darah Cut Nyak Meutia membangkitkan spirit juang rakyat Aceh dalam menyergap dan menggempur pos-pos patroli Belanda. Perempuan itu, pahlawan kita. Sudahkan kita berkorban sebanyak Cut Nyak Meutia? Dalam buku Haul 107 Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia dipaparkan bahwa di mata teman sejawat maupun musuhnya, nama Cut Nyak Meutia amat harum. Jiwanya yang mencintai kemerdekaan dan anti penjajahan menandai lekuk liku kehidupannya yang singkat. Cut Nyak Meutia juga dikagumi oleh penulis Belanda, seperti yang terungkap dalam kalimat berikut: "Wanita Aceh gagah dan berani merupakan perwujudan lahiriah yang tak kenal kata menyerah yang setinggi-tingginya dan apabila mereka ikut bertempur maka akan dilakukan dengan energi dan semangat berani mati yang kebanyakan lebih dari kaum laki-laki bahkan tidak ada bangsa yang berani dari kaum wanita dimanapun tidak ada satu romanpun yang mampu menggambarkan pengorbanan dan keberanian perempuan Aceh." (H.Z. Zentgraaf, Penulis Belanda). Begitulah hebatnya pahlawan Aceh yang dilukiskan dengan tinta emas oleh penulis Belanda sebagai rasa kagum terhadap pahlawan Aceh seperti sosok Cut Nyak Meutia. Kutipan kalimat tersebut tertulis di sampul buku Haul ke-107 Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia yang disusun dan disunting oleh Cut Dara Meutia Uning dan Marilyn Larahati. Buku kecil ini diluncurkan pada acara tersebut dan penulis mendapat satu buah hadiah buku tersebut.
JEJAK GERILYA JENDERAL SUDIRMAN PERTARUHAN NYAWA DEMI KEMERDEKAAN Oleh Hamdani Mulya "Bagi seluruh anak bangsa; sebab kita adalah pahlawan, setidaknya bagi diri sendiri." (Ayi Jufridar) Membaca novel 693 KM Jejak Gerilya Sudirman membawa jiwa kita hanyut dalam pertempuran merebut kemerdekaan. Novel karya besutan Ayi Jufridar sastrawan nasional asal Aceh ini, mengisahkan pergulatan hidup Jenderal Sudirman bersama pasukannya di rimba belantara demi mempertahankan tanah air. "Di atas sebuah tandu kayu, Sudirman merasakan semangat menyala sekaligus kekecewaan yang mendalam. Ia bisa memilih diam di Istana, menunggu musuh datang untuk menangkapnya seperti yang dilakukan pemimpin lain, tapi ia lebih memilih untuk berjuang dengan cara gerilya," itulah cuplikan sekilas novel goresan apik Ayi Jufridar terbitan Noura Books, tahun 2015. Ayi telah memperkaya literatur novel sejarah di tanah air. Sebagai sebuah novel berlatar sejarah Ayi menuturkannya dengan lincah, penuh inspirasi dan hal-hal mengejutkan. Dalam novel ini dikisahkan pula, kesehatan Jenderal Sudirman yang memburuk tidak memupuskan semangatnya melakukan perlawanan dan memperjuangkan tanah air. Ia menembus hutan dengan siasat yang tak pernah disangka musuh, mengorbankan harta yang dimilikinya, merelakan hatinya menjauh dari orang-orang yang dicintainya. 693 kilo meter dijejakinya, dibayangi ancaman kematian. Semuanya demi merebut kemerdekaan. Sebuah novel yang membangkit spirit juang generasi muda mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah oleh para pahlawan. Semoga. Lhokseumawe, 12 Februari 2019 Tentang Penulis Hamdani Mulya adalah seorang guru di Kota Lhokseumawe, Pegiat Literasi, dan Penulis Esai.