Album Sejarah Indonesia

Album Sejarah Indonesia Media Sejarah Indonesia
(7)

Operating as usual

Foto dua wanita dengan pakaian kebaya dari Minahasa, Sulawesi Utara sekitar tahun 1900. Terlihat dua wanita ini masing-m...
09/12/2020

Foto dua wanita dengan pakaian kebaya dari Minahasa, Sulawesi Utara sekitar tahun 1900. Terlihat dua wanita ini masing-masing membawa payung tradisional dan alat musik "petik" tradisional.
.
Sumber : Universiteit Leiden
Fotografer : Kurkdjian

Sebuah foto yang memperlihatkan orang-orang Belanda sedang ditandu oleh pekerjanya, didalam keterangan Arsip Belanda mer...
05/12/2020

Sebuah foto yang memperlihatkan orang-orang Belanda sedang ditandu oleh pekerjanya, didalam keterangan Arsip Belanda mereka menyebut para pekerja ini dengan sebutan "Koelies" atau kita akrab dengan nama kuli (pekerja kasar). Tidak diketahui lokasinya, kemungkinan di Jawa sekitar tahun 1910-1920.
.
Sumber : Universiteit Leiden

Sebuah foto yang memperlihatkn kecelakaan delman (kereta kuda) di Jawa pada tahun 1925. Tidak ada informasi lanjut bagai...
03/12/2020

Sebuah foto yang memperlihatkn kecelakaan delman (kereta kuda) di Jawa pada tahun 1925. Tidak ada informasi lanjut bagaimana nasib kuda, sopir dan penumpangnya sendiri. Tidak ada juga informasi penyebab kecelakaan delman tersebut.
.
Sumber : Universiteit Leiden

Selamat Malam sobat Album. ! 😊🙏.Jika kalian ingin berdonasi untuk Veteran RI, bisa melalui kitabisa.com. Kegiatan ini me...
02/12/2020

Selamat Malam sobat Album. ! 😊🙏
.
Jika kalian ingin berdonasi untuk Veteran RI, bisa melalui kitabisa.com. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Album Sejarah Indonesia, Dompet Kepedulian Muslim (@dkmberbagi) dan kitabisa.com (@kitabisacom). Berapapun donasi kalian sungguh berarti mereka yang telah memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Hasil donasi ini akan kami salurkan kepada Veteran RI di wilayah Jawa Timur, khususnya Blitar. 😊🙏
.
Terima kasih untuk para Donatur semua.. semoga kebaikan anda dibalas Tuhan Yang Maha Esa dan dilipat gandakan rezekinya. Amin.
.
Link : https://kitabisa.com/senyumveteran?utm_source=socialsharing_campaigner_android_bcb56dfde1739107746627c90afa3198&utm_medium=CampaignPage_nativeshare&utm_campaign=Campaign

Sebuah foto yang.memperlihatkan dua mobil milik keluarga Belanda sedang dinaikan ke kereta lori. Terlihat didalam mobil ...
01/12/2020

Sebuah foto yang.memperlihatkan dua mobil milik keluarga Belanda sedang dinaikan ke kereta lori. Terlihat didalam mobil orang-orang Belanda sedang duduk bersantai, sedangkan para sopir dan Asisten Rumah Tangganya sedang sibuk menarik kereta lori tersebut. Foto berasal dari Jawa, antara tahun 1900-1910.
.
Sumber : Universiteit Leiden

Hallo sobat Album ! 🖐Yuk bergabung bersama kami di Komunitas Album Sejarah Indonesia. Saat ini kami memang membutuhkan l...
30/11/2020

Hallo sobat Album ! 🖐
Yuk bergabung bersama kami di Komunitas Album Sejarah Indonesia. Saat ini kami memang membutuhkan lebih SDM untuk kegiatan sosial bersama Veteran RI dan kegiatan lainnya. 😊🙏
.
Ada tiga Divisi yang kami buka :
- HUMAS
- MEDIA
- KEGIATAN
.
Daftar Online dengan link berikut : https://bit.ly/PendaftaranAlbumSejarahIndonesia
Mulai tanggal 1-11 Desember 2020.

Setelah anda mendaftarkan diri, segera WA ke +62857-0443-5435 dengan cara :
Ketik (Nama_Domisili_Divisi)
Setelah anda konfirmasi via WA, akan kami masukan ke grup calon pendaftar dimana Informasi proses rekrutmen akan kami share digrup sampai masa Pengumuman.
.
Terima kasih banyak. 🙏 Diutamakan diwilayah Blitar, sekitarnya. Karena kegiatan kami masih di Blitar, Jawa Timur. 😊
Selamat bergabung dengan kami. Temukan pengalamanmu disini, melalui kecintaan Sejarah Indonesia ! 😊🙏
Salam Jas Merah !😊

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, IMATARA/Ikatan Mahasiswa Blitar Raya mengadakan nobar film perjuangan dari toko...
27/11/2020

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, IMATARA/Ikatan Mahasiswa Blitar Raya mengadakan nobar film perjuangan dari tokoh Pahlawan Nasional "Jenderal Soedirman" dan dilanjutkan pembahasan tentang tokoh Jenderal Soedirman serta motivasi untuk lebih mencintai Sejarah dari Rully Agassy (pendiri Album Sejarah Indonesia) pada Kamis, 26 November 2020 di Srengat, Kab. Blitar, Jawa Timur.
.
"Kegiatan seperti ini sangat positif untuk mengajak pemuda-pemudi lebih mencintai Sejarah, tapi juga jangan kaget jika kegiatan seperti ini sepi dari peminat. Tetap semangat untuk kalian." kata Rully saat memberikan kajian didepan Mahasiswa se-Blitar Raya tersebut. Acara diakhiri dengan turunnya hujan rintik-rintik, dalam penutupan Rully menambahkan "Tetap cintai Sejarah bangsamu sendiri, jangan sampai kita kalah dengan orang luar yang mencintai sejarahnya. Semoga dengan turunnya hujan saat ini, menjadi berkah kita semua. Amin." ujarnya mengakhiri acara tersebut.
.
Terima kasih untuk IMATARA, M. Aziz Hafid (Ketua IMATARA), pemateri Sandi Wiranata dan keluarga besar Syaikhu. Album Sejarah Indonesia sangat mengapresiasi para Generasi Bangsa yang berusaha menyadarkan minat Sejarah kepada kita semua.
.
Sumber : Album Sejarah Indonesia dan IMATARA (@mahasiswablitar_official).

Sabtu, 10 Oktober 2020 kami berkunjung ke kediaman mbah Abu Sofiyan di Ds. Jatisari, Kec. Kademangan, Kab. Blitar. Ketik...
26/11/2020

Sabtu, 10 Oktober 2020 kami berkunjung ke kediaman mbah Abu Sofiyan di Ds. Jatisari, Kec. Kademangan, Kab. Blitar. Ketika kami sampai dirumah beliau, seorang pria paruh baya yang kemudian kami ketahui bernama Bpk. Khoirudin putra terakhir mbah Abu menyambut kami dengan ramah. "Silahkan masuk, tetapi mbahkung sedang sakit. Monggo..tidak apa-apa, silahkan masuk" sembari mengantarkan kami ke ruangan mbah Abu. Kondisi mbah Abu sendiri hanya bisa terbaring ditempat tidurnya, untuk keseharian pihak keluarga setia merawatnya.
.
"Kalau untuk ngomong sama mbah, suaranya yang keras ya. Keras banget tidak apa-apa, soalnya pendengaran mbahkung sudah tidak baik" kata Bpk. Khoirudin kepada kami. Lantas kami meminta Bpk. Khoirudin mendampingi kami untuk berkomunikasi dengan mbah Abu. Menurut informasi yang kami terima dari putra beliau, mbah Abu tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Mbah Abu hanya lulusan pondok pesantren, saat berjuang juga sudah menikah. "Mbahkung usianya lebih dari 100 tahun, seingat saya dulu cerita kelahiran tahun satu atau berapa gitu. Namun didatanya dimudakan" ujar beliau. Mbah Abu sendiri memiliki 6 anak dari pernikahan dengan Almh. Rukiyah, dan tinggal dua putra beliau yang masih hidup.
.
Mbah Abu saat zaman Jepang pernah masuk Heiho, kemudian era kemerdekaan di lasykar Masyumi, terakhir masa perang 1947-1948 mbah Abu pernah masuk ke TNI untuk berjuang di Blitar selatan. Saat kami berusaha berkomunikasi dengan mbah Abu, hanya kata-kata tidak jelas dari bibirnya. Kalimat yang sangat jelas hanya terdengar "Bung Karno, dan bambu runcing". Diketahui juga dari Bpk. Khoirudin, kalau Bung Karno ke Blitar, mbah Abu selalu mengawal Presiden RI ke satu tersebut. "Sebenarnya mbah Abu sering banyak cerita perjuangannya kepada cucunya, tapi cucunya sedang tidak ada saat ini. Ditambah mbahkung sendiri jatuh dan sakit sejak bulan puasa kemarin, jadi sudah tidak bisa cerita lagi" kata Bpk. Khoirudin. Sampai saat ini kebiasaan merokok mbah Abu tidak hilang, walaupun kondisi kesehatannya sedang sakit. "Mbahkung rokoknya masih full, kesukaannya rokok Surya Gudang Garam" ujarnya sembari tertawa.
.
Jadi kami tidak dapat banyak informasi perjuangan beliau karena keadaan mbah Abu yang sedang sakit. "Mbahkung walau dalam kondisi seperti ini, tapi ibadahnya masih kuat. Puasa kemarin masih full, sering khatam Al-Qur'an waktu sehat, saat ini kalau dingatkan sholat masih berusaha sholat dengan cara sebisanya" ujar putra beliau. Tidak perlu waktu lama kami berkunjung ke beliau, lantas kami memberikan buah tangan serta piagam penghargaan beliau atas jasa-jasa mbah Abu Sofiyan yang diterima oleh Bpk. Khoirudin. "Terima kasih banyak nggeh" ucapnya tersenyum. Kemudian kami pun berpamitan ke Bpk. Khoirudin dan mbah Abu Sofiyan, terlihat air matanya tertahan dikelopak matanya. Raut wajah terharu terlihat darinya, ketika kami mulai meninggalkan mereka berdua. Sehat selalu untuk mbah Abu Sofiyan dan keluarga besarnya.
.
Sumber : Album Sejarah Indonesia

Jika kalian mengetahui keberadaan Veteran RI / Pejuang 45.Ijinkan kami untuk bersilaturrahmi dan berkunjung kepada belia...
19/11/2020

Jika kalian mengetahui keberadaan Veteran RI / Pejuang 45.
Ijinkan kami untuk bersilaturrahmi dan berkunjung kepada beliau, agar bisa mengangkat kisahnya kepada Generasi Bangsa saat ini.

15/11/2020

Prof. Dr. H. Roeslan Abdulgani akrab disapa Cak Roes, menceritakan kisahnya saat peristiwa pertempuran di Surabaya, Jawa Timur pada bulan November 1945. Beliau merupakan seorang politikus Indonesia, pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (1956-1957) dan pejuang kemerdekaan. Saat Agresi Militer II, di Yogyakarta. Sewaktu naik sepeda ke kantornya, Cak Roes terkena tembakan mitraliur pesawat terbang Belanda dekat Kali Code. Tangannya terluka, kemudian tiga jarinya harus diamputasi.
.
Video diatas merupakan cuplikan film dokumenter Belanda ditahun 1976 oleh Roelof Kiers berjudul "Indonesia Merdeka".

GRANAT DITANGANKU.Minggu, 20 September 2020 kami mendatangi rumah sederhana di Ds. Sukosewu, Kec. Gandusari, Kab. Blitar...
11/11/2020

GRANAT DITANGANKU
.
Minggu, 20 September 2020 kami mendatangi rumah sederhana di Ds. Sukosewu, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Ketika kami datang seorang pria sepuh sedang duduk sendiri didepan rumah, beliau bernama mbah Abdul Manan. Keramah tamahan beliau kami terima, dan mempersilahkan kami masuk. Sejenak beliau berganti baju, fisiknya sehat seperti masih usia 70an tahun. Kondisi rumahnya yang sederhana membuat kami berfikir sejenak, "Seperti inikah kondisi dari seorang yang pernah bertaruh nyawa untuk berjuang membela negaranya?"
.
Diruang tamunya yang sederhana, beliau menceritakan perjuangannya kepada kami. Mbah Abdul Manan kelahiran 1929, terlahir dari keluarga petani. Beliau anak kedua dari empat bersaudara, ayahnya bernama Alm. Ardjo Miran merupakan anak dari seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Blitar. Ketika zaman Jepang mbah Abdul mengenyam pendidikan sekoh rakyat. "Dulu kalau sekolah, kita wajib disuruh menanam pohon jarak untuk Jepang. " ucapnya. Minyak dari pohon jarak memang digunakan Jepang sebagai pelumas mesin bagi kendaraan atau mesin-mesin kebutuhan perang Jepang. Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, mbah Abdul hanya membantu orang tua bertani disawah.
.
Mbah Abdul bergabung dengan TNI di Batalyon Kelud pada tahun 1947. "Saya ikut berjuang dengan modal nekat saja" ucapnya dengan Bahasa Jawa kental. "Saya hanya berjuang di Gandusari saja, senjata seadanya. Gantian dengan teman-teman, kadang bawa Karaben. Tetapi saya selalu bawa granat dua ditangan untuk melawan Belanda." timpalnya lagi. Mbah Abdul memang hanya ditugaskan berjaga di Gandusari. Beberapa kali bertemu dengan patroli Belanda, Mbah Abdul selalu melempar granat ke arah mereka secara sembunyi-sembunyi. Lantas kemudian beliau berlari untuk menghindar dari tembakan dari pasukan Belanda. "Waahh.. dulu saya pokoknya ada tentara Belanda masuk Gandusari, saya lempar pake granat. Terus lari, la wong mereka senjatanya lengkap" ucapnya sambil tertawa, dengan giginya yang terlihat sudah tidak utuh lagi. Ketika kami menanyakan apakah beliau tidak takut kalau granat yang beliau bawa meledak sebelum mencapai targetnya. Beliau menberikan jawaban "Ga ada pikiran takut, kalaupun meledak uda nasib. Kalaupun saya tertembak, saya akan tetap melempar granat tersebut ke arah mereka". Sungguh sangat pemberani sekali mbah Adul Manan ini dengan tekadnya melawan penjajah.
.
Daerah Gandusari tidak luput dari serangan militer Belanda, banyak warga sipil dan rekan mbah Abdul jadi korban. "Belanda pernah menyerang sini (Gandusari), katah seng ninggal, rencang kulo enten seng gugur, (banyak yang meninggal, teman saya ada yang gugur)" kenangnya. Tidak banyak informasi perjuangan beliau selama berjuang, dikarenakan beberapa juga sudah lupa dan hanya berjaga serta menghadang patroli Belanda. Namun keberaniannya, tidak perlu diragukan lagi. Setelah masa perjuangan, mbah Abdul tidak melanjutkan ke TNI karena perintah orang tua untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. "Saya lanjut ke pondok, atas perintah bapak saya" ucap sesepuh yang sudah berusia 91 tahun tersebut.
.
Ditahun 1961, beliau menikah dengan ibu Muji dan dikaruniai empat orang anak. Namun untuk kondisi ibu Muji saat ini sedang menderita sakit stroke, sudah 10 tahun beliau sakit. Hanya diam tergolek di kursi dan tempat tidur saja, untuk berbicara pun tidak ada suara keluar dari bibirnya. Mbah Abdul dan anaknya setia merawat sang Istri dengan sabar dan ikhlas. "Kami sudah pasrah dengan kondisi ibu, ya ibu bisanya cuma diam seperti itu." kata anak laki-laki mbah Abdul yang namanya tidak perlu disebutkan. Kemudian kami memberikan piagam penghargaan atas jasa mbah Abdul, beliau menerimanya dengan senang dan membaca namanya tanpa bantuan kacamata. "Matur suwun sanget nggeh (terima kasih banyak ya" raut wajahnya terlihat sumringah.
.
Kami pun berpamitan dan memberikan buah tangan dari seluruh donatur Album Sejarah Indonesia. Dan diakhir pertemuan, kami meminta izin membantu memasangkan piagam penghargaan diruang tamunya, tidak banyak dokumentasi yang membuktikan beliau seorang Veteran RI dirumahnya. Senyuman ramah kami terima dari beliau, sampai kami pergi meninggalkan mbah Abdul dan keluarga.
.
Sumber : Album Sejarah Indonesia

Bangsa Yang Besar, Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan.Terima kasih untuk seluruh Pahlawan Indonesia yang telah be...
09/11/2020

Bangsa Yang Besar, Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan.
Terima kasih untuk seluruh Pahlawan Indonesia yang telah berjuang demi tercapainya Indonesia Merdeka.
Doa terbaik untuk mereka. 🙏
.
Gambar pejuang diatas merupakan gambar asli Propaganda dari Penerangan Divisi III Tentara Sumatera ditahun 1947, untuk menyemangati rakyat dalam melawan Belanda. Dibawah gambar sebenarnya ada tulisan "Belanda Mendarat, Indonesia Menjerboe".

Album Sejarah Indonesia's cover photo
08/11/2020

Album Sejarah Indonesia's cover photo

LOLOS DARI SERANGAN..Sabtu, 19 September 2020 kami berkunjung ke kediaman seorang Veteran RI di Ds. Sumberagung, Kec. Ga...
07/11/2020

LOLOS DARI SERANGAN.
.
Sabtu, 19 September 2020 kami berkunjung ke kediaman seorang Veteran RI di Ds. Sumberagung, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Beliau bernama mbah Khamid, kelahiran tahun 1927. Ketika kami datang, beliau dalam kondisi sakit karena usia tua. Seorang pria sepuh, keluar dari kamarnya menggunakan seragam batik Veteran RI dengan berjalan tertatih sembari dibantu keluarganya. Fisik yang terlihat lemah, tidak menyurutkan semangatnya menyambut kami. Salah satu kendala kami untuk berkomunikasi dengan beliau, kami harus bersuara keras dan mendekat ke beliau. Faktor usialah yang membuat pendengaran beliau sudah banyak berkurang.
.
Dengan ingatan yang masih kuat beliau bercerita kepada kami menggunakan bahasa Jawa halus. "Saya hanya sekolah rakyat sampai kelas 5 ditahun 1936, setelah itu hanya membantu orang tua bertani sampai saya masuk tentara tahun 1948" ucapnya. Mbah Khamid masuk TNI di tahun 1948 saat terjadi Agresi Militer Belanda II, berpangkat prajurit satu dikesatuan Batalyon Kelud, Kompi IV, Regu III, dengan pimpinan Komandan Jusuf. Orang tuanya merelakan putra ketiga dari lima saudara tersebut untuk berjuang.
.
Beliau berjuang di wilayah Blitar Timur sampai Barat saat melawan Belanda, banyak pengalaman tidak terlupakan bagi mbah Khamid. "Kami berjuang terkadang sampai tidak makan, terkadang kalau dalam bertempur kami sebenarnya kelaparan. Kalaupun ada makanan dibagi rata keseluruh pasukan. Itupun hanya makan nasi jagung dari pemberian masyarakat, tapi kami tidak memikirkan perut. Kami hanya memikirkan bagaimana bisa melawan Belanda" kenangnya kepada kami. Di daerah Beru, Wlingi, Kab. Blitar mbah Khamid dan rekan-rekannya pernah diserang oleh pasukan Belanda. "Disawah kami dihujani Belanda dengan tembakan mortir, pasukan kocar-kacir, ledakan dimana-dimana. Saya selamat dengan berlindung diparit tengah sawah, untungnya tidak kena" kata mbah Khamid. Dengan kejadian tersebut banyak rekan-rekan beliau yang gugur akibat serangan Belanda tersebut, termasuk Lurah Desa Tugurejo menjadi korban.
.
Di daerah Gambar, Tulungagung mbah Khamid pernah berjuang dengan gabungan dari Batalyon Branjangan. Terakhir beliau berjuang di daerah Pathuk, Srengat, Blitar sampai berdamai dengan pasukan Belanda di akhir tahun 1949. Setelah masa perang, mbah Khamid tidak melanjutkan karirnya di TNI dan memilih untuk menjadi petani, untuk menggantikan orang tuanya yang sudah sepuh saat itu. Menikah ditahun 1959 dengan sang istri, mbah Sunaryati dan dikaruniai lima orang anak. Kondisi beliau yang saat itu sedang sakit, membuat kami hanya meminta beliau menceritakan perjuangannya sebatasnya saja. Tidak perlu waktu lama untuk beliau bercerita, dengan sedikit cerita diatas sudah terlihat jelas bagaimana beratnya perjuangan mbah Khamid dan rekan-rekannya.
.
Segera kami memberikan piagam tanda penghargaan atas jasanya dan sedikit buah tangan kepada beliau. Raut senyum bahagia kami terima darinya, sembari tangan yang bergetar berusaha mengusap tanda jasanya tersebut. Kemudian kami berfoto bersama dan berpamitan. Beliau dengan berjalan tertatih tetap mengantarkan kami sampai depan pintu rumah. Ucapan salam dan lambaian tangan, serta senyuman ramah kami terima darinya.
Terim kasih sebesar-besarnya untuk mbah Khamid dan keluarga telah menerima kunjungan kami.
.
Sumber : Album Sejarah Indonesia

Foto yang memperlihatkan lokomotif uap sedang mengangkut tebu untuk kemudian dibawa ke pabrik gula di Jawa sekitar tahun...
06/11/2020

Foto yang memperlihatkan lokomotif uap sedang mengangkut tebu untuk kemudian dibawa ke pabrik gula di Jawa sekitar tahun 1920-1930.
.
Sumber : Universiteit Leiden
Fotografer : -

Album Sejarah Indonesia
06/11/2020

Album Sejarah Indonesia

Para pekerja wanita pabrik kopi di Blitar, Jawa Timur sekitar tahun 1925. Mereka terlihat memilah biji kopi dengan diawa...
06/11/2020

Para pekerja wanita pabrik kopi di Blitar, Jawa Timur sekitar tahun 1925. Mereka terlihat memilah biji kopi dengan diawasi seorang mandor perempuan.
.
Sumber : Universiteit Leiden
Fotografer : -

Dua foto yang memperlihatkan pedagang minuman dengan pembelinya, untuk lokasi kemungkinan di Jawa. Foto pertama sekitar ...
05/11/2020

Dua foto yang memperlihatkan pedagang minuman dengan pembelinya, untuk lokasi kemungkinan di Jawa.
Foto pertama sekitar tahun 1900 dan foto kedua sekitar tahun 1905.
.
Sumber : Universiteit Leiden
Fotografer/Produksi : -

Address

Blitar
66131

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Album Sejarah Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Album Sejarah Indonesia:

Videos

Nearby media companies


Other Blitar media companies

Show All

Comments

HAMDANI MULYA PUTRA PASAI RILIS BUKU JEJAK DAKWAH SULTAN MALIKUSSALEH PERMATA ILMU DARI ACEH Aceh Utara- Hamdani Mulya kembali menoreh karya buku berjudul Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh Permata Ilmu dari Aceh. Guru SMAN 1 Lhokseumawe ini menulis kisah jejak kegemilangan sejarah Kerajaan Samudra Pasai dalam sebuah buku yang terbilang bagus. "Buku Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh saya tulis sebagai referensi pembelajaran sejarah, agar para generasi muda memahami bahwa nenek moyang kita dulu merupakan keturanan bangsa yang disegani dan dihormati oleh bangsa-bangsa luar," ungkap Pak Ham, sapaan akrab guru Bahasa dan Sastra Indonesia itu. Buku besutan Hamdani Mulya merupakan karya yang layak menjadi rujukan guru sejarah, siswa, dosen, dan mahasiswa sebagai panduan pembelajaran sejarah di tanah air. "Sultan Malikussaleh adalah seorang pemimpin, negarawan sejati. Dibawah kepemimpinannya Kerajaan Samudra Pasai mencapai puncak kemajuan, Aceh gemilang dengan kemajuan peradaban ilmu pengetahuan yang tinggi. Untuk melestarikan khazanah tamadun peninggalan bersejarah itulah buku ini saya tulis," Pak Ham menjelaskan. Buku ini diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, setelah lulus seleksi naskah oleh para ahli. Mulai meluncur pada bulan November 2020. Hamdani Mulya sosok penulis buku ini merupakan putra asli Pasai, dilahirkan di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara 10 Mai 1979 mengecap pendidikan di SMAN 1 Samudra Geudong tahun 1995-1998. Ia sangat tertarik menulis sejarah Samudra Pasai sebagai tanda cinta kepada tanah leluhurnya. Buku karya Hamdani lulusan Universitas Syiah Kuala tahun 2003 ini berjumlah 108 halaman dan diberikan kata pengantar oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. "Terimakasih saya ucapkan kepada Bapak Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, kepada Bapak Imam Muhajir yang telah memproses buku sampai terbit, dan kepada semua pihak yang mendukung terbitnya buku ini," pungkas Pak Ham. Buku Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh juga bercerita tentang tokoh dunia yang pernah berkunjung ke Samaudra Pasai seperti Ibnu Bathutah. Serta merekam jejak peninggalan sejarah seperti etnografika, filologika, numismatika, dan historika koleksi Museum Islam Samudra Pasai. Catatan: Harga buku: Rp. 70.000 Resselert/penulis buku Hp. 085277294646 Terimakasih
Menolak lupa G30SPKI Mata terpejam mulut terkatup Terisak tangis menahan sedu Dari kejauhan terdengar sayup 'Gugur mengalun pilu' Tenang dalam damai di surga nya😇😥 Kapten ku, pahlawan ku, perisai bangsa ku 🇮🇩🇮🇩❤ Yang mau vidio nya, ada di youtube https://youtu.be/Tj5HQTB4-Q8
Video bisu+hitam putih tentang Papua, produksi tahun 1954, sebelum menjadi bagian Indonesia.
#albumsejarah INDONESIA 🇲🇨🌏 2020
MUSEUM ISLAM SAMUDRA PASAI DIRESMIKAN BUPATI ACEH UTARA Lhoksukon-Bupati Aceh Utara H.Muhammad Thaib meresmikan Museum Islam Samudra Pasai, Selasa (9 Juli 2019). Museum Islam Samudra Pasai merupakan museum Kabupaten Aceh Utara yang disahkan dengan SK Bupati Aceh Utara Nomor: 430/44/2017 tanggal 26 Juli 2017 yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 sampai tahun 2016. Berlokasi di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, daerah jejak peninggalan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, Samudra Pasai. Dari sinilah jalan dakwah bermula paling awal dan menembus ke seluruh penjuru nusantara. Dari Pasai Aceh juga para mubalig berdakwah sampai ke pulau jawa yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim seorang ulama dari Kerajaan Pasai sehingga lahir para wali songo (wali sembilan). Museum ini didirikan bertujuan sebagai sarana pelestari, pusat penelitian, pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Utara. Bupati Aceh Utara dalam sambutannya mengharapkan kepada semua pihak agar menjaga serta merawat Museum Islam Samudra Pasai yang telah dibangun dengan penuh perjuangan. "Museum ini kita bangun agar anak cucu kita tidak melupakan sejarah bahwa nenek moyang kita dulu adalah sebuah bangsa yang disegani dunia," ungkap Bupati Aceh Utara pada acara seremonial peresmian museum tersebut. Bupati Aceh Utara juga mengungkapkan bahwa Ibnu Bathutah seorang penjelajah asal Maroko pernah singgah di kerajaan Pasai, begitu juga Marcopolo penjelajah dari Eropa pernah menginjakkan kakinya di tanah Pasai ketika masa keemasan dan kegemilangan kerajaan Pasai ini mencapai puncaknya. Setelah memberikan sambutan Bupati Muhammad Thaib mengunting pita dan menandatangani prasasti sebagai tanda mulai dibukanya museum untuk masyarakat umum. Museum tersebut dibawah kontrol dan kendali bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara. Saifullah, M.Pd Kepala Disdikbud Aceh Utara mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pengembangan kebudaayaan dan sejarah Aceh. Saifullah mengapresiasi langkah baik pemerhati sejarah Aceh, peneliti, filolog, penulis, dan para jurnalis yang telah berjuang memajukan khazanah sejarah Aceh. Museum ini dibuka setiap hari kerja mulai hari Senin sampai Jum'at setiap jam kerja. Acara tersebut berlangsung sukses, juga dihadiri Wakil Bupati Aceh Utara Tgk. Fauzi Yusuf, para cerdikpandai, jurnalis, sastrawan, muspika, dan tokoh masyarakat Aceh Utara. Museum Islam Samudra Pasai mengoleksi berbagai benda cagar budaya seperti replika nisan Kesultanan Kerajaan Islam Samudra Pasai yang menjadi peletak pondasi dasar dalam gerak dakwah yang terorganisir dalam kesatuan politik Islam di bawah kuasa sultan-sultan agung (abad 7 H-10 H/13 M-16 M). Selain replika batu nisan juga mengoleksi keramik dan gerabah yang berasal dari mancanegara, mata uang emas atau dirham, manuskrip Shirat Al-Mustaqim sebuah karya agung dalam bidang Fiqih Islam karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, manuskrip mushaf Al-Qur'an karya tulisan tangan intelektual Aceh di masa lampau. Selain itu, juga mengoleksi karya sastra, buku sejarah, alat seni tradisional Aceh, perhiasan, peralatan adat, dan senjata tradisional. Museum Islam Samudra Pasai memiliki luas bangunan 2.850 M2. Memiliki koleksi sejumlah 340 koleksi yang terdiri dari kelompok etnografika, filologika, numismatika, dan historika. (Laporan: Hamdani Mulya)
MUSEUM ISLAM SAMUDRA PASAI DIRESMIKAN BUPATI ACEH UTARA Lhoksukon-Bupati Aceh Utara H.Muhammad Thaib meresmikan Museum Islam Samudra Pasai, Selasa (9 Juli 2019). Museum Islam Samudra Pasai merupakan museum Kabupaten Aceh Utara yang disahkan dengan SK Bupati Aceh Utara Nomor: 430/44/2017 tanggal 26 Juli 2017 yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 sampai tahun 2016. Berlokasi di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, daerah jejak peninggalan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, Samudra Pasai. Dari sinilah jalan dakwah bermula paling awal dan menembus ke seluruh penjuru nusantara. Dari Pasai Aceh juga para mubalig berdakwah sampai ke pulau jawa yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim seorang ulama dari Kerajaan Pasai sehingga lahir para wali songo (wali sembilan). Museum ini didirikan bertujuan sebagai sarana pelestari, pusat penelitian, pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Utara. Bupati Aceh Utara dalam sambutannya mengharapkan kepada semua pihak agar menjaga serta merawat Museum Islam Samudra Pasai yang telah dibangun dengan penuh perjuangan. "Museum ini kita bangun agar anak cucu kita tidak melupakan sejarah bahwa nenek moyang kita dulu adalah sebuah bangsa yang disegani dunia," ungkap Bupati Aceh Utara pada acara seremonial peresmian museum tersebut. Bupati Aceh Utara juga mengungkapkan bahwa Ibnu Bathutah seorang penjelajah asal Maroko pernah singgah di kerajaan Pasai, begitu juga Marcopolo penjelajah dari Eropa pernah menginjakkan kakinya di tanah Pasai ketika masa keemasan dan kegemilangan kerajaan Pasai ini mencapai puncaknya. Setelah memberikan sambutan Bupati Muhammad Thaib mengunting pita dan menandatangani prasasti sebagai tanda mulai dibukanya museum untuk masyarakat umum. Museum tersebut dibawah kontrol dan kendali bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara. Saifullah, M.Pd Kepala Disdikbud Aceh Utara mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pengembangan kebudaayaan dan sejarah Aceh. Saifullah mengapresiasi langkah baik pemerhati sejarah Aceh, peneliti, filolog, penulis, dan para jurnalis yang telah berjuang memajukan khazanah sejarah Aceh. Museum ini dibuka setiap hari kerja mulai hari Senin sampai Jum'at setiap jam kerja. Acara tersebut berlangsung sukses, juga dihadiri Wakil Bupati Aceh Utara Tgk. Fauzi Yusuf, para cerdikpandai, jurnalis, sastrawan, muspika, dan tokoh masyarakat Aceh Utara. Museum Islam Samudra Pasai mengoleksi berbagai benda cagar budaya seperti replika nisan Kesultanan Kerajaan Islam Samudra Pasai yang menjadi peletak pondasi dasar dalam gerak dakwah yang terorganisir dalam kesatuan politik Islam di bawah kuasa sultan-sultan agung (abad 7 H-10 H/13 M-16 M). Selain replika batu nisan juga mengoleksi keramik dan gerabah yang berasal dari mancanegara, mata uang emas atau dirham, manuskrip Shirat Al-Mustaqim sebuah karya agung dalam bidang Fiqih Islam karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, manuskrip mushaf Al-Qur'an karya tulisan tangan intelektual Aceh di masa lampau. Selain itu, juga mengoleksi karya sastra, buku sejarah, alat seni tradisional Aceh, perhiasan, peralatan adat, dan senjata tradisional. Museum Islam Samudra Pasai memiliki luas bangunan 2.850 M2. Memiliki koleksi sejumlah 340 koleksi yang terdiri dari kelompok etnografika, filologika, numismatika, dan historika. (Laporan: Hamdani Mulya)
Haul ke-107 Cut Nyak Meutia: Perempuan, Pejuang dan Pahlawan Oleh Hamdani Mulya Pengamat Sejarah Aceh Judul di atas merupakan sebuah judul sejarah singkat Cut Nyak Meutia yang dipaparkan dalam buku peringatan hari ulang tahun (haul) Cut Nyak Meutia ke-107. IMG20171025092135.jpg Foto: Buku Haul 107 Tahun Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia Cut Nyak Meutia merupakan pejuang tangguh, pahlawan nasional asal Aceh. Cut Nyak Meutia lahir hampir satu setengah abad yang lalu. Cut Nyak Meutia lahir di Pirak, Aceh Utara tahun 1870 dan gugur pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, Aceh Utara. Pada tanggal 22 Oktober 2017 haul ke-107 tahun diperingati dengan doa bersama dan silaturrahmi bersama keluarga besar ahli waris Cut Nyak Meutia dan Teungku Chik Ditunong. Di hari yang cerah itu mentari bersinar garang. Rumah adat Aceh jadi saksi bisu ribuan masyarakat memadati areal acara hari ulang tahun Cut Nyak Meutia yang syahid dalam pertempuran melawan penjajah Belanda. Di rumah itulah Cut Meutia kecil lahir dan tumbuh sebagai seorang pahlawan yang berparas anggun. Cut Nyak Meutia lahir di Pirak, Kec. Matang Kuli, Aceh Utara. Ia adalah putri Uleebalang Pirak, Teuku Ben Daud, seorang tokoh terkemuka yang menentang upaya Belanda menguasai Aceh. Semangat juang yang membara dari ayahnya Teuku Ben Daud diwariskan kepada Cut Nyak Meutia. Sehingga ia menjadi seorang pahlawan yang tak pernah mengenal kata menyerah. Cut Nyak Meutia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi membela agama Islam, nusa, dan bangsa. Semangat patriotisme yang mengalir dari darah ayahnya mengendap dalam jiwa dan darah Cut Nyak Meutia membangkitkan spirit juang rakyat Aceh dalam menyergap dan menggempur pos-pos patroli Belanda. Perempuan itu, pahlawan kita. Sudahkan kita berkorban sebanyak Cut Nyak Meutia? Dalam buku Haul 107 Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia dipaparkan bahwa di mata teman sejawat maupun musuhnya, nama Cut Nyak Meutia amat harum. Jiwanya yang mencintai kemerdekaan dan anti penjajahan menandai lekuk liku kehidupannya yang singkat. Cut Nyak Meutia juga dikagumi oleh penulis Belanda, seperti yang terungkap dalam kalimat berikut: "Wanita Aceh gagah dan berani merupakan perwujudan lahiriah yang tak kenal kata menyerah yang setinggi-tingginya dan apabila mereka ikut bertempur maka akan dilakukan dengan energi dan semangat berani mati yang kebanyakan lebih dari kaum laki-laki bahkan tidak ada bangsa yang berani dari kaum wanita dimanapun tidak ada satu romanpun yang mampu menggambarkan pengorbanan dan keberanian perempuan Aceh." (H.Z. Zentgraaf, Penulis Belanda). Begitulah hebatnya pahlawan Aceh yang dilukiskan dengan tinta emas oleh penulis Belanda sebagai rasa kagum terhadap pahlawan Aceh seperti sosok Cut Nyak Meutia. Kutipan kalimat tersebut tertulis di sampul buku Haul ke-107 Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia yang disusun dan disunting oleh Cut Dara Meutia Uning dan Marilyn Larahati. Buku kecil ini diluncurkan pada acara tersebut dan penulis mendapat satu buah hadiah buku tersebut.