03/01/2026
Nasib Xiao Yan Di TGR Yang Bikin Emosi!!
Jadi kita semua tau, kalau Xiao Yan pernah berdiri di puncak tertinggi.
Di Benua Douqi, namanya adalah simbol kekuasaan. Sekali ia melangkah, dataran tengah bergetar. Menara Pil memberinya kehormatan tertinggi, Klan Naga Void Kuno mengakuinya sebagai penguasa. Pada hari kehancuran Klan Hun, puluhan ribu ahli berlutut dan berseru lantang:
“Kaisar Api, Xiao Yan!”
Namun, kejayaan itu berakhir saat ia menembus kehampaan dan melangkah ke Dunia Seribu Besar.
Bukan sambutan yang ia terima, melainkan penolakan total. Tekanan langit dan bumi menghantam tubuhnya tanpa ampun. Udara di dunia ini seolah membakar tulang dan dagingnya. Douqi yang selama puluhan tahun menjadi sumber kekuatan, kini justru berubah menjadi beban mematikan.
Karena di Dunia Seribu Besar, douqi bukanlah hukum.
Yang berkuasa adalah energi spiritual.
Belum sempat Xiao Yan menstabilkan diri, badai ruang angkasa meledak. Dalam sekejap, Xun’er dan Cai Lin terseret ke dalam kehampaan. Tak ada jeritan, tak ada kesempatan menyelamatkan. Hidup atau mati—Xiao Yan tak tahu.
Ia terdampar sendirian.
Dengan tubuh penuh luka dan aura kacau, Xiao Yan memasuki sebuah kota. Pakaiannya robek, wajahnya pucat, tak ada sedikit pun wibawa Kaisar Api. Di mata penduduk dunia ini, ia hanyalah orang asing lemah dengan energi aneh.
Saat ia berdiri terlalu lama di depan rumah makan, seorang pelayan mengusirnya dengan kasar.
“Pengemis! Pergi!”
Xiao Yan mengepalkan tangan. Di masa lalu, satu kalimat itu cukup untuk memusnahkan sebuah klan. Tapi sekarang, bahkan membantah pun ia tak mampu. Douqi dan energi spiritual di tubuhnya saling bertabrakan. Begitu ia memaksa tenaga, meridiannya terasa robek dan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Hari-hari berikutnya dipenuhi penderitaan. Xiao Yan bertahan hidup dengan air hujan dan sisa makanan. Setiap malam, ia mencoba memutar Mantra Api, memaksa energi spiritual masuk ke pusaran energi. Namun setiap kali berhasil, douqi langsung melawan. Rasa sakitnya membuat tulang jarinya retak saat ia mencengkeram batu biru.
Yang paling kejam adalah kenyataan bahwa di dunia ini, bahkan aura tipis orang biasa sudah cukup membuatnya muntah darah.
Suatu hari, anak-anak kecil melemparinya sisa buah sambil tertawa, menyuruhnya bersujud. Xiao Yan menatap langit kosong. Di saat itu, ia sadar—jika nyawanya saja tak bisa ia jaga, bagaimana ia bisa menemukan kembali Xun’er dan Cai Lin?
Perubahan datang lewat Luo Tianshen, leluhur Klan Dewa Luo. Sekali pandang, ia menyadari keanehan tubuh Xiao Yan dan membawanya ke klan. Di sanalah Xiao Yan mengetahui kebenaran: energi spiritual harus diolah dengan metode khusus, dan tubuh Dou Di adalah wadah sempurna bagi segala jenis energi.
Tiga tahun pengasingan pun dimulai. Douqi dipaksa diurai dan dibentuk ulang. Setiap inci daging terkoyak, setiap tulang ditempa. Saat Xiao Yan keluar, ia meremukkan prasasti ujian dengan tangan kosong. Tekanan Penguasa Tertinggi Bumi puncak membuat para tetua berlutut serentak.
Xiao Yan menatap dunia luas di hadapannya.
Jika ia belum bisa menemukan kedua istrinya, maka ia akan menjadi cahaya paling terang di Dunia Seribu Besar—agar dengan satu pandangan saja, mereka tahu ia masih hidup.
**ghua