16/03/2026
"̶B̶u̶k̶a̶n̶ ̶I̶s̶t̶r̶i̶,̶,̶,̶ ̶T̶a̶p̶i̶ ̶A̶T̶M̶ ̶B̶e̶r̶j̶a̶l̶a̶n̶ ̶D̶i̶r̶u̶m̶a̶h̶"̶
Lucu ya…
katanya menikah untuk saling menguatkan.
Tapi yang terjadi, satu perempuan dipaksa kuat sendirian
sementara laki-laki yang disebut suami
sibuk nyaman di balik status kepala keluarga.
Tagihan listrik datang ke siapa?
Istri.
Uang sekolah anak kurang, siapa yang panik?
Istri.
Dapur kosong, siapa yang memutar otak?
Istri lagi.
Suami?
Masih tenang dengan kalimat sakti:
“Kan kamu bisa…”
Pelan-pelan perempuan itu tidak lagi hidup sebagai pasangan.
Dia berubah jadi tulang punggung, tulang rusuk, sekaligus tulang kepala.
Semua ditanggung sendiri.
Yang lebih kejam bukan capek fisik.
Tapi capek batin saat sadar…
dia berjuang mati-matian mempertahankan rumah
yang bahkan pemilik namanya saja tidak peduli.
Perempuan itu mulai kehilangan rasa dihargai.
Mulai kehilangan rasa dicintai.
Dan tanpa sadar…
mulai kehilangan dirinya sendiri.
Wahai Perempuan SADARLAH...
kuat itu bagus.
Mandiri itu hebat.
Tapi menanggung laki-laki yang sengaja tidak bertanggung jawab
bukan perjuangan… itu penyiksaan yang kamu izinkan.
Berhenti membuktikan kamu kuat
pada orang yang justru nyaman melihatmu lelah.
Kadang yang harus diselamatkan bukan pernikahannya dulu…
tapi harga dirimu.
Sadari, Pahami, cintai dirimu sendiri 🖤❤️