07/06/2026
Apakah Utang Hanya Untuk Dimakan Lalu Menjadi Taik?
Oleh : Arman Budiyono.
Ketika kita melihat kembali ke masa lalu, ada satu pernyataan penting dari Presiden RI ke 2 Soeharto yang hingga kini masih sering dikutip ketika berbicara tentang utang negara.
Ketika ditanya bagaimana nanti Indonesia akan membayar utang luar negeri yang jumlahnya miliaran dolar AS? Presiden Soeharto menjawab pertanyaan wartawan bahwa program pembangunan yang ia jalankan, yang sepenuhnya dibiayai oleh utang bukanlah untuk dimakan lalu menjadi taik.
Memang utang seharusnya digunakan untuk membiayai sesuatu yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi di masa depan. Membangun jalan raya, memperbaiki jalan-jalan rusak, pelabuhan, bendungan, kawasan industri, pembangkit listrik, irigasi, hingga pendidikan dan peningkatan produktivitas tenaga kerja, itu semua merupakan contoh investasi yang dapat menghasilkan manfaat jangka panjang.
Kemudian kita bandingkan dengan program pemerintah saat ini, Polemik terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus bergulir.
Tidak ada yang meragukan bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan gizi yang lebih baik. Tidak ada p**a yang menolak tujuan mulia untuk mengurangi stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Akan tetapi, Apakah manfaat jangka panjang yang dihasilkan program MBG ini sebanding dengan biaya yang harus ditanggung negara nanti?
Jika anggaran ratusan triliun rupiah sebagian besar digunakan untuk konsumsi yang habis dalam hitungan jam, sementara pembiayaannya berasal dari ruang fiskal yang semakin sempit atau bahkan tambahan utang, maka wajar apabila sebagian kalangan mulai mempertanyakan efektivitasnya.
Generasi yang akan datang tidak membayar utang dengan niat baik pemerintah hari ini. Mereka membayarnya dengan pajak, dengan inflasi yang tinggi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang harus benar-benar tercipta.
Jika sebuah program mampu meningkatkan kualitas manusia Indonesia secara nyata, maka biaya yang dikeluarkan mungkin dapat dibenarkan. Namun jika manfaatnya tidak terukur dengan jelas sementara beban fiskalnya terus membesar, maka pertanyaan yang pernah diajukan kepada Soeharto puluhan tahun lalu, akan kembali relevan. Bagaimana nanti Indonesia akan membayar utang luar negeri yang jumlahnya ratusan miliar dollar AS, jika utang hari ini Hanya Untuk Dimakan Lalu Menjadi Taik?
Semua tau, kondisi fiskal Indonesia saat ini tidak lagi selonggar satu dekade yang lalu. Beban pembayaran bunga utang terus meningkat setiap tahun, kebutuhan belanja negara semakin besar, sementara penerimaan pajak belum tumbuh secepat yang diharapkan.
Di saat yang sama, pemerintah juga menghadapi berbagai kewajiban besar lainnya. Pembangunan infrastruktur masih membutuhkan dana, transformasi industri membutuhkan investasi, transisi energi memerlukan pembiayaan jangka panjang, belum lagi kebutuhan pendidikan, kesehatan, serta pembangunan di berbagai daerah yang masih tertinggal.
Dalam kondisi seperti itu, setiap rupiah anggaran negara seharusnya ditempatkan pada program yang memiliki tingkat pengembalian sosial dan ekonomi yang paling tinggi, bukan hanya untuk dimakan lalu menjadi taik.
Secara teori, program peningkatan gizi memang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun manfaat tersebut baru akan terlihat dalam jangka panjang, bahkan mungkin belasan hingga puluhan tahun mendatang. Sementara biaya yang harus dibayar negara muncul saat ini juga.
Artinya, keberhasilan program ini tidak bisa hanya diukur dari berapa juta porsi makanan yang dibagikan setiap hari. Keberhasilannya harus diukur dari apakah angka stunting benar-benar turun secara signifikan, apakah kualitas pendidikan meningkat, apakah produktivitas tenaga kerja masa depan menjadi lebih baik, dan apakah manfaat ekonominya benar-benar lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan?!
Jika indikator-indikator tersebut tidak tercapai, maka program ini berisiko menjadi belanja konsumtif berskala besar yang meninggalkan beban fiskal jangka panjang.
Karena jelas, kesejahteraan suatu bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak makanan yang dibagikan pemerintah setiap hari, melainkan oleh seberapa besar kemampuan masyarakatnya untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.
Pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi pusat diskusi publik.
Apakah utang dan ruang fiskal yang dimiliki Indonesia saat ini lebih efektif digunakan untuk memperkuat fondasi produktivitas nasional? Ataukah lebih banyak diarahkan pada program-program yang manfaat ekonominya masih menjadi perdebatan banyak kalangan?
Sebab dalam ilmu ekonomi, utang bukanlah masalah selama mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih besar daripada biaya utang itu sendiri.
Namun ketika utang digunakan untuk membiayai konsumsi yang tidak menghasilkan pengembalian ekonomi yang memadai, maka generasi mendatang berpotensi mewarisi tagihan yang jauh lebih besar dibanding manfaat yang mereka terima hari ini.
Mungkin karena itulah ucapan Soeharto puluhan tahun lalu masih terus diingat hingga sekarang. Bukan karena siapa yang bicara, melainkan karena pesan ekonominya yang tetap relevan. Bahwa utang tidak seharusnya digunakan untuk dimakan lalu menjadi taik.
Akan tetapi utang negara harus digunakan untuk menciptakan aset, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang dapat dinikmati lintas generasi.
Sebab jika tidak, maka suatu hari nanti bangsa ini mungkin akan kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama.
Utang yang terus bertambah itu sebenarnya digunakan untuk membangun masa depan, atau hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini yang besok pagi sudah habis dan menjadi taik?
(Arman Budiyono)