29/11/2025
📌BAB 1
– Malam Pertama Tanpa Suamiku
Hujan turun tanpa permisi malam itu, mengetuk-ngetuk jendela rumah kecil yang kini terasa lebih luas daripada biasanya. Sari berdiri di dekat kaca, memandangi titik-titik air yang mengalir turun seperti mengikuti isi hatinya.
Ini adalah malam pertama Arga pergi untuk tugas panjang.
Malam pertama tanpa suara langkahnya, tanpa tawa kecilnya, tanpa tangan hangat yang biasanya menggenggam jemarinya sebelum tidur.
Rumah itu sepi.
Terlalu sepi.
Sari memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan rasa kosong yang menekan dadanya. Telepon genggam di meja masih menyala, menampilkan pesan terakhir dari Arga:
“Jaga diri baik-baik. Aku selalu bawa kamu dalam doaku.”
Air mata Sari jatuh lagi.
Ia duduk di tepi ranjang—ranjang yang kini terasa setengah kosong. Ada bekas bantal Arga yang masih menyimpan aroma tubuhnya. Sari mendekat, menunduk, menghirupnya pelan, seolah berharap bisa memeluk suaminya lewat kenangan.
“Arga…” bisiknya lirih. “Bagaimana bisa aku tidur tanpa kamu di sini?”
Suara hujan semakin deras, menyelimuti rumah dengan kesedihan yang lembut. Sari memejamkan mata, mengingat detik-detik ketika Arga memeluknya sebelum berangkat tadi pagi.
“Aku cuma sebentar,” kata Arga, menempelkan keningnya pada kening Sari.
“Sebentar itu lama kalau kamu nggak ada,” jawab Sari dengan suara retak.
Arga tersenyum, tetapi matanya ikut berair. “Aku pulang sebelum rindumu tumbuh terlalu sakit.”
Namun kini, baru beberapa jam berlalu… dan rindu itu sudah menikam seperti duri yang tak bisa dicabut.
Sari menarik selimut, memeluknya erat seolah itu adalah lengan Arga. Dadanya bergetar menahan isak. “Aku kuat… aku harus kuat,” katanya pada diri sendiri. Tapi suaranya terdengar rapuh.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama itu muncul — Arga ❤️
Sari mengusap air matanya cepat-cepat dan mengangkat.
Wajah Arga muncul di layar—lelah, tetapi hangat. “Sayang, kamu udah tidur?”
Sari menggeleng. “Belum… nggak bisa.”
Arga menatapnya dengan mata yang sedikit merah. “Aku juga. Baru beberapa jam, tapi rasanya aku sudah kangen banget sama kamu.”
Sari menggigit bibir bawahnya menahan tangis. “Rumah terlalu sunyi tanpa kamu.”
Arga menelan ludah, suaranya pelan. “Aku janji… nggak peduli berapa lama tugas ini, hati aku tetap di kamu. Kamu nggak sendiri, Sayang. Kita cuma terpisah jarak, bukan perasaan.”
Malam itu, mereka saling menatap lewat layar yang kecil—dua hati yang berusaha saling menguatkan meski dunia nyata menempatkan mereka berjauhan.
Dan ketika panggilan akhirnya berakhir, Sari menutup mata sambil memeluk bantal Arga.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti:
rindu paling menyakitkan adalah rindu yang tidak bisa dipeluk.