Diary Tengah Malam

Diary Tengah Malam Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Diary Tengah Malam, Digital creator, Bogor.

“Perempuan Lain Membuatku Merasa Hidup”Aku mulai sering pulang malam.Bukan karena lembur.Bukan karena tuntutan kerja.Tap...
03/02/2026

“Perempuan Lain Membuatku Merasa Hidup”

Aku mulai sering pulang malam.
Bukan karena lembur.
Bukan karena tuntutan kerja.
Tapi karena ada seseorang di kantor yang selalu tertawa setiap kali aku bicara.
Mendengarkan keluh kesahku.
Memujiku sebagai laki-laki hebat.

Di dekatnya, aku merasa dihargai.
Merasa diakui.
Merasa hidup.
Sementara di rumah, istriku selalu sama.
Diam.
Tenang.
Sibuk dengan dapur, sajadah, dan tubuhnya yang makin hari makin lemah.

“Aku capek,” kataku suatu malam.
“Kerja seharian, pulang-pulang disambut wajah murung.”
Dia tidak membantah.
Hanya menunduk.

“Perempuan di luar sana bisa bikin suaminya semangat,” lanjutku.

“Bisa ngobrol, bisa ngerti, bisa bikin laki-laki merasa penting.”

Tangannya gemetar memegang ujung mukena.
Tapi tetap tidak ada jawaban.

Aku semakin yakin.
Bahwa kesepianku ini salahnya.

Beberapa hari kemudian, aku pulang lebih larut.
Rumah gelap.
Makanan sudah tertutup rapi.
Istriku tidak menyambut.
Tidak menanya.
Tidak menunggu.

Aku menemukannya duduk di lantai dapur, bersandar ke lemari.
Wajahnya pucat.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Kamu kenapa?” tanyaku singkat.
Dia berusaha berdiri, gagal.

“Cuma pusing sedikit, Mas.”
Aku mendengus.

“Jangan drama. Kamu kebanyakan diam, kebanyakan mikir.”

Dia menatapku.
Tatapan yang tidak memohon.
Tidak marah.
Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu… sendirian.

Aku melangkah pergi ke kamar.
Meninggalkannya di sana.

Malam itu, aku tidur nyenyak.
Tanpa tahu…
Di rumah yang sama,
ada seorang perempuan
yang sedang menahan sakit,
dan menahan harapan,
agar tidak runtuh bersamaan.

Bersambung ke Episode 4





Episode 2 — “Doa yang Mengusikku Tengah Malam”Sejak malam itu, tidurkku tidak lagi nyenyak.Setiap kali memejamkan mata,a...
02/02/2026

Episode 2 — “Doa yang Mengusikku Tengah Malam”
Sejak malam itu, tidurkku tidak lagi nyenyak.

Setiap kali memejamkan mata,
aku teringat suara lirih dari balik mukena putih itu.

“Aku lelah, Ya Allah…”

Aku bangun lebih pagi dari biasanya.
Rumah masih gelap.

Di dapur, istriku sudah sibuk.
Wajahnya pucat, matanya sembab.

Dia tidak menatapku.
Tidak seperti biasanya.

Aku duduk di meja makan.
“Kenapa bangun pagi sekali?” tanyaku datar.

“Biasa,” jawabnya singkat.

Ada jarak.
Dingin.

Aku menyendok nasi.
Rasanya hambar.

“Mas…” katanya pelan.
“Kemarin aku bukan mau merepotkanmu.”

Aku mengangkat wajah.
“Lha... Terus?”

“Aku cuma merasa…”
Dia berhenti.

Tangannya gemetar.
“Merasa sendirian.”

Aku tertawa sinis.
“Sendirian apanya? Jangan lebay.”

Dia mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca.
“Iya, Mas.”

Aku tidak tahu kenapa jawaban itu justru membuatku kesal.

“Sudahlah,” kataku.
“Jangan BaPer lah.”

Dia terdiam.

Setelah aku berangkat kerja,
rumah terasa kosong di kepalaku.

Di kantor, aku sulit fokus.
Angka-angka di layar berantakan.

Tiba-tiba terlintas di pikiranku:
Sejak kapan terakhir kali aku memeluk istriku?

Aku menggeleng.
Mengusir pikiran itu.

“Ah, bodo amat.”

Malamnya, aku pulang lebih cepat.
Rumah sepi.

Lampu kamar menyala.
Aku mendekat.

Istriku kembali duduk di atas sajadah.
Mukena putih itu lagi.

Tangannya terangkat.
Air matanya jatuh.

“Kuatkan aku, Ya Allah…”

Dadaku terasa sesak.
Untuk pertama kalinya…

Aku bertanya dalam hati:
Kenapa doa-doanya justru membuatku gelisah?

Bersambung — Episode 3





AKU MENGHINA ISTRIKU SEBAGAI WANITA TAK BERGUNA…Episode 1 — “Aku Selalu Merasa Paling Benar”Aku selalu merasa akulah yan...
01/02/2026

AKU MENGHINA ISTRIKU SEBAGAI WANITA TAK BERGUNA…
Episode 1 — “Aku Selalu Merasa Paling Benar”

Aku selalu merasa akulah yang paling berjasa di rumah ini.
Aku bekerja. Aku mencari uang. Aku pulang membawa lelah.

Sedangkan istriku?
Seharian hanya di rumah. Dari dapur ke kamar, lalu ke sajadah.

Suatu malam aku melempar tas ke sofa.
“Aku capek.”

Istriku keluar dari dapur. Tangannya masih basah.
“Mas mau minum?” tanyanya pelan.

Aku tidak menjawab.

Dia duduk di ujung sofa, menjaga jarak.
“Mas… boleh aku cerita sebentar?”

Aku menghela napas kesal.
“Cerita apa lagi? Aku ini baru pulang kerja.”

Dia terdiam.

“Seharian di rumah capek apa?” lanjutku.
“Nyapu, masak, sama doa-doa itu kamu anggap kerja berat?”

Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan aku tidak merasa bersalah.

“Aku cuma ingin ditemani,” ucapnya lirih.
“Kepalaku sering pusing.”

Aku terkekeh kecil.
“Kamu kebanyakan mikir hal nggak penting.”

Dia menunduk.
Air matanya jatuh ke lantai.

Aku berdiri dan melangkah ke kamar.
“Jangan drama. Aku mau istirahat.”

Malam itu aku terbangun oleh suara lirih.
Bukan televisi. Bukan ponsel.

Doa.

Hampir pukul tiga pagi. Aku mengintip dari balik dinding.
Istriku duduk di atas sajadah. Mukena putih menutupi tubuhnya.

“Aku lelah, Ya Allah,” suaranya bergetar.
“Tapi aku tidak ingin mengeluh pada manusia.”

Dadaku terasa aneh.

“Kalau aku tidak berharga di matanya,” lanjutnya lirih,
“tolong Engkau saja yang tahu nilai diriku.”

Aku mendengus pelan.
Doa lagi.

Aku kembali ke kamar, tapi tidak bisa langsung tidur.
Entah kenapa, rasa kesal itu menetap.

Aku ini suami.
Aku benar.
Aku yang menafkahi.

Dan perempuan yang hanya bisa berdoa,
menurutku tak punya alasan
untuk menuntut apa pun dariku.

Bersambung — Episode 2
“Doa yang Mengusikku Tengah Malam”





Address

Bogor

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Diary Tengah Malam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share