03/02/2026
“Perempuan Lain Membuatku Merasa Hidup”
Aku mulai sering pulang malam.
Bukan karena lembur.
Bukan karena tuntutan kerja.
Tapi karena ada seseorang di kantor yang selalu tertawa setiap kali aku bicara.
Mendengarkan keluh kesahku.
Memujiku sebagai laki-laki hebat.
Di dekatnya, aku merasa dihargai.
Merasa diakui.
Merasa hidup.
Sementara di rumah, istriku selalu sama.
Diam.
Tenang.
Sibuk dengan dapur, sajadah, dan tubuhnya yang makin hari makin lemah.
“Aku capek,” kataku suatu malam.
“Kerja seharian, pulang-pulang disambut wajah murung.”
Dia tidak membantah.
Hanya menunduk.
“Perempuan di luar sana bisa bikin suaminya semangat,” lanjutku.
“Bisa ngobrol, bisa ngerti, bisa bikin laki-laki merasa penting.”
Tangannya gemetar memegang ujung mukena.
Tapi tetap tidak ada jawaban.
Aku semakin yakin.
Bahwa kesepianku ini salahnya.
Beberapa hari kemudian, aku pulang lebih larut.
Rumah gelap.
Makanan sudah tertutup rapi.
Istriku tidak menyambut.
Tidak menanya.
Tidak menunggu.
Aku menemukannya duduk di lantai dapur, bersandar ke lemari.
Wajahnya pucat.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Kamu kenapa?” tanyaku singkat.
Dia berusaha berdiri, gagal.
“Cuma pusing sedikit, Mas.”
Aku mendengus.
“Jangan drama. Kamu kebanyakan diam, kebanyakan mikir.”
Dia menatapku.
Tatapan yang tidak memohon.
Tidak marah.
Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu… sendirian.
Aku melangkah pergi ke kamar.
Meninggalkannya di sana.
Malam itu, aku tidur nyenyak.
Tanpa tahu…
Di rumah yang sama,
ada seorang perempuan
yang sedang menahan sakit,
dan menahan harapan,
agar tidak runtuh bersamaan.
Bersambung ke Episode 4