Sobat Hijrah

Sobat Hijrah اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ مُحَمَّدٍ.

JAWABAN ISTIKHARAH HARUS LEWAT MIMPI? GAK GITU JUGA!Bismillah.Oke, langsung aja ya…Jadi gini, jawaban dari shalat istikh...
09/07/2026

JAWABAN ISTIKHARAH HARUS LEWAT MIMPI? GAK GITU JUGA!

Bismillah.

Oke, langsung aja ya…

Jadi gini, jawaban dari shalat istikharah tuh sebenernya udah ada dalam doanya sendiri. Intinya, kita minta sama Allah:

Kalau pilihan ini baik buat hidup kita (dunia & akhirat), Allah bakal kasih jalan, mudahkan, dan kasih berkah di dalamnya.
Kalau pilihan ini buruk, Allah bakal menjauhkannya dari kita dan kita dari pilihan itu, terus ngasih sesuatu yang lebih baik.

Seperti dalam doa istikharah berikut:

Doa Istikharah

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِى

“Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusan dunia dan akhiratku (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku, dan berkahilah ia untukku.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya.”

(HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi, dan lainnya).

Jadi Jawaban Istikharah Itu Apa?

Kemudahan dalam proses mewujudkan pilihan.

Hati terasa lebih tenang dan condong ke pilihan itu.

Seperti kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

فَإِذَا اسْتَخَارَ اللهَ كَانَ مَا شُرِحَ لَهُ صَدْرُهُ وَتَيَسَّرَ لَهُ مِنَ الأُمُورِ هُوَ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ لَهُ.

“Bila seorang telah melaksanakan shalat istikharah, pilihan yang menentramkan hati dan kemudahan yang ia dapatkan dalam mewujudkan pilihan tersebut, maka itulah yang menjadi pilihan Allah untuknya.”

(Majmu’ Fatawa 10/539).

Begitu juga menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah:

إِذَا اسْتَخَارَ الإِنْسَانُ رَبَّهُ فِي شَيْءٍ وَانْشَرَحَ صَدْرُهُ لَهُ فَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ هُوَ الَّذِي اخْتَارَهُ اللَّهُ تَعَالَى.

“Apabila seorang sudah melakukan shalat istikharah untuk memantapkan suatu pilihan, kemudian dadanya merasakan lapang pada pilihan tersebut, ini adalah tanda bahwa pilihan itulah yang menjadi pilihan Allah ta’ala.”

(Fatwa beliau bisa didengar di sini: https://youtu.be/iqvLYo_G-KY).

Mimpi Itu Wajib? Nope!

Banyak orang salah paham, dikira jawaban istikharah tuh harus datang lewat mimpi. Padahal, nggak gitu juga! Rasulullah ﷺ sendiri bilang kalau mimpi ada tiga jenis:

الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ: حَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفُ الشَّيْطَانِ وَبُشْرَى مِنَ اللَّهِ.

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mimpi yang datang dari Allah pun harus benar-benar diperiksa dulu. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ

“Kenabian tidak ada lagi selain berita gembira.”

Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan berita gembira?”

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

“Mimpi yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 6990).

Dalam hadis riwayat Ahmad, juga disebutkan:

رُؤْيَا الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ، وَهِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ.

“Mimpi seorang Muslim, itu adalah bagian dari bagian-bagian kenabian.”

Jadi Kesimp**annya?

Jawaban istikharah itu bukan lewat mimpi, tapi dari hati yang tenang terhadap sebuah pilihan dan jalan yang dimudahkan.
Mimpi bisa saja menjadi jawaban istikharah, yaitu dari sisi kelapangan hati melanjutkan pilihan. Kalau memang pengen tahu arti mimpi yang dirasa “beda” alias ada korelasinya ama istikharah kita, pastikan konsultasi ke ulama atau ustadz yang paham tafsir mimpi dan punya akidah yang lurus. Kalau nggak, bisa jatuh ke khurafat atau malah jadi bingung sendiri.

Kalau nggak ketemu orang yang bisa bantu tafsir mimpi? Skip aja! Karena dalam Islam, mimpi bukan dasar utama buat ambil keputusan dalam urusan dunia maupun agama.

Jadi jangan dikit-dikit ketergantungan sama mimpi, karena nggak semua mimpi itu petunjuk dari Allah.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

MAASYAAALLAH… CANTIKNYA DIRIKU!Adakalanya kita melihat ke cermin akan indahnya wajah kita, mata, hidung, bibir, dan kuli...
09/07/2026

MAASYAAALLAH… CANTIKNYA DIRIKU!

Adakalanya kita melihat ke cermin akan indahnya wajah kita, mata, hidung, bibir, dan kulit yang mulus, dan membuat diri terkagum dengan keindahan tersebut. Ketahuilah wahai Saudari Muslimah, bahwa itu semua adalah anugerah dari Allah ta’ala. Sempurnanya penciptaan diri kita sebagai manusia adalah di antara tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala.

Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Syaikhul Islam At-Tamimi rahimahullah menjelaskan di dalam kitabnya Al-Ushuluts Tsalaatsah, tentang bagaimana kita bisa mengenal Rabb kita adalah dengan ayat-ayatNya dan ciptaan-ciptaanNya. Allah ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya:

“Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (p**a) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Q.S Fushshilat: 37)

Besarnya penciptaan matahari dan bulan, dan indahnya malam dan siang itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala yang menciptakannya. Apalagi jika hanya wajah yang cantik nan rupawan, hidung, mata, dan bibir yang sempurna penciptaannya, maka hal ini sangatlah mudah di sisi Allah. Maka dari itu, perlu kita renungi bahwa indahnya penciptaan manusia adalah bukti kebesaran Allah dan syukur kita pada kenikmatan ini haruslah kita sandarkan kepada Allah saja.

Dalam banyaknya harta yang mungkin disebabkan oleh usaha manusia, maka kita harus untuk menisbatkan hal itu semua kepada Allah. Di dalam surat Al-Kahfi ayat 39, Allah menceritakan tentang orang yang mempunyai kebun yang indah,

وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًا

Artinya:

“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, “Mā syā’allāh, lā quwwata illā billāh” (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah).” (Q.S Al-Kahfi: 39)

As-Sa’di rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal, dan segala sesuatu yang diharapkan dari kebaikan akhirat itu lebih utama daripada apa yang ada di dunia yang orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya.”

Bersyukur Atas Nikmat Allah

Maka dari itu, jangan lupa menyandarkan segala nikmat kepada Allah dengan syukur. Syukur tidaklah hanya pada hati, tapi harus juga diucapkan di lisan dan ditampakkan dengan perbuatan, yaitu dengan cara memanfaatkan nikmat tersebut untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Dalam hal ini, kecantikan tidaklah datang kecuali dari Allah dan di antara bentuk syukur adalah dengan merawatnya dan menjaganya dari pandangan-pandangan laki-laki yang bukan mahramnya karena ini adalah salah satu dari bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.

Milikilah Rasa Malu

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum (199) mengatakan. “Ketahuilah, bahwa rasa malu itu ada 2 macam:

Pertama: Rasa malu yang itu sudah menjadi tabi’at dan watak, tidak perlu diusahakan. Ini adalah anugerah dari Allah kepada hambaNya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الحياء لا يأتي إلا بخير

Artinya:

“Rasa malu itu tidaklah memberikan sesuatu kecuali kebaikan.” (H.R Bukhori, No. 6117)

Karena rasa malu akan menahan pelakunya dari perbuatan yang buruk dan akan mendorong seseorang untuk mempunyai akhlak yang baik dan akan menghasilkan iman

Kedua: Rasa malu yang diusahakan. Rasa malu bisa diusahakan dari mengenal Allah ta’ala, keagunganNya, mendekat padaNya, mengetahui bahwa Allah itu dekat, dan ilmuNya meliputi para hambaNya. Allah-lah yang tahu tentang mata yang khianat dan apa yang ada di dalam dada. Inilah yang disebut dengan muroqobatullah. Ini adalah tujuan iman yang tertinggi, bahkan derajat ihsan yang tertinggi.”

Takjub akan Kecantikan Diri Sendiri

Adakalanya seorang wanita muslimah bercermin, maka dia takjub akan kecantikan dirinya, maka yang yang dilakukan adalah:

Bersyukur, bahwa itu adalah nikmat dan anugerah dari Allah.

Hiasi kecantikan tersebut dengan rasa malu dan menjaga kecantikan tersebut dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.

Menjaga kecantikan tersebut dengan merawatnya dan mempersembahkan kecantikan tersebut hanya pada yang berhak semisal kepada suaminya.

Tidak lupa untuk mendoakan keberkahan pada dirinya.

Karena bisa jadi penyakit ‘ain menimpa dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

وقد يعين الرجل نفسه

Artinya: “Terkadang seseorang bisa menimpakan ‘ain pada dirinya sendiri”

Maka, untuk mencegah hal tersebut, hendaknya seseorang itu memperbanyak doa keberkahan dan senantiasa bersyukur dan menyadari bahwa kecantikan itu murni anugerah dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا رأى أحدكم من نفسه أو ماله أو من أخيه ما يعجبه فليدع له بالبركة فإن العين حق

Artinya:

“Jika salah seorang kalian melihat sesuatu di dalam dirinya, atau hartanya, atau yang ada pada saudaranya yang membuatmu takjub, maka doakanlah ia dengan keberkahan. Karena sesungguhnya ‘ain itu nyata.” (HR. Al Hakim di dalam Al-Mustadrok No. 7706, sanadnya shahih)

Jika penyakit ‘ain sudah terlanjur menimpanya, maka hendaklah dia meruqyah dirinya sendiri dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya dan hilangnya dampak ‘ain pada dirinya.

Di dalam shahihain, hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan aku untuk melakukan ruqyah karena ‘ain.”

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:

أللهم حسنت خلقي فحسن خلقي

Artinya:

“Ya Allah, sebagaimana Engkau memperbagus rupa diriku, maka perbaguslah akhlakku.” (H.R Ibnu Hibban dalam Bulughul Maram No. 451)

Indahnya akhlak adalah sesuatu yang lebih penting untuk kita minta daripada indahnya jasad. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk meminta keindahan akhlak di atas keindahan jasad di dalam doa kita.

APAKAH INTI KEBAHAGIAAN ITU?Kebahagiaan seorang hamba, baik ketika di dunia dan di akhirat, merupakan anugerah dan pembe...
09/07/2026

APAKAH INTI KEBAHAGIAAN ITU?

Kebahagiaan seorang hamba, baik ketika di dunia dan di akhirat, merupakan anugerah dan pemberian rabbani. Semua itu hanya berada di tangan Allah. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk melakukan aktivitas menurut takdir yang telah ditentukan baginya. Seseorang yang telah ditakdirkan meraih kebahagiaan, maka dia akan dimudahkan dan diberi taufik untuk melakukan kebaikan. Sebaliknya, seseorang yang ditakdirkan sengsara, akan melakukan aktivitas keburukan. Allah Ta’ala yang akan memudahkan setiap aktivitas tersebut. Allah-lah Zat yang memberikan pertolongan dan petunjuk, dan juga Dia-lah yang menganugerahkan taufik kepada setiap hamba.

Dari sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah menguburkan jenazah di pemakaman Baqi Al-Gharqad. Tidak berselang lama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangi kami. Beliau duduk, dan kami pun duduk mengelilingi beliau. Setelah itu, Rasulullah memegang sebuah batang kayu pendek dan beliau menggaris-gariskan dan memukul-mukulkannya di atas tanah seraya berkata,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلَّا وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً قَالَ فَقَالَ رَجَلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَمْكُثُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَقَالَ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ : فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ؛ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ؛ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ؛ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ؛ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ؛ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ

“Tidaklah seseorang diciptakan melainkan Allah telah menentukan tempatnya, baik di surga ataupun di neraka, serta ditentukan p**a apakah dia sengsara atau bahagia.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, kalau begitu apakah sebaiknya kami berdiam diri saja tanpa harus berbuat apa-apa?’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Siapa saja yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, dia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, siapa saja yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sengsara, dia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tetaplah beramal! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat (sesuai dengan ketentuan terhadap dirinya, sengsara atau bahagia). Orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sedangkan orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara, maka akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.”

Setelah itu, Rasulullah pun membacakan ayat Al-Quran (yang artinya), “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil (pelit) dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10)” (HR. Bukhari no. 1362 dan Muslim no. 2647)

Allah Ta’ala memang telah menakdirkan kebahagiaan dan kesengsaraan. Namun, Allah juga telah menjadikan dan menunjukkan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis di atas,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Tetaplah beramal! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat (sesuai dengan ketentuan terhadap dirinya, sengsara atau bahagia).”

Sehingga seorang hamba diperintahkan untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk menempuh berbagai sebab yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan menghindarkan dari kesengsaraan. Tentunya, sembari memohon pertolongan dan meminta bantuan kepada Allah Ta’ala.

Kebahagiaan itu hanyalah bisa dicapai dengan melakukan berbagai macam amal ketaatan kepada Allah Ta’ala dan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ

“Setiap orang yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah Ta’ala berfirman,

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِن فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰة طَيِّبَةۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Setiap orang yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

“Kehidupan yang baik” dalam ayat di atas adalah kehidupan yang tidak berisi kedukaan dan kesengsaraan, yaitu kehidupan yang terisi dengan keimanan dan ketaatan. Inilah inti kebahagiaan yang terwujud dengan melakukan tiga hal penting dalam hidup seorang hamba. Setiap orang yang memperoleh taufik dan hidayah untuk melakukan tiga hal ini, niscaya akan menjadi orang yang berbahagia di dunia dan akhirat. Tiga perkara itu adalah: (1) bersyukur kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat-Nya; (2) bersabar terhadap takdir-Nya; dan (3) bertobat kepada-Nya.

Mengapa demikian? Karena dalam kehidupan dunia ini, seorang hamba itu tidak mungkin terlepas dari tiga kondisi berikut ini.

Pertama, dia terus-menerus berada dalam limpahan nikmat dan karunia yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Kenikmatan itu tentu menuntut rasa syukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Contoh kecil, Allah Ta’ala akan rida kepada hamba-Nya, jika ia memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum.

Kedua, dia sedang ditimpa musibah atau kondisi yang sempit. Kewajiban yang harus dilakukan dalam kondisi semacam ini adalah menghadapi dengan lapang dada dan bersabar atas takdir tersebut sembari mengharapkan karunia dan pemberian-Nya.

Bersabar atas musibah yang menimpa merupakan kedudukan mulia dan tinggi dalam agama. Hanya orang-orang yang memperoleh anugerah dan kelapangan dada dari Allah Ta’ala yang bisa diberi taufik untuk bersabar. Ia menghadapi musibah tersebut dengan menerima takdir Allah Ta’ala berdasarkan ilmu dan keimanan. Yaitu, segala sesuatu yang memang telah ditakdirkan menimpanya, niscaya akan dia alami. Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak ditakdirkan menimpanya, niscaya tidak akan dia alami. Allah Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah. Dan setiap orang yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Perihal ayat ini, Alqamah rahimahullah menuturkan,

هو الرجل تصيبه المصيبة، فيعلم أنّها من عند الله، فيرضى ويسلّم

“Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, lalu ia tahu bahwa musibah itu berasal dari Allah. Kemudian ia pun rida dan menerimanya dengan lapang dada.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 9503)

Ketiga, selain itu, dia juga berada dalam kondisi penuh dosa dan kesalahan. Kondisi ini menuntut hamba untuk bertobat dan beristigfar. Istigfar merupakan aktivitas yang mulia dan membuahkan pahala yang melimpah. Dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sangat beruntunglah orang yang kelak menjumpai bahwa catatan amalnya banyak dipenuhi istigfar.” (HR. Ibnu Majah no. 3818, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Manfaat istigfar ini tidak berbilang dan tidak terbatas, dan membutuhkan tulisan tersendiri untuk menuliskan semuanya. Namun, cukuplah kami menyebutkan salah satu manfaatnya di dunia seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارا ؛ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارا ؛ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰل وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰت وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرا

“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (p**a di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Inilah tiga tanda kebahagiaan dan keberuntungan hamba di dunia dan akhirat. Setiap hamba senantiasa akan berputar pada tiga kondisi ini.” (al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5)

Oleh karena itu, hamba yang bersyukur jika dilimpahi nikmat, bersabar jika ditimpa musibah, dan beristigfar jika berbuat dosa, adalah hamba yang sangat beruntung dan berbahagia. Ketiga hal ini merupakan inti kebahagiaan, dan terkumpul dalam sebuah atsar yang diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau menuturkan,

رْبَعُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ ، مَنْ كَانَ عِصْمَةُ أَمِرْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ قَالَ : إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، وَإِذَا أُعْطِيَ شَيْئًا قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَإِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا قَالَ : أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Siapa yang melakukan empat perkara ini, niscaya Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga. Keempat perkara itu adalah: (1) menjadikan kalimat laa ilaaha illallah sebagai hal yang utama; (2) mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un apabila ditimpa musibah; (3) mengucapkan alhamdulillah apabila diberi kenikmatan; dan (4) mengucapkan astaghfirullah apabila berbuat dosa.” (HR. Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhud hal. 50 [dalam bagian mulhaq], Ibnu Abi ad-Dunya dalam asy-Syukr no. 205, dan Al-Baihaqi dalam al-Iman no. 9692)

Dalam atsar di atas, ketiga inti kebahagiaan tersebut disandingkan dengan perkara pokok dan agung yang menjadi pondasi agama ini, yaitu kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat hanya akan tercapai jika melaksanakan kandungannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, penerapan kandungan kalimat itulah yang menjadi inti kebahagiaan. Sehingga orang yang menerapkan kandungannya adalah orang yang sejatinya berbahagia.

Semoga Allah Ta’ala menetapkan kita semua dalam peribadatan orang-orang yang berbahagia dan meneguhkan kita di jalan kebahagiaan.

REZEKI TIDAK AKAN TERTUKARRosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ، فَإِنَّهُ لَمْ ...
05/07/2026

REZEKI TIDAK AKAN TERTUKAR

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لِيَمُوتَ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ: أَخْذِ الْحَلَالِ، وَتَرْكِ الْحَرَامِ

“Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya.

Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram..”

(HR. Abdurazzaq dalam Al Mushannaf, Ibnu Hibban no. 3239 – Syaikh Al-Albani rohimahullah men-shohihkan hadits ini dalam kitab Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shohiihah No. 2607)

Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

“Wahai anak Adam.. sesungguhnya engkau tidak dapat mendahului ajalmu, dan tidak ada yang dapat menghalangimu dari rezeki yang telah ditetapkan untukmu, dan (engkau juga) tidak akan diberi rezeki yang bukan bagianmu.

Lantas, mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga lalai dari Allah)..?! atas dasar apa engkau membinasakan dirimu..?!”

( Mawaizh Lil Imam Al Hasan al-Bashri – 91 )

Abu Hazim Salamah bin Dinar rohimahullah berkata,

“Aku memikirkan tentang rezeki temyata aku mendapatinya dua macam.

Satu untukku yang pada saatnya akan aku dapatkan, maka aku tidak bisa menyegerakannya walaupun aku berusaha mendapatkannya dengan kekuatan langit dan bumi .. dan yang satunya lagi untuk orang lain. Jadi apa yang telah lalu tidak akan aku dapatkan, maka aku hanya mencari yang masih tersisa.

Rezekiku tidak akan dimiliki oleh orang lain sebagaimana rezeki orang lain tidak akan dimiliki oleh diriku. Lantas untuk yang mana aku akan menghabiskan umurku..?!”

04/07/2026

Mari bantu bangun kembali Masjid Al-Bukhori agar menjadi tempat sujud yang aman dan nyaman bagi warga pelosok.

LETAK KEBAHAGIAAN BUKAN PADA KEMEWAHAN DUNIASetiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menem...
04/07/2026

LETAK KEBAHAGIAAN BUKAN PADA KEMEWAHAN DUNIA

Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia. Namun apakah betul seperti itu? Simak tulisan berikut ini.

Kebahagiaan untuk Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh

Saudaraku … Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97). Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97). Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.

Begitu p**a Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3). Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.

Begitu p**a Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Inilah empat tempat dalam Al Qur’an yang menjelaskan balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. Ada dua balasan yang mereka peroleh yaitu balasan di dunia dan balasan di akhirat. Itulah dua kebahagiaan yang nantinya mereka peroleh. Ini menunjukkan bahwa mereka lah orang yang akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Salah Satu Bukti

Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah Abul ‘Abbas.

Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”

Begitu p**a Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Sebenarnya orang yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan). ”

Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak do’a agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu do’a: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih sempat di saat sujud, beliau mengucapkan do’a ini. Padahal beliau sedang dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.

Tatkala beliau masuk dalam sel penjara, hingga berada di balik dinding, beliau mengatakan,

فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ

“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al Hadid: 13)

Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan juga pangeran.

Para salaf mengatakan,

لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ

“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”

Mendapatkan Surga Dunia

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.

Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.

Itulah saudaraku surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.

Penutup

Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati, yaitu hati yang memiliki keimanan, yang selalu merasa cukup dan selalu bersandar pada Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya.

Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Address

Bojonegoro

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sobat Hijrah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share