13/05/2026
Elegi untuk Hutan dan Alam Yang Rusak Oleh Tambang Ilegal
Di lereng bukit yang dahulu hijau,
angin pernah membawa wangi damar dan tanah basah.
Burung-burung bernyanyi dari pucuk-pucuk pagi, dan sungai mengalir jernih
seperti doa panjang para leluhur.
Namun suatu hari pada malam itu,
datang suara besi menggeram dari perut hutan.
Lampu-lampu asing menikam gelap,
rantai-rantai baja mencabik akar,
dan tanah dipaksa membuka luka
demi segenggam emas yang tak pernah kenyang.
Anak-anak desa terbangun oleh debu.
Air sungai berubah warna,
keruh seperti mata ibu-ibu
yang kehilangan sawah dan mata air.
Ikan-ikan terapung diam,
sementara batu-batu gunung runtuh perlahan
menjadi liang keserakahan.
Di jalan berlumpur itu,
truk-truk melintas tanpa rasa bersalah.
Mereka membawa isi bumi pergi jauh,
meninggalkan lubang-lubang menganga
seperti kuburan bagi masa depan.
Dan hutan—yang selama ratusan tahun menjaga hujan—kini tinggal tunggul dan sunyi.
Tak ada lagi nyanyian rangkong,
tak ada lagi jejak rusa di tanah basah.
Yang tersisa hanya bau solar,
air beracun,
serta langit yang kehilangan warna birunya.
Kami, Front Lingkungan Hidup,
berdiri di antara reruntuhan ini
bukan untuk menangisi bumi semata,
tetapi untuk berseru:
Bahwa tanah bukan warisan untuk dirampas.
Bahwa sungai bukan tempat membuang kerakusan.
Bahwa hutan bukan angka di atas meja kuasa.
Karena bila gunung dan bukit terakhir runtuh, dan mata air terakhir mengering,
manusia akan sadar
uang tak dapat ditanam menjadi pohon,
emas tak dapat diminum saat haus,
dan kekayaan tak mampu membeli kembali
udara yang telah mati.
Kepada Tuan Tuan Perusak Lingkungan, dengarlah—
bumi sedang berbicara lewat banjir, longsor, dan panas yang membakar musim.
Ia tidak meminta belas kasihan,
ia hanya menuntut manusia
untuk berhenti menjadi predator
di rumahnya sendiri.