Sandy Nuryanda

Sandy Nuryanda Sandy Nuryanda 󱢏
📩 [email protected]

14/06/2026

Persepsi penglihatan adalah proses objektif saat otak menafsirkan informasi cahaya untuk mengenali bentuk, warna, dan ruang. Sebaliknya, persepsi perasaan adalah respons subjektif yang melibatkan emosi, memori, dan kondisi mental dalam memaknai suatu realitas.

11/06/2026

Reels Tanpa Judul 🥀

2020
10/06/2026

2020

10/06/2026

Kerusakan hidup sering datang bukan dari musuh, tapi dari orang yang paling dekat dengan kita.

Hallo kota Cirebon,..📍Makom sunan gunung jati
06/06/2026

Hallo kota Cirebon,..

📍Makom sunan gunung jati

06/06/2026

Bolehkah kita membalas?

Dalam ajaran Islam, seseorang dibolehkan membalas kezaliman atau kejahatan yang menimpanya selama pembalasan tersebut setimpal dan tidak melampaui batas. Namun, memaafkan dan mengikhlaskan adalah pilihan yang lebih utama di sisi Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim."
(QS. Asy-Syura: 40)

Ayat ini menjelaskan bahwa ada tiga sikap yang bisa diambil ketika dizalimi:

1. Pembalasan Adil
Seseorang boleh menuntut haknya atau membalas sesuai kadar kezaliman yang diterimanya tanpa berlebihan. Ini merupakan bentuk keadilan yang dibenarkan syariat.

2. Pembalasan Zalim
Membalas dengan cara yang lebih keras, lebih menyakitkan, atau melebihi batas dari apa yang diterima adalah perbuatan zalim dan dilarang oleh Allah. Orang yang awalnya terzalimi bisa berubah menjadi pelaku kezaliman jika melampaui batas.

Allah berfirman:

"Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
(QS. Al-Ma'idah: 8)

3. Pembalasan Ihsan (Yang Paling Mulia)
Memaafkan, menahan amarah, membalas keburukan dengan kebaikan, serta menyerahkan urusan kepada Allah merupakan sikap yang paling tinggi derajatnya.

Allah berfirman:

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seakan-akan telah menjadi teman yang sangat setia."
(QS. Fussilat: 34)

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sedekah tidaklah mengurangi harta, Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya."
(HR. Muslim no. 2588)

Karena itu, ketika dizalimi, seseorang memiliki hak untuk menuntut keadilan. Namun jika ia mampu memaafkan, menahan diri, dan menyerahkan urusannya kepada Allah, maka itulah jalan yang lebih utama dan lebih menenangkan hati. Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman, tetapi memutus rantai kebencian agar tidak terus berlanjut. Jika seseorang berpotensi terus menyakiti, maka menjaga jarak dan membatasi interaksi adalah langkah yang bijak tanpa harus menyimpan dendam.

05/06/2026

Kronologi Kejadian

Pada tahun 2018, sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang anak sedang menghadapi konflik besar dengan keluarga besarnya. Perselisihan tersebut berawal dari pembahasan mengenai harta warisan orang tua mereka.

Ironisnya, saat itu sang ayah masih hidup, meskipun dalam kondisi sakit dan menjalani perawatan. Namun, pembicaraan mengenai pembagian harta sudah mulai muncul dan memicu perdebatan di antara anggota keluarga.

Seiring berjalannya waktu, suasana semakin memanas. Adu mulut tak lagi bisa dihindari. Kata-kata kasar, makian, hingga sumpah serapah saling dilontarkan, terutama antara kakak laki-laki dan salah seorang adik perempuannya. Hubungan yang sebelumnya baik perlahan berubah menjadi penuh kebencian dan permusuhan.

Tak sampai tujuh hari setelah pertengkaran besar itu terjadi, keluarga tersebut mulai mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan secara logika. Gangguan demi gangguan datang silih berganti. Sang ayah yang sedang sakit mengalami kondisi yang semakin memburuk, sementara salah satu anak laki-lakinya justru mengalami dampak yang lebih berat.

Berbagai keluhan aneh mulai dirasakan. Kondisi fisik menurun tanpa penyebab yang jelas, tidur menjadi tidak tenang, dan serangkaian kejadian ganjil mulai menghantui kehidupan mereka sehari-hari. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, namun perubahan yang diharapkan tak kunjung datang.

Karena merasa sudah tidak sanggup menahan apa yang dialaminya, akhirnya anak laki-laki tersebut memutuskan untuk mencari pertolongan melalui ruqyah, dengan harapan dapat menemukan jawaban atas berbagai kejadian misterius yang menimpa keluarganya.

04/06/2026

Sihir itu nyata, Hati-hati Benda pemutus rezeki...

tersenyum didalam batin.
04/06/2026

tersenyum didalam batin.

04/06/2026

poe ka 49, minggu ka 7...

Address

Cianjur Dua

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sandy Nuryanda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sandy Nuryanda:

Share