15/01/2026
ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU
Pov Alina
"Sudah, Bu, Mbak. Dia tidak akan mengaku, kita periksa rumah pamannya sekarang, pasti dia menyembunyikan uang itu disana!" Ucap Febi.
"Febi benar, Bu. Dia tidak mungkin menyimpan barang curiannya di rumah ini, kita periksa rumah pamannya!" Timpal mbak Erna menggebu-gebu.
Mereka menyeret bahuku, sementara tanganku masih terikat di belakang pinggang. Aku mulai merasa pegal dan sakit di pergelangan taganku.
"Lepaskan ikatan tanganku, Mbak. Aku bukan binatang yang bisa kalian perlakuan seperti ini!" Bentak ku.
Mereka sama sekali tak menghiraukan aku, bahkan mereka juga tidak peduli dengan acara pernikahan Febi yang sedang berlangsung.
Semua tamu yang hadir keheranan menatap kami. Calon suami Febi dan keluarganya turun dari tempat akad, menghampiri kami dengan raut wajah bingung.
"Ada apa ini?" Tanya Angga-calon suami Febi.
"Sayang, aku minta maaf, keluargaku ada sedikit masalah, beri kami waktu sebentar untuk menyelesaikannya," Jawab Febi, saat ini dia masih dalam balutan baju pegangtin, hanya riasannya saja yang sedikit rusak akibat menangis tadi.
"Apa tidak bisa diselesaikan nanti saja? Ini akad nya akan segera dilangsungkan loh, ini acara sakral kok ditunda-tunda!" Sanggah Ibu Angga.
"Tidak bisa, tidak ada yang lebih penting daripada uang dan perhiasan emasku!" Ibu bersikukuh.
Raut wajah keluarga Angga seketika berubah, namun baik ibu maupun Febi sama sekali tidak memperdulikannya. Mereka terus menyeretku menuju rumah paman.
Semua orang yang menyaksikan keributan ini turut serta mengikuti kami, aku seperti orang yang ketahuan berzin* yang sedang diarak keliling kampung.
Malu, sedih, marah, sakit hati semuanya menyatu. Perasaanku campur aduk, aku ingin memberontak tapi tubuhku di seret oleh tiga orang sekaligus yaitu Febi, mbak Erna dan ibu.
Setelah sampai di depan rumah paman, ibu melempari rumah paman dengan batu besar. Dadaku bergemuruh melihatnya, andai saja aku bebas maka aku tak tidak akan tinggal diam melihatnya melakukan itu.
Pamanku tergopoh-gopoh keluar rumah, dibantu tongkat. Dia tampak terkejut bukan main melihat sudah ramai orang di depan rumahnya.
Seketika pandangan paman tertuju padaku, raut wajahnya seakan bertanya ada apa? Aku menggeleng pelan, berharap dia tidak mengatakan apapun perihal kejadian kemarin.
"Hey komplotan pencuri, dimana kau sembunyikan uang dan perhiasan emasku?" Teriak ibu di depan rumah paman.
Pamanku tersentak, sontak ia kembali menatapku, aku kembali menggeleng, aku harap dia mengerti dengan kode yang aku berikan.
"Uang apa? Emas apa? Aku tidak mengerti!" Tutur paman.
"Ohh ... Lihatlah masyarakat kampung sekalian, mereka benar-benar komplotan pencuri yang sangat kompak," Ucap ibu lantang, seperti memberikan pengumuman.
"Jangan pura-pura tidak tahu, kau. Kalian berdua yang sudah mencuri uang dan perhiasan emas milik Ibuku, cepat kembalikan cincin pernikahanku sekarang juga!" Teriak Febi dengan amarah yang sudah membuncah.
"Aku tidak mengerti yang kalian maksud, uang apa? Emas apa? Cincin pernikahan apa?" Ucap paman.
"Kau sama saja dengan keponakanmu, kalain sama-sama tidak tahu diri. Apa kalian semua tahu, ha. Aku sudah bersusah payah membiayai hidup pamannya dan biaya pengobatannya bersama mendiang istrinya selama ini, tapi apa balasan yang mereka berikan, mereka malah mencuri uangku!" Ibu kembali berteriak.
Sungguh aku ingin mengambil batu, lalu menyumpal mulutnya dengan batu itu.
Aku terus memberontak, berusaha membuka ikatan tanganku, namun semakin keras usahaku, semakin sakit p**a yang aku rasakan pada pergelangan tanganku.
"Sudahlah, Bu. Dia tidak akan mengaku, kita geledah saja rumahnya!" Kali ini mbak Erna yang berteriak.
"Jangan pernah menggeledah rumah Pamanku, jangan pernah mengusik Pamanku, atau kalian akan tahu akibatnya!" Ucapku dengan dada bergemuruh menahan amarah.
Mereka sama sekali tidak memperdulikan aku, mbak Erna memeluk tubuhku, sementara Febi dan ibu mendobrak rumah paman dengan kasar.
Mereka mengobrak abrik isi rumah paman. Paman hanya bisa diam, setiap kali paman hendak menghentikan aksi mereka, pamanku malah di dorong hingga tersungkur di lantai.
"Astaghfirullah, ada apa ini?" Ucap seorang bapak-bapak, datang memenerobos kerumunan masyarakat yang menyaksikan keributan ini.
"Astaghfirullahalazim, ini kenapa Alina diikat seperti ini, Mbak Erna?" Tanya pak RT panik.
"Bapak nggak usah ikut campur! Ini urusan keluarga kami, asal bapak tahu wanita ini adalah seorang pencuri," Jawab mbak Erna berapi-api.
"Ini urusan saya juga, Mbak. Saya RT disini, Mbak Alina ini masyakat saya, lepaskan tidak sepatutnya kalian memperlakukan dia seperti ini!" Sergah pak RT.
"Kalian juga semuanya kenapa diam saja melihat orang diperlakukan seperti ini, dimana hati nurani kalian?" Ucap pak RT dengan nada tinggi.
"Dia itu pencuri, Pak RT makanya kami nggak mau bantuin dia!" Sahut seorang pria dari dalam kerumunan orang-orang.
"Walaupun dia pencuri, kita tidak boleh main hakim sendiri. Sekarang lepaskan ikatan tangan Alina, Mbak Erna atau saya akan menindaklanjuti pekara ini karena anda sudah main hakim sendiri!" Tegas pak RT.
Mbak Erna menatap ibu yang tengah berdiri di dalam rumah paman, kemudian ibu terlihat mengangguk, hingga akhirnya mbak Erna melepas ikatan tanganku.
Aku berlari, berhamburan memeluk paman. Hatiku benar-benar sakit melihatnya diperlakukan seperti tadi oleh ibu dan Febi.
"Maafkan, Alina, Paman." Isakku, sementara paman hanya mengelus pucuk kepalaku.
"Ini bukan salahmu, Nak." Ucap paman dengan suara serak.
"Dengarkan ya untuk kalian semua, jangan diam saja jika ada yang main hakim sendiri, siapapun itu, apapun kasusnya!" Ucap pak RT, sementara semua orang hanya diam saja.
"Kalau ada masalah lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin, Bu. Apalagi kalian ini keluarga, Alina ini menantu Ibu sendiri!" Sekarang, istri pak RT lah yang berbicara.
"Alina, maaf ya kami telat datang ke sini karena tadi ada urusan. Coba saja kami datang sejak awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu," Ujar buk RT sembari mengusap bahuku. Aku hanya mampu mengangguk.
"Sekarang ceritakan bagaimana kronologi kejadiannya, Bu?" Pak RT meminta penjelasan pada ibu. Saat ini, kami duduk di dalam rumah paman.
"Begini, Pak RT. Uang yang saya sebanyak 250 juta beserta emas 15 mayam, bahkan cincin pernikahan anak saya hilang, Febi bahkan menunda acara akad nikahnya karena masalah ini, semua itu gara-gara Alina," Terang ibu sambil menatapku tajam.
"Kenapa kalian bisa menuduh, Alina yang mencuri uang itu?" Tanya pak RT.
"Siapa lagi kalau bukan dia, hanya ada dia di rumah kami, tidak mungkin Erna dan Febi yang mencuri uang itu,"
"Tapi, kan. Beberapa hari ini rumah Ibu ramai, banyak orang berkeliaran di rumah Ibu, kenapa harus menuduh Alina?" Kali ini buk RT yang membuka suara.
"Dua hari yang lalu uang itu masih ada. Pintu kamar saya selalu terkunci, Bu RT. Tidak pernah tidak di kunci, seingat saya ada satu malam sebelum pernikahan Febi saya lupa mengunci pintu kamar karena saya tidur di kamar Febi. Pada saat itu sudah cukup larut malam, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di rumah kami, pintu rumah juga tertutup rapat. Lalu, siapa lagi yang mencuri uang itu kalau bukan dia!" Ibu menunjuk wajahku.
"Nak Alina, kamu jujur saja, biar masalah ini cepat selesai. Apa benar kamu yang mengambil uang itu?" Tanya pak RT padaku dengan suara lembut.
"Saya merasa, saya tidak pernah mengambil uang siapapun, Pak RT!" Jawabku tegas.
"Jangan bohong ya kamu! Mentang-mentang ada yang belain kamu," Mbak Erna berdiri sambil mengecak pinggang.
"Sabar, sabar, Mbak Erna." Bu RT menarik tangan mbak Erna untuk kembali duduk.
"Kalian sudah menggeledah rumah ini, kan? Tapi tidak bisa menemukan apapun disini, berarti tuduhan kalian terhadap Alina itu tidak berdasar," Ujar pak RT.
"Masih ada satu ruangan lagi yang belum diperksa, Pak RT. Itu, kamar itu!" Ucap Ibu sambil menunjuk kamar paman.
"Sebelum menggeledah rumah orang, kita harus meminta izin dulu kepada si pemilik rumah, Bu. Kalau tidak kalian bisa di tuntut karena membuat keributan di rumah orang,"
"Halah, mereka mau menuntut pakai apa, orang miskin!" Ketus Febi.
Pak RT menghela napas panjang. "Kang, Alina apa kalian bersedia kamar itu di geledah, supaya masalah ini cepat selesai?" Tanya pak RT padaku dan paman.
Paman melirik ku sekilas. Aku mengangguk. "Silahkan saja, Pak. Kami tidak keberatan, tapi aku mau meminta satu persyaratan, jika aku terbukti tidak mencuri uang itu, mereka harus meminta maaf dan bersujud di kaki Paman." Ucapku, yang sukses membuat Ibu, Febi dan mbak Erna terbelak.
"Cuih ... Aku tak sudi!" Sungut Febi.
"Terserah saja, tapi jika kau terbukti mengambil uang itu, aku akan membuat kamu dan pamanmu itu membusuk di dalam penjara!" Ucap Ibu lantang.
Akhirnya, kami masuk ke dalam kamar paman. Pak RT dan bu RT menjadi saksi. Ibu dan mbak Erna mulai membuka lemari kayu pakaian paman, sementara Febi memeriksa kasur paman.
Setelah setelah sepuluh menit berlalu, mereka tak menemukan apapun. Aku tersenyum lega, untung saja paman kemarin menyimpan sertifikat kebun itu di rumah adik kandung bibik.
Dan untung saja tukang bangunan itu belum mengantar barangku ke sini.
"Bagaimana, kalian tidak menemukan apapun, kan?" Tanyaku dengan alis terangkat sebelah.
Mereka semua terdiam, menatapku tajam. "Sekarang, tepati janji kita, minta maaf pada pamanku sambil mencium kakinya, jika tidak aku akan menuntut kalian, karena masih ada bekas lebam di p**i dan tanganku akibat ulah kalian." Kataku yang sukses membuat wajah mereka pucat pasi.
"Aku tak sudi, Bu." Ujar Febi.
"Baiklah, tampaknya kalian memang harus berurusan pada pihak yang berwajib!" Ucapku.
Mereka semua terdiam. Ketakutan tak bisa mereka sembunyikan dari raut wajah mereka. Apalagi, disini ada pak RT dan bu RT yang menjadi saksi.
"Baik, kami akan melakukan hal menjijikkan itu," Sergah Ibu.
"Ibu ...."
"Kamu mau kalau masalah ini diketahui perangkat desa? Kita sudah tidak punya uang, Febi," Bisik Ibu yang masih bisa kudengar.
Aku tersenyum puas melihat wajah tidak berdaya mereka. Manusia yang tadinya sangat sombong, sekarang akan meminta maaf dengan mencium kaki pamanku.
Saat Ibu hendak jongkok, tiba-tiba mbak Erna menahan tangannya. "Tunggu sebentar, Bu. Kita belum memeriksa kantong kresek hitam itu!" Ucapnya sambil menunjuk kantong kresek di sudut kamar paman.
Wajah paman seketika memucat. "Itu hanya plastik tempat sampah, aku lupa membuangnya," Ujar paman salah tingkah sendiri.
Tanpa pikir panjang, mbak Erna berjalan hendak mengambil kantong kresek hitam itu, namun tangannya dicegat cepat oleh paman.
"Itu hanya sampah," Cegah paman.
"Kenapa kau sangat takut jika itu hanya sampah, ha? Tingkahmu membuatku semakin curiga saja." Pungkas mbak Erna.
Mbak Erna kemudian mengambil kantong kresek hitam itu, kemudian membukanya perlahan.
Saat kantong kresek hitam itu terbuka, mataku melotot, jangungku berdegup kencang, melihat mbak Erna mengeluarkan sebut kotak berwarna merah.
"Ini adalah kotak perhiasan emas milik, Ibuku. Ternyata benar, kalian yang mencuri uang dan emas ibuku," Teriak mbak Erna.
Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi, kenapa bisa benda itu ada di kamar pamanpaman? Dan kenapa aku bisa lupa membuangnya kemarin, kenapa paman juga tidak membuangnya jauh, tapi malah menyimpannya di kamar.
"Ternyata benar, kau yang kencuri uang kami, Alina!" Bentak Ibu dengan tatapan ingin membunuh.
"Semua kotak ini sudah kosong, Bu. Tidak ada emas dan uang disini," Ujar mbak Erna.
"Katakan dimana kau menyembunyikan uang dan emas itu?" Ibu mencengram erat tanganku.
"Katakan!" Bentaknya.
"Aku tidak pernah mencuri milik kalian, uang dan emas itu milikku, hakku. Suamiku yang mengirimkannya, selama ini kalian lah yang dzolim, mengambil dan menikmati semua uang yang di kirimkan oleh suamiku!" Bentak ku tak kalah lantang.
"Jangan banyak omong kamu, mana uang dan emasnya?" Sekarang Febi yang mencengram erat daguku.
Aku menepis kasar tangannya. "Jangan berani-beraninya kau menyakiti tubuhku, sekali lagi kukatakan aku tidak pernah mencuri milik kalian, uang dan emas itu milikku kalian lah yang mencuri!"
"Banyak omong kau, sini kau, aku akan membawamu ke kantor polisi. Dasar pencuri kau!"
Ibu menyeret tanganku ke luar rumah, semua orang kembali menyaksikan keributan ini. Aku berusaha melepas tanganku, tapi kali ini tenaga ibu seperti berkali-kali lipat lebih kuat.
"Aku akan membawamu ke kantor polisi, dasar pencuri kau!" Maki ibu, sambil terus menyeret tanganku.
Kali ini, bukan hanya ibu tapi di bantu oleh mbak Erna, sehingga aku semakin sulit untuk memberontak.
"Biar aku tunjukkan di mana tempatmu sebenarnya, pencuri." Ucap ibu berapi-api.
"Hentikan. Dia bukan pencuri, kalianlah yang pencuri!" Ucap seorang pria lantang, yang sukses membuat langkah ibu terhenti.
Part acak
Selengkapnya di kbmapp
Judul : ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU
Penulis : Putripmg69