Story viral

Story viral Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Story viral, Digital creator, Ds. Sarampad, Cianjur Regency.

Dua kali gagal lamaran, calon suami lebih pilih adik-adiku. Ternyata, semua kegagalan itu sudah direncanakan oleh ibuku ...
01/06/2026

Dua kali gagal lamaran, calon suami lebih pilih adik-adiku. Ternyata, semua kegagalan itu sudah direncanakan oleh ibuku sendiri. Hanya karena dia tak mau kehilangan sumber uangnya ini.

AKU ANAK SULUNG YANG DIJADIKAN A T M KELUARGA. HIDUPKU TAK LEBIH PENTING DARI ADIK-ADIKKU

**

​"Kamu yakin cincinnya cuma begitu?" tanya Mahesa sambil melirik sekilas pada kotak beludru merah murah yang kupegang.

​Sebuah cincin emas berkadar rendah dengan hiasan kaca kecil di atasnya. Berkilau, tapi sama sekali bukan berlian. Hanya aksesoris murah yang tak memiliki nilai investasi. Ada untungnya juga aku melarang Tiwi dan Ibu membocorkan pada Mahesa bahwa aku sudah tahu segalanya.

​"Yakin, Mas. Cuma cincin pertunangan. Lagian, aku maunya yang minimalis saja," sahutku datar.

"Biar Tiwi tahu rasa. Dia bermimpi memakai berlian dari brand kantorku, tapi harus puas dengan emas pasar berhias kaca," sambungku dalam hati.

​Mahesa menghela napas, tapi tidak protes lagi.

​"Antar aku ke kantor lagi. Aku harus bekerja, ada launching produk baru besok," kataku setelah kami terdiam beberapa lama di dalam mobil.

​"Kita nggak jadi makan siang?" tanya Mahesa.

​"Sudah telat, Mas. Kamu makan sendiri saja."

​"Kamu sibuk banget, ya," gumam Mahesa, nadanya mulai terdengar tidak senang. "Kalau nanti kita menikah, bagaimana bisa kamu mengurus rumah tangga? Aku sibuk, kamu sibuk. Siapa yang akan tinggal di rumah, jagain ibuku, dan jagain anak-anak kita nanti?"

​"Kamu cari pengasuh atau cari istri sih, Mas?!" sahutku pedas.

​Kalimatnya benar-benar memicu harga diriku. Sejujurnya, di balik label independent woman yang melekat padaku, aku juga lelah. Aku lelah memeras keringat belasan jam sehari hanya untuk menjadi mesin uang keluarga.

Jika aku mendapatkan suami yang tulus, aku bahkan rela melepaskan jabatanku dan fokus mengurus rumah tangga jika diminta. Aku juga ingin dilindungi, ingin dinafkahi. Tapi mendengar Mahesa yang menuntutku menjadi pelayan ibunya sementara dia bermain gi la dengan adikku, rasanya menji jikkan.

​"Bukan begitu maksudku, Sayang. Aku cuma mau istri yang nggak sibuk sendiri," ucap Mahesa, berusaha meredam ketegangan dengan suara tenangnya yang palsu.

"​Sampai kapan kamu mau terus berakting, Mahesa!" Aku berteriak dalam hati.

​"Oh iya, nanti kalau acara lamaran, jangan bawa orang banyak-banyak ya, Mas. Cukup kamu dan orang tuamu saja," ujarku mengalihkan pembicaraan.

​"Kenapa? Bukankah biasanya lebih bagus ramai? Biar kesannya serius."

​"Kamu tahu sendiri keluargaku besar, Mas. Rumah orang tuaku tidak seberapa luas. Kasihan keluarga besarmu kalau harus bersempit-sempitan di sana. Nanti saja saat resepsi baru undang semua," alibiku, terdengar sangat perhatian. Padahal, aku hanya ingin memastikan lamaran Tiwi nanti berlangsung sepi, sunyi, dan memalukan.

​"Baiklah, kalau itu maumu." Mahesa akhirnya menyerah.

​Pembalasan untuk Tiwi sudah kuatur rapi. Sekarang, fokusku harus beralih pada tenggat waktu gila dari Ibu, mencari pria mapan dalam waktu tiga puluh hari.

***

​"Bu Aruna, kenalin ini sopir pengganti sementara untuk Ibu. Namanya Mas Genta Adeswara."

​Pagi berikutnya, Naila membawa seorang pria masuk ke dalam ruanganku.

​"Pak Teguh ke mana?" tanyaku langsung, mengabaikan pria di depan Naila.

​Terkesan tidak sopan? Mungkin. Tapi aku terlanjur dekat dengan Pak Teguh, pria paruh baya yang sudah dua tahun ini mengantarku ke mana-mana. Pak Teguh sangat baik, sangat kontras dengan Ayahku yang langsung memproklamirkan diri 'pensiun' dan berhenti bekerja begitu aku mulai menghasilkan uang.

​"Pak Teguh mengambil cuti satu bulan, Bu. Beliau harus menemani istrinya yang sedang sakit di kampung," jawab Naila.

​"Sakit apa? Parah?" tanyaku panik. Pak Teguh sudah kuanggap seperti ayah kedua. Istrinya sering membawakanku bekal makan siang.

​"Bu Aruna, tidak perlu khawatir," Naila tersenyum menenangkan. "Istrinya cuma sakit rindu kampung halaman. Pak Teguh sengaja mengambil cuti panjang sekalian untuk p**ang kampung."

​"Cuma rindu kampung halaman bisa cuti sebulan? Istimewa sekali," gumamku sangsi.

​"Ibu lupa? Pak Teguh kan aslinya sopir pribadi keluarga pemilik perusahaan kita. Makanya beliau punya hak istimewa," bisik Naila mengingatkan.

Aku hanya mengangguk kecil, teringat cerita Pak Teguh dulu sebelum dia diperbantukan untuk divisi-ku. Tepat setelah aku naik jabatan menjadi Brand Manager, Pak Teguh baru dipindahkan ke sini.

​Detik berikutnya, pandanganku beralih sepenuhnya pada pria bernama Genta yang sejak tadi berdiri tegak di tengah ruangan.

​Sebagai Brand Manager yang terbiasa mengurusi barang-barang kelas atas, instingku mendadak menangkap sesuatu yang tidak biasa dari pria ini.

Dia memakai kemeja putih polos standar sopir perusahaan, tapi postur tubuhnya begitu tegap dan atletis. Potongan rambutnya rapi, dan tatapan matanya saat menyapaku terasa terlalu tenang, penuh percaya diri, bukan tatapan segan khas seorang pekerja upahan. Bahkan samar-samar, aku bisa mencium aroma parfum woody mahal yang tipis dari tubuhnya.

​"Maaf, siapa namanya tadi?" tanyaku.

​"Genta, Bu," jawabnya dengan suara bariton yang berat dan tertata.

​"Ya sudah. Kamu sudah tahu kan ritme kerja Pak Teguh? Kamu boleh keluar sekarang, nanti Naila yang akan menghubungi jika ada jadwal outdoor."

​Pria itu mengangguk sopan, lalu berbalik keluar. Gerakan tubuhnya bahkan terlihat berkelas. Pria ini jelas seusia denganku, tapi entah kenapa dia berakhir menjadi seorang sopir pengganti.

​"Nai, berapa usianya?" tanyaku pada Naila begitu pintu tertutup.

​"Tiga puluh delapan tahun, Bu."

​"Sudah menikah?"

​"Belum, Bu."

​"Mana CV-nya? Aku mau lihat latar belakangnya."

​Naila tampak meringis ragu. "Maaf, Bu, tidak bisa. HRD pusat tidak memberikan berkas CV Mas Genta ke divisi kita. Katanya, dia dikirim langsung atas perintah direksi untuk mengisi kekosongan posisi Pak Teguh."

​Jawaban Naila membuat keningku berkerut. Misterius sekali untuk ukuran seorang sopir cadangan. Namun, di tengah rasa penasaran itu, sebuah ide gi la tiba-tiba melintas di kepalaku. Ide nekat yang dipicu oleh rasa frustrasi yang mendalam.

​Pria bernama Genta itu punya modal fisik yang luar biasa. Jika dipoles dengan setelan jas mahal dan sedikit arahan dariku, dia akan dengan mudah mengelabui siapa pun dan terlihat seperti pengusaha muda yang sukses.

​Bagaimana kalau aku menyewanya saja untuk menjadi calon suami palsuku? Yang penting, aku punya pria untuk dibawa ke hadapan Ibu dan Ayah dalam waktu tiga puluh hari, lalu keluar dari neraka itu secepatnya. Waktu sebulan sudah berkurang tiga hari, dan aku tidak punya pilihan lain.

🔥🔥🔥

Baca selengkapnya di kbm app

Judul: Bakti Berbuah Jeruji
Penulis Isna Arini

“Pasiennya sudah di UGD, kondisi kritis. Kalau tim anestesi udah siap, kita langsung masuk ruang operasi.”Aruna mengangg...
31/05/2026

“Pasiennya sudah di UGD, kondisi kritis. Kalau tim anestesi udah siap, kita langsung masuk ruang operasi.”
Aruna mengangguk, "Oke siap."

Pandangan Meisya tiba-tiba beralih ke Anisa.

“Run, ini anak kamu? Tumben kamu ajak anak kesini."

“Iya, kebetulan tadi aku lagi dijalan sama Anisa, jadi sekalian aja aku ajak ke rumah sakit."

“Tante, ibuku ini dokter, ya?” tanyanya polos. “Soalnya aku baru liat Ibu pakai jas sama masker kayak dokter-dokter di rumah sakit.”

“Iya, Anisa,” ujar Meisya sambil tersenyum bangga. “Ibu kamu itu dokter bedah yang top di rumah sakit ini. Gak heran, karena Oma dan Opa kamu juga top!" puji Meisya.

Mata Anisa membulat sempurna. Wajah kecil itu seketika bersinar, seolah baru saja menemukan rahasia besar tentang ibunya sendiri.

“Wahhh!” serunya antusias. “Berarti selama ini Anisa punya Ibu seorang dokter? Keren banget! Apalagi Oma sama Opa, apa mereka juga seorang dokter, Ibu?" Tanyanya sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar.

Aruna tersenyum tipis seraya mengangguk. Senyum yang penuh kehangatan, bercampur getir. Ia berjongkok di hadapan putrinya, mengusap rambut halus Anisa dengan lembut.

"Eh, Run? Jidat Anisa kenapa memar kaya gini?" Tanya Meisya, ia sedikit salah fokus dengan dahi Anisa.

"Kita lanjut ngobrol nanti dulu ya, Meiy, karena ada sesuatu yang jauh lebih penting. Ayo, kita siap-siap sekarang," jawab Aruna pelan namun bijak.

“Sayang. Sekarang Ibu harus kerja dulu ya,” ucapnya pelan. “Anisa tunggu di taman kecil situ, ya. Jangan jauh-jauh dari Ibu."

“Oke, Bu!” jawab Anisa riang sambil mengacungkan jempol kecilnya.

Aruna berdiri. Tatapannya beralih ke Meisya, lalu keduanya melangkah cepat menuju ruang operasi dan segera menutup pintu.

Lampu operasi mulai menyala terang. Suara monitor berdetak cepat, selaras dengan langkah sigap tim medis. Aruna mengganti sarung tangan, menerima alat bedah. Wajahnya tenang, dingin namun penuh kendali.

Di ruangan ini, Aruna bukan berstatus menantu yang bisa diremehkan, atau seorang istri yang bisa diceraikan dengan mudah.

Ia adalah dokter bedah yang tangannya menentukan hidup dan mati seseorang. Setiap tarikan napasnya teratur dengan fokus. Semua luka di hatinya seakan tertutup oleh tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni menyelamatkan nyawa.

***

Jam demi jam berlalu.

Akhirnya, operasi panjang itu selesai dengan hasil yang melegakan.

Lampu operasi diredupkan, suara monitor yang sejak tadi menegang kini berirama stabil. Aruna menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit merosot karena lelah, walau begitu ia sangat lega.

“Perdarahan sudah terkontrol. Luka kepala aman,” ucap Aruna tenang.

“Alhamdulillah,” sahut Meisya.

Mereka melepas sarung tangan satu per satu, membuka masker yang sejak tadi menempel erat di wajah. Aruna membersihkan tangannya kembali, memastikan semua prosedur akhir dijalani dengan rapi.

Alat-alat operasi diserahkan pada perawat untuk dibawa ke ruang sterilisasi, sementara tim anestesi mulai menyiapkan pemindahan pasien ke ruang pemulihan.

Aruna melirik pasien sekali lagi sebelum keluar.

Detak jantung stabil.

Napas teratur, alhamdulilah.

Begitu keluar dari ruang operasi, Aruna menyandarkan punggungnya sejenak ke dinding lorong. Meisya berjalan di sampingnya, matanya mengamati sahabatnya dengan seksama.

“Aruna?" panggilnya pelan.

Aruna menoleh. “Hm?”

“Aku boleh tanya sesuatu?” Tanya Meisya.

"Kenapa sih kamu gak bongkar aja identitas kamu sebagai dokter bedah? Dokter bedah ter the best lagi! Biar mereka tau, Run. Biar mereka sadar siapa yang udah mereka buang dengan semudah ini. Dan aku yakin, pasti Mama Papa kamu belum tau soal hal ini kan, Aruna? Bayangin, kalau Mama Papa kamu sampe tau hal ini, apa yang akan mereka lakuin buat bales rasa sakit hati putrinya saat ini? Dimas dan keluarganya bakal habis!" kecam Meisya.

Spoiler acak

Selengkapnya baca di kbmapp

Judul : Dokter Bedah Itu Mantan Menantuku
Penulis : Pena Ica Ltf

Tanpa menoleh lagi, Aruna berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.Ratna menepuk bahu Dimas dengan puas.“Li...
27/05/2026

Tanpa menoleh lagi, Aruna berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Ratna menepuk bahu Dimas dengan puas.

“Lihat kan? Pilihan kamu tepat. Menceraikan istri pembangkang yang kerjanya cuma minta uang suami.”

Namun di balik pintu yang baru saja tertutup, Aruna berhenti melangkah. Tangannya mengepal erat dengan bibir bergetar menahan amarah.

“Kalian pikir dengan membuangku begitu saja, hidupku akan berakhir? Kalian salah besar! Lihat, aku akan memberi perhitungan untuk kalian!"

Aruna menegakkan punggungnya. Napasnya ditarik dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan kembali kepingan harga diri yang tadi direnggut paksa.

“Tanpa kalian sadari, bahwa selama ini aku bukan perempuan tak berguna seperti yang kalian anggap. Aku sudah menyelamatkan banyak nyawa manusia, jauh sebelum kalian berani menghakimi aku!"

Keesokan harinya

Aruna bangun lebih awal, sebelum matahari benar-benar meninggi. Ia tak ingin ada yang melihatnya berkemas, apalagi bullyan.

Satu per satu, ia melipat pakaian miliknya dan milik Anisa. Gaun kecil, seragam sekolah, boneka kesayangan putrinya. Semua dimasukkan ke dalam koper.

“Ibu?”

Aruna menoleh. Anisa berdiri di ambang pintu dengan wajah polos, rambut yang masih sedikit berantakan, mata bening yang selalu menjadi sumber kekuatan sekaligus luka terdalamnya.

"Iya, sayang? Kepalanya masih sakit ya?" Tanya Aruna penuh khawatir sembari mengelus pelan dahi Anisa.

"Iya, Anisa masih pusing dibagian sini, Ibu." jawabnya sambil menunjuk kepala sebelah kanan.

"Ya Allah, ampuni aku, karena kelalaian ku Anisa sampai terzolimi seperti ini. Kamu benar-benar Ayah yang tega, Mas!" Batinnya menahan emosi yang sudah membuncah.

“Kita mau ke mana, Bu?” tanya Anisa lirih.

Aruna memaksakan senyum. Ia berjongkok agar sejajar dengan putrinya.

“Ibu mau ajak Anisa jalan-jalan dulu, ya. Yuk kita siap-siap.”

Anisa mengangguk, tapi tatapannya tertuju pada koper besar di sudut ruangan.

“Tapi… Kenapa semua baju kita dibawa, Bu? Semalam juga Ayah bilang katanya Ibu bukan istri Ayah lagi."

Jleb.

Hati Aruna kembali nyeri. Ia menatap wajah kecil itu, berjuang untuk kuat dengan keadaan yang kini sedang mengikis mentalnya.

“Engga sayang, Ibu masih istri Ayah kok, dan Anisa masih anak Ayah. Sekarang... Ibu mau ngajak Anisa nginep, nanti kita ketemu Oma sama Opa. Anggap aja kita liburan, oke?"

“Nanti disana kita cari tempat tinggal dulu ya, yang dekat sama sekolah Anisa.”

Mata Anisa langsung berbinar.

“Liburan?” serunya senang. “Pasti seru banget! Kita liburan bareng Ayah juga, kan, Bu?”

Napas Aruna tertahan.

Ada rasa perih yang tak bisa ia jelaskan, mengalir pelan dari dadanya hingga ke tenggorokan. Ia menunduk sejenak, lalu menatap Anisa kembali.

Perempuan itu berjongkok, mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih. Sebenernya ia ingin untuk p**ang ke rumah orangtuanya, namun saat ini orang tuanya belum berada di tanah air. Mereka masih menjalankan dinas di luar negeri, jauh dari jangkauan Aruna.

Dr. Hadi Mahendra, bukan nama sembarangan.

Ia adalah ayah Aruna—seorang dokter dengan gelar MD, PhD, ilmuwan medis kelas dunia yang namanya tercantum dalam jurnal-jurnal internasional, lebih sering disebut di forum akademik luar negeri daripada di negerinya sendiri.

Sedangkan ibunya, Ratih Pratama, berdiri di balik layar dunia medis global.

Sebagai co-founder jaringan rumah sakit internasional, Ratih memegang kendali pengembangan kerja sama lintas negara. Satu tandatangannya mampu membuka—atau menutup—pintu rumah sakit di berbagai belahan dunia.

“Ayah nggak ikut dulu,” katanya lembut. “Ayah lagi kerja. Jadi, kita berdua aja dulu, ya. Nanti biar Ayah nyusul.”

Anisa mengangguk tanpa curiga, percaya sepenuhnya pada kata-kata ibunya.

Sementara itu, Aruna kembali menatap koper-koper di hadapannya.

Setelah semuanya siap, Aruna menggenggam erat tangan kecil putrinya dan melangkah menuju pintu. Koper-koper sudah berjajar rapi, menunggu dibawa keluar dari rumah.

"Sebelum mencari tempat tinggal, aku harus lebih dulu membawa Anisa kerumah sakit untuk memvisum luka di kepalanya."

Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah suara menyambar dari belakang.

“Bagus. Itu baru namanya sadar diri. Pergi sebelum diusir," sindir Ratna.

Langkah Aruna terhenti. Dadanya bergemuruh. Perlahan, ia membalikkan badan dan menghampiri mantan Ibu mertuanya. Ia menatap Ratna dengan penuh ketegasan.

“Mah, tolong jaga ucapan Mama.”

Ia menoleh sebentar ke arah Anisa, lalu kembali menatap Ratna.

“Anisa masih terlalu kecil untuk dengar semua ini. Mama boleh gak ngejaga perasaan aku. Tapi, Aruna mohon, bahkan Aruna tegaskan. Tolong jaga perasaan dan mental Anisa!"

Selengkapnya baca di kbmapp

Judul : Dokter Bedah Itu Mantan Menantuku
Penulis : Pena Ica Ltf

Karena aku hanya ibu rumah tangga, suami menggangapku beban. Aku selalu dituntut mengalah dalam segala hal. Termasuk men...
16/01/2026

Karena aku hanya ibu rumah tangga, suami menggangapku beban. Aku selalu dituntut mengalah dalam segala hal. Termasuk menunggu dia dan anak kami makan, baru aku kebagian sisanya. Kalau memang kami lagi sangat kesulitan ekonomi, mungkin bisa kutahankan. Namun, suamiku malah sangat royal pada adik-adiknya
***

"Tari, udah masak belum?" Arman berteriak dari ruang tamu. Suaranya tegas, khas lelaki yang sering memerintah. Dia sibuk main game sambil menemani putranya nonton televisi.

Bau tumisan bawang merah bercampur bawang putih memenuhi dapur sempit rumah kontrakan itu. Lestari menyalakan kompor sejak setengah jam lalu, menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

"Sudah, Mas. Ayo makan!" Lestari buru-buru menata masakannya.

Di meja, ada dua piring nasi yang sudah ia cetak dengan rapi.

Satu untuk Arman, suaminya.

Satu lagi untuk Dafa, putra semata wayangnya yang berusia lima tahun.

Tidak ada piring ketiga.

Seperti biasa. Dia akan menunggu anaknya selesai makan. Dafa sering tak habis kalau makan. Dengan alasan itu, Arman selalu menyuruhnya menunggu sisa anak mereka.

Mau membantah, tapi suaminya lebih keras. Lestari selalu dituntut mengalah, pengertian dan berhemat setiap hari.

Lestari menatap wajan. Dia tahu, lauk yang dimasaknya tidak akan cukup kalau dibuat tiga porsi. Ikan mas yang tadi digoreng hanya tinggal dua potong, dan tempe

di piring saji pun hanya tersisa lima potong kecil. Tumis kangkung pun hanya satu piring kecil, sisa kangkung semalam. Uang belanja yang diberi Arman memang pas-pasan setiap hari.

Arman bekerja di sebuah perusahaan. Gajian tiap bulan selalu utuh, tak pernah dikasih ke istri. Untuk belanja harian, Arman ngojek sep**ang kerja. Lalu sebagian diberikan ke Lestari untuk belanja.

“Ini untuk Mas sama Dafa,” katanya pelan.

Arman mengangguk tanpa melihat wajah istrinya. Dia langsung menyendok sayur, mengambil dua potong tempe, dan satu potong ikan mas.

Dafa makan dengan lahap, sesekali menumpahkan nasi ke meja.

Lestari duduk sambil menatap mereka makan. Sesekali dia menelan ludah.

"Mah, ayo makan!" ajak Dafa.

Lestari menggeleng. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Tapi dia tak berani makan. Itu akan mengusik ketenangan suaminya. Sama saja memancing keributan saat makan.

"Nanti kalau Dafa nggak habis, kamu makan sisanya aja. Lagian kamu kan nggak kerja, gak keluar banyak tenaga. Yang penting kita kenyang dulu. Dafa dalam masa pertumbuhan. Dia perlu banyak makan agar tetap sehat dan pintar,” ujar Arman.

Lestari mengangguk. Sudah berkali-kali ia mendengar alasan itu. Tidak bekerja berarti tidak berhak makan lebih dulu. Tidak menghasilkan uang berarti harus selalu mengalah.

Dia menunggu hingga Dafa selesai makan. Seperti dugaan, hanya kuah sayur bening dan setengah potong tempe yang tersisa.

Itulah sarapan Lestari pagi itu.

Sisa.

Seperti dirinya yang selalu ditempatkan di urutan terakhir dalam segala hal.

Namun pagi ini, entah kenapa, ada rasa perih yang tak biasa ketika dia memungut sisa makanan anaknya. Seolah-olah, ada sesuatu di hatinya yang mulai retak.

"Mas, aku ingin kerja saja," ujar Lestari tiba-tiba. Matanya sudah berkaca-kaca.

Dafa sudah keluar, bermain dengan temannya. Arman masih duduk di kursi makan, tapi dengan mata sibuk dengan ponselnya.

"Kerja? Ada-ada aja kamu. Lalu Dafa siapa yang jaga? Siapa yang masak dan beberes rumah?" cetus Arman.

"Aku kelaparan setiap hari, Mas. Sisa untuk bagianku selalu sedikit. Aku juga merasa tak dihargai. Selalu nunggu kamu dan Dafa selesai makan," lirih Lestari.

"Kamu jijik dengan makanan anakmu sendiri? Gak boleh gitu, Tari! Harusnya seorang ibu tidak boleh jijik dengan sisa makanan anak sendiri. Kamu juga tahu, kita ini harus berhemat, demi masa depan kita. Biar kita segera punya rumah."

"Makanya aku ingin kerja, Mas. Aku ingin punya penghasilan. Aku ingin makan ayam atau ikan tanpa menunggu sisa kalian. Aku lebih sering kebagian sisa kepala ikan dan leher ayam. Aku lelah, Mas."

Lestari tak tahan lagi memendam semuanya. Dia menagis sesenggukan. Tangannya tak sanggup menyiapkan nasi yang sudah benyek diaduk-aduk putranya dengan tangan saat makan tadi.

"Manja banget sih. Kayak enak saja kamu saat di rumah orang tuamu. Saat gadis, kamu juga jarang makan ayam dan ikan. Masa sekarang menuntut aku harus menyediakan makanan enak untukmu. Jadi istri harus pengertian sama suami d**g. Jangan hanya bisa menuntut dan menuntut saja."

Arman menggebrak meja dengan wajah murka. Piring keramik di depan Lestari terjatuh. Nasi sisa yang belum sempat dimakannya jatuh berserak.

"Cukup, Mas! Jangan terus menyalahkanku! Apalagi merendahkan orang tuaku. Kami memang jarang makan ayam saat aku gadis, tapi tak ada yang nunggu sisa. Kami makan sama-sama dengan lauk seadanya," ujar Lestari.

Emosinya tersulut karena Arman tidak menanggapi keluhannya dengan bijak.

"Argh, kamu bikin gak mood aja. Hari minggu niatnya mau santai, malah bertengkar sama kamu. Aku malas di rumah," cetus Arman.

Dia menyambar jaket dan kunci motornya. Pergi tanpa mau berdiskusi dengan istrinya.

Lestari menangis sesenggukan. Dia bertekad, mulai hari ini, tak perlu minta uang lagi pada suaminya. Dia akan mengusahakan apapun yang diinginkan tanpa bantuan lelaki pelit itu.

Selengkapnya di kbmapp

Judul: Berhenti Mengalah
Penulis: Ryan Hamzah

ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU Pov Alina"Sudah, Bu, Mbak. Dia tidak akan mengaku, kita periksa rumah pamannya se...
15/01/2026

ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU

Pov Alina

"Sudah, Bu, Mbak. Dia tidak akan mengaku, kita periksa rumah pamannya sekarang, pasti dia menyembunyikan uang itu disana!" Ucap Febi.

"Febi benar, Bu. Dia tidak mungkin menyimpan barang curiannya di rumah ini, kita periksa rumah pamannya!" Timpal mbak Erna menggebu-gebu.

Mereka menyeret bahuku, sementara tanganku masih terikat di belakang pinggang. Aku mulai merasa pegal dan sakit di pergelangan taganku.

"Lepaskan ikatan tanganku, Mbak. Aku bukan binatang yang bisa kalian perlakuan seperti ini!" Bentak ku.

Mereka sama sekali tak menghiraukan aku, bahkan mereka juga tidak peduli dengan acara pernikahan Febi yang sedang berlangsung.

Semua tamu yang hadir keheranan menatap kami. Calon suami Febi dan keluarganya turun dari tempat akad, menghampiri kami dengan raut wajah bingung.

"Ada apa ini?" Tanya Angga-calon suami Febi.

"Sayang, aku minta maaf, keluargaku ada sedikit masalah, beri kami waktu sebentar untuk menyelesaikannya," Jawab Febi, saat ini dia masih dalam balutan baju pegangtin, hanya riasannya saja yang sedikit rusak akibat menangis tadi.

"Apa tidak bisa diselesaikan nanti saja? Ini akad nya akan segera dilangsungkan loh, ini acara sakral kok ditunda-tunda!" Sanggah Ibu Angga.

"Tidak bisa, tidak ada yang lebih penting daripada uang dan perhiasan emasku!" Ibu bersikukuh.

Raut wajah keluarga Angga seketika berubah, namun baik ibu maupun Febi sama sekali tidak memperdulikannya. Mereka terus menyeretku menuju rumah paman.

Semua orang yang menyaksikan keributan ini turut serta mengikuti kami, aku seperti orang yang ketahuan berzin* yang sedang diarak keliling kampung.

Malu, sedih, marah, sakit hati semuanya menyatu. Perasaanku campur aduk, aku ingin memberontak tapi tubuhku di seret oleh tiga orang sekaligus yaitu Febi, mbak Erna dan ibu.

Setelah sampai di depan rumah paman, ibu melempari rumah paman dengan batu besar. Dadaku bergemuruh melihatnya, andai saja aku bebas maka aku tak tidak akan tinggal diam melihatnya melakukan itu.

Pamanku tergopoh-gopoh keluar rumah, dibantu tongkat. Dia tampak terkejut bukan main melihat sudah ramai orang di depan rumahnya.

Seketika pandangan paman tertuju padaku, raut wajahnya seakan bertanya ada apa? Aku menggeleng pelan, berharap dia tidak mengatakan apapun perihal kejadian kemarin.

"Hey komplotan pencuri, dimana kau sembunyikan uang dan perhiasan emasku?" Teriak ibu di depan rumah paman.

Pamanku tersentak, sontak ia kembali menatapku, aku kembali menggeleng, aku harap dia mengerti dengan kode yang aku berikan.

"Uang apa? Emas apa? Aku tidak mengerti!" Tutur paman.

"Ohh ... Lihatlah masyarakat kampung sekalian, mereka benar-benar komplotan pencuri yang sangat kompak," Ucap ibu lantang, seperti memberikan pengumuman.

"Jangan pura-pura tidak tahu, kau. Kalian berdua yang sudah mencuri uang dan perhiasan emas milik Ibuku, cepat kembalikan cincin pernikahanku sekarang juga!" Teriak Febi dengan amarah yang sudah membuncah.

"Aku tidak mengerti yang kalian maksud, uang apa? Emas apa? Cincin pernikahan apa?" Ucap paman.

"Kau sama saja dengan keponakanmu, kalain sama-sama tidak tahu diri. Apa kalian semua tahu, ha. Aku sudah bersusah payah membiayai hidup pamannya dan biaya pengobatannya bersama mendiang istrinya selama ini, tapi apa balasan yang mereka berikan, mereka malah mencuri uangku!" Ibu kembali berteriak.

Sungguh aku ingin mengambil batu, lalu menyumpal mulutnya dengan batu itu.

Aku terus memberontak, berusaha membuka ikatan tanganku, namun semakin keras usahaku, semakin sakit p**a yang aku rasakan pada pergelangan tanganku.

"Sudahlah, Bu. Dia tidak akan mengaku, kita geledah saja rumahnya!" Kali ini mbak Erna yang berteriak.

"Jangan pernah menggeledah rumah Pamanku, jangan pernah mengusik Pamanku, atau kalian akan tahu akibatnya!" Ucapku dengan dada bergemuruh menahan amarah.

Mereka sama sekali tidak memperdulikan aku, mbak Erna memeluk tubuhku, sementara Febi dan ibu mendobrak rumah paman dengan kasar.

Mereka mengobrak abrik isi rumah paman. Paman hanya bisa diam, setiap kali paman hendak menghentikan aksi mereka, pamanku malah di dorong hingga tersungkur di lantai.

"Astaghfirullah, ada apa ini?" Ucap seorang bapak-bapak, datang memenerobos kerumunan masyarakat yang menyaksikan keributan ini.

"Astaghfirullahalazim, ini kenapa Alina diikat seperti ini, Mbak Erna?" Tanya pak RT panik.

"Bapak nggak usah ikut campur! Ini urusan keluarga kami, asal bapak tahu wanita ini adalah seorang pencuri," Jawab mbak Erna berapi-api.

"Ini urusan saya juga, Mbak. Saya RT disini, Mbak Alina ini masyakat saya, lepaskan tidak sepatutnya kalian memperlakukan dia seperti ini!" Sergah pak RT.

"Kalian juga semuanya kenapa diam saja melihat orang diperlakukan seperti ini, dimana hati nurani kalian?" Ucap pak RT dengan nada tinggi.

"Dia itu pencuri, Pak RT makanya kami nggak mau bantuin dia!" Sahut seorang pria dari dalam kerumunan orang-orang.

"Walaupun dia pencuri, kita tidak boleh main hakim sendiri. Sekarang lepaskan ikatan tangan Alina, Mbak Erna atau saya akan menindaklanjuti pekara ini karena anda sudah main hakim sendiri!" Tegas pak RT.

Mbak Erna menatap ibu yang tengah berdiri di dalam rumah paman, kemudian ibu terlihat mengangguk, hingga akhirnya mbak Erna melepas ikatan tanganku.

Aku berlari, berhamburan memeluk paman. Hatiku benar-benar sakit melihatnya diperlakukan seperti tadi oleh ibu dan Febi.

"Maafkan, Alina, Paman." Isakku, sementara paman hanya mengelus pucuk kepalaku.

"Ini bukan salahmu, Nak." Ucap paman dengan suara serak.

"Dengarkan ya untuk kalian semua, jangan diam saja jika ada yang main hakim sendiri, siapapun itu, apapun kasusnya!" Ucap pak RT, sementara semua orang hanya diam saja.

"Kalau ada masalah lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin, Bu. Apalagi kalian ini keluarga, Alina ini menantu Ibu sendiri!" Sekarang, istri pak RT lah yang berbicara.

"Alina, maaf ya kami telat datang ke sini karena tadi ada urusan. Coba saja kami datang sejak awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu," Ujar buk RT sembari mengusap bahuku. Aku hanya mampu mengangguk.

"Sekarang ceritakan bagaimana kronologi kejadiannya, Bu?" Pak RT meminta penjelasan pada ibu. Saat ini, kami duduk di dalam rumah paman.

"Begini, Pak RT. Uang yang saya sebanyak 250 juta beserta emas 15 mayam, bahkan cincin pernikahan anak saya hilang, Febi bahkan menunda acara akad nikahnya karena masalah ini, semua itu gara-gara Alina," Terang ibu sambil menatapku tajam.

"Kenapa kalian bisa menuduh, Alina yang mencuri uang itu?" Tanya pak RT.

"Siapa lagi kalau bukan dia, hanya ada dia di rumah kami, tidak mungkin Erna dan Febi yang mencuri uang itu,"

"Tapi, kan. Beberapa hari ini rumah Ibu ramai, banyak orang berkeliaran di rumah Ibu, kenapa harus menuduh Alina?" Kali ini buk RT yang membuka suara.

"Dua hari yang lalu uang itu masih ada. Pintu kamar saya selalu terkunci, Bu RT. Tidak pernah tidak di kunci, seingat saya ada satu malam sebelum pernikahan Febi saya lupa mengunci pintu kamar karena saya tidur di kamar Febi. Pada saat itu sudah cukup larut malam, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di rumah kami, pintu rumah juga tertutup rapat. Lalu, siapa lagi yang mencuri uang itu kalau bukan dia!" Ibu menunjuk wajahku.

"Nak Alina, kamu jujur saja, biar masalah ini cepat selesai. Apa benar kamu yang mengambil uang itu?" Tanya pak RT padaku dengan suara lembut.

"Saya merasa, saya tidak pernah mengambil uang siapapun, Pak RT!" Jawabku tegas.

"Jangan bohong ya kamu! Mentang-mentang ada yang belain kamu," Mbak Erna berdiri sambil mengecak pinggang.

"Sabar, sabar, Mbak Erna." Bu RT menarik tangan mbak Erna untuk kembali duduk.

"Kalian sudah menggeledah rumah ini, kan? Tapi tidak bisa menemukan apapun disini, berarti tuduhan kalian terhadap Alina itu tidak berdasar," Ujar pak RT.

"Masih ada satu ruangan lagi yang belum diperksa, Pak RT. Itu, kamar itu!" Ucap Ibu sambil menunjuk kamar paman.

"Sebelum menggeledah rumah orang, kita harus meminta izin dulu kepada si pemilik rumah, Bu. Kalau tidak kalian bisa di tuntut karena membuat keributan di rumah orang,"

"Halah, mereka mau menuntut pakai apa, orang miskin!" Ketus Febi.

Pak RT menghela napas panjang. "Kang, Alina apa kalian bersedia kamar itu di geledah, supaya masalah ini cepat selesai?" Tanya pak RT padaku dan paman.

Paman melirik ku sekilas. Aku mengangguk. "Silahkan saja, Pak. Kami tidak keberatan, tapi aku mau meminta satu persyaratan, jika aku terbukti tidak mencuri uang itu, mereka harus meminta maaf dan bersujud di kaki Paman." Ucapku, yang sukses membuat Ibu, Febi dan mbak Erna terbelak.

"Cuih ... Aku tak sudi!" Sungut Febi.

"Terserah saja, tapi jika kau terbukti mengambil uang itu, aku akan membuat kamu dan pamanmu itu membusuk di dalam penjara!" Ucap Ibu lantang.

Akhirnya, kami masuk ke dalam kamar paman. Pak RT dan bu RT menjadi saksi. Ibu dan mbak Erna mulai membuka lemari kayu pakaian paman, sementara Febi memeriksa kasur paman.

Setelah setelah sepuluh menit berlalu, mereka tak menemukan apapun. Aku tersenyum lega, untung saja paman kemarin menyimpan sertifikat kebun itu di rumah adik kandung bibik.

Dan untung saja tukang bangunan itu belum mengantar barangku ke sini.

"Bagaimana, kalian tidak menemukan apapun, kan?" Tanyaku dengan alis terangkat sebelah.

Mereka semua terdiam, menatapku tajam. "Sekarang, tepati janji kita, minta maaf pada pamanku sambil mencium kakinya, jika tidak aku akan menuntut kalian, karena masih ada bekas lebam di p**i dan tanganku akibat ulah kalian." Kataku yang sukses membuat wajah mereka pucat pasi.

"Aku tak sudi, Bu." Ujar Febi.

"Baiklah, tampaknya kalian memang harus berurusan pada pihak yang berwajib!" Ucapku.

Mereka semua terdiam. Ketakutan tak bisa mereka sembunyikan dari raut wajah mereka. Apalagi, disini ada pak RT dan bu RT yang menjadi saksi.

"Baik, kami akan melakukan hal menjijikkan itu," Sergah Ibu.

"Ibu ...."

"Kamu mau kalau masalah ini diketahui perangkat desa? Kita sudah tidak punya uang, Febi," Bisik Ibu yang masih bisa kudengar.

Aku tersenyum puas melihat wajah tidak berdaya mereka. Manusia yang tadinya sangat sombong, sekarang akan meminta maaf dengan mencium kaki pamanku.

Saat Ibu hendak jongkok, tiba-tiba mbak Erna menahan tangannya. "Tunggu sebentar, Bu. Kita belum memeriksa kantong kresek hitam itu!" Ucapnya sambil menunjuk kantong kresek di sudut kamar paman.

Wajah paman seketika memucat. "Itu hanya plastik tempat sampah, aku lupa membuangnya," Ujar paman salah tingkah sendiri.

Tanpa pikir panjang, mbak Erna berjalan hendak mengambil kantong kresek hitam itu, namun tangannya dicegat cepat oleh paman.

"Itu hanya sampah," Cegah paman.

"Kenapa kau sangat takut jika itu hanya sampah, ha? Tingkahmu membuatku semakin curiga saja." Pungkas mbak Erna.

Mbak Erna kemudian mengambil kantong kresek hitam itu, kemudian membukanya perlahan.

Saat kantong kresek hitam itu terbuka, mataku melotot, jangungku berdegup kencang, melihat mbak Erna mengeluarkan sebut kotak berwarna merah.

"Ini adalah kotak perhiasan emas milik, Ibuku. Ternyata benar, kalian yang mencuri uang dan emas ibuku," Teriak mbak Erna.

Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi, kenapa bisa benda itu ada di kamar pamanpaman? Dan kenapa aku bisa lupa membuangnya kemarin, kenapa paman juga tidak membuangnya jauh, tapi malah menyimpannya di kamar.

"Ternyata benar, kau yang kencuri uang kami, Alina!" Bentak Ibu dengan tatapan ingin membunuh.

"Semua kotak ini sudah kosong, Bu. Tidak ada emas dan uang disini," Ujar mbak Erna.

"Katakan dimana kau menyembunyikan uang dan emas itu?" Ibu mencengram erat tanganku.

"Katakan!" Bentaknya.

"Aku tidak pernah mencuri milik kalian, uang dan emas itu milikku, hakku. Suamiku yang mengirimkannya, selama ini kalian lah yang dzolim, mengambil dan menikmati semua uang yang di kirimkan oleh suamiku!" Bentak ku tak kalah lantang.

"Jangan banyak omong kamu, mana uang dan emasnya?" Sekarang Febi yang mencengram erat daguku.

Aku menepis kasar tangannya. "Jangan berani-beraninya kau menyakiti tubuhku, sekali lagi kukatakan aku tidak pernah mencuri milik kalian, uang dan emas itu milikku kalian lah yang mencuri!"

"Banyak omong kau, sini kau, aku akan membawamu ke kantor polisi. Dasar pencuri kau!"

Ibu menyeret tanganku ke luar rumah, semua orang kembali menyaksikan keributan ini. Aku berusaha melepas tanganku, tapi kali ini tenaga ibu seperti berkali-kali lipat lebih kuat.

"Aku akan membawamu ke kantor polisi, dasar pencuri kau!" Maki ibu, sambil terus menyeret tanganku.

Kali ini, bukan hanya ibu tapi di bantu oleh mbak Erna, sehingga aku semakin sulit untuk memberontak.

"Biar aku tunjukkan di mana tempatmu sebenarnya, pencuri." Ucap ibu berapi-api.

"Hentikan. Dia bukan pencuri, kalianlah yang pencuri!" Ucap seorang pria lantang, yang sukses membuat langkah ibu terhenti.

Part acak

Selengkapnya di kbmapp

Judul : ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU
Penulis : Putripmg69

Address

Ds. Sarampad
Cianjur Regency

Telephone

+6283843730038

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Story viral posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share