01/06/2026
Dua kali gagal lamaran, calon suami lebih pilih adik-adiku. Ternyata, semua kegagalan itu sudah direncanakan oleh ibuku sendiri. Hanya karena dia tak mau kehilangan sumber uangnya ini.
AKU ANAK SULUNG YANG DIJADIKAN A T M KELUARGA. HIDUPKU TAK LEBIH PENTING DARI ADIK-ADIKKU
**
"Kamu yakin cincinnya cuma begitu?" tanya Mahesa sambil melirik sekilas pada kotak beludru merah murah yang kupegang.
Sebuah cincin emas berkadar rendah dengan hiasan kaca kecil di atasnya. Berkilau, tapi sama sekali bukan berlian. Hanya aksesoris murah yang tak memiliki nilai investasi. Ada untungnya juga aku melarang Tiwi dan Ibu membocorkan pada Mahesa bahwa aku sudah tahu segalanya.
"Yakin, Mas. Cuma cincin pertunangan. Lagian, aku maunya yang minimalis saja," sahutku datar.
"Biar Tiwi tahu rasa. Dia bermimpi memakai berlian dari brand kantorku, tapi harus puas dengan emas pasar berhias kaca," sambungku dalam hati.
Mahesa menghela napas, tapi tidak protes lagi.
"Antar aku ke kantor lagi. Aku harus bekerja, ada launching produk baru besok," kataku setelah kami terdiam beberapa lama di dalam mobil.
"Kita nggak jadi makan siang?" tanya Mahesa.
"Sudah telat, Mas. Kamu makan sendiri saja."
"Kamu sibuk banget, ya," gumam Mahesa, nadanya mulai terdengar tidak senang. "Kalau nanti kita menikah, bagaimana bisa kamu mengurus rumah tangga? Aku sibuk, kamu sibuk. Siapa yang akan tinggal di rumah, jagain ibuku, dan jagain anak-anak kita nanti?"
"Kamu cari pengasuh atau cari istri sih, Mas?!" sahutku pedas.
Kalimatnya benar-benar memicu harga diriku. Sejujurnya, di balik label independent woman yang melekat padaku, aku juga lelah. Aku lelah memeras keringat belasan jam sehari hanya untuk menjadi mesin uang keluarga.
Jika aku mendapatkan suami yang tulus, aku bahkan rela melepaskan jabatanku dan fokus mengurus rumah tangga jika diminta. Aku juga ingin dilindungi, ingin dinafkahi. Tapi mendengar Mahesa yang menuntutku menjadi pelayan ibunya sementara dia bermain gi la dengan adikku, rasanya menji jikkan.
"Bukan begitu maksudku, Sayang. Aku cuma mau istri yang nggak sibuk sendiri," ucap Mahesa, berusaha meredam ketegangan dengan suara tenangnya yang palsu.
"Sampai kapan kamu mau terus berakting, Mahesa!" Aku berteriak dalam hati.
"Oh iya, nanti kalau acara lamaran, jangan bawa orang banyak-banyak ya, Mas. Cukup kamu dan orang tuamu saja," ujarku mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? Bukankah biasanya lebih bagus ramai? Biar kesannya serius."
"Kamu tahu sendiri keluargaku besar, Mas. Rumah orang tuaku tidak seberapa luas. Kasihan keluarga besarmu kalau harus bersempit-sempitan di sana. Nanti saja saat resepsi baru undang semua," alibiku, terdengar sangat perhatian. Padahal, aku hanya ingin memastikan lamaran Tiwi nanti berlangsung sepi, sunyi, dan memalukan.
"Baiklah, kalau itu maumu." Mahesa akhirnya menyerah.
Pembalasan untuk Tiwi sudah kuatur rapi. Sekarang, fokusku harus beralih pada tenggat waktu gila dari Ibu, mencari pria mapan dalam waktu tiga puluh hari.
***
"Bu Aruna, kenalin ini sopir pengganti sementara untuk Ibu. Namanya Mas Genta Adeswara."
Pagi berikutnya, Naila membawa seorang pria masuk ke dalam ruanganku.
"Pak Teguh ke mana?" tanyaku langsung, mengabaikan pria di depan Naila.
Terkesan tidak sopan? Mungkin. Tapi aku terlanjur dekat dengan Pak Teguh, pria paruh baya yang sudah dua tahun ini mengantarku ke mana-mana. Pak Teguh sangat baik, sangat kontras dengan Ayahku yang langsung memproklamirkan diri 'pensiun' dan berhenti bekerja begitu aku mulai menghasilkan uang.
"Pak Teguh mengambil cuti satu bulan, Bu. Beliau harus menemani istrinya yang sedang sakit di kampung," jawab Naila.
"Sakit apa? Parah?" tanyaku panik. Pak Teguh sudah kuanggap seperti ayah kedua. Istrinya sering membawakanku bekal makan siang.
"Bu Aruna, tidak perlu khawatir," Naila tersenyum menenangkan. "Istrinya cuma sakit rindu kampung halaman. Pak Teguh sengaja mengambil cuti panjang sekalian untuk p**ang kampung."
"Cuma rindu kampung halaman bisa cuti sebulan? Istimewa sekali," gumamku sangsi.
"Ibu lupa? Pak Teguh kan aslinya sopir pribadi keluarga pemilik perusahaan kita. Makanya beliau punya hak istimewa," bisik Naila mengingatkan.
Aku hanya mengangguk kecil, teringat cerita Pak Teguh dulu sebelum dia diperbantukan untuk divisi-ku. Tepat setelah aku naik jabatan menjadi Brand Manager, Pak Teguh baru dipindahkan ke sini.
Detik berikutnya, pandanganku beralih sepenuhnya pada pria bernama Genta yang sejak tadi berdiri tegak di tengah ruangan.
Sebagai Brand Manager yang terbiasa mengurusi barang-barang kelas atas, instingku mendadak menangkap sesuatu yang tidak biasa dari pria ini.
Dia memakai kemeja putih polos standar sopir perusahaan, tapi postur tubuhnya begitu tegap dan atletis. Potongan rambutnya rapi, dan tatapan matanya saat menyapaku terasa terlalu tenang, penuh percaya diri, bukan tatapan segan khas seorang pekerja upahan. Bahkan samar-samar, aku bisa mencium aroma parfum woody mahal yang tipis dari tubuhnya.
"Maaf, siapa namanya tadi?" tanyaku.
"Genta, Bu," jawabnya dengan suara bariton yang berat dan tertata.
"Ya sudah. Kamu sudah tahu kan ritme kerja Pak Teguh? Kamu boleh keluar sekarang, nanti Naila yang akan menghubungi jika ada jadwal outdoor."
Pria itu mengangguk sopan, lalu berbalik keluar. Gerakan tubuhnya bahkan terlihat berkelas. Pria ini jelas seusia denganku, tapi entah kenapa dia berakhir menjadi seorang sopir pengganti.
"Nai, berapa usianya?" tanyaku pada Naila begitu pintu tertutup.
"Tiga puluh delapan tahun, Bu."
"Sudah menikah?"
"Belum, Bu."
"Mana CV-nya? Aku mau lihat latar belakangnya."
Naila tampak meringis ragu. "Maaf, Bu, tidak bisa. HRD pusat tidak memberikan berkas CV Mas Genta ke divisi kita. Katanya, dia dikirim langsung atas perintah direksi untuk mengisi kekosongan posisi Pak Teguh."
Jawaban Naila membuat keningku berkerut. Misterius sekali untuk ukuran seorang sopir cadangan. Namun, di tengah rasa penasaran itu, sebuah ide gi la tiba-tiba melintas di kepalaku. Ide nekat yang dipicu oleh rasa frustrasi yang mendalam.
Pria bernama Genta itu punya modal fisik yang luar biasa. Jika dipoles dengan setelan jas mahal dan sedikit arahan dariku, dia akan dengan mudah mengelabui siapa pun dan terlihat seperti pengusaha muda yang sukses.
Bagaimana kalau aku menyewanya saja untuk menjadi calon suami palsuku? Yang penting, aku punya pria untuk dibawa ke hadapan Ibu dan Ayah dalam waktu tiga puluh hari, lalu keluar dari neraka itu secepatnya. Waktu sebulan sudah berkurang tiga hari, dan aku tidak punya pilihan lain.
🔥🔥🔥
Baca selengkapnya di kbm app
Judul: Bakti Berbuah Jeruji
Penulis Isna Arini