Story viral

Story viral Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Story viral, Digital creator, Ds. Sarampad, Cianjur Regency.

Karena aku hanya ibu rumah tangga, suami menggangapku beban. Aku selalu dituntut mengalah dalam segala hal. Termasuk men...
16/01/2026

Karena aku hanya ibu rumah tangga, suami menggangapku beban. Aku selalu dituntut mengalah dalam segala hal. Termasuk menunggu dia dan anak kami makan, baru aku kebagian sisanya. Kalau memang kami lagi sangat kesulitan ekonomi, mungkin bisa kutahankan. Namun, suamiku malah sangat royal pada adik-adiknya
***

"Tari, udah masak belum?" Arman berteriak dari ruang tamu. Suaranya tegas, khas lelaki yang sering memerintah. Dia sibuk main game sambil menemani putranya nonton televisi.

Bau tumisan bawang merah bercampur bawang putih memenuhi dapur sempit rumah kontrakan itu. Lestari menyalakan kompor sejak setengah jam lalu, menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

"Sudah, Mas. Ayo makan!" Lestari buru-buru menata masakannya.

Di meja, ada dua piring nasi yang sudah ia cetak dengan rapi.

Satu untuk Arman, suaminya.

Satu lagi untuk Dafa, putra semata wayangnya yang berusia lima tahun.

Tidak ada piring ketiga.

Seperti biasa. Dia akan menunggu anaknya selesai makan. Dafa sering tak habis kalau makan. Dengan alasan itu, Arman selalu menyuruhnya menunggu sisa anak mereka.

Mau membantah, tapi suaminya lebih keras. Lestari selalu dituntut mengalah, pengertian dan berhemat setiap hari.

Lestari menatap wajan. Dia tahu, lauk yang dimasaknya tidak akan cukup kalau dibuat tiga porsi. Ikan mas yang tadi digoreng hanya tinggal dua potong, dan tempe

di piring saji pun hanya tersisa lima potong kecil. Tumis kangkung pun hanya satu piring kecil, sisa kangkung semalam. Uang belanja yang diberi Arman memang pas-pasan setiap hari.

Arman bekerja di sebuah perusahaan. Gajian tiap bulan selalu utuh, tak pernah dikasih ke istri. Untuk belanja harian, Arman ngojek sep**ang kerja. Lalu sebagian diberikan ke Lestari untuk belanja.

“Ini untuk Mas sama Dafa,” katanya pelan.

Arman mengangguk tanpa melihat wajah istrinya. Dia langsung menyendok sayur, mengambil dua potong tempe, dan satu potong ikan mas.

Dafa makan dengan lahap, sesekali menumpahkan nasi ke meja.

Lestari duduk sambil menatap mereka makan. Sesekali dia menelan ludah.

"Mah, ayo makan!" ajak Dafa.

Lestari menggeleng. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Tapi dia tak berani makan. Itu akan mengusik ketenangan suaminya. Sama saja memancing keributan saat makan.

"Nanti kalau Dafa nggak habis, kamu makan sisanya aja. Lagian kamu kan nggak kerja, gak keluar banyak tenaga. Yang penting kita kenyang dulu. Dafa dalam masa pertumbuhan. Dia perlu banyak makan agar tetap sehat dan pintar,” ujar Arman.

Lestari mengangguk. Sudah berkali-kali ia mendengar alasan itu. Tidak bekerja berarti tidak berhak makan lebih dulu. Tidak menghasilkan uang berarti harus selalu mengalah.

Dia menunggu hingga Dafa selesai makan. Seperti dugaan, hanya kuah sayur bening dan setengah potong tempe yang tersisa.

Itulah sarapan Lestari pagi itu.

Sisa.

Seperti dirinya yang selalu ditempatkan di urutan terakhir dalam segala hal.

Namun pagi ini, entah kenapa, ada rasa perih yang tak biasa ketika dia memungut sisa makanan anaknya. Seolah-olah, ada sesuatu di hatinya yang mulai retak.

"Mas, aku ingin kerja saja," ujar Lestari tiba-tiba. Matanya sudah berkaca-kaca.

Dafa sudah keluar, bermain dengan temannya. Arman masih duduk di kursi makan, tapi dengan mata sibuk dengan ponselnya.

"Kerja? Ada-ada aja kamu. Lalu Dafa siapa yang jaga? Siapa yang masak dan beberes rumah?" cetus Arman.

"Aku kelaparan setiap hari, Mas. Sisa untuk bagianku selalu sedikit. Aku juga merasa tak dihargai. Selalu nunggu kamu dan Dafa selesai makan," lirih Lestari.

"Kamu jijik dengan makanan anakmu sendiri? Gak boleh gitu, Tari! Harusnya seorang ibu tidak boleh jijik dengan sisa makanan anak sendiri. Kamu juga tahu, kita ini harus berhemat, demi masa depan kita. Biar kita segera punya rumah."

"Makanya aku ingin kerja, Mas. Aku ingin punya penghasilan. Aku ingin makan ayam atau ikan tanpa menunggu sisa kalian. Aku lebih sering kebagian sisa kepala ikan dan leher ayam. Aku lelah, Mas."

Lestari tak tahan lagi memendam semuanya. Dia menagis sesenggukan. Tangannya tak sanggup menyiapkan nasi yang sudah benyek diaduk-aduk putranya dengan tangan saat makan tadi.

"Manja banget sih. Kayak enak saja kamu saat di rumah orang tuamu. Saat gadis, kamu juga jarang makan ayam dan ikan. Masa sekarang menuntut aku harus menyediakan makanan enak untukmu. Jadi istri harus pengertian sama suami d**g. Jangan hanya bisa menuntut dan menuntut saja."

Arman menggebrak meja dengan wajah murka. Piring keramik di depan Lestari terjatuh. Nasi sisa yang belum sempat dimakannya jatuh berserak.

"Cukup, Mas! Jangan terus menyalahkanku! Apalagi merendahkan orang tuaku. Kami memang jarang makan ayam saat aku gadis, tapi tak ada yang nunggu sisa. Kami makan sama-sama dengan lauk seadanya," ujar Lestari.

Emosinya tersulut karena Arman tidak menanggapi keluhannya dengan bijak.

"Argh, kamu bikin gak mood aja. Hari minggu niatnya mau santai, malah bertengkar sama kamu. Aku malas di rumah," cetus Arman.

Dia menyambar jaket dan kunci motornya. Pergi tanpa mau berdiskusi dengan istrinya.

Lestari menangis sesenggukan. Dia bertekad, mulai hari ini, tak perlu minta uang lagi pada suaminya. Dia akan mengusahakan apapun yang diinginkan tanpa bantuan lelaki pelit itu.

Selengkapnya di kbmapp

Judul: Berhenti Mengalah
Penulis: Ryan Hamzah

ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU Pov Alina"Sudah, Bu, Mbak. Dia tidak akan mengaku, kita periksa rumah pamannya se...
15/01/2026

ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU

Pov Alina

"Sudah, Bu, Mbak. Dia tidak akan mengaku, kita periksa rumah pamannya sekarang, pasti dia menyembunyikan uang itu disana!" Ucap Febi.

"Febi benar, Bu. Dia tidak mungkin menyimpan barang curiannya di rumah ini, kita periksa rumah pamannya!" Timpal mbak Erna menggebu-gebu.

Mereka menyeret bahuku, sementara tanganku masih terikat di belakang pinggang. Aku mulai merasa pegal dan sakit di pergelangan taganku.

"Lepaskan ikatan tanganku, Mbak. Aku bukan binatang yang bisa kalian perlakuan seperti ini!" Bentak ku.

Mereka sama sekali tak menghiraukan aku, bahkan mereka juga tidak peduli dengan acara pernikahan Febi yang sedang berlangsung.

Semua tamu yang hadir keheranan menatap kami. Calon suami Febi dan keluarganya turun dari tempat akad, menghampiri kami dengan raut wajah bingung.

"Ada apa ini?" Tanya Angga-calon suami Febi.

"Sayang, aku minta maaf, keluargaku ada sedikit masalah, beri kami waktu sebentar untuk menyelesaikannya," Jawab Febi, saat ini dia masih dalam balutan baju pegangtin, hanya riasannya saja yang sedikit rusak akibat menangis tadi.

"Apa tidak bisa diselesaikan nanti saja? Ini akad nya akan segera dilangsungkan loh, ini acara sakral kok ditunda-tunda!" Sanggah Ibu Angga.

"Tidak bisa, tidak ada yang lebih penting daripada uang dan perhiasan emasku!" Ibu bersikukuh.

Raut wajah keluarga Angga seketika berubah, namun baik ibu maupun Febi sama sekali tidak memperdulikannya. Mereka terus menyeretku menuju rumah paman.

Semua orang yang menyaksikan keributan ini turut serta mengikuti kami, aku seperti orang yang ketahuan berzin* yang sedang diarak keliling kampung.

Malu, sedih, marah, sakit hati semuanya menyatu. Perasaanku campur aduk, aku ingin memberontak tapi tubuhku di seret oleh tiga orang sekaligus yaitu Febi, mbak Erna dan ibu.

Setelah sampai di depan rumah paman, ibu melempari rumah paman dengan batu besar. Dadaku bergemuruh melihatnya, andai saja aku bebas maka aku tak tidak akan tinggal diam melihatnya melakukan itu.

Pamanku tergopoh-gopoh keluar rumah, dibantu tongkat. Dia tampak terkejut bukan main melihat sudah ramai orang di depan rumahnya.

Seketika pandangan paman tertuju padaku, raut wajahnya seakan bertanya ada apa? Aku menggeleng pelan, berharap dia tidak mengatakan apapun perihal kejadian kemarin.

"Hey komplotan pencuri, dimana kau sembunyikan uang dan perhiasan emasku?" Teriak ibu di depan rumah paman.

Pamanku tersentak, sontak ia kembali menatapku, aku kembali menggeleng, aku harap dia mengerti dengan kode yang aku berikan.

"Uang apa? Emas apa? Aku tidak mengerti!" Tutur paman.

"Ohh ... Lihatlah masyarakat kampung sekalian, mereka benar-benar komplotan pencuri yang sangat kompak," Ucap ibu lantang, seperti memberikan pengumuman.

"Jangan pura-pura tidak tahu, kau. Kalian berdua yang sudah mencuri uang dan perhiasan emas milik Ibuku, cepat kembalikan cincin pernikahanku sekarang juga!" Teriak Febi dengan amarah yang sudah membuncah.

"Aku tidak mengerti yang kalian maksud, uang apa? Emas apa? Cincin pernikahan apa?" Ucap paman.

"Kau sama saja dengan keponakanmu, kalain sama-sama tidak tahu diri. Apa kalian semua tahu, ha. Aku sudah bersusah payah membiayai hidup pamannya dan biaya pengobatannya bersama mendiang istrinya selama ini, tapi apa balasan yang mereka berikan, mereka malah mencuri uangku!" Ibu kembali berteriak.

Sungguh aku ingin mengambil batu, lalu menyumpal mulutnya dengan batu itu.

Aku terus memberontak, berusaha membuka ikatan tanganku, namun semakin keras usahaku, semakin sakit p**a yang aku rasakan pada pergelangan tanganku.

"Sudahlah, Bu. Dia tidak akan mengaku, kita geledah saja rumahnya!" Kali ini mbak Erna yang berteriak.

"Jangan pernah menggeledah rumah Pamanku, jangan pernah mengusik Pamanku, atau kalian akan tahu akibatnya!" Ucapku dengan dada bergemuruh menahan amarah.

Mereka sama sekali tidak memperdulikan aku, mbak Erna memeluk tubuhku, sementara Febi dan ibu mendobrak rumah paman dengan kasar.

Mereka mengobrak abrik isi rumah paman. Paman hanya bisa diam, setiap kali paman hendak menghentikan aksi mereka, pamanku malah di dorong hingga tersungkur di lantai.

"Astaghfirullah, ada apa ini?" Ucap seorang bapak-bapak, datang memenerobos kerumunan masyarakat yang menyaksikan keributan ini.

"Astaghfirullahalazim, ini kenapa Alina diikat seperti ini, Mbak Erna?" Tanya pak RT panik.

"Bapak nggak usah ikut campur! Ini urusan keluarga kami, asal bapak tahu wanita ini adalah seorang pencuri," Jawab mbak Erna berapi-api.

"Ini urusan saya juga, Mbak. Saya RT disini, Mbak Alina ini masyakat saya, lepaskan tidak sepatutnya kalian memperlakukan dia seperti ini!" Sergah pak RT.

"Kalian juga semuanya kenapa diam saja melihat orang diperlakukan seperti ini, dimana hati nurani kalian?" Ucap pak RT dengan nada tinggi.

"Dia itu pencuri, Pak RT makanya kami nggak mau bantuin dia!" Sahut seorang pria dari dalam kerumunan orang-orang.

"Walaupun dia pencuri, kita tidak boleh main hakim sendiri. Sekarang lepaskan ikatan tangan Alina, Mbak Erna atau saya akan menindaklanjuti pekara ini karena anda sudah main hakim sendiri!" Tegas pak RT.

Mbak Erna menatap ibu yang tengah berdiri di dalam rumah paman, kemudian ibu terlihat mengangguk, hingga akhirnya mbak Erna melepas ikatan tanganku.

Aku berlari, berhamburan memeluk paman. Hatiku benar-benar sakit melihatnya diperlakukan seperti tadi oleh ibu dan Febi.

"Maafkan, Alina, Paman." Isakku, sementara paman hanya mengelus pucuk kepalaku.

"Ini bukan salahmu, Nak." Ucap paman dengan suara serak.

"Dengarkan ya untuk kalian semua, jangan diam saja jika ada yang main hakim sendiri, siapapun itu, apapun kasusnya!" Ucap pak RT, sementara semua orang hanya diam saja.

"Kalau ada masalah lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin, Bu. Apalagi kalian ini keluarga, Alina ini menantu Ibu sendiri!" Sekarang, istri pak RT lah yang berbicara.

"Alina, maaf ya kami telat datang ke sini karena tadi ada urusan. Coba saja kami datang sejak awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu," Ujar buk RT sembari mengusap bahuku. Aku hanya mampu mengangguk.

"Sekarang ceritakan bagaimana kronologi kejadiannya, Bu?" Pak RT meminta penjelasan pada ibu. Saat ini, kami duduk di dalam rumah paman.

"Begini, Pak RT. Uang yang saya sebanyak 250 juta beserta emas 15 mayam, bahkan cincin pernikahan anak saya hilang, Febi bahkan menunda acara akad nikahnya karena masalah ini, semua itu gara-gara Alina," Terang ibu sambil menatapku tajam.

"Kenapa kalian bisa menuduh, Alina yang mencuri uang itu?" Tanya pak RT.

"Siapa lagi kalau bukan dia, hanya ada dia di rumah kami, tidak mungkin Erna dan Febi yang mencuri uang itu,"

"Tapi, kan. Beberapa hari ini rumah Ibu ramai, banyak orang berkeliaran di rumah Ibu, kenapa harus menuduh Alina?" Kali ini buk RT yang membuka suara.

"Dua hari yang lalu uang itu masih ada. Pintu kamar saya selalu terkunci, Bu RT. Tidak pernah tidak di kunci, seingat saya ada satu malam sebelum pernikahan Febi saya lupa mengunci pintu kamar karena saya tidur di kamar Febi. Pada saat itu sudah cukup larut malam, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di rumah kami, pintu rumah juga tertutup rapat. Lalu, siapa lagi yang mencuri uang itu kalau bukan dia!" Ibu menunjuk wajahku.

"Nak Alina, kamu jujur saja, biar masalah ini cepat selesai. Apa benar kamu yang mengambil uang itu?" Tanya pak RT padaku dengan suara lembut.

"Saya merasa, saya tidak pernah mengambil uang siapapun, Pak RT!" Jawabku tegas.

"Jangan bohong ya kamu! Mentang-mentang ada yang belain kamu," Mbak Erna berdiri sambil mengecak pinggang.

"Sabar, sabar, Mbak Erna." Bu RT menarik tangan mbak Erna untuk kembali duduk.

"Kalian sudah menggeledah rumah ini, kan? Tapi tidak bisa menemukan apapun disini, berarti tuduhan kalian terhadap Alina itu tidak berdasar," Ujar pak RT.

"Masih ada satu ruangan lagi yang belum diperksa, Pak RT. Itu, kamar itu!" Ucap Ibu sambil menunjuk kamar paman.

"Sebelum menggeledah rumah orang, kita harus meminta izin dulu kepada si pemilik rumah, Bu. Kalau tidak kalian bisa di tuntut karena membuat keributan di rumah orang,"

"Halah, mereka mau menuntut pakai apa, orang miskin!" Ketus Febi.

Pak RT menghela napas panjang. "Kang, Alina apa kalian bersedia kamar itu di geledah, supaya masalah ini cepat selesai?" Tanya pak RT padaku dan paman.

Paman melirik ku sekilas. Aku mengangguk. "Silahkan saja, Pak. Kami tidak keberatan, tapi aku mau meminta satu persyaratan, jika aku terbukti tidak mencuri uang itu, mereka harus meminta maaf dan bersujud di kaki Paman." Ucapku, yang sukses membuat Ibu, Febi dan mbak Erna terbelak.

"Cuih ... Aku tak sudi!" Sungut Febi.

"Terserah saja, tapi jika kau terbukti mengambil uang itu, aku akan membuat kamu dan pamanmu itu membusuk di dalam penjara!" Ucap Ibu lantang.

Akhirnya, kami masuk ke dalam kamar paman. Pak RT dan bu RT menjadi saksi. Ibu dan mbak Erna mulai membuka lemari kayu pakaian paman, sementara Febi memeriksa kasur paman.

Setelah setelah sepuluh menit berlalu, mereka tak menemukan apapun. Aku tersenyum lega, untung saja paman kemarin menyimpan sertifikat kebun itu di rumah adik kandung bibik.

Dan untung saja tukang bangunan itu belum mengantar barangku ke sini.

"Bagaimana, kalian tidak menemukan apapun, kan?" Tanyaku dengan alis terangkat sebelah.

Mereka semua terdiam, menatapku tajam. "Sekarang, tepati janji kita, minta maaf pada pamanku sambil mencium kakinya, jika tidak aku akan menuntut kalian, karena masih ada bekas lebam di p**i dan tanganku akibat ulah kalian." Kataku yang sukses membuat wajah mereka pucat pasi.

"Aku tak sudi, Bu." Ujar Febi.

"Baiklah, tampaknya kalian memang harus berurusan pada pihak yang berwajib!" Ucapku.

Mereka semua terdiam. Ketakutan tak bisa mereka sembunyikan dari raut wajah mereka. Apalagi, disini ada pak RT dan bu RT yang menjadi saksi.

"Baik, kami akan melakukan hal menjijikkan itu," Sergah Ibu.

"Ibu ...."

"Kamu mau kalau masalah ini diketahui perangkat desa? Kita sudah tidak punya uang, Febi," Bisik Ibu yang masih bisa kudengar.

Aku tersenyum puas melihat wajah tidak berdaya mereka. Manusia yang tadinya sangat sombong, sekarang akan meminta maaf dengan mencium kaki pamanku.

Saat Ibu hendak jongkok, tiba-tiba mbak Erna menahan tangannya. "Tunggu sebentar, Bu. Kita belum memeriksa kantong kresek hitam itu!" Ucapnya sambil menunjuk kantong kresek di sudut kamar paman.

Wajah paman seketika memucat. "Itu hanya plastik tempat sampah, aku lupa membuangnya," Ujar paman salah tingkah sendiri.

Tanpa pikir panjang, mbak Erna berjalan hendak mengambil kantong kresek hitam itu, namun tangannya dicegat cepat oleh paman.

"Itu hanya sampah," Cegah paman.

"Kenapa kau sangat takut jika itu hanya sampah, ha? Tingkahmu membuatku semakin curiga saja." Pungkas mbak Erna.

Mbak Erna kemudian mengambil kantong kresek hitam itu, kemudian membukanya perlahan.

Saat kantong kresek hitam itu terbuka, mataku melotot, jangungku berdegup kencang, melihat mbak Erna mengeluarkan sebut kotak berwarna merah.

"Ini adalah kotak perhiasan emas milik, Ibuku. Ternyata benar, kalian yang mencuri uang dan emas ibuku," Teriak mbak Erna.

Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi, kenapa bisa benda itu ada di kamar pamanpaman? Dan kenapa aku bisa lupa membuangnya kemarin, kenapa paman juga tidak membuangnya jauh, tapi malah menyimpannya di kamar.

"Ternyata benar, kau yang kencuri uang kami, Alina!" Bentak Ibu dengan tatapan ingin membunuh.

"Semua kotak ini sudah kosong, Bu. Tidak ada emas dan uang disini," Ujar mbak Erna.

"Katakan dimana kau menyembunyikan uang dan emas itu?" Ibu mencengram erat tanganku.

"Katakan!" Bentaknya.

"Aku tidak pernah mencuri milik kalian, uang dan emas itu milikku, hakku. Suamiku yang mengirimkannya, selama ini kalian lah yang dzolim, mengambil dan menikmati semua uang yang di kirimkan oleh suamiku!" Bentak ku tak kalah lantang.

"Jangan banyak omong kamu, mana uang dan emasnya?" Sekarang Febi yang mencengram erat daguku.

Aku menepis kasar tangannya. "Jangan berani-beraninya kau menyakiti tubuhku, sekali lagi kukatakan aku tidak pernah mencuri milik kalian, uang dan emas itu milikku kalian lah yang mencuri!"

"Banyak omong kau, sini kau, aku akan membawamu ke kantor polisi. Dasar pencuri kau!"

Ibu menyeret tanganku ke luar rumah, semua orang kembali menyaksikan keributan ini. Aku berusaha melepas tanganku, tapi kali ini tenaga ibu seperti berkali-kali lipat lebih kuat.

"Aku akan membawamu ke kantor polisi, dasar pencuri kau!" Maki ibu, sambil terus menyeret tanganku.

Kali ini, bukan hanya ibu tapi di bantu oleh mbak Erna, sehingga aku semakin sulit untuk memberontak.

"Biar aku tunjukkan di mana tempatmu sebenarnya, pencuri." Ucap ibu berapi-api.

"Hentikan. Dia bukan pencuri, kalianlah yang pencuri!" Ucap seorang pria lantang, yang sukses membuat langkah ibu terhenti.

Part acak

Selengkapnya di kbmapp

Judul : ISTRIKU DIJADIKAN BABU OLEH KELUARGAKU
Penulis : Putripmg69

Di rumah istriku hanya memakai “daster robek edition” dengan rambut disanggul pakai jemari.Tapi kata temanku, dia lihat ...
15/01/2026

Di rumah istriku hanya memakai “daster robek edition” dengan rambut disanggul pakai jemari.
Tapi kata temanku, dia lihat istriku di mall secantik permaisuri kerajaan.
Jadi… istriku ini punya mode silvman? Atau mataku yang minus delapan belum sadar diri?

---

"Bang, sarapannya sudah ada di meja. Jangan lupa nanti kalau selesai makan, piringnya langsung ditaruh tempat cuci piring. Kalau selesai mandi, handuk jangan ditaruh diatas kasur."

Sepagi ini istriku sudah memberikan tausiahnya. Ia sedang berlari lari mengejar dua anak ku batita yang susah makan. Sekilas ku lirik wanita yang sudah empat tahun menjadi istriku. Tidak pernah berubah dari kami sebelum mempunyai anak,masih begitu saja modelnya. Wanita yang dipilihkan ibu untukku.

Tidak ada yang menarik perhatianku saat bangun tidur kecuali ocehanya yang seperti radio rusak itu. Entah ibu melihat dari sisi mananya hingga kukuh menyuruhku untuk menikahi nya. Padahal ia dulu hanya wanita kampung yang kebetulan menjadi ART di rumah tetangga kami.

Ku buka tudung saji diatas meja, hanya ada sayur bening,tempe goreng dan sambal tomat.

"Siti, apa kamu tidak bisa masak selain ini? Kata nya kamu pintar masak?"omelku serya menghampirinya.

Dia mendengkus kesl.

"Tanyakan pada ibumu bang. Berapa dia memberi uang belanja ku,".

Aku memang memberikan seluruh gajiku untuk ibu. Karena aku lebih percaya padanya. Siti adalah gadis kampung. Apa bisa dia mengatur uang.

Mendengar kata ibu disebut, aku sudah tidak protes. Ibu pasti lebih tau mana yang terbaik.

*

"Ardan, bukanya gajimu sama denganku?"tanya Aji-teman sekantor ku tiba-tiba.

Aku mengangguk dengan malas. Pertanyaan yang tidak jelas.

"Tapi kok bisa istrimu berpenampilan high class. Bahkan ku rasa gajimu sebulan pun tak cukup membeli satu tas branded nya. Apa istrimu sekarang bekerja? Kemarin sewaktu aku cuti, aku sempat melihatnya di mall. Perfect,"

Aku menahan diri sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Namun sulit sekali dan tawaku akhirnya pecah seketika.

"Ji, kalau kamu ingin tau istriku. Lihat di rumah sekarang. Dia sekarang pasti ngejar-ngejar kedua anak ku yang masih batita dengan wajah kusam penuh keringat, rambut berantakan, pakai daster yang bagian ketiaknya bolong. Halu kamu melihat istriku jalan-jalan di mall. Aku saja malu mengajaknya ke pasar."

"Eh sumpah Dan. Yang aku lihat benar-benar istrimu-Siti. Kalau kamu tidak mengakui, boleh deh buat aku," goda Aji.

Aku sejenak terdiam. Aji memang berkali-kali bertemu Siti saat mampir ke rumah. Tentu ia hafal betul wajahnya. Apa benar Siti lah wanita high class yang diceritakan Aji dengan begitu yakin? Sementara kami dirumah saja makan seadanya.

Ku pencet gawaiku, memencet kontak atas nama Siti.

"Dimana?"tanyaku ketus.

Namun di seberang sana ku dengar suara riuh orang. Seperti di pusat keramaian.

Apa benar Siti sedang diluar seperti kata Aji?

Selengkapnya di kbmapp

JUDUL : ISTRIKU DI MATA PRIA LAIN
PENULIS : Anik Safitri

Address

Ds. Sarampad
Cianjur Regency

Telephone

+6283843730038

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Story viral posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share