29/01/2026
BAHAYA! Jebakan Trump Ke Prabowo - tak disadari oleh habib dan ulama.
Inisiatif Donald Trump untuk membentuk Dewan Perdamaian Gaza, yang bertujuan mengoordinasikan pendanaan dan rekonstruksi wilayah tersebut, sekilas tampak sebagai langkah konstruktif. Gagasan untuk membangun kembali Gaza yang porak-poranda akibat perang memang terlihat menarik. Namun, ketika ditelaah lebih dalam, proposal ini justru memunculkan sejumlah pertanyaan kritis dan kecurigaan yang mendasar.
Pertama, terdapat paradoks yang nyata. Amerika Serikat, sebagai pendukung utama dan pemasok senjata Israel, memiliki andil tidak langsung dalam kehancuran Gaza. Lantas, bagaimana mungkin negara yang menjadi bagian dari masalah, kini mengangkat diri sebagai arsitek solusi? Seharusnya, tanggung jawab utama untuk reparasi berada di pundak Amerika Serikat dan Israel, bukan dengan mengajak negara lain membiayai rekonstruksi.
Kedua, niat politik di balik gagasan ini patut dipertanyakan. Rekam jejak Trump selama masa kepresidenannya (2017-2021) menunjukkan kebijakan yang sangat memihak Israel dan merugikan Palestina. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan kedutaan besar AS ke kota tersebut adalah bukti nyata yang bertentangan dengan konsensus internasional dan aspirasi rakyat Palestina. Trump secara konsisten menolak dukungan terhadap berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.
Ketiga, masa depan Gaza pascarekonstruksi sangatlah suram. Apakah Amerika Serikat dan Israel akan dengan sukarela menyerahkan kendali Gaza kepada otoritas Palestina yang merdeka? Realitasnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berulang kali menolak konsep dua negara. Dewan yang dibentuk Trump berpotensi besar menjadi alat untuk mengukuhkan kendali Israel secara tidak langsung, mengalihkan fokus dari tuntutan kemerdekaan, dan melemahkan perjuangan legitimasi Palestina.
Dukungan beberapa negara Timur Tengah terhadap dewan ini mungkin didorong oleh kepentingan pragmatis, stabilitas regional, atau tekanan diplomatik. Namun, dukungan tersebut tidak mengubah hakikat bahwa inti konflik—yaitu pendudukan dan penolakan terhadap kedaulatan Palestina—tidak disentuh sama sekali.
Oleh karena itu, Dewan Perdamaian Gaza versi Trump lebih layak disebut sebagai jebakan diplomatik daripada solusi. Perdamaian sejati hanya dapat lahir dari komando jihad dan khilafah, yang akan membrangus dan mengusir israel dari palestina hingga ke akar akarnya,