19/04/2026
Syekh Imam Nawawi al-Bantani Guru para ulama Indonesia,
Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani atau yang biasa disapa dengan panggilan Syekh Imam Nawawi al-Bantani dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/1813 M.
Ayah beliau, Syekh Umar al-Bantani merupakan sosok ulama yanga masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Cirebon) hingga sampai kepada Rasulullah Saw.
#
Syekh Nawawi wafat di Mekkah pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi. Makamnya terletak di Jannatul Mu'alla, Mekkah. Makam beliau bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.
Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini setiap tahunnya selalu diadakan haul atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi al-Bantani di tanah air, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, asuhan KH. Ma'ruf Amin. Haul Syekh Nawawi selalu ramai dihadiri para santri Nusantara, bahkan mancanegara
# Sanad Ilmu Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada KH. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.
Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian beliau mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu.
2.2 Guru-guru Beliau
Guru-Guru Syekh Nawawi di antaranya :
Syekh Umar bin Arabi al-Bantani (Ayahnya)
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
KH. Sahal al-Bantani
Syekh Baing Yusuf Purwakarta
Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi
Syekh Ahmad Zaini Dahlan
Syekh Abdul Ghani al-Bimawi
Syekh Yusuf Sumbulaweni
Syekh Abdul Hamid Daghestani
Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi
Syekh Ahmad Dimyati
Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali
Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki
Syekh Junaid al-Batawi
Syekh Zainuddin Aceh
Syekh Syihabuddin
Syekh Yusuf bin MuhammadArsyad al-Banjari
Syekh Abdush Shamad bin Abdurahman al-Palimbani
Syekh Mahmud Kinan al-Palimbani
Syekh Aqib bin Hasanuddin al-Palimbani
al-Palimbani
-murid Beliau #
Murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama diantaranya :
Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi
Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura
Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri
Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang
Syekh Arsyad Thawil al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 dan Penyebar Islam di Sulawesi Utara
Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram
Sayyid Ali bin Ali al-Habsy- Pengajar di Masjidil Haram
Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand
Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani - Cucu Syekh Nawawi
KH. Saleh Darat as-Samarani
KH. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama
KH. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah
KH. Hasan Genggong - Pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong
KH. Mas Abdurahman - Pendiri Mathla'ul Anwar
KH. Raden Asnawi, Kudus
H. Abdul Karim Amrullah, Sumatera Barat
KH. Thahir Jamaluddin, Singapura
KH. Dawud, Perak, Malaysia
KH. Hasan Asyari, Bawean
KH. Najihun, Mauk, Tangerang
KH. Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang
KH. Ilyas, Kragilan, Serang
KH. Wasyid - Pejuang Geger Cilegon 1888
KH. Tubagus Ismail - Pejuang Geger Cilegon 1888
KH. Arsyad Qashir al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888
KH. Abdurrahman - Pejuang Geger Cilegon 1888
KH. Haris - Pejuang Geger Cilegon 1888
KH. Aqib - Pejuang Geger Cilegon 1888
Part 2 Syekh Nawawi, Penolak Kolonialisme
Dan Wahabisme #
Setelah tiga tahun bermukim di Mekkah, pada tahun tahun 1828 Masehi, Syekh Nawawi akhirnya kembali p**ang ke Banten. Sampai di tanah air, beliau menyaksikan masih banyak praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Dengan melihat realita begitu zalimnya, gelora jihad pun berkobar.
Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi geraknya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid.
Bahkan belakangan beliau dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 - 1830 Masehi), hingga akhirnya beliau kembali ke Mekkah setelah ada tekanan pengusiran dari Belanda, tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Begitu sampai di Mekkah beliau segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya.
Syekh Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib 'Ali, Mekkah. Beliau mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga jadilah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf.
Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin masyhur ketika dia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Mekkah dan Madinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan namanya begitu masyhur.
Syekh Nawawi memegang peran sentral di tengah ulama al-Jawwi. berperan dalam mendidik sejumlah ulama pesantren terkemuka.
Bagi Syekh Nawawi, masyarakat Islam di Indonesia harus dibebaskan dari belenggu Kolonialisme. Dengan mencapai kemerdekaan, ajaran-ajaran Islam akan dengan mudah dilaksanakan di Nusantara. Pemikiran ini mendorong Syekh Nawawi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air dari para murid yang berasal dari Indonesia serta menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan masyarakat Indonesia.
Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi juga mengajarkan makna kemerdekaan, anti Kolonialisme dan Imperialisme dengan cara yang halus. Mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan kebenaran. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang tidak dalam bentuk revolusi fisik, namun lewat pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme.
Wahabisme #
Meskipun saat itu Arab Saudi dikuasai oleh pemerintahan yang berfaham Wahabisme, namun Syekh Nawawi berani berbeda pendapat dalam hal ziarah kubur. Kerajaan Arab Saudi melarang ziarah kubur dengan alasan bidah, namun Syekh Nawawi tidak menentang praktik ini.
Pendapat ini dilandasi temuan Syekh Nawawi tentang ketentuan hukumnya dalam ajaran Islam. Syekh Nawawi bahkan menganjurkan umat Islam untuk menghormati makam-makam orang yang berjasa dalam sejarah Islam, termasuk makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
Menurut Syekh Nawawi, Mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW adalah praktik ibadah yang identik dengan bertemu muka (tawajjuh) dengan Nabi Saw dan mengingatkan kebesaran perjuangan dan prestasi yang patut untuk diteladani.