Kang Muji

Kang Muji blog pribadi
(1)

Masa depanku
28/03/2026

Masa depanku

28/03/2026

Pak Bahlil memang Bahlil kau

19/03/2026

Gambaran jika nuklir meledak

19/03/2026

Vidio ini adalah gambaran jika terjadinya perang nuklir

Malam itu, Hayati tak memejamkan mata sedikit pun. Ia duduk bersandar di dinding bambu, berselimut mukena. Di pangkuanny...
09/03/2026

Malam itu, Hayati tak memejamkan mata sedikit pun. Ia duduk bersandar di dinding bambu, berselimut mukena. Di pangkuannya, mushaf kecil terbuka. Entah sudah berapa kali ia mengulang surah Yasin, Al-Mulk, Al-Rohman, lalu kembali lagi ke Yasin. Bibirnya terus bergerak, kadang tercekat, kadang gemetar. Tapi tak pernah berhenti.

Di sampingnya, tubuh Maryati terbujur dalam kafan putih. Wajahnya masih tampak tenang, seolah tidur dalam damai yang tak bisa dijangkau dunia.

Di luar, malam mulai surut. Langit perlahan memudar dari hitam ke kelabu. Kabut tipis menggantung di sela-sela pohon randu. Suara ayam jantan terdengar satu-satu dari kejauhan, disusul kokok lain yang bersahutan.

Menjelang subuh, Nek Asih beranjak dari duduknya. Walaupun tubuhnya renta, tapi masih lincah. Ia menuju dapur, menyalakan tungku dengan sabut kelapa kering dan kayu bakar. Api menyala pelan, menghangatkan udara yang masih menggigil.

Nek Asih merebus air dalam panci besar, lalu menuangkannya ke dalam dua termos tua. Uap mengepul dari mulut teko, mengisi dapur dengan aroma logam dan kayu terbakar.

Setelah salat subuh, Nek Asih kembali ke dapur. Ia mengiris bawang, menumis bumbu, lalu mengaduk nasi di atas wajan besar. Aroma bawang goreng dan kecap manis perlahan mengusir dingin dari rumah kecil itu.

“Yati, Laila, makan dulu. Nenek bikin nasi goreng, lumayan buat ganjal perut."

Hayati hanya mengangguk. Ia duduk di dapur bersama Laila, menyantap nasi goreng buatan Nek Asih.

Saat hari mulai terang, Nek Asih membuka simpul kecil di ujung kain jarik yang ia kenakan. Dari sana, ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lusuh.

“Laila, tolong ke warung ya. Beli kue kering, kopi, teh, sama gula. Buat nanti, kalau ada yang bantu gali kuburan."

Laila mengangguk dan segera beranjak. Hayati menatap uang di tangan Nek Asih. “Nek, terima kasih. Terus terang, aku ngga punya uang buat biaya pemakaman ibu.”

"Jangan di pikirin. Pakai saja yang ada. Uang nenek uang mu juga. Waktu ibumu masih hidup, dia banyak bantu Nenek."

+++

Pagi menjalar pelan ke dalam rumah. Cahaya matahari menyusup lewat celah-celah bilik bambu, menggantikan lampu tempel yang mulai meredup. Tapi tak ada tanda-tanda orang datang.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat. Hayati mondar-mandir dari kamar ke ruang depan. Sesekali ia membuka pintu, menatap jalan tanah yang masih basah oleh sisa hujan semalam.

Hayati duduk kembali di samping jenazah ibunya. Menatap wajah yang telah tenang, tapi hatinya makin gelisah.

“Nek, kenapa belum ada yang datang juga?”

Nek Asih menatapnya dengan sabar. “Mungkin mereka masih bersiap.”

Saat jarum jam menunjuk pukul sembilan, suara langkah kaki terdengar dari luar. Disusul ketukan pelan di pintu.

Hayati segera berdiri dan membukanya. Lima orang pria berdiri di depan rumah. Salah satunya adalah Ustad Hanafi. Empat orang lainnya perlahan meletakkan keranda di teras rumah.

“Assalamu’alaikum, Yati. Maaf baru datang. Kami baru pulang dari melayat kerabat di kampung sebelah. Tadi malam ada yang meninggal juga di sana,” ucapnya pelan.

Hayati mengangguk, menunduk dalam. “Ibu sudah dimandikan, Pak Ustad. Sudah dishalatkan juga tadi malam. Oleh orang-orang dari kampung sebelah.”

Ustad Hanafi terdiam sejenak. Keningnya berkerut. “Kampung sebelah? Sejak sore kemarin jembatan ke sana putus, Nak. Tak ada yang bisa lewat. Bahkan kami harus memutar jauh untuk ke sana tadi malam.”

Hayati menatapnya, bingung. “Tapi mereka datang. Membawa perlengkapan. Mereka memandikan Ibu dan menyolatkan.”

Ustad Hanafi menatap Hayati lama, lalu menghela napas. Ia melangkah masuk, menatap jenazah Maryati yang telah dikafani rapi. Ia mengangguk pelan, lalu menoleh ke salah satu pria di belakangnya.

“Sudah siang. Tolong siapkan liang lahat di pemakaman desa. Kita kuburkan segera.”

Pria itu mengangguk dan segera beranjak. Yang lain ikut membantu mengangkat tubuh jenazah ke dalam keranda.

BERSAMBUNG

CERITA INI BACA DI KBMAPP

JUDUL: KEBENARAN SETELAH IBU MENINGGAL
PENULIS: CHIE ANNI LOA

08/03/2026

Lumayan dapat lauk ayam hutan

23/02/2026

bukti nyata video ini
zaman sekarang, di kapal cina Taiwan sudah tidak ada, diskriminasi atau pelayanan yang sangat buruk oleh atasan kepada bawahan.
tonton sampai selesai
buat temen yang punya cerita pengalaman yang buruk ketika di kapal, silahkan isi di kolom komentar 🙏🏽

17/02/2026

paus terdampar di Palembang Bagian 11

17/02/2026

paus terdampar di Palembang Bagian 10

17/02/2026

paus terdampar di Palembang Bagian 9

17/02/2026

paus terdampar di Palembang Bagian 8

17/02/2026

paus terdampar di Palembang Bagian 7

Address

Cilacap Regency

Telephone

+628234567890

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kang Muji posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kang Muji:

Share