19/09/2026
KOPI MISTERIUS DI MEJA*
Setelah kejadian payung itu, aku tidak bisa tidur. Aku kembalikan payungnya ke resepsionis dengan surat kecil "Terima kasih Tuan, semoga demamnya cepat sembuh - Aisyah".
Kupikir selesai sampai di situ.
Ternyata itu baru awal.
Tiap jam 8 pagi aku bersihkan lantai 30, ruang CEO.
Dan tiap pagi, selalu ada kopi hangat di meja cleaning service ku.
Kopinya kopi mahal dari cafe bawah, masih panas, dengan tulisan di tutupnya "Minum selagi hangat".
Awalnya aku kira dari Mbak Siti, teman cleaning service. Aku tanya, dia geleng kepala "Bukan aku, Yah.
Satpam yang antar, katanya titipan penghuni lantai 30".
Jantungku berdebar.
Gak mungkin...
Hari ketiga, aku sengaja datang lebih pagi jam 7.30, ngumpet di balik gudang sapu. Aku lihat sendiri.
Tuan Minho, dengan jas rapi, meletakkan kopi itu di mejaku sambil lihat kanan kiri seperti maling.
Setelah itu dia cepat-cepat masuk lift.
Kenapa? Kenapa CEO kaya raya peduli sama cleaning service berhijab sepertiku? Apa dia kasihan? Atau...
Siangnya, teman-temanku mulai bisik-bisik. "Aisyah deketin CEO ya? Pansos!" "Hati-hati, dia itu dingin, gak mungkin s**a sama kita yang miskin".
Aku nangis di toilet. Aku cuma gadis desa, gak pantas. Tapi tiap teguk kopi itu, hatiku hangat.
Sampai sore itu, aku dipanggil ke lantai 30. Bukan lewat resepsionis, tapi dia sendiri yang turun dan bilang "Ikut saya sebentar, ada yang tumpah di ruang saya".
Di ruangannya yang mewah, ternyata tidak ada yang tumpah.
Dia hanya duduk dan bilang "Kopi hari ini enak?"
Aku hampir pingsan di situ.
> Bersambung...