Kajian Tafsir Jalalain

Kajian Tafsir Jalalain Belajar Tidak Melihat Umur. Kata Nabi Dari Gendongan Sampai Keliang Lahad. Mumpung Ada Waktu Mari Kita Belajar Ilmu Agama Bersama.

jika ingin sharing2 bisa wapri ke no di bawah

MEREKA TIDAK SADAR BAHWA MEREKA MENIPU DIRI SENDIRIيُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ...
03/10/2026

MEREKA TIDAK SADAR BAHWA MEREKA MENIPU DIRI SENDIRI

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

"Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari."
Tafsir Ibnu Katsir

Ayat 9 Firman Allah ﷻ mengatakan, "Yukhadi’unallaha walladzina amanu" mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman karena mereka hanya menampakkan keimanannya pada lahiriahnya saja, sedangkan batin mereka memendam kekufuran. Karena kebodohan mereka sendiri, mereka menduga bahwa mereka menipu Allah ﷻ dengan sikap tersebut, dan hal tersebut menghasilkan manfaat di sisi-Nya, dapat mengelabui Allah ﷻ sebagaimana mereka dapat mengecoh sebagian kalangan kaum mukmin, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya: “(Ingatlah) hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (Al-Mujadilah: 18). Karena itulah Allah membantah apa yang mereka yakini itu melalui firman-Nya: “Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari” (Al-Baqarah: 9). Dengan kata lain, melalui perbuatannya itu mereka tidak mengelabui; tidak p**a menipu, melainkan hanya diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari hal itu, sebagaimana disebutkan dalam firman lain: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, namun Allah akan membalas tipuan mereka” (An-Nisa: 142). Di antara ahli qiraat ada yang membaca wama yakhda'una illa an-fusahum menjadi wama yukhadi'una illa anfusahum yang artinya "tiada lain penipuan yang mereka lakukan itu melainkan terhadap diri mereka sendiri." Akan tetapi, kedua qiraat tersebut mempunyai makna yang sama. Ibnu Jarir mengatakan, jika ada seseorang mengatakan mengapa orang yang munafik kepada Allah dan kepada kaum mukmin dapat dikatakan sebagai seorang penipu, sedangkan orang yang munafik itu tidak sekali-kali mengatakan apa yang bertentangan dengan batinnya hanyalah karena taqiyyah semata? Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang Arab menamakan ucapan yang bertentangan dengan hati sebagai sikap taqiyyah untuk menyelamatkan diri dari hal yang ditakutkan dengan nama mukhadi'. Demikian p**a halnya dengan orang munafik, dia dinamakan mukhadi' (orang yang menipu) Allah dan orang-orang mukmin dengan mengucapkan kata-kata yang dapat menyelamatkan dirinya dari pembunuhan, penahanan, dan siksa yang segera, padahal di balik penampilan luarnya itu dia memendam kebencian. Itu adalah salah satu dari sikap orang munafik; sekalipun dia menipu orang-orang mukmin dalam kehidupan di dunia ini, tetapi dia dengan perbuatannya itu sama saja menipu dirinya sendiri. Dikatakan demikian karena perbuatan yang ditampakkannya itu menurutnya dapat memberikan apa yang dicita-citakannya dan kebahagiaan, padahal kenyataannya justru merupakan sumber kejatuhannya dan berakibat siksa di hari kemudian serta murka Allah dan azab-Nya yang amat pedih tiada bandingannya. Tipuan yang ia lancarkan tersebut diduganya sebagai perbuatan yang baik buat dirinya, padahal sesungguhnya dia berbuat jahat terhadap dirinya sendiri bagi kehidupannya di akhirat nanti, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya, "Tiadalah yang mereka tipu melainkan diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya." Ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa orang-orang munafik telah mencelakakan dirinya sendiri karena perbuatan mereka membuat Tuhan murka, yaitu kekufuran, keraguan, dan kedustaan yang mereka lakukan tanpa mereka rasakan dan tanpa mereka ketahui hingga membuat mereka buta dan menetapi perbuatannya itu. Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mubarak dalam suratnya yang ditujukan kepadaku, bahwa telah menceritakan kepadanya Zaid ibnul Mubarak, telah menceritakan kepadanya Muhammad ibnu Tsaur, dari Ibnu Juraij, sehubungan dengan firman-Nya: “Mereka hendak menipu Allah” (Al-Baqarah: 9). Makna yang dimaksud ialah bahwa mereka menampakkan kalimat tauhid dengan tujuan agar darah dan harta benda selamat, padahal di dalam hati mereka terdapat hal yang bertentangan dengan kalimat tauhid itu. Sa'id mengatakan dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya: “Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya” (Al-Baqarah: 8-9). Bahwa ciri khas orang munafik pada umumnya ialah berakhlak rendah, percaya dengan lisan tetapi ingkar dengan hati, dan berbeda dengan perbuatan serta sepak terjangnya; di pagi hari berada dalam satu keadaan, sedangkan di petang harinya dalam keadaan lain; begitu p**a sebaliknya, di petang hari dalam satu sikap, sedangkan di pagi harinya bersikap lain; ia terombang-ambing bagaikan perahu yang ditiup angin kencang dan hanya bersikap mengikuti arah angin.

03/10/2026

LANJUTAN TAFSIR KEMARIN

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

"Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari."

MUNAFIQ DAN AWAL MULA MUNCUL SIFAT MUNAFIQ(Q.S AL-BAQARAH AYAT 8)وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡ...
02/10/2026

MUNAFIQ DAN AWAL MULA MUNCUL SIFAT MUNAFIQ

(Q.S AL-BAQARAH AYAT 8)
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (Q.S Al Baqarah Ayat 8)

Tafsir Ringkas Al-Azhar

“Dan sebagian dari manusia ada yang berkata, Kami percaya kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal tidaklah mereka itu orang-orang yang beriman."
(ayat 8)

Sudah dibicarakan pada ayat yang lalu tentang orang yang kafir. Orang yang dengan tegas telah menyatakan bahwa dia tidak percaya. Betapa pun mereka diajak, diberi peringatan ancaman adzab kehancuran di dunia dan siksa neraka di akhirat, mereka tidak akan mau karena hati mereka sudah dicap. Dengan hanya dua ayat saja, hal itu sudah selesai. Namun, mulai ayat 8 ini sampai ayat 20 akan dibicarakan yang lebih sulit daripada kufur, yaitu orang yang berlain apa yang diucapkannya dengan mulutnya dengan pendirian hatinya yang sebenarnya. Sifat ini bernama nifak dan pelakunya bernama munafik. Mereka berkata dengan mulut bahwa mereka percaya; mereka percaya kepada Allah, percaya akan Hari Kemudian, tetapi yang sebenarnya adalah mereka itu orang-orang yang tidak percaya.
Inilah macam manusia yang ketiga; yang pertama tadi percaya hatinya, percaya mulutnya, dan percaya perbuatannya, tegasnya dibuktikan kepercayaan hatinya itu oleh perbuatannya. Itulah orang Mukmin.
Yang kedua, tidak mau percaya; hatinya tidak percaya, mulutnya menentang, dan perbuatannya melawan. Itulah orang yang disebut kafir.
Namun, yang ketiga ini menjadi golongan yang pecah di antara hati dan mulutnya.
Mulutnya mengakui percaya, tetapi hatinya tidak, dan pada perbuatannya lebih terbukti lagi bahwa pengakuan mulutnya tidak sesuai dengan apa yang tersimpan di hati.
Kalimat munafik atau nifak itu asal artinya ialah lubang tempat bersembunyi di bawah tanah. Lubang perlindungan dari bahaya udara disebut nafaq. Dari sinilah diambil arti dari orang yang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, sebagai suatu pengicuhan atau penipuan,

AWAL MULA SIFAT NIFAQ

Nifaq atau kemunafikan ialah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. Sifat munafik itu bermacam-macam, ada yang berkaitan dengan akidah; jenis ini menyebabkan pelakunya kelak di dalam neraka.

Ada yang berkaitan dengan perbuatan, jenis ini merupakan salah satu dari dosa besar, rinciannya akan disebutkan pada bagian tersendiri, insya Allah. Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya, keadaan batinnya bertentangan dengan sikap lahiriahnya, bagian dalamnya bertentangan dengan bagian luarnya, dan penampilannya bertentangan dengan kepribadiannya. Sesungguhnya sifat orang munafik diterangkan di dalam surat-surat Madaniyah, karena di Mekah tidak ada sifat munafik, bahkan kebalikannya.

Di antara orang-orang dalam periode Mekah ada yang menampakkan kekafiran karena terpaksa, padahal batinnya adalah orang mukmin tulen. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, di sana telah ada kaum Anshar yang terdiri atas kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj. Dahulu di masa Jahiliah, mereka termasuk penyembah berhala sebagaimana kebiasaan kaum musyrik Arab. Di Madinah terdapat orang-orang Yahudi dari kalangan ahli kitab yang memeluk agama menurut nenek moyang mereka. Orang-orang Yahudi Madinah terdiri atas tiga kabilah, yaitu Bani Qainuqa' (teman sepakta kabilah Khazraj), Bani Nadhir, dan Bani Quraizah (teman sepakta kabilah Aus).

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah orang-orang Anshar dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj telah masuk Islam, tetapi sedikit sekali dari kalangan orang-orang Yahudi yang masuk Islam, bahkan hanya satu orang, yaitu Abdullah ibnu Salam. Pada saat itu (periode pertama Madinah) masih belum terdapat nifaq, mengingat kaum muslim masih belum mempunyai kekuatan yang berpengaruh, bahkan Nabi ﷺ hidup rukun bersama orang-orang Yahudi dan kabilah-kabilah Arab yang berada di sekitar kota Madinah, hingga terjadi Perang Badar Besar, dan-Allah memenangkan kalimat-Nya dan memberikan kejayaan kepada Islam serta para pemeluknya. Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul adalah seorang pemimpin di Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Dia adalah pemimpin kedua kabilah di masa Jahiliah, mereka bertekad akan menjadikannya sebagai raja mereka.

Kemudian datanglah kebaikan (agama Islam) kepada mereka, dan mereka semua masuk Islam, menyibukkan dirinya dengan urusan Islam, sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul tetap pada pendiriannya seraya memperhatikan perkembangan Islam dan para pemeluknya. Akan tetapi, ketika terjadi Perang Badar (dan kaum muslim beroleh kemenangan), dia berkata, "Ini merupakan suatu perkara yang benar-benar telah mengarah (kepada kekuasaan)." Akhirnya dia menampakkan lahiriahnya masuk Islam, dan sikapnya ini diikuti oleh orang-orang yang mendukungnya, juga oleh orang lain dari kalangan ahli kitab.

Sejak itulah muncul nifaq (kemunafikan) di kalangan sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berada di sekitar kota Madinah. Adapun kaum Muhajirin, tidak ada seorang munafik pun di kalangan mereka karena tiada seorang pun yang berhijrah karena dipaksa, bahkan setiap Muhajirin berhijrah meninggalkan harta benda dan anak-anaknya karena mengharapkan pahala di sisi Allah kelak di hari kemudian. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian" padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8) Yang dimaksud adalah orang-orang munafik dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka.

ORANG YANG TIDAK MAU MENERIMA KEBENARAN SAMA DENGAN MEREKA إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ...
30/09/2026

ORANG YANG TIDAK MAU MENERIMA KEBENARAN SAMA DENGAN MEREKA
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman."

Tafsir Ringkas Al-Azhar

Tafsir Surat Al-Baqarah: 6-7 KUFUR ‘“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mau percaya (kafir), sama saja atas mereka, apakah engkau beri peringatan kepada mereka, ataupun tidak engkau beri peringatan, tetapi mereka tidaklah akan percaya." (ayat 6) Di sini, kita melihat arti yang dalam sekali dari kalimat kufur itu. Yakni, bahwa di dalam hati sanubari itu ada kesediaan buat menerima kebenaran atau lebih tegas lagi di dalam hati tiap-tiap manusia itu ada tampang buat mengakui kebenaran. Akan tetapi, oleh si kafir tampang yang bisa tumbuh dengan baik itu ditimbunnya, dikemukakan berbagai alasan kebenaran dengan berbagai cara. Namun bagi mereka sama saja; tidak ada yang mereka terima. Mereka telah mengkafiri suara hati mereka sendiri. Apa sebab orang menjadi kafir? Orang menjadi kafir kadang-kadang ialah karena juhud, yaitu meskipun seruan yang disampaikan kepada mereka itu tidak dapat mereka tolak kebenarannya, tetapi karena mengganggu kedudukan dan perasaan tinggi diri mereka, kebenaran itu mereka tolak. Banyak pemuka Quraisy di Mekah tidak mau menerima peringatan Nabi Muhammad ﷺ melarang mereka menyembah berhala atau memakan riba, karena keduanya itu amat bertali dengan kedudukan mereka. Pemuka-pemuka Yahudi di Madinah pun menolak kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ bukan karena yang beliau serukan itu tidak benar, melainkan karena hasad atau dengki dan iri hati. Mengapa seorang Arab mengakui diri menjadi rasul Allah, padahal nabi dan rasul itu hendaklah dari Bani Israil? Raja Heraclius di Syam pernah menerima surat dari Rasulullah ﷺ yang mengajaknya memeluk Islam. Karena pandainya utusan yang membawa surat, hatinya menerima, bahkan tidak ada sikapnya yang menentang. Namun, setelah dikajinya lebih mendalam kalau sekiranya dia masuk Islam, artinya kedudukannya sebagai raja akan terancam, karena dibantah keras oleh pendeta dan orang-orang besar kerajaan, dia pun akhirnya menyatakan tidak akan menukar agamanya, hanya berkirim ucapan selamat saja kepada Rasulullah ﷺ Akan tetapi, Kisra Abruiz (Raja Besar) Persia, demi dibacanya surat yang dikirimkan Nabi kepadanya, dengan murka dan kesombongan dia merobek surat itu di hadapan utusan, padahal tingkah laku yang demikian sangat melanggar sopan santun kerajaan. Sebab, dia memandang sangat tidak pantas orang Arab yang hina itu berkirim surat kepadanya sebagai orang yang sama kedudukan, padahal dia raja besar. Itulah beberapa contoh sikap kekafiran yang telah disambutkan orang kepada Rasulullah ﷺ Maka, orang-orang yang seperti demikian sama sajalah bagi mereka, apakah Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan peringatan kepada mereka ataupun tidak memberikan peringatan, tetapi mereka tidak hendak percaya. “Telah dicap (di meterai) oleh Allah atas hati Mereka dan atas pendengaran Mereka, dan atas penglihatan Mereka ada penutup." (pangkal ayat 7) Lantaran sikap mereka yang demikian, kesombongan, juhud (menentang), inad (keras kepala) maka hati dan pendengaran mereka telah dicap (dimaterai) oleh Tuhan atau telah disegel. Artinya, kekafiran itu telah menjadi sikap hidup mereka. Tidak bisa diubah lagi. Lantaran bekas cap itu, sudah ada tanda di dalamnya yang tidak dapat dihilangkan lagi. Ibarat kertas yang sudah dicetak padanya huruf maka buat dimasukkan lagi cap yang lain di dalamnya, tidaklah berfaedah lagi. Yang dapat diberi cap atau cetakan hanyalah kertas yang masih kosong. Atau, pengertian segel atau materai, tidak dapat dibuka lagi oleh siapa juga, laksana sebuah rumah yang telah disegel oleh jaksa karena kalah dalam perkara, tidak bisa dibuka lagi. Dan, pada penglihatan mereka sudah ada penutup. Sebab itu, apa pun yang diperlihatkan kepada mereka, tidaklah akan tampak oleh mereka lagi. Pernah juga dikatakan orang bahwa mata itu telah memakai kacamata yang mempunyai warna khusus, misalnya warna hitam. Maka, meskipun barang putih dibawa kepadanya, dia akan melihatnya hitam juga. “Dan bagi Mereka adalah adzab yang besar." (ujung ayat 7)

RESEP AGAR MENJADI ORANG YANG MUFLIH (BERUNTUNG)أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمۡ ۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡل...
29/09/2026

RESEP AGAR MENJADI ORANG YANG MUFLIH (BERUNTUNG)

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمۡ ۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

"Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Tafsir Ibnu Kastir
Allah ﷻ berfirman bahwa yang dimaksud dengan mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai ciri-ciri khas terdahulu, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, memberi nafkah dari rezeki yang diberikan Allah kepada mereka, beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ dan kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelumnya, dan yakin kepada kehidupan akhirat, yang hal ini menuntut persiapan sebagai bekal guna menghadapinya, yaitu mengerjakan amal-amal saleh dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. 'Ala hudan, tetap beroleh cahaya penjelasan dan petunjuk dari Allah ﷻ. “Wa ulaika humul muflihun,” dan merekalah orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.

Tafsir Ringkasan Al-Azhar
Berjalan menempuh hidup, di atas jalan Shirathal Mustaqim, dibimbing selalu oleh Allah, karena dia sendiri memohonkan-Nya p**a, bertemu taufik dengan hidayah, sesuai kehendak diri dengan ridha Allah. Maka, beroleh kejayaan yang sejati, menempuh suatu jalan yang selalu terang-benderang, sebab pelitanya terpasang dalam hati sendiri; pelita iman yang tidak pernah padam.

KUNCI PENYEMPURNA IMAN.وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡءَاخِرَةِ هُمۡ...
28/09/2026

KUNCI PENYEMPURNA IMAN.

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡءَاخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ

"dan mereka beriman kepada (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat."

Inilah kunci penyempurna iman, yaitu keyakinan bahwa hidup tidaklah selesai hingga hari ini, tetapi masih ada sambungannya. Sebab itu, hidup seorang Mukmin terus dipenuhi oleh harapan bukan oleh kemuraman; terus optimis, tidak ada pesimis. Seorang Mukmin yakin ada hari esok!
“Mereka itulah yang berada atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beroleh kejayaan."
Buatkan saya poster untuk materi ini dari muka saya.


TANDA PERTAMA KETAQWAANٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ"(Yai...
27/09/2026

TANDA PERTAMA KETAQWAAN

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

"(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"

Tafsir Ringkasa Al-Azhar

Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama. Percaya pada yang gaib. Yang gaib ialah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindra; tidak tampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, yaitu dua indra yang utama dari kelima (panca) indra kita. Namun, ia dapat dirasa adanya. Maka, yang pertama sekali ialah percaya kepada Allah, Zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percaya akan adanya Hari Kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut.

Iman yang berarti percaya, yaitu hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Maka, iman akan yang gaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa tadi.

Itulah tingkat ketiga atau syarat ketiga dari pengakuan iman. Di tingkat pertama, percaya pada yang gaib, sedangkan kepercayaan pada yang gaib dibuktikan dengan shalat sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya.
Maka, dengan kes**aan memberi, berderma, bersedekah, membantu, dan menolong, imannya telah dibuktikannya p**a kepada masyarakat.

Orang Mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Orang Muk-min tidak mungkin menjadi budak dari benda sehingga dia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya manusia. Orang yang Mukmin apabila dia ada kemampuan karena imannya, sangAllah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Allah untuk membantu hamba Allah yang lemah.

PEDOMAN DAN PERUMPAMAAN ORANG BERTAQWATafsir Q.S Al-Baqarah ayat 2ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلۡمُت...
26/09/2026

PEDOMAN DAN PERUMPAMAAN ORANG BERTAQWA
Tafsir Q.S Al-Baqarah ayat 2

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلۡمُتَّقِينَ

"Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"

Tafsir
Ringkasan Al-Azhar

“Inilah Kitab itu; tidak ada … keraguan padanya; satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa."
(ayat 2)
Kita baru saja selesai membaca surah al-Faatihah. Di sana, kita telah memohon kepada Allah agar ditunjuki jalan yang lurus, jalan orang yang diberi nikmat, jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. Baru saja menarik napas selesai membaca surah itu, kita langsung ke surah al-Baqarah dan langsung ke ayat ini. Permohonan kita di surah al-Faatihah sekarang dikabulkan. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus, yang diberi nikmat, bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat, asal saja kamu s**a memakai pedoman kitab ini. Tidak syak lagi, ia adalah petunjuk bagi orang yang s**a bertakwa.
Apa arti takwa? Kalimat takwa diambil dari rumpun kata wiqayah artinya memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah. Memelihara diri jangan sampai terperosok pada suatu perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki agar jangan terperosok ke tempat yang lumpur atau berduri. Sebab, pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah, Abu Hurairah (ridha Allah untuk beliau), apa arti takwa? Beliau berkata, “Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu?" Orang itu menjawab, “Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi, atau aku mundur Abu Hurairah menjawab, “Itulah ia takwa!" (HR Ibnu Abid Dunya)
Lalu, diterangkan sifat atau tanda-tanda dari orang yang bertakwa itu, yang kita dapat menilik diri kita sendiri supaya memenuhinya dengan sifat-sifat itu:




Jika Tidak Tau Permasalahannya Alangkah Baiknya Diam Agar Tidak Timbul FitnahTafsir Q.S Al-Baqarah Ayat 1الۤمّۤۚAsy-Sya'...
25/09/2026

Jika Tidak Tau Permasalahannya Alangkah Baiknya Diam Agar Tidak Timbul Fitnah

Tafsir Q.S Al-Baqarah Ayat 1
الۤمّۤۚ
Asy-Sya'bi dan segolongan ulama mengatakan bahwa alif lam mim dan huruf-huruf hijaiyah lainnya yang mengawali surah-surah Al-Qur'an termasuk ayat Mutasyabihah yang hanya Allah yang mengetahui maknanya. Hal tersebut merupakan rahasia Al-Qur'an dan kita hanya beriman secara bulat bahwa hal tersebut termasuk kalamullah, sedangkan pengetahuan mengenainya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Faidah penyebutannya menuntut kita untuk beriman kepad -Nya.

Catatan
Allah mengkhususkan suatu Ilmu bagi diri-Nya yang tidak mampu dicerna oleh akal para Nabi, Para nabi pun mempunyai suatu ilmu yang khusus bagi mereka yang tidak mampu dicerna oleh para akal para ulama. Begitu juga para ulama memiliki suatu ilmu yang khusus bagi mereka yang tidak mampu dicerna oleh akal orang orang awam.
Allah

20/01/2026

Kitab mabadi fiqih Juz 2. Sunnah Ab'ad dan Sunnah Hay at.



Address

Karangpucung/Majenang Km 2 No 8
Cilacap Regency

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kajian Tafsir Jalalain posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kajian Tafsir Jalalain:

Shortcuts

Share