Trans Bogor

Trans Bogor Beritanya Bisa Dipercaya

28/07/2019

aduh ada apa nih sama Wa Haji Umuh? sampe mau keluar dari Persib Bandung?

#persib
#liga1
#pssi

26/07/2019

Penampilan @osasmarvellous di @officialpersikabo makin moncer nih. Dari 11 laga @osasmarvellous sudah mengoleksik lima gol. Nah kira-kira Osas layak dipanggil
@simonmcmenemy ke Timnas Indonesia gak nih??? Nih pernyataan coach RD akan penampilan Osas.

#osassaha
#tirapersikabo
#liga1
#timnasindonesia
#pssi

24/07/2019

pelatih timnas Indonesia @indrasjafri selepas memimpin latihan timnas indonesia. kalau mau tau apa yg diomongin, monggondi play hehehe

#timnasindonesiaU-23
#indrasjafri
#garudamuda
#stadionmadya
#seagames

15/12/2013

Info Update : EDISI 188 TAHUN II, 12 - 15 DESEMBER 2013
Bima Arya Peduli Anak Berkebutuhan Khusus
Bogor, Trans Bogor

Bima Arya, berjanji akan membangun Kota Bogor sebagai kota yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus (difabel).
"Anak-anak berkebutuhan khusus, difabel perlu mendapat ruang. Tidak hanya empati tapi juga mendorong bagaimana mereka dapat berprestasi," ujar Bima Arya.
Bima mengatakan Kota Bogor memiliki potensi yang cukup dalam menyediakan prasarana maupun infrastruktur bagi para penyandang cacat maupun berkebutuhan khusus.
Terlebih imbuhnya, tidak semua orang paham apa itu kebutuhan khusus atau special needs. Termasuk dirinya yang pernah diprotes oleh komunitas autis tentang statement yang menyebutkan situasi politik Indonesia saat ini mengidap autisme sosial.
"Sangat penting memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kebutuhan khusus. Banyak yang belum paham dan belum ramah dengan anak-anak ini," ujar politisi Partai Amanat Nasional ini.
Ia menambahkan perlu ada dorongan dan motivasi bagi anak ataupun keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Dorongan dan motivasi tidak hanya perhatian fisik saja, tapi juga menempatkan mereka dalam sistem pendidikan yang selayaknya. Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk anak-anak berkebutuhan khusus tidak cukup, tapi diperlukan sekolah inklusif.
"Kita harus memberikan ruang dan tempat yang khusus untuk anak-anak spesial ini, agar kemampuan mereka dapat dikembangkan hingga menjadikan mereka anak-anak yang berprestasi," ujar Bima.

15/12/2013

Info Update : EDISI 188 TAHUN II, 12 - 15 DESEMBER 2013
Sekolah Gagal Mendidik Siswa
Laporan Utama

Kenapa tawuran masih terjadi. Pertanyaan ini sama panjangnya dengan daftar meninggalnya siswa akibat perkelahian massal di beberapa tempat. Hampir setiap hari, lembaran surat kabar dan layar televisi memberitakan hiruk pikuk perang antar pelajar.
Terakhir, Rabu (11/12) kemarin, Abdul siswa kelas XII SMK Sadam Bojonggede akhirnya tewas dengan kondisi mengenaskan setelah sebelumnya menjalani perawatan di ruang ICU, RS Sentosa. Dia menjadi korban tawuran antar pelajar.
Kapolresta Depok, Komisaris Besar Achmad Kartiko, menjelaskan kejadian berawal ketika korban bersama tiga orang rekannya pulang sekolah, Selasa 10 Desember 2013, sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, tanpa alasan yang jelas, korban dihadang sejumlah pelajar dari sekolah berbeda di kawasan Bojonggede. Alhasil, korban pun ambruk lantaran mengalami luka bacok serius dibagian pinggang kanan.

Panik, para pelaku meninggalkan korban yang sedang terkapar di jalanan. Warga yang melihat kejadian itu kemudian melarikan korban ke rumah sakit. Tapi sayang, nyawanya tak tertolong. Jasadnya kini sudah dibawa ke rumah duka di kawasan Rawageni, Tajur Halang, Bogor. Saat ini, petugas tengah mengejar para pelaku dan penyidik memeriksa sejumlah saksi yang berada di lokasi kejadian.

Tawuran memang tak datang begitu saja. Pengamat pendidikan sekaligus Rektor Universitas Pakuan Bibin Rubini menilai dinas pendidikan serta sekolah telah gagal mendidik siswanya sehingga kasus tawuran terus terjadi. Kondisi ini diperparah dengan sanksi yang dikeluarkan Disdik maupun sekolah yang mengeluarkan siswa yang terlibat tawuran. Masalah tawuran, kata Bibin, tidak bisa hanya menyalahkan siswa. Sebab, apa yang dilakukan siswa merupakan cerminan pendidik saat ini.

"Sekolah itu tugasnya mendidik. Kalau kemudian ada anak yang menyimpang terus dikeluarkan, dibuang ke tengah masyarakat, di mana fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan?" ujar Bibin.
Seharusnya, sebagai institusi pendidikan, sekolah harus mengambil anak tersebut dan meluruskannya hingga tidak lagi menyimpang. Menjadi tugas sekolah untuk meluruskan dan memperbaiki siswa/peserta didiknya yang menyimpang.

Dengan membuang siswa ke tengah masyarakat bisa diartikan juga disdik dan sekolah telah melempar masalah baru di tengah masyarakat. Bahkan, bisa jadi siswa yang dikeluarkan ini nantinya yang menjadi provokator bagi juniornya untuk meneruskan tradisi tawuran.

"Jangan hanya salahkan siswa. Tapi juga koreksi sekolah dan disdik. Selama ini seminar sampai rapat sudah berkali-kali digelar soal tawuran. Apa hasilnya. Apakah benar mereka serius ingin mengatasinya. Atau hanya memikirkan solusi jangka pendek?," tambah Bibin.

Bibin menilai perlu ketegasan dari disdik untuk sekolah yang terlibat tawuran. Misalnya dengan menurunkan akreditasinya atau mengevaluasi kepala sekolah/guru-gurunya. Lebih lanjut Bibin mengatakan perlu juga pembatasan jumlah siswa yang masuk ke sekolah yang memang sering tawuran. Dengan demikian, sekolah bisa lebih leluasa mengawasi dan mendidik siswanya.

"Sekolah jangan hanya berorientasi pada pemasukan dan uang. Saya menilai sekolah-sekolah semakin berorientasi pada uang sehingga mengambil siswa sebanyak-banyaknya," tutur Bibin.

15/12/2013

Info Update : EDISI 188 TAHUN II, 12 - 15 DESEMBER 2013
Umi Kartika Sang Penemu Prebiotik dari Biji Nangka
Bogor, Trans Bogor

Kanker kolon merupakan penyakit mematikan. Bahkan, kini menjadi penyebab kematian kedua di dunia. Namun seorang mahasiswi Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Umi Kartika Safitri dalam penelitiannya di bawah bimbingan Prof. Dr. Winiati Puji Rahayu, mampu menemukan prebiotik dari biji nangka untuk menurunkan risiko penyakit kanker kolon.

“Salah satu penyebab kanker kolon adalah gaya hidup, yaitu pola makan, berat badan dan aktifitas fisik. Risikonya bisa diturunkan dengan cara meningkatkan konsumsi serat makanan, termasuk prebiotik dan probiotik. Susu fermentasi, salah satu produk prebiotik dan probiotik (sinbiotik) yang dikenal masyarakat,” kata Umi, Selasa (10/12)

Namun, di luar itu ternyata biji nangka berdasarkan penelitian Umi juga termasuk bahan pangan yang mengandung prebiotik. Sementara, pemanfaatannya masih belum banyak di tengah masyarakat karena masih dianggap limbah. Potensi biji nangka sebagai prebiotik karena mengandung polisakarida dan oligosakarida yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan. Biji nangka berdasarkan penelitiannya juga mampu menstimulir pertumbuhan bakteri Lactobacillus.

Melihat kandungan biji nangka ini, Umi menambahkannya dalam minuman susu fermentasi sinbiotik. Susu fermentasi ini menggunakan dua jenis bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus Plantarum dan Lactobacillus Brevis. Biji nangka dapat diolah menjadi tambahan susu fermentasi sinbiotik untuk meningkatkan daya guna, daya simpan, dan nilai ekonomisnya.

Susu hasil fermentasi kaya bakteri asam laktat memiliki efek positif bagi kesehatan karena dapat menghambat beberapa spesies bakteri patogen seperti Salmonella, Listeria dan Clostridium. Selain itu, susu fermentasi mengandung bakteri asam laktat mampu meningkatkan kerja enzim galaktosidase yang mempermudah pencernaan laktosa usus, meningkatkan kualitas gizi, menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah kanker dan mengatasi diare.

"Sebelum dibuat tepung, biji nangka dicuci untuk menghilangkan kotoran. Biji nangka lalu direbus dalam suhu 90 derajat celsius selama sepuluh menit menggunakan steam jacket untuk menghilangkan lendir dan mempermudah pelepasan kulitnya," katanya. Setelah itu, biji nangka dipisahkan dari kulit yang masih menempel menggunakan abrassive peeler, kemudian diiris menggunakan slicer menjadi bagian-bagian kecil untuk memudahkan proses pengeringan.

Proses pengeringan dilakukan pada suhu 60 derajat celsius selama empat jam. Pengeringan ini untuk mengurangi kadar air dalam biji nangka sehingga mempermudah penggilingan. Selanjutnya, dilakukan penggilingan dengan disc mill dengan ukuran 60 mesh. Kemudian diayak dengan ukuran 100 mesh agar tekstur produk akhir tidak berpasir. Rendemen yang diperoleh dari proses tersebut adalah 9,66 persen.

Tahap selanjutnya adalah pembuatan minuman sinbiotik yang diawali dengan penyiapan kultur starter. Bakteri yang digunakan adalah L. plantarum yang bersifat homofermentatif dan L. brevis yang bersifat heterofermentatif.

Pembuatan minuman sinbiotik dilakukan dengan membuat delapan formula. Hasil analisis menunjukkan, terdapat perbedaan signifikan antara kontrol (formula yang tidak ditambah tepung biji nangka) dengan formula yang ditambah tepung biji nangka. Hal tersebut menunjukkan, penambahan tepung biji nangka pada pembuatan minuman sinbiotik meningkatkan jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL) pada produk akhir baik pada jenis bakteri Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus brevis.

Penambahan tepung biji nangka pada penelitian ini terbukti dapat meningkatkan total BAL sebanyak satu log sehingga tepung biji nangka dapat disebut sebagai prebiotik. Peningkatan total BAL tersebut diduga karena adanya tambahan nutrisi seperti protein, lemak, dan serat pangan yang terkandung pada tepung biji nangka.

Serat pangan total yang terkandung pada tepung biji nangka sebesar 24.87 persen. Selama fermentasi, bakteri asam laktat memanfaatkan nutrisi untuk pertumbuhan dan biosintesis sel. Aktifitas utama bakteri asam laktat adalah mendegradasi karbohidrat untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk sintesis biomassa.

Dikatakan Umi, peneliti terdahulu menjelaskan jenis produk prebiotik dan probiotik pada penelitian hewan percobaan menunjukkan adanya efek antikarsinogenik kanker kolon sehingga dapat menurunkan risiko kanker kolon. Selain itu, penelitian pada hewan percobaan juga menunjukkan, bakteri probiotik Lactobacillus dan Bifidobacterium dapat menurunkan jumlah crypt foci abnormal, suatu marker untuk risiko berkembangnya kanker kolon.

15/12/2013

Info Update : EDISI 188 TAHUN II, 12 - 15 DESEMBER 2013
Kejari Cibinong Sosialisasi Bahaya Korupsi
Bogor, Trans Bogor

Kejaksaan Negeri (Kejari) Cibinong, Bogor, melakukan sosialisasi anti korupsi dengan membagikan stiker kepada seluruh aparat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan masyarakat Kabupaten Bogor, Senin (9/12). Kepala Kejari Cibinong, Mia Amiati mengatakan, masyarakat dan juga aparat pemerintahan perlu mendapatkan sosialisasi tentang bahaya korupsi. Apalagi, ada sebagian pihak yang terkadang sering tidak merasa jika telah melakukan korupsi.
Menurut Mia, pihaknya pun telah mencetak beberapa jenis stiker yang akan di pasang di beberapa rambu-rambu agar masyarakat dapat mewaspadai dan mengenal tentang bahaya korupsi dan hukuman kepada pelaku tindak pidana korupsi. Mia mengklaim, jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat, Kejari Cibinong cukup baik dalam kinerjanya memburu pelaku tindak pidana korupsi terutama di wilayah Kabupaten Bogor.

"Saya minta kepada semuanya agar turut serta membantu kami untuk membasmi virus yang akan merusak generasi mendatang, yaitu korupsi. Tanpa dukungan semuanya kita bukan apa-apa," ujar Mia. Dia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak ragu melaporkan bila menemukan adanya tindak pindana korupsi kepada aparat yang terkait.

Sementara itu, Bupati Bogor, Rachmat Yasin berjanji untuk terus mendukung Kejari Cibinong dalam uapayanya memerangi masalah korupsi. Agar upaya membangun pemerintahan yang bersih di Kabupaten Bogor bisa terwujud. Hal ini juga nantinya akan berpengaruh pada pembangunan yang terjadi. Karena bila terjadi korupsi pembangunan di Kabupaten Bogor dipastikan akan terhambat.

Selain memberikan stiker kepada Bupati Bogor, Kajari Cibinong juga menempelkan stiker anti korupsi di depan pintu masuk Pendopo Bupati, di Gedung DPRD Kabupaten Bogor serta di beberapa OPD yang ada di lingkup Pemerintahan Kabupaten Bogor.

12/12/2013

Info Update : EDISI 187 TAHUN II, 9 - 11 DESEMBER 2013
Penjara Paledang Masih Menyimpan “Siksaan”
Laporan Utama

ADA 16 narapidana (Napi) meninggal dunia di Lembaga Pemasyaratan (Lapas) Paledang, Kota Bogor disebabkan sejumlah penyakit. Lima orang meninggal akibat penyakit HIV/AIDS, tiga orang meninggal akibat penyakit tuberculosa (TBC), satu orang meninggal karena penyakit, hepatitis, infeksi, jantung, paru-paru, dan penyakit lainnya. Mereka meninggal karena daya tampung, fasilitas dan sejumlah warga binaan yang tidak seimbang. Lapas yang seharusnya dihuni 500 orang, harus dipadati oleh 2.000 penghuni.
Inilah catatan kelam Lapas Paledang lima tahun lalu. Sekarang, ancaman kematian bagi penghuni Paledang terus menghantui. Penyebabnya karena minim fasilitas seperti ruangan bagi para Napi ini. Alih-alih bisa istirahat untuk tidur saja susah karena harus berhimpit-himpitan.
Salah satu cara untuk mengurangi beban “siksaan” para penghuni lapas di Paledang ini adalah dengan melakukan relokasi. Sebab, kondisi lapas tersebut sudah tidak layak huni lagi disamping keberadaan lapas juga sudah mengganggu masyarakat di sekitar.
Imam (47) warga Kampung Jawa yang berada tepat di belakang Lapas, misalnya, meminta kepada pihak terkait agar segera memindahkan Lapas Paledang. Menurutnya, selain berdekatan dengan pemukiman penduduk, juga dinilai terlalu kecil untuk menampung para Napi yang terus bertambah.

"Saya setuju jika Lapas dipindah ke tempat yang lebih tepat. Mengenai dimananya, saya kira pemerintahlah yang lebih tahu," kata Imam saat ditemui Trans Bogor, Sabtu (7/12).
Dijelaskan Imam, berdasarkan informasi yang berkembang beberapa saat lalu, bahwa Lapas Paledang akan di relokasi di dua tempat pilihan. Pertama, kata dia, di wilayah Pulo Geulis, Bogor Timur, Kota Bogor dan diwilayah Karadenan Kabupaten Bogor. "Tapi sampai saat ini belum ada realisasinya, entah kenapa saya sendiri kurang tahu," lanjutnya.
Amsori (42) warga Mantarena, Bogor Tengah, Kota Bogor juga mengamini. Meski tak menyampaikan keluhannya secara pasti, namun dirinya sangat menyetujui adanya relokasi Lapas Paledang ini. "Saya pun denger Lapas mau dipindah, tapi waktu mau dipindah ke Pulo Geulis, warga sekitar tak setuju jika Lapas ditempatkan disitu," ujar Amsori.
Jauh sebelum mereka “protes”, rencana pembangunan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bogor atau dikenal dengan Lapas Paledang terus di dorong oleh para politisi yang duduk di DPRD. Mereka merekomendasi di Kelurahan Pasir Jambu, masih di wilayah Kota Bogor.
Menurut anggota Komisi A DPRD Kota Bogor, Usman Hariman ketika itu, kendala yang dihadapi dalam pembangunan lapas tersebut masih di seputar urusan tanah.
"Kendala ada di status tanah dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM. Dari pemerintah daerah tidak ada kendala, persoalan tanah sudah kami hibahkan 4 hektare," kata Usman.
Usmas menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Bogor telah menghibahkan tanah untuk pembangunan Lapas Paledang baru di wilayah Pasir Jambu, Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara.
Pembicaraa terakhir mengenai pemindahan dan pembangunan Lapas Paledang Bogor berlangsung pertengahan 2012. Pada saat itu Kementerian Hukum dan HAM masih membahas soal tukar guling lahan.
"Masih ada kendala dengan rencana pembangunan antara lahan hibah dari Pemkot dan lahan yang dimiliki oleh Kemenkumham apakah mau disatukan antara gedung lapas dan rumah dinas, atau terpisah? Itu yang masih dipersoalkan," katanya.
Menurut Usman yang juga Wakil Walikota Bogor terpilih, pembangunan Lapas Paledang sangat mendesak mengingat saat ini kondisi Lapas kelas II A yang terletak di Jalan Paledang tersebut sudah tidak representatif.
"Kita berharap pembangunan Lapas ini segera direalisasikan karena ini menjadi kebutuhan sangat mendesak mengingat kondisi di lapas sudah tidak representatif lagi karena kelebihan kapasitas," kata Usman.
Sementara itu, Kepala Seksi Pembinaan dan Anak Didik Lapas Paledang, Risman, mengatakan bahwa jumlah warga binaan penghuni lapas sebanyak 1.155 terdiri atas 267 tahanan dewasa, 24 anak, dan 797 narapidana.
"Jumlah warga binaan sudah kelebihan, kapasitas Lapas hanya untuk 632 orang. Akan tetapi, saat ini jumlahnya sudah melebihi 1.000 orang," katanya.
Menurut Risman, kondisi Lapas saat ini memang kurang representatif bagi para warga binaan. Kamar yang berjumlah 36 itu harus diisi lebih dari tiga tahanan.
Pembangunan lapas baru oleh Kementerian Hukum dan HAM dilakukan karena kondisi Lapas Paledang dinilai sudah tidak manusiawi akibat padatnya jumlah penghuni.
Penghuni Lapas Paledang selain dari Bogor juga berasal dari Depok dan Cianjur.
Rencananya lapas baru di Pasir Jambu akan memiliki daya tampung hingga ribuan sehingga kepadatan tidak akan terjadi lagi.
Setelah pembangunan selesai, Lapas Paledang tetap dioperasikan sebagai rumah tahanan sehingga lapas yang baru hanya diperuntukkan bagi narapidana saja.

Address

Komplek Ruko Metland Transyogi
Cileungsi
16968

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Trans Bogor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Trans Bogor:

Videos

Nearby media companies


Other Media/News Companies in Cileungsi

Show All