08/09/2026
random bgt tapi gue tadi baca-baca lagi soal Krakatau 1883
selama ini gue taunya ya:
Krakatau meletus gede, terus tsunami, banyak korban.
udah.
ternyata pas baca kronologinya satu-satu, ceritanya jauh lebih kacau dari yang gue bayangin.
apalagi bagian Anyer.
Krakatau sebenernya udah mulai erupsi dari 20 Mei 1883.
jadi bukan tiba-tiba tanggal 27 Agustus langsung meledak gede.
waktu bulan Mei itu suara ledakannya udah kedengeran sampai Batavia, yang sekarang Jakarta.
bahkan ada catatan pintu sama jendela rumah di Batavia sampai bergetar.
padahal jaraknya sekitar 150-an km.
dan ini masih BULAN MEI.
puncaknya 3 bulan setelahnya.
habis itu aktivitasnya sempet naik turun.
asap, abu, suara ledakan, batu apung di laut.
tapi orang waktu itu belum punya gambaran kalau ini bakal jadi bencana segede itu.
Krakatau juga udah lama banget nggak erupsi besar.
letusan sebelumnya yang tercatat itu tahun 1681.
jadi kurang lebih 200 tahun.
gue rasa kalau hidup zaman itu pun ya nggak bakal kepikiran bakal kenapa-kenapa.
terus masuk 26 Agustus 1883.
nah ini baru mulai kacau.
dari siang Krakatau terus meletus.
abu makin banyak, laut di sekitar Selat Sunda mulai terganggu, tsunami kecil juga udah mulai muncul.
dan menjelang sore sampai malam, kondisi sekitar Krakatau makin gelap karena abu.
jadi waktu itu belum masuk kejadian utama pun, pesisir Jawa sama Sumatra udah mulai kena efeknya.
yang bikin gue baru ngeh:
puncak Krakatau itu bukan satu kali “DUAR” terus selesai.
tanggal 27 Agustus pagi ada beberapa ledakan besar.
sekitar jam 05.30.
terus 06.44.
habis itu jam 10.02.
dan masih ada lagi sekitar 10.52.
yang jam 10.02 ini yang dianggap paling dahsyat.
nah soal suaranya ini ternyata bukan lebay internet.
ledakan Krakatau memang kedengeran sampai ribuan kilometer.
orang di Rodrigues, sebuah pulau di Samudra Hindia yang jaraknya hampir 5.000 km dari Krakatau, denger suara kayak tembakan meriam.
Australia juga ada laporan serupa.
hampir 5.000 km loh.
gue dari awal baca angka ini tetep susah ngebayanginnya.
tapi ternyata yang paling banyak ngebunuh orang bukan ledakannya.
tsunami.
setelah fase letusan besar itu, sebagian tubuh Krakatau runtuh dan terjadi perpindahan air dalam jumlah gede banget di Selat Sunda.
gelombangnya lari ke pesisir Jawa dan Sumatra.
dan di beberapa titik di Banten, tinggi run-up tsunami diperkirakan sampai 41 meter.
ya udah, gue bahkan nggak tau harus ngebandinginnya sama apa biar masuk akal.
Anyer kena parah.
Merak juga.
di sisi Sumatra, daerah sekitar Teluk Betung juga hancur.
ratusan kampung dan permukiman di sekitar Selat Sunda rusak atau hilang.
dan ini yang baru gue tau juga:
mercusuar Anyer yang lama ikut hancur kena tsunami.
jadi mercusuar putih yang sekarang ada di Anyer itu bukan mercusuar yang berdiri waktu kejadian 1883 yang itu dibangun setelahnya.
ada satu bagian dari catatan orang yang mengalami kejadian di sekitar Anyer yang agak susah dilupain.
dari arah laut mereka ngeliat sesuatu yang bentuknya kayak bukit.
tapi makin lama makin deket.
ternyata itu gelombang.
gue tau kalimat “gelombang setinggi bukit” sering dipake buat dramatisasi.
masalahnya yang ini emang kurang lebih begitu kejadiannya.
korban resminya lebih dari 36 ribu orang.
dan sekitar 34 ribu lebih di antaranya meninggal karena tsunami.
ini yang bikin gue selama ini salah nangkep soal Krakatau.
gue kira kalau ngomongin korban letusan gunung ya orang meninggal karena abu, batu, panas, atau letusannya sendiri.
Krakatau justru sebagian besar korbannya diambil laut.
terus ternyata ada satu hal lain yang nggak kalah absurd.
aliran piroklastiknya bisa nyebrang Selat Sunda.
kalau nggak familiar, aliran piroklastik itu campuran gas panas, abu sama material vulkanik yang meluncur kenceng banget.
jejaknya ditemukan sampai sekitar 40 km dari Krakatau, mencapai pesisir Sumatra.
ini gue sempet cek ulang karena kedengerannya nggak masuk akal tapi ternyata iya
habis letusan paling besarnya, Krakatau sendiri berubah total.
bagian Danan dan Perbuwatan hancur waktu kalderanya runtuh.
yang tersisa cuma sebagian Rakata.
jadi kalau liat peta Krakatau sebelum 1883 sama setelah 1883 memang bentuknya beda pulaunya bukan cuma “rusak” tapi sebagian besarnya emang udah nggak ada.
efeknya juga nggak berhenti di Selat Sunda, gelombang tekanan udaranya tercatat sampai di berbagai tempat di dunia dan muterin bumi beberapa kali, partikel dari letusannya masuk tinggi ke atmosfer.
setelahnya ada laporan warna matahari terbenam yang nggak biasa di berbagai negara ini bagian yang bikin skala Krakatau agak susah dicerna sih kejadiannya di selat antara Jawa-Sumatra, efek atmosfernya satu dunia.
dan satu lagi yang gue dulu juga salah Krakatau yang meletus tahun 1883 itu bukan Anak Krakatau yang sekarang, setelah Krakatau lama runtuh, aktivitas vulkanik muncul lagi di kalderanya.
tahun 1927 mulai muncul aktivitas yang kemudian membentuk Anak Krakatau makanya namanya Anak Krakatau.
jadi kalau diringkas:
20 Mei 1883 mulai erupsi.
26 Agustus 1883 kondisinya makin parah.
27 Agustus 1883 pagi ledakan besar datang berkali-kali.
jam 10.02 puncaknya, sebagian pulau runtuh.
tsunami nyapu pesisir Jawa dan Sumatra.
lebih dari 36 ribu orang meninggal.
dan saat itu ya obviously nggak ada sistem peringatan tsunami kayak sekarang yang terakhir ini yang bikin gue kepikiran terus.
karena bayangin posisi orang Anyer waktu itu dari kemarin udah denger ledakan abu di mana-mana laut nggak normal.
mereka juga nggak punya cara buat tau sebenarnya Krakatau lagi ngapain atau apa yang bakal terjadi selanjutnya.
itu sih yang menurut gue paling serem dari Krakatau 1883.
Sc threads anasclau28