Tani Aren Rejang Lebong

Tani Aren Rejang Lebong 1. tani aren/gula aren/gula merah
https://youtube.com/?si=UQGJHf57hhEEuf5D

20/08/2026

Malam penutupan acara 17 San Agustus Air Meles Atas Dusun 1.

PNS YANG LAGI VIRAL DALAM MINGGU INI. NETIZEN SILAHKAN BERPENDAPAT (VIDEO DIKOLOM KOMENTAR)     Virallll....SEORANG IBU ...
27/07/2026

PNS YANG LAGI VIRAL DALAM MINGGU INI. NETIZEN SILAHKAN BERPENDAPAT (VIDEO DIKOLOM KOMENTAR)


Virallll....

SEORANG IBU GURU BERSTATUS PNS DIS3RUDVK KAUM EMAK EMAK RABU MALAM (22/7) KARENA DIDUGA MEMBAWA MURIDNYA KERUMAHNYA UNTUK D1S*D*M1 SUAMINYA.
Kronologi Kejadian:

Derita yang Tersembunyi sejak Mei 2026 atau 3 bulan lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan tindak penc*bvlan terhadap korban A usia 12 tahun telah berlangsung sejak Mei 2026 di kediaman pasutri terduga pelaku.

Modus yang digunakan sang guru diduga memanfaatkan relasi kuasa serta posisinya sebagai pendidik untuk membujuk korban, hingga akhirnya anak tersebut diserahkan kepada suaminya untuk melampiaskan aksi b*j4t itu.

Lokasi dugaan kejadian berada di rumah terduga pelaku yang terletak di Jalan Burhanuddin, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai.

Kasus dugaan k32r4s4n s3ks*4l ini baru terungkap setelah korban A tiba-tiba tidak masuk sekolah selama hampir dua pekan. Kejanggalan tersebut membuat ibu angkat korban curiga, sehingga ia memutuskan membawa A ke klinik untuk menjalani pemeriksaan medis.

Hasil pemeriksaan itulah yang akhirnya membuka tabir dugaan k3jah4tan yang dialami korban selama ini. Kepala Lingkungan 5 Kelurahan Perjuangan Sadam Husin Hasibuan, membenarkan kronologi tersebut.

"Warga baru mengetahui kasus ini setelah korban diperiksa di klinik. Korban diduga menjadi korban p3nc4bul*n hingga mengalami luka fisik," ujar Sadam, Rabu (22/7/2026).

Warga Geram, Ratusan Massa Kepung Rumah Terduga Pelaku
Begitu kabar dugaan perbuatan b4j*t oknum guru dan suaminya tersiar, amarah warga langsung tersulut. Ratusan massa mendatangi dan mengepung rumah pasutri terduga pelaku sejak pukul 18.00 WIB pada Rabu (22/7/2026).

Situasi sempat memanas karena pasutri tersebut nyaris menjadi sasaran amuk massa saat proses evakuasi oleh petugas kepolisian berlangsung.

Sebuah video yang diunggah akun Facebook Vita Mutiara, Kamis (23/7/2026), memperlihatkan detik-detik warga menggeruduk rumah terduga pelaku di Jalan Burhanuddin sembari mendesak pasutri tersebut keluar rumah untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

"Ini masih hukum dunia, belum hukum Allah. Naudzubillah, merinding," tulis Vita dalam unggahannya.

Dalam video yang viral tersebut, tampak pasutri terduga pelaku sempat diamuk warga sebelum akhirnya digiring petugas kepolisian menuju mobil patroli untuk diamankan.

Dalam unggahan lain, terlihat p**a sang oknum guru SD berinisial D—demikian sebutan yang beredar di tengah warga—ditarik paksa oleh massa dalam kondisi pasrah, sehingga aparat kepolisian harus memperketat pengawalan agar proses pengamanan berjalan lancar.

Amarah warga rupanya tidak berhenti di lokasi kejadian. Gelombang massa yang didominasi kaum ibu-ibu turut menyatroni Mapolres Tanjungbalai hingga malam hari untuk memastikan kedua terduga pelaku benar-benar dijebloskan ke dalam sel tahanan.

"Di kantor polisi, mayoritas massa yang hadir merupakan kaum emak-emak. Mereka mengaku geram atas dugaan tindak pidana yang menyeret pasangan tersebut," ungkap Sadam.

Bahkan, sempat terjadi aksi saling dorong di depan ruang penyidikan akibat tingginya emosi warga. Beruntung, situasi tersebut berhasil diredam oleh pihak kepolisian sebelum meluas menjadi tindakan yang lebih besar.

Guna menghindari terjadinya aksi main hakim sendiri (vigilante) yang dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan terduga pelaku, Satreskrim Polres Tanjungbalai bergerak cepat mengevakuasi dan mengamankan pasutri tersebut ke Mapolres Tanjungbalai.

Saat ini, kedua terduga pelaku tengah menjalani pemeriksaan maraton oleh penyidik Satreskrim Polres Tanjungbalai. Pemeriksaan ini dilakukan guna mendalami dugaan keterlibatan oknum guru berinisial D—yang disebut sebagai suami dari seorang guru berstatus aparatur sipil negara (ASN)—dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap muridnya sendiri.

Kasus dugaan p3nc4b*L4n yang menyeret oknum guru SD di Tanjungbalai ini menjadi pengingat penting akan pentingnya pengawasan terhadap anak, khususnya mereka yang berada dalam situasi rentan seperti korban A yang berstatus yatim piatu.
SEORANG IBU GURU BERSTATUS PNS DIS3RUDVK KAUM EMAK EMAK RABU MALAM (22/7) KARENA DIDUGA MEMBAWA MURIDNYA KERUMAHNYA UNTUK D1S*D*M1 SUAMINYA.

Jampidsus Kejagung Febrie Ardiansyah Sang Pemberantas Koruptor, Ternyata ialah Mafia Sesungguhnya.TRIBUNNEWS.COM, JAKART...
10/07/2026

Jampidsus Kejagung Febrie Ardiansyah Sang Pemberantas Koruptor, Ternyata ialah Mafia Sesungguhnya.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mengakui jika rumah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, adalah miliknya.

Ini adalah rumah yang ikut digeledah Polri saat mengusut 3 kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Hal itu dikatakan langsung Febrie ketika pertama kali muncul saat isu dugaan korupsi yang mengait-ngaitkan kepada dirinya itu mencuat.

"Tentang rumah Sentul itu memang rumah pribadi Jampidsus yang sudah sejak lama. Itu bisa dilihat bagaimana proses kepemilikan sejak awal," kata Febrie dalam konferensi pers, Jumat (10/7/2026).

Meski telah diakui kepemilikannya, rumah mewah di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat tersebut ternyata tidak tercatat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periode 2025 yang dilaporkan ke KPK pada 7 Maret 2026.

Jika dilihat dalam LHKPN, Febrie hanya melaporkan lima kepemilikan tanah dan bangunan di Jakarta Selatan, Tangerang Selatan dan Bandung, Jawa Barat.

Adapun rinciannya yakni tanah dan bangunan seluas 220 m2/180 m2 di Jakarta Selatan senilai Rp2,3 miliar.

Kemudian tanah seluas 652 m2 dan 704 m2 di Tangerang Selatan dengan masing-masing senilai Rp597 juta dan Rp644 juta.

Kemudian tanah seluas 2.301 m2 di Bandung senilai Rp473 juta serta tanah dan bangunan seluas 638 m2/200 m2 di Jakarta Selatan senilai Rp10,8 miliar.

Di sisi lain, Febrie juga hanya melaporkan harta kekayaan berupa Harta Bergerak lainnya senilai Rp60 juta; kemudian Kas dan Setara Kas senilai Rp938 juta; serta harta lainnya senilai Rp100 juta.

*Ditemukan brankas di rumah*
Diketahui dalam penggeledahan di rumah Sentul, Bogor, Jawa Barat, polisi menemukan brankas tersembunyi di balik dinding kayu bermotif.

Setelah dibuka, ternyata brankas itu berisikan uang rupiah dan asing dalam bentuk dolar Amerika Serikat dan Singapura serta emas 74 kg yang ditaksir senilai Rp465 miliar.

Di sisi lain, polisi juga menyita sebuah foto keluarga yang merupakan pemilik rumah tersebut.

Dari video yang beredar, foto keluarga yang terpajang di bagian depan rumah yakni keluarga Jampidsus Febrie Ardiansyah

Untuk informasi, tim gabungan Kortas Tipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya menggeledah 13 lokasi dalam kasus dugaan korupsi dan TPPU pada Rabu (8/7/2026).



Sumber berita : Tribunnews
Sumber video/foto : fb Qe

3 Tahun Putus Kontak Keluarga, Disekap dan Dianiaya Kekasih.BANDUNG, KOMPAS.com - YTR (29) seorang perempuan asal Kecama...
22/06/2026

3 Tahun Putus Kontak Keluarga, Disekap dan Dianiaya Kekasih.

BANDUNG, KOMPAS.com - YTR (29) seorang perempuan asal Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat diduga menjadi korban penganiayaan dan penyekapan oleh kekasihnya. Korban mengalami kekerasan fisik hingga mengakibatkan kebutaan. Bukan hanya itu, keluarga korban juga dikelabui dengan informasi palsu bahwa korban sedang bekerja di Jakarta. Aksi keji ini baru terungkap setelah korban dilarikan ke rumah sakit oleh pemilik indekos dan pelaku di daerah Cinunuk, Kabupaten Bandung. Adik kandung korban, Syahrul Ulum (26) menceritakan bahwa kakak keduanya itu mulai meninggalkan rumah sejak tahun 2023 setelah berkenalan dengan seorang pria dalam sebuah acara konser di Tritan Point, Kota Bandung.

Pertemuan itu berlanjut pada hubungan asmara, dan pelaku sempat sekali datang berkunjung ke rumah keluarga.

Namun, setelah kunjungan pertama tersebut, korban tiba-tiba memutus kontak dengan keluarga.

Padahal, sebelumnya korban dikenal rutin p**ang ke rumah seminggu sekali di sela-sela kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan di kawasan Pasteur.

"Iya, langsung semenjak saat itu langsung lost contact aja sama Teteh. Biasanya seminggu sekali itu p**ang ke sini. Komunikasi telepon ada tapi jarang. Berikut itu juga susah. Kalau dihubungin itu teh bilangnya kasar, kayak bukan kakak sendiri gitu bilangnya," ujar Syahrul saat ditemui di kediaman korban, Selasa (16/6/2026).

Pihak keluarga sempat berupaya mencari keberadaan korban, bahkan kakak pertama korban pernah menyebarkan informasi kehilangan orang melalui media sosial Instagram. Selama tiga tahun pencarian, keluarga meyakini korban dalam keadaan baik-baik saja dan sedang bekerja di luar kota berdasarkan informasi yang mereka terima.

"Kaget aja, setahu keluarga kan Teteh itu kerja di Jakarta. Jadi kita ini selama tiga tahun teh dikelabui sama si pelaku. Jadi Teteh teh selama tiga tahun menghilang itu tidak boleh pegang ponsel," ungkap Syahrul.

Tabir gelap ini akhirnya terkuak pada Rabu (10/6/2026) malam lalu, ketika keluarga menerima kabar bahwa korban tengah berada di rumah sakit dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Korban diantar ke Rumah Sakit Ujung Berung sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung oleh pemilik indekos dan pelaku sendiri.

Namun, pelaku memilih melarikan diri dan tidak mendampingi korban hingga ke dalam ruang perawatan. Pindah Setiap 3 Bulan Sekali Syahrul membeberkan, luka fisik yang dialami kakaknya sangat fatal akibat penganiayaan yang diduga telah berlangsung lama dan berulang-ulang selama masa penyekapan di sebuah kamar indekos di kawasan Cileunyi. Berdasarkan informasi yang dihimpun keluarga dari korban, pelaku kerap berpindah-pindah tempat tinggal setiap tiga bulan sekali untuk menghindari kecurigaan.

Berdasarkan pengakuan korban kepada sang ayah, pelaku kerap menggunakan senjata tajam maupun tangan kosong saat melakukan penganiayaan. Saat ini, korban telah menjalani operasi pembersihan di bagian kepala untuk menangani infeksi yang dideritanya. Meski kondisi wajahnya sudah mulai dibersihkan dan korban sudah dalam keadaan setengah sadar, ia masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan jelas.

Keluarga korban menduga pelaku bekerja sebagai tenaga eksternal atau penagih utang (debt collector) di salah satu perusahaan pembiayaan di kawasan Tritan Point. Pihak keluarga kini telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat ini. Setelah sempat mendatangi Polsek Rancaekek, kasus ini kini direkomendasikan untuk ditangani oleh Polda Jawa Barat.

Tim penyidik dilaporkan telah bergerak ke lokasi kejadian dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk pemilik indekos. "Dari pihak keluarga pengennya usut tuntas, sampai dapatlah pelakunya, takutnya ada korban selanjutnya gitu. Hukum seberat-beratnya," jelas Syahrul. Polisi Buru Pelaku Kasus dugaan penganiayaan ini dilaporkan ke Polda Jawa Barat dengan nomor LP/B/1145/VI/2026/SPKT/POLDA JAWA BARAT.

Laporan tersebut dibuat oleh kakak korban pada Jumat, 12 Juni 2026 lalu. Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan, korban diduga mengalami penganiayaan yang dilakukan pria berinisial TH. Hendra menyebut pelapor menerima informasi melalui WhatsApp dari seseorang yang tidak dikenal bahwa korban berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Hasan Sadikin, Bandung.

"Setelah itu pelapor mendatangi RSHS dan diketahui bahwa korban dalam keadaan luka berat di bagian kepala, wajah, kaki dan luka ringan di bagian tangan," jelasnya saat dikonfirmasi, melalui pesan singkat. Hendra membenarkan, pihak keluarga sebelumnya tidak mengetahui keberadaan korban. "Sebelumnya korban menghilang tidak ada kabar dan tidak diketahui keberadaannya selama kurang lebih 3 tahun," terangnya.

Pelaku, kata Hendra, melakukan aksi penganiayaan dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan benda tumpul hingga senjata tajam (sajam). Selain dugaan penganiayaan itu, korban dilaporkan mengalami sejumlah luka berat. Selain itu, sejumlah barang berharga milik korban juga hilang.

"Akibat kejadian tersebut korban mengalami luka berat di antaranya tidak bisa melihat secara normal, bibir sumbing, sulit berbicara, tidak bisa berjalan serta mengalami kerugian materiil sebesar kurang Rp 52.000.000," ucap dia. Kasus tersebut dilaporkan sebagai dugaan tindak pidana penganiayaan berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 466 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.



Sumber: https://bandung.kompas.com

Alhamdulillah sudah bisa senyum & sudah p**ang kerumah. Meskipun mata masih Bengkak. Tapi kami masih di ISOLASI dirumah ...
16/06/2026

Alhamdulillah sudah bisa senyum & sudah p**ang kerumah. Meskipun mata masih Bengkak. Tapi kami masih di ISOLASI dirumah sampai tgl 23 🙏🏻😊. Upaya memutuskan Penularan Virus. Terimakasih do'a & support dr teman,sanak,saudara semua.

Alhamdulillah sudah mulai kelihatan kemajuan nya. Semoga lekas pulih sepenuhnya anak bujang jagoan ayah... Aamiin
15/06/2026

Alhamdulillah sudah mulai kelihatan kemajuan nya. Semoga lekas pulih sepenuhnya anak bujang jagoan ayah... Aamiin

Ya Allah angkatlah penyakit anak bujang kami Ya Allah. Semoga cepat sembuh anak Bujang jagoan ayah,anak hebat ayah...😭Aa...
13/06/2026

Ya Allah angkatlah penyakit anak bujang kami Ya Allah. Semoga cepat sembuh anak Bujang jagoan ayah,anak hebat ayah...😭
Aamiin...

Pelaku Pembacokan Sesama Pelajar di Jakbar Ditangkap Saat Ujian di SekolahJakarta - Polisi menangkap dua pelajar SMK ter...
11/06/2026

Pelaku Pembacokan Sesama Pelajar di Jakbar Ditangkap Saat Ujian di Sekolah

Jakarta - Polisi menangkap dua pelajar SMK terkait pembacokan terhadap sesama pelajar di Palmerah, Jakarta Barat (Jakbar). Dua pelaku berinisial AS dan MF diamankan saat mengikuti ujian di sekolahnya.
"Untuk saat ini yang diamankan baru dua pelaku, untuk yang lainnya itu nanti melihat perkembangan pemeriksaan," kata Kapolsek Palmerah AKP Parman BM Nainggolan, dilansir Antara, Kamis (11/6/2026).

Kedua pelaku ditangkap pada Rabu (10/6) setelah keduanya terbukti melakukan pembacokan terhadap seorang siswa dari sekolah lain berinisial F di kawasan Palmerah. Penangkapan dilakukan setelah penyidik mendalami rekaman kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian yang sempat viral di media sosial (medsos).

"Kedua pelaku ini yang melakukan penyerangan menggunakan ikat pinggang dan celurit," kata Parman.

Peristiwa penganiayaan itu terjadi di Gang T, Jalan Palmerah Barat VI, Palmerah, Jakbar, pada Selasa (9/6) pagi. Saat itu korban F sedang dalam perjalanan menuju ke sekolahnya.

Insiden bermula ketika sekelompok pelajar yang mengendarai sepeda motor melintas di lokasi kejadian. Tanpa alasan yang jelas, salah satu pelaku tiba-tiba memukul korban menggunakan ikat pinggang.

Aksi tersebut memicu pelaku lainnya untuk mengayunkan senjata tajam jenis celurit ke arah korban. Akibat serangan itu, korban F mengalami luka robek di bahu kanan dan langsung dibawa ke rumah sakit (RS).

"Kondisi korban saat ini sudah mendapatkan perawatan medis dengan tujuh jahitan di bahu kanan," ujar Parman.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, polisi menyebutkan bahwa antara korban dan kedua pelaku tidak saling mengenal. Hingga kini, pihak penyidik Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Palmerah masih mendalami motif di balik penyerangan tersebut.

Polisi memastikan proses hukum akan berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku karena salah satu pelaku berstatus usia anak (belum 17 tahun).

"Tindak lanjutnya nanti sesuai dengan pemeriksaan. Tentunya proses hukum akan diproses dengan mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak," tegas Parman.

Lihat Video 'Rekaman CCTV Aksi Barbar Pelajar Bacok Sesama Pelajar di Jakbar di KOLOM KOMENTAR yg disematkan



Sumber Berita: detikNews.com

Dibalik Viral Video Wisatawan Terseret Ombak, Terungkap Masalah 'Pelik' Wisata Apparalang Bulukumba.Apparalang Bulukumba...
09/06/2026

Dibalik Viral Video Wisatawan Terseret Ombak, Terungkap Masalah 'Pelik' Wisata Apparalang Bulukumba.

Apparalang Bulukumba
Tangkapan layar video yang memperlihatkan detik-detik seorang pengunjung terjatuh ke laut usai diterjang ombak di kawasan wisata Apparalang, Bulukumba, Minggu, 7 Juni 2026. Korban ditemukan meninggal dunia.

Korban terjatuh ke laut akibat hantaman ombak besar yang terjadi secara tiba-tiba di area pinggir tebing lokasi wisata.
Tim SAR gabungan menemukan jenazah korban dalam kondisi meninggal dunia pada pukul 23.58 Wita setelah dilakukan pencarian intensif.
SuaraSulsel.id - Liburan keluarga yang diharapkan menjadi momen menyenangkan berakhir tragis di kawasan wisata Apparalang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Seorang remaja perempuan bernama Elmi Febrianti (17) tewas setelah tersapu ombak saat berada di salah satu spot foto di tebing wisata tersebut.

Peristiwa nahas itu terjadi di kawasan wisata Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Minggu, 7 Juni 2026, sekitar pukul 14.30 Wita.

Saat kejadian, Elmi tengah berlibur bersama keluarga dan sejumlah temannya.

Remaja asal Kecamatan Herlang itu kemudian turun ke area tebing yang selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi favorit pengunjung untuk berfoto dengan latar panorama laut lepas. Namun, ombak besar tiba-tiba menghantam area pinggir tebing tempat korban berdiri.

Hempasan ombak yang datang mendadak membuat Elmi kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke laut.

Korban kemudian terlihat terombang-ambing di antara gelombang tinggi sebelum akhirnya hilang dari pandangan.

Detik-detik saat korban terseret ombak sempat terekam kamera pengunjung lain dan videonya kemudian viral di media sosial.

Dalam rekaman itu terlihat korban berusaha bertahan di tengah derasnya arus laut, sementara para pengunjung yang berada di atas tebing hanya bisa menyaksikan tanpa mampu memberikan pertolongan.

Kondisi gelombang yang tinggi membuat upaya penyelamatan secara spontan hampir mustahil dilakukan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulukumba, Andi Hasbullah mengatakan berdasarkan informasi yang diterima tim di lapangan, korban terjatuh setelah dihantam ombak saat berada di pinggir tebing.

"Penyebabnya karena terkena hempasan ombak saat berada di area tebing dekat spot foto Apparalang sehingga korban terjatuh ke laut," ucapnya saat dihubungi, Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Hasbullah, tidak ada pengunjung yang berani turun memberikan pertolongan setelah korban jatuh. Selain kondisi medan yang sulit, gelombang laut saat itu juga tergolong tinggi.

"Kalau melihat kondisi di video yang kami terima, ombak sangat tinggi. Hampir satu setengah meter. Jadi tidak ada yang berani melakukan pertolongan langsung karena sangat berisiko," ujarnya.

Setelah menerima laporan kejadian, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri dan unsur relawan langsung melakukan pencarian di sekitar lokasi.

Pencarian berlangsung selama berjam-jam hingga malam hari. Tim menyisir perairan sekitar Apparalang dengan menggunakan berbagai peralatan pencarian.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Korban ditemukan pada hari yang sama sekitar pukul 23.58 Wita atau kurang dari 10 jam setelah dilaporkan tenggelam.

"Korban berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan dan langsung dievakuasi. Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia," kata Hasbullah.

Tragedi ini kemudian memicu sorotan publik terhadap aspek keselamatan di kawasan wisata Apparalang. Banyak warganet dan pengunjung mempertanyakan minimnya perangkat keselamatan maupun petugas pengawas di salah satu destinasi wisata paling populer di Bulukumba tersebut.

Apparalang selama ini dikenal sebagai objek wisata alam yang menawarkan tebing batu karang dengan panorama laut yang indah.

Lokasi tersebut kerap menjadi tujuan wisatawan untuk berfoto karena memiliki pemandangan yang menyerupai tebing-tebing pantai eksotis di luar negeri.

Namun, keindahan itu juga menyimpan risiko karena sebagian area wisata berbatasan langsung dengan laut terbuka yang sewaktu-waktu dapat diterjang ombak besar.

Kepala Bidang Humas Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban. Ia juga mengapresiasi kerja keras tim SAR gabungan yang melakukan pencarian hingga larut malam.

"Jenazah korban sudah ditemukan setelah Basarnas dan BPBD bekerja keras melakukan pencarian hingga tengah malam," ungkapnya.

Di balik insiden tersebut, muncul kembali persoalan lama terkait tata kelola kawasan wisata Apparalang.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba mengungkapkan bahwa status pengelolaan objek wisata tersebut hingga kini masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya tuntas.

Meski Desa Ara telah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata melalui Surat Keputusan Bupati Bulukumba, aspek perizinan dan pengelolaan kawasan disebut belum sepenuhnya jelas.

Pemerintah daerah saat ini masih mengkaji berbagai opsi agar pengelolaan kawasan wisata tersebut dapat memenuhi standar keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung.

Menurut Ayatullah, lokasi wisata Apparalang berada di atas lahan negara. Namun sejak 2016, pengelolaan kawasan dilakukan oleh pihak swasta atau yayasan.

Selama ini pemerintah daerah telah berupaya mengambil alih pengelolaan agar penataan kawasan lebih tertib dan sesuai regulasi yang berlaku.

Namun hingga kini upaya tersebut belum menemukan titik temu karena pihak yayasan tetap ingin mengelola kawasan secara mandiri.

"Pemerintah Kabupaten Bulukumba telah melakukan berbagai upaya penataan kawasan melalui kebijakan, penganggaran, koordinasi, mediasi, inventarisasi aset hingga penegakan hukum," ujarnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga telah menunjukkan komitmen pembangunan sektor pariwisata melalui penetapan Desa Wisata dan penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPARDA).

"Permasalahan yang berkembang saat ini pada dasarnya merupakan persoalan tata kelola kawasan yang sejak awal telah diupayakan penyelesaiannya oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba," katanya.

Tragedi yang merenggut nyawa Elmi menjadi pengingat bahwa pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam.

Aspek keselamatan, mitigasi risiko, hingga kejelasan tata kelola menjadi hal yang tak kalah penting agar destinasi wisata tetap aman bagi setiap pengunjung yang datang menikmati pesonanya.

Sumber : https://SuaraSulsel.id


📌 Kasus: Bocah SD Tewas Bersimbah Darah di Sragen.Bocah 11 Tahun Tewas Bersimbah Darah di Rumahnya, Diduga Korban Pembun...
06/06/2026

📌 Kasus: Bocah SD Tewas Bersimbah Darah di Sragen.

Bocah 11 Tahun Tewas Bersimbah Darah di Rumahnya, Diduga Korban Pembunuhan

Warga Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, digemparkan penemuan bocah perempuan berusia 11 tahun yang tewas bersimbah darah di rumahnya, Jumat (5/6/2026) sore.

Korban bernama Bilqis, siswa kelas V SDN 2 Dawung, ditemukan tergeletak di atas kasur di lantai rumah Dukuh Bromoasri RT 023. Tubuhnya penuh luka akibat senjata tajam, terutama di bagian wajah. Hidung dan p**i korban tersabet parang secara horizontal hingga tulang hidung patah

Peristiwa pertama kali diketahui ibunya, Dewi, sekitar pukul 16.00 WIB saat p**ang kerja dari pabrik rokok. Sang ibu histeris mendapati putri semata wayangnya sudah tidak bernyawa, lalu meminta pertolongan warga.

Kakek korban, Wagito (59), menyebut selain luka pada tubuh, di sekitar kasur terlihat bercak darah dan jejak kaki di lantai. Sebuah sepeda motor Honda Vario biru milik keluarga juga dilaporkan hilang, memunculkan dugaan perampokan.

Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto, menerima laporan dari ketua RT terkait dugaan perampokan. Setelah berkoordinasi dengan polisi, lokasi kejadian dipasangi garis polisi dan warga diminta menjauh. Banyaknya jejak kaki memunculkan dugaan pelaku lebih dari satu orang. Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam pramuka.

Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari bersama Kasatreskrim AKP Catur Agus Yudo Praseno langsung turun ke lokasi. Tim Inafis menemukan parang dengan bercak darah di dapur belakang rumah yang diduga digunakan pelaku.

Kapolres berdialog intensif sekitar 30 menit dengan ibu dan keluarga korban didampingi Kasatreskrim. Setelah itu, ibu dan ayah tiri korban, Sukardi, dibawa ke Polsek Jenar untuk dimintai keterangan.

Menjelang Isya, jenazah Bilqis dievakuasi ambulans Puskesmas Jenar ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen sekitar pukul 19.10 WIB.

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematian dan memburu pelaku. Kasatreskrim AKP Catur belum memberi keterangan resmi terkait motif dan kronologi lengkap.

Camat Jenar Y. David Supriyadi menjelaskan korban sehari-hari di rumah sendirian karena ibu bekerja di pabrik dan ayah buruh panen padi.

Polisi mengimbau warga yang memiliki informasi terkait kejadian agar segera melapor guna membantu pengungkapan kasus ini.



Address

Jalan Lintas Lubuk Linggau
Curup
39112

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tani Aren Rejang Lebong posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share