10/05/2025
Tafsir
Surat Al-Ikhlash (112): ayat 1
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
Artinya
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Tafsir
1. Jalalayn
(Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa") lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.
2. Tafsir Ibn Kathir
Dalam pembahasan yang terdahulu telah disebutkan latar belakang penurunannya. Ikrimah mengatakan bahwa
a. ketika orang-orang Yahudi berkata: "Kami menyembah Uzair anak Allah".
b. Dan orang-orang Nasrani mengatakan: "Kami menyembah Al-Masih putra Allah".
c. Dan orang-orang Majusi mengatakan: "Kami menyembah matahari dan bulan".
d. Dan orang-orang musyrik mengatakan:"Kami menyembah berhala".
Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
{قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ}
{|Katakanlah. Dialah Allah Yang Maha Esa.|} (Al-Ikhlas: [112:1])
Yakni Dialah Tuhan Yang Satu, Yang Esa, Yang tiada tandingan-Nya, tiada pembantu-Nya, tiada lawan-Nya, tiada yang serupa dengan-Nya, dan tiada yang setara dengan-Nya. Lafaz ini tidak boleh dikatakan secara itsbat terhadap seseorang kecuali hanya Allahﷻ Karena Dia Mahasempurna dalam segala sifat dan perbuatan-Nya.
Latar Belakang Turunnya Surat dan Keutamaannya
Latar Belakang Turunnya Surat dan Keutamaannya (Lanjutan)
3. Tafsir Kemenag RI
Surah ini meliputi dasar yang paling penting dari risalah Nabi Muhammad yaitu menauhidkan dan menyucikan Allah serta meletakkan pedoman umum dalam beramal sambil menerangkan amal perbuatan yang baik dan yang jahat, menyatakan keadaan manusia sesudah mati mulai dari sejak berbangkit sampai dengan menerima balasannya berupa pahala atau dosa. Telah diriwayatkan dalam hadis bahwa surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an, karena barang siapa menyelami artinya dengan bertafakur yang mendalam, akan menjadi jelas baginya bahwa semua penjelasan dan keterangan yang terdapat dalam Islam tentang tauhid dan kesucian Allah dari segala macam kekurangan merupakan perincian dari isi surah ini. Dalam sebuah hadis disebutkan: Dari 'Aisyah, bahwasanya Rasulullah saw. pernah mengutus seorang laki-laki dalam suatu peperangan. Ketika salat bersama sahabat-sahabatnya, laki-laki itu membaca surah dan mengakhirinya dengan "Qul Huwallahu Ahad." Pada saat mereka kembali, hal itu disampaikan kepada Rasulullah saw. Rasul berkata, "Tanyakan kepadanya apa maksud dari perbuatannya itu." Mereka pun menanyakannya. Laki-laki itu menjawab, "Itu adalah sifat Allah Yang Maha Penyayang. Saya s**a membacanya." Rasulullah saw. bersabda, "beritahukanlah dia, bahwa Allah mencintainya." (Riwayat Muslim) (1) Pada ayat ini, Allah menyuruh Nabi Muhammad menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan zat berarti bahwa bagian kump**an itu memerlukan bagian yang lain, sedang Allah sama sekali tidak memerlukan suatu apa pun. Keesaan Allah itu meliputi tiga hal: Dia Maha Esa pada Zat-Nya, Maha Esa pada sifat-Nya dan Maha Esa pada perbuatan-Nya. Maha Esa pada zat-Nya berarti zat-Nya tidak tersusun dari beberapa zat atau bagian. Maha Esa pada sifat-Nya berarti tidak ada satu sifat makhluk pun yang menyamai-Nya dan Maha Esa pada perbuatan-Nya berarti Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya: Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. (Yasin/36 : 82)