11/06/2026
Rahajeng Sugihan Tenten Buda pon, Sugihan Jawa wraspati Wage dan Sugihan Bali sukra Kliwon uku sungsang. Ada Tiga Pilihan Guling Untuk Banten Sugihan dan Makna Mendalam di dibalik Ketiga Pilihannya.
Dalam tradisi luhur kita di Bali, khususnya saat merayakan hari suci Sugihan ( baik Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali ), esensi utamanya adalah panyucian, baik suci secara makrokosmos ( alam semesta ) maupun mikrokosmos ( diri sendiri ).
Berikut adalah penjabaran mendalam dan sumber sastra terkait tiga pilihan ulam guling tersebut :
1. Guling Babi Memohon Kawibawaan ( Kewibawaan /Kemakmuran ),
Maknanya Babi ( Waraha atau S**a ) dalam filosofi Hindu melambangkan bumi, kesuburan, dan kemakmuran. Menghaturkan Guling Babi memiliki esensi untuk memohon kewibawaan hidup, perlindungan spiritual, serta kelancaran rezeki ( kemakmuran ) demi tegaknya kehidupan yang sejahtera.
Sumber Sastra :
Lontar Sundarigama & Lontar Raja Purana Menyebutkan penggunaan be guling ( babi guling ) sebagai sarana utama ( ulam ) dalam upakara - upakara besar untuk memohon kerahayuan dan menetralisir energi negatif ( pengerebuan ) di areal pekarangan ( merajan /pemukuran ).
Secara mitologi, ini juga berkaitan dengan Waraha Awatara ( manifestasi Wisnu sebagai babi hutan yang menyelamatkan bumi dari kehancuran ).
2. Guling Ayam Memohon Kesidian ( Kekuatan Spiritual /Keberhasilan )
Maknanya Ayam ( Kukkuta ) dalam teologi Hindu Bali sering kali dikaitkan dengan kedisiplinan ( membangunkan manusia di pagi hari ) dan simbol kekuatan Kriya Shakti ( kemampuan untuk bertindak dan mewujudkan sesuatu ). Menghaturkan Guling Ayam adalah simbol permohonan Kesidian, yaitu kemanjuran, kekuatan batin, serta keberhasilan atas apa yang kita usahakan ( keberhasilan yadnya dan kerja ).
Sumber Sastra:
Lontar Caru Purwani & Lontar Yadnya Prakerti Dijelaskan bahwa ayam memiliki sifat dinamis. Olahan ayam utuh ( guling ) menjadi simbol pengorbanan sifat - sifat Rajas ( ego dan kemarahan ) agar berubah menjadi kekuatan spiritual yang terkendali ( sidi ).
3. Guling Bebek Memohon Kesucian ( Kebijaksanaan )
Maknanya Bebek ( Itik ) adalah simbol utama dari Saraswati lambang kebijaksanaan ( wiweka ) dan kesucian spiritual. Bebek memiliki kemampuan unik untuk memisahkan makanan dan lumpur, yang diartikan bahwa umat manusia harus mampu memisahkan mana yang baik ( dharma ) dan mana yang buruk ( adharma ). Menghaturkan Guling Bebek / Itik ditujukan murni untuk memohon penyucian jiwa dan pikiran.
Sumber Sastra:
Lontar Sundarigama Secara eksplisit menyebutkan bahwa pada piodalan atau hari suci tertentu, salah satu sarana upakara yang utama digunakan adalah guling itik ( guling bebek ). Bebek dipandang sebagai hewan yang paling suci di antara unggas karena sifat alamiahnya yang tenang dan penuh kebijaksanaan.
Mogi bermanfaat.
Video hanya sebagai pemanis status.