07/06/2026
Jam 01.30 dini hari, saat seluruh warga tertidur lelap, sebuah mobil hitam diam-diam berhenti di gerbang Kampung Naga. Tak ada protokol, tak ada rombongan. Dari dalam mobil turun Kang Dedi Mulyadi. Apa yang beliau temukan malam itu membuat semua orang terkejut.
Kang Dedi datang tanpa pemberitahuan untuk melihat kondisi asli Kampung Naga, Tasikmalaya, salah satu kampung adat paling terkenal di Jawa Barat. Dalam suasana sunyi malam, beliau menelusuri jalan-jalan kampung dan melihat berbagai hal yang dinilai mulai mengancam keaslian kawasan adat tersebut.
Menurut narasi yang beredar, beliau menemukan sampah yang tidak tertangani, fasilitas yang mulai rusak, serta sejumlah pelanggaran terhadap aturan adat yang selama ini menjadi identitas Kampung Naga. Temuan itu kemudian menjadi bahan diskusi mendadak bersama tokoh adat, pengelola wisata, dan warga setempat.
Dari pertemuan tersebut lahir sebuah keputusan besar yang mengejutkan banyak pihak: Kampung Naga disebut akan ditutup sementara untuk proses pemulihan dan penataan kembali demi menjaga keaslian warisan budaya leluhur.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diketahui. Hingga saat ini, kisah kunjungan tengah malam dan keputusan penutupan tersebut belum ditemukan dalam sumber resmi yang dapat diverifikasi. Karena itu, cerita ini sebaiknya dianggap sebagai narasi yang masih perlu pembuktian lebih lanjut, bukan fakta yang sudah terkonfirmasi.
🤔 Menurut kalian, jika sebuah warisan budaya mulai kehilangan keasliannya, apakah penutupan sementara demi pemulihan adalah langkah yang tepat?