podcast hiburan

  • Home
  • podcast hiburan

podcast hiburan konten hiburan jangan baper , ambil positifnya jika tidak ada skip aja ��
(1)

Bab.253 Siang itu suasana kafe kecildi pojokan jalan kampus cukupsepi. Hanya ada suara musikakustik yang diputar pelan,b...
22/10/2025

Bab.253 Siang itu suasana kafe kecil
di pojokan jalan kampus cukup
sepi. Hanya ada suara musik
akustik yang diputar pelan,
bercampur dengan aroma kopi
yang menyeruak.
Lia baru saja selesai
mengurus berkas di kantor
markas, dan seperti biasa ia
mampir ke kafe langganannya
untuk sekadar melepas penat.
Tapi langkahnya sempat
terhenti begitu melihat sosok
yang tidak asing duduk
sendirian di pojok, menunduk
sambil menatap kosong ke gelas
kopinya.
"Rikki?" Lia berbisik pelan,
kaget sekaligus heran.
Rikki, yang biasanya ceria
bersama Vano dan Jowy, kali ini
tampak seperti kehilangan
cahaya. Pandangannya kosong,
wajahnya sayu, dan jari-jarinya
mengetuk meja tanpa irama
jelas.
.

Lia sempat ragu untuk
mendekat, tapi akhirnya ia
menghela napas dan
memberanikan diri.
la melangkah ke meja itu. "
Boleh aku duduk di sini?"
tanyanya hati-hati.
Rikki sontak menoleh, kaget
setengah mati begitu mendapati
Lia berdiri di depannya masih
dengan seragam dinas
lengkapnya. "L-Lia? Kamu kok
ada di sini?" suaranya gugup,
seolah ia sedang melakukan
sesuatu yang tak seharusnya.
"Aku sering ke sini kalau
jam istirahat," jawab Lia sambil
tersenyum tipis. “Kelihatannya
kamu lagi banyak masalah?"
Rikki hanya diam sejenak,
lalu mengangguk pelan. "Silakan
Mereka duduk berhadapan.
Lia menaruh topinya di meja,
lalu melipat tangan. Sesaat ia
menatap Rikki lekat-lekat,
mencari tahu apa sebenarnya
yang ada di balik ekspresi
muram itu.
"Rikki," ucap Lia pelan, “
boleh aku tanya sesuatu?"
Rikki mengangkat
wajahnya, bingung. "Apa?"
Lia menarik napas panjang.
"Apa benar... kamu anak dari
Om Indra? Papa-nya Jowy?"
Pertanyaan itu jatuh begitu
saja, tapi dampaknya seperti
petir yang menyambar Rikki. Ia
langsung membeku, matanya
membesar, bibirnya bergetar.
Tangannya refleks meremas
gelas di depannya.
"D-dari mana kamu tahu?"
suaranya nyaris berbisik, penuh
panik.
Rikki mengangkat
wajahnya, bingung. "Apa?"
Lia menarik napas panjang.
"Apa benar... kamu anak dari
Om Indra? Papa-nya Jowy?"
Pertanyaan itu jatuh begitu
saja, tapi dampaknya seperti
petir yang menyambar Rikki. Ia
langsung membeku, matanya
membesar, bibirnya bergetar.
Tangannya refleks meremas
gelas di depannya.
"D-dari mana kamu tahu?"
suaranya nyaris berbisik, penuh
panik.
Lia menunduk sejenak, lalu
menatap lagi. “Aku sudah lama
curiga. Ada beberapa hal yang
bikin aku mikir. Dan aku butuh
jawaban langsung dari kamu."
Rikki menelan ludah. la
jelas kalut. "Aku... aku
sebenarnya pengen bilang dari
dulu. Tapi aku takut, Lia. Aku
takut kalau Jowy tahu, dia bakal
marah besar. Aku takut kalau
Tante Amel tahu, keluarganya
bakal hancur. Aku nggak mau
jadi alasan pertengkaran
mereka,"
Lia terdiam, membiarkan
Rikki meluapkan isi hatinya.
Rikki menghela nafas berat.
"Iya... aku anak dari Om Indra.
Mama-ku dulu kenal dia
sebelum aku lahir. Aku baru
tahu waktu SMP. Mama sempat
nyeritain, tapi dia minta aku
diem. Aku nurut, tapi sampai
sekarang aku hidup kayak orang
asing di antara keluarga sendiri.
Aku dekat sama Jowy, tapi di
satu sisi... aku kakaknya.
Sementara dia nggak pernah
tahu."
..

Suasana meja itu langsung
penuh dengan ketegangan. Lia
menatap Rikki tanpa berkedip.
la bisa merasakan betapa berat
beban yang dipikul pemuda itu.
"Rikki..." suara Lia lembut,
aku bisa ngerti kenapa kamu
takut. Tapi kamu juga nggak
bisa terus-terusan nyimpen
rahasia ini sendirian.
Lama-lama bisa jadi bom waktu
"Makanya aku sering
bingung, Lia," potong Rikki
lirih. “Aku pengen jujur, tapi
aku takut. Aku lihat Jowy itu
baik, dia sahabat aku. Kalau dia
tahu aku kakaknya, gimana?
Bisa aja dia ngerasa dikhianati.
Dia bisa marah ke aku, bisa
marah ke Papanya, bahkan ke
Mamanya, Tante Amel. Aku
nggak sanggup lihat keluarga
mereka pecah cuma karena
keberadaan aku.
Lia terdiam, memutar otak.
la tahu Rikki benar. Di satu sisi,
kebenaran memang pahit, tapi
di sisi lain menyembunyikannya
bisa lebih berbahaya.
"Aku ngerti," kata Lia
akhirnya. "Tapi aku rasa cepat
atau lambat kebenaran ini bakal
kebongkar juga. Nggak mungkin
selamanya bisa ditutupin. Dan
lebih baik keluar dari m #
kamu sendiri, daripada mereka
tahu dari orang lain."
Rikki mengg # b # ,
matanya berkaca-kaca. "Tapi
aku nggak kuat, Lia.."
Lia tergerak. la menyentuh
tangan Rikki di atas meja,
mencoba menenangkan.
Dengar! Aku bisa bantu nyiapinkata-katakata-kata, atau setidaknya
nemenin waktu kamu jujur. Aku
janji, aku nggak bakal ninggalin
kamu dalam masalah ini."
Rikki menatap Lia dengan
mata merah. Ada perasaan
campur aduk, lega karena
akhirnya bisa berbagi, tapi juga
takut pada konsekuensinya.
"Kenapa kamu peduli
banget, Lia?" tanyanya lirih.
Lia tersenyum tipis. "
Karena aku tahu rasanya
nyimpen rahasia besar
sendirian. Itu menyiksa. Dan
aku nggak mau lihat kamu
hancur karena itu. Lagi p**a,
aku juga sayang sama Jowy. Aku
nggak mau dia kaget tiba-tiba
tanpa persiapan. Kalau aku bisa
bantu biar semua lebih mudah,
aku akan lakukan."
Rikki menunduk lagi,
bahunya bergetar. Entah karena
menahan tangis atau sekadar
kelegaan. "Terima kasih, Lia...
Kamu orang pertama yang
benar-benar aku kasih tahu.
Selama ini cuma aku sama
Mama yang tahu, nggak ada
yang lain,"
Lia mengangguk. "Itu
artinya kamu percaya sama aku.
Dan aku bakal jaga kepercayaan
kamu. Tapi suatu saat nanti,
kita harus hadapi ini sama-sama.
..

Percaya deh, sembunyi
selamanya bukan jalan keluar.
Mereka terdiam cukup lama.
Hanya suara musik akustik di
kafe yang mengisi ruang. Lia
sesekali menatap keluar jendela,
sementara Rikki sibulk
menenangkan dirinya.
Akhirnya Rikki berkata,
Lia, aku minta satu hal. Tolong
jangan bilang dulu ke
siapa-siapa. Aku butuh waktu.
Aku harus mikir gimana
caranya, kapan waktunya tepat
Lia mengangguk mantap.
Aku janji. Rahasia ini aman
sama aku. Tapi aku harap kamu
juga siap, Rikki. Jangan kabur
lagi. Karena aku yakin, di balik
semua ini, Jowy bakal lebih
milih ngerti daripada marah."
Rikki tersenyum tipis,
meski masih lemah. "Semoga
aja kamu benar. "
di kafe kecil itu membuat
pikirannya sedikit kacau.
Lia tiba-tiba datang,
menanyakan sesuatu yang
selama ini ia simpan rapat-rapat.
Pertanyaan yang bisa membuat
semuanya berantakan kalau
tidak hati-hati... bahwa dirinya
adalah anak dari Indra, papa
Jowy.
..

Di sepanjang perjalanan,
Rikki menunduk, sesekali
menghela nafas panjang.
"Apa aku salah ngomong?
Apa Lia nanti bakal cerita ke
Dan siang itu, di kafe kecil
itu, dua orang duduk
berhadapan dalam diam,
menyimpan rahasia besar yang
bisa mengubah kehidupan
banyak orang. Lia tahu, badai
besar sedang menunggu. Tapi
setidaknya, ia sudah bersiap
untuk berdiri di sisi Rikki ketika
waktunya tiba.
Rikki melangkah p**ang
menuju rumah Rajendra dengan
langkah agak cepat. la sadar,
percakapannya dengan Lia tadi
Jowy?"pikirnya.
Namun ia menepis rasa
khawatir itu, karena Rajendra
masih membutuhkan
bantuannya. Bagi Rikki,
Rajendra bukan hanya kakek
Jowy, tapi juga sosok yang
seperti ayah baginya... orang
yang memberikan tempat
tinggal, perlindungan, dan arti
keluarga..
Begitu ia sampai di halaman
rumah besar itu, suara pintu
pagar berderit, dan dari arah
dalam terdengar suara yang
Ddk
sangat ia kenal.
"Rikki!" suara Jowy
memanggilnya dengan nada
bersemangat.
Rikki menoleh, ternyata
Jowy baru saja tiba dari kampus.
Rambutnya sedikit berantakan,
wajahnya berkeringat, tapi ada
senyum lebar yang khas.
Mereka pun berjalan bersama
menuju ruang tamu.
Rajendra sudah duduk di
kursi panjang, menunggu
keduanya. Seperti biasa, ia
tersenyum sambil mengelus
janggut tipisnya.
"Pas banget, kalian berdua
p**ang bareng. Duduk, ayo. Aku
pengen dengar cerita kalian hari
ini, " katanya pelan.
Jowy langsung duduk,
sementara Rikki ikut menaruh
jaketnya di sudut ruangan.
"Kek, aku tadi habis ketemu
sama anak kecil di samping
rumah Tante Dinda, " kata Jowy
membuka percakapan.
Rajendra mengangkat alis. *
Anak kecil? Siapa?"
"Namanya Sheryl," jawab
Jowy.
Begitu nama itu disebut,
Rikki refleks menegakkan
tubuhnya. Matanya melebar,
seakan tidak percaya dengan apa
yang ia dengar.
"Kamu bilang... Sheryl?"
tanya Rikki hati-hati.
"Iya, kenapa? Lo kenal?"
sahut Jowy penasaran.
Rikki terdiam sejenak,
menelan ludah. la lalu
menunduk, tangannya
mengepal di atas lutut. Rajendra
memperhatikannya, begitu juga
Jowy yang mulai curiga.
"Ada apa, Rik? Lo kelihatan
aneh banget," ujar Jowy.
Dengan berat hati, Rikki
menghela nafas panjang lalu
berkata, “Gue kenal dia, Jow.
Gue sama Vano yang dulu
nyelametin dia waktu diculik."
Kata-kata itu membuat
ruangan hening sejenak. Jowy
terkejut, matanya melotot tak
percaya.
"Apaaa?!" seru Jowy.
Sheryl pernah diculik?"
Rikki mengangguk
perlahan. "Iya. Dulu, ada
komplotan orang suruhannya
Rudi. Mereka bavwa kabur Sheryl
waktu dia p**ang sekolah.
Untungnya aku dan Vano lewat
jalan itu. Kami nekat lawan
mereka, dan akhirnya... ya itu,
Vano nemuin dia terikat di
mobil."
Jowy mengusap wajahnya
keras. “Astaga... Jadi Sheryl juga
korban Rudi? Gue kira cuma
beberapa orang dewasa yang
jadi sasaran kotornya. Ternyata
sampai anak kecil juga?"
suaranya bergetar, ada nada
marah dan sedih bercampur jadi
satu.
Rajendra menunduk,
wajahnya muram. “Rudi
memang sudah melampaui
batas. Banyak orang yang nggak
tahu betapa kejinya dia. Untung
kalian bisa selamatkan anak itu
Rikki menghela napas
panjang. "Cuma sayang... akunggaknggak pernah tahu kabar Sheryl
setelah itu. Aku juga nggak bisa
deketin keluarganya, takutnya
malah bikin masalah baru."
Jowy menatapnya dengan
serius. "Tenang, Rik. Gue baru
aja ketemu dia tadi. Dia
baik-baik aja, sehat, dan... jujur
aja, dia ceria banget. Nggak
kelihatan kayak anak yang
pernah ngalamin trauma begitu
Wajah Rikki langsung lega,
meski ada sedikit rasa haru. "
Syukurlah... syukurlah kalau
begitu." la mengusap
tengkuknya, berusaha
menyembunyikan senyum tipis.
Namun sesaat kemudian,
Rikki berkomentar lirih,
Sayang aja ya... dia masih SMP.
Padahal, kalau jujur nih, Sheryl
itu cantik banget, Jow.
Senyumnya manis, matanya
jernih. Anak itu punya aura
dia."
yang bikin orang pengen jagain
Jowy yang mendengar itu
langsung ngakak. la menepuk
bahu Rikki sambil
menggoyangkan kepala.
"Woy, Rik! Lo sadar nggak
sih, lo ngomong kayak gitu
kedengerannya gila. Sheryl
masih SMP, bro! Masih kecil
banget buat lo."
Rikki ikut tertawa malu,
meski wajahnya agak memerah.
"Ya kan gue cuma ngomong aja.
Gue kagum sama dia, tapigue
juga tahu batas lah... Gila aja
kalau gue beneran mikirin yang
aneh-aneh."
Jowy semakin terbahak. “
Yaudah, tunggu aja sampai dia
gede. Siapa tahu ntar jadi jodoh
lo, "
Rikki ikut tertawa keras,
sambil geleng-geleng kepala. "
Hmm, ntar keburu gue udah tua,
Jow! Bisa-bisa pas dia gede, gue
udah ubanan."
..

Keduanya pun tertawa lepas
bersama. Rajendra yang melihat
itu ikut tersenyum. Ia lega
melihat cucunya dan Rikki bisa
begitu dekat, seperti saudara.
Meski di balik tawa itu,
Rajendra tahu, masing-masing
dari mereka membawa rahasia
yang bisa mengubah segalanya
kapan saja.
Setelah tawa reda, Jowy
kembali bersandar ke kursi, lalu
menatap serius ke arah Rikki.
"Tapi bener, Rik. Gue
seneng lo cerita kayak gini. Jadi
gue bisa ngerti kalau Sheryl
pernah ngalamin masa lalu yang
berat."
Rikki menunduk,
senyumnya tipis. "Makasih,
Jow. Lo emang orang yang bisa
dipercaya. Semoga aja Sheryl
bisa terus ketemu orang-orang
kayak lo."
Rajendra menepuk lututnya,
memberi penekanan. “Kalian
berdua jangan pernah
remehkan arti sebuah
pertemuan... Anak kecil itu
mungkin punya peran besar
nanti, kita nggak pernah tahu."
Keduanya mengangguk
serius, meski dalam hati masih
ada rasa heran bercampur
penasaran. Sheryl, anak SMP
polos yang ternyata korban
Rudi, kini hadir kembali di
lingkaran hidup mereka.
Entah kebetulan atau
memang takdir, semuanya
seperti sudah diatur.
Dan di luar rumah itu, sore
mulai turun. Angin berhembus
lembut, membawa bayangan
masa lalu yang tak pernah
benar-benar hilang dari
kehidupan mereka.
...

Siang itu, suasana rumah
terasa tenang. Angin dari
jendela ruang tamu masuk
perlahan, membawa aroma
masakan yang masih hangat di
meja makan. Amel baru saja
muncul dari dapur, tersenyum
ketika melihat anak-anak muda
di ruang tamu terlihat akrab.
"Wah, rame sekali ya.
Senang lihat kalian bisa kumpul
di sini," ucap Amel dengan nada
hangat.
Rikki yang sedari tadi
duduk bersama Rajendra sedikit
kikuk. Ia masih merasa ada jarak
dengan Amel, apalagi setelah
pertemuannya dengan Lia di
kafe tadi siang. Namun ia tetap
tersenyum sopan.
Amel kemudian menoleh
pada Jowy. "Nak, ayo makan
dulu. Mama sudah siapkan
makanan. Ajak Rikki juga.
Jowy berdiri, menepuk
pundak Rikki dengan ramah.
Ayo, Rik. Dah laper nih..."
Namun Rikki cepat-cepat
menggeleng. "Nggak usah,
Tante. Saya barusan makan di
luar. Masih kenyang banget.
Terima kasih ya."
Amel mengangguk paham.
Kalau gitu nggak apa-apa. Jowy,
kamu temani Mama ke meja
makan dulu, ya."
"Baik, Ma," sahut Jowy lalu
berjalan ke arah ruang makan,
meninggalkan Rikki dan
Rajendra di ruang tamu.
Rajendra sendiri tidak
beranjak. la menatap serius ke
arah Rikki. “Kita memang harus
bicara, Rikki. Ada hal penting
yang nggak bisa ditunda,"
Rikki menarik nafas
dalam-dalam. Hatinya gelisah,
tetapi ia berusaha tenang. “Iya,
saya tahu, Tuan. Saya siap."
Di ruang makan, Jowy baru
saja duduk ketika ia tiba-tiba
membuka percakapan dengan
nada pelan, seolah takut ada
yang mendengar.
"Ma..." panggilnya pelan.
Amel menoleh sambil
menuangkan sayur ke piring.
Iya, Nak?"
Jowy terlihat ragu. Matanya
menatap ke arah meja sebentar,
lalu kembali ke wajah Amel.
Mama... kenal sama seseorang
bernama Nisa?"
Pertanyaan itu membuat
tangan Amel berhenti sejenak.
Gayung sayur yang ia pegang
terhenti di udara, seakan waktu
membeku. Wajahnya kaku
sesaat sebelum ia kembali
menaruh sayur ke piring dengan
tenang.
"Nisa?" ulang Amel dengan
nada datar. “Dari mana kamu
dengar nama itu?"
Jowy menghela napas. “Aku
dengar waktu Lia sama
mamanya, Tante Rani, ngobrol.
Mereka kayaknya bisik-bisik.
Aku nggak sengaja dengar.
Tante Rani nyebut nama itu
sambil bilang soal orang yang
nganter Mama kemarin.
Katanya... Nisa itu temen
sekolah Mama dulu. Sama kayak
Tante Rani."
Amel menegakkan
punggungnya, matanya sedikit
membesar. "Tunggu.. yang
nganter Mama kemarin itu
Rikki, kan? Kenapa jadi disebut
Nisa?"
"Itu juga yang bikin aku
bingung," jawab Jowy cepat. "
Aku rasa aku salah dengar, tapi
aku jelas dengar Tante Rani
nyebut nama Nisa. Terus, aku
lihat Tante Rani kayak agak
gugup pas ngomong gitu."
Keheningan turun sesaat di
meja makan itu. Hanya suara
sendok beradu dengan piring
yang terdengar, tapi itu pun
cepat mereda. Amel menunduk,
pikirannya kacau.
Nama itu... Nisa, seperti
pintu masa lalu yang selama ini
ia kunci rapat. Ia tahu betutt
siapa Nisa. Bukan teman
sekolah, tapi lebih dari itu,
seseorang yang pernah menjadi
bagian dari cerita pahit rumah
tangganya dengan Indra.
..

Namun, Amel tidak bisa
langsung menjawab. la takut.
Kalau ia menjelaskan, rahasia
itu bisa memicu pertengkaran
baru, bisa membuat Indra
kembali teringat luka lama, bisa
membuat Jowy kehilangan
kepercayaan pada orang tuanya.
Amel mencoba
menenangkan diri. "Mungkin
Tante Rani salah sebut. Kamu
tahu sendiri kan, kadang kita
ngobrol bisa ke mana-mana.
Jangan langsung mikir
macam-macam."
Tapi Jowy menggeleng.
Aku nggak yakin, Ma. Kayaknya
Tante Rani nyebut nama itu
bukan asal. Lagian... kenapa dia
harus gugup? Biasanya Tante
Rani cerita apa adanya."
Amel terdiam lagi. Dalam
hatinya, ia ingin sekali
menanyakan langsung pada
Rani kenapa nama itu
disebut-sebut. Kenapa
dihubungkan dengan dirinya.
Apa mungkin Rani tanpa
sengaja membuka sesuatu yang
seharusnya terkubur?
Sambil menatap piringnya
yang kini terasa hambar, Amel
merenung. Apa Rani
benar-benar bicara tentang Nisa. atau dia sebenarnya
membicarakan sesuatu yang
lain?
Kecurigaan itu semakin
besar karena Amel ingat jelas,
hari itu Rikki yang
mengantarnya. Tidak ada
hubungannya dengan Nisa. Jadi,
kenapa Rani tiba-tiba
melibatkan nama itu?
Di sisi lain, Jowy semakin
penasaran. la melihat Mamanya
jelas-jelas gugup meski berusaha
menyembunyikan. "Mama...
sebenarnya siapa Nisa itu?"
Pertanyaan itu membuat
Amel kembali tertekan. Ia ingin
berkata jujur, tapi bibirnya
seperti terkunci. Yang keluar
hanyalah sebuah senyum tipis
yang dipaksakan."Sudahlah, Nak. Kamu
jangan terlalu mikirin itu.
Nggak penting."
Tapi jawaban itu justru
membuat Jowy semakin yakin
ada sesuatu yang
disembunyikan. la menatap
Amel taj # , namun ia memilih
diam dulu. Ia tahu kalau
mendesak, Mamnanya malah
akan menutup diri.
.

Sementara itu, diruang
tamu, Rikki dan Rajendra masih
membicarakan urusan mereka.
Suara mnereka tidak terdengar
jelas sampai ke ruang makan,
tapi Amel bisa merasakan ada
sesuatu yang disimpan anak itu.
Dalam hati, Amel makin
bingung. la tahu Jowy akan
terus mencari jawaban tentang
Nisa. Ia juga tahu cepat atau
lambat, Rani pasti akan ditanyai
lagi.
Dan kalau itu terjadi,
rahasia masa lalu yang sudah
bertahun-tahun ia kubur bisa
saja terbongkar.
Makan siang itu berakhir
tanpa banyak bicara. Jowy diam
dengan pikirannya sendiri,
sementara Amel menahan
banyak hal dalam hati.
Namun di dalam benaknya,
hanya ada satu pertanyaan yang
terus berulang...
Apa benar Rani sengaja
membuka nama Nisa? Atau ada
seseorang di balik semua ini
yang ingin mengungkit masa
lalu Indra?
"Ah.. nggak mungkin Rani
kayak gitu," pikirnya.

Note:L..i..k..e..mu penyemangat Mimin ❤️ 💙 ❤️ 💙 ❤️ ❤️💙 ❤️ 💙 ❤️ ❤️ 💙 ❤️ 💙 ❤️

Bab.343-346 "Hei, Ikwan! Mana si Jaka,temanmu itu? Kok dia nggakpernah muncul-muncul?" tanyaAgus dengan nada sinis,matan...
22/10/2025

Bab.343-346 "Hei, Ikwan! Mana si Jaka,
temanmu itu? Kok dia nggak
pernah muncul-muncul?" tanya
Agus dengan nada sinis,
matanya menyorot t # penuh
sindiran.
Ikwan hanya menatap
piring-piring di hadapannya
tanpa menjawab, jari-jarinya
terus menari di atas wastafel
yang penuh dengan piring kotor
seolah tak pernah mendengar.
Kesabaran Agus terkikis,
suara suaranya berubah menjadi
lebih taj # , hampir menggema
di ruangan itu.
...

"Heh, Wan! Jawab d**g,
susah banget ya? Jangan bikin
aku makin kesal!" desisnya,
napasnya memburu karena
emosi yang membara.
Tapi Ikwan tetap membisu,
matanya terfokus, tidak
sedikitpun menoleh.
"Jangan ganggu aku kalau
nggak mau aku laporin ke Pak
Arif," ancamnya dingin, nada
suaranya seperti pis # yang siap
menusuk.
Agus tertawa sinis,
meremehkan, "Ho ho ho, berani
juga kamu ngomong gitu ke aku.
Silakan saja laporin, aku cuma
nanya, bukan mau intimidasi
kamu."
Keheningan mengerikan
menyelimuti ruangan. Agus
semakin naik darah, tangannya
sudah terangkat ingin
men # . Tapi sebelum sempat
terlontar, tiba-tiba dari
belakang, suara pak Arif
menggema seperti petir di
tengah badai.
"Agus, apa-apaan kamu itu?
!" Pak Arif meledak, suaranya
menggema di ruangan, tajam
menusuk hingga ke tulang.
Mendengar bentakan itu,
tangan Agus yang tadi hendak
melayang, seketika turun
secepat kilat, seolah disentak
petir di tengah badai.
"Ah, enggak kok, Pak. Itu...
di bahu Ikwan tadi ada kecoa, ya
kecoa," Agus menjawab
terbata-bata, wajahnya berubah
pucat, canggung seperti remaja
yang ketahuan berbuat nakal.
Pak Arif menatap tajam,
matanya membara. Wajahnya
memerah, tangan yang
mengepal menggenggam
kemarahan yang sudah tak
terbendung lagi.
"Semakin di diamkan,
makin menjadi aja, ya Gus. Ikut
saya sekarang juga!" Agus
berjalan tertatih di belakang Pak
Arif.
Dari sudut mata, Ikwan
mengintip, senyumnya
mengembang tipis, yakin bahwa
kini hukuman bakal jatuh tanpa
ampun.
"Kamu pikir sekarang sudah
jadi jagoan, ya?" suara Pak Arif
bergetar, penuh peringatan
yang tak terselubung. Agus
hanya menundukkan kepala,
menelan pil rasa malu yang
pahit.
"Kalian kerja di sini sebagai
tim, bukan ajang pamer keb*
dohan. Seharusnya saling
mendukung agar pekerjaan
cepat selesai, bukan saling
menjatuhkan," tegur Pak Arif
dengan nada berat,
mengh # seperti pal di
d # .
"Ma-maaf, Pak," Agus
akhirnya mengeluarkan suara
yang nyaris tak terdengar,
membavwa beban kesalahan
yang menyesakkan.
"Maaf? Kamu kira ucapan
itu bisa menghapus semua luka
yang Jaka derita sekarang,
terbaring tak berdaya di rumah
sakit?!" Suara Pak Arif meledak,
tajam seperti belati yang
mengiris hati Agus. Tatapan
matanya membara, tak
menyisakan ruang untuk
bantahan. Agus terpaku,
bingung sekaligus terkejut
dalam diam.
"Dari mana Pak Tua ini tahu
kalau aku yang membuat Jaka
terluka?' pikirnya dengan
ketakutan yang merayapi tulang
Sumsum
"Kamu! Ya, kamu, Agus!
Aku sudah tahu kebusukanmu
selama ini. Dendammu pada
Jaka jelas tercermin dari setiap
ulahmu yang melewati batas!
Apa salah Jaka hingga harus jadi
sasaran amarahmu yang tak
berujung? Sekarang dia
berjuang untuk hidupnya di
rumah sakit, tapi kamu malah
mengusik Ikwan yang tak
bersalah!" Amarah Pak Arif
menggema penuh taring,
memenjarakan Agus dalam
kata-kata yang melumpuhkan.
Agus hanya mampu terpaku,
seperti tersudut dalam jebakan
kebenaran yang tak bisa ia
elakkan. Semua tuduhan itu
menusuk jauh, melipat dirinya
dalam kebisuan yang pekat.
"M'mpus aku! Pak Arif pasti
memecatku!" Hati Agus
berteriak dalam kepanikan yang
membakar.
"Tunggu sebentar!" Pak Arif
melontarkan kalimat yang
menusuk lebih dalam daripada
pedang.
"Kemasi barangmu sekarang
juga! Hari ini juga kamu saya
pecat! Kekerasan di tempat kerja
itu tidak akan pernah saya
toleransi!" Suaranya memekik,
menggema di seluruh ruangan
seakan mengadili jiw Agus.
Awalnya kepala Agus
menunduk, tenggelam dalam
rasa malu dan takut, tapi dengan
sekejap ia mend**gakkan
wajahnya penuh keberanian
yang dipaksa.
..

"Ta-tapi, Pak," suaranya
gemetar mencoba membela diri,
namun langsung dipotong.
"Tidak ada alasan atau
pembelaan! Kamu yang
memulai masalah, kamu yang
harus bertanggung jawab!" Pak
Arif melangkah mendekat,
nadanya men # tanpa amnpun.
"Beruntung aku tidak
melaporkanmu ke poli # karena
sudah melukai Jaka.
Seharusnya kamu berpikir
sebelum bertindak, bukan
menghancurkan segalanya!"
Agus hanya bisa
mengangguk lesu, tapi
tatapannya menyiratkan bara
amarah yang tak terkendali.
Kebencian yang membara,
entah itu untuk Pak Arif., atau
Jaka, merambat seperti api
dalam dirinya. Dipecat tanpa
hormat, rasa sakit dan dendam
itu mengoyak jantungnya,
membuat dunia seolah runtuh
di depan matanya.
Agus melangkah lunglai
keluar dari ruang pak Arif,
dadanya berat penuh konflik. la
sadar kesalahannya, tapi
amarah dan benci menggerogoti
hatinya, membesar bagai bola
salju yang menggulung tanpa
henti, menguasai setiap denyut
jantungnya.
.

Dengan gerakan kasar, ia
menanggalkan celemeknya,
wajahnya membatu tanpa
setitik kehangatan dan
senyuman. Tas kerja di
tangannya terasa seperti beban
terakhir yang harus ia bawa.
Tiba-tiba, suara Radit yang
penuh kekhawatiran memecah
keheningan,
"Bang, ada apa? Kenapa
wajahmu seperti itu?"
Agus takmenoleh, tak
berkata sepatah kata pun.
Langkahnya semakin cepat
menjauh dari ruang cuci piring.
Radit berusaha mengejar, tapi
suara pak Arif yang tegas
menghentikan langkahnya,
"Biarkan dia pergi! Kamu
kembalilah bekerja!"
Dengan berat hati, Radit
mengurungkan niat mengejar,
kembali mencuci piring dengan
pikiran penuh tanda tanya. Apa
sebenarnya yang tengah
menggulung badai di hati Agus?
Pak Arif melangkah
mendekat, matanya menatap
tajam penuh teguran.
"Kamu pasti bertanya-tanya,
kenapa dia harus keluar? Ini
alasannya." Suaranya berat,
menggema di ruang yang seakan
membeku oleh ketegangan.
"Saya takpernah mentolerir
kekerasan di tempat kerja.
Masalah, apapun itu, harus
diselesaikan dengan kepala
dingin, bukan dengan puk*lan.
Kalau amarah tak terkendali,
carilah jalan lain untuk
melampiaskannya, tapi bukan
di sini, bukan di antara kita yang
berusaha membangun ini
bersama!" Lanjutnya.
Radit menunduk dalam,
menanggung rasa bersalah yang
menghantam dadanya. la sadar,
puk*lan yang pernah ia
layangkan kepada Jaka, yang
dipicu pengaruh Agus, adalah
sebuah noda yang tak mudah
dilupakan.
.

Sementara itu, Ikwan
mengamati dari kejauhan,
senyum tipis terukir di sudut
bib # . Ada kepuasan yang
menghangatkan hatinya,
melihat Agus, musuh bebuyutan
mereka, terlempar keluar
dengan cara yang tak pernah dia
harapkan, tanpa
kehormatan.
Dunia mereka berubah, dan
Ikwan tahu, pertarungan belum
berakhir.
Sementara itu, Marvin yang
masih saja membujuk sang istri
pun kalah telak. Keyla masih
dengan pendiriannya yang tak
mau punya anak lagi.
Tak hilang akal, ia pun
mendekat kearah anak
perempuannya, Khanza.
"Dek, Khanza mnau nggak
punya adik?" Bisik Marvin.
Khanzapun sontak
langsung menggeleng cepat.
"Kenapa?" Tanya sang ayah.
"No papah. Khanza sudah
punya dua kakak. Jadi untuk
apa ada adik?" Ujarnya polos.
"Kan nanti Khanza bisa
main bareng sama adik. Adik
Khanza nanti perempuan.
Bujuk Marvin lagi.
"No papah. Khanza tidak
mau!" Ucapnya lagi.
Marvin pun hanya bisa
menghela nafasnya panjang
mendengar ucapan bidadari
kecilnya. la pun kalau mengalah
dan memilih untuk menemani
anak bungsunya bermain.

***
Amir terlihat
mondar-mandir di depan pintu
rumah, rasanya dada sesak
penuh pikiran yang tak mau
pergi. Billy tiba-tiba muncul dan
memanggilnya.
"Mir," suaranya membuat
Amir sedikit terkejut.
"Eh iya, Kak. Ada apa?"
tanya Amir, berusaha
menyembunyikan kegelisahan
di wajahnya.
Namun, sepertinya Billy
bisa menebak.
"Kamu kenapa, Mir?
Sepertinya sedang memikirkan
sesuatu?" tanyanya lagi.
Amir menarik napas
panjang dan
menghembuskannya kasar.
"Itu, Kak. Mang Yanto
tiba-tiba izin p**ang ke
Sumatera. Katanya ibunya
mendadak kejang dan nggak
sadarkan diri. Mang Yanto
dapat kabar dari tetangganya,
dan sekarang ibunya sudah
dibawa ke rumah sakit. Aku
nggak tahu gimana harus
menghadapi ini." Amir mencoba
mengendalikan rasa panik di
dalam dirinya
..

"Besok pagi-pagi, sayur
harus dikirim ke pasar, tapi
nggak ada yang bisa gantiin
Mang Yanto. Semua pekerja lain
juga punya urusan
masing-masing, Kak. Aku
benar-benar bingung."
Lanjutnya.
Hati kecilnya merasa sedih
memikirkan keadaan Mang
Yanto dan ibunya, tetapi tugas
yang menumpuk juga
menghantuinya tanpa henti.
Sementara itu, Billy hanya
berdiri diam. Raut wajahnya
mulai berubah, mungkin dia
juga merasa tak berdaya karena
tidak tahu siapa yang bisa
dimintai tolong. Amir
memandang sang kakak ipar
dengan harapan tipis, berharap
ada solusi, meskipun ia tahu
keadaan ini rumit.
"Mana mang Yanto juga tak
tahu kapan dia akan kembali ke
sini. Dulu dia pernah bilang
kalau ibunya sakit parah, tapi
aku tidak pernah menyangka
akan sejauh ini." Amir menghela
napas panjang, matanya penuh
kegelisahan.
Billy hanya mampu
menarik nafas berat, hatinya
ikut bertanya tanpa
menemnukan jawaban.
Kebingungan dan
ketidakpastian itu bagai awan
gelap yang menggantung di
kepala mereka.
Tiba-tiba, ponsel Billy
bergetar. Nama Jaka'
terpampang jelas di layar.
"Siapa, Kak?" Amir menatap
penasaran.
Billy mengusap wajahnya
sejenak, lalu menjawab dengan
suara berat, "Jaka Mir. Teman
lama satu kerjaan waktu di resto
Amir mengangguk pelan,
tapi dalam hatinya, tanda tanya
dan harapan berputar seperti
badai yang tak bisa ia tahan.
"Halo assalamualaikum
Jaka," ucapnya di ujung telepon.
"Wa'alaikum salam bang
Billy. Gimana kabarnya bang?
Sehat?" Tanya Jaka dibalik
telepon.
"Alhamdulillah sehat Jaka.
Kamu sendiri bagaimana?
Sehat?" Tanya balik Billy.
"Alhamdulillah saya sehat,
Bang. Maaf banget waktu abang
menikah, aku nggak bisa hadir.
Aku udah coba minta cuti, tapi
cuma dikasih sehari, sedangkan
perjalanan bolak-balik butuh
waktu lama. Maaf ya, Bang,"
suara Jaka serak, hati terasa
berat di setiap kata yang keluar.
Billy mengangguk pelan,
mencoba menyembunyikan rasa
iba.
"Nggak apa-apa, Jaka. Terus,
gimana kerjaanmu sekarang?
Lancar?" Tanya Billy.
Jaka menghela napas
panjang, nada suaranya jatuh
tak bersemangat.
"Aku.. sudah keluar, Bang,
dari resto."
Mendengar itu, wajah Billy
membelku seketilka.
"Keluar? Kapan?" Tanyanya
dengan ekspresi terkejut.
"Dua hari lalu," jawab Jaka
dengan lirih.
"Aku ribut sama Agus. Dia
cari-cari masalah sampai aku
harus berakhir di rumah sakit."
Lanjutnya.
Detik itu juga, napas Billy
tercekat.
"Astaghfirullah. Agus
sampai nekat melukaimu?
Kenapa dia sampai se-gil" itu?"
Tanyanya.
Jaka menatap kosong ke
depan, matanya
menggambarkan kepedihan
yang tak mudah diungkap.
"Kayaknya ada dendam
lama, Bang. Dan beberapa hari
sebelum kejadian, dia pinjam
uang ke aku tapi aku tolak.
Setiap hari dia datang lagi,
minta dengan jumlah lebih kecil,
tapi aku tetap nggak kasih.
Mungkin itu yang buat dia
meledak." Jawab Jaka.
Billy merasakan dingin
menjalar di punggungnya.
"Gil, sampai segitunya dia?"
Billy samnpai menggelengkan
kepalanya saking tak pahamnya
dengan apa yang dipikirkan oleh
Agus.
Jaka hanya mengangguk
pelan, luka bukan hanya di fisik
tapi juga di hatinya. Dunia
terasa runtuh di hadapannya,
dan jalan keluar seakan tertutup
rapat.
"Makanya aku memilih
keluar dari resto itu, Bang.
Kalau aku tetap bertahan,
bisa-bisa ny*waku melayang
dibuatnya,
.

Jaka melontarkan kata-kata
itu dengan suara berat, matanya
menatap kosong ke ujung jalan.
Ada kepedihan yang dalam
tersembunyi di balik kalimat itu,
sebuah keputusan yang penuh
luka tapi tak bisa ditolak. Billy
mengangguk pelan, seolah
merasakan gejolak dalam hati
Jaka.
"Lalu, kamu kerja di mana
sekarang?" Tanya Billy.
Jaka menarik napas dalam,
suaranya serak ketika
menjawab, "Entahlah, Bang...
Aku belum dapat kerjaan baru.
Malah tadi aku sempat telpon
Abang, ada sesuatu yang ingin
aku sampaikan." Ucapnya.
Billy menatap penuh tanya.
"Apa itu, Jaka?"
Dengan suara yang nyaris
berbisik, hampir seperti takut
kata-katanya terbang hilang,
Jaka berkata, "Kalau di tempat
Abang ada lowongan, aku mau,
apa saja, Bang. Yang penting
bisa makan dan kirim uang buat
Ibu."
Ada kepasrahan sekaligus
harapan yang terpatri dalam
setiap kata itu. Seakan seluruh
dunia terjepit dalam satu
pilihan, bertahan dalam
kesengsaraan atau mencoba
keberanian yang baru.
Billy melirik sekilas ke arah
Amir yang dudukdi teras, asyik
memainkan ponselnya tanpa
menatap sekeliling.
"Bosku lagi butuh supir
dadakan. Soalnya supir angkut
sayur yang biasanya jaga,
tiba-tibap**ang kampung.
Ibunya sakit parah, " jawab Billy
pelan, seolah berat
mengucapkannya.
Jaka menatap
pemandangan di depannya
dengan harap, matanya
berbinar menahan kecewa,
Emm... emang gak ada yang lain,
Bang? Mungkin kernetnya bisa,
ya?"
Billy menggeleng, raut
wajahnya datar. "Kalau soal itu,
aku gak tahu, Jaka. Aku cuma
orang yang disuruh nyampein,
bukan bosnya.
Jaka menghela napas, tapi
semangatnya belum padam.
.

"Oh iya, Bang. Nanti aku
coba tanya Ikwan. Dia pesan,
kalau ada kerjaan di daerah
Abang, dia mau ikut. Soalnya
dia kan nmantan supir angkot.
Nanti aku tanya, siapa tahu dia
mau ambil kesempatan ini."
Meski kata-katanya terdengar
biasa, dalam hati Jaka bergolak.
Ada harapan yang terus
dipupuk, sekeras apapun
kenyataan mencoba
meredupkan nya
"Baiklah, nanti aku coba
bilang ke bosku, siapa tahu ada
pekerjaan untukmu, Jak," kata
Billy, dan senyum yang tadi
memudar di wajah Jaka
perlahan merekah kembali,
seperti embun yang disinari
mentari pagi.
"Kalau begitu, aku pamit
dulu, Bang. Aku harus beresin
kosan, soalnya udah beberapa
hari aku tinggal di rumah sakit,"
ujar Jaka dengan suara yang
masih berat, tapi tekad di
matanya mulai menyala.
Billy mengangguk pelan, "
Hati-hati ya di sana, Jak."
"Iya, Bang.
Assalamualaikum," jawab Jaka
penuh harap.
"Wa'alaikum salam," balas
Billy sebelum menutup telepon.
Billy menatap layar ponselnya,
lalu melangkah menghampiri
Amir yang duduk di sofa.
"Mir, aku ada kabar
untukmnu," katanya sambil
duduk.
"Ada apa, Kak?" tanya Amir,
menatap penuh penasaran.
"Tadi Jaka bilang, ada
temannya yang nyari kerjaan.
Mantan supir angkot katanya.
Semoga aja temannya mau," ujar
Billy dengan harapan yang
mulai tumbuh.
Amir menarik napas
panjang, "Semoga, Kak. Soalnya
aku bingung kalau harus antar
sendiri ke pasar. Pekerjaanku
gak bisa ditinggal." Billy
mengangguk, hatinya mengerti
beban teman sebentar lagi
mungkin punya secercah
harapan. Di antara
ketidakpastian, mereka berdua
menunggu keajaiban yang
mungkin datang tanpa diduga.
"Kalau masih ada lowongan,
aku minta tolong padamu untuk
kerjaan si Jaka. Kasihan dia,
baru saja keluar dari resto. Dia
juga punya tanggungan ibunya
yang sakit di kampung." Ucap
Billy lagi.
"Ya kalau temennya si Jaka
mau menggantikan mang Yanto,
ya sekalian saja si Jaka jadi
kernetnya kak. Tapi itu kalau
temennya Jaka mau ya kak,
soalnya kalau di kebun sudah
banyak orang yang kerja," jawab
Amir.
"Baiklah kalau begitu, nanti
aku sampaikan ke si Jaka, " ucap
Billy dan Amir pun
mengangguk.

***
Jaka terb # lunglai di
atas kasur, tatapannya kosong
menembus langit-langit kamar
yang sepi. Ribuan pikiran
mengobrak-abrik kepalanya,
membuat d # sesak seolah
ditindih beban dunia. la tahu,
keluar dari resto Garuda berarti
mengorbankan segalanya,
pendapatan yang menjadi
tumpuan hidup dan harapan
terakhir untuk meng #
ibunya. Namun, bertahan di
sana pun bukan tanpa derita.
Agus yang terus mnengusik,
seperti bayang-bayang kelam
yang tak pernah mau pergi,
membuatnya terkepung dalam
penderitaan yang tiada henti.
Hembusan napasnya yang
berat seperti aliran sungai deras,
menandakan betapa rapuhnya
jiwa yang tengah
terombang-ambing oleh realita
keja # .
..

"Bagaimana aku bisa kirim
uang untuk berobat ibu jika tak
lagi bekerja?" gumamnya
dengan suara pilu, tersembunyi
di balik sunyi malam.
Mengakuinya kepada ibu
hanyalah menambah luka,
karena ibu sudah renta dan
tubuhnya renta oleh penyakit.
Jaka memilih merengkuh
kesunyian, menahan segala rasa
sakit yang menggerogoti
hatinya, sendiri, tanpa pernah
menceritakan penderitaan
terdalam yang mengoyak
jiwanya.
"Maafkan aku, Bu,"
suaranya lirih, nyaris patah.
Sebuah tetes cairan bening
merayap perlahan dari sudut
matanya, membasahi p**i yang
mulai panas.
Jaka merasakan d # sesak,
seolah batu besar menekan
jantungnya hingga sulit
bernafas. la mencoba
menenangkan diri,
memejamkan mata, berharap
beban di hatinya bisa mereda.
Namun, tiba-tiba ponselnya
berdering, memecah
keheningan yang menc # .
Layar menampilkan nama 'Bang
Billy'. Dahi Jaka berkerut,
mengintipkan keraguan, lalu
senyum tipis merekah di
bibirnya. Mungkin, pikirnya,
ada secercah harapan di ujung
telepon itu.
"Assalamualaikum bang
Billy?" suaranya penuh tanya.
"Wa'alaikum salam, Jak.
Aku sudah bicara sama bos soal
lowongan buat kamu tadi,"
jawab Billy dengan nada hangat
dan penuh harapan.
Jaka menelan ludah,
semangat membara menerobos
segala keraguan.
"Benarkah, Bang? Ada
lowongan untukku?" tanyanya,
suara bergetar oleh antusiasme
yang sulit dibendung. Dalam
keputusasaan yang pekat,
harapan kecil itu tiba-tiba
bersinar, menyalakan api baru
dalam d # yang hampir padam.
"Kalau Ikwan mau jadi supir
angkut sayur, kamu harus siap
jadi kernetnya. Itu perintah bos
" kata Billy dengan suara tegas,
tatapannya men, # penuh
harap.
"Kalian harus berangkat
malam ini juga. Besok pagi buta,
sayur itu harus sudah ada di
pasar-pasar. Bisa nggak?" Lanjut
Billy.
Jaka menarik napas
dalam-dalam, matanya tampak
berpikir keras.
"Nanti aku coba hubungi
Ikwan dulu, Bang. Kalau dia
setuju, langsung aja kirim
alamat lengkapnya. Kami akan
berangkat segera setelah Ikwan
p**ang kerja." Ucap Jaka.
Billy menghela napas, ada
beban berat di suaranya.
"Baiklah, Jaka. Jangan lupa
kabari aku secepatnya tentang
kesiapan Ikwan. Ini bukan
permintaan, tapi keharusan."
Jaka mengangguk, berusaha
menyembunyikan
kegelisahannya.
"Iya, Bang. Jangan lupa
kirim alamatnya juga ya." Ujar
Jaka mengingatkan.
"Hmm, aku tutup dulu ya
teleponnya. Assalamualaikum,
ucap Billy dengan nada berat,
seolah menanggung beban besar
di pundaknya.
"Wa'alaikum salam, Bang,"
jawab Jaka, suara di ujung sana
serasa menyimpan kecemasan
yang talk terucap.
Seperti terpaan angin segar
di tengah teriknya matahari
yang membakar, Jaka
buru-buru mencari nomor
Ikwan dan segera menekan
tombol dial. Suara nada
panggilan bergema, berulang
kali, tapi tidak ada jawaban.
"Akh, dia masih sibuk kerja
di jam segini," gumamnya
kecewa dalam hati. Jaka pun
segera mengetik pesan dengan
jantung berdebar, berharap
Ikwan segera merespons,
.

[Wan, kamu mau nggak jadi
supir angkut sayur di tempat
kerja bosnya Bang Billy? Kalau
iya, kita berangkat bareng.
Kamu resign hari ini saja,
karena setelah ini kita harus
langsung ke kampung bosnya.
Besok pagi-pagi kita sudah harus
kirim sayur ke beberapa pasar
sekaligus.]
Pesan itu keluar dari
genggaman Jaka dengan
harapan besar, seolah titik awal
dari perjuangan mereka yang
akan segera dimulai.
Jaka bergerak cepat,
mengemas beberapa stel
pakaian seadanya ke dalam tas
kecilnya. Hatinya berdebar tak
menentu, seperti terseret arus
gelisah yang tak bisa dihentikan.
Tanpa membuang waktu, ia
melangkah tergesa menuju resto
Garuda, bertekad menunggu
Ikwan keluar dari sana.
Waktu berjalan lambat.
Satu jam lebih dilewati dengan
penantian yang menyesakkan
dada. Ketika Ikwan akhirnya
muncul, hendak menaiki motor,
Jaka menyela langkahnya
dengan suara yang agak
meninggi, penuh harap dan
putus asa.
"Ikwan!" serunya, suaranya
bergetar namun dipaksa keras.
Ikwan langsung
menghentikan sepeda
motornya, kaget dan cepat
memandang ke arah Jaka yang
berdiri di depan, melambaikan
tangannya agar Ikwan bisa
melihatnya.
..

"Jaka," jawab Ikwan pelan,
seolah tidak percaya melihat
sOsok itu.
Jaka hanya mengangguk,
mata mereka bertemu penuh
arti. Dengan langkah cepat,
Ikwan menghampiri, suaranya
bergetar saat bertanya.
"Kamu kenapa ada di sini,
Jak?" tanya Ikwan dengan suara
penuh tanya, matanya menatap
penuh penasaran.
Jaka membalas, nada
suaranya sedikit dingin, "Kamu
gak baca pesanku, ya?"
Ikwan menggeleng,
buru-buru merogoh saku
celananya dan membuka ponsel,
menemukan pesan yang belum
sempat dibacanya. Jantungnya
berdegup lebih cepat begitu
membaca pesan tersebut.
"Serius, kamu, Jak?" tanya
Ikwan dengan suara nyaris
bergetar.
Jaka mengangguk mantap.
"Serius, Wan. Makanya aku
datang langsung ke sini. Kalau
kamu baru buka pesanku
sekarang, berarti kamu belum
minta resign ke Pak Arif, kan?"
Ikwan menghela napas
panjang, matanya mulai
berkaca-kaca.
"Astaga... Ya sudah, kamu
harus kembali sekarang dan
minta resign hari ini juga!"
Ucapnya lagi.
"Tunggu-tunggu Jak," ucap
Ikwan.
Jaka menatap Ikwan tajam,
lalu mengecilkan matanya.
"Tunggu apa lagi Wan?
Bukannya kamu mau kerja sama
Bang Billy? Dia sudah nawarin
kamu jadi supir angkut sayur.
Kamu kan mantan supir angkot,
harusnya kamu mau, d**g. Atau.. jangan-jangan kamu gak mau
?" Ucapan Jaka seperti mengiris
rasa hati Ikwan, penuh
tantangan yang sulit dijawab.
"Hah sudahlah. Kita ke
kontrakanku saja." Ajak Ikwan.
Dengan perlahan, sepeda
motornya melaju menjauhi
Jaka.
"Lah, itu anak bukannya
masuk lagi ke dalam dan minta
resign pada pak Arif, kok malah
nyelonong pergi, " kesal Jaka
yang hanya menatap kepergian
Ikwan.
la pun lalu menarik gas
yang ada ditangannya dan
langsung mengejar Ikwan.
"Wan, kita mau kemana?
Harusnya kamu minta resign
dulu dari pak Arif." Ucap Jaka
sedikit berterialk karena angin
sore ini cukup kencang
mengganggu telinga para
pengendara sepeda motor.
"Ke kontrakanku dulu, kita
bahas ini disana." Ujar Ikwan.
Lima belas menit kemudian,
mereka pun sanpai di
kontrakan Ikwan. Mereka pun
turun dari sepeda motor mereka
masing-masing dan duduk di
teras depan kontrakan Ikwan.
"Kamu ini gimana sih Wan,
bukannya bilang mau resign
sama pak Arif, eh kita malah
kesini!" Kesal Jaka.
"Jaka, aku belum punya
asalan untuk resign mendadak.
Sudah, lebih baik kamu tunggu
aku dulu. Aku mau bersihin
badanku dulu lalu mengemas
barang-barangku. Setelah itu
kita langsung berangkat ke
kampung bosnya bang Billy.
Besok pagi baru alku telepon pak
Arif dan berikan alasan yang
tepat untuk resign. Kalau
mendadak seperti ini, terdengar
tak logis, Jak." Ujar Ikwan yang
juga sedikit kesal pada Jaka
karena Jaka terus mendesaknya.
Jaka pun mengangguk
mengerti. Tak membuang
waktu, Ikwan lalu masuk untuk
membersihkan dirinya dan juga
mengemas barang-barangnya.

***
Tak lama Ikwan mandi dan
merapikan pakaiannya, tapi
dengan suara lelah, ia meminta
pada Jaka agar perjalanan ke
kampungnya ditunda hingga
selepas magrib. Jaka
mengangguk pelan, mengerti
betapa berat hari yang sudah
dipikul Ikwan. Di sela waktu itu,
Jaka memilih keluar sendiri,
mencari makanan untuk
mengisi perutnya yang kosong,
membiarkan Ikwan berbaring
sejenak, meresapi ketenangan
yang sebentar saja bisa ia raih di
tengah kepenatan.
Kumandang adzan magrib
pun menggema, melingkupi
seluruh sudut negeri seperti
pelukan hangat yang
mengingatkan akan janji dan
kewajiban. Di tengah heningitu,
Jaka dan Ikwan bersimpuh,
melafalkan doa dengan Ssuara
tertahan, memohon
perlindungan agar langkah
mereka tak terganjal oleh
bahaya dan kesulitan. Doa itu
bukan hanya untukperjalanan
yang akan mereka tempuh, tapi
juga untuk kekuatan yang kelak
menguatkan hati menghadapi
apa pun yang menanti di depan.
..

Setelah menuntaskan
kewajiban sebagai seorang
muslim, Jaka dan Ikwan segera
melangkah keluar rumah
dengan hati penuh gelisah.
Sebelum benar-benar
meninggalkan kota ini, Ikwan
menyempatkan diri menghadap
pemilik kontralkan, meski masa
sewanya masih menyisakan satu
minggu penuh.
"Hati-hati di jalan, Nak
Ikwan," suara bapak tua itu
mengalun lembut, penuh
perhatian yang seolah melekat
erat pada sosok Ikwan.
"Iya, Pak. Terima kasih
banyak.Saya pamit dulu,
Assalamualaikum," jawab Ikwan
sambil membalas salam, ada
getar haru yang sulit ia
sembunyikan karena ia sudah
cukup lama mengontrak disana
sejak masih bekerja di kerjaan
terdahulunya.
"Wa'alaikum salam," balas
bapak itu pelan, mata mereka
beradu sejenak seolah tahu akan
ada rindu yang mnenyusup tanpa
kata.
Akhirnya, dengan sepeda
motor kotor yang mereka
tumpangi, Jaka dan Ikwan
meluncur menembus jalanan
kota yang mulai sunyi. Mereka
berjalan mengikuti arah Google
Maps, sesekali bertanya kepada
warga sekitar, berharap setiap
langkah membawa mereka ke
tujuan yang benar, meski rasa
tidak pasti dan kecemasan selalu
mengintai di sudut hati.
Sudah lebih dari dua jam
mereka menyusuri gelap malam
yang beku, langkah kaki Ikwan
terlihat semakin berat.
Nafasnya tersengal, wajahnya
memucat kelelahan. Dengan
suara serak, dia menatap Jaka,

"Jak, ini jalan yang kita
ambil benar, kan?" Ragu
merayapi setiap kata yang
terucap.
Jaka mengangkat bahu,
matanya menatap peta di
ponselnya dengan cemas.
"Kalau menurut Google
Maps dan warga yang kita tanya
sih sudah benar, Wan. Tapi,
kamu mau kita telepon Bang
Billy saja untuk pastikan?"
tawarnya, seolah
menyembunyikan kegelisahan
yang sama.
Ikwan menggeleng pelan,
menekan d # yang mulai
sesak.
"Tidak usah, Jak. Jangan
ganggu Bang Billy kalau dia lagi
istirahat. Aku cuma takut kalau
kita tersesat di tengah sunyinya
malam ini."
Jaka menghela napas
panjang.
"Iya, semoga kita tidak salah
jalan." Suaranya penuh harap
tapi terselip kecemasan yang
sulit ditutupi.
Saat mereka bersiap
melangkah lagi, dering ponsel
Jaka memecah keheningan.
Terpampang nama 'Bang Billy'
di layar, seolah membawa
secercah harapan.
"Bang Billy, Wan," suara
Jaka keluar dengan getar yang
tak bisa disembunyikan.
"Angkat, Jak!" desak Ikwan,
matanya melebar penuh harap.
Dengan tangan gemetar,
Jaka menjawab, "Halo,
assalamualaikum, Bang.
Dari ujung telepon
terdengar suara berat yang
tenang, "Wa'alaikum salam.
Kamu sudah mulai perjalanan,
Jaka?" Ada tanya yang
menggantung, mnenembus
malam yang sunyi, menunggu
jawaban yang bisa mengubah
arah nasib mereka.
"Alhamdulillah, Bang, kami
baru saja akan melanjutkan
perjalanan. Ikwan tadi minta
istirahat sebentar, dia kelihatan
kelelahan sekali," jawab Jaka
dengan suara lelah yang masih
berusaha tegar.
Billy mengangguk penuh
perhatian.
..

"Kalau begitu, kalian sudah
sampai di mana sekarang?"
Jaka mengerutkan dahi,
pandangannya liar mencari
petunjuk. la pun memalingkan
muka ke Ikwan, berharap
rekannya memberi jawaban.
Ikwan yang terdiam sejenak
akhirnya memberanikan diri
bertanya pada penjual kopi yang
baru saja mereka temui.
"Kami di daerah... ini, Bang
" kata Jaka sambil
menyebutkan nama daerah itu
dengan suara agak ragu.
Billy menghela napas
panjang, nada suaranya
mengandung kekhawatiran.
"Ya sudah, kalian harus
hati-hati. Jalan di daerah itu
agak berbahaya selkarang."
Jaka cepat-cepat
mengangguk, khawatir arah
mereka salah.
"Tapi, Bang, memang sudah
benar arah kami kan?"
Billy menatap mereka
dengan tegas tapi hangat seolah
mereka ada didepannya.
"Sudah. Tapi jangan
sungkan kalau ada apa-apa,
segera kabari aku, Jaka."
Ada getar kecil di suara Jaka
ketika ia membalas, "Baik, Bang.
Kalau begitu, kami akan lanjut
dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," sahut
Billy, suaranya menghilang
bersama angin, meninggalkan
perasaan tak menentu di udara
yang mulai sunyi.
Hampir enam jam lamanya
mereka menembus gelap malam,
baru sampai di gapura
perbatasan desa kampung Amir.
Sepanjang perjalanan, motor
tua mereka dua kali berhenti,
mengisi bahan bakar yang
nyaris habis, seolah waktu pun
ikut merayap dalam dinginnya
malam yang membekukan.
"Betul kan, Jak?" tanya
Ikwan dengan suara yang mulai
tercekat oleh letih, memastikan
langkah mereka sejauh ini tak
salah arah. Jaka mengeluarkan
ponselnya, menatap layar
penuh harap.
"Iya, Wan. Desa yang kita
cari sudah di depan mata. Ayo,
kita lanjutkan. Malam sudah
larut, jangan sampai terlambat."
Ikwan mengangguk pelan,
seolah meneguhkan tekad yang
mulai teruji. Tak lama
kemudian, sepuluh menit
setelah melewati gapura, titik
tujuan di Google Maps tampak
menyala jelas, menyambut
mereka seperti fajar kecil di
tengah kegelapan.
"Ini rumahnya, ya?" tanya
Ikwan sambil menatap rumah
Amir, bangunan megah yang
terasa seperti oasis dalam
sunyinya kampung. Hatinya
bergemuruh, campuran antara
harap dan ketegangan,
mempersiapkan diri
menghadapi apa pun yang
menanti di balik pintu itu.
.

"Iya, kayaknya. Tapi tunggu,
aku telepon dulu Bang Billy,
ucap Jaka sambil segera
merogoh ponsel dari sakunya.
Namun, baru jari-jarinya
menyentuh layar, sosok Billy
tiba-tiba muncul dari dalam
rumah. la duduk sendiri di teras,
asap r # mengepul pelan di
sekitarnya, menambah kesan
sunyi dan berat yang terpancar
dari wajahnya.
"Bang Billy!" Jaka sedikit
berteriak, berusaha memnecah
hening yang menc # itu.
Mendengar namanya
dipanggil, Billy menoleh dengan
tatapan tajam, lalu mengangguk
pelan, memanggil mereka
dengan lambaian tangan yang
sederhana tapi penuh arti, "Jaka,
Ikwan, sini."
Dalam keheningan yang
bergetar, mereka mengendarai
motor menuju halaman rumah
Amir. Begitu turun, tatapan
mereka bertemu, dan tanpa
perlu kata panjang, saling
berjabat tangan erat, seperti
melepas rindu sekaligus
menenangkan gelombang
perasaan yang bergejolak.
Di bawah naungan teras,
kopi mengepul hangat
mengiringi percakapan mereka
yang singkat tapi sarat makna,
seolah waktu berhenti sejenak
dan memberi ruang untuk
harapan yang rapuh itu
bernapas kembali.
"Nanti kalian istirahat di
tempat mang Yanto saja ya. Itu
sebenarnya rumah lama milik
bos, tak di tempati. Jadi di
tempati oleh mang Yanto, supir
angkut sayur sebelumnya.
Berhubung mang Yanto p**ang,
kalian tinggal disana saja
sekalian. Tapi tak apa kan kalau
masih ada barang-barang milik
mang Yanto?" Tanya Billy
memastikan. Ia juga tak
mungkin menampung kedua
temannya ini untuk tinggal di
rumah Amir.
"Nggak papa bang. Ada
tempat istirahat saja kami sudah
bersyukur." Ucap.Jaka dan
Ikwan pun ikut mengangguk.
Billy dan kedua rekannya
ini pun lalu berjalan menuju ke
rumah lama Amir, tak jauh
memang, hanya berjarak sekitar
50 meter dari rumah Amir.
Motor mereka titipkan di
halaman rumah Amir karena
memang di rumah lama tak
memiliki halaman.
"Nanti pas subuh, aku kesini
dan kita sama-sama ke gudang.
Kalian istirahatlah," ucap Billy.
"Terimakasih ya bang.
Kebaikan Abang ini tak
mungkin bisa kami lupakan."
Ucap Jaka.
"Sama-sama. Bukannya
sesama teman harus saling
membantu kan? Ya sudah aku
pamit dulu ya. Oh iya ini
kuncinya." Ucap Billy sembari
memberikan kunci rumah lama
Amir.
"Iya bang. Ya sudah kalau
begitu kami masuk dulu bang."
Ucap Ikwan. Jaka pun
mengangguk.
"Iya." Jaka dan Ikwan pun
masuk, sedangkan Billy kembali
ke rumah Amir untuk istirahat.

Address


Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when podcast hiburan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share