22/10/2025
Bab.253 Siang itu suasana kafe kecil
di pojokan jalan kampus cukup
sepi. Hanya ada suara musik
akustik yang diputar pelan,
bercampur dengan aroma kopi
yang menyeruak.
Lia baru saja selesai
mengurus berkas di kantor
markas, dan seperti biasa ia
mampir ke kafe langganannya
untuk sekadar melepas penat.
Tapi langkahnya sempat
terhenti begitu melihat sosok
yang tidak asing duduk
sendirian di pojok, menunduk
sambil menatap kosong ke gelas
kopinya.
"Rikki?" Lia berbisik pelan,
kaget sekaligus heran.
Rikki, yang biasanya ceria
bersama Vano dan Jowy, kali ini
tampak seperti kehilangan
cahaya. Pandangannya kosong,
wajahnya sayu, dan jari-jarinya
mengetuk meja tanpa irama
jelas.
.
Lia sempat ragu untuk
mendekat, tapi akhirnya ia
menghela napas dan
memberanikan diri.
la melangkah ke meja itu. "
Boleh aku duduk di sini?"
tanyanya hati-hati.
Rikki sontak menoleh, kaget
setengah mati begitu mendapati
Lia berdiri di depannya masih
dengan seragam dinas
lengkapnya. "L-Lia? Kamu kok
ada di sini?" suaranya gugup,
seolah ia sedang melakukan
sesuatu yang tak seharusnya.
"Aku sering ke sini kalau
jam istirahat," jawab Lia sambil
tersenyum tipis. “Kelihatannya
kamu lagi banyak masalah?"
Rikki hanya diam sejenak,
lalu mengangguk pelan. "Silakan
Mereka duduk berhadapan.
Lia menaruh topinya di meja,
lalu melipat tangan. Sesaat ia
menatap Rikki lekat-lekat,
mencari tahu apa sebenarnya
yang ada di balik ekspresi
muram itu.
"Rikki," ucap Lia pelan, “
boleh aku tanya sesuatu?"
Rikki mengangkat
wajahnya, bingung. "Apa?"
Lia menarik napas panjang.
"Apa benar... kamu anak dari
Om Indra? Papa-nya Jowy?"
Pertanyaan itu jatuh begitu
saja, tapi dampaknya seperti
petir yang menyambar Rikki. Ia
langsung membeku, matanya
membesar, bibirnya bergetar.
Tangannya refleks meremas
gelas di depannya.
"D-dari mana kamu tahu?"
suaranya nyaris berbisik, penuh
panik.
Rikki mengangkat
wajahnya, bingung. "Apa?"
Lia menarik napas panjang.
"Apa benar... kamu anak dari
Om Indra? Papa-nya Jowy?"
Pertanyaan itu jatuh begitu
saja, tapi dampaknya seperti
petir yang menyambar Rikki. Ia
langsung membeku, matanya
membesar, bibirnya bergetar.
Tangannya refleks meremas
gelas di depannya.
"D-dari mana kamu tahu?"
suaranya nyaris berbisik, penuh
panik.
Lia menunduk sejenak, lalu
menatap lagi. “Aku sudah lama
curiga. Ada beberapa hal yang
bikin aku mikir. Dan aku butuh
jawaban langsung dari kamu."
Rikki menelan ludah. la
jelas kalut. "Aku... aku
sebenarnya pengen bilang dari
dulu. Tapi aku takut, Lia. Aku
takut kalau Jowy tahu, dia bakal
marah besar. Aku takut kalau
Tante Amel tahu, keluarganya
bakal hancur. Aku nggak mau
jadi alasan pertengkaran
mereka,"
Lia terdiam, membiarkan
Rikki meluapkan isi hatinya.
Rikki menghela nafas berat.
"Iya... aku anak dari Om Indra.
Mama-ku dulu kenal dia
sebelum aku lahir. Aku baru
tahu waktu SMP. Mama sempat
nyeritain, tapi dia minta aku
diem. Aku nurut, tapi sampai
sekarang aku hidup kayak orang
asing di antara keluarga sendiri.
Aku dekat sama Jowy, tapi di
satu sisi... aku kakaknya.
Sementara dia nggak pernah
tahu."
..
Suasana meja itu langsung
penuh dengan ketegangan. Lia
menatap Rikki tanpa berkedip.
la bisa merasakan betapa berat
beban yang dipikul pemuda itu.
"Rikki..." suara Lia lembut,
aku bisa ngerti kenapa kamu
takut. Tapi kamu juga nggak
bisa terus-terusan nyimpen
rahasia ini sendirian.
Lama-lama bisa jadi bom waktu
"Makanya aku sering
bingung, Lia," potong Rikki
lirih. “Aku pengen jujur, tapi
aku takut. Aku lihat Jowy itu
baik, dia sahabat aku. Kalau dia
tahu aku kakaknya, gimana?
Bisa aja dia ngerasa dikhianati.
Dia bisa marah ke aku, bisa
marah ke Papanya, bahkan ke
Mamanya, Tante Amel. Aku
nggak sanggup lihat keluarga
mereka pecah cuma karena
keberadaan aku.
Lia terdiam, memutar otak.
la tahu Rikki benar. Di satu sisi,
kebenaran memang pahit, tapi
di sisi lain menyembunyikannya
bisa lebih berbahaya.
"Aku ngerti," kata Lia
akhirnya. "Tapi aku rasa cepat
atau lambat kebenaran ini bakal
kebongkar juga. Nggak mungkin
selamanya bisa ditutupin. Dan
lebih baik keluar dari m #
kamu sendiri, daripada mereka
tahu dari orang lain."
Rikki mengg # b # ,
matanya berkaca-kaca. "Tapi
aku nggak kuat, Lia.."
Lia tergerak. la menyentuh
tangan Rikki di atas meja,
mencoba menenangkan.
Dengar! Aku bisa bantu nyiapinkata-katakata-kata, atau setidaknya
nemenin waktu kamu jujur. Aku
janji, aku nggak bakal ninggalin
kamu dalam masalah ini."
Rikki menatap Lia dengan
mata merah. Ada perasaan
campur aduk, lega karena
akhirnya bisa berbagi, tapi juga
takut pada konsekuensinya.
"Kenapa kamu peduli
banget, Lia?" tanyanya lirih.
Lia tersenyum tipis. "
Karena aku tahu rasanya
nyimpen rahasia besar
sendirian. Itu menyiksa. Dan
aku nggak mau lihat kamu
hancur karena itu. Lagi p**a,
aku juga sayang sama Jowy. Aku
nggak mau dia kaget tiba-tiba
tanpa persiapan. Kalau aku bisa
bantu biar semua lebih mudah,
aku akan lakukan."
Rikki menunduk lagi,
bahunya bergetar. Entah karena
menahan tangis atau sekadar
kelegaan. "Terima kasih, Lia...
Kamu orang pertama yang
benar-benar aku kasih tahu.
Selama ini cuma aku sama
Mama yang tahu, nggak ada
yang lain,"
Lia mengangguk. "Itu
artinya kamu percaya sama aku.
Dan aku bakal jaga kepercayaan
kamu. Tapi suatu saat nanti,
kita harus hadapi ini sama-sama.
..
Percaya deh, sembunyi
selamanya bukan jalan keluar.
Mereka terdiam cukup lama.
Hanya suara musik akustik di
kafe yang mengisi ruang. Lia
sesekali menatap keluar jendela,
sementara Rikki sibulk
menenangkan dirinya.
Akhirnya Rikki berkata,
Lia, aku minta satu hal. Tolong
jangan bilang dulu ke
siapa-siapa. Aku butuh waktu.
Aku harus mikir gimana
caranya, kapan waktunya tepat
Lia mengangguk mantap.
Aku janji. Rahasia ini aman
sama aku. Tapi aku harap kamu
juga siap, Rikki. Jangan kabur
lagi. Karena aku yakin, di balik
semua ini, Jowy bakal lebih
milih ngerti daripada marah."
Rikki tersenyum tipis,
meski masih lemah. "Semoga
aja kamu benar. "
di kafe kecil itu membuat
pikirannya sedikit kacau.
Lia tiba-tiba datang,
menanyakan sesuatu yang
selama ini ia simpan rapat-rapat.
Pertanyaan yang bisa membuat
semuanya berantakan kalau
tidak hati-hati... bahwa dirinya
adalah anak dari Indra, papa
Jowy.
..
Di sepanjang perjalanan,
Rikki menunduk, sesekali
menghela nafas panjang.
"Apa aku salah ngomong?
Apa Lia nanti bakal cerita ke
Dan siang itu, di kafe kecil
itu, dua orang duduk
berhadapan dalam diam,
menyimpan rahasia besar yang
bisa mengubah kehidupan
banyak orang. Lia tahu, badai
besar sedang menunggu. Tapi
setidaknya, ia sudah bersiap
untuk berdiri di sisi Rikki ketika
waktunya tiba.
Rikki melangkah p**ang
menuju rumah Rajendra dengan
langkah agak cepat. la sadar,
percakapannya dengan Lia tadi
Jowy?"pikirnya.
Namun ia menepis rasa
khawatir itu, karena Rajendra
masih membutuhkan
bantuannya. Bagi Rikki,
Rajendra bukan hanya kakek
Jowy, tapi juga sosok yang
seperti ayah baginya... orang
yang memberikan tempat
tinggal, perlindungan, dan arti
keluarga..
Begitu ia sampai di halaman
rumah besar itu, suara pintu
pagar berderit, dan dari arah
dalam terdengar suara yang
Ddk
sangat ia kenal.
"Rikki!" suara Jowy
memanggilnya dengan nada
bersemangat.
Rikki menoleh, ternyata
Jowy baru saja tiba dari kampus.
Rambutnya sedikit berantakan,
wajahnya berkeringat, tapi ada
senyum lebar yang khas.
Mereka pun berjalan bersama
menuju ruang tamu.
Rajendra sudah duduk di
kursi panjang, menunggu
keduanya. Seperti biasa, ia
tersenyum sambil mengelus
janggut tipisnya.
"Pas banget, kalian berdua
p**ang bareng. Duduk, ayo. Aku
pengen dengar cerita kalian hari
ini, " katanya pelan.
Jowy langsung duduk,
sementara Rikki ikut menaruh
jaketnya di sudut ruangan.
"Kek, aku tadi habis ketemu
sama anak kecil di samping
rumah Tante Dinda, " kata Jowy
membuka percakapan.
Rajendra mengangkat alis. *
Anak kecil? Siapa?"
"Namanya Sheryl," jawab
Jowy.
Begitu nama itu disebut,
Rikki refleks menegakkan
tubuhnya. Matanya melebar,
seakan tidak percaya dengan apa
yang ia dengar.
"Kamu bilang... Sheryl?"
tanya Rikki hati-hati.
"Iya, kenapa? Lo kenal?"
sahut Jowy penasaran.
Rikki terdiam sejenak,
menelan ludah. la lalu
menunduk, tangannya
mengepal di atas lutut. Rajendra
memperhatikannya, begitu juga
Jowy yang mulai curiga.
"Ada apa, Rik? Lo kelihatan
aneh banget," ujar Jowy.
Dengan berat hati, Rikki
menghela nafas panjang lalu
berkata, “Gue kenal dia, Jow.
Gue sama Vano yang dulu
nyelametin dia waktu diculik."
Kata-kata itu membuat
ruangan hening sejenak. Jowy
terkejut, matanya melotot tak
percaya.
"Apaaa?!" seru Jowy.
Sheryl pernah diculik?"
Rikki mengangguk
perlahan. "Iya. Dulu, ada
komplotan orang suruhannya
Rudi. Mereka bavwa kabur Sheryl
waktu dia p**ang sekolah.
Untungnya aku dan Vano lewat
jalan itu. Kami nekat lawan
mereka, dan akhirnya... ya itu,
Vano nemuin dia terikat di
mobil."
Jowy mengusap wajahnya
keras. “Astaga... Jadi Sheryl juga
korban Rudi? Gue kira cuma
beberapa orang dewasa yang
jadi sasaran kotornya. Ternyata
sampai anak kecil juga?"
suaranya bergetar, ada nada
marah dan sedih bercampur jadi
satu.
Rajendra menunduk,
wajahnya muram. “Rudi
memang sudah melampaui
batas. Banyak orang yang nggak
tahu betapa kejinya dia. Untung
kalian bisa selamatkan anak itu
Rikki menghela napas
panjang. "Cuma sayang... akunggaknggak pernah tahu kabar Sheryl
setelah itu. Aku juga nggak bisa
deketin keluarganya, takutnya
malah bikin masalah baru."
Jowy menatapnya dengan
serius. "Tenang, Rik. Gue baru
aja ketemu dia tadi. Dia
baik-baik aja, sehat, dan... jujur
aja, dia ceria banget. Nggak
kelihatan kayak anak yang
pernah ngalamin trauma begitu
Wajah Rikki langsung lega,
meski ada sedikit rasa haru. "
Syukurlah... syukurlah kalau
begitu." la mengusap
tengkuknya, berusaha
menyembunyikan senyum tipis.
Namun sesaat kemudian,
Rikki berkomentar lirih,
Sayang aja ya... dia masih SMP.
Padahal, kalau jujur nih, Sheryl
itu cantik banget, Jow.
Senyumnya manis, matanya
jernih. Anak itu punya aura
dia."
yang bikin orang pengen jagain
Jowy yang mendengar itu
langsung ngakak. la menepuk
bahu Rikki sambil
menggoyangkan kepala.
"Woy, Rik! Lo sadar nggak
sih, lo ngomong kayak gitu
kedengerannya gila. Sheryl
masih SMP, bro! Masih kecil
banget buat lo."
Rikki ikut tertawa malu,
meski wajahnya agak memerah.
"Ya kan gue cuma ngomong aja.
Gue kagum sama dia, tapigue
juga tahu batas lah... Gila aja
kalau gue beneran mikirin yang
aneh-aneh."
Jowy semakin terbahak. “
Yaudah, tunggu aja sampai dia
gede. Siapa tahu ntar jadi jodoh
lo, "
Rikki ikut tertawa keras,
sambil geleng-geleng kepala. "
Hmm, ntar keburu gue udah tua,
Jow! Bisa-bisa pas dia gede, gue
udah ubanan."
..
Keduanya pun tertawa lepas
bersama. Rajendra yang melihat
itu ikut tersenyum. Ia lega
melihat cucunya dan Rikki bisa
begitu dekat, seperti saudara.
Meski di balik tawa itu,
Rajendra tahu, masing-masing
dari mereka membawa rahasia
yang bisa mengubah segalanya
kapan saja.
Setelah tawa reda, Jowy
kembali bersandar ke kursi, lalu
menatap serius ke arah Rikki.
"Tapi bener, Rik. Gue
seneng lo cerita kayak gini. Jadi
gue bisa ngerti kalau Sheryl
pernah ngalamin masa lalu yang
berat."
Rikki menunduk,
senyumnya tipis. "Makasih,
Jow. Lo emang orang yang bisa
dipercaya. Semoga aja Sheryl
bisa terus ketemu orang-orang
kayak lo."
Rajendra menepuk lututnya,
memberi penekanan. “Kalian
berdua jangan pernah
remehkan arti sebuah
pertemuan... Anak kecil itu
mungkin punya peran besar
nanti, kita nggak pernah tahu."
Keduanya mengangguk
serius, meski dalam hati masih
ada rasa heran bercampur
penasaran. Sheryl, anak SMP
polos yang ternyata korban
Rudi, kini hadir kembali di
lingkaran hidup mereka.
Entah kebetulan atau
memang takdir, semuanya
seperti sudah diatur.
Dan di luar rumah itu, sore
mulai turun. Angin berhembus
lembut, membawa bayangan
masa lalu yang tak pernah
benar-benar hilang dari
kehidupan mereka.
...
Siang itu, suasana rumah
terasa tenang. Angin dari
jendela ruang tamu masuk
perlahan, membawa aroma
masakan yang masih hangat di
meja makan. Amel baru saja
muncul dari dapur, tersenyum
ketika melihat anak-anak muda
di ruang tamu terlihat akrab.
"Wah, rame sekali ya.
Senang lihat kalian bisa kumpul
di sini," ucap Amel dengan nada
hangat.
Rikki yang sedari tadi
duduk bersama Rajendra sedikit
kikuk. Ia masih merasa ada jarak
dengan Amel, apalagi setelah
pertemuannya dengan Lia di
kafe tadi siang. Namun ia tetap
tersenyum sopan.
Amel kemudian menoleh
pada Jowy. "Nak, ayo makan
dulu. Mama sudah siapkan
makanan. Ajak Rikki juga.
Jowy berdiri, menepuk
pundak Rikki dengan ramah.
Ayo, Rik. Dah laper nih..."
Namun Rikki cepat-cepat
menggeleng. "Nggak usah,
Tante. Saya barusan makan di
luar. Masih kenyang banget.
Terima kasih ya."
Amel mengangguk paham.
Kalau gitu nggak apa-apa. Jowy,
kamu temani Mama ke meja
makan dulu, ya."
"Baik, Ma," sahut Jowy lalu
berjalan ke arah ruang makan,
meninggalkan Rikki dan
Rajendra di ruang tamu.
Rajendra sendiri tidak
beranjak. la menatap serius ke
arah Rikki. “Kita memang harus
bicara, Rikki. Ada hal penting
yang nggak bisa ditunda,"
Rikki menarik nafas
dalam-dalam. Hatinya gelisah,
tetapi ia berusaha tenang. “Iya,
saya tahu, Tuan. Saya siap."
Di ruang makan, Jowy baru
saja duduk ketika ia tiba-tiba
membuka percakapan dengan
nada pelan, seolah takut ada
yang mendengar.
"Ma..." panggilnya pelan.
Amel menoleh sambil
menuangkan sayur ke piring.
Iya, Nak?"
Jowy terlihat ragu. Matanya
menatap ke arah meja sebentar,
lalu kembali ke wajah Amel.
Mama... kenal sama seseorang
bernama Nisa?"
Pertanyaan itu membuat
tangan Amel berhenti sejenak.
Gayung sayur yang ia pegang
terhenti di udara, seakan waktu
membeku. Wajahnya kaku
sesaat sebelum ia kembali
menaruh sayur ke piring dengan
tenang.
"Nisa?" ulang Amel dengan
nada datar. “Dari mana kamu
dengar nama itu?"
Jowy menghela napas. “Aku
dengar waktu Lia sama
mamanya, Tante Rani, ngobrol.
Mereka kayaknya bisik-bisik.
Aku nggak sengaja dengar.
Tante Rani nyebut nama itu
sambil bilang soal orang yang
nganter Mama kemarin.
Katanya... Nisa itu temen
sekolah Mama dulu. Sama kayak
Tante Rani."
Amel menegakkan
punggungnya, matanya sedikit
membesar. "Tunggu.. yang
nganter Mama kemarin itu
Rikki, kan? Kenapa jadi disebut
Nisa?"
"Itu juga yang bikin aku
bingung," jawab Jowy cepat. "
Aku rasa aku salah dengar, tapi
aku jelas dengar Tante Rani
nyebut nama Nisa. Terus, aku
lihat Tante Rani kayak agak
gugup pas ngomong gitu."
Keheningan turun sesaat di
meja makan itu. Hanya suara
sendok beradu dengan piring
yang terdengar, tapi itu pun
cepat mereda. Amel menunduk,
pikirannya kacau.
Nama itu... Nisa, seperti
pintu masa lalu yang selama ini
ia kunci rapat. Ia tahu betutt
siapa Nisa. Bukan teman
sekolah, tapi lebih dari itu,
seseorang yang pernah menjadi
bagian dari cerita pahit rumah
tangganya dengan Indra.
..
Namun, Amel tidak bisa
langsung menjawab. la takut.
Kalau ia menjelaskan, rahasia
itu bisa memicu pertengkaran
baru, bisa membuat Indra
kembali teringat luka lama, bisa
membuat Jowy kehilangan
kepercayaan pada orang tuanya.
Amel mencoba
menenangkan diri. "Mungkin
Tante Rani salah sebut. Kamu
tahu sendiri kan, kadang kita
ngobrol bisa ke mana-mana.
Jangan langsung mikir
macam-macam."
Tapi Jowy menggeleng.
Aku nggak yakin, Ma. Kayaknya
Tante Rani nyebut nama itu
bukan asal. Lagian... kenapa dia
harus gugup? Biasanya Tante
Rani cerita apa adanya."
Amel terdiam lagi. Dalam
hatinya, ia ingin sekali
menanyakan langsung pada
Rani kenapa nama itu
disebut-sebut. Kenapa
dihubungkan dengan dirinya.
Apa mungkin Rani tanpa
sengaja membuka sesuatu yang
seharusnya terkubur?
Sambil menatap piringnya
yang kini terasa hambar, Amel
merenung. Apa Rani
benar-benar bicara tentang Nisa. atau dia sebenarnya
membicarakan sesuatu yang
lain?
Kecurigaan itu semakin
besar karena Amel ingat jelas,
hari itu Rikki yang
mengantarnya. Tidak ada
hubungannya dengan Nisa. Jadi,
kenapa Rani tiba-tiba
melibatkan nama itu?
Di sisi lain, Jowy semakin
penasaran. la melihat Mamanya
jelas-jelas gugup meski berusaha
menyembunyikan. "Mama...
sebenarnya siapa Nisa itu?"
Pertanyaan itu membuat
Amel kembali tertekan. Ia ingin
berkata jujur, tapi bibirnya
seperti terkunci. Yang keluar
hanyalah sebuah senyum tipis
yang dipaksakan."Sudahlah, Nak. Kamu
jangan terlalu mikirin itu.
Nggak penting."
Tapi jawaban itu justru
membuat Jowy semakin yakin
ada sesuatu yang
disembunyikan. la menatap
Amel taj # , namun ia memilih
diam dulu. Ia tahu kalau
mendesak, Mamnanya malah
akan menutup diri.
.
Sementara itu, diruang
tamu, Rikki dan Rajendra masih
membicarakan urusan mereka.
Suara mnereka tidak terdengar
jelas sampai ke ruang makan,
tapi Amel bisa merasakan ada
sesuatu yang disimpan anak itu.
Dalam hati, Amel makin
bingung. la tahu Jowy akan
terus mencari jawaban tentang
Nisa. Ia juga tahu cepat atau
lambat, Rani pasti akan ditanyai
lagi.
Dan kalau itu terjadi,
rahasia masa lalu yang sudah
bertahun-tahun ia kubur bisa
saja terbongkar.
Makan siang itu berakhir
tanpa banyak bicara. Jowy diam
dengan pikirannya sendiri,
sementara Amel menahan
banyak hal dalam hati.
Namun di dalam benaknya,
hanya ada satu pertanyaan yang
terus berulang...
Apa benar Rani sengaja
membuka nama Nisa? Atau ada
seseorang di balik semua ini
yang ingin mengungkit masa
lalu Indra?
"Ah.. nggak mungkin Rani
kayak gitu," pikirnya.
Note:L..i..k..e..mu penyemangat Mimin ❤️ 💙 ❤️ 💙 ❤️ ❤️💙 ❤️ 💙 ❤️ ❤️ 💙 ❤️ 💙 ❤️