04/01/2026
TAHUN CAKA 1948
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian rapuh, eksploitasi hutan merajalela atas nama pembangunan yang megah, kita sebenarnya sedang meruntuhkan atap alamiah yang selama ini melindungi kita.
Kehidupan yang kita bangun di atas puing-puing hutan hanyalah fatamorgana, sebuah monumen keserakahan yang merampas hak dasar setiap makhluk untuk hidup bebas.
Di balik kabut rimba yang kian menipis, terdengarlah deru langkah sang Penjaga Agung, langkah kakinya tidak hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk merajut kembali luka-luka tanah yang gersang, di setiap jejak yang ia tinggalkan, terdapat doa bagi kehidupan dan menjadi rahim kecil yang menampung air mata hujan demi menghidupi semesta yang haus.
Kini, aku berdiri menjadi saksi. Hijau hutan telah luruh menjadi kelabu yang kaku. Napas dunia terasa tercekik oleh deretan gedung-gedung beton yang dingin.
Kehadirannya, adalah simbol pengingat bagi kita semua: bahwa kekuatan sejati tidak digunakan untuk menguasai atau menaklukkan, melainkan untuk menjaga dan melindungi setiap kehidupan yang berdenyut di atas tanah pertiwi,
Karya ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap alam dan satwa hutan yang kini terpaksa berjalan di antara reruntuhan peradaban manusia.
Mari kita sambut karya ini sebagai ajakan untuk melestarikan tradisi yang ada, tanpa pernah luput untuk tetap menjaga alam.
Ingatlah satu pesan yang menggema:
G.A.J.A.H
Ganggu Alam Jadi Ancaman Hidup!
Sumber :
|