Kabar Raditya

Kabar Raditya Kabar tentang adat, budaya, dan agama dengan segala permasalahannya, utamanya soal toleransi dan kerukunan. Menerima naskah penulis luar.

26/03/2026
26/03/2026

Yuk kembali belajar agama lewat AI karena asyik saja dengar pandangan dari sudut lain. Kali ini membahas satu sloka dari Bhagawad Gita III sloka 35. Yuk ikuti. Rahayu.

26/03/2026

Seri belajar agama lewat AI, kali ini salah satu sloka Bhagawad Gita. (BG III.12). Apa pendapat Anda?

26/03/2026

Mari belajar agama lewat AI (kecerdasan buatan) yg lagi ngetren. Kali ini membahas salah satu sloka Sarasamuscaya. Anda boleh setuju atau tidak. Bebas saja. Rahayu.

Satu lagi warisan budaya megalitik di Tabanan yang diusulkan jadi warisan budaya.
24/03/2026

Satu lagi warisan budaya megalitik di Tabanan yang diusulkan jadi warisan budaya.

SINGASANA, BALIPOST.com - Upaya pelestarian warisan budaya di Kabupaten Tabanan terus bergulir. Hingga Maret 2026, tercatat baru satu usulan c***r budaya y

(Catatan: Peneliti lontar Sugi Lanus berbicara soal gagalnya pemimpin Bali dalam melestarikan budaya luhur Bali, yakni s...
24/03/2026

(Catatan: Peneliti lontar Sugi Lanus berbicara soal gagalnya pemimpin Bali dalam melestarikan budaya luhur Bali, yakni subak. Ini masalah lama yang tak pernah dipikirkan pemimpin Bali. Pandita Mpu Jaya Prema Ananda sudah banyak menyoroti masalah subak yang kian tiada, berikut tulisannya pada 19 April 2008 di Majalah Raditya.)

Menghidupkan Subak, Omong Kosong

Para pemimpin Bali hanya menjual bualan untuk memberdayakan petani dengan menghidupkan kembali subak. Ini betul-betul bualan belaka karena tak ada konsep apapun yang dikemukakan tentang bagaimana menghidupkan kembali subak itu. Jika langkah yang dimaksudkan hanya dengan memberi bantuan uang kepada subak, itu bukan penyelamatan terhadap keberlangsungan subak, tetapi memanjakan pengurus subak dan rawan penyalahgunaan. Uang bantuan mengucur, pengurus subak kaya, petani tetap saja merana.

Persoalan subak yang pertama-tama adalah lahan pertanian. Bagaimana membicarakan subak kalau tidak ada sawah? Ini subak dalam pengertian umum, karena memang ada yang disebut “subak abian” yang lahannya bukan sawah tetapi kebun. Bukankah sawah sudah menyempit di Bali seirama dengan berpindahnya kepemilikan tanah Bali kepada orang-orang non-Bali? Selain sawah menyempit, sawah juga terjepit. Yang menjepitnya adalah bangunan-bangunan yang dibiarkan oleh pemerintah, bahkan pemerintah sendiri yang ikut membangun. Adalah pemandangan yang biasa kita lihat ada sawah yang terkurung oleh bangunan, entah itu perumahan, ruko, pabrik dan sebagainya.

Lalu, ada masalah pajak. Pemerintah menerapkan sistem pajak berdasarkan di mana tanah kena pajak itu berada, dan bukan dengan sistem, apa yang dihasilkan oleh tanah itu. Misalnya, subak-subak yang kini dibelah oleh jalan besar atau sering disebut jalan bypass. Dengan adanya jalan itu maka harga tanah melonjak. Bangunan komersial dan perumahan berdiri yang ikut mendongkrak harga tanah. Pemerintah kemudian melakukan koreksi terhadap NJOP (nilai jual obyek pajak) dengan menaikkan tarif di sana. Tarif yang dinaikkan tidak sekedar tarif bangunan saja, tetapi juga tarif tanah. Akibatnya, tanah yang masih berupa sawah pun kena pajak yang tinggi, padahal produksi dari tanah sawah itu tetap saja tak berubah yakni padi.

Kasus ini sudah terjadi di banyak tempat. Di sekitar Denpasar sudah terjadi lama, misalnya, di kawasan Renon. Begitu p**a di kawasan Kuta. Bahkan kini meluas ke daerah Canggu sampai sekitar obyek wisata Tanah Lot. Pemerintah beranggapan lahan di sana sudah menjadi sesuatu yang sangat komersial, sehingga layak NJOP dinaikkan berlipat. Lalu, bagaimana petani bisa mempertahankan sawahnya kalau untuk membayar pajak saja tak bisa dari hasil menjual gabah?

Lebih unik lagi di Tabanan, yang dulu mendapat julukan lumbung beras. Sawah-sawah masih indah, baik di sekitar Jatiluwih, Penebel maupun jalan antara Antosari-Pupuan di kawasan perbukitan. Kini, bermunculan villa dan restoran moderen di sana, yang sesungguhnya fasilitas itu ada karena alamnya yang indah. Artinya, wisatawan menginap atau makan di sana karena ingin melihat sawah-sawah yang indah, meliuk-liuk di lereng bukit. Melihat penggunaan lahan yang komersial ini, NJOP dinaikkan dengan alasan villa dan restoran itu mendatangkan uang banyak. Celakanya, NJOP ini mengenai juga sawah-sawah yang indah itu. Sungguh aneh, justru seharusnya tanah sawah itu disubsidi atau bahkan petani pemilik sawah itu mendapat “uang ekstra” karena mempertahankan sawahnya untuk ditonton sebagai obyek wisata.

Petani yang menjerit karena kenaikan pajak ini pada akhirnya akan membiarkan sawahnya terlantar. Lama-lama tanah dijual. Lalu, masih layakkah pemerintah atau para calon gubernur berteriak untuk menghidupkan subak hanya dengan memberikan sumbangan uang kepada pengurus pajak?

Masalah subak, selain berarti tersedianya lahan, juga tersedianya air. Nah, kini air sudah disedot untuk kepentingan hotel, perumahan dan urusan lain yang tidak ada kaitannya dengan sawah. Cobalah lihat sumber-sumber mata air di pegunungan, sudah terbelit dengan berbagai p**a, baik besar maupun kecil, untuk dibawa memenuhi kebutuhan moderen itu. Irigasi subak menjadi terlantar. Ini tak pernah mendapat perhatian serius pemerintah.

Kalau pemerintah dan para calon gubernur memang ingin menghidupkan subak, sarana untuk subak jangan dihancurkan. Air Bali harus tetap untuk kepentingan subak agar pertanian tetap jalan. Kalau hotel-hotel besar membutuhkan air, cari alternatif lain, entah menyuling air limbah atau menyuling air laut. NJOP untuk tanah pertanian harus kecil, karena hasil tanah itu juga kecil. Jika perlu dibebaskan dari pajak. Pemerintah harus memproteksi tanah pertanian Bali. Tanah Bali tak boleh jatuh ke tangan orang non-Bali.

Yang juga perlu diperhatikan adalah sistem pertanian di Bali hendaknya dikembalikan ke sistem pupuk alam. Bukan saja agar petani tidak tergantung pada pupuk kimia yang harganya sering tak menentu, namun juga mengembalikan ekosistem pertanian Bali ke masa lalu, karena subak berkaitan dengan ritual.

*MpuJayaPrema, 19 April 2008

Foto cuma ilustrasi

Calon Rektor  Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah yang cocok dan bermartabat. ...
24/03/2026

Calon Rektor Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah yang cocok dan bermartabat. Wanita Dayak asli, aktifis Hindu sejak muda, kelahiran BARITO UTARA tepatnya di Desa Paring LAHUNG.

PEMIMPIN BALI GAGAL MENJAGA WARISAN TERBESAR Oleh Sugi LanusDi Bali, pertanian sawah dan Subak bukan sekadar cara bercoc...
24/03/2026

PEMIMPIN BALI GAGAL MENJAGA WARISAN TERBESAR

Oleh Sugi Lanus

Di Bali, pertanian sawah dan Subak bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan manifestasi dari "political will" penguasa sejak era awal terbentuknya kerajaan Bali kuno.

Ketika saya berbicara tentang pertanian di Bali, orang mengira saya sedang membicarakan petani. Bukan. Begitu p**a saat konversi sawah makin terjadi, masyarakat awam masih saja mau digiring berpikir konversi sawah adalah kesalahan petani. Sementara pemerintah atau penguasa cuci tangan.

Mungkin karena miskin literasi:

* *Subak sebagai Mandat Raja-Raja Bali Kuno*

Prasasti-prasasti kuno Bali mencatat bahwa pembukaan lahan, pembuatan terowongan air (aungan), dan pembentukan organisasi Subak adalah proyek strategis yang diinisiasi oleh raja-raja sebagai bentuk kedaulatan pangan dan stabilitas wilayah.

* *Subak sebagai Produk Kebijakan & Konsensus Krama*

Subak adalah sistem manajemen sumber daya yang sangat politis karena menyangkut pembagian air dan lahan. Jika sekarang sawah hilang, itu bukan karena petani "malas" atau "rakus" menjual tanah, tapi karena sistem pendukung (perlindungan lahan, subsidi, dan penegakan hukum) yang dulu dijaga ketat oleh pemimpin, kini melemah di bawah tekanan kapitalisme pariwisata.

* *Kegagalan Leadership Modern*

Menyalahkan petani atas konversi lahan adalah bentuk "cuci tangan" politik. Tanpa insentif fiskal yang nyata, penegakan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang galak, dan perlindungan harga, petani dibiarkan bertarung sendirian melawan pasar.

* *Bukan Filantropi, Tapi Kewajiban*

Menyelamatkan sawah seharusnya dipandang sebagai tugas menjaga aset peradaban, sama seperti menjaga pura. Sistem subak dan bentang persawahan adalah "Dewi Sri Temple". Jika pemimpin sekarang membiarkan sawah tergerus, mereka sebenarnya sedang membiarkan warisan kepemimpinan masa lalu runtuh.

Singkatnya, Subak adalah budaya hukum dan politik, bukan sekadar hobi menanam padi. Jika nakhodanya (pemimpin) tidak punya keberpihakan pada sektor ini, maka sistemnya pasti akan karam.

Jadi, jika saya mengkritisi kondisi pertanian di Bali, artinya saya sedang menyasar para pemimpin yang berkuasa karena kurang literasi, mereka gagal paham, bongol (tidak mampu mendengar), atau tidak punya good will sehingga serius dan tidak becus melindungi warisan para leluhur yang mereka puja-puji dalam pidato dan seremonial tapi mereka hianati dalam prilaku politik harian mereka.

Sistem Subak selamanya adalah soal kebijakan politik dan kepemimpinan (leadership), bukan masalah personal petani. Tidak ada ceritanya menyelamatkan pertanian hanya dengan menyerahkannya kepada petani—apalagi menyalahkan para petani dan pemuda Bali.

Sejarah mencatat bahwa pertanian dan Subak di Bali lahir dari keputusan politik yang kuat. Jika saat ini tidak ada kepemimpinan yang mengarahkan dan melindungi, jangan harap sektor ini akan selamat. Keberpihakan pemerintah dalam perlindungan lahan, penegakan hukum, dan wujud nyata dalam bentuk alokasi anggaran besar untuk pertanian adalah kunci

Address

Jalan Pulau Belitung Gang 2 No 3
Denpasar
80222

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kabar Raditya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share