Sharjah Publishing

Sharjah Publishing • Asyik dan Mudah Dipahami
Karena rumah adalah tempat ternyaman untuk berekspresi

Aku senang punya teman baru yang s**a buku. Rasanya seperti menemukan seseorang yang tidak hanya ingin berbagi cerita, t...
14/08/2026

Aku senang punya teman baru yang s**a buku. Rasanya seperti menemukan seseorang yang tidak hanya ingin berbagi cerita, tetapi juga bersedia berbagi cara pandang tentang dunia.

Sebab orang yang mencintai buku biasanya tidak sekadar mengumpulkan halaman, mereka mengumpulkan perspektif. Dari satu buku, kita bisa menemukan pertanyaan baru. Dari satu percakapan, kita bisa melihat kehidupan dari sudut yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

Ada sesuatu yang indah ketika dua orang bertemu bukan hanya untuk membicarakan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa sesuatu terjadi. Bukan sekadar bertukar cerita, melainkan bertukar cara memahami manusia, kehidupan, dan segala hal yang sering kali terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata sederhana.

Mungkin itulah mengapa aku menyukai pertemanan semacam ini. Kita tidak harus selalu sepakat. Justru perbedaan pandangan membuat percakapan menjadi lebih hidup.

Karena pada akhirnya, teman yang baik bukan hanya seseorang yang membuat kita merasa ditemani. Ia juga seseorang yang membuat kita p**ang dari sebuah percakapan dengan pikiran yang sedikit lebih luas, hati yang sedikit lebih terbuka, dan dunia yang terasa sedikit lebih dalam.

Jika kau memutuskan mati hari ini, sungguh itu sangat rugi.Bukan karena dunia akan kehilanganmu, tetapi karena masih ter...
12/08/2026

Jika kau memutuskan mati hari ini, sungguh itu sangat rugi.

Bukan karena dunia akan kehilanganmu, tetapi karena masih terlalu banyak hal yang belum sempat kau temukan. Masih banyak buku yang belum kita baca, halaman-halaman yang mungkin menyimpan satu kalimat yang mampu mengubah cara kita memandang kehidupan.

Masih banyak perpustakaan yang belum kita datangi. Masih banyak kota yang belum kita jelajahi, manusia yang belum kita kenal, percakapan yang belum kita jalani, dan senja yang belum sempat kita saksikan dengan hati yang benar-benar tenang.

Barangkali hidup memang sedang terasa berat. Ada hari-hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa seperti perjuangan. Namun bukankah hidup sering kali bekerja seperti sebuah buku yang belum selesai dibaca? Kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di halaman berikutnya.

Maka jangan buru-buru menutup bukumu hanya karena satu bab terasa menyakitkan.

Bisa jadi halaman berikutnya berisi jawaban yang selama ini kau cari. Bisa jadi ada seseorang yang belum kau temui. Bisa jadi ada karya yang belum kau tulis, doa yang belum terjawab, atau versi dirimu yang belum sempat tumbuh.

Bertahanlah.

Masih banyak buku yang belum kita baca, perpustakaan yang belum kita datangi, dan kehidupan yang belum selesai kita pahami.

Belum dapat buku yang cocok lalu baca sampai selesai, baru kasih kesimp**an. Harusnya gitu kan?
11/08/2026

Belum dapat buku yang cocok lalu baca sampai selesai, baru kasih kesimp**an. Harusnya gitu kan?

Kemiskinan tidak selalu berarti kekurangan, sebagaimana kekayaan tidak selalu melahirkan kelimpahan jiwa. Ada orang yang...
06/08/2026

Kemiskinan tidak selalu berarti kekurangan, sebagaimana kekayaan tidak selalu melahirkan kelimpahan jiwa. Ada orang yang hidup di pondok sederhana, tetapi pikirannya menjelajahi peradaban. Ada p**a yang duduk di singgasana megah, tetapi batinnya kosong karena tak pernah membuka jendela pengetahuan.

Buku bukan sekadar kump**an halaman. Ia adalah ruang tempat manusia berdialog dengan masa lalu, memahami masa kini, dan menyiapkan masa depan. Membaca mengajarkan kerendahan hati, sebab setiap lembar yang dibuka mengingatkan bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahui.

Seorang raja dapat memerintah negeri dengan kekuasaan. Namun, tanpa hasrat untuk membaca, ia mudah menjadi tawanan kesombongan dan prasangka. Sebaliknya, orang miskin yang mencintai buku sedang membangun kerajaan di dalam pikirannya, kerajaan yang tidak dapat dirampas oleh waktu, perang, maupun kemiskinan.

Harta dapat diwariskan, tetapi kebijaksanaan harus diperjuangkan. Rumah kecil yang dipenuhi buku sering kali lebih kaya daripada istana yang dipenuhi kemewahan tanpa ilmu. Sebab, kemuliaan manusia tidak diukur dari luas tanah yang dimiliki, melainkan dari luas cakrawala yang sanggup dipahaminya. Pada akhirnya, yang mengangkat derajat seseorang bukanlah mahkota di kepalanya, melainkan cahaya pengetahuan yang hidup di dalam jiwanya.

Ada satu kebiasaan yang sering luput dibicarakan ketika membahas kualitas seorang guru atau dosen, yaitu membaca. Padaha...
05/08/2026

Ada satu kebiasaan yang sering luput dibicarakan ketika membahas kualitas seorang guru atau dosen, yaitu membaca. Padahal, membaca bukan sekadar kegiatan mengumpulkan informasi. Membaca adalah cara menjaga pikiran tetap bertumbuh, hati tetap rendah, dan cara pandang tetap terbuka.

Seorang pendidik memang memiliki pengalaman yang berharga. Namun pengalaman saja tidak selalu cukup. Dunia terus berubah, ilmu terus berkembang, dan peserta didik datang dengan pertanyaan yang semakin beragam. Tanpa kebiasaan membaca, seorang pendidik berisiko mengandalkan pengetahuan yang pernah dimiliki, bukan pengetahuan yang terus diperbarui.

Buku, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber tepercaya membantu seorang pendidik melihat persoalan dari banyak sudut. Dari sanalah lahir penjelasan yang lebih jernih, diskusi yang lebih hidup, serta keputusan yang lebih bijaksana di ruang kelas.

Membaca juga mengajarkan kerendahan hati. Semakin banyak yang dibaca, semakin disadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Kesadaran inilah yang membuat seorang pendidik terus belajar, bukan merasa sudah selesai belajar.

Pada akhirnya, guru dan dosen bukan hanya mengajarkan isi buku. Mereka sedang memberi teladan tentang bagaimana mencintai ilmu. Dan salah satu cara paling sederhana untuk menjaga cinta itu tetap hidup adalah dengan tidak pernah berhenti membaca.

Ada satu hal yang selalu saya sadari setiap kali membaca buku di tempat umum. Selama ini, saya tidak pernah mendengar se...
04/08/2026

Ada satu hal yang selalu saya sadari setiap kali membaca buku di tempat umum. Selama ini, saya tidak pernah mendengar seseorang berbisik, "Lihat tuh, orang sok pintar." Tidak pernah. Orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang tenggelam dalam layar ponsel, ada yang memikirkan pekerjaan, keluarga, atau sekadar ingin segera sampai di tujuan. Dunia ternyata tidak sesibuk itu memperhatikan kita.

Kesadaran ini membuat saya bertanya, selama ini siapa sebenarnya yang menghakimi? Setelah direnungkan, sering kali bukan orang lain, melainkan kebisingan di dalam kepala sendiri. Kita menciptakan penonton yang tidak pernah ada, lalu memberi mereka suara, penilaian, bahkan ejekan. Buruk sangka kepada orang lain perlahan berubah menjadi penjara yang membatasi langkah kita sendiri.

Betapa banyak kesempatan hilang hanya karena takut pada penilaian yang sebenarnya tidak pernah diucapkan siapa pun. Kita menunda belajar, enggan bertanya, malu mencoba, bahkan menyembunyikan minat yang kita cintai. Semua itu lahir dari ilusi bahwa dunia sedang mengawasi setiap gerakan kita.

Padahal, kenyataannya sederhana. Kebanyakan orang terlalu sibuk menjalani hidupnya sendiri untuk terus memikirkan hidup orang lain. Maka, jika ingin membaca, bacalah. Jika ingin belajar, belajarlah. Jangan biarkan suara yang paling keras di dalam kepala mengalahkan kenyataan yang jauh lebih tenang.

Buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih empati.
03/08/2026

Buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih empati.

Ada yang udah nyoba? 😁
02/08/2026

Ada yang udah nyoba? 😁

Mengapa masyarakat diajak gemar membaca, tetapi buku justru dikenai pajak yang termasuk paling tinggi di Asia Tenggara?
31/07/2026

Mengapa masyarakat diajak gemar membaca, tetapi buku justru dikenai pajak yang termasuk paling tinggi di Asia Tenggara?

Kemunduran umat Islam sering dijelaskan dengan berbagai alasan: penjajahan, konflik politik, ketimpangan ekonomi, hingga...
30/07/2026

Kemunduran umat Islam sering dijelaskan dengan berbagai alasan: penjajahan, konflik politik, ketimpangan ekonomi, hingga dominasi Barat. Semua itu memang nyata. Namun pertanyaan yang lebih jujur adalah, apakah kita sedang menghadapi penyebab, atau hanya akibat?

Menariknya, wahyu pertama yang Allah turunkan bukanlah perintah beribadah secara ritual, melainkan perintah membangun peradaban.

اقرأ باسم ربك الذي خلق

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Islam memulai kebangkitannya bukan dari kekuatan militer, tetapi dari budaya membaca, berpikir, meneliti, dan mencari kebenaran. Karena ilmu adalah fondasi yang melahirkan kekuatan di bidang ekonomi, teknologi, politik, bahkan peradaban.

Hari ini, kita hidup di era informasi, tetapi belum tentu di era ilmu. Kita cepat menyebarkan kabar, tetapi lambat memverifikasi. Kita mudah menghafal, tetapi enggan memahami. Kita senang memenangkan perdebatan, tetapi malas memperdalam pengetahuan.

Mungkin inilah ironi terbesar.

Kita bangga menjadi pengikut kitab yang dimulai dengan kata "Bacalah", tetapi justru kehilangan budaya membaca, berpikir, dan meneliti.

Barangkali kebangkitan umat tidak dimulai dari slogan-slogan besar.

Ia dimulai ketika perintah pertama itu kembali menjadi cara hidup.

Bukan sekadar dibaca.
Tetapi dijalankan.

Bagaimana menurutmu, apakah kemunduran umat lebih disebabkan oleh faktor eksternal, atau karena kita mulai meninggalkan semangat "Iqra"?

Address

Jalan Raya Cilangkap, RT. 06 RW. 12, Kec. Tapos
Depok
16458

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sharjah Publishing posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share