04/11/2025
PART 3 — “Rahasia yang Tak Pernah Dikubur”
William tak bisa tidur malam itu. Ponsel di sisinya berulang kali ia bangun-bangunkan, berharap ada pesan lain selain tiga kata dingin yang sempat ia baca tadi di layar istrinya:
“Kita harus bicara.”
Bukan dari lelaki. Bukan juga dari kontak dengan nama “sayang”, “baby”, atau yang sejenisnya. Yang membuat William justru makin gelisah adalah… isi nama pengirim itu:
Damar.
Sosok yang seharusnya sudah lama hilang dari hidup istrinya.
William berdiri, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara Helena tertidur membelakanginya. Nafas Helena terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
William pernah mendengar nama itu. Sekali. Bertahun-tahun lalu. Saat masih jadi tunangan. Hanya muncul satu kali, dalam satu kalimat, dan Helena tak pernah mau membuka cerita lebih jauh.
Kalimat yang selalu William ingat:
“Aku punya masa lalu yang... tolong, jangan pernah tanya lagi soal itu.”
Dan saat itu William memilih percaya, karena mereka sedang jatuh cinta, dan saat orang jatuh cinta, logika seringnya dicoret dari daftar prioritas.
Tapi malam ini, nama itu kembali. Dan Helena berbohong bilang itu hanya urusan kerja? Tidak. William tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.
Pagi harinya, situasi berjalan seperti keluarga normal. Terlalu normal.
Meja makan rapi. Helena menyiapkan sarapan, seperti biasa. Senyumnya manis, suaranya lembut. Seolah tidak ada apa-apa semalam. Seolah rumah ini benar-benar damai tanpa rahasia.
“Mas kok diem aja? Not feeling well?” tanya Helena, menusuk pangsit goreng di piringnya.
William menatap istrinya lama.
“Helena…”
“Hm?”
“Kamu yakin… nggak ada yang mau kamu ceritakan?”
Helena berhenti memotong rotinya. Ada jeda satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu ia tertawa kecil.
“Kok kayak interogasi? Aku kerja, Mas. Bukan kriminal.”
Jawaban yang enak di telinga, tapi gatal di hati.
William ingin bertanya siapa Damar. Ia ingin memaksa Helena bicara. Tapi ucapan itu mengunci di tenggorokannya. Rumah tangga mereka baik-baik saja—setidaknya di permukaan. Dan William takut, sekali saja ia cungkil, semuanya bisa runtuh.
Siang hari, William memberanikan diri mencari tahu lewat jalan lain.
Ia datang ke kantor Helena—tanpa memberi kabar.
Helena sedang tidak ada di meja. Rekan kerja Helena yang bernama Rani tampak sedikit kaget melihat William.
“Oh, Mas William. Helena lagi keluar sebentar. Meeting katanya.”
William mengangguk. “Meeting sama klien ya?”
Rani tampak canggung. “Harusnya sih… iya.”
Harusnya. Tapi nada suaranya tidak yakin.
William menatap meja kerja Helena. Rapi. Terlalu rapi. Lalu matanya tertarik pada sebuah map cokelat di pojok meja, tanpa nama, tanpa label, hanya ada sedikit tulisan di bagian dalam foldernya yang setengah tampak:
…MAR
William menelan ludah. D–A–M–A–R.
Dan sebelum sempat menyentuh folder itu, ponselnya bergetar. Notifikasi WhatsApp masuk. Dari nomor tak dikenal.
Isi pesannya hanya satu kalimat:
“Kalau kamu sayang Helena, jangan ikut campur.”
William menatap layar itu lama. Tangannya dingin. Jantungnya berat.
Orang ini tahu Helena. Tahu dirinya. Tahu mereka masih bersama. Dan tahu apa yang sedang ia cari.
Siapa pun orang ini…
Masa lalu Helena belum mati. Dan sekarang, masa lalu itu menatap balik.
Bersambung…
💬 Kalau kamu jadi William, apa langkah pertama yang bakal kamu lakukan setelah dapat pesan itu?
Tulis jawabanmu di komentar — gue baca semua.
🕘 Part 4 rilis besok malam. Siap-siap, rahasianya mulai terbuka.