26/12/2025
Mengoreksi Kembali Tujuan Hidup di Dunia: "Hidup Buat Apa?"
Oleh: Adzkia Afifah Effendi
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)
Ketika mendengar kata “tujuan hidup,” terkadang, yang terlintas di benak mayoritas orang sebatas pencapaian yang sifatnya duniawi seperti “ketika telah dewasa, saya akan menjadi seorang tentara,” atau “ketika lulus dari sekolah ini, saya akan berkuliah di kampus itu lalu saya akan menjadi ini dan itu,” dan semacamnya.
Padahal, sebenarnya tujuan hidup kita lebih mulia daripada itu semua.
Sebelum mengetahui tujuan hidup kita, perlu kita ketahui terlebih dahulu tujuan penciptaan kita. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat ‘sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini’.”
Kemudian Allah juga berfirman dalam Q.S Adz-Dzariyat; 56: “Tidaklah Aku akan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”
Maka sejalan dengan kedua firman tersebut, dapat kita ketahui bahwasanya tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk menjadi khalifah-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya.
Perlu diketahui p**a bahwasanya Allah sudah menjelaskan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an bahwasanya kehidupan di dunia ini hanya sementara, kehidupan akhiratlah yang selamanya.
Jadi, tujuan kita hidup di dunia ini kurang lebih adalah untuk meraih ridho-Nya serta berusaha menjaga segala hal agar selalu selaras dengan syari’at-Nya, lalu dengan izin-Nya, kita akan tinggal dalam surga-Nya di kemudian hari.
Ketika sudah memahami bahwasanya kehidupan kita di dunia ini sekedar mempersiapkan diri untuk menuju kehidupan yang abadi, kita akan senantiasa berhati-hati dan mempertimbangkan segala dampak yang akan terjadi akibat pilihan dan keputusan serta tindakan kita; membuat manusia salah ketika mengambil pilihan dan keputusan serta tindakan dalam perjalanan hidupnya.
Sebagai contoh, seperti yang telah kita ketahui bahwasanya belum lama ini terjadi bencana banjir yang menimpa beberapa daerah di p**au Sumatra. Selain difaktori oleh takdir Allah serta curah hujan yang tidak wajar dan eksploitasi hutan yang berlebihan, hal itu juga terjadi akibat kecacatan yang terletak pada cara pandang yang mempengaruhi orientasi pemimpin negeri ini.
Mereka membuat undang-undang perlindungan hutan, namun, demi cuan, mereka mewajarkan pop**asi hewan lokal terancam punah akibat habitat aslinya dirusak. Mereka berisik menyuarakan wacana reboisasi di sebagian daerah, namun, demi cuan, mereka merelakan jutaan pohon ditebang secara brutal di sebagian daerah lainnya untuk dijadikan pusat industri.
Miris, namun begitulah yang terjadi.
Anda kata mereka sadar bahwasanya mereka adalah khalifatullah fil ard yang Allah amanahi untuk menjaga bumi, mereka tidak akan membiarkan alam dijarah dengan semena-mena. Mereka akan memanfaatkan alam seperlunya, bukan merusaknya.
Sayangnya, saat ini mereka sedang terfokus untuk memajukan diri dan negeri dari segi materi. Menghalalkan segala cara asalkan bisa berfoya-foya. Melupakan kewajiban utama, yaitu beribadah dan menjadi khalifah.
Maka dari itu, marilah mulai dari diri kita sendiri untuk mengoreksi kembali tujuan hidup kita. Jangan sampai kita terjerumus dalam kesesatan yang akan merusak segala hal yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan.
Jadilah seorang muslim yang berpandangan islami, yang hidup dengan kehati-hatian dan pertimbangan, mengusahakan kemaslahatan dan menghindari kemudharatan.