Artikel Santri At-Taqwa

Artikel Santri At-Taqwa Kumpulan Artikel Santri Pesantren At-Taqwa Depok

Mengoreksi Kembali Tujuan Hidup di Dunia: "Hidup Buat Apa?"Oleh: Adzkia Afifah Effendi(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Dep...
26/12/2025

Mengoreksi Kembali Tujuan Hidup di Dunia: "Hidup Buat Apa?"

Oleh: Adzkia Afifah Effendi
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)

Ketika mendengar kata “tujuan hidup,” terkadang, yang terlintas di benak mayoritas orang sebatas pencapaian yang sifatnya duniawi seperti “ketika telah dewasa, saya akan menjadi seorang tentara,” atau “ketika lulus dari sekolah ini, saya akan berkuliah di kampus itu lalu saya akan menjadi ini dan itu,” dan semacamnya.

Padahal, sebenarnya tujuan hidup kita lebih mulia daripada itu semua.

Sebelum mengetahui tujuan hidup kita, perlu kita ketahui terlebih dahulu tujuan penciptaan kita. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat ‘sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini’.”

Kemudian Allah juga berfirman dalam Q.S Adz-Dzariyat; 56: “Tidaklah Aku akan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

Maka sejalan dengan kedua firman tersebut, dapat kita ketahui bahwasanya tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk menjadi khalifah-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya.

Perlu diketahui p**a bahwasanya Allah sudah menjelaskan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an bahwasanya kehidupan di dunia ini hanya sementara, kehidupan akhiratlah yang selamanya.

Jadi, tujuan kita hidup di dunia ini kurang lebih adalah untuk meraih ridho-Nya serta berusaha menjaga segala hal agar selalu selaras dengan syari’at-Nya, lalu dengan izin-Nya, kita akan tinggal dalam surga-Nya di kemudian hari.

Ketika sudah memahami bahwasanya kehidupan kita di dunia ini sekedar mempersiapkan diri untuk menuju kehidupan yang abadi, kita akan senantiasa berhati-hati dan mempertimbangkan segala dampak yang akan terjadi akibat pilihan dan keputusan serta tindakan kita; membuat manusia salah ketika mengambil pilihan dan keputusan serta tindakan dalam perjalanan hidupnya.

Sebagai contoh, seperti yang telah kita ketahui bahwasanya belum lama ini terjadi bencana banjir yang menimpa beberapa daerah di p**au Sumatra. Selain difaktori oleh takdir Allah serta curah hujan yang tidak wajar dan eksploitasi hutan yang berlebihan, hal itu juga terjadi akibat kecacatan yang terletak pada cara pandang yang mempengaruhi orientasi pemimpin negeri ini.

Mereka membuat undang-undang perlindungan hutan, namun, demi cuan, mereka mewajarkan pop**asi hewan lokal terancam punah akibat habitat aslinya dirusak. Mereka berisik menyuarakan wacana reboisasi di sebagian daerah, namun, demi cuan, mereka merelakan jutaan pohon ditebang secara brutal di sebagian daerah lainnya untuk dijadikan pusat industri.

Miris, namun begitulah yang terjadi.

Anda kata mereka sadar bahwasanya mereka adalah khalifatullah fil ard yang Allah amanahi untuk menjaga bumi, mereka tidak akan membiarkan alam dijarah dengan semena-mena. Mereka akan memanfaatkan alam seperlunya, bukan merusaknya.

Sayangnya, saat ini mereka sedang terfokus untuk memajukan diri dan negeri dari segi materi. Menghalalkan segala cara asalkan bisa berfoya-foya. Melupakan kewajiban utama, yaitu beribadah dan menjadi khalifah.

Maka dari itu, marilah mulai dari diri kita sendiri untuk mengoreksi kembali tujuan hidup kita. Jangan sampai kita terjerumus dalam kesesatan yang akan merusak segala hal yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan.

Jadilah seorang muslim yang berpandangan islami, yang hidup dengan kehati-hatian dan pertimbangan, mengusahakan kemaslahatan dan menghindari kemudharatan.

Begini Cara Islam Memandang Bencana AlamOleh: Adzkia Afifah Effendi (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)Pembi...
26/12/2025

Begini Cara Islam Memandang Bencana Alam

Oleh: Adzkia Afifah Effendi (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)

Pembina Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Adian Husaini, pada Ahad (7/12/25) mengingatkan kembali kepada para santri tentang pentingnya memandang segala sesuatu dengan pandangan Islam (Islamic worldview).

Uniknya, materi tersebut disampaikan dengan menyertakan berita yang masih hangat dibicarakan saat ini, yakni tragedi banjir bandang dan longsor di Provinsi Sumatra. Hal ini membuat para santri bersemangat dan antusias untuk mendengarkan tausiyah Shubuh itu.

Sebagaimana kita tahu, bahwasanya bencana ini terjadi akibat eksploitasi hutan yang berlebihan, sungai dangkal dan curah hujan yang tidak wajar. Penggundulan hutan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab berhasil membuat tanah Indonesia kehilangan sebagian besar “organ tubuhnya”. Menjadikannya lemah dan rawan terkena bancana.

Di samping itu, kuantitas air hujan yang biasanya turun selama satu bulan, diguyur di Sumatra hanya dalam waktu beberapa hari. Oleh karenanya, sungai pun meluap dan airnya melahap pemukiman warga. Akhirnya, tidak sedikit korban yang meninggal, luka-luka, bahkan menghilang.

Dalam menyikapi peristiwa ini, kata Ustadz Adian, ada sebagian orang yang hanya menilainya dari segi fisik, yang kasat mata. Dalam pandangannya, bencana yang menimpa Sumatra adalah karena kemarahan alam belaka.

“Akhirnya, karena pandangan itu, mereka berupaya untuk menanggulanginya hanya dengan berbagai cara yang sifatnya zahir, seperti reboisasi hutan kembali dan semacamnya,” ujarnya.

Cara pandang yang hanya mencukupkan pada dimensi “fisik” atau “empiris” semacam itu merupakan cara pandang sekuler. Mereka memisahkan unsur fisika dan metafisika yang pada hakikatnya tidak bisa dipisahkan.

“Akibatnya, mereka memahami realitas secara parsial, tidak utuh,” tegas Ustadz Adian.

Ketika memandang bencana tersebut, mereka sebatas tahu—misalnya—bahwasanya banjir terjadi akibat curah hujan yang tidak wajar. Hujan datang dari awan yang menampung air-air yang menguap dari permukaan bumi, kemudian awan-awan tersebut mengarah ke sana.

Padahal, pergerakan awan yang mengarah ke Sumatera bukanlah atas kehendak awan itu sendiri. Karena awan tidak berkehendak. Melainkan karena ada suatu Dzat yang menghendaki awan itu bergerak ke sana. Lalu siapakah Dzat yang menggerakkan awan-awan itu? Mereka pasti bingung untuk menjelaskannya.

Sebagai orang Islam, kita mengetahui bahwasanya ilmu tidak bisa didapat hanya dengan panca indera dan akal, melainkan juga butuh khabar shadiq berupa wahyu. Oleh karenanya, kita selalu beranggapan bahwa segala hal yang terjadi di kehidupan ini tidak akan pernah luput dari kehendak Allah.

“Kita memandang realitas dari aspek akidah dan syariah, mengakui akan peranan sebab atas terjadinya akibat, namun di luar semua itu, ada ketentuan dan kemahakuasaan Allah yang mengaturnya,” jelas Doktor Pemikiran dan Peradaban Islam itu.

Dengan pandangan yang integral itu, yang menggabungkan dimensi dunia dan akhirat, penanggulangan terhadap bencana yang dilakukan juga akan utuh: tetap melakukan reboisasi, ditambah dengan berupaya untuk semakin dekat dan taat kepada Allah, juga semakin terdorong untuk melakukan amar ma`ruf nahi munkar.

Di sisi lain, perlu diketahui bahwa tujuan Allah menghadirkan musibah adalah sebagai teguran bagi orang-orang yang tidak beriman dan ujian bagi orang-orang yang beriman. Maka sepatutnya, musibah yang menimpa Sumatra dapat menyadarkan orang-orang yang belum beriman dan menaikkan derajat orang-orang yang beriman, yang lulus dari ujian tersebut.

Ketika kita berpandangan secara islami, hidup akan terasa jauh lebih tenang. Karena kita yakin bahwasanya ada hikmah yang terkandung di dalam setiap peristiwa di dunia. Kita juga percaya bahwa setelah kehidupan yang singkat di dunia, akan ada kehidupan yang kekal di akhirat.

Oleh: Adzkia Afifah Effendi (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)

Menyikapi Hari Raya Natal: Hormati, Tidak Perlu Ikuti Apalagi AminiOleh: M. Rofi Abdurrohiim(Santri SMA Pesantren At-Taq...
25/12/2025

Menyikapi Hari Raya Natal: Hormati, Tidak Perlu Ikuti Apalagi Amini

Oleh: M. Rofi Abdurrohiim
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 18 Tahun)

Dalam Kalender Masehi, bulan Desember merupakan bulan yang identik dengan perayaan Natal. Bagi umat Kristen, Natal bukan hanya tradisi, melainkan ibadah, satu bentuk rasa syukur atas lahirnya sosok manusia yang dianggap Tuhan yang nantinya menebus dosa manusia.

Muncul p**a berita Menteri Agama akan mengadakan perayaan “Natal Bersama” di Kemenag. “Natal itu adalah semacam kegiatan-kegiatan untuk mengingatkan kita, menyadarkan kita akan pentingnya sebuah kebersamaan,” ucap Menag sejak 25 November lalu.

Pembina Pesantren At-Taqwa Depok, Dr. Adian Husaini, pada Ahad (14/12/25), menjelaskan kepada para santri bagaimana menyikapi perayaan Natal sesuai dengan pandangan Islam (Islamic Worldview).

Ustadz Adian berpegang teguh kepada fatwa MUI yang menegaskan bahwa umat Islam haram mengikuti perayaan natal bersama. Fatwa itu keluar tahun 1981, ketika MUI dipimpin oleh Buya Hamka. Hamka sampai rela mencopot jabatannya demi mempertahankan fatwa itu.

Supaya bisa memahami sikap tegas Buya Hamka itu secara tepat, Ustadz Adian menjelaskan tiga (3) hal penting kepada para santri. Pertama, soal karakteristik Islam sebagai “satu-satunya agama wahyu yang murni” (the only genuine revealed religion).

Islam, katanya, hanya satu-satunya agama yang benar lagi diridhai karena sumbernya wahyu, mulai dari nama agamanya (QS. 3: 19 & 85, 5: 3), nilai-nilainya, sampai nama Tuhannya (20: 14). Allah pun mengutus Nabi Muhammad sebagai suri teladan yang lengkap dan abadi kepada seluruh manusia.

Karena sumbernya wahyu dan punya suri teladan universal, maka Islam mempunyai ajaran-ajaran yang sifatnya tetap dan final (ushul) dan diperuntukkan kepada semua manusia (universal).

Sebagai satu-satunya agama wahyu yang murni, satu-satunya agama yang benar, maka umat Islam harus p**a meyakini agama Islam menempati tempat tertinggi. Orang Islam juga harus yakin kalau Islam merupakan agama yang sudah sempurna sejak kemunculannya.

Hal kedua yang perlu yang perlu dipahami adalah Islam menempatkan urusan akidah pada level tertinggi. “Satu-satunya barang berharga yang dimiliki oleh umat Islam adalah iman,” tegas Ustadz Adian mengutip Pahlawan Nasional Mohammad Natsir.

Mengutip kitab Sullamut Taufiq, Ustadz Adian menegaskan bahwa kewajiban pertama orang Islam adalah menjaga Islamnya. Karena syahadat pun bisa batal. Tanpa iman, segala amal akan sia-sia, tidak bernilai di sisi Allah (QS. 24: 39 & 2: 217). Itulah mengapa Luqman mengatakan kalau syirik adalah kezaliman terbesar (QS. 31-13)

Dengan memahami bagaimana pandangan Islam terhadap dua hal di atas, maka sebagai orang Islam kita bisa memahami mengapa Buya Hamka begitu tegas soal pengharaman Natal Bersama bagi orang Islam. Kalaupun tidak sampai syirik, ia bisa bersikap munafik, karena hatinya jelas mengingkarinya.

Kalau ada yang kontra dengan fatwa itu dengan alasan “demi kerukunan”, kata Ustadz Adian, “Kerukunan jangan mengorbankan iman.” Inilah hal ketiga yang perlu dipahami, bahwa toleransi antar umat beragama itu cukup menghormati, tidak perlu mengikuti apalagi mengamini keyakinan agama lain.

Ketika akidah coba dicampuradukkan, itulah intoleransi. Justru dengan meletakkan loyalitas tertinggi kepada Allah kita akan semakin toleran dengan umat beragama lain. Begitulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabatnya, seperti Umar bin Khathab.

Karen Armstrong dalam bukunya, A History of Jerusalem, menyebut penaklukkan Palestina oleh Khalifah Umar sebagai “a peaceful concuest”. Kala itu tidak ada pembunuhan, perusakan rumah ibadah agama lain, bahkan pemaksaan masuk Islam.

Umar tetap membolehkan orang-orang Nasrani merayakan hari besarnya namun mewajibkan umat Islam untuk tidak mendekatinya. Begitulah prinsip toleransi dalam Islam: menghormati dan tidak mengganggu, dan tidak mencampuradukkan keimanan.

Oleh: M. Rofi Abdurrohiim (Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 18 Tahun)

Ungkapan hati santri 2 SMP (12/25)
25/12/2025

Ungkapan hati santri 2 SMP (12/25)

CATATAN SANTRI-SANTRI 3 SMP PESANTREN AT-TAQWA DEPOK SELAMA MENJALANI PROGRAM RIHLAH SEJARAH KELILING PULAU JAWA1. Ke Su...
08/12/2025

CATATAN SANTRI-SANTRI 3 SMP PESANTREN AT-TAQWA DEPOK SELAMA MENJALANI PROGRAM RIHLAH SEJARAH KELILING PULAU JAWA

1. Ke Surakarta, Mengenal Nilai Penting Naskah-Naskah Kuno

Oleh: Ghafara Rajaswa Al-Shirazy
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 15 tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/ke-surakarta-mengenal-nilai-penting-naskah-naskah-kuno

2. Ke Malang, Silaturahmi Ke Pesantren Nurul Haromain

Oleh: Nada Salsabila
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 15 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/ke-malang-silaturahmi-ke-pesantren-nurul-haromain

3. Ke Mojowarno, Belajar Sejarah Kristenisasi di Jawa

Oleh: Syamil Ahsan Athallah
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/ke-mojowarno-belajar-sejarah-kristenisasi-di-jawa

4. Ke Mojokerto, Belajar Sejarah Kerajaan Majapahit dan Indonesia Masa Pra Islam

Oleh: Adhwa Aulia Estetika Putri
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/ke-mojokerto-belajar-sejarah-kerajaan-majapahit-dan-indonesia-masa-pra-islam

5. Ke Yogyakarta, Belajar Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro

Oleh: Ammar Ibrahim & Ilcira Edgina Zahidah Martin
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun & 15 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/ke-yogyakarta-belajar-sejarah-perjuangan-pangeran-diponegoro

6. Ke Bandung, Belajar 3 Sejarah: Konferensi Asia-Afrika, Asal-Usul Manusia, dan Sains Islam

Oleh: Zakiya Aiza Karima & Oleh: Hanufa Tazkiya
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 13 Tahun & 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/ke-bandung-belajar-3-sejarah-konferensi-asia-afrika-asal-usul-manusia-dan-sains-islam

CATATAN SANTRI-SANTRI 3 SMP PESANTREN AT-TAQWA DEPOK SELAMA MENJALANI PROGRAM RIHLAH ILMIAH SELAMA 1 BULAN DI PANDAAN, J...
29/11/2025

CATATAN SANTRI-SANTRI 3 SMP PESANTREN AT-TAQWA DEPOK SELAMA MENJALANI PROGRAM RIHLAH ILMIAH SELAMA 1 BULAN DI PANDAAN, JAWA TIMUR

BERANGKAT

1. Rihlah Ilmiah: Cara Membangun Budaya Ilmu Untuk Murid SMP di Pesantren At-Taqwa Depok

Oleh: Zein Addien
(Wali Kelas Santri 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok)

https://attaqwa.id/liputan/baca/menjelajah-ilmu-menyapa-sejarah-rihlah-ilmiah-pandaan-2025-dimulai

2. Santri At-Taqwa Depok Kunjungi Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang

Oleh: Khairina Noor Habibah
(Santri SMP At-Taqwa Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/santri-at-taqwa-depok-kunjungi-masjid-agung-jawa-tengah-semarang

3. Tiba di Pandaan Jawa Timur, Santri At-Taqwa Depok Siap Belajar Ilmu dan Adab Selama 1 Bulan

Oleh: Ammar Ibrahim
(Santri SMP At-Taqwa Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/tiba-di-pandaan-jawa-timur-santri-at-taqwa-depok-siap-belajar-ilmu-dan-adab-selama-1-bulan

BELAJAR
A. NGAJI KITAB

1. Belajar Konsep dan Adab Ilmu Melalui Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim

Oleh: Abdullah Fahmi Khana
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/belajar-konsep-dan-adab-ilmu-melalui-kitab-adabul-alim-wal-mutaallim

2. Belajar Mudah Akidah Islam melalui Kitab Syarah Aqidat al-Awwam

Oleh: Arkan Fathin Jirnadahara
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/belajar-mudah-akidah-islam-melalui-kitab-syarah-aqidat-al-awwam

3. Belajar Mudah Dasar-Dasar Islam Melalui Kitab Sullamut Taufiq

Oleh: Syamil Ahsan Athallah
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/belajar-mudah-dasar-dasar-islam-melalui-kitab-sullamut-taufiq

4. Para Nabi & Rasul Pasti Ishmah, Jangan Ragu!

Oleh: Zaim Khairul Majdi & Nada Salsabila
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 15 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/para-nabi-rasul-pasti-ishmah-jangan-ragu

5. Beradab Kepada Ilmu, Perlu Dipelajari!

Oleh: Asad Hadhari & Adhwa Aulia Estetika Putri
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 13 & 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/beradab-kepada-ilmu-perlu-dipelajari

6. Belajar Jadi Hamba Allah yang Baik

Oleh: Ghafara Rajaswa Al-Shirazy & Ghozy Ibadurrahman
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 15 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/belajar-jadi-hamba-allah-yang-baik

7. Maksiat Hati dan Tubuh Jauhi, Supaya Jadi Manusia yang Allah Ridhai

Oleh: Ilcira Edgina Zahidah Martin
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/maksiat-hati-dan-tubuh-jauhi-supaya-jadi-manusia-yang-allah-ridhai

8. Bantah Tuduhan Keji Orientalis Soal Poligami Nabi Muhammad

Oleh: Abdullah Ibrahim Azam
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 16 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/bantah-tuduhan-keji-orientalis-soal-poligami-nabi-muhammad

9. Murid Teladan: Di Luar “Kelas” Jaga Diri, Di Dalam “Kelas” Menyimak & Mencatat

Oleh: Drupadi Hammam Pranoto
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/murid-teladan-di-luar-kelas-jaga-diri-di-dalam-kelas-menyimak-mencatatat

B. “NGAJI” PENGALAMAN

1. Habib Ahmad al-Baaghil: Begini 5 Kiat Sukses Belajar

Oleh: M. Kareem Abdul Jabbar
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/habib-ahmad-al-baaghil-begini-5-kiat-sukses-belajar

2. Sambangi Panti Werdha, Belajar Langsung Tentang Arti Bakti Kepada Orang Tua

Oleh: Adhwa Aulia Estetika Putri
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/sambangi-panti-werdha-belajar-langsung-tentang-arti-bakti-kepada-orang-tua

3. Nahi Munkar Karena Cinta

Oleh: Zaim Khairul Majdi
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 15 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/nahi-munkar-karena-cinta

4. Jaga Iman Dengan Jaga Lisan

Oleh: Rabi’ah Adawiyah
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/jaga-iman-dengan-jaga-lisan

5. Jangan Bosan Mengevaluasi Niat

Oleh: Hanufa Tazkiya Salma
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/jangan-bosan-mengevaluasi-niat

PAMIT

1. Alhamdulillah, 1 Bulan Khatam 3 Kitab

Oleh: M. Kareem Abdul Jabbar, Andika Yusuf Hawari, Zakiya Aiza Karima
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14-15 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/alhamdulillah-1-bulan-khatam-3-kitab

2. Terima Kasih atas Bongkahan Ilmunya Selama 1 Bulan Ini

Oleh: Asad Hadhari
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 13 Tahun)

https://attaqwa.id/liputan/baca/terima-kasih-atas-bongkahan-ilmunya-selama-1-bulan-ini

Bukan Sekedar Kunjungan: Siswa PADI Latihan Mondok di Pesantren At-TaqwaOleh: Zeyd Farkhi Ahmad (Santri SMA Pesantren At...
18/11/2025

Bukan Sekedar Kunjungan: Siswa PADI Latihan Mondok di Pesantren At-Taqwa

Oleh: Zeyd Farkhi Ahmad
(Santri SMA Pesantren At-Taqwa Depok, 18 Tahun)

Ahad (02/11/25) Pondok Pesantren At-Taqwa Depok mengundang murid kelas 6 Pesantren Adab dan Ilmu (PADI)—jenjang sekolah dasar—untuk melaksanakan program mondok di Pesantren At-Taqwa selama dua pekan.

Pesantren At-Taqwa dan Sekolah PADI sendiri merupakan dua lembaga pendidikan yang bernaung dalam satu yayasan. Keduanya memilki visi misi pendidikan yang sama.

Sudah menjadi program tahunan, santri PADI tingkat akhir dikirim ke Pesantren At-Taqwa untuk “mengintip” kegiatan santri sehari-hari. Mereka dilatih untuk menjadi seorang yang mandiri dan beradab.

Mereka berjumlah 16 anak, yang terdiri dari 8 ikhwan dan 8 akhwat. Mondok bagi mereka adalah hal baru yang berat, mereka sedih karena harus berpisah dengan orang tuanya, meski hanya sebentar.

Dalam hal kedisiplinan, mereka dilatih untuk bisa melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, piring, menyapu lantai, dsb.

Dalam hal ibadah, mereka juga dibiasakan untuk melaksanakan ibadah yang sepertinya jarang mereka lakukan di rumah, seperti tahajjud, tadarus sore, membaca al-kahfi, dan lain-lainnya.

Setiap hari mereka juga mendapatkan pelajaran-pelajaran dasar dalam fiqh, akidah, sejarah, hingga naskah melayu. Setiap pekan di Hari Rabu, mereka mengikuti beladiri Syufu Taeshukhan dan lari pagi untuk melatih otot-otot tubuh.

Di Hari Jumat pekan pertama, mereka di bawa ke alun-alun kota Depok untuk refreshing, bertamasya, dan bermain bola. Sedangkan pada Jumat terakhir, mereka mengikuti kegiatan renang.

Pada Hari Sabtu (15/11/25) lalu, tibalah mereka di penghujung rangkaian kegiatan mondok di Pesantren At-Taqwa. Acara penutupan di laksanakan di Aula Pesantren At-Taqwa pada siang hari.

Acara dibuka oleh sambutan dari perwakilan pimpinan Pesantren At-Taqwa, Dr. Suidat, dan lanjut oleh mudir SD Pesantren Adab dan Ilmu, Pak Erga. Lalu acara di lanjut dengan beberapa penampilan, seperti pembacaan puisi, pidato, hingga menyanyikan mars At-Taqwa.

Acara ditutup dengan penayangan video kenangan selama mereka tinggal di At-Taqwa dan pembacaan nominasi santri, mula dari; terbersih, tersemangat, hingga ter-the best.

Rindu yang telah lama dipendam, akhirnya terbayarkan dengan melihat kembali kehadiran orang tua mereka. Mereka silih bercium tangan dan berpelukan satu sama lain.

Walau hanya dua minggu, banyak hal yang bermanfaat yang mereka bisa ambil di sini. Terpisahnya mereka dari orang tua, terbayarkan dengan pelajaraan yang bermakna bagi kehidupan mereka.

Belajar Mudah Dasar-Dasar Islam Melalui Kitab Sullamut TaufiqOleh: Syamil Ahsan Athallah(Santri SMP Pesantren At-Taqwa D...
09/11/2025

Belajar Mudah Dasar-Dasar Islam Melalui Kitab Sullamut Taufiq

Oleh: Syamil Ahsan Athallah
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

Pada pekan pertama belajar 1 bulan di Pandaan Jawa Timur (dimulai akhir Oktober), saya dan teman-teman (santri Pesantren At-Taqwa Depok tingkat 3 SMP), belajar kitab Sullamut Taufiq. At-taufiq. Guru yang mengajar adalah Ustadz Ghazali.

Sullamut Taufiq membahas tentang dasar-dasar Islam yang wajib diketahui oleh setiap Muslim dan Muslim. Di antaranya ilmu akidah, ilmu fiqih ibadah dasar (seperti najis terbagi menjadi berapa, atau fardhu-fardhu wudhu ada apa saja) juga mu’amalah, dan akhlak atau tazkiyatun nafs. Maka kitab ini sangat bermanfaat untuk para pelajar pemula, bagi siapa pun yang ingin mempelajari dasar-dasar Islam.

Pengarang kitab bernama Syaikh Abdullah bin Husain bin Tohir bin Hasyim al-‘Alawi al-Hadhrami. Kata Ustadz Ghazali, beliau seorang yang sangat pintar menjaga waktu. Beliau lahir di Tarim pada tahun 1991H. Ahli dalam beberapa bidang, seperti fiqh, nahwu, akidah dan lain-lain.

Menarik untuk mengupas penjelasan Ustadz Ghazali terkait pendahuluan kitab Sullamut Taufiq. Pertama beliau menjelaskan tentang pemahaman Allah sebagai Tuhan yang merajai seluruh alam. Beliau menjelaskan bahwa alam adalah segala sesuatu selain Allah. Ada yang mengatakan p**a alam adalah segala sesuatu yang baru, maka segala sesuatu yang baru pasti baru diciptakan.

Allah bukan bagian dari alam karena Ia memiliki sifat berbeda dengan makhluk. Alam adalah ciptaan Allah dan menjadi bukti keberadaan-Nya. Alam malaikat, ghaib, ruh dan lain-lain berada dalam kekuasaan Allah. Maka dari itulah disebut bahwa Allah adalah tuhan seluruh alam.

Kedua, tentang Sahabat Nabi. Beliau menjelaskan, bahwa yang disebut sebagai Sahabat Nabi ialah yang beriman kepada Rasulullah sampai wafat, berjumpa langsung dengan beliau secara langsung. Kedudukan dan derajat para Sahabat paling tinggi. Tidak ada manusia yang bisa menandinginya. Sebab, mereka diajar langsung oleh Nabi SAW. Sanad keilmuannya sangat dekat dengan Nabi

Sanad keilmuan adalah hal yang sangat penting karena ilmu adalah cahaya. Dan pemilik cahaya adalah Nabi SAW. Secara darah memang sangat jelas kita tidak ada hubungannya dengan Nabi, tapi bisa saja kita sambungkan, bukan secara darah tapi secara sanad keilmuan masih bisa bersambung dengan Nabi SAW. Maka perlu diperhatikan sanad keilmuan kita.

Pembelajaran kitab Sullamut Taufiq ini adalah salah satu kegiatan Rihlah Ilmiah di Pandaan Jawa Timur oleh Santri kelas 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok. Mereka mulai belajar di sana pada tanggal 26 Oktober kemarin. Masa pembelajarannya satu bulan. Selain kitab ini, mereka juga akan belajar kitab-kitab lain bersama para ustadz di sana.

Belajar Mudah Akidah Islam melalui Kitab Syarah ‘Aqidat al-AwwamOleh: Arkan Fathin Jirnadahara(Santri SMP Pesantren At-T...
09/11/2025

Belajar Mudah Akidah Islam melalui Kitab Syarah ‘Aqidat al-Awwam

Oleh: Arkan Fathin Jirnadahara
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

Pada pekan pertama belajar 1 bulan di Pandaan Jawa Timur (dimulai akhir Oktober), saya dan teman-teman (santri Pesantren At-Taqwa Depok tingkat 3 SMP), belajar kitab Jalau al-Afham kepada Ustadz Baihaqi S.Ag.

Kitab Jalau al-Afham adalah syarah dari kitab nazham akidah yang sangat fenomenal di Indonesia, ‘Aqidat al-‘Awwam. Kitab ‘Aqidat al-‘Awwam sendiri ditulis oleh Sayyid Ahmad al-Marzuki. Sedangkan Jalau al-Afham ditulis oleh KH. Muhammad Ihya ‘Ulumuddin.

Di awal-awal pembelajaran, kami kembali belajar tentang beberapa sifat wajib bagi Allah: Wujud, Qidam, Baqa’. Pada intinya, ketiga sifat tersebut menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang paling tinggi dan agung. Ia mustahil tidak ada, mempunyai awal dan akhir, dan musnah.

Pembahasan selanjutnya adalah definisi dan perbedaan antara Nabi dan Rasul. Pada intinya mereka adalah laki-laki yang diberikan wahyu oleh Allah. Namun, perbedaannya antara keduanya adalah perintah syari’at untuk disebarkan. Nabi hanya menerima syari’at untuk diri sendiri. Sedangkan Rasul menerima syari’at untuk diri sendiri dan untuk disebarkan umat manusia.

Sebagai syarah, kitab Jalau al-Afham memang ditujukan untuk memberikan penjelasan dari setiap nazham yang ditulis di ‘Aqidat al-Awwam. Meski begitu, isinya tidak begitu sulit untuk dipahami. Maka, dengan ditulisnya dua kitab tersebut, umat Islam bisa lebih mudah memahami ilmu aqidah.

Mengenai ‘Aqidat al-Awwam, kitab ini punya keberkahan yang luar biasa. Sebab, kerumitan yang ada pada ilmu akidah dipermudah, serta format untuk mempelajarinya diubah menjadi nazham (‘Aqidat al-Awwam), bukan sekedar tulisan pada kitab-kitab pada umumnya.

Keunikan dari ‘Aqidat al-‘Awwam adalah dari latar belakan penulisannya. Sang penulis yaitu Sayyid Ahmad al-Marzuki bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memerintahkannya untuk mengulangi nazham yang Rasulullah SAW katakan. Sang penulis pun mengikutinya. Saat ia terbangun, secara tiba-tiba ia langsung hafal nazham yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Nabi SAW di mimpi tadi. Nazham tersebutlah yang dinamainya ‘Aqidat al-‘Awwam.

Pembelajaran kitab Jalau al-Afham ini adalah salah satu kegiatan Rihlah Ilmiah di Pandaan Jawa Timur oleh Santri kelas 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok. Mereka mulai belajar di sana pada tanggal 26 Oktober kemarin. Masa pembelajarannya satu bulan. Selain kitab ini, mereka juga akan belajar kitab-kitab lain bersama para ustadz di sana.

Belajar Konsep dan Adab Ilmu Melalui Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allimOleh: Abdullah Fahmi Khana(Santri SMP Pesantren At...
09/11/2025

Belajar Konsep dan Adab Ilmu Melalui Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim

Oleh: Abdullah Fahmi Khana
(Santri SMP Pesantren At-Taqwa Depok, 14 Tahun)

Pada pekan pertama belajar 1 bulan di Pandaan Jawa Timur (dimulai akhir Oktober), saya dan teman-teman (santri Pesantren At-Taqwa Depok tingkat 3 SMP), belajar kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Ustadz yang mengajar adalah Dr. Kholili Hasib.

Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim ditulis oleh ulama besar sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy’ari. Beliau lahir di dalam keluarga yang mencintai ilmu, di Jombang. Beliau sempat belajar ke Makkah, kemudian kembali ke Jombang dan mendirikan pesantren Tebu Ireng. Beliau meninggal pada tahun 1947. Sebelum meninggal beliau mengeluarkan fatwa jihad yang mewajibkan umat Islam berperang demi mempertahankan kemerdekaan.

Selama belajar kitab itu 1 pekan, kami banyak sekali belajar tentang konsep dan adab “ilmu”. Kami banyak belajar tentang adab-adab guru bersama muridnya, adab-adab murid kepada guru dan pelajaran juga teman-temannya.

Salah satu adab yang kembali ditekankan kepada kami adalah niat menuntut ilmu. Baik guru yang mengajar maupun murid yang belajar, harus punya niat pertama dan utama berupa ridha Allah. Karena, sesungguhnya semua amalan itu tergantung niatnya.

Jika kita melakukan hal yang benar tapi niat kita salah, maka akan sia-sia semua hal yang kita lakukan. Contohnya adalah, kita beribadah kepada Allah SWT, tapi niat kita adalah agar orang-orang lain melihat kita dan memuji kita. Maka bukannya kita dapat pahala tapi malah menambah dosa.

Jika seorang ahli ilmu atau guru tidak memiliki niat yang baik seperti ikhlas dalam mengajarkan ilmu tersebut, dan malah hanya ingin menunjukkan keilmuannya maka tidak akan berkah ilmu tersebut dan tidak akan mendapatkan manfaat bagi dirinya. Begitu pun dengan murid.

Lalu kami juga belajar belajar kembali tentang tingkatan ilmu dalam Islam. Melalui kitab Mbah Hasyim tersebut, kami diingatkan kembali bahwa untuk memulai belajar dengan ilmu yang fardhu a’in, khususnya yang berkenaan dengan akidah, fiqih yang pokok dan akhlak atau adab. Setelah itu lanjut belajar kepada ilmu-ilmu yang fardhu kifayah.

Ilmu yang fardhu a’in itu adalah pokok-pokok agama. Belajar ilmu-ilmu fardhu a’in, tujuannya agar bisa memenuhi kewajiban kami sebagai hamba Allah. Maka ilmu-ilmu yang perlu dipelajari adalah bagian-bagian yang pokok saja. Contohnya, dalam fiqih ibadah, maka cukup bagi kita untuk mempelajari hal-hal sekadar bisa membuat ibadah kita sah, seperti rukun wudhu dan shalat.

Selain itu, melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, kami juga belajar bagaimana agama Islam begitu memuliakan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Dalam salah satu ayat misalnya, Allah berfirman: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian p**a) para malaikat dan orang berilmu” (Ali Imran: 18).

Dari sini, sebagaimana dijelaskan Mbah Hasyim, bisa kita simpulkan bahwa para ulama itu mempunyai kedudukan yang istimewa di dalam Islam, sampai-sampai mereka disandingkan dengan nama Allah dan Malaikat.

Kami pun dijelaskan bahwa diberikannya kedudukan yang tinggi itu adalah tanda bahwa ilmu adalah barang berharga bagi manusia. Dengannya, segala urusan bisa berjalan dengan baik dan orang lain merasakan manfaatnya, khususnya dalam masalah agama dan kepemimpinan.

Pembelajaran kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim ini adalah salah satu kegiatan Rihlah Ilmiah di Pandaan Jawa Timur oleh Santri kelas 3 SMP Pesantren At-Taqwa Depok. Mereka mulai belajar di sana pada tanggal 26 Oktober kemarin. Masa pembelajarannya satu bulan. Selain kitab ini, mereka juga akan belajar kitab-kitab lain bersama para ustadz di sana.

Lisan yang Membawa Terhadap KesesatanOleh: Rabi’ah Adawiyah (14 Tahun)Kami, para Santri At-Taqwa Depok kelas 3 SMP, pada...
06/11/2025

Lisan yang Membawa Terhadap Kesesatan

Oleh: Rabi’ah Adawiyah (14 Tahun)

Kami, para Santri At-Taqwa Depok kelas 3 SMP, pada Rabu (30/10/25), yang sedang belajar 1 bulan di Pandaan Jawa Timur, mengikuti kajian bulanan rutin di Musholla Nur Assalam. Kajian itu diisi oleh Habib Asadullah dari Malang.

Habib Asadullah menjelaskan mengenai perkara penjagaan lisan, yang terdapat di dalam kitab Sullamut Taufiq. Beliau menerangkan bahwasannya lisan itu sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Contohnya untuk berdakwah, melaksanakan amar makruf nahi munkar, dan lain sebagainya.

"Behati-hatilah dengan perkataan yang dikeluarkan dari lisan, karena dengan perkataan itu bisa membawa seseorang kepada kemurtadan tanpa disadari," tegas Habib.

Jika perkataan tersebut berunsur penghinaan mengenai perkara-perkara syariat-syariat Islam atau perkara-perkara yang dimuliakan, seperti shalat, puasa, para nabi, ulama, Aqidah, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan perkataan-perkataan para ulama yang mengkritik keras orang-orang yang sesat? Perkara ini, kata Habib sangat jelas diperbolehkan. Hal itu bisa menampakkan kesesatan orang yang sesat sehingga mencegah masyarakat dari bahayanya kesesatan tersebut.

Lisan itu setara dengan tulisan. Tetapi tulisan sifatnya menetap, kecuali ada hal yang membuat tulisan tersebut hilang. Jika perkataan yang keluar dari lisan itu hanya terlintas di telinga yang mendengar, tapi memungkinkan yang didengar itu tersimpan di dalam ingatannya. Maka dari itu jagalah lisan dan tulisanmu, karena dengan keduanya bisa mempengaruhi pikiran seseorang.

Address

Pesantren At-Taqwa Depok
Depok
16413

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Artikel Santri At-Taqwa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Artikel Santri At-Taqwa:

Share