19/09/2026
SUAMIKU MEMINDAHKAN IBUKU YANG SEDANG KEMOTERAPI KE KAMAR GUDANG BELAKANG, LALU BERKATA, “DI RUMAH INI AKU YANG MENENTUKAN”—AKU TAK MEMBALAS, HANYA MENELEPON SATU ORANG, DAN MALAM ITU WAJAHNYA LANGSUNG PUCAT SAAT BERKAS COKELAT DILETAKKAN DI MEJA MAKAN
BAGIAN 1 — Suamiku Mengusir Ibuku yang Lemah dari Kamar Nyaman Demi Teman-Temannya, Lalu Menyebut Dirinya Kepala Rumah Tangga, Tanpa Tahu Aku Pulang Lebih Cepat dan Melihat Semuanya
Namaku Ratih Prameswari.
Usiaku tiga puluh delapan tahun.
Aku tinggal di sebuah rumah dua lantai di kawasan Bintaro bersama suamiku, Dimas, dan putri kami yang berusia sepuluh tahun, Keira.
Aku sudah menikah dengan Dimas selama sebelas tahun.
Selama itu, aku selalu mengira satu hal tentang pernikahan kami.
Kami mungkin tidak sempurna.
Kami kadang berbeda pendapat soal uang, keluarga, pekerjaan, dan cara mendidik anak.
Tetapi aku percaya kami masih saling menghormati.
Sampai ibuku sakit.
Namanya Bu Marni.
Usianya enam puluh sembilan tahun.
Sejak Ayah meninggal tujuh tahun sebelumnya, Ibu tinggal sendiri di rumah kecilnya di Bogor.
Dia bukan tipe orang tua yang s**a merepotkan anak.
Bahkan ketika lututnya mulai sering sakit, dia masih naik angkot sendiri ke pasar.
Ketika aku menawarkan ART paruh waktu, dia menolak.
“Uangnya simpan buat sekolah Keira,” katanya.
Jadi ketika dokter menemukan kanker payudara dan menyarankan rangkaian kemoterapi, kalimat pertama Ibu justru bukan tentang dirinya sendiri.
Dia bertanya,
“Nanti kamu repot nggak kalau Ibu sering kontrol?”
Aku hampir menangis mendengarnya.
“Bu, yang harus dipikirkan sekarang kesehatan Ibu.”
Setelah kemoterapi pertama, kondisi Ibu jauh lebih berat daripada yang kami bayangkan.
Tubuhnya lemas.
Nafsu makannya turun.
Kadang dia berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi saja harus berpegangan pada dinding.
Dokter bahkan mengingatkan kami agar jangan membiarkannya sendirian terlalu lama setelah beberapa sesi terapi.
Aku langsung menawarkan satu hal.
Ibu tinggal bersama kami sementara.
Rumah kami memiliki satu kamar tamu di lantai bawah.
Letaknya hanya beberapa langkah dari kamar mandi.
Tidak perlu naik tangga.
Jendelanya besar.
Sirkulasi udaranya baik.
Aku bahkan mengganti kasurnya dengan kasur yang lebih nyaman dan memasang bel kecil di meja samping tempat tidur kalau Ibu membutuhkan bantuan.
Sebelum memutuskan itu, aku bicara dengan Dimas.
Bukan satu kali.
Tiga kali.
Aku ingin memastikan dia benar-benar setuju.
Dimas memang tidak terlihat senang.
Namun dia mengatakan,
“Kalau cuma selama pengobatan, ya sudah.”
Aku menganggap itu sebagai dukungan.
Sekarang aku sadar aku terlalu baik dalam menafsirkan sikap orang.
Dua minggu pertama berjalan cukup tenang.
Keira senang Neneknya tinggal bersama kami.
Setiap pulang sekolah, dia masuk ke kamar Ibu dan menunjukkan PR atau cerita tentang teman-temannya.
Aku bekerja sebagai manajer pemasaran sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan.
Sebagian besar pekerjaanku bisa kulakukan dari Jakarta.
Namun pada minggu ketiga Ibu tinggal bersama kami, aku harus pergi ke Surabaya untuk menghadiri pertemuan distributor selama empat hari.
Aku sebenarnya ingin membatalkan perjalanan itu.
Tetapi Ibu sendiri yang memaksaku berangkat.
“Ada Dimas sama Mbak Sri di rumah,” katanya.
Mbak Sri adalah ART kami yang bekerja dari pagi sampai sore.
Dimas juga berkata,
“Kamu kerja saja. Aku bisa lihat keadaan Mama.”
Kalimat itu membuatku tenang.
Setidaknya untuk sementara.
Aku berangkat hari Senin.
Rencananya aku pulang Kamis malam.
Namun rapat terakhir pada Kamis selesai jauh lebih cepat.
Aku berhasil memindahkan penerbangan ke jadwal sore.
Aku tidak memberi tahu siapa pun.
Aku bahkan sempat membeli brownies kes**aan Keira di bandara.
Kupikir aku akan membuat kejutan kecil.
Ternyata justru akulah yang mendapat kejutan.
Sekitar pukul setengah enam, taksi berhenti di depan rumah.
Dari luar saja aku sudah mendengar suara musik.
Bukan musik dari televisi.
Musik keras.
Ada tiga motor terparkir di depan pagar.
Salah satunya milik Rian, sepupu Dimas yang sering datang bersama teman-temannya.
Aku langsung merasa aneh.
Begitu membuka pintu, bau rokok dan makanan berminyak menyambutku.
Di meja ruang keluarga ada beberapa gelas plastik, bungkus ayam goreng, keripik, dan botol minuman.
Sepatu berserakan dekat pintu.
Televisi besar menyala dengan pertandingan sepak bola.
Ada empat laki-laki duduk di sofa.
Mereka tertawa keras.
Salah satunya bahkan mengenakan sandal rumah milikku.
Namun bukan itu yang membuatku membeku.
Pintu kamar tamu terbuka.
Aku melihat beberapa jaket dilempar di atas kasur Ibu.
Sebuah tas olahraga tergeletak di kursi.
Dan dari dalam kamar itu terdengar suara laki-laki.
Aku berjalan mendekat.
Dimas keluar sambil membawa dua kaleng minuman.
Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.
“Lho?”
Dia berhenti.
“Kok sudah pulang?”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu.
Aku melihat ke dalam kamar.
Rian duduk di ujung kasur.
Seorang temannya sedang mengisi daya ponsel.
Di meja tempat obat Ibu biasanya tersusun rapi sekarang ada mangkuk kacang dan bungkus rokok.
Aku menoleh pada Dimas.
“Ibu mana?”
Dimas diam sesaat.
Lalu dia menjawab terlalu santai.
“Di belakang.”
Aku tidak mengerti.
“Belakang mana?”
“Ya kamar belakang.”
Rumah kami memang punya satu ruangan kecil di dekat area laundry.
Kami menyebutnya gudang meski sebenarnya masih bisa dipakai menyimpan barang.
Isinya rak, kardus bekas, koper, kipas rusak, dan perlengkapan rumah tangga.
Tidak ada kamar mandi.
Tidak ada AC.
Bahkan jendelanya hanya ventilasi kecil.
Jantungku mulai berdetak keras.
“Kamu pindahkan Ibu ke gudang?”
Dimas langsung terlihat kesal karena aku menyebutnya begitu.
“Bukan gudang. Kan sudah dibersihkan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Rian perlahan berhenti tersenyum.
Dimas menghela napas.
“Teman-teman datang nonton pertandingan. Mereka mau menginap. Kamar ini lebih enak.”
Aku sempat yakin aku salah dengar.
“Jadi kamu memindahkan perempuan hampir tujuh puluh tahun yang sedang kemoterapi supaya teman-temanmu bisa lebih nyaman?”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatap obat Ibu yang tidak ada di meja.
“Sejak kapan?”
Dimas mengangkat bahu.
“Kemarin.”
Kemarin.
Berarti Ibu sudah tidur di sana semalam.
Aku menekan rahang.
“Dia sedang mual berat sejak kemoterapi Selasa.”
“Aku tahu.”
“Kamar belakang jauh dari toilet.”
“Masih bisa jalan.”
Aku benar-benar tidak mengenali laki-laki di depanku.
“Kalau dia pusing malam-malam?”
Dimas mulai meninggikan suara.
“Ratih, jangan bikin drama di depan orang.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
“Drama?”
“Ibumu cuma tinggal sementara.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan hening.
Aku bertanya pelan,
“Dan itu membuat kamu merasa berhak memperlakukannya seperti barang pindahan?”
Dimas meletakkan kaleng minumannya agak keras di meja.
“Ini juga rumahku.”
“Rumah kita.”
Dia tersenyum sinis.
Lalu mengucapkan kalimat yang mengubah semuanya.
“Ratih, dari dulu kamu terlalu banyak mengatur.”
Aku menatapnya.
Dimas menunjuk dadanya sendiri.
“Aku kepala keluarga.”
Dia berhenti sesaat, memastikan semua orang mendengar.
“Di rumah ini, aku laki-lakinya. Kalau aku bilang kamar itu dipakai, ya dipakai.”
Aku tidak membalas.
Rian menunduk.
Teman-temannya mulai terlihat tidak nyaman.
Dimas mungkin mengira diamku berarti dia menang.
Padahal saat itu ada sesuatu dalam diriku yang justru menjadi sangat tenang.
Aku meletakkan brownies di meja.
Lalu berjalan ke belakang.
Aku membuka pintu kecil dekat area cuci.
Dan di sanalah Ibuku.
Duduk di atas kasur lipat tipis.
Bukan kasur proper.
Kasur busa yang biasanya kami pakai kalau Keira menginap di rumah sepupunya.
Di sampingnya ada ember kecil.
Sekotak obat.
Botol air.
Dan kipas meja.
Ibu mengenakan cardigan meski ruangan itu panas.
Wajahnya pucat.
Dia segera mencoba tersenyum ketika melihatku.
“Kok pulang cepat?”
Aku tidak mampu menjawab selama beberapa detik.
Mataku jatuh pada lengannya.
Ada bekas memar kecil setelah infus.
Di rak sebelahnya, dua kardus deterjen menumpuk.
“Ibu kenapa di sini?”
Ibu menunduk.
“Nggak apa-apa.”
Aku mengenal kalimat itu.
Itu kalimat orang tua yang takut menjadi penyebab rumah tangga anaknya bertengkar.
Aku berjongkok.
“Bu.”
Dia mengusap tanganku.
“Mas Dimas bilang cuma sebentar. Temannya banyak.”
Aku melihat ember.
“Kenapa ada ember?”
Ibu terdiam.
Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia bicara.
“Tadi malam Ibu mual. Takut nggak keburu ke kamar mandi.”
Dadaku terasa panas.
Aku berdiri.
Tapi aku tetap tidak berteriak.
Aku membantu Ibu bangun.
Kubawa kembali ke kamar tamu.
Saat kami masuk, Rian dan teman-temannya sudah berdiri.
Tidak seorang pun mencoba menghentikanku.
Aku mengambil jaket-jaket mereka dari kasur dan meletakkannya di kursi luar.
“Maaf,” kata Rian pelan.
Aku hanya menjawab,
“Kalian sebaiknya pulang.”
Mereka pergi kurang dari lima menit kemudian.
Dimas mengikuti mereka sampai pintu depan.
Setelah itu dia masuk ke dapur dengan wajah marah.
“Kamu mempermalukan aku.”
Aku sedang menyiapkan bubur hangat untuk Ibu.
Aku tidak melihatnya.
“Tidak.”
“Kamu mengusir tamuku.”
“Aku memindahkan ibuku dari gudang.”
“Kamu selalu begitu. Semua harus sesuai kemauanmu.”
Aku mematikan kompor.
Baru kemudian aku menatapnya.
“Bukankah tadi kamu bilang kamu yang menentukan?”
Dimas menyilangkan tangan.
“Memang.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Hanya itu.
Aku membawa bubur untuk Ibu.
Memastikan obatnya lengkap.
Memeriksa tekanan darahnya.
Lalu menemaninya sampai dia tertidur.
Setelah itu aku masuk ke kamar kerja.
Menutup pintu.
Dan membuka sebuah folder lama di laptop.
Di dalamnya ada salinan dokumen yang sudah lama tidak kusentuh.
AJB.
Bukti transfer.
Perjanjian kredit.
Surat pelunasan.
Dan satu akta notaris yang pernah dianggap Dimas tidak penting.
Aku membaca semuanya selama hampir dua puluh menit.
Kemudian aku mengambil ponsel.
Aku menelepon seseorang.
“Pak Hendra?”
Suara di seberang langsung mengenaliku.
“Bu Ratih?”
“Maaf mengganggu malam-malam.”
“Nggak apa-apa. Ada apa?”
Aku melihat pintu kamar kerja.
Lalu berkata,
“Bapak masih menyimpan salinan berkas rumah Bintaro saya?”
Dia terdiam sebentar.
“Lengkap.”
“Bagus.”
Aku menarik napas.
“Saya perlu Bapak datang malam ini.”
“Ada masalah?”
Aku memandang ruang keluarga dari celah pintu.
Dimas sedang duduk santai di sofa.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menjawab,
“Saya rasa suami saya lupa beberapa hal tentang rumah ini.”
Pak Hendra tidak banyak bertanya.
Dia hanya berkata,
“Saya berangkat.”
Aku menutup telepon.
Dimas belum tahu siapa yang akan datang.
Lebih penting lagi—
dia belum tahu berkas apa yang akan dibawa orang itu.
Dan aku baru saja menemukan satu dokumen yang membuat tanganku berhenti di atas touchpad.
Sebuah salinan permohonan kredit.
Atas nama Dimas.
Dengan alamat rumah kami.
Dengan kolom agunan yang menyebut aset yang tidak pernah sekalipun kuberikan izin untuk dijaminkan.
Aku membaca tanggalnya.
Tiga minggu sebelumnya.
Saat itulah aku sadar:
masalah kami ternyata jauh lebih besar daripada sebuah kamar tamu.
BERSAMBUNG...
👉 Baca kelanjutan kisah lengkapnya di kolom komentar!